Sketsa Dasar Ideologi Marxisme

SKETSA DASAR IDEOLOGI MARXISME*

J. Firdaus**

“Kensengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat.” (Karl Marx)

Pendahuluan

Pemahaman Marxisme sebgai sebuah Istilah, rasanya tidak asing lagi saat ini, dan mungkin sebagian dari kita sudah mengenal ide-ide dasar yang digagas oleh para nabi Marxisme, Karl Marx[1] dan Frederick Engels[2], yang Kemudian diteruskan oleh Stalin dan Lenin sehingga ide ini menyentuh ranah politik dan ekonomi lebih luas[3]. Dari para “jaguar” tersebut, menghasilkan bentuk dan asesoris yang berubah-ubah pada penampilan Marxisme. Hal ini terjadi karena proses penyesuaian dengan sosio kultur yang ada pada saat itu. Oleh karenanya, Marxisme juga dikenal dengan istilah Marxisme Engelianisme, Marxisme Leninisme, Marxisme Stalinisme namun, dari semua itu tetap menampilkan satu wajah dasar asli, dengan asesoris yang berbeda.

Pondasi teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar[4]:

Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialekika (al Mâdiyyah al Jadaliyah) dan Materialisme historis (al Mâdiyyah al Târikhiyyah). Kedua, politik ekonomi (al Iqtishôd as Siyâsi). Pembahasan yang paling urgen dalam masalah ini yaitu pandangan meterialisme dalam teori nilai laba atau keutungan, beserta segala yang terkait dengan hal itu; baik rentetan yang mempengaruhi kondisi sosial masarakat, bahkan yang menyentuh dimensi agama dan. Ketiga; konsep ketatanegaraan dan pendangan revolusi (an Nadhôriyyah ad Daulah wa as Staurah). Dari ketiga pondasi marxisme diatas, tema pertama (filsafat materialisme) itulah yang akan menjadi pokok pembahasan pada makalah ini, dan mungkin amat sedikit berbicara masalah politik, ekonomi, sosial dan system ketatanegaraan marxis. Semoga di lain kesempatan bisa meluangkan waktu untuk mengkaji lebih dalam masalah tersebut.

Hampir semua teori hasil kreasi manusia mempunyai landasan pengaruh historis, baik dari para pendahulunya ataupun generasi sesudahnya yang, kurang lebih merupakan implementasi estaveta dari satu bentuk ke bentuk lain dan, terkadang pengulangan total. Ide-ide pemikiran, filsafat dan bahkan ilmu sainstis pun merupakan mata rantai yang berkesinambungan dari waktu ke waktu[5]. Oleh kerena itu, timbul pertanyaan sebelum mengkaji lebih lanjut berkaitan dengan tema pokok Marxisme. Apakah penggagas awal teori dasar materialis itu Karl Marx pada abad 18?. Atau ide-ide ini sudah muncul pada waktu manusia belum mengenal ilmu empiris, pada masa filsafat klasic? Lebih jauh dari itu, apa penyebab utama munculnya gerakan Marxisme? serta pengaruhnya pada stabilitas agama? Bagaimana bentuk Marxisme yang sesungguhnya dari pelbagai macam model yang dipraktekkan oleh para aktor di pentas Marxis? Dan apa korelasi kuat dengan Sekularisme? Dari semua pertanyaan itu, dibutuhkan analisa tajam serta mendalam untuk menyingkapnya, yang nanti akan digunakan sebagai instrument pisau analisa kita dalam menilai kebolehan manufer hebat mereka atau sebaliknya.

Munculnya Marxisme

Ideology Marxisme muncul dari kreativitas pemikir Karl Marx dan Frederick Engels, yang sangat setia menjembatani teori materialis Marxis dengan saintis. Dari perspektif falsafi, pijakan pemikiran marxisme berdiri di atas materialis ateistik, ketidak percayaan akan adanya tuhan, kontradiksi dengan yang diyakini oleh agamawan, teori aliran idealisme obyektif maupun idealisme subyektif dan bahkan bertentangan juga dengan mazdhab mastaniyyah[6].

