Hujjiyah Qaul As-Shahabi Dalam Penetapan Hukum Islam

Hujjiyah Qaul As-Shahabi Dalam Penetapan Hukum Islam

Oleh Sarah Abdurrohmah, Lc.

Mukaddimah

Rasulullah Saw, bersabda,” Bahwa sebaik-baiknya generasi adalah generasi pada zamanku kemudian genersi sesudahnya lalu generasi sesudahnya…”. Generasi dimana Nabi Saw, diutus adalah generasi para sahabat. Mereka adalah sebaik-baiknya generasi, dari aspek keimanan mereka sangat memegang teguh ajaran Islam, dan mencintai Allah swt dan RasulNya melebihi dari segalanya. Hal ini bisa dilihat dari kisah para sahabat dalam mempertahankan aqidah mereka, meskipun harus disiksa dan didera oleh berbagai siksaan dan cacian dari kafir quraisy. Mereka adalah generasi yang patut kita jadikan teladan, baik dari kuatnya keimanan, pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari dan usaha para sahabat untuk tidak menjadi shaleh sendiri saja tapi merekalah yang menyebarkan ajaran islam (aqidah, akhlak dan syari’ah) kepada yang lainnya.

Terlepas dari segala keutamaan yang dimiliki oleh para sahabat. Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan segala hal yang sampai pada kita dari sahabat baik itu berupa perkataan, perbuatan ataupun fatwa sebagai salah satu sumber pengambilan hukum dalam Islam.

Para ulama mengkategorikan qaul as-shahabi sebagai salah satu sumber pengambilan hukum yang masih dipertentangkan keabsahannya. Berbeda dengan Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas yang jumhur ulama telah menyepakatinya sebagai sumber pengambilan hukum dalam islam. Yang dimaksud dengan jumhur ulama disini adalah empat Imam mazhab yang mu’tabar. Oleh karena itu untuk mengetahui pendapat dari para ulama yang berbeda pendapat terhadap keabsahan qaul as-shahabi, penulis mencoba memberi sedikit gambaran mengenai hal ini dalam makalah yang sederhana ini.

Definisi Sahabat

Sebelum mengetahui definisi qaul as-shahabi terlebih dulu penulis akan membahas mengenai definisi dari as-shahabi itu sendiri. Secara etimologi As-shahabi adalah mufrad dari shahabat, yang diambil dari kata-kata shahiba-yashahabu-shuhbatan dan shahabatan yang bermakna bergaul dengan seseorang.

Adapun secara terminologi, para ulama memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikannya. Menurut para muhadditsin as-shahabi adalah orang yang bertemu dengan Nabi Saw., beriman kepadanya dan mati dalam keadaan Islam.[1] Dari definisi ini dapat diambil beberapa poin bahwa:

  1. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi Saw. secara mutlak, baik itu bertemu sekali saja ataupun sering, baik itu lama atau sebentar.
  2. Seseorang yang bertemu dengan Nabi Saw. sebelum beliau diutus menjadi rasul tidak disebut sahabat. Akan tetapi disebut sahabat apabila bertemu dengan Nabi Saw. setelah beliau diutus menjadi Rasul.
  3. Seseorang yang sezaman dengan Nabi Saw., tetapi tidak bertemu dengannya maka tidak disebut sahabat tetapi mukhadharam.

Sedangkan menurut para Ushuliyyin bahwa sahabat adalah setiap orang yang beriman kepada Nabi Saw., bergaul dengannya dalam waktu yang lama dan mati dalam keadaan Islam.[2] Adapun menurut Al-Baqilani dan beberapa ulama lainnya, seperti Ibnu Faruk dan Ibnu Sam’an bahwa sahabat adalah orang yang lama pergaulannya dengan Nabi Saw. dan banyak berguru pada Nabi Saw. dengan cara mengikutinya dan mengambil pengajarannya.

Perbedaan Definisi Sahabat Menurut Para Muhadditsin dan Ushuliyyin

Dari definisi diatas dapat kita lihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat tipis antara para muhadditsin dan Ushuliyyin dalam mendefinisikan sahabat. Semuanya sepakat bahwa sahabat adalah orang yang beriman kepada Nabi Saw. dan mati dalam keadaan Islam. Namun mereka berbeda pendapat dalam lama-tidaknya pertemuan antara seseorang yang dianggap sahabat dengan Nabi Saw.. Para muhadditsin tidak mensyaratkan keharusan seringnya bertemu dengan Nabi Saw., sekali saja sudah cukup, hal ini dikarenakan para ulama muhadditsin memandang para sahabat sebagai periwayat bagi hadits-hadits Nabi Saw.. Dan hal ini tidak menuntut harus seringnya bertemu dan bergaul dengan Nabi Saw.. Oleh karenanya para sahabat berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam jumlah hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah Saw.

