Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqashid Syari’ah

Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqâshid Syarî’ah*

Oleh: Agnan Nasution**

Muqaddimah

Sesuai dengan karakteristiknya, Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal. Legitimasi tersebut lahir karena ajaran Islam mencakup berbagai aspek, baik itu aspek ketuhanan (theology) maupun aspek kemanusiaan (humanism). Islam bukan merupakan agama arogan/egosentris yang hanya mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengagung-agungkan penciptanya saja, tetapi lebih jauh lagi justru Islam hadir untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Sebagai studi kasus, bagaimana sosio-kultural pada zaman jahiliyah yang memperlakukan orang-orang Islam dengan berbagai siksaan karena tidak mau mengikuti ajaran mereka, memenjarakan hak-haknya dan tidak memberikan sedikitpun ruang kepada mereka untuk melaksanakan keyakinannya serta keadilan pada waktu itu merupakan harga yang sangat mahal. Maka setelah Allah mengutus rosulullah sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan terhadap manusia, keadaanpun menjadi berbeda karena Islam memberikan solusi terhadap realitas empirik pada waktu itu yang penuh dengan berbagai ketidak adilan.

Berbagai solusi itu bisa kita terjemahkan melalui syari’atnya yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, karena agama Islam merupakan agama yang mengakomodir pelbagai kebutuhan manusia serta tidak memberikan kesulitan bagi semua pengikutnya dalam melarapkan hukum-hukmnya sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an وماجعل عليكم في الدين من حرج (dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama kesempitan)[1]. Dengan kata lain, Islam menghendaki terciptanya kemaslahatan seluruh umat manusia tak terkecuali hanya yang membedakan mungkin dari sisi konsekuensi (balasan) dan perlakuan terhadap orang-orang di luar Islam.

Konsep maslahat ini menjadi menarik untuk kita petakan karena banyak pemahaman yang liar tentang teori ini terkait dengan pemecahan suatu hukum yang tidak diinterpretasikan oleh Al-Qur’an secara tekstual sehingga banyak menimbulkan pro dan kontra tidak hanya dikalangan para intelektual kontemporer saja namun, ulama dulu pun tak lepas dari debatable seputar konsep maslahat ini.

Untuk memetakan konsep maslahatul mursalah ini tentunya kita harus menggali secara rinci tentang salah satu adillah mukhtalaf ini dengan pendekatan yang persuasif banyak hal yang menjadi pertanyaan dari teori maslahatul mursalah ini. Apakah Islam mengakomodir maslahat mursalah ini sebagai mashodirut tasyri’, apa yang menjadi objek/target maslahatul mursalah, bagaimana hukumnya mengamalkan dengan menggunakan maslahatul mursalah dan banyak lagi permasalahan yang mesti kita jelaskan agar tidak terkesan maslahat itu menetapkan konteks (maqasid) dan menanggalkan teks karena itu yang sering dijadikan tameng oleh kaum privatisasi Islam yang mereduksi nash-nash Al-Quran dengan berpijak pada konsep maslahat ini.

Sebelum kita membahas lebih jauh maslahatul mursalah ini, ada beberapa alasan kenapa konsep ini menjadi hal yang memerlukan perhatian yang serius diantaranya[2];

Pertama, bahwasanya kita hidup pada masa kebangkitan dunia Islam yang keluar dari cengkraman barat. Mereka (baca:barat) selalu mengikuti dunia Islam dan arab pada umunya yang selalu meyakini akan kebenaran ilmu-ilmu dalam Islam baik dalam aspek akidah, ibadah maupun syari’at. Dan masyarakat muslim selalu mengembalikan semua permasalahan kehidupan secara umum kepada hukum dan ketetapan Allah dalam setiap gerak langkah, politik, ekonomi, kebudayaan, sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya.

Kedua, sebahagian para intelektual muslim seringkali menggunakan metodologi yang salah ketika mengaplikasikan pemikiran mereka sendiri dengan menggelorakan pembaharuan dalam ushul fiqh walaupun hanya berpijak pada sumber hukum yang terbatas. Mereka menggunakan metode yang parsial dalam memahami hukum sehingga produk hukum yang dihasilkan tidak komprehensif.

Pengertian Mashalihul Mursalah

Mashalihul mursalah terdiri dari dua kalimat yaitu maslahat dan mursalah. Maslahat sendiri secara etimologi didefinisikan sebagai upaya mengambil manfaat dan menghilangkan mafsadat/madharat[3]. Dari sini dapat dipahami, bahwa maslahat mamiliki dua terma yaitu adanya manfaat (إجابي) dan menjauhkan madharat (سلبي). Terkadang maslahat ini ditinjau dari aspek ijab-nya saja, ini menjadi qorinah menghilangkan mafsadat. Seperti pendapat fuqaha bahwasanya “ menghilangkan mafsadat didahulukan dalam menegakan maslahat” [4].

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa maslahat merupakan inti dari setiap syari’at yang diturunkan oleh Allah kepada manusia untuk menjaga maksud syari’at[5] (ushulul khomsah[6]).

Adapun mursalah dipahami sebagai sesuatu yang mutlak ((غير مقيد yaitu maslahat yang secara khusus tidak dijabarkan oleh nash atau tidak ada perintah maupun larangan. Dengan tidak adanya qorinah tersebut, maka maslahat bisa menjadi acuan dalam menentukan suatu hukum.

Sedangkan secara terminologi terkandung dalam beberapa pendapat para ulama.

1. Imam ‘Izudin bin Abdus Salam: (Maslahat memiliki dua bentuk; pertama tinjauan hakiki yaitu membuat tentram dan nyaman, kedua majazi yaitu sebab-sebabnya. Ini dapat kita katakan bahwa terwujudnya maslahat itu disebabkan karena adanya mafsadat. Sebagai contoh, memotong tangan pencuri hakekatnya adalah menghilangkan cara dan perbuatannya. Merajam orang yang berjina serta menjilidnya merupakan pengasingan (تغريب) atas perbuatan mereka. Jadi intinya, semua hukuman dalam syari’at jangan dipahami sebagai mafsadat, bahkan hal itu merupakan maksud dari syari’at (memberikan kemaslahatan bagi manusia)[7].

2. Syaikh Thohir bin ‘Asur[8] salah satu ulama kontemporer: (bahwa maslahat disandarkan pada pekerjaan yang memberikan manfaat selamanya bagi semua manusia atau dirinya sendiri)[9]

3. Ibnu Taimiyah: (maslahat dalam pandangan mujtahid adalah perbuatan yang mendatangkan manfaat yang benar dan bukan bersumber dari syari’at yang tidak bermanfaat)[10] serta Al-Khawarijmi memberikan pandangannya seputar maslahat ini yaitu menjaga maksud dari hukum dengan menafikan segala bentuk mafsadat dari penciptaan (baca:syari’at)[11].

4. Ar-Raisuni mengatakan hakekat maslahat adalah setiap ketentraman dan kesenangan jasmani, jiwa, akal dan rohani,. Sedangkan hakekat mafsadat adalah setiap hal yang merusak jasmani, jiwa, akal dan rohani[12]. Ar-Roji mengatakan bahwa tidak ada interpretasi lain untuk masalahat kecuali ketentraman (al-ladāh) karena hal itu merupakan akses terhadapnya (baca:maslahat). Serta tidak ada pengertian lain untuk mafsadat kecuali kerusakan sebagai bagian darinya (baca:mafsadat)[13].

Dari paparan pengertian diatas, baik dari tinjauan etimologi maupun terminologi kita bisa menarik konklusi bahwa yang disebut dengan maslahat adalah suatu perbuatan hukum yang mengandung manfaat dan ketentraman bagi semua manusia atau dirinya sendiri terhadap jasmani, jiwa, akal serta rohani dengan tujuan untuk menjaga maqhasid asy-syari’ah.

Pembagian Maslahat

Maslahat secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya[14]:

Pertama, mashalih al-mu’tabiroh. Pada pointer ini syari’at menjelaskan secara langsung (tekstual) melalui nash atau ijmā’ atau dengan hukum yang disepakati oleh nash dan ijmā’ diantaranya -seperti pendapat Al-Ghazali- qiyas. Elemen yang membentuk maslahat pada marhalah ini seperti menjaga agama (khifdzu al-din) yaitu perintah untuk jihad dan memerangi orang-orang yang murtad, menjaga jiwa (khifdzu an-nafs) yaitu dengan memberikan hukuman qishos terhadap orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja, menjaga akal (khifdzu al-‘aql) yaitu menerapkan sanksi atas orang yang minum khamr, menjaga keturunan (khifdzu an-nasl/al-‘irdh) yaitu menghukum pelaku yang berbuat jina dan menjaga harta (khifdzu al-mal) yaitu mengharamkan pencurian dan memotong tangan bagi orang yang melakukan hal itu. Ini semua dikenal dengan istilah ushūlul khomsah atau sifatnya dhoruriyah[15].