Dalam pandangan Marxis, materi adalah tuhan itu sendiri, tiada yang mempunyai kekuatan dalam penciptaan kecuali materi, lâ syaiin mâ warâ’a thobî’ah. Marxisme adalah Materialisme. Maksudnya, Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan materilah yang membentuk akal, bukan sebaliknya. Kesemuanya itu sangat terpengaruh oleh ideologi Hegel[7] dan juga Feurbach[8]. Dari adopsi keduanya mengasilkan produk marxisme komunis yang berdiri di atas teori pokok materialis dialektik yang menyatakan bahwa, materi lebih dulu ada dari akal supranatural. Hanya materilah yang merupakan esensi awal pencipta dari segenap wujud, kemudian berevolusi menggunakan teori hukum dialektika internal menuju kehidupan nabati, berevolusi lagi menuju kehidupan hewani, kemudian insani dan, pada akhirnya menciptakan karya terbesar yang mampu membedakan manusia dengan wujud lain, terciptalah logika. Bermula dari materi dan berhenti pada titik ahir logika untuk saat ini[9].

Kembali ke akar permasalahan bahwa Karl Marx bukan mendatangkan teori filsafat murni baru, akan tetapi merupakan estaveta mata rantai dari teori Hegel dan Feurbach[10]. Bahkan kalau kita membuka lembaran sejarah, akan kita temukan bahwasannya teori yang menyatakan materi adalah pencipta, telah ada pada jaman filsafat yunani kuno yang menyatakan bahwa unsur dasar materi penciptaan adalah air, tanah, api dan udara[11].

Bukan hanya dari falsafi pendahulu teori Marxis muncul, lebih dari itu bahkan dalam sudut pandang materialis, penafsiran akan sejarah peradaban manusia merupakan danpak dari ekonomi material dan menghasilkan sengketa konflik dua realita sosial, masarakat borjuis dan proletarian. Pada umumnya Marxisme muncul mengambil bentuk dari tiga akar pokok, Salah satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Prancis, khususnya revolusi borjuis di Prancis tahun 1790an, dan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya diawal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut catatan sejarahnya merupakan titik permulaan Marxisme, adalah ‘filsafat Jerman’. Dari analisa Marx menyatakan bahwa “Bukan kesadaran sosial yang menentukan kenyataan sosial, melainkan kenyataan sosial yang menentukan kesadaran.” Senada dengan yang dikatakan Angels “Pikiran tidak menciptakan materi, namun materilah yang menciptakan pikiran.” Makanya untuk mengerti dan mendefinisikan sebuah filfasat, teori ataupun ideologi, menurut Marxis perlu menganalisis “kenyataan sosial” yang merupakan dasar filsafat tersebut. Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme[12] dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan). Jelasnya Marxis terlahir sebagai wujud pembelaan pada kaum buruh yang tertindas kapitaslis.

Pendek kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen dari kepentingan jangka pendek dari berbagai golongan sektoral, nasional, dll. Atau dengan kata lain Marxisme terlahir dari perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, dan juga mewujudkan opsesi kemenangan gerakan sosialis. Maka Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral dan/atau jangka pendek. Is oky, itu adalah dasar pijakan muncul gerakan ini, namun benarkah teori awal tujuan gerakan Marxisme sesuai dengan realita dan cita Marx sesungguahnya? Bagaimana sejarah mencatan adakah kesesuaian antara cita ideologi dengan usaha realita? Sialahkan anda yang menjawab itu semua.

Materi Dalam Tinjauan Marxisme

Membahas Marxisme tidak luput dari pembahasan materi, karena ideologi Marxisme itu sendiri berdiri di atas teori Materialisme dialektika dan Materialisme historis. Kesemuanya itu dapat terangkum dari beberapa poin penting; Pertama: materi lebih dulu ada dari pada ruh spiritual atau logika. Materi yang menciptakan pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari pikiran (misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan sebagainya bahkan agama), hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. ‘Akal’, yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material[13], hal ini jelas kontaradiksi dengan aliran idealisme[14]. Kedua: tatasurya bukan merupakan kreasi cipta tuhan. Maka tiada kata tuhan pencipta alam dalam kamus materialis. Ketiga: alam semesta tidak memerlukan kekuatan keluar dari kebiasaan alam dan kekuatan yang mengaturnya di luar alam itu sendiri, dengan begitu, alam materi mengatur dirinya sendiri melalui proses revolusi tanpa henti, proses ini tertuang dengan hukum-hukum alam saintis empiris. Dan proses evolusi ini juga terjadi pada tatanan sosial masyarakat.

