Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla*

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf

Oleh : Anton H. Sultonan**

A. Pendahuluan

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah dan inayah-Nya. Shalawat dan salam kami haturkan kepada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan umat ini dari alam kesesatan ke alam yang penuh dengan kebenaran, barakah dan petunjuk yang nyata. Juga tak lupa kepada keluarganya, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in sampai kepada umat yang senantiasa meneruskan risalah-rislah Ilahi.

Berbicara masalah mufassir adalah sejauhmana keuletan dan ketajaman berfikir seorang syaikh (ulama) dalam memahami ayat-ayat al-qur’an dilihat dari berbagai sudut pandang pan ilmu, apakah kefakihan dia dalam menafsirkan al-qur’an fakih dalam ilmu hadits, hukum (syari’ah), literatur (balaghah), mantiq, ushul fikih dan ilmu-ilmu agama lainnya. Maka sosok kali ini mengetengahkan seorang syaikh yang mengedepankan tafsir bil matsur (manqul) daripada ma’qul (akal). Karena beliau begitu murni dalam menggunakan manhaj salafus shaleh dengan banyak membaca dan memahmi gaya literatur mufasir-mufassir yang lain seperti mufassir Ibnu Katsir, al-Qurtubi dan mufassir yang sebelum beliau.

Selintas kita berfikir, bahwa apa yang ada dibenak kita dapat mengatakan begitu berharga dan berartinya seorang syaikh dalam meneruskan risalah-risalah Ilahi melalui dakwah lewat lisan maupun tulisan yang di usahakannya sampai sosok seorang mufassir sekaligus mujaddid kali ini mampu memperjuangkan risalah Ilahi dalam bentuk apapun. Bagaimanpun kondisi dan situasi saat itu dibawah kekuasaan Turki Usmani yaitu Sultan Abdul Hamid Khan dimana pemerintahannya sangat terkenal diktatornya (keras). Dan konteks mufassir kali ini barangkali akan membahas sejauhmana riwayat hidup dan perjalanannya, pemikiran-pemikirannya, karakteristiknya, metode penafsiran, karya-karyanya dan akhir hayat beliau.

B. Riwayat hidup dan lika-liku Perjalanan

Nama asli beliau adalah Sayyed Muhammad Rasyid bin Ali Ridla bin Muhammad Syamsuddin bin Muhammad Bahauddin bin Manla Ali Al-Qalamuni yang masih ada kaitan dengan nama daerah al-Qalamun yang terletak disisi laut Atlantik dibukit Libanon dan 3 mil diantara kota Tripoli negeri Syam. Sebenarnya beliau adalah keluarga perantau dari negeri Bagdad sampai beliau diberi laqab “Sayyed” dan juga masih ada keturunan dengan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sehingga masyhurlah keluarga ini dengan nama “Al-Masyayikh“, karena mereka begitu konsisten dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan dakwahnya sampai kepemimpinan daerah itu di kuasainya karena sebab saling turun temurun dalam peran dakwahnya.

Syaikh Rasyid Ridla begitu panggilan masyhurnya dilahirkan didaerah Al-Qalamun pada tanggal 27 Jumadil Ula 1282 H bertepatan dengan tanggal 18 Oktober 1865 M. Menginjak dewasa, ayahnya sangat memperhatikan beliau dimana prilakunya sudah kelihatan mempunyai sifat kepemimpinan yang baik di tengah keluargnya, karena memang sifat ayahnya dari segi prilakunya persis dengan ayahnya. Apalagi kalau dari segi ilmunya, ayahnya mempunyai hapalan yang kuat, berbicara lemah lembut, toleransi antar agama sangat mulia. Sehingga beliau mempunyai catatan tersendiri mengenai kehidupan ayahnya dengan mengatakan; “semenjak saya dewasa dikampung kami, aku melihat kedudukan orang-orang Nashrani Tripoli, Libanon banyak yang menjadi pendeta dan pastur terutama kalau mereka berkumpul dihari raya ‘iednya. Sementara ayahku yang aku lihat sangat baik dalam berinteraksi dengan mereka seolah-olah beliau sedang menghadapi orang yang berkunjung dari pihak pemerintahan apalagi interaksi dengan orang muslim. Ayahku selalu mengatakan kebaikan-kebaikan pada mereka sekalipun ada fitnah yang menimpa mereka, ayahku selalu mengdepankan keadilan. Sehingga dari sebab inilah berbagai kemudahan dan kesesuaian dalam berdakwah bisa lancar dikarenan mempunyai rasa saling tolong menolong diantara penduduk setempat demi kemajuan negerinya”.[1]

Syaikh Rasyid Ridla pernah belajar bahasa Perancis disalah satu sekolah pemerintah Turki,[2] kemudian beliau belajar disekolah Husain Al-Jisr di Tripoli dimana beliau mempelajari ilmu fikih, bahasa Arab, nahwu, sharaf, akidah, ibadah, mantiq, ilmu hitung dan filsafat yang mulai digeluti pada tahun 1882 M ketika itu beliau berusia 17 tahun. Di tahun 1897 M beliau sudah memperoleh ijazah dibidang ilmu-ilmu Arab, syari’ah dan mantiq. Sekolah ini di kepalai oleh Syaikh Husain Al-Jisr sesuai dengan nama sekolahnya. Banyak ilmu agama yang beliau peroleh. Sebagaimana pula syaikh-syaikh yang lain ada yang turut andil seperti Syaikh Mahmud Nasyabah yang pada waktu itu sebagai ulama besar Tripoli sehingga beliau mendapatkan ijazah lagi dalam ilmu hadits dari ulama ini. begitu pula mendapatkan ijzah dari Syaikh Abi Al-Mahasin Al-Qawiji dalam bidang qira’at dalil al-khaerat. Semangat beliau untuk mencari ilmu memang tidak diragukan banyak syaikh-syaikh yang beliau manfaatkan untuk mengambil ilmunya sekalipun tidak mendapatkan ijazah seperti Syaikh Abdul Ghani Ar-Rifa’i.[3]

Dimasa tingkat pertama ketika sekolah di Husain Al-Jisr beliau sangat gemar mempelajari kitab karangan Syaikh Imam Ghazali yaitu “Ihya Ulumuddin” sampai segala prilakunya banyak berkesan denga kitab tersebut baik dari sisi agama dan akhlaknya.[4]

Dan ketika usia 30 tahun beliau menulis sendiri perjalanan hidupnya yang dipengaruhi oleh berbagai pemikiran-pemikiran baru apalagi dalam ilmu-ilmu kontemporer sehingga dalam hidupnya ingin mensucikan ruhinya seperti yang dilakukan oleh orang-orang sufi. Beliau punya keinganan untuk mengamalkan aspek ruhiyyah ini dengan bertalaqi ke salah seorang Syaikh sufi, maka bertmulah dengan cara sufinya “Naqsyabandiyyah” dari mulai cara dan prakteknya beliau ikuti kelompok mereka yang sudah diatur sedemikian rupa. Ditengah-tengah cara sufi ini beliau ada perasaan bahwa cara sufi ini adalah model ibadah yang sangat bahaya dapat merusak pemikiran-pemikirannya.““““““““““

Dan pada waktu itu beliau mengahadiri salah satu pertemuan cara ibadahnya para wali mereka yang disanjung-sanjung (yaitu dengan menggeleng-gelengkan kepala sambil menari-menari). Maka seketika itu kemarahan beliau meluap-luap dan langsung beliau meninggalkan tempat itu untuk tidak kembali selama-lamanya.

Mulailah dari sini beliau bermaksud untuk mengenali dan mempelajari sosok Imam Ibnu Taimiyyah dan mendekati pergerakan Wahabiyyah. Sampai akhirnya beliau banyak mempeljari pemikiran-pemikiran Al-Afghani dan Syaikh Muhammad Abduh karena beliau sempat membaca majalah “Al-’Urwatul Wutsqa“. Sampai saatnya yang dinanti-nantikan untuk bertemu dengan Syaikh Muhammad Abduh maka datanglah di tahun 1884 M dan 1885 M ketika syaikh ini berkunjung ke Tripoli dan bertemu dengan beliau. Kemudian Syaikh Muhammad Abduh datang kembali yang kedua kalinya ditahun 1894 M dan dari sini beliau berbicara panjang lebar mengenai perjalanan hidup Syaikh Muhammad Abduh sampai masalah pemikiran-pemikirannya.[5]

Dengan seringya membaca majalah ini beliau tergugah semangatnya untuk mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, politik dan sosial. Kemudian berusaha untuk menemui 3 pihak pengurus majalah tersebut untuk membantunya diantarnya; orang-orang Mesir yang diasingkan ke Beirut setelah gagalnya revolusi Arab, sebagian orang-orang yang tinggal sebagai tamu di kampungya Al-Qalamun, arsip-arsip ayahnya dan ustadznya Syaikh Husain Al-Jisr.[6]

Berbagai cara yang beliau lakukan untuk mengadakan suatu pergerakkan dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam dirinya menyebabkan beliau sibuk berfikir, langkah apa yang diperlukan umat saat itu. Dari sekian waktu yang dilaluinya beliau disibukkan mencari data-data dan arsip-arsip ayahnya yang tersirat dalam dirinya bahwa apa arti Islam itu sendiri. Bahwa Islam itu adalah penyeimbang dan penengah diantara kehidupan terhadap agama dan dunia, hadlarah dan syair-syair, tamaddun dan tazkiyyah. Berarti Islam itu adalah orang yang bersungguh-sungguh memperbaiki kehidupan muslim secara duniawi seperti halnya memperbaiki hidup untuk kepentingan akhirat. Dan bukanlah berdiam sebatas memperbaiki ibadah dan akidah saja dimana orang-orang salaf tidak mempunyai anggapan seperti demikian.

Dan pada akhirnya beliau mempunyai cara mengkritik, menetang untuk menyampaikan dakwahnya dengan cara membuat artikel-artikel di berbagai majalah, khusunya di majalah tersebut. Contohnya kritikan terhadap kitabnya Abi Al-Huda Ash-Shayadi dalam judulnya “kitabu al-hikmah asy-syar’iyyah muhakamati al-Qadiriyyah wa ar-Rifa’iyyah” yang isinya menyanjung-nyanjung urusan dirinya, mempublikasikan seruannya pada ahli baet dan Ahmad ar-Rifa’I as-shufi, kemudian mengangkat-mengangkat nasab dan melebih-lebihkan cara sufinya Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan wali-wali yang lainnya.