Sedangkan para ulama Ushuliyyin mensyaratkan lamanya pergaulan para sahabat dengan Nabi Saw., karena memandang bahwa para sahabat adalah generasi yang akan menyampaikan hukum-hukum dalam Islam dan hal ini menuntut adanya pergaulan yang lama dengan Nabi Saw. sehingga bisa menghasilkan ilmu dan pehaman yang mendalam.

Oleh karenanya tidak semua sahabat menjadi ahli hukum atau mufti. Sebagaimana perkataan Ibnu Hazm yang dikutip oleh Dr. Ali Jum’ah dalam bukunya bahwa, fatwa mengenai hukum dan ibadah tidak diriwayatkan kecuali dari seratus orang sahabat lebih, baik dari laki-laki atau perempuan, dan hal ini berdasarkan penelitian yang dalam.[3] Lebih lanjutnya Dr. Ali Jum’ah menerangkan bahwa di antara para sahabat yang banyak mengeluarkan fatwa sebanyak tujuh orang yaitu: Umar bin Khattab, ali bin abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin tsabit, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ummar dan Aisyah Ummul Mukminin.[4]

Definisi Qaul As-Shahabi

Terdapat beberapa definisi mengenai qaul as-shahabi ini, di antaranya:

1. Perkataan seorang sahabat yang tersebar pada sahabat-sahabat yang lainnya tanpa diketahui ada sahabat lain yang menentangnya.[5]

2. Fatwa seorang sahabat atau madzhab fiqihnya dalam permasalahan ijtihadiyah.[6]

3. Madzhab sahabat dalam sebuah permasalahan yang termasuk objek ijtihad.[7]

4. Dr. Musthafa Daib Al-Bugha, mengistilahkan qaul as-shahabi dengan madzhab shahabi, yaitu segala hal yang sampai kepada kita dari salah seorang sahabat Rasul baik berupa fatwanya atau ketetapannya dalam permasalahan yang berkaitan dengan syari’at, yang tidak terdapat dalam nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dan belum ada ijma’ dalam permasalahan tersebut.[8]

Dari beberapa defini qaul as-shahabi di atas, penulis menyimpulkan bahwa qaul as-shahabi adalah hal-hal yang sampai kepada kita dari sahabat baik itu berupa fatwa atau ketetapannya, perkataan dan perbuatannya dalam sebuah permasalahan yang menjadi objek ijtihad[9] yang belum ada nash yang sharih baik dari Al-Qur’an atau As-Sunnah yang menjelaskan hukum permasalahan tersebut.

Macam-Macam Qaul As-Shahabi

Para ulama membagi qaul as-shahabi ke dalam beberapa macam, di antaranya Dr. Abdul karim Zaedan yang membaginya ke dalam beberapa macam:

1. Perkataan sahabat terhadap hal-hal yang tidak termasuk objek ijtihad. Dalam hal ini para ulama semuanya sepakat bahwa perkataan sahabat bisa dijadikan hujjah. Karena kemungkinan sima’ dari Nabi Saw. sangat besar. Sehingga perkataan sahabat dalam hal ini bisa termasuk dalam kategori As-Sunnah, meskipun perkataan ini adalah hadits mauquf.[10] Pendapat ini dikuatkan oleh Imam As-Sarkhasi dan beliau memberikan contoh perkataan sahabat dalam hal-hal yang tidak bisa dijadikan objek ijtihad, seperti, perkataan Ali bahwa jumlah mahar yang terkecil adalah sepuluh dirham, perkataan Anas bahwa paling sedikit haid seorang wanita adalah tiga hari sedangkan paling banyak adalah sepuluh hari.

Namun contoh-contoh tesebut ditolak oleh beberapa ulama As-Syafi’iyah, bahwa hal-hal tersebut adalah permasalahan-permaslahan yang bisa dijadikan objek ijtihad. Dan pada kenyataannya baik jumlah mahar dan haid wanita berbeda-beda dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing.

2. Perkataan sahabat yang disepakati oleh sahabat yang lain. Dalam hal ini perkataan sahabat adalah hujjah karena masuk dalam kategori ijma’.

3. Perkataan sahabat yang tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak diketahui ada sahabat yang mengingkarinya atau menolaknya. Dalam hal inipun bisa dijadikan hujjah, karena ini merupakan ijma’ sukuti[11], bagi mereka yang berpandapat bahwa ijma’ sukuti bisa dijadikan hujjah.

4 Perkataan sahabat yang berasal dari pendapatnya atau ijtihadnya sendiri. Qaul as-shahabi yang seperti inilah yang menjadi perselisihan di antara para ulama mengenai keabsahannya sebagai hujjah dalam fiqh Islam. Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar menambahkan bahwa perkataan yang berasal dari ijtihad seorang sahabat yang tidak diketahui tersebarnya pendapat tersebut di antara para sahabat lainnya juga tidak diketahui pula ada sahabat lain yang menentangnya dan perkataan tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada perkataan sahabat seperti ini para ulama berbeda pendapat mengenai statusnya[12].

Adapun Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar menambahkan beberapa poin mengenai macam-macam qaul as-shahabi ini[13], di antaranya:

1. Perkataan Khulafa Ar-Rasyidin dalam sebuah permasalahan. Dalam hal ini para ulama sepakat untuk menjadikannya hujjah. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits,” Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah para Khulafa Ar-Rasyidin setelahku…[14]

2. Perkataan seorang sahabat yang berlandaskan pemikirannya dan ditentang oleh sahabat yang lainnya. Dalam hal ini sebagian ulama berpendapat bahwa perkataan sahabat ini tidak bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi sebagian ulama lainnya dari kalangan Ushuliyyin dan fuqaha mengharuskan untuk mengambil perkataan satu sahabat.

Beberapa Macam Qaul As-Shahabi yang Menjadi Perselisihan Para Ulama

Setelah dijelaskan di atas bahwa perkataan sahabat memiliki beberapa macam variasi, semua ulama sepakat bahwa perkataan sahabat yang diperselisihkan keabsahannya sebagai hujjah adalah :

1. Perkataan sahabat yang berasal dari pendapat dan ijtihadnya sendiri

2. Perkataan sahabat terhadap permasalahan yang bisa dijadikan objek ijtihad

3. Perkataan sahabat yang tidak tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak ada sahabat yang mengingkari pendapat tersebut.

4. Perkataan sahabat terhadap suatu permasalahan yang tidak ada nash yang sharih baik Al-Qur’an ataupun As-Sunnah.

5. Perkataan sahabat yang sampai kepada generasi sesudahnya, seperti tabi’in dan berlanjut hingga ke zaman sekarang.

Adapun perkataan sahabat selain dari keadaan yang sudah disebutkan di atas dapat dijadikan hujjah dalam pengambilan hukum Islam.

Keabsahan Qaul As-Shahabi Sebagai salah satu dari Masdar Tasyri’

Ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai keabsahan qaul as-shahabi sebagai salah satu dari masdar tasyri’ dalam Islam, maka kita harus bisa langsung memahami bahwa qaul as-shahabi yang dimaksudkan di sini adalah macam qaul as-shahabi yang masih diperselisihkan mengenai kehujjiahannya dan tidak termasuk macam yang lainnya. Dengan kata lain tidak semua qaul as-shahabi diperselisihkan keabsahannya sebagai hujjah.

Secara garis besar, terjadi beberapa pendapat mengenai hal ini[15], yaitu:

1. Ulama yang berpendapat bahwa qaul as-shahabi dapat dijadikan hujjah secara mutlak dan didahulukan dari pada qiyas. Di antaranya Imam Malik dan Imam Ahmad dalam satu riwayatnya.

Adapun dalil yang mereka pegang sehingga berpendapat bahwa qaul as-shahabi adalah hujjah secara mutlak yaitu:

a. Al-Qur’an

- Firman Allah swt,”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. 3:110)

-“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. 9:100)

- Firman Allah swt yang menerangkan kelebihan para sahabat secara umum, di antaranya: “Ikutilah orang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 36:21)

- “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. 31:15)

b. As-Sunnah

- Rasulullah saw bersabda,” Sahabatku ibarat bintang, maka dimanapun kalian mengikutinya kalian akan mendapatkan petunjuk”.[16]

- Rasulullah saw bersabda,” Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan sunah khulafa ar-rasyidin setelahku…

- Diriwayatkan oleh tirmidzi dan huzaifah bahwa Rasulullah saw bersabda,” ikutilah oleh kalian orang-orang setelahku: Abu baker dan Umar”.

- Rasulullah saw bersabda,” Sebaik-baiknya generasi adalah generasi pada zamanku kemudian generasi setelahnya lalu genersi setelahnya lagi”. (HR. Muslim)

c. Ijma’

Ketika Abdurrahman bin ‘Auf menjadi ketua panitia pemilihankhalifah setelah Umar. Ia pertama kali menawarkan kepada Ali untuk menjadi khalifah dengan syarat mengikuti sunah kedua khalifah sebelumnya. Tapi Ali menolak. Kemudian ia menawarkan pada Utsman dengan syarat yang sama, Utsman pun menerimanya. Pada saat itu tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkari syarat yang diajukan Abdurrahman bin’Auf itu sehingga sampai pada derajat ijma’.

d. Dalil Akal

- Kemungkinan sima’ dan taukif[17] dalam perkataan sahabat sangat kuat. Dan secara kebiasaan tidak mungkin para sahabat berfatwa kecuali berdasarkan kepada riwayat yang didengarnya. Dan tidaklah para sahabat berfatwa berdasarkan pendapatnya kecuali dalam keadaan darurat.

- Bahwa perkataan sahabat meskipun bersumber dari akal atau ijtihad, maka ijtihadnya lebih kuat dari pada yang lainnya. Karena para sahabat menyaksikan langsung turunnya Al-Qur’an, dan mengetahui metode-metode Rasulullah Saw. dalam menyampaikan dan menjelaskan berbagai hukum dalam suatu permasalahan.

- Bahwa qaul as-shahabi bisa dipandang ijma’ juga, karena apabila terjadi perbedaan atau perselisihan pendapat dari kalangan sahabat yang lainnya pasti akan tampak dan diketahui.

2. Ulama yang menolak qaul as-shahabi sebagai sebuah hujjah, di antaranya Imam Al-Ghazali, jumhur Al-Asya’irah, Mu’tazilah dan sebagainya.

Adapun dalil yang mereka pakai adalah:

a.Al-Qur’an:

- Firman Allah swt,” Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS. 59:2)

Allah swt memerintahkan hambanya untuk mengambil pelajaran dan itu adalah ijtihad. Dan ijtihad sangat berbeda dengan taklid, karena ijtihad usaha untuk mencari dalil dalam sebuah permasalahan adapun taklid mengambil pendapat yang lain tanpa ada dalil. Maka mengambil qaul as-shahabi termasuk dalam kategori taklid.

- Fiman Allah swt,” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. 4:59)

b. Bahwa para sahabat ketika berfatwa terhadap suatu permasalahan berarti ia telah berijtihad. Dan kemungkinan salah dalam ijtihadnya tetap ada karena para sahabat bukanlah orang-orang yang dimaksum dari kesalahan. Oleh karenanya tidak boleh mengikuti madzhab para sahabat (secara taklid).

c. Apabila qaul as-shahabi bisa dijadikan hujjah karena keadaan para sahabat yang lebih mengetahui dan lebih utama dari yang lainnya. Kalaulah begitu maka perkataan seseorang yang lebih paham dan mengetahui terhadap suatu permasalahan selain dari para sahabat dapat pula dijadikan hujjah.

d. Para sahabat telah bersepakat bahwa ijtihad yang mereka lakukan boleh untuk ditentang apabila tidak sesuai. Sebagaimana Abu Baker dan Umar tidak menyalahkan orang yang menolak ijtihad mereka. Akan tetapi mewajibkan kepada semua mujtahid untuk berijtihad pada permasalahan yang termasuk objek ijtihad.

3. Qaul as-shahabi adalah hujjah apabila bertentangan dengan qiyas. Maksudnya qaul as-shahabi didahulukan dari pada qiyas jika keduanya bertentangan. Adapun dalil mereka yang berpendapat bahwa qaul as-shahabi bias dijadikan hujjah apabila bertentangan dengan qiyas adalah: Bahwa perkataan atau fatwa seorang sahabat terhadap suatu permasalahan ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama bahwa perkataannya tidak bersandarkan pada dalil dan yang kedua bersandarkan pada dalil. Kemungkinan yang pertama adalah batil, karena tidak mungkin seorang sahabat berkata berlandaskan hawa nafsunya sendiri dan tidak mungkin mereka berdusta atau mengada-ada dalam berfatwa. Maka pasti perkataan sahabat itu berlandaskan pada dalil, meskipun mereka tidak secara sharih menjelaskan dalil tersebut. Oleh karenanya qaul as-shahabi didahulukan dari pada qiyas, karena qaul as-shahabi berlandaskan langsung kepada dalil (nash/hujjah ashliyah)), sedangkan qiyas meskipun berlandaskan dalil juga namun qiyas berlandaskan kepada ‘illah yang menjadi titik persamaan dengan al-ashl, sehingga qiyas disebut sebagai hujjah muttabi’ah dan bukan hujjah ashliyyah..

4. Pendapat Imam As-Syafi’i terhadap hujjiyah qaul as-shahabi[18]. Imam As-Syafi’i memaparkan tentang hujjiyahnya qaul as-shahabi secara tafshili. Maksudnya ia tidak menghukumi (menerima/menolak) hujjiyah qaul as-shahabi secara mutlak:

- Imam As-Syafi’i menjadikan qaul as-shahabi hujjah apabila para sahabat bersepakat terhadap suatu permasalahan yang tidak ada dalil dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, dan tidak ada sahabat yang menolak pendapat tersebut. Dalam hal ini qaul as-shahabi didahulukan dari pada qiyas, karena termasuk dalam kategori ijma’.

Contohnya, wajibnya menyembelih satu ekor domba bagi mereka yang berburu merpati dalam keadaan ihram. Hal ini mengikuti pekerjaan para sahabat yang menyembelih domba bagi siapa yang berburu dalam kedaan ihram.

- Apabila terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat terhadap suatu permasalahan maka diambil pendapat yang lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ atau qiyas, atau pendapat yang didukung oleh dalil yang lain. Sebagai contoh, Imam As-Syafi’i mengambil qaul as-shahabi dalam menentukan kapan terakhir talbiyah dikumandangkan saat umrah. Atau perkataan Umar dalam khiyar Aib dalam pernikahan atau perkataan Ali bin Abi Thalib dalam hukum wanita yang ditinggal suami yang hilang.

- Apabila qaul as-shahabi tersebut munfarid (tidak ada yang menyepakati juga tidak ada yang menyalahi), jika keadaannya demikian Imam As-Syafi’i mendahulukan qiyas daripada qaul as-shahabi tersebut. Namun qaul as-shahabi seperti itu jarang terdapat, karena biasanya qaul as-shahabi terkenal dengan ijma’nya atau ikhtilafnya.

- Menjadikan qaul as-shahabi sebagai penjelas dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ini yang paling banyak kita dapatkan dalam pendapat-pendapat Imam As-Syafi’i mengenai qaul as-shahabi. Seperi penjelasan sahabat tentang maksud al-jaza’ dalam ayat as-shaid (Al-Maidah: 95), kewajiban zakat pada harta anak kecil dan orang gila, dan lain sebagainya.

Pengaruh Perbedaan Pendapat Para Ulama Mengenai Qaul as-shahabi[19]

Perbedaan pendapat para ulama mengenai hujjiyah qaul as-shahabi sebagai salah satu masdar tasyri’, menyebabkan perbedaan pula dalam menghukumi suatu permasalahan yang tidak ada nash sharih yang menjelaskannya. Di sini penulis hanya memberikan beberapa contoh dari sekian banyak contoh yang ada, yang penulis pandang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

a. Hukum sujud Tilawah, apakah wajib atau sunnah?

· Imam Malik, As-As-Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah dan tidak mencapai wajib.

Imam Malik dan Imam Ahmad berdalilkan pada qaul as-shahabi, yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwatha dari Hisyam bin U’rwah dari ayahnya, bahwa Umar bin Khattab membaca ayat sajdah ketika di atas mimbar pada hari jum’at, maka Umar bersujud dan sujudlah semua yang hadir mengikuti Umar. Kemudian Umar membacanya pada hari jum’at yang lain, maka para sahabat lain bersiap-siap untuk bersujud, tetapi Umar berkata, ”Sesungguhnya Allah tidak mewajibkannya kecuali jika kita mau”. Umar tidak bersujud dan melarang yang lainnya untuk bersujud”.

Adapun Imam As-Syafi’i berdalilkan bahwa sujud dilakukan untuk shalat. Adapun perintah untuk shalat telah dijelaskan secara global oleh Al-Qur’an dan telah diterangkan oleh As-Sunnah secara terperinci. Maka hal ini menunjukkan bahwa shalat yang diwajibkan adalah shalat yang lima, sedangkan selainnya tidaklah wajib.

Kemudian beliau berdalilkan hadits Nabi Saw. yang berbunyi, ”Bahwa Rasulullah Saw. membaca ayat dalam surat an-najm maka beliau bersujud, lalu bersujud pulalah yang lainnya kecuali dua orang.

· Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum sujud tilawah adalah wajib. Imam Abu hanifah berdalilkan dengan beberapa hadits Nabi Saw., di antaranya:

- Rasulullah Saw. bersabda, ”Sujud tilawah bagi siapa yang mendengarnya dan bagi siapa yang membacanya”.

- Dari Abu Hurairah ra. dalam Kitab Al-Iman yang dimarfu’kan kepada Nabi Sw., ”Apabila Ibnu Adam membaca ayat sajdah maka syaitan akan menyendiri dan menangis sambil berkata, ”Celakalah! Telah diperintah Ibnu Adam untuk bersujud maka dia bersujud dan baginya surga, sedangkan aku diperintah untuk bersujud tapi enggan, maka bagiku neraka”. ( HR. Muslim)

b. Hukum shalat jum’at bagi yang shalat ‘id

· Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa kewajiban shalat jum’at bagi ahli balad adapun ahli qura dirukhsah. Imam As-Syafi’i berdalilkan:

Sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam malik dari Ibnu Syihab dari Abi U’baid bekas hamba sahaya Ibnu Azhar, dia berkata, ”Saya melakukan shalat ‘id bersama Utsman Bin Affan maka utsman shalat lalu berkhutbah dab berkata, ‘Sesungguhnya telah berkumpul pada hari ini dua ‘id, maka barang siapa yang hendak menunggu dari ahli a’liyah maka tunggulah dan barang siapa yang hendak pulang maka telah diizinkan baginya”.

· Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat jum’at tidak usah dikerjakan bagi mereka yang melaksanakan shalat ‘id baik ahli balad atau ahli qura kecuali Imam. Adapun Imam ahmad berdalilkan:

- Apa yang diriwayatkan Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, dia berkata, ”Saya melihat Mu’awiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, ”Apakah engkau pernah mendapatkan dua ‘id bersatu pada satu hari bersama Rasulullah Saw.?, maka Zaid berkata, ”Iya”. “Maka bagaimana hukumnya?” Zaid menjawab, ”Shalat ‘Id kemudian dirukhsah pada shalat jum’at”. Lalu Zaid berkata,” Barang siapa yang hendak shalat (baca: shalat jum’at) maka shalatlah”. ( HR. Abu Daud)

- Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Telah berkumpul pada hari ini dua ‘Id, maka barang siapa yang ingin shalat jum’at shalatlah, karena sesungguhnya kami shalat jum’at”. ( HR. Abu Daud)

· Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa shalat jum’at dan shalat ‘Id wajib keduanya untuk dilaksanakan. Abu Hanifah berdalilkan bahwa hukum melaksanakan shalat jum’at adalah wajib adapun shalat ‘id maka bagi siapa yang meninggalkannya berarti sesat dan bid’ah.

c. Hukum potong tangan bagi seorang pembantu

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum bagi seorang pembantu yang mencuri harta tuannya tidak dipotong. Adapun dalilnya:

- Apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik, beliau berkata, ”Telah bercerita kepada kami dari Az-Zuhri dari As-Saib bin Yazid bahwa Abdullah bin Amar bin Hadhrami datang kepada Umar bi Khattab dengan seorang hamba, lalu dia berkata, ”Potong tangnya karena dia telah mencuri”. Umar bertanya, ”Apa yang dicuri olehnya?”, dia menjawab, ”Cermin istriku yang berharga enam puluh dirham”. Maka Umar berkata, ”Lepaskan saja karena tidak ada potong tangan bagi pembantu yang mencuri hartamu”.

- Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa seseorang datang kepadanya lalu berkata, ”Budak saya mencuri harta milik budak saya yang lain”, lalu Ibnu mas’ud berkata, ”Tidak ada potong tangan bagi “harta” (baca: budak) yang mencuri “harta”(baca: budak).

Adapun Daud Adz-dzhahiri berpendapat bahwa potong tangan tetap berlaku secara mutlak. Dengan berdalilkan Firman Allah Swt., ”Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 5:38).

d. Status wanita yang ditinggal hilang suami

Imam malik dan Ahmad berpendapat bahwa wanita yang ditinggal hilang suaminya hendaknya menunggu empat tahun, kemudian menjalani iddah selama empat bulan sepuluh hari. Setelah itu baru diperbolehkan baginya untuk menikah lagi.

Adapun dalil yang dipegang adalah apa yang dikeluarkan Sa’id bin Mansur dan Ibnu Abi Syaibah dari sanad keduanya, bahwa Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan menetapkan bagi wanita yang ditinggal hilang oleh suaminya untuk menunggu selama empat tahun, kemudian memanggil wali sang suami dan memintanya untuk menceraikannya. Setelah itu sang wanita menjalani iddahnya selama empat bulan sepuluh hari, setelah itu dia boleh menikah lagi jika berkehendak.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa bagi wanita yang ditinggal hilang suaminya hendaknya menunggu seratus dua puluh tahun dari hari kelahirannya, apabila telah mencapai seratus dua puluh tahun maka dihukumi bahwa suaminya telah meninggal. Imam Abu Hanifah berpendapat pada hadits yang diriwayatkan dari Mugirah bin Syu’bah mengenai wanita yang ditinggal hilang suaminya, Nabi Saw. bersabda, ”Sesungguhnya wanita tersebut tetap istrinya sehingga datang kepadanya bukti yang pasti (tentang hilangnya sang suami)”. Juga perkataan Ali bin Abi thalib bahwa ia berkata, ”Wanita yang ditinggal hilang suaminya sedang diuji maka bersabarlah sehingga jelas kematian suaminya atau thalak”.

e. Status Pernikahan dalam masa ‘Iddah

Imam Malik, Al-Auza’I dan Al-Laits berpendapat bahwa mereka harus dipisahkan, dan wanita itu menjadi haram bagi laki-laki tersebut selamanya.

Mereka berpendapat dengan perkataan Umar yang memisahkan antara Thalhah Al-Asdiah dengan suaminya Rasyid Ats-Tsaqafi ketika mereka menikah pada masa ‘iddah dari suaminya. Dan berkata, ”Setiap wanita yang menikah dalam masa iddahnya, apabila suami yang menikahinya itu belum menggaulinya maka harus dipisahkan keduanya. Kemudian sang wanita menyempurnakan masa iddahnya. Lalu jika pada masa iddah itu dia menikah lagi dengan yang lain dan sudah digauli maka harus dipisahkan keduanya. Kemudian sang wanita menyempurnakan masa ‘iddah dari suami yang pertama lalu dilanjutkan dengan menjalani masa iddah dari suami yang kedua. Dan antara wanita tersebut dengan suaminya yang ketiga tidak boleh bersatu selamanya”.

Adapun pendapat yang kedua bahwa dipisahkan keduanya dan sang wanita boleh mendapatkan maharnya. Dan apabila telah habis masa iddahnya apabila sang wanita berkehandak untuk menikahinya lagi maka tidak apa-apa. Sebagaimana dijelaskan oleh Ali bin Abi Thalib.

Berkata Imam Al-Baihaqi dari As-Sya’abi bahwa Umar bin khattab datang kepada seorang wanita yang menikah pada masa iddahnya, Umar mengambil maharnya lalu menyimpannya di baitulmal lalu memisahkan keduanya. Dan Umar berkata, ”Tidak boleh berkumpul keduanya selama-lamanya”. Ali bin Abi Thalib berkata, ”Tidaklah seperti itu akan tetapi pisahkan keduanya kemudian sang wanita menyempurnakan iddahnya lalu melanjutkan iddah dari suami yang kedua dan ia boleh menerima mahar”. Kemudian As-Sya’abi berkata, ”Maka Umar memuji Allah dan berkata, ‘Wahai manusia kembalikanlah segala hal kepada As-Sunnah”.

Penutup

Dari pemaparan diatas penulis beberapa kesimpulan penting yang terbagi kepada beberapa poin:

  1. Bahwa tidak semua Qaul as-shahabi yang diperselisihkan keabsahannya sebagai hujjah di antara para ulama. Tetapi qaul as-shahabi yang diperselisihkan adalah berupa perkataan sahabat tentang suatu permasalahn ijtihadiayah yang tidak tersebar di kalangan para sahabat yang lainnya dan tidak ada nash sharih yang menjelaskan permasalahan tersebut.
  2. Apabila terdapat nash sharih yang menjelaskan hukum tentang suatu permasalahan maka qaul as-shahabi yang ada tentang permasalahan tersebut berfungsi sebagai penjelas dan penafsir bagi nash tersebut.
  3. Secara garis besar para ulama terbagi ke dalam dua pendapat mengenai keabsahan qaul as-shahabi sebagai salah satu masdar tasyri’, yaitu:

