Ingat, Dan Ber-’azzamlah Dengan Niat Awal

Ingat, dan Ber-’azzamlah dengan Niat Awal!!*

Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi**

Iftitâh

Niat merupakan visi, penglihatan, tujuan, dan sasaran yang menjadi sumber motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu. Begitu juga dengan kehadiran kita di Negeri Para Nabi ini, berawal dari sebuah niat. Siapapun yang memutuskan ingin kuliah di Al-Azhar pasti memiliki niat yang baik. Lalu, setelah berada di Mesir, mengapa banyak yang ‘tergelincir’ dari niat semula? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertanyaan yang serupa harus kita ajukan, mengapa nabi Adam as. dan bunda Hawa tergelincir dalam perbuatan dosa?

Yang paling tahu jawabannya adalah Allah SWT. Tak seorang manusiapun yang menyaksikan kejadian itu, ketika itu manusia hanya mereka berdua. Nah, mari kita perhatikan jawaban Allah dalam Al-Quran: “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. 20:115)

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan kepada kita bahwa dua faktor penyebab Nabi Adam melanggar perintah Allah – juga diikuti oleh Siti Hawa, adalah lupa dan tak ada ‘azam (kemauan keras). Kita sering mendengar atau membaca langsung dalam Al-Quran tentang kisah tergelincirnya Nabi Adam dan Hawa oleh syetan la’natullah ‘alaihi. Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda tela’ah lagi kisah ini dalam al-Quran surat Thâha ayat 116-127. Dari tragedi orang tua manusia itu, saya punya asumsi sekaligus sebagai jawaban perrtanyaan di atas, bahwa banyak mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) yang ‘tergelincir’ dari niat semula, karena lupa dan tak ada ‘azzam (kemauan keras) untuk meraih niat tersebut.

Nah, tulisan sederhana ini bermaksud mengingatkan kembali tentang niat kita, lebih jauhnya lagi untuk membangun keyakinan dan sikap dasar (beliefs and basic attitude) bahwa hal yang paling kita butuhkan dalam belajar di Al-Azhar adalah selalu ingat dengan niat kita dan berazam untuk mencapainya.

Agar kita ingat terhadap niat kita, setidaknya ada tiga hal yang harus kita sadari dan fahami betul, yaitu fungsi Al-Azhar, realitas Indonesia saat ini, dan kondisi alumni Al-Azhar sebagai transformator fikrah Al-Azhar di Indonesia. Berangkat dari diskusi terhadap tiga hal tersebut, maka di penghujung pembahasan, penulis akan menawarkan beberapa kiat agar ‘azzam kita terus menggelora.

Fungsi Al-Azhar

Ada tiga fungsi Al-Azhar, menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawy dalam kitabnya “Risâlatu Al-Azhar Baina al-Ams wa al-Yaum wa al-Ghad”, yaitu sebagai jâmi’ (tempat ibadah/masjid dan mendidik), jam’iyyah (lembaga pergerakan dakwah), dan jâmi’ah (universitas). Dalam tulisan ini, ketiga fungsi tersebut akan kita bahas meskipun singkat, agar ada gambaran menyeluruh tentang Al-Azhar.

Al-Azhar muncul pertama kali sebagai jâmi’ (masjid). Jami’ ini mulai dibangun pada tanggal 14 Ramadlan 359 H./971 M. oleh seorang panglima dawlah Fathimiyah —masa pemerintahan Khalifah Mu’iz Lidinillah— bernama Jauhar ash-Shaqily. Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 17 Ramadlan 360 H./971 M. pada masa pemerintahan Khalifah Al-Aziz Billah, jâmi’ diresmikan dan dipakai shalat Jum’at untuk yang pertama kalinya.