Setelah bertemu dengan Syaikh Muhammad Abduh diwaktu kunjungannya. Maka berusaha juga untuk menemui Jamaluddin Al-Afghani dengan berbagai cara yang beliau lakukan yang pada waktu itu Jamaluddin ada di negeri Konstatinopel dan beliau mempunyai maksud untuk pergi kesana akan tetapi kebetulan beliau bertemu dengan Abdul Qadir Al-Magribi yang masih ada kerabat dengan Al-Afghani dan langsung saja belaiu memberikan pesannya untuk Al-Afgani lewat dia. Isi pesannya mengharapkan dapat bertemu dengan Jamaluddin Al-Afghani. Tetapi beliau di takdirkan tidap bertemu dengannya dan tidaklah putus sampai disitu bahkan belaiu menggunakan cara surat menyurat untuk mengemukakan berbagai hal yang menjadi bahan pertanyaan dalam dirinya sampai Al-Afghani merasa kagum terhadap pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh beliau dan begitupun sebaliknya yang tiada lain surat tersebut ingin memuaskan jawaban-jawaban mengenai arti hakikat “al-ishlah” itu sendiri.

Ditengah kesibukkannya beliau berkeinginan untuk hijrah ke Mesir sebagai pendekatan terhadap syaikh Muhammad Abduh untuk menemani perjuangan dakwahnya. Pada tahun 1898 M terbitlah majalah “al-Manar” yang tidak lepas dari persetujuan Syaikh Muhammad Abduh. Majalah ini sebagai mimbar yang bertujuan untuk memperbaiki sisi agama, politik dan sosial. Persis yang didengungkan oleh prinsip Syaikhnya. Dari mulai edisi pertama majalah ini masih konsisten dengan perjuangannya sampai terus berlanjut di akhir hayatnya pada tahun 1935 M.

Majalah Al-Manar ini yang dipelopori oleh beliau tiada lain untuk mengisi dan menyebarkan pemikiran yang bersifat ruhiyyah, penjelasan-penjelasan akidah yang sesat dan penyimpangan-penyimpangan berita yang tidak jelasa arahnya. Begitu pula menyebarkan berita-berita yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam, berbagai pendapat tentang dunia politik dan tafsir ayat-ayat al-Qur’an yang setelah itu dijilidkan jadi kitab tafsir. Dimana Syaikh Muhammad Abduh mengisi rubrik tafsir yang dikumpulkan lewat tulisan dan muhadlarahnya.[7]

Syaikh Muhammad Abduh berpesan kepada beliau bahwa majalah ini harus memperhatikan bebrapa ketentuan diantaranya;[8]

  1. Majalah ini hendaklah tidak memihak pada suatu golongan tertentu.
  2. Tidak boleh memojokkan aib seseorang atau kritikan pedas.
  3. Tidak boleh melayani orang yang terhormat seperti “pemimpin”… maka kamu akan terus melayani mereka, sebaik-baiknya….akan tetapi kamu janganlah menjadi pelayan mereka.

Selain majalah al-Manar dan tafsirnya yang beliau kerjakan. Ada maksud lain yang akan beliau kerjakan yaitu pentingnya menyusun riwayat hidup Syaikh Muhammad Abduh, dimana beliau merupakan pelaku sejarah bagi pemikir Arab Islam dalam pembaharuan-pembaharunnya di abad ke-19. Kemudian muncullah niat beliau untuk membangun sebuah lembaga dakwah yang khusus bagi para utusan-utusan da’I, pelatihan-pelatihan yang bersifat ruh jihad dan diberi namalah “Darul dakwah wal irsyad“. Akan tetapi ketika pecahnya perang dunia I tahun 1914 M aktifitas lembaga ini berhenti diakibatkan oleh perang tersebut.[9]

Ketika sepeninggalnya Syaikh Muhammad Abduh beliau sangat berduka cita dan menaruh perhatian atas peran dia dalam medan dakwah. Dan ketika belaiu berbicara masalah kepemimpinan Syaikh Muhammad Abduh, beliau mengatakan bahwa; “sesungguhnya umat ini sedikitpun tidaklah merasa hilang oleh meninggalnya Al-Imam al-Ustadz (sebagai gelar baginya) dari pengetahuan beliau tentang Islam, akan tetapi aku merasa kehilangan oleh seorang pemimpin pembaharu, mengenal betul kebutuhan jaman, adil dalam meberikan hak yang selayaknya diberikan pada ilmu yang benar dan ikhlas dalam mengerjakannya, tidak pernah merasa hilang semangat untuk membangkitkan pembaharuan secara global melainkan kepiawaian beliau sebagai seoarang pemimpin penuh dengan tangung jawab. Maka dari sini kita hanya biasa berusaha dan bagi setiap orang yang berusaha sudah ada waktunya begitu pula setiap waktu untuk menghasilkan sebuah proses sudah ditentukan dalam kitab“.[10]

Kesibukkan dakwah beliau menjadi kebutuhan penting dan berharga dalam mencampuri politik Islam dan bergabung dalam berbagai muktamar-muktamar Islam yang mulai di selenggarakan; pertama di Mekah tahun 1926 M, kedua di al-Quds tahun 1931 M. dan beliau banyak berperan dalam memperjuangkan politik Syiria semenjak revolusi Turki sampai meninggalnya beliau. Kemudian bergabung dengan dalam partai bukan sentral sebelum tahun 1914 M. Begitu pula beliau menjadi pemimpin muktamar Syiria tahun 1920 M dan menjadi anggota asing dari perwakilan Syiria tentang Palestina di Jenewa tahun 1921 M. setelah itu menjadi panitia lembaga bagian politik di Kairo semenjak terjadi revolusi Syiria selama 2 tahun berturut-turut yaitu pada tahun 1925-1926 M. Dengan demikian semua aktifitas beliau ini tidak semuanya berkecimpung dalam masalah ini semua, bahkan beliau bertekad ingin meluruskan dan menyebarkan pemikiran Syaikh Muhammad Abduh yang sudah ia pelajari.[11]