- Yang menjadikannya sebagai hujjah

- Yang menolaknya sebagai hujjah

  1. Apabila qaul as-shahabi bertentangan dengan qiyas maka didahulukan qaul as-shahabi dari pada qiyas, bagi yang berpendapat bahwa qaul as-shahabi adalah hujjah ketika bertentangan dengan qiyas.
  2. Apabila qaul as-shahabi sejalan dengan qiyas maka qaul As-shahabi sebagai penguat bagi qiyas tersebut.
  3. Qaul as-shahabi mengenai suatu permasalahan tidak berlaku bagi para sahabat yang lain yang berijtihad pula. Adapun bagi sahabat yang ‘awwam maka terjadi perselisihan di dalamnya.
  4. Apabila terjadi perbedaan fatwa antara satu sahabat dengan sahabat yang lainnya, maka diambil pendapat salah satu darinya yang paling dekat kebenarannya dengan Al-Qur’an, As-Sunah, ijma’ atau qiyas.
  5. Apabila qaul as-shahabi berbeda dengan riwayatnya (yang marfu’) maka yang diambil adalah riwayatnya (yang marfu’).
  6. Apabila salah seorang sahabat ruju’ dari perkataannya terhadap suatu permasalahan maka perkataannnya tidak bisa dijadikan hujjah. Sebagaimana yang terjadi pada Ummar bin Khattab.



[1] Dr.Kautsar Muhammad Muslim, Min Al-Mudadditsin, Diktat Kuliah, Jurusan Hadits, 2006, hal.18. Lihat Dr, Abdul Aziz, As-shahabi dalam Al-Mausu’ah Al-Islamiyah Al-ammah, Majlis A’la Kairo, 2003, hal 846. dan Dr. Ali Jum’ah, Qaul as-shahabi ‘inda Ushuliyyin, Dar Ar-Risalah, 2004, hal 9.

[2] Dr. M. Sulaiman Abdullah al-Asqar, Al-Wadhih fi Ushulul Fiqh, Dar An-Nafais, 2001,hal 131.

[3] Dr. Ali Jum’ah, Qaul As-Shahabi ‘Inda Ushuliyyin, Dar-Ar-Risalah, 2004, hal 35.

[4] Ibid.

[5] Dr.Quthb Musthafa Sanu, Mu’jam Musthalahat Usulul Fiqh, Dar Al-Fikri, 2000, hal.343.

[6] Dr. Ali Jum’ah, Qaul As-Shahabi ‘Inda Ushuliyyin, Dar-Ar-Risalah, 2004, hal 40.

[7] Dr. Abdu Al-Hay ‘Azb Abdu Al-‘Al, Ushul Fiqh, Diktat kuliah, Jurusan Hadis, 2006, hal 317.

[8] Dr. Musthafa Daib Al-Bugha, Atsar Adillah Al-Mukhtalaf Fiha, Dar-Al-Qalam, 1999, hal 339.

[9] Hal-hal yang tidak ada dalil yang sharih yang menjelaskan hukum permasalahan tersebut juga hal-hal yang tidak ada dalil yang menerangkan hukum tersebut.

[10] Apa-apa yang bersumber dari sahabat baik itu perkataan, perbuatan dan persetujuannya.

[11] Dr. Abdul Karim zaedan, Al-Wajiz Fi Ushul Fiqh, Muassasah Ar-Risalah, 1996, hal 260-261.

[12] Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Al-wadhih Fu Ushul Fiqh, Dar-Al-Nafais, 2001, hal 134-135.

[13] Ibid.

[14] Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu daud dan Tirmidzi

[15] Dr. Musthafa Daib Al-Bugha, Atsar Adillah Al-Mukhtalaf Fiha, Dar-Al-Qalam, 1999, hal 343-344.

[16] Disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Jami’ Al-Kabir (1/1035), diriwayatkan oleh Abdu Bin Humais dari hadits Ibnu Umar ra. dan yang lainnya, dan disebutkan bahwa semua riwayatnya dhaif akan tetapi ada syahid dari hadits-hadits yang shahih.

[17] Hal-hal yang sudah ditetapkan oleh Allah swt dan RasulNya.

[18] Dr. Ali Jum’ah, Qaul As-Shahabi ‘Inda Ushuliyyin, Dar-Ar-Risalah, 2004, hal

[19] Dr. Musthafa Daib Al-Bugha, Atsar Adillah Al-Mukhtalaf Fiha, Dar-Al-Qalam, 1999, hal 354-361. lihat juga Dr. Ali Jum’ah, Qaul As-Shahabi ‘Inda Ushuliyyin, Dar-Ar-Risalah, 2004, hal 110- 122

About these ads

2 comments on “Hujjiyah Qaul As-Shahabi Dalam Penetapan Hukum Islam

  1. Ping-balik: Perkataan Shahabat Nabi SAW sebagai landasan hukum « cahaya di atas cahaya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s