Lantas adakah perbedaan antara Materialisme Marxisme dengan teori Materialis klasik “hylozois” (dari bahasa Yunani, yang berarti “mereka yang percaya bahwa materi itu hidup)? Pernyataan penting yang diajukan oleh para Marxisme bahwa, Materialisme Marxis barbeda jauh dengan bentuk Materialisme klasik. Marx dan Engels sendiri memberikan catatan kesalahan pada ideologi material klasik. Pertama: teori Materialisme klasik tidak berlandaskan kebenaran ilmu kimia dan biologi. Kedua: teori revolusi klasik tidak manembus dimensi hidup secara total, namun hanya mencakup dalam proses revolusi materi belaka. Ketiga: paham Materialisme klasik tidak memahami manusia sebagai kumpulan dari hasil hubungan sosial, akan tetapi memahaminya sebatas pemahaman yang abstrak, dan tidak obyektif[15].

Dialektika Materialis

Para Materialisme Marxis berupaya keras untuk menemukan dalil logika, guna memperkuat pemahaman yang menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada dalam keadaan bergerak dan perubahan yang konstan. Dan bentuk logika itu, tentu saja adalah dialektika[16]. Dalam istilah Marx, dialektika diartikan sebagai ilmu hukum pergerakan, baik di alam realitas empiris, ataupun dalam ide pikiran manusiawi. Bisa diartikan dialektika secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan.

Kandungan dari hukum dialektika itu sendiri tersusun dari tiga hal, secara singkat adalah:

Pertama: hukum perubahan (transformasi) kuantitas menjadi kualitas dan vice versa (qonun al intiqol min at tabâddulat kâmiyyah ilâ at tabâddulat nau’iyyah).

Kedua: hukum penafsiran mengenai yang berlawanan (interpenetration of opposites / qonun wihdatu wa shorrâ’ al mutâqidhât).

Ketiga: hukum negasi dari negasi (qonun nafiyun al nafi).

Ketiga-tiganya dikembangkan oleh Hegel dengan gaya idealisnya sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama (dalam bagian pertama karyanya Logic) dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being), kedua (mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic) Doktrin mengenai Hakekat (Essence), dan akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang-bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya teori Hegel menurut Marxis terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum itu disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, mengembalikan kesemuanya pada pikiran, simpelnya, Hegel berpandangan mengembalikan realitas (waqi’i) pada pikiran, dan pikiranlah yang menciptakan realitas. Itu terjadi karena Hegel adalah seorang idealis[17]. Beda halnya dalam pandangan Marxis bahwasannya gerak logika merupakan duplikat alam riil, bukan sebaliknya sebagai mana pendapat Hegel[18]. Oleh karenanya seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal sebab-sebab material. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme, yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan dalam masyarakat idealis ( feer dengan kapitalis). Kemudian Angels meletakkan teori-teori Marx dalam bingkai ilmu pengetahian sains.

1. Hukum transformasi dari kuantitas[19] menuju kualitas[20] dan vice versa.

Sebelum memasuki penjelasan hukum di atas, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu bahwa perubahan dalam marxis terbagi dalam dua bentuk, pertama: perubahan irtiqoi, yaitu perubahan yang terjadi dikarenakan adanya penambahan atau pengurangan kapasitas-kuantitas secara gradual pada sesuatu. Kedua: perubahan stauri, yaitu peralihan dari perubahan kuantitas secara gradual menuju perubahan kualitas dari sesuatu, atau dengan kata lain revolusi bentuk ke bentuk lain yang baru, yang lebih sempurna. Dari penjelasan pembagian tersebut bisa memberikan gambaran pada kita bahwa yang dimaksudkan perubahan bentuk oleh Marxis adalah transformasi dari kuantitas menuju kualitas dan kebalikannya. Dua model perubahan tersebut merupakan proses penting berkaitan dengan teori evolusi materi, sosial, bahkan pemikiran ide.