Ada dua hal yang beliau kedepankan setelah meninggalnya Syaikh Muhammad Abduh, pertama; menghidupkan kembali para salafus shaleh dalam mengedepankan nash-nash baik itu al-Qur’an maupun as-Sunnah. Kedua; cenderung menjauhkan praktek dalam berpolitik. Tentunya beliaulah yang menjadi pemimipin pergerakan Syaikh Muhammad Abduh dalam pembaharuan agama dan beliau berkeinginan kembali mengedepankan yang dua hal tersebut yang dari sini beliau mulai menyusun buku-buku seperti tafsir al-Manar, karena latar belakang beliau adalah dari keluaran sekolah salafiyah yang waktu itu sering membaca kitab “ihya ulumuddin“.[12]

C. Pemikiran-pemikiran Rasyid Ridla dalam sebuah perubahan

Sudah kita ketahui bahwa seorang pembaharu agama sangat berkaitan erat dengan keberadaan seorang yang setia mendalami ilmu agama itu sendiri. Dimana kondisi realita jaman adalah sandaran yang dapat memberikan penilaian-penilaian bentuk kelemahan, kekurangan dan kerancuan-kerancuan dalam beribadah. Tentunya dari buah pemikiran, pendapat dan hujjah, ada tanggung jawab ulama yang perlu di jelaskan dan disampaikan sesuai kebutuhan dengan tidak meninggalkan sandaran hakiki dari para salafus shaleh.

Beliau berusaha mengemukakan kemerosotan kaum muslimin dilihat dari berbagai situasi dan kondisi menurut pemikiran dan cara pandang beliau dalam meneliti sebuah realita hidup yang tentunya tidak terlepas dari suatu penyebab kelemahan itu sendiri yaitu;[13]

1). Orang-orang Eropa identik dalam hidupnya itu serba mewah, dalam hal ini akan mengakibatkan kehancuran dalam aspek sosial masyarakat apabila ini tidak ada pendidikan yang benar sebagai fondasinya. Begitu pula mereka senantiasa memisahkan hubungan sosial yang ada dibagian benua Timur, mereka mengendalikan kehidupan itu pada lima perkara yaitu; arak, judi, riba, prostitusi dan perdagangan.

2). “Tentara-tentara penjajah” itu identik dengan golongan yang mengekor (taqlid) pada orang-orang Eropa dalam aspek kehidupan tanpa mengambil ibrah dari intisari peradaban mereka. Dimana Jamaluddin al-Afghani beranggapan mereka itu sebagai unsur pemecah belah negara dan kaum penjajah maka dijulukilah sebagai golongan syaitan, bahwa ingatlah golongan syaitan itu akan merugi.

3). Orang-orang muslim telah menjauh dari nilai-nilai agama yang merupakan keutamaan yang mudah sehingga segala aktifitasnya tidak pernah ada kesederhanaan, karena mungkin menganggapnya bahwa agama itu mudah dan sederhana saja. Maka mengakibatkan orang non muslim sangat mudah untuk mengorek-ngorek dan kelemahan memahami bahasa Arab. Dengan demikian tersebarlah ketergesaan yang tidak seimbang.

4). Pemerintah yang dzalim, kesewenang-wenangan dalam bertindak adalah suatu kehancuran dan kerusakan sebagaimana diibaratkan; apabila kamu melihat kebohongan, perkataan yang kotor, sombong, munafik, iri hati, dengki dan yang serupa dengan prilaku itu, merupakan suatu kehinaan yang terjadi pada umat. Maka hukumlah para pemimipin yang melakukan kedzaliman dan kesewenang-wenangan, rakyatnya kalau bertindak seperti demikian dan juga para ulama, para da’I yang melakukan bid’ah dan kerusakan-kerusakan dalam ibadah ataupaun sebaliknya.

5). Yang dialami orang muslim saat ini adalah banyak kebingungan, fitnah dan tampaknya perbedaan, perpecahan sehingga dapat melemahkan kekuatan orang muslim.

6). Sempitnya dan sedikitnya para fuqaha yang mampu dalam berijtihad malahan sampai tidak mampu, juga tidak dapat menyesuaikan perkembangan-perkembangan modern. Sehingga hukum itu merasa sempit ketika contohnya dalam masalah riba atau yang berhubungan dengan masalah transaksi harta.

7). Tidak melaksanakan syari’at hukum Islam, bahkan sebagian orang muslim mendorong untuk mempalajari teori sosialis. Sebenarnya dalam Islam itu sudah mencakup substansi dari pelajaran-pelajaran seperti ini.

8). Tersebarnya kemunkaran-kemunkaran yang dikedepankan seperti menciptakan agama-agama baru yang mungkin ini bakal atau celah yang jauh dari agama yang lurus.

Barangkali dari intisari yang dikemukakan beliau memberikan solusi yang bakal menjauhkan segala kelemahan dari timbulnya penyebab tadi. Dalam hal ini beliau tanpa memandang waktu tertentu dan dalam kondisi bagaimana. Dengan demikian ada beberapa cara diantaranya:

1). Penuh perhatian pada orang yang terkemuka dari segala pendidikan dan pembentukan muslim sejati. Begitu pula semangatnya dalam memperjaungkan Islam contohnya Syaikh Muhammad Abduh dalam mencetak tingkatan seorang muslim yang berpendidikan yang mampu mendorong masyarakat untuk maju.

2). Ulama itu harus tunduk dan taat juga mengakui terhadap ilmu kontemporer untuk kemajuan. Karena agama itu bukanlah yang memelihara dirinya akan tetapi bagaimana mengolah dirinya untuk maju.

3). Penting mengubah gambaran yang di rasakan kaum muslim bahwa agama itu hanya sebatas ibadah saja. Akan tetapi agama itu sebuah ruh yang akan mendatangkan kemenangan tanpa menjauhkan prilaku yang jelek. Sehingga keinginan beliau, bahwa orang-orang muslim itu perlu belajar agama yang bukan hanya sebatas rahasia ruhiyyah saja, bahkan perlu mengetahui hakikat hidup di dunia seperti halnya kebahagiaan manusia yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

4). Sesungguhnya perbaikan kaum muslimin itu adalah pentingnya mengembalikan kepada manhaj salafus shaleh dalam memahami agama tanpa menambah atau menguranginya.

5). Perlunya membangun universitas Islam dengan anggapan bahwa itu adalah bentuk strategis dalam tujuan terbesar pergerakan reformis yang berangkat untuk memahami Islam dengan benar.

6). Perubahan dan perbaikan itu tidaklah sempurna oleh seorang pemimpin saja bahkan umatnya pun perlu bertanggung jawab memperbaikinya.

7). Perlunya berijtihad dalam urusan dunia yang berdasarkan pada hukum-hukum yang sesuai dengan kebutuhan yang akan dijalankan oleh pemerintah sebagai bahan untuk melaksanakan keadilan, menjaga keamanan, aturan, negeri yang aman, kemasalahatan umat yang didasari oleh perubahan waktu dan tempat keadaan manusia dilihat pada sisi agama dan kondisi masyarakat.

8). Mengistinbat suatu hukum itu harus berdasarkan sebuah majma’ (lembaga fatwa) dan dakwah dengan maksud untuk menghilangkan perbedaan. Sampai beliau menyarankan untuk memahami dan memilih bukunya Imam Ghazali “al-qisthasul mustaqim” yang mungkin bisa dijadikan sebuah hujjah.

9). Menyebarluaskan pendidikan yang bersifat analisa, pengajaran yang sesuai dengan agama. Kemudian perlu dibangun sekolah-sekolah untuk kemasalahatan umat. Dan beliau menyebutkan bahwa hal ini sebagai sebab akan bangkitnya dalam bentuk wasilah-wasilah yang di berikan untuk umat sebagai tujuan kebahagian di dunia yang sesuai dengan kebutuhan.

Dengan demikian beliau bermaksud untuk mengembalikan perbaikan ini kepada ajaran salafus shaleh dalam mengedepankan nash-nash yang harus dijaga. Kemudian beliau menegaskan bahwa; “as-salaf itu adalah mereka yang mampu memahami medan juang yang hakiki dalam prinsip Islam sebagaimana telah diturunkannya al-Qur’an dan al-hadits“.

D. Karakteristik beliau

Tidak diragukan lagi bahwa kedalaman, ketajaman dan ketekunan beliau dalam memahami sebuah pan ilmu, mampu mencetak pribadi muslim dengan berbagai tanggung jawab yang dipikulnya berupa dakwah lewat tulisan dan lisan.

Beliau mempunyai kesabaran yang tangguh, mempunyai sistem penyampaian yang bagus, lahjah beliau paling terpercaya, jauh dari sifat bohong, dusta dan sangat membenci gibah, dendam dan namimah. Sangat menghormati persaudaraan sampai dijaga dengan baik sehingga beliau dalam segala urusan dapat dengan mudah.

Ketika duduk bersama-bersama dngan ayahnya dan seorang hakim Tripoli yaitu Musthafa Dzihni pada sebuah jamuan makananbelaiu berbicara sekitar masalah urusan-urusan negara Usmani sampai mengemukakan keelemahannya sementara orang tuanya dan hakim tersebut memandang bahwa cara berfikir beliau sangat kritis dan terarah, tetapi beliau hanya mengutarakan; “kelemahan suatu negara itu adalah karena bodohnya ulama dalam berpolitik sedangkan bodohnya pemerintah itu dalam agama. Kemudian hakim tersebut malah tercengang kaget dan tampak rasa malunya pada raut mukanya. Akan tetapai orang tuanya marah atas kritiknya itu, walaupun ungkapan nya lembut tapi sangat dalam kritkannya dan itu hanyalah menjawab pertanyaan saudara hakim yaitu apakah ada pemimpin negara atau mayoritas mereka sama merasakan persis kegembiraan kalian ketika kita akan mengatakan hal ini?”.[14]

Beliau sangat menjaga betul ruh Islam untuk membangkitakan umat Islam khususnya didalam negara Arab dalam menciptakan sutau kesan yang baik. Dimana belaiu banyak mengambil manfaat dari beberapa Syaikhnya dan gurunya. Kemudian jujur dalam berkata untuk mempelajari nash-nash al-Qur’an dan al-hadits. Sehinnga Syaikh Muhammad Abduh mempercayai beliau untuk melanjutukan kitab tafsirnya karena cara memahami ayat-ayat al-qur’an belaiu begitu teliti dan hati-hati.

Pernah suatu ketika Syakh Rasyid Ridla datang terlambat pada suatu muhadlarah dan beliau duduk dibelakang orang yang sudah datang duluan dengan sebab hujan yang lebat dan derasnya. Kemudian Syaikh Muhammad Abduh hanya diam sebentar dan waktu itu juga beliau memanggilnya supaya duduk disamping kursinya sambil mengatakan kepada orang yang hadir; “dia itu orang yang paling banyak mengambil manfaat daripada kamu sekalian”.

Salah seorang temannya yang seusia dengan beliau yaitu Syakib Aruslan dia mengatakan; “bahwa beliau sudah kelihatan sifat-sifat seorang ulama dan pemimpin juga tawadlunya sangat tinggi”. Sampai temannya itu menghormatinya dengan cara mencium tangan beliau karena beranggapan bahwa menciumnya itu supaya dapat kemuliaan ilmunya. Ketika ditanya hal demikian beliau menjawab;” mencium tangan orang yang berilmu itu boleh saja selama dia mengetahui peta perjuangan dakwahnya dalam mempertahankan Islam”.[15]

E. Metode Tafsir Al-Manar

Syaikh Rasyid Ridla adalah penerus tafsirnya Syaikh Muhammad Abduh yang dimulainya dari juz ke 6 sampai juz ke 12 yang terdapat pada surat Yusuf ayat 52. beliau tetap berkonsisten dalam menafsirkan lafadz al-Qur’an bersandar pada manhaj salafus shaleh. Disebagian tafsirnya yang diawali oleh Syaikh Muhammad Abduh mencakup pemahaman dan pemikiran-pemikiran tentang pembaharuan agama (al-ishlahiyyah) dan beliau hanya menghakhiri tasirnya sampai surat an-Nisa ayat 125 pada bulan Muharam tahun 1905 M dan 4 bulan setelah itu beliau meninggal yang bertepatan pada tanggal 11 Juli 1905 M. di sela-sela muhadlarahnya syaikh Rasyid Ridla terutama dalam materi tafsir beliau tidak pernah absen dan setiap muhadlarahnya beliau banyak menulis catatan-catatan penting, rekaman-rekaman yang seluruhnya mencakup pendapat dan pemikiran Syaikh Muhammad Abduh. Dan beliau memberikan waktunya untuk muhadlarah tafsirnya selama dua tahun yang dijadwalkan tiga hari dalam satu minggu sebelum tafsir ini di susun yang bertempat di mesjid al-Umara di Beirut.

Syaikh Rasyid Ridla menegaskan sisi kesalahan ulama dalam menafsirkan lafadz al-Qur’an dengan ma’tsur ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu pertama; kandungan lafadz-lafadz al-Qur’an yang diyakini maknanya harus menjadi penguat. Dan kesalahannya itu ketika mereka berta’ashshub pada suatu madzhab tertentu sampai taklid, kemudian beliau memprediksikan bahwa mereka dalam memegang madzhabnya dijadikan ushul sementara al-qur’an menjadi cabangnya. Yang demikian itu adalah kejelakan dan termasuk bid’ah yang mendahulukan akal. Kedua; penafsiran suatu ayat hanya sebatas pada literatur bahasa arab saja tanpa memperhatikan “almutakallim bil Qur’an” yaitu Allah ‘azza wajalla. Dan belaiu mengatakan;” kita membutuhkan yang kuat dalam menafsirkan itu adalah ketelitian dan kehati-hatian, dimana al-Qur’an itu adalah hidayah yang merupakan sifat-sifat al-Qur’an karena diturunkannya itu adalah sebagai peringatan, kabar gembira, hidayah dan kemaslahatan-kemaslahatan, juga sangat memperhatikan kebutuhan yang nyata, penejlasan yang mudah supaya dapat dipahami oleh pembaca“.[16]

Cara penafsiran yang dighunakan oleh beliau berbeda dengan al-Ustadz al-Imam (gelar bagi Syaikh Muhammad Abduh). Dimana beliau berbicara panjang lebar mengenai lughah, kekhilafahan, ayat-ayat musyabahat (serupa) dan hadits-hadits sebagai penguatnya. Dari dua cara yang berbeda, Syaikh Rasyid Ridla mengatakan dalam kitab tafsirnya jilid ke 8 halaman 896:“Ketika aku diberikan kebebasan untuk meneruskan tafsirnya al-Ustadz al-Imam terdapat perbedaan dalam manhajnya yang belaiu pakai adalah dengan cara mengaitkan satu ayat dengan ayat yang lainnya dan dari sunnah ada dalam keterangannya atau hukumya. Penelitian mufradat bahasa dan masalah khilafiyyah (perbedaan ) diantara para ulama. Diantara penafsiran yang lain banyak menceritakan penyimpangan-penyimpangan kehidupan yang menekan kaum muslimin sehingga beliau meneliti dengancara lewat penafsiran dimasa itu ataupaun menguatkan hujjahnya disebabkan dari yang demikaian untuk menentang kaum kafir, ahli bid’ah. Begitu pula memberikan solusi bagi kesulitan-kesulitan yang sesuai dengan tempatnya suapaya hati belaiu merasa tenteram dan damai”.[17]

Syaikh Rasyid Ridla menegaskan kembali bahwa lafadz-lafadz yang ada al-Qur’an itu harus sesuai maknanya dengan makna yang lain. Dan suatu istilah didalamnya ada saling keterkaitan makna dalam perubahannya khususnya dalam masa-masa yang terdahulu. Dan beliau menafsirkannya dengan kalimat yang baru. Sautu kewajiban bagi seorang mufassir itu adalah satu makna dengan makna yang lainnya harus sesuai dengan turunnya ayat tersebut dan yang lebih baik lagi betul-betul memahami lafadz al-Qur’an itu sendiri. Melihat sautu ayat yang derulang-ulang dan ini perlu diteliti mengingat ada perbedaan makna dalam siyaqul kalamnya seperti pada lafadz “al-hidayah“.[18]