Pada tahun 369 H., Abu Al-Faraj Ya’qub Ibnu Kals (menteri khalifah Al-Aziz Billah) mengusulkan jâmi’ sebagai pusat menyebarkan faham Syi’ah. Maka beliau mengarang kitab fiqih bermadzhab Syi’ah dan dibacakan setiap hari Jum’at. Selain itu, juga dipelajari kitab “Iqtishâd fi fiqhi âly al-bait” karya Abu Hanifah Nu’man bin Abdullah al-Maghribi. Dan tahun 378 H. dilantik 37 fuqaha untuk mengajar di jâmi’ Al-Azhar dengan sistem halaqah.

Lalu, pada masa dawlah Ayyubiyah, pendidikan di jami Al-Azhar menjadi surut sebab para pengajarnya dipindahkan ke sekolah-sekolah baru. Selain itu, faham Syi’ah diberantas dari jâmi’ Al-Azhar dan diganti dengan faham Sunni. Tahun 665 —pada masa Raja Adh-Dhahir Bibers— pendidikan di Al-Azhar mulai menggeliat, bahkan mencapai puncak keemasannya hingga abad XV Hijriyyah.

Sebagai jam’iyyah, Al-Azhar telah melakukannya dengan baik dalam mengobarkan semangat para umat untuk melawan setiap kedzaliman dan penjajahan sesama manusia. Ini dapat kita lihat dari ribuan rakyat berkumpul di Al-Azhar untuk mengusir Prancis, maka terjadi revolusi 21 Oktober 1798 dengan terbunuhnya Jendral Debuih (duta Prancis di Cairo) oleh santri Al-Azhar; Sulaiman al-Halaby. Begitu juga halnya ketika Inggris datang, para ulama Al-Azhar yang dikomandani oleh Ahmad ‘Arabi bangkit dan terjadilah revolusi 9 Maret 1919 M. Sampai akhirnya gerakan Al-Azhar ini mampu menghalau Inggris pada 18 Juni 1956 dan tanggal ini diperingati oleh negara Mesir sebagai ‘Idul Jala (hari hengkangnya Inggris).

Embrio Al-Azhar berfungsi sebagai jâmi’ah (universitas) —sebelumnya dikenal dengan sebutan kuttâb— berawal dari kunjungan Jamaluddin Al-Afghani ke Mesir dan mengajar di Al-Azhar. Selain mengajar ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu modern (Ilmu Pengetahuan Alam, Kimia, dan Matematika) beliau juga menggalang persatuan umat Islam. Pemikiran beliau disambut baik oleh para alumni Al-Azhar, diantaranya Muhammad Abduh, Ahmad Arabi, Sa’ad Zaghlul, Abdullah Nadim, dan lain-lainnya.

Pembaharuan terhadap Al-Azhar, dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama, melalui Madrasah Darul Ulum —murid dan gurunya dari Al-Azhar— yang didirikan 1871 M, hanya saja nasib Darul Ulum ini berakhir ketika digabungkan dengan Universitas Cairo tahun 1945. Cara kedua, dengan memperbaharui kurikulum Al-Azhar, ini dilakukan oleh Muhammad Abduh (sebagai Majlis Tinggi Al-Azhar). Hanya saja resistensi dari ulama konservatif sangat keras, sehingga Abduh hanya bisa memasukan mata kuliah Matematika, Aljabar, Ilmu Ukur, dan Ilmu Bumi.

Adapun secara secara resmi sebagai jâmi’ah (universitas) dimulai pada tahun 1930. Ini ditandai dengan keluar SK. dari Dewan Al-Azhar No. 49 tentang pembukaan fakultas Ushûluddîn wa al- Da’wah. Kemudian, dibuka fakultas Syarî’ah dan Bahasa Arab. Dan tahun 1978 berdiri fakultas Dirasat Islamiyah, juga Kulliyatul Banât al-Islâmiyyah. Sistem manajemen dan administrasi dalam mengelola Al-Azhar mulai membaik setelah Syaikh Mahmud Syaltut mengeluarkan UU No. 103 tahun 1961, bahkan dibuka beberapa fakultas cabang ilmu pengetahuan umum, seperti fakultas Kedokteran, Perdagangan, Teknik, Pertanian, Farmasi, dan lain-lainnya, juga mulai membuka cabang di daerah-daerah.