Kedua, mashalihul mulghōh. Untuk maslahat yang berbenturan dengan nash qoth’i para ulama sepakat untuk tidak menggunakan dalam kehidupan karena sudah jelas ketidakabsahannya. Seperti persamaan (equality) perempuan dalam hak waris ini kontradiktif dengan nash Al-Qur’an {يوصيكم اللّه في أولادكم للذّكرمثل حظّ الأنثيين} surat An-Nissa:11. Atau orang yang menambah hartanya dengan cara riba, karena Allah sudah menjelaskan {وأحل اللّه البيع وحرّم الربي}.

Ketiga, mashalihul mursalah atau al-mashlahatul maskut ‘anha. Walaupun Al-Qur’an memuat kandungan hukum/konstitusi, tetapi tidak secara detail mengulas aspek juz’iyyat. Tidak adanya nash khusus yang memerintahkan ataupun melarangnya menjadi alasan yang memungkinkan seseorang untuk menentukan hukum suatu permasalahan yang berkembang pada saat sekarang ini dengan tetap berpegang pada prinsip awal yaitu memberikan manfaat dan menghilangkan madharat. Seperti pengumpulan mushaf Al-Qur’an dan menyatukannya pada masa Abu Bakar serta dibukukan menjadi satu oleh pada zaman Utsman bin Affan sebagai refensi utama.

Dalil Mengamalkan Mashalihul Mursalah[16]

Naqli :

v Al-Qu’ran

Sebagaimana firman Allah SWT {فاعتبروا يا أولي الأبصارل}surat Al-Hasyr ayat 2. Allah memerintahkan kepada menusia untuk senantiasa menyelami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an untuk menentukan syari’at yang tidak disinggung secara literal. Ini mengindikasikan tentang kebolehan umat Islam untuk berijtihad dengan melewati (mujawaz)teks sekalipun asalkan tidak bertujuan untuk mendekonstruksi ajaran Islam itu sendiri.

v Sunnah

Rosullullah memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk melakukan ijtihad dalam tataran makna nash Al-Qur’an yang global tatkala nash khusus tidak menyentuh wilayah tersebut. bagi Rosulullah menetapkan metodologi ini kepada umat setelahnya (baca:rosul) dan memberikan ruang seluas-luasnya untuk melakukan ijtihad selama masih dalam koridor yang sesuai. Contoh yang paling populer adalah (Ketika Rosulullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman dia bertanya (menguji) kepadanya “apa yang akan engkau perbuat jika menemukan suatu permasalahan?” Muadz menjawab “aku akan menetapkannya dengan hukum Allah” jika engkau tidak mendapatkannya? “dengan sunnah rosul” dan apabila tidak ditemukan juga. “aku akan berijtihad dengan pendapatku (ra’yu). Kemudian rosulullah menepuk dada Mua’dz dan berkata “Maha suci Allah yang telah memberikan taufiq kepadamu, dan rosul merestuinya).[17]

v Perbuatan Sahabat

1. Kesepakatan para sahabat untuk menghimpun mushaf Al-Qur’an pada masa Abu Bakar yang tidak dijelaskan secara khusus oleh dalil atas pekerjaan tersebut.

2. Kesepakatan para sahabat untuk menghukum orang yang minum khamr dengan 80 kali cambukan (jaldah). Sehingga Sayyidina Ali berkata “orang yang mabuk menyebabkan tidak sadar, dan orang yang tidak sadar suka melakukan kebohongan, maka aku berpendapat untuk menghukum bagi pendusta”.[18]

3. Khulafaur Rasyidin memutuskan untuk membayar para pekerja/pengrajin (shanā’a).

4. Sahabat memutuskan hukuman (dibunuh) sekelompok orang oleh seorang jika mereka bekerjasama dalam pembunuhan terhadap satu orang tersebut.

‘Aqli

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa konstitusi Islam telah mencapai titik final. Sedangkan berbagai kejadian selalu mengalami perubahan dengan kadar yang berbeda, dan peristiwa yang terjadi itu tidak bisa begitu saja lepas dari syariat karena aturan dalam Islam selalu bersinergi dengan ruang dan waktu sebagaimana tertuang dalam firman Allah {وما أرسلناك إلاّ كافة للنّاس بشيرا ونذيرا} surat Saba` ayat 28. Kalau kenyataannya demikian, maka harus ada metode untuk istinbat hukum melalui ruh nash-nash dan kaidah-kaidah umum dalam merespon setiap kejadian baru disebabkan kontinuitas waktu dan perubahan tempat. Dan mashalihul mursalah merupkan refresentasi dari metodologi yang dibutuhkan ketika menentukan hukum.

Sejalan dengan ini Syaikh Az-Zanjānī mengutip perkataan Iman Syāfi’i “hal tersebut (baca:mashalihul mursalah) dibutuhkan untuk menetapkan aturan atas kejadian yang khusus dengan mengambil makna dan kebenaran dari aspek finalitas syari’at tersebut. Dan sesuatu yang final tidak bisa bergeser oleh yang bukan final. Merupakan sebuah harga mati untuk mencari konsep lain yang bisa memfasilitasi agar sampai pada pengukuhan hukum. Pegangan mashalih itu disandarkan pada syari’at dan maqhasidnya yang umum (kullī) bukan yang khusus (juz`ī)”[19]

Syarat-syarat mashalihul mursalah menurut sebahagian ulama terbagi menjadi beberapa bagian[20]. Menurut Imam Ghazali dalam kitabnya Al-Mustasfa (walaupun minim sekali beliau mengambil/mengutip mashalihul mursalah ini) sedikitnya ada 3 syarat mashalihul mursalah itu bisa direalisasikan.

1. Sifatnya dharuriyah. Berkaitan dengan ushulul khomsah sebagaimana yang kita ketahui bersama dan hajiyat serta tahsinat tidak termasuk dalam realisasi maslahat ini.

2. Universal/Syumuli. Harus mencakup semua kalangan umat Islam tidak boleh hanya untuk kepentingan sebahagian orang.

3. Ada dalil qoth’i atau mendekati dalil qoth’i tersebut (dzani). Imam Ghazali tidak menjadikan syarat ini untuk mashalihul mursalah pada umumnya kecuali dia hanya menempatkan syarat ini pada contoh kasus yang khusus. Seperti diperbolehkannya orang muslim untuk meminta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan selama hal itu bisa mendatangkan kemaslahatan bagi umat Islam.

Imam Syatibi memberikan 3 syarat yang berbeda dengan Imam Ghazali.

1. Rasional. Ketika mashalihul mursalah dihadapkan dengan akal, maka akalpun bisa menerimanya. Dengan syarat ini perkara-perkara prinsip (baca:ibadah) tidak masuk kepada mashlahat mursalah.

2. Sinergi dengan maqhasid syari’ah

3. Menjaga prinsip dasar (dharuri) untuk menanggalkan kesulitan (raf’ul haraj).

Pendapat Ulama Madzhab Seputar Mashalihul Mursalah

Para ulama sepakat tidak boleh menggunakan mashalihul mursalah pada aspek ibadah. Perkara-perkara ibadah tidak bisa direkonstruksi melalui ijtihad atau ra`yu karena ghoir ma’kulil ma’na (tidak bisa dicerna oleh akal). Sedangkan menambah syari’at dalam ibadah merupakan bid’ah yang notabene termasuk kategori menyesatkan.

Dikalangan semua ulama madzhab hakekatnya menyetujui konsep mashalihul mursalah, hanya permasalahannya ada pada penggunaan istilah mashalihul mursalah ini sebagai mashadir tasyri’ yang mustaqil. Ulama madzhab yang secara khusus menerapkan mashalihul mursalah sebagai mashadir tasyri’ atau ushul madzhab adalah Imam Ahmad bin Hambal (Hambali) dan Imam Malik (Malikiyah). Sedangkan ulama madzhab yang tidak menyertakan mashalihul mursalah sebagai referensi adalah Imam Syafi’i (Syafi’iyyah) dan Imam Hanafi (Hanafiyah).Adapun aliran yang menolak mshalihul mursalah diantaranya aliran Syi’ah dan Dhohiriyah.

Pendapat ulama yang menolak mashalihul mursalah diantaranya:[21]

Ø Sesungguhnya adanya syari’at bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia. Merupakan hal yang mustahil jika syari’at tidak mengandung unsur maslahat. Oleh sebab itu, apabila mashalihul mursalah digunakan sebagai rujukan berarti ada sebahagian syari’at yang tidak memuat nilai-nilai maslahat karena ini bertentangan dengan firman Allah {أيحسب الإنسان أن يترك سدي} surat Al-Qiyamah:36.

Ø Adanya keraguan dalam mashalihul mursalah, antara mashalihul mu’tabarah dengan mashalihul mulghoh karena tidak bisa menggabungkan keduanya. Maka, dalil tersebut tidak bisa dipakai karena tidak ada yang tahu untuk menunjukan bahwa orang yang menggunakan mashalihul mursalah itu termasuk maslahat yang mu’tabarah bukan mulghiyyah.[22]

Ø Menggunakan mashalih sama dengan kebodohan dalam syari’at karena akan terjadi asimilasi dalam aturan-aturan Islam yang dipengaruhi oleh egosentris dan kekuasaan yang hegemonik. Dan hukum-hukum tersebut dilandasi dengan kepentingan pribadi mereka masing-masing dengan klaim maslahat.

Beberapa alasan yang menerima mashalihul mursalah, adalah sebagai berikut:

ü Bahwasanya syari’at tidak ditetapkan kecuali untuk kemaslahatan dan nash-nash syari’at beserta hukumnya sangat varian. Penetapan maslahat mursalah merupakan karakteristik dari syari’at itu sendiri.

ü Kemaslahatan manusia selalu mengalami perubahan karena perbedaan situasi, kondisi dan waktu serta tidak mungkin menyesuaikannya dengan kondisi pada waktu dulu.

ü Sesungguhnya para mujtahid -baik dari kalangan sahabat atau setelahnya- banyak yang melarapkan ijtihad mereka dalam menjaga kemaslahatan dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

Kesimpulan

· Tujuan awal dari penerapan syari’at yaitu untuk mewujudkan serta menjaga kemaslahatan manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Dimana hal tersebut bisa terejawantahkan pada mashalihul mursalah ini sebagai subordinasi dari karakteristik syari’at.

· Mashalihul mursalah bisa kita interpretasikan sebagai upaya untuk mengambil manfaat dan menghilangkan mafsadat dengan tetap berpijak pada terma-terma umum dari nash syari’at melalui pendekatan rasio yang akan menghasilkan produk hukum untuk dijadikan undang-undang dalam merespon permasalahan yang berkembang disebabkan pergeseran situasi, kondisi dan waktu.

· Maslahat sendiri terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu mashalihul mu’tabarah, mashalihul mulghoh dan mashalihul mursalah atau al-mashlahatul maskut ‘anha.

· Para ulama sepakat bahwa mashalihul mursalah tidak boleh diterapkan pada aspek ibadah yang sudah final.

Illahi Anta Maqsudi Wa Ridhoka Matlubi

“Kekeringan air yang membangkitkan semangat”

Qattameya Permai, 17 Februari 2007




*) Coretan ini disharingkan pada sidang Lembaga Buhuts Islamiyah Divisi Syariah pada hari Sabtu, 17 Februari 2007 di Rumah Pwk Persis Mesir pada pagi hari yang dingin ;)) :-p

**) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo jurusan Syari’ah Islamiyah dan pegiat ilmu pengetahuan

[1] . Surat Al-Hajj ayat 78, Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama RI, Semarang, 1989. CV Toha Putra Semarang.

[2] . DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalihul Mursalah wa Atsaruha fi Marunatil Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal. 13.