Dapat kita katakan bahwa tafsirnya Syaikh Rasyid Ridla berbagai metode yang di gunakannya. Cenderung pendapat-pendapat yang berbau politik beliau berusaha membebaskan dirinya dari politik. Karena nasehatnya Syaikh Muhammad Abduh untuk menjauhi politik dalam menyebarkan politik kedalam pemerintahan Usmani dalam permasalahan uang negara dalam majalahnya al-Manar pada edisi ke 6. dan beliau tunduk pada nasehatnya al-Ustadz al-Imam walaupun merasakan dalam hatinya mengatakan: “pundakku merasa sempit untuk bergerak karena sebab bobroknya politik di negara kami maka lebih baik aku tuangkan hidup ini utnuk lebih bnyak mempelajari tafsir dan menyusunnya yang merupakan bagian dari poltik juga”.[19]

Dr. Muhmmad Imarah membuktikan pokok perbedaan dua Syaikh tersebut dalam cara menafsirkan. Dia menyebutkan salah seorang muridnya yang bernama Syaikh al-Fadhil bin ‘Asyur dalam kitabnya “At-Tafsir wa Rijaluhu” hal 169, 174, 175 mengatakan: “Syaikh Rasyid Ridla itu telah banyak mengembangkan perkembangan kaum salaf shufi (manhaj yang dipaki oleh ulama Syam –bukan diantara Syaikh Azhar- lebih mengedepankan nash dan al-hadits daripada ma’qul). Dengan demikian sepeninggalnya Syaikh Muhammad Abduh kita telah mendapatkan ( bahwa ruh penafsiran diantara beliau dengan al-Ustadz al-Imam berbeda dalam beberapa unsur, dengan perbedaan itu ada keterangan tambahan yang dikemukakan yan g bersandar pada atsar dan kami berpendapat bahwa yang di karang oleh beliau adalah tafsir “naqliyyan atsariyyan” menggunakan metode salaf berbeda dengan yang di guankan oleh Sayyed Jamaluddin al-Afghani dan Syaikh Muhammad Abduh karena keduanya hanya mengedepankan penelitian teori yang sesuai dengan yang digunakan oleh al-mutaakhirin, tanpa kurang memperhatikan al-atsar dan berita yang ssudah ada takhrijnya. Ayat-ayatnya tidak di topang pada berita yang di kemukakannya dan Rasyid Ridla sempat melanjutkan metode seperti ini bahkan sampai disalinnya pada setiap muhadlarahnya….akan tetapi setelah diberikan kebebasan untuk melanjutkan tafsirnya maka beliau berkonsisten untuk menyelasaikna tafsirnya….mulailah yang paling didahulukan yaitu ilmu-ilmu naql al-atsariyyah sebagai bahan acuan dan sandaran dalam sebuah penafsiran dengan penuh semangat dan mengikutinya ulama-ulama tafsir terdahulu seperti Imam at-Thabari, Imam Ibnu Katsir. Dan sisa juz yang sudah disusun oleh Syaikh Muhammad Abduh yaitu 5 juz belaiu periksa kembali dengan menyesuikan pada al-atsar”.[20]

Dalam ushul tafsirnya menegaskan beberapa masalah diantaranya: orang yang memakan riba, pembunuhan di sengaja apabila mati dan belum bertaubat maka akan kekal di neraka selamanya, mengingkari adanya perwujudan syaitan yang mempengaruhi manusia melainkan itu hanyalah godaan saja, mengingkari perwujudan jin terhadap manusia bagaimanapun keadaannya, menentang keras orang yang mengidharkan bid’ah yang melekat pada kaum muslimin sebagaimana pula para mufassir pendahulu menentangnya, mengemukakan tafsirnya yang bersumber dari tauret, injil dan memberikan cacat pada orang yang berlindung pada riwayat yang dla’if dan israiliyyat.[21]

Tafsir beliau cenderung pada madzhab sunni yang berdasar pada Imam Hanbali karena umumnya di negara Syiria, lebih khususnya di Damaskus. Di salah satu sisi tafsir ini kontradiktif dengan Imam Ibnu Taimiyyah tetapi cenderung tafsir ini lebih banyak memihak pada pengajaran-pengajaran Imam Ghazali.

Tafsir ini ada catatan pinggirnya sebagai keterangan tentang perbaikan dan penjelasan yang disusun di akhir halaman pada setiap jilid supaya membedakan bahwa ini adalah perkataan dari Syaikh Muhammad Abduh dan bukanlah perkataan saya.

F. Karangan-karangannya

Karangan belaiu yang sudah banyak di tahqiq, di tashih dan di cetak ulang sebagai berikut:

1). “Al-Hikmah Asy-Syar’iyyah fi Muhakamati Al-Qadariyyah wa ar-Rifa’iyyah”, buku ini adalah awal kitab yang disusunnya ketika beliau masih pelajar di Tripoli negeri Syam. Dikarenakan sebagai jawaban terhadap kitab yang dikarang oleh Ali Abi al-Huda ash-Shayadi yang mengemukakan Syaikh Sufi Sayyed Abdul Qadir Jailani.

2). “Majalah al-Manar”, yang pertama kali terbit pada tahun 1315 H/1898 M dan akhir terbitnya itu pada edisi 35 tanggal 29 Rabiuts Tsani 1354 H/1935 M. Di tiap edisi banyak mencantumkan pendapat-pendapat beliau dalam pembaharuan agama dan politik.