Realitas Indonesia ‘Saat Ini’

Indonesia saat ini, ibarat burung Garuda patah sayap dalam sangkar. Seharusnya kekayaan sumber daya alam dan mayoritas sumber daya manusianya adalah muslim dapat membawa terbang umat Islam dan seluruh manusia menuju kesejahtraan, namun yang terjadi Indonesia tidak berdaya mengeluarkan dirinya dari multi-krisis yang berkepanjangan dan semakin terjerat dengan utang.

Sebagai warga negara, saat ini kita boleh bertepuk dada atas keberhasilan Pemilu dan Pilpres 2004 sehingga tuduhan dunia internasional —bahwa kita tidak demokratis— tidak terbukti sama sekali. Negara besar lainnya, termasuk AS, hendaknya angkat topi menghargai Indonesia sebagai negara domokratis yang terbesar. Namun sebagai muslimin, tugas dan tanggungjawab kita semakin berat, sebab justru dari pesta demokrasi itulah kita harus menyadari bahwa betapa dakwah dan tarbiyah Islamiyah belum menyentuh seluruh lini masyarakat atau grass roots. Masyarakat Indonesia ‘belum’ mempercayai parpol Islam dan leadershif (kempimpinan) dari kalangan umat Islam.

Kita berharap presiden baru; Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mampu melanjutkan seluruh agenda reformasi dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Dan ini membutuhkan partisipasi masyarakat untuk ‘mengontrol’ kinerja pemerintah; antara inprastruktur dan suprastruktur harus seimbang dan saling melengkapi.

Untuk mencapai hal itu, saya berpendapat, yang harus dibenahi pertamakali adalah bidang pendidikan. Betul, persoalan dan PR yang dihadapi oleh Indonesia dari A sampai Z; dari masalah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, sampai masalah moralitas bangsa, namun pendidikan harus menjadi skala prioritas. Kita bisa bercermin dari Amerika Serikat dan Jepang, mereka bisa bangkit dari krisis dan kehancuran dengan memperbaiki kurikulum pendidikan nasional.

Lantas, bagaimana realitas pendidikan di Indonesia saat ini? Realitas pendidikan di Indonesia sekarang sangat memprihatinkan. Laporan yang diterbitkan UNDP memposisikan indeks pembangunan manusia Indonesia pada 1997 menempati posisi 99. Lebih parah lagi, pada 2000 merosot ke peringkat 109. Hasil survei The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menyatakan dari 12 negara yang disurvei ternyata sistem pendidikan Indonesia berada pada peringkat 12, lebih rendah dari Vietnam, salah satu negara termuda di Asia Tenggara. Menurut Menko Kesra Yusuf Kalla mengatakan sistem pendidikan yang ada saat ini hanya mampu menciptakan manusia Indonesia “kelas kuli” atau pembantu rumah tangga. Dan itu berarti suatu kegagalan sebuah sistem menerjemahkan tuntutan perkembangan zaman yang menghendaki mutu pendidikan lebih baik (Republika, Kolom Opini, 4 Mei 2002)

Masih hangat dibenak kita, berita tentang AFI dan Olimpiade Fisika Internasioan, ternyata perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap para akademis cukup membuat kita untuk menangis. Lima besar juara Olimpiade Fisika Internasional tingkat SMA di Pohang, Korea Selatan, yang diwakili oleh Yudistira Virgus, Edbert Jarvis Sie, Ardiansyah, Andika Putra, dan Ali Sucipto. Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS, Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk kategori total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya merebut medali perak dan perunggu.