Hukum ini menyatakan bahwa proses-proses perubahan –gerak di alam semesta– tidaklah perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode perubahan yang sangat cepat –perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas. Penjelasan rinci yang dimaksudkan dalam teori revolusi kuantitas menjadi kualitas adalah bahwa dalam materi dengan suatu cara yang secara tepat ditetapkan untuk setiap kasus individual, perubahan-perubahan kualitatif hanya dapat terjadi oleh penambahan kuantitatif atau pengurangan kuantitatif dari materi atau gerak (yang dinamakan energi). Masing-masing materi yang kapasitas kualitatifnya berbeda, berlandaskan pada perbedaan-perbedaan komposisi (susunan) kimiawi atau pada kuantitas- kuantitas atau bentuk-bentuk gerak (energi) yang berbeda-beda atau hampir pada kedua-duanya (kualitatif dan kualitatif). Oleh karena itu tidak memunginkan mengadakan perubahan kualitas suatu materi kecuali menambah/mengurangi materi atau gerak, yaitu tanpa perubahan sesuatu yang bersangkutan itu secara kuantitatif[21].

Agak rumut memang memahami teori ini tanpa diiring contoh yang jelas. Sebagai contoh temperatur suhu air, pertama-tama sesuatu yang tidak ada artinya dalam hubungan likuiditasnya, betapapun dengan peningkatan atau pengurangan suhu air cair (hanya perubahan kuantitatif), akan tetapi ada suatu titik di mana keadaan kohesi ini berubah dan air itu diubah menjadi uap atau es[22](perubahan ke kualititatif).

Bukan hanya saintis dialektika digunakan, namun Marxisme menggunakan teori logika ini lebih luas lagi, perkembangan species pun menggunakan teori ini di mata mereka, sampai-sampai teori ini menjadi motor dalam benak yang merubah kondisi masyarakat dari sistem yang terbelakang (kacau balau) menuju sistem sosialis, revolusionis. seperti peralihan dari sistem feodal menuju kapital, dan dari kapitalis menuju sosialis[23].

2. Hukum interpenetration of opposites[24]

Teori hukum dialektika yang satu ini secara cukup sederhana bisa diartikan bahwasannya proses-proses perubahan revolusi terjadi karena adanya kontradiksi-kontradiksi (mutanaqidhot)– karena konflik-konflik yang terjadi di antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam materi maupun sosial. Mungkin perlunya dipaparkan tentang yang maksud kontradiktisi dalam pendangan Marxis terbagi menjadi tiga hal. Pertama: kontradiktif dalam satu hukum. Istilah ilmu manthiq qodim di kenal dengan mani’atul jam’i wal khulwi. Mustahil dua hal yang berlawanan sama-sama benar dan sama bohong dalam satu tempat dan waktu. Oleh karena itu hanya satu dari kontradiktisi itu yang dibenarkan, dan yang lain disalahkan (bohong). Saya ateis dan saya juga bukan ateis. Kedua: kontradiksi internal, kontradiksi terjadi antara satu komponen dengan komponen yang lain dalam satu perangkat kesatuan. Lenin mancontohkan dengan kutub selatan dan utara pada gaya hukum magnetik[25]. Atau min-plus pada arus listrik. Ketiga: kontradiksi eksternal. Maksudnya perbedaan antara sesuatu dengan yang lain memiliki perbedaan hakekat. Esensi inti atau jauhar dalam istilah manthiq. Seperti matahari dan tumbuhan[26]. Dua bentuk kontradiksi di atas (internal dan ekternal) memainkan peran yang sangat penting dalam perjalanan teori revolusi. Tipe kedua dikatakan primer dan yang ketiga dikatakan sekunder.

Sebagai contoh dari hukum interpenetration of opposites adalah energi elektromagnetik, menjadi bergerak akibat dorongan positif dan negatif atas satu sama lain, eksistensi kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah (sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan yang bertentangan satu sama lain (- dan +) yang ada dalam sistem. Hal yang serupa bahwa setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil dan tak berubah. Metode dialektis hukum ke dua ini mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini dan dengan demikian berarti mempelajari serta menyingkap secara mendalam perubahan internal yang sedang terjadi. Beda halnya dengan hukum pertama[27] yang menyingkap tentang rahasia peralihan kualitatif pada sesuatu.

