MENJADI PERSIS SEJATI

Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl*.

Berbicara tentang PERSIS seakan tak habis-habisnya. Apalagi bagi orang yang ada keterkaitan dengan organisasi yang telah berdiri lebih dari tujuh dasawarsa ini. Wajar, karena—alhamdulillah—sampai sekarang PERSIS masih eksis, sehingga masih layak untuk diperbincangkan dan diperjuangkan. Sebab, jika semua fihak tidak ada lagi yang berbicara tentang PERSIS dapat dipastikan bahwa semua orang telah ‘terlupakan’ bahwa PERSIS pernah ada.

Sangat disayangkan bahwa PERSIS mempunyai beberapa sumber kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh dan dan diantaranya tidak dipunyai oleh ormas manapun di Indonesia, tapi tidak atau kurang dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Pertama, PERSIS mempunyai puluhan pesantren yang memakai nama PERSIS dan tercatat dengan nomor seri sesuai dengan urutan terdaftarnya di PERSIS. Sebagai contoh, Pesantren PERSIS no. 1 di Bandung, no. 2 di Bangil, dst. Pesantren-pesantren ini, seharusnya menjadi sumber kekuatan utama untuk membantu PERSIS dalam melancarkan gerakannya dan mempertahankan eksistensi PERSIS sebagai ormas yang bergengsi. Coba kita perhatikan, bahwa di Mesir, Pwk PERSIS Mesir adalah satu-satunya organisasi afiliatif sekaligus organisasi alumni. Bukankah 95 % anggota Pwk PERSIS adalah alumni pesantren-pesantren PERSIS?

Idealnya, jika sebuah lembaga pendidikan memakai sebuah nama organisasi maka lembaga pendidikan tersebut tunduk kepada aturan organisasi, mulai dari seragam yang dipakai sampai kepada kurikulum dan silabus pengajaran. Namun realita mengatakan hal sebaliknya. Pesantren-pesantren PERSIS yang bertebaran di muka bumi ini ternyata tidak sepenuhnya memiliki keseragaman kecuali namanya saja.

Dari segi manajemen, seharusnya Pesantren PERSIS manapun diatur oleh organisasi pusat, dalam artian mulai dari Pimpinan Pesantren s.d. tenaga pengajar harus berdasarkan keputusan organisasi induk, sebagaimana halnya MAN yang diatur oleh DEPAG. Tapi yang terjadi, kepemimpinan pesantren PERSIS ternyata bersifat monarki, yang ‘diwariskan’ kepada keturunan pendirinya, seperti aliran thoriqot. Seakan-akan, mencantumkan nama PERSIS hanyalah menumpang nama besar saja.

Dari segi kurikulum, selayaknya organisasi induk menyiapkan kurikulum dan sillabus pengajaran yang permanen dan bersifat wajib bagi semua pesantren PERSIS, sehingga terjadi kesamaan kwalitas. Namun realitanya mengatakan, bahwa PERSIS terkesan sengaja membiarkan para pengasuh pesantren-pesantren PERSIS untuk berinovasi mencari dan membuat kurikulum sendiri, kecuali masalah kejam’iyyahan tentunya.

Efeknya cukup nampak, ketika kwalitas para alumnus PERSIS dari satu pesantren dan lainnya sangat berbeda, baik dari kematangan bersikap, berfikir, loyalitas dll. Sehingga setiap pesantren mempunyai trade mark tersendiri dan terkesan akan bangga ketika sebuah pesantren berani tampil beda. Belum ditambAh, adanya persaingan tidak sehat terselubung antar pesantren yang berdekatan tanpa alasan yang jelas. Sehingga tidak mengherankan bahwa PERSIS masih terkesan Sunda Smell karena manajemen yang tidak tepat.

Juga pengajaran bahasa Arab yang kurang tepat dan akurat, menjadikan alumnus PERSIS banyak yang lemah dalam menggunakan senjata utama untuk membedah ilmu-ilmu keislaman ini. Apalagi menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa aktif sebagaimana kita berbicara bahasa Indonesia, serasa lidah kelu untuk berucap. Semuanya ini memerlukan kesatuan majanemen dan administrasi pendidikan, sehingga pesantren-pesantren PERSIS betul-betul melahirkan Rijalul Ghad dan Ummahaatul Ghad, dan bukan Athfaalul Yaum.

Memberantas Takhayul, Bid’ah dan Khurofat, itulah semboyannya. Sebuah tujuan mulia yang diusung oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta pendahulunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah sebuah gerakan pemurnian aqidah dari segala bentuk penyelewengan dan penyimpangan serta mengembalikan ajaran Islam kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Inilah sumber kekuatan kedua.

Namun betulkah semboyan yang digembar-gemborkan PERSIS ini telah terlaksana sebagaimana mestinya? Dalam kaca mata pribadi penulis, pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban. Kenapa? Karena pada perjalanan PERSIS selanjutnya, PERSIS lebih terfokus kepada masalah Khilafiyah Furu’iyyah atau Fiqih an sich. Lihatlah, betapa para Tokoh PERSIS begitu getol berdebat masalah fiqh dengan berbagai fihak. Namun, sayangnya ketika berhubungan dengan masalah aqidah yang sampai detik ini semakin diguncang oleh para pemikir (baca : pemimpi) Islam, para tokoh Persis kebanyakan diam seribu bahasa. What’s wrong with PERSIS?

Padahal kalau memang PERSIS mau memberantas tiga hal tadi, seharusnya PERSIS mengikuti jejak Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu memurnikan aqidah. Apa sebab? Karena Takhayul, Bid’ah dan Khurafat itu berkaitan dengan masalah Aqidah bukan masalah fiqh. Seseorang percaya takhayul, karena aqidahnya belum matang dalam meyakini kekuasaan Allah. Orang mengerjakan bid’ah, karena dia belum faham betul dan belum meyakini bahwa semua bid’ah dalam ibadah itu sesat dan menyesatkan. Orang sibuk dengan khurofat, karena dia belum tahu dan tidak mengerti bahwa percaya terhadap hal seperti itu bisa mengeluarkan dia dari Islam secara pelan namun pasti. Jadi adalah hal yang percuma, kalau kita memerangi bid’ah jika faham tentang bid’ah itu sendiri belum ditanamkan.

Karenanya, tidak mengherankan jika PERSIS semakin hari semakin lunak terhadap permasalahan bid’ah yang oleh para tokoh terdahulu sangat keras ditentang. Hal itu disebabkan pendekatan yang dipakai oleh PERSIS dalam gerakannya bukanlah pendekatan aqidah. Padahal PERSIS yang dulu dikenal sebagai Wahhabi-nya Indonesia tapi kurang mengetahui dan memahami apa yang diajarkan oleh Mujaddid dari Najd ini. Bukankah pesantren-pesantren PERSIS tidak mengajarkan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tapi Aqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyah? Bukankah santri PERSIS begitu bangga ketika berhasil menguasai Ilmu Mantiq untuk berdebat secara rasional dalam masalah-masalah keagamaan? Bahkan banyak alumnus PERSIS yang tidak mengetahui hakekat Tauhid…(!) Problem besar yang harus segera mendapatkan pemecahannya.

Akibat lain dari kurangnya pembinaan aqidah, adalah tercabik-cabiknya PERSIS oleh dua Partai Politik yang berlabel Islam. Bahkan, para da’i PERSIS berubah menjadi jurkam dalam setiap dakwahnya. Ceramah agama yang seharusnya mengingatkan umat akan Kholiqnya, berubah menjadi gembar-gembor dan umbaran janji partai tertentu. Imbasnya pun sampai ke Mesir, ketika Pwk PERSIS diobrak-abrik oleh Parpol Islam yang berebut pengikut. Padahal kalau kita mau mengetahui, bahwa hadits Ikhtilafy ummaty rohmah itu adalah laa ashla lahu alias hadits palsu. Bukankah kita tