Menelaah Dialog Interaktif Antar Agama

MENELAAH DIALOG INTERAKTIF ANTAR AGAMA

Upaya Menuju Transformasi Nilai-nilai

AA. Arsyul Munir, Lc.*

Gaung modernitas yang pada aktualnya sering diidentikkan dengan pencapaian kemajuan teknologi mutakhir, yang memprasyaratkan akal-ilmiah sebagai satu-satunya piranti kontemporer yang paling rasional ternyata, tak bisa terlepas dari proposisi-proposisi monologis yang sepenuhnya —setidaknya, bagi penulis— berbau mitos. Jika kita menyepakati bahwa suatu mitos adalah, sebuah keyakinan-radikal (artinya ialah sesuatu yang mengakar ke dalam) yang diakui keabsahannya secara “begitu saja,” maka proposisi bahwa “perolehan modernitas tanpa menentukan posisi identitas Aku, Kamu, Kita, atau Mereka akan berujung pada suatu kegagalan tragis yang sia-sia,” adalah tak ayal lagi merupakan sebuah mitos (!) —meskipun adakalanya, mitos sesuatu terkadang memiliki nilai kebenaran juga, semisal “mitos” tentang suatu realitas suci yang transenden. Pengalaman dunia empiris, membuktikan hal tersebut. Ini terlihat dari bagaimana peta pemikiran kontemporer saat ini semakin diwarnai oleh segregasi afirmatif yang menekankan urgensi identitas yang khas, yang disadari atau tidak, sebenarnya lebih bersifat anti-pluralis daripada demokratis. Pertanyaan-pertanyaan “siapakah Mereka?” menjadi begitu penting dideskripsikan untuk mendefenisikan pernyataan “siapakah Aku?” sehingga bagian dari “mereka” adalah musuh bersama (a common enemy) bagi keseluruhan “aku.” Terminologi “kita” tak lagi mengimplikasikan suatu sistem kebersamaan jagat-raya yang utuh, tetapi semata hanyalah akumulasi kepentingan “bersama” yang seringkali ambigu.

Sayangnya, beberapa gelintir pemikir, khususnya yang berlabelkan Barat, dalam hal ini malah menjadikan mitos tersebut sebagai pola pikir paradoksal yang paradigmatik. Sehingga, pluralitas peradaban manusia yang semestinya dipandang “sebagaimana adanya,” acapkali ditafsirkan sebagai sesuatu yang pada dasarnya saling kontradiktif. Alih-alih dapat menciptakan sebuah tatanan dunia global yang mutual-komplementer, malah mengharuskan adanya benturan antar peradaban (the clash of civilization). Paling tidak, teori ini dipopulerkan oleh dua pemikir kapitalis yaitu; Francais Fukuyama dan Samuel P. Huntington. Ringkasnya, mitos yang diyakini benar oleh para Huntingtonian tersebut mengatakan bahwa Islam sebagai salahsatu entitas agama yang berperadaban luhur sangat potensial untuk dapat menghegemoni dunia dan karenanya, harus dilihat sebagai sosok monster “haus darah” yang mengerikan. Tentu saja, ini adalah phobia politis yang terlalu dilebih-lebihkan. Namun untuk memahaminya, kita hanya perlu menilik sejarah diskursus Barat vis a vis Timur (baca; Islam) yang menyisakan syndrome trauma yang akut semenjak tragedi crusade antara Islam versus Kristen yang berkepanjangan —perhatikan pula, bagaimana mitos ini bekerja secara begitu efektif pada kebijakan politik AS-Eropa masa kini terhadap beberapa negara “muslim” semisal Afghanistan, Irak, negara-negara Balkan dan sebentar lagi Iran, Suriah, Lebanon, lalu Mesir, Sudan, kemudian menyusul; Arab Saudi, negara-negara petro-dolar Teluk dan negara-negara “muslim” Asia (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, Bangladesh).

Dengan demikian, sosialisasi gagasan dialog antar agama yang lagi semarak itu tak lain merupakan antitesa reaktif dari kondisi pergumuluan antar peradaban yang intens. Sementara peradaban dunia yang ada saat ini hampir merupakan —untuk tidak mengatakan seluruhnya—nilai produk dari suatu rahim agama [setidaknya, walaupun hipotesa tersebut sangat bias kepentingan (vested interest) dan karenanya menjadi sangat subjektif, namun tetap mengandung realitas objektif yang mapan (!)] maka, finalitas sebuah dialog akan menemukan relevansinya pada penjabaran “dokumen” esensial dari rahim agama itu sendiri.

Terminologi dialog berarti mengisyaratkan intensifikasi pengupayaan diri (al-Anâ) untuk mengenal dan memahami eksistensi the other (“al-Akhar“) secara lebih objektif, atau sebaliknya. Hal ini dimungkinkan sebab adanya desakan berkehidupan demokratis secara plural. Sehingga masing-masing (agama) diharapkan mampu untuk menerima kehadiran (peradaban) “yang lain” dengan paradigma yang lebih santun dan toleran. Gagasan-gagasan Dr. Milad Hana, pemikir Kristen Koptik asal Mesir, dalam karyanya Qabûl al-Akhar, paling tidak telah mendukung sepenuhnya wacana ini. Namun tentu saja, dialog yang kapabel harus memenuhi —setidaknya, menurut hemat penulis—dua kriteria yang menentukannya sebagai sebuah dialog yang proporsional. Instrument pertama adalah bahwa sebuah dialog dikatakan berperan efektif hanya jika tak menyentuh keabsahan “mitos” transendental masing-masing agama yang mendasari keyakinan doktrinal-teologisnya. [jika menggugat, maka peristilahan yang tepat untuk dialog seperti itu adalah debat (!)]. Bagian sensitif tersebut merupakan wilayah suci yang dikeramatkan (sacred). Sebab semakin seseorang terbuka (terhadap wacana-wacana politis yang non-dogmatik) maka semakin ia “tertutup,” maka berusaha mempertanyakan tataran ini pada forum dialog agama-agama dunia adalah absurd. Instrument kedua, keniscayaan wujudnya pengakuan kesetaraan yang mutlak bagi eksistensi the other. Jika ruh yang mendasari dialog ini hilang, maka pada aktualnya akan segera digantikan oleh semangat propaganda egosentrisme yang seringkali berkarakter fasistik, semisal semangat etnosentrisme Eropa yang melahirkan lingkaran sejarah imperialisme-kolonialisme yang biadab [ingat slogan tertingginya adalah 3 G; Gold, Gospel, and Glory (!)], atau kristus-sentrisme Nasrani yang barbarian [ingat sejarah crusade Islam-Kristen; bagaimana terjadinya peristiwa etnis cleansing di Granada Spanyol terhadap anak-anak muslim dan yahudi (!)] atau boleh jadi islamic-sentrisme Islam dan “ego-ego” lain dengan isme-isme yang baru pula. Karenanya, efektifitas dialog pada kondisi demikian akan berubah menjadi mandul, sangat dilematis bahkan sia-sia.

Untuk menghindari kekeruhan suasana deadlocked yang mematikan seperti itu, maka harus ada kekuatan dinamis-pro-aktif yang mampu mencairkan relasi harmoni dialogis dari potensi ancaman ketegangan ideologik yang tajam. Setidaknya, daya potensial tersebut masih (untung) dimiliki bersama oleh seluruh agama di dunia. Adalah sistem moral yang —barangkali—akan mampu mengusung fungsi dinamisme sebuah dialog ke arah yang lebih elegan. Karya filsuf Kant, terutama tentang sistem hukum moralnya yang canggih, juga prinsip Etika Globalnya Hans Kuhn yang bombastis itu lain mendapatkan anggukan intelektual demi membantu mengembangkan sistem hukum moral agama-agama (termasuk Islam), agar tercipta sebuah poros dialog interaktif-produktif. Jadi, matlamat tertinggi dari sebuah dialog antar agama adalah mentransformasikan nilai-nilai etika tasâmuh dengan segala maknanya, sehingga masing-masing agama dapat —dengan sendirinya—menjadi home culture (rumah kebudayaan) yang menjamin eksistensi kesatuan dalam keragaman berperadaban. Bukannya malah mereduksi agama-agama yang ada ke dalam suatu euphoria unifikasi utopis, menjadi semacam “agama pluralisme” —semisal JiL, Jaringan Islam Emansipatoris, atau jaringan-jaringan Liberal-Ekstrem lainnya—yang samasekali unhistoris (!) Wallâhu A’lam.

*Santri pasca sarjana, peminat study lintas-aliran

About these ads
By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s