3. Hukum negasi dari negasi.

‘Negasi’ dalam hal ini secara sederhana berarti gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah) menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang tanpa-kelas. Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis) baru, maka ia akan memaksa sistem lainnya yang lama untuk sirna (mati) digantikan oleh sistem yang baru tersebut. Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua (yang baru) ini bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses perubahan dalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari masyarakat tanpa-kelas, negasi dari negasi. Bisa di katakan bahwa hukum negasi dari negasi dihasilhan sebagai solusi dari baberapa hal yang berlawanan dan bertentangan, urgensi pentingnya hukum ini adalah mampu menciptakan dan menafsirkan perubahan bentuk ke yang lebih baik, dan bentuk inipun tidak menutup kemungkina akan berubah.

Contoh studi kasus sosial ekonomi, adanya bentuk sistem kapitalis (ra’simali) mengharuskan lenyapnya sistem buruh iduvidual (ummal) dalam penguasaan pengaturan produksi. Berkuasanya kapitalis manghilangkan kepemilikan kaum buruh kecil. Kemudian datang sosialis (isytiraqi) memberangus pengusaan kapitalis dalam perindustrian dan mengembalikan pengaturan produksi pada kaum buruh dalam bentuk jama’i, bukan kepemilikan secara perindividu. Hal itu tertera di dalam Manifesto Komunis, Marx menjelaskan bagaimana buruh harus membebaskan dirinya sendiri. Ia menulis, “langkah pertama dalam revolusi yang dilaksanakan oleh kelas buruh adalah dengan menaikkan posisi proletariat itu ke dalam posisi kelas yang memerintah, untuk memenangkan perjuangan demokrasi.” Bagi Marx, isu kuncinya adalah kekuasaan politik buruh. Para buruh harus menempatkan industri di tangan negara. Tapi negara ini adalah negara mereka (kelas buruh). Negara itu tidak lebih atau kurang daripada “proletariat yang mengorganisasi diri sebagai kelas yang memerintah”. Maka dari sinilah kapitalisme tergeser.

Tiga hukum dialektika ini telah memberikan pengaruh besar pada gerakan Marxisme dan kemudian menjelma dalam cakupan besar, skala negara, untuk dijadikan landasan dalam keputusan publik. Namun teori ini banyak mendapatkan kritikan sana-sini, bahkan diantara para ilmuan Marxis itu sendiri. Seperti teori dalektika Marxis yang menyatakan bahwa setiap sesuatu yang kontradiktif kompetitif senantiasa akan menghasilhan hal yang baru sebagai soslusi dari dua hal berlawanan tersebut, kita dapat dengan mudah menemukan hal yang kontradiktif tersebut, namun timbul pertanyaan yang membuat para Marxime menggelengkan kepala dan mengerutkan dahi untuk mencari jawaban dari pertanyaan, apa yang menyebabkan terjadinya konflik dari dua hal yang berlawanan tersebut? Apa yang mengharuskan Marxisme untuk menyatakan secara pasti bahwa produk dari dua hal yang kontradiksi tersebut adalah lebih baik? Kekuatan apa yang memberikan materi mati untuk berenergi? Kenyataannya para Marxis masih belum menemukan jawaban memuaskan untuk dirinya sendiri dan lawan teorinya. Dari Isaac Newton misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, gerakan planet, dan benda-benda planet, memutuskan bahwa tenaga penggerak awal diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh semacam kekuatan supranatural, yaitu oleh Tuhan. Masih banyak lagi kritik akan teori dialektika Marxis ini, baik dari tinjauan ilmu pengetahuan maupun teologi agama dan kenyataan sosial itu sendiri, yang saya kira tidak perlu pembahasan khusus diluar lemberan ini secara panjang lebar.

Historis Materialis

Yang di maksudkan oleh Marxisme di sini adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang sosial masyarakat secara menyeluruh sebagai impelementasi dari wujud pergerakan materi.

Semua ilmu yang ada tidak bisa memberikan data informasi sosial secara total menyeluruh, karena ilmu yang ada hanya menjelaskan bagian-bagian kecil, sesuai dengan disiplin ilmu masing masing. Sosial masyarakat pun begitu komplek, bukan hanya berdiri di atas kepentingan sebagian. Oleh karena itu maka membutuhkan satu ilmu yang mempelajari akan hubungan antar sosial masyarakat, karateristiknya dan bahkan pergerakan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat tersebut (tathawur). Ilmu ini tidak lain adalah historical materialism, lebih luas cakupannya dari pada ilmu seajrah. Sedangkan posisi dialektika adalah sebagai asas dalam historis materialis ini, untuk mencari dan memperbaiki tatanan masyarakat. Maka boleh dikatakan bahwa historis materialis adalah kaki tangan dari dialektika berkaitan dalam interaksinya dengan sosial, dengannya menganalisa kemudian menetapkan statemen, sebagaimana langkah Marx untuk para Proletariat harus berjuang melawan kaum kapitalis yang menghisap dan menindas kaum buruh. Satu-satunya cara untuk memenangkan perjuangan ini dan membebaskan diri adalah dengan mengalahkan kelas kapitalis di kancah politik serta merebut alat-alat produksi mereka. Itu hanya mungkin jika proletariat menciptakan aparatus negara yang baru[28].

Agama Produk Materi; Dalam Pandangan Marxisme

Sikap Marx terhadap agama[29]:

“Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran diri dan harga diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri.”

“Namun manusia bukanlah suatu makhluk yang berkedudukan di luar dunia. Manusia itu adalah dunia umat manusia, negara, masyarakat. Negara ini, masyarakat ini menghasilkan agama, sebuah kesadaran-dunia yang terbalik, karena mereka sendiri merupakan sebuah dunia terbalik.”

“Agama merealisasi inti manusia dengan cara fantastis karena inti manusia itu belum memiliki realitas yang nyata. Maka perjuangan melawan agama menjadi perjuangan melawan sebuah dunia nyata yang aroma jiwanya adalah agama tersebut.”

Marx menutup teks ini dengan menghimbau supaya kaum filosof menghentikan kritik terhadap agama guna memperjuangkan perubahan sosial:

“Maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, adalah untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk yang tak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata; kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik.”

Ada beberapa hal yang bisa diambil dari apa yang telah ’ammu Marx sampaikan, bahwa kaum Sosialis (dalam pandangan Marxisme) bukan berperang malawan agama sebagai tugas utama, akan tetapi melawan bentun-bentuk sosial yang timpang, dan agama adalah perwujudan atau potret dari ketimpangan, penindasan sosial itu. Marxisme berjuang untuk pembebasan sosial, bukan kritik terhadap agama, karena itu adalah sia-sia bahkan negatif, karena kritik semacam itu hanya mempersulit penghiburan emosional yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Hilangnya penindasan, maka agama hilang dengan sendirinya.

Sentimen ini mengulangi isi semboyan revolusioner yang dimuat dalam Tesis IX Tentang Feuerbach (tulisan Marx): “Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya”.

Lenin Tentang Agama?

Tidak jauh berbeda antara Lenin dan Mark. Dalam Revolusi Rusia, Lenin dan Partai Bolsyevik menerapkan kebijakan untuk berlandaskan prinsip-prinsip Marx tersebut di atas. Maka dalam pemerintahan, kaum Bolsyevik tidak mengambil sikap anti-agama, melainkan kepercayaan pada Tuhan dianggap sebagai masalah hak pribadi. Menurut Lenin[30] pemerintahan Bolsyevik memang memusuhi lembaga-lembaga agamis yang konservatif, dan melawan hubungan resmi antara negara dan agama, tetapi sekali lagi untuk menjaga prinsip-prinsip demokrasi, seperti Marx, Lenin beranggapan bahwa agama merupakan “keluhan para makhluk tertindas”, sehingga “prasangka agama” tidak bisa dihilangkan tanpa menjungkirbalikkan tatanan sosial. Sebelum perubahan itu dapat tercapai, sikap anti-agama hanya menjadi sektarian, dan bisa memecahkan kelas pekerja:

“Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi … seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak untuk menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis … Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi.”

“Subsidi-subsidi tidak boleh diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak boleh memberikan tunjangan untuk asosiasi religius dan gerejawi. Ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, secara independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan terkutuk, ketika gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan…”

Penutup

Pembahsan marxisme sangat lah luas. Makalah ini hanya menyampaian landasan pijakan teori falsafi Marxisme saja, dan itupun ala kadarnya, tanpa masuk ke pembahasan sosial, ekonomi dan politik Marxis. Sangat terbatas dan mungkin kurang pas bahasa yang digunakan dalam penyampaian. Tidak banyak penulis mengkritisi pada makalah ini sebagai salam sapa untuk Marx dan para nabi (kalau boleh di sebut nabi) Marxisme lainnya. Silahkan rekan pembaca bebas berekpresi tentang Marxisme dan bahkan membawanya ke tengah sidang pengadilan. Namun hanya satu hal yang perlu kita sekalian ketahui, bahwa saat Karl Marx lemas terbaring sakit keras, muka sudah mulai memucat, tangan dan kali sudah terasa dingin, lunglai hilang harapan untuk hidup lebih lama lagi… di ujung nafas sekarat kematiannya, dia berteriak keras menyebut-nyebut nama tuhan[31].

Wallahu a’lam


* Makalah kajian LBI devisi tafkir. Kamis, 8 Maret 2007, secretariat Pwk. PP. Persis Mesir.

** Mahasiswa Ushuluddin; Akidah Filsafat , Universitas al Azhar Cairo.

[1] Karl Marx, Yahudi Jerman, dilahirkan di Tafeuz tahun 1818 dan meninggal tahun 1883, selengkapnya lihat Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni, hal: 1206

[2] Frederick Angel, lahir tahun 1820 di Babarman Jeman dan meninggal tahun 1890, dari keluarga Kapitalis, lihat lengkapnya: Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni. hal: 195

[3] Afkar Marxisiyyah fil al Mizan, Thoriq Haji, hal: 22

[4] Marxisiyyah wa Mauqif Al Islam minha, Dr. Saiyid Abdul Tawwab Abdul Hadi, hal: 5

[5] Adhwa’ ‘ala Filsafat al Islamiyyah fi al ‘Ashri al Washith, Dr. Jamaluddin Husain ‘Afifi, hal: 4

[6] Akar pokok perbedaan landasan pikiran, aliran idealisme menyatakan bahwa ruh lebih dulu ada dari pada materi, sedangkan aliran mastaniyyah mengatakan bahwa antara ruh dan materi tidak ada satu sama lain mendahului, berbeda halnya dalam pandangan materialis, menyatakan bahwa materi lebih dulu ada dari pada ruh. Masing-masing pandangan yang berbeda ini menghasilkan cabang persepsi yang berbeda pula dalam menyikapi akan adanya Tuhan dan seterusnya.

[7] Hegel, Filosof Jerman (1831-1770), Satu dari sekian filosof yang paling berpengaruh ide pemikirannya dalam sejarah manusia. selengkapnya lihat Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni, hal: 1496

[8] Ludwing Andreas Feurbach (1872-1804), filosof Jerman, kritikus agama Nashrani dan semua agama keseluruhan. Selengkapnya lihat Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. ‘Abdul Mun’im al Hafni, hal: 1049

[9] Karena dalam pandangan Marxisme bahwa perubahan tidak mengenal kata akhir, Al Marxisiyyah wa al Islam, Dr. Mushthofa Mahmud. hal: 35

[10] Uslub al Ghazwu al Fikru, hal. 113. Dan Mausu’ah al Muyassaah. Cet: tiga, juz: 2, hal: 929

[11] filosof yang pertama tercatan dalam sejarah adalah Tholes (546-624 SM), menyatakan bahwa air adalah materi pertama pencipta (‘illatul ‘ula). Lihat : Allah wa al ‘Alam wa al Insan, ‘Inda Falasifah Yunani, Dr. Jamalluddin Husain ‘Afifi, ,hal: 20

[12] Idealisme maksudnya adalah aliran filsafat, lawan Marxisme. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.

[13] Limadza Rufidhat al Marxisiyyah?, hal: 27

[14] Menurut pendekatan idealis (mastaliyyah), perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni, ilmu pengetahuan, dll. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan atau tidak, ternyata menyelubungi semua filsafat kapitalisme.

[15] Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam teori berfikir, kalau filosof kuno menggunakan manthiq qadhim yang hanya mengandalkan logika semata, dan ini jelas penuh campur tangan asumsi pribadi. Sedangkan filosof pertengahan dan kontemporer lebih didominasi dengan gaya manthiq hadist. Marxisiyyah wa Mauqif Al Islam minha, Dr. Saiyid Abdul Tawwab Abdul Hadi, hal: 9

[16] Pada filsafat Yunani kuno pun ada teori dialektika. Namun sini pikiran dialektikal masih tampil dalam kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan penuh pukauan yang dipasang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas. Barulah datang dialektika yang paling dekat dengan para naturalis Jerman, yaitu filsafat Jerman klasik, dari Kant hingga Hegel.