Tapi apa yang terjadi? Pemerintah dan masyarakat ternyata lebih menghargai juara Akademi Fantasi Indonesia (AFI) yang dimenangkan oleh Veri, Kia, dan Mawar. Pemenang AFI tersenyum dapat uang puluhan juta dari berbagai sponsor, mobil mewah, dan bisa langsung main film. Sedangkan para pemenang karya tulis ilmiah internasional itu menangis sebab uang sebesar 5 juta yang diberikan oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) tidak cukup untuk biaya masuk kuliah yang hampir sepuluh juta.

Kondisi Alumni Al-Azhar

Mengapa kita membahas alumni Al-Azhar, bukan kondisi mahasiswa Al-Azhar yang sedang belajar sekarang? Ada dua alasan, pertama, pada Iftitâh saya memaknai niat itu dengan visi. Sedangkan visi itu sendiri adalah gambaran, angan-angan, cita-cita, dan imajinasi yang senantiasa ada dalam benak kita. Saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan saat kita tamat kuliah dari Al-Azhar, seperti apakah kita? Inilah yang dimaksud dengan Steven R. Covey “Merujuk pada Tujuan Akhir” berdasarkan pada prinsip bahwa segalanya diciptakan dua kali. Ada ciptaan mental atau pertama, dan ciptaan kedua. Nah, agar kita memiliki visi yang baik, saya mencoba menguraikan kondisi alumni Al-Azhar agar kita memiliki visi alumni Al-Azhar yang ideal. Alasan kedua, saya membahas alumni Al-Azhar, sebab tentang keadaan Masisir sudah dibahas oleh pemateri yang lainnya. Dengan demikian, penulis mencoba menganalisa kondisi alumni Al-Azhar saat ini dengan konsep problem solving SWOT: Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Treatment (Tantangan).

Strength (Kekuatan)

Dalam membangun sistem pemikiran (system of thought) alumni Al-Azhar berangkat dari ilmu-ilmu agama. Hampir 100 % alumni Al-Azhar, selama di Mesir, menempuh pendidikan di fakultas agama, baik itu fakultas Ushûluddîn, Syarîah Islâmiyyah, Syarî’ah wal Qânûn, Lughah al-’Arabiyyah, maupun Dirâsât al-Islâmiyyah. Dan sejak tahun 2000, mahasiswa asal Indonesia ada yang kuliah di fakultas lain, seperti fakultas Tarbiyyah, Tijârah, Psikologi, dan lain-lain. Sebelum belajar ke Mesir, mereka telah mempelajari berbagai disiplin ilmu agama di pesantren atau madrasah. Dari sinilah penulis menyimpulkan bahwa kekuatan alumni Al-Azhar adalah lebih menguasai ilmu-ilmu agama.

Selain itu, kekuatan yang dimiliki oleh alumni Al-Azhar, adalah pengalaman interaksi sosial dalam masyarakat yang plural. Ada dua hal yang membedakan mahasiswa Al-Azhar —ketika kuliah di Mesir, terutama menempuh strata satu (S1) di Universitas Al-Azhar— dengan mahasiswa di Indonesia, yaitu tidak boleh melakukan kegiatan di kampus dan tidak dituntut untuk menulis karya tulis ilmiah (skripsi). Sebagai gantinya, mahasiswa Al-Azhar membangun komunitas sendiri di luar kampus. Maka lahirlah beberapa organisasi dengan corak yang berbeda-beda, diantaranya: PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) sebagai organisasi induk, 5 senat fakultas mahasiswa, 16 organisasi kekeluargaan, 9 organisasi afiliatif, puluhan organisasi almamater, belasan study club, LSM, perwakilan organisasi politik di Indonesia, dan lembaga-lembaga pers.