[3]. Imam Ghazali, Al-Mustasfa min ‘Ilmi Ushul, Beirut, 1997. Muassatul Risalah, jilid 1 hal.416

[4]. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal. 236

[5]. DR. Yusuf Qardhawi, Siyasah Syar’iyah fi Dhoi Nushus Asy-Syari’ah wa Maqashidiha, Kairo, 1998. Maktabah Wahbah, hal. 84

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali

[6]. Khifdzu Al-Din, Khifdzu Al-Nafs, Khifdzu Al-‘Aql, Khifdzu An-Nasl dan Khifdzu Al-Mal

[7]. Syaikh ‘Izudin bin Abdus Salam, Qawa’id Al-Ahkam fi Mashalih Al-Anam, hal.35. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.26

[8]. Dia adalah Muhammad Thohir bin Muhammad bin Muhammad Thohir bin Muhammad Syadili bin ‘Asur At-Tunisi. Seorang imam yang sangat ahli dalam disiplin ilmu Islam baik itu bahasa, sastra maupun sejarah.

[9]. Syaikh Thohir bin ‘Asur, Maqhasid Asy-Syari’ah Al-Islamiyah, Hal.63. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.29

[10]. Ibnu Taimiyah, Majmu’atul Fatawa, jilid 11 hal.34-343. Samih Abdul Wahab Al-Jundi, Ahmiyah Al-Maqhasid fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Atsaruha fi Fahmi An-Nash wa Istinbat Al-Hukmi, Iskandariyah, 2003. Darul Iman

[11]. Wahbah Zuhaili, Ushul Fiqh Al-Islami, jilid 2 hal.757. Yusuf ‘Alam, Al-Maqhasid Al-‘Ammah li Asy-Syari’ah Al-Islamiyah, hal.135. Samih Abdul Wahab Al-Jundi, Ahmiyah Al-Maqhasid fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Atsaruha fi Fahmi An-Nash wa Istinbat Al-Hukmi, Iskandariyah, 2003. Darul Iman

[12]. Ahmad Ar-Raisuni, Nadhoriyah Al-Maqhasid ‘inda Asy-Syatibi, hal.257. Samih Abdul Wahab Al-Jundi, Ahmiyah Al-Maqhasid fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Atsaruha fi Fahmi An-Nash wa Istinbat Al-Hukmi, Iskandariyah, 2003. Darul Iman

[13]. Ar-Roji, Al-Mahsūl, jilid 5 hal.158. Samih Abdul Wahab Al-Jundi, Ahmiyah Al-Maqhasid fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Atsaruha fi Fahmi An-Nash wa Istinbat Al-Hukmi, Iskandariyah, 2003. Darul Iman

[14]. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal.236

[15]. Abu Ishaq Asy-Syatibi, Al-Muwafaqot fi Ushul Asy-Syari’ah, Kairo, 2003. Maktabah Taufiqiyah, jilid 2 hal.6. DR. Wahbah Zuhaili, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Damaskus, 2006. Darul Fikr Suriah, hal.92

[16]. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.209

[17]. Riwayat Abu Dawud dalam Kitab Al-Aqdiyah bab Ijtihad Ar-Ra’yi fi Al-Qadha’I hadits no.3592 jilid 4 hal.18. Tirmidzi dalam Kitab Al-Ahkam bab Mā Jā’a fi Al-Qādhi Kaifa Yuqdhā hadits no.1327 jilid 3 hal.116. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.210

[18]. Al-Ghazali, Syifāu Al-Ghalīl, hal.212. As-Syatibi, Al-I’tisham, jilid 2 hal.108. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.213

[19]. Az-Zanjānī, Takhrīj Al-Furū’ ‘an Al-Ushūl, hal.322. DR. Muhammad Ahmad Burkab, Mashalih Al-Mursalah wa Atsaruha fi Marunah Al-Fiqh Al-Islami, Dubai, 2002, Darul Buhuts Dirosat Islamiyah wa Ihyaut Turats, hal.215

[20]. DR. Yusuf Qardhawi, Taisir Al-Fiqh Lil Muslim Al-Mu’ashirah fi Dhou`i Al-Qur’an wa Sunnah, Kairo,1999. Maktabah Wahbah, hal.85. DR. Yusuf Qardhawi, Siyasah Syar’iyah fi Dhoi Nushus Asy-Syari’ah wa Maqashidiha, Kairo, 1998. Maktabah Wahbah, hal.99

[21]. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal.238

[22]. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Amadī dalam kitab Ahkamuhu jilid 4 hal.216. Abdul Karim Zaedan, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, Beirut, 1996. Muassatul Risalah, hal.239

About these ads

One comment on “Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqashid Syari’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s