[17] Titik-berangkat Hegel: bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan bahwa dunia real hanyalah sebuah salinan (copy) dari ide itu. Titik inilah yang menurut para Marxisme keberangkatan yang sama sekali salah, namun herannya Marxisme tetap mengadopsi hukum dialektika Hegel, ini terjadi dikarenakan menurut Engels hanya dia yang mampu memaparkan kebenaran gambaran-gambaran individual hukum dialektika dari alam dan sejarah dengan jelas dan kongkrit.

[18] Mausu’ah al Filsafat wa al Falasifah, Dr. Abdul Mun’im al Hafna, Juz 2, hal: 1201.

[19] Yang dimaksudkan adalah sifat yang membatasi materi dengan yang lain dari sisi tingkat perubahan karakteristiknya, seperti jumlah dan isi volume suatu benda misalkan.

[20] Maksudnya adalah kumpulan sifat yang harus dimiliki dari suatu materi, sehingga membedakan komposisi (susunan) kimiawi dari materi yang lain.

[21] Ide Marxisme ialah bahwasannya akan senantiasa ada periode-periode perubahan gradual yang diselingi dengan periode-periode perubahan tiba-tiba.

[22] Enzyklopädie, Gesamtausgabe, Hegel, Bd.VI, hal: 217.s

[23] Hal tersebut menunjukkan lompatan-lompatan kualitatif dalam perkembangan sosial; tetapi perubahan itu muncul sebagai akibat akumulasi kontradiksi-kontradiksi kuantitatif dalam masyarakat.

[24] saling-menerobos dari hal-hal yang bertentangan

[25] Tipe kontradiksi ke dua ini (internal) memiliki dua tuntutan konsekwensi. Pertama: dua sisi yang kontratiktif menuntut eksistensi satu sama lain. Cantoh adanya maksimal dan minimal. Kedua: kontradiktisi kompetitif dan saling perlawanan keduanya senantiasa berlanjud, hingga manghasilkan revolusi membentuk yang baru.

[26] Kontradiksi eksternal sedikit berbeda dengan kontradiksi internal, perbedaannya adalah kontradiksi ekternal tidak menuntut hilangnya satu harus menghilangkan yang lain.

[27] Perubahan kuantitas menuju kualitas

[28] dalam Manifesto Komunis, Karl Marx.

[29] Lihat di buku Karl Marx; Kritik terhadap Filsafat Hukum Hegel

[30] Dalam “Sosialisme dan Agama”, 1905.

[31] Mencari Makna Hidup, Dr. Johan Efendi

About these ads

7 comments on “Sketsa Dasar Ideologi Marxisme

  1. “Namun hanya satu hal yang perlu kita sekalian ketahui, bahwa saat Karl Marx lemas terbaring sakit keras, muka sudah mulai memucat, tangan dan kali sudah terasa dingin, lunglai hilang harapan untuk hidup lebih lama lagi… di ujung nafas sekarat kematiannya, dia berteriak keras menyebut-nyebut nama tuhan[31].”

    Dikutip dari mana Pak ? minta link nya dong…biar gak menduga – duga. Thanks

  2. Saya rasa terlalu naif jika hanya melihat “sisi gelap” Marxisme. sisi gelap itu ada ketika Marxisme resmi menjadi ideology kaum buruh internasional dan ketika diambil alih oleh Lenin 1917 yang menyebabkan revolusi di Rusia. dan ketika Marx mengatakan: “agama… adalah candu rakyat”. Agama yg di kritik Marx bukanlah agama seperti yang tertera dalam teks suci, melainkan agama yang telah termanipulasi di dalam masyarakat. Apalagi orang yang pesimis dengan ideologi Marxis, lantaran kepesimisan Marx terhadap agama, akan terjebak pada suatu sikap egoist yg menutup diri dari pemikiran sehingga bukan hanya pemikiran yg kaku tapi spiritualitasnya pun akan merasa tersakiti.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s