Satu hal yang menarik dari organisasi di atas, yaitu anggotanya heterogen; berasal dari berbagai daerah, mulai dari propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sampai propinsi Irian Jaya. Tidak berlebihan, kalau ada ungkapan bahwa mahasiswa Indonesia di Al-Azhar Mesir merupakan ‘miniatur Indonesia’. Dengan demikian, dinamika yang dibangun oleh mahasiswa Indonesia di Al-Azhar terangkum dalam slogan bangsa Indonesia Bhineka Tunggal Ika; beraneka-ragam tapi tetap satu. Dan pola interaksi sosial seperti ini sebuah modal dasar bagi alumni Al-Azhar untuk membangun kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

Weakness (Kelemahan)

Secara epistemologis dan aksiologis dalam disiplin ilmu-ilmu agama, alumni Al-Azhar cukup menguasai. Hanya saja alumni Al-Azhar masih kekurangan secara ontologis atau metodologis. Dengan kata lain —meminjam istilah Prof. Dr. Quraisy Shihab— alumni Timur Tengah (termasuk alumi Al-Azhar) kaya akan materi, sedangkan alumni barat kaya akan metodologi. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan titik pemberangkatan dalam menstruktur pemikiran, alumni Timteng (Timur Tengah) berawal dari agama (ilmu-ilmu agama), sedangkan alumni barat bermula dari ilmu (ilmu-ilmu umum). Walaupun akhirnya sama-sama membedah persoalan kehidupan, ternyata —secara ilmiah— alumni barat masih terlihat unggul. Mengapa? Karena alumni barat mampu mensinergikan antara ilmu dengan agama, sedangkan alumni Al-Azhar, juga Timteng, tidak beranjak dari agama. Konkritnya begini, kalau kita menghitung berapa karya ilmiah yang dilahirkan oleh alumni Al-Azhar sejak periode Prof. Dr. Quraisy Shihab hingga kini, maka akan terlalu jauh ketika disandingkan dengan karya ilmiah alumni dari barat. Itulah kelemahan pertama.

Kelemahan kedua, belum terbangun link (jaringan) sesama alumni Al-Azhar. Meskipun selama di Mesir para alumni Al-Azhar pernah berkecimpung dalam percaturan organisasi, akan tetapi ketika pulang ke Indonesia kembali nafsi-nafsi. Tidak salah, jika salah satu butir —Gemar membuat organisasi, kurang mampu membuat jaringan— dari “Otokritik Dua Puluh Lima Kekeliruan Kalangan Islam” yang ditulis oleh Eef Saeful Fatah, juga dialamatkan kepada mahasiswa Indonesia di Al-Azhar Mesir.

Opportunity (Peluang)

Dalam QS Al-Taubah [9]: 122 ada perintah agar tiap-tiap golongan mengutus beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya. Kelompok inilah yang penulis maksud dengan kata Creative Minority. Mereka adalah kelompok kecil yang berada di garis depan dan menjadi rujukan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan hidup mereka.

Alumni Al-Azhar sangat berpeluang menjadi bagian dari Creative Minority ini. Sebab, secara akademis alumni Al-Azhar lebih tinggi dari pendidikan masyarakat tempat mereka tinggal. Rata-rata alumni Al-Azhar telah menyelesaikan jenjang strata satu (S1). Sejak menjadi mahasiswa, mereka sudah memiliki tanggungjawab sebagai agent of change sekaligus center of excellent. Tamat kuliah mengemban amanat sebagai kaum intelektual. Dan menurut Kuntowijoyo, kaum intelektual adalah concerned citizen; warga negara yang menaruh perhatian pada masa depan bersama.

Treatment (Tantangan)

Sejatinya, tantangan yang dihadapi oleh alumni Al-Azhar saat kembali ke tanah air sangat banyak. Hanya saja, penulis mencoba merumuskan tantangan berdasarkan geografis; internasional, nasional, dan lokal. Rumusan tiga wilayah ini mengajak kita untuk ‘think globally act locally’; berpikir secara global untuk kebutuhan aksi lokal.

Pertama, tantangan skala internasional, yaitu arus modernitas dan globalisasi. Kata modernitas lebih ditujukan kepada ‘keniscayaan’ dan ‘proses’ perubahan. Sedangkan globalisasi bermakna akibat yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut. Dengan kata lain, akibat modernisasi maka dunia tak ubahnya desa buana (global village). Sehingga sekat, jarak, batas negara, ideologi, ekonomi, dan sosial-budaya, hilang. Menghadapi perubahan ini alumni Al-Azhar harus mampu berdialog dengan perubahan tersebut sekaligus mendefinisikan diri; apakah sebagai lawan, kawan, atau penonton perubahan? Betapa tidak, perubahan itu ibarat dua mata pisau, bisa konstruktif, juga bisa destruktif. Sebab perubahan itu tidak hanya pada tataran Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) an sich, melainkan mendobrak seluruh sistem nilai, baik itu sistem ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial-budaya, maupun pertahanan-keamanan.

Kedua, tantangan skala nasional, yaitu penerapan Otonomi Daerah (Otda) dan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dua hal ini kita angkat ke permukaan sebab penulis punya asumsi bahwa apapun posisi para alumni Al-Azhar ketika di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari kewajiban dakwah dan tarbiyah. Jargon “Betul, dakwah dan tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bermula dari keduanya”, sangat begitu akrab di telinga mahasiswa Al-Azhar.

Sebagai subjek dakwah (da’i), alumni Al-Azhar dituntut untuk melakukan dakwah kultural dan dakwah struktural. Yang sudah berjalan lama adalah dakwah kultural, sedangkan dakwah struktural, setelah pembubaran Masyumi, baru muncul kembali ketika rezim Orde Baru; Soeharto lengser (1998). Dan ketika bergulir sistem desentralisasi yang sangat menguntung umat Islam, namun kaum muslimin terkesan kurang siap untuk mengembannya, setidaknya berdakwah lewat struktur di parlemen. Konsep penerapan syari’at Islamiyah —tentang mu’âmalah; interaksi sosial— masih pada tataran wacana, bahkan slogan saja, belum mampu dirumuskan dalam bentuk Undang-Undang (UU), atau minimal Peraturan Daerah (Perda). Nah, kondisi seperti ini, merupakan sebuah tantangan bagi alumni Al-Azhar.

Adapun sebagai subjek tarbiyah (murabbi, al-ustadz, kiyai), alumni Al-Azhar dalam mengelola pesantren ditantang untuk lebih baik, setidaknya sejajar dengan kualifikasi dan akreditasi sistem yang dibuat oleh pemerintah. Tanpa memahami konsep, karakteristik, implementasi, dan inovasi Sisdiknas —yang telah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)— maka pesantren atau sekolah yang dikelola oleh alumni Al-Azhar, dari segi life skill, akan semakin tertinggal jauh dengan sekolah umum milik pemerintah atau swasta.

Ketiga, tantangan skala lokal. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kemiskinan, kebodohan, dan patologi sosial, merupakan tantangan bersama, bukan hanya milik alumni Al-Azhar. Mengapa tantangan lokal ini terjadi? Ada dua alasan yang dapat penulis kemukakan di sini, pertama; kemiskinan, kebodohan, dan patologi sosial bermula dari sistem yang ada selama ini, yaitu sistem kapitalis dan sentralisasi; yang membuat jurang dan kesenjangan sosial. Kedua, tiga jenis tantangan itu terjadi disebabkan oleh terjadi ‘arus balik’ setelah masyarakat terkena imbas arus industrialisasi dan urbanisme sejak tahun 1960-an. Industrialisasi —menurut Kuntowijoyo— adalah diterapkannya organisasi, manajemen, dan teknologi dalam produksi barang dan jasa. Urbanisme adalah pertumbuhan menuju bentuk kota, perpindahan penduduk dari desa ke kota, dan dipakainya gaya hidup kota oleh desa.

Bukan industrialisasi dan urbanisme itu sendiri yang menarik perhatian penulis, tapi ‘arus balik’ dari keduanya. Sejak tahun 70-an, ada pergeseran paradigma di masyarakat tentang urgensi pendidikan; ada ungkapan: “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, kalau bisa langsung kerja?” Berbekal ijazah SD, mereka meninggalkan desa dan mengadu nasib di kota. Ternyata di kota, jangankan tamat SD, para alumni Perguruan Tinggi (PT) saja, ternyata tidak mendapatkan lapangan kerja. Akhirnya mereka dengan terpaksa bekerja ‘apa saja’ dengan upah yang tidak layak, asal mereka bisa hidup di kota. Seleksi alam tetap berlaku, siapa yang memiliki skill akan survive, sedangkan yang serba ‘pas-pasan’, akan kembali ke kampung. Nah, kembali pulang kampung inilah yang penulis sebut arus balik itu.

Ketika terjadi arus balik, alias mudik, mereka membawa kultur industrialisasi dan urbanisme, seperti hedonis; permisif, konsumtif; instan; individualisme; dan sebagainya ke daerah pedesaan yang agraris. Mereka ingin hidup enak, tapi tidak mau kerja keras, maka terjadilah patologi sosial. Lalu, saat ini mereka menemukan sebuah momentum, yaitu jadi legislatif. Dari pada menganggur dan ingin meraup uang sebanyak-banyaknya dengan cepat, maka mereka mendaftarkan diri sebagai Caleg. Mereka menggunakan partai yang bisa mereka beli. Tentu saja ketika mereka menjadi anggota legislatif bukan sebagai wakil rakyat, melainkan —secara tak langsung— melakukan pemiskinan dan pembodohan terhadap rakyat.

Tiga Hal yang Harus Kita Ingat

Dari pemaparan tiga variabel —fungsi Al-Azhar sebagai jâmi’ah (universitas), realitas Indonesia terutama bidang pendidikan, dan kondisi alumni Al-Azhar sebagai transformator fikrah Al-Azhar— di atas, ada tiga hal yang harus kita ‘ingat’, pertama, bahwa kontribusi Al-Azhar dalam dunia pendidikan formal di Indonesia berada di wilayah pondok/pesantren dan sekolah-sekolah agama, bukan di sekolah-sekolah umum. Memperhatikan analisa strength (kekuatan) para alumni Al-Azhar dan fungsi Al-Azhar sebagai jâmi’ah, kita simpulkan para mahasiswa yang belajar di Al-Azhar hampir 100% mempelajari disiplin ilmu agama, maka ketika pulang ke Indonesia mereka banyak yang mengajarkan ilmu-ilmu agama itu di pondok/pesantren dan sekolah agama. Kedua, bahwa kontribusi Al-Azhar terhadap pendidikan formal nasional masih minim, karena dari analisa weakness (kelemahan) alumni Al-Azhar dan realitas pendidikan di Indonesia, yang mendominasi dalam merumuskan sistem pendidikan di Indonesia adalah para alumni dari barat. Sedangkan para alumni Al-Azhar lebih banyak konsentrasi pada pendidikan lokal (daerah). Ketiga, bahwa kontribusi Al-Azhar terhadap pendidikan non-formal dan informal di Indonesia sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, sebab berdasarkan analisa Opportunity (Peluang), Treatment (Tantangan), dan fungsi Al-Azhar sebagai Jâmi, jam’iyyah, dan jâmi’ah menuntut para alumni Al-Azhar untuk berkiprah dalam pendidikan non-formal dan informal.

Bila kita telah berazam, maka tawakallah!!

Satu hal lagi yang harus kita sadar betul bahwa status kita saat ini adalah mahasiswa. Betulkah kita telah menjadi mahasiswa? Pertanyaan ini bukan sebagai bentuk skeptis terhadap status yang sedang kita sandang. Melainkan sebuah evaluasi (muhâsabah) agar kita menyadari betapa besar amanah yang sedang kita pikul saat ini. Betapa tidak, jika kita berbicara tentang kita sebagai insân yang ‘menjadi’ (becoming), bukan sebatas basyar (being), maka saya teringat dengan pernyataan Dr. Ali Syari’ati bahwa kita sebagai makhluk yang ‘menjadi’ (becoming), memiliki karakteristik kesadaran diri, kemampuan untuk memilih, kreatif (daya cipta), dan tanggung-jawab. Dengan kata lain, ketika kita mengklaim telah ‘menjadi mahasiswa’, kita untuk harus sadar terhadap niat kita, kita harus memilih apakah kita akan terjun dalam dunia pendidikan atau bukan, kita harus kreatif mengembangkan diri, dan kita bertanggungjawab terhadap pilihan dan keputusan kita sendiri.

Dengan demikian, mari kita hadapi masa depan dengan berpikir ideal; berpikir bagaimana yang seharusnya. Sebaliknya, dalam mensikapi masa lalu, hendaknya kita berpikir realistis; menerima kenyataan apa adanya. Manakala kedua hal tersebut kita balik, maka kita telah gagal me-niat-kan masa depan kita. Sedangkan ketika kita gagal dalam berniat (membuat rencana), itu sama arti kita telah meniatkan untuk gagal.

Nah, azam di hati kita terus bergelora dan agar kita tidak termasuk orang yang gagal merencanakan mahasiswa ideal, maka ada tujuh langkah yang perlu kita lakukan bersama, yaitu:

1. Milikilah visi dan misi hidup yang jelas.

2. Buatlah rencana; master plan; blue print; cetak biru, masa depan yang matang.

3. Tentukan tujuan dan target secara bertahap.

4. Pilihlah dengan tepat bacaan dan aktifitas yang sesuai dengan visi dan misi.

5. Teruslah belajar dan temukan gaya belajar yang sesuai.

6. Kembang seluruh potensi diri yang ada dan buat afirmasi setiap hari.

7. Bangunlah dan bersinergilah dengan komunitas yang baik.

Ikhtitâm

Sebagai pamungkas, saya ingin menegaskan kembali bahwa salah tugas terberat kita adalah menjaga niat dan menggelorakan azzam agar terus meluap. Tanpa keduanya, maka kita akan kehilangan arah. Saat terjadi disorientasi dalam hidup kita, maka bukan kesuksesan yang akan kita raih, melainkan kegagalan demi kegagalan yang akan kita temukan. Bahkan kebermaknaan hidup kita akan menguap entah kemana. Intinya, dawamkan tajdîdun niyah; perbaharui terus niat kita kapanpun dan dimanapun juga. Wallâhu a’lamu bish shawâb


* Coretan singkat ini sebagai bentuk berbagi pengalaman pada acara Orientasi Mahasiswa Baru (MABA)

pada hari Ahad tanggal 10 Oktober 2004 di Dâr al-Munasabât masjid As-Salâm.

** Penulis adalah seorang hamba Allah al-faqîr dihadapan-Nya yang sedang belajar menuai mardlâtillâh dengan menabur benih-benih rahmâh dan manfa’ah. Sekarang sebagai santri di Universitas al-Azhar Tafahna al-Asyraf. Juga sedang belajar sholeh sosial dibeberapa organisasi, diantaranya, koordinator Forum Silaturahmi Mahasiswa Indonesia Mesir (FS-Masisir) dan Sekum Forum Mahasiswa Lampung (FOSMAL), mantan Sekum FOSPI (sekerang jadi Pwk-Persis) 2001-2002, mantan Ketum Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (Pwk-PII) Republik Arab Mesir Periode 2002-2004, mantan Ketua I FLP (Forum Lingkar Pena) Mesir 2002-2003, mantan Sekretaris II Persatuan Pelajar & Mahsiswa Indonesia (PPMI) 2002-2003, dll. Dalam dunia jurnalistik pernah menjadi editor buletin “Al-Furqon”, Pimpinan Umum buletin “Manggala” KPMJB, staff Jurnal OASE ICMI Orsat Cairo, dan pembimbing REMAS di Masjid Indonesia Cairo.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s