3). “Tarikh al-Ustadz al-Imam Muhammad Abduh”, terdiri 3 jilid.

4). “Nida al-Jins al-Latif (Huqûq an-Nisâ fi al-Islâm)”.

5). “Al-Wahyu al-Muhammady”

6). “Al-Manâr wa al-Azhar”

7). “Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy”

8). “Al-Wihdatu al-Islâmiyyah”

9). ” Yusru al-Islâm wa ushûl al-Tasyri’ al-Âm”

10). “Al-Khilafatu au al-Imamah al ‘Udma”

11). “Al-Wahabiyyun wa al-Hijaz”

12). “Haqiqatu ar-Riba”

13). “Muswatu ar-Rajul bi al-Mar’ah”

14). “As-Sunnah wa asy-Syi’ah”

15). “Manasik al-Haj, ahkamuhu wa Hukmuhu”

16). “Tafsir al-Manar”, terdiri 12 jilid dan beliau hanya menafsirkan 12 juz kemudian sisanya yang 5 juz di susun oleh Syaikh Muhammad Abduh.

17). “Risalah fi Hujjati al-Islam al-Ghazali”

18). “Al-Maqshuratu ar-Rasyidiyyah”

19). “Syubhatu an-Nashara wa Hujjaju al-Islam”

20). “‘Aqidatu ash-Shulbi wa al-Fida”

21). “Al-Muslimun wa al-Qibti wa al-Muktamar al-Mashry”

22). “Muhawaratu al-Mushallih wa al-Muqallid”.

Ada sebagian kitab-kitab adalah beliau sebagai pembimbing yang terdapat dalam kitab “al-Atsar al-Fikhiyyah lil Ustadz al-Imam“. Dan biasanya beliau mengirimkan artikel-artikel ke majalah “al-’Urwatul Wutsqa”. Begitu pula dalam kitab-kitab turats beliau menjadi pembimbing dalam pembetulan, perbaikan dan perubahan-perubahan diantaranya seperti; tafsir Ibnu Katsir, Tafsir at-Thabari, al-’Ilmu asy-Syamikh fi Itsari al-Haq ‘ala al-Aba wa al-Masyayikh li al-Muqbili, Syarhu ‘aqidah as-Safarani li Ibnu al-Qudamah, al-Mughni fi Syarhi Mukhtashar al-Hizqi, Dalailu al-’Ijaz li Jurjani dan Injil Barnaba.[22]

G. Akhir hayat beliau

Beliau meninggal ketika dalam perjalan menuju Kairo setelah menghadiri acara perpisahan dengan Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz (raja sebelumnya) yang bertempat di kota pelabuhan Suez-Mesir, meninggalnya itu karena tabrakan dengan sebuah mobil di tengah perjalanannya menuju Kairo, yang bertepatan pada malam Kamis tanggal 23 Jumadil Ula 1354 H/22 Agustus 1935 M. Ketika itu beliau sudah berusia kurang lebih 70 tahun.


* Makalah ini di presentasikan pada acara tri wulan Pwk PERSIS oleh Bid. Taklim tanggal 18 Oktober 2003 di sekretariat Pwk PERSIS Kairo.

** Penulis adalah mahasiswa Al-Azhar tk. IV Syari’ah wal Qanun Tafahna el-Asyraf.

[1] Sayyed Yusuf, “Rasyid Ridla wal ‘Audah ila Manhaj as-Salaf”, hal.11, Cet. I Merit lin Nasyr wal Maklumat, Kairo, tahun 2000.

[2] Sayyed Imam Muhammad Rasyid Ridla, “Tafsir al-Qur’an al-Hakim al-Mashur bi at-Tafsir al-Manar”, hal; 6, juz I, cet. I Darul Kutub ‘Alamiyyah, 1999 Beirut-Libanon.

[3] Sayyed Yusuf, op. cit, hal.12-13.

[4] Dr. Mushtafa Rifa’I, “ad-Dakwah wa ad-Du’at fi al-Islam”, hal.173, cet.II al-Maktab al-Islamy, 1993, Beirut.

[5] Sayyed Imam Muhammad Rasyid Ridla, op. cit, hal. 6-7.

[6]ٍ Sayyed Yusuf, op. cit, hal. 16-17.

[7] Sayyed Imam Muhammad Rasyid Ridla, op. cit, hal. 7.

[8] Sayyed Yusuf, op. cit, hal. 26.

[9] Sayyed Imam Muhammad Rasyid Ridla, op. cit, hal. 7.

[10]Sayyed Yusuf, op. cit, hal. 34.

[11] Sayyed Imam Muhammad Rasyid Ridla, op. cit, hal. 7-8.

[12] Sayyed Yusuf, op. cit, hal 35.

[13] Sayyed Yusuf, ibid, hal 120-142.

[14] Sayyed Yusuf, ibid, hal. 154-155.

[15] Sayyed Yusuf, ibid, hal.155.

[16] Sayyed Yusuf, ibid, hal.145-146.

[17] Sayyed Yusuf, ibid, hal.148.

[18] Sayyed Yusuf, ibid, hal.148.

[19] Sayyed Yusuf, ibid, hal.149.

[20] Sayyed Yusuf, ibid, hal.149-150.

[21] Ibrahim bin Muhammad, “Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir li asy-Syaikhal-Islam Ibnu Taimiyyah”, hal. 57-58, cet. I Darush Shahabah li turats, 1988, Tanta-Kairo.

[22] Sayyed Yusuf, op. cit, hal.152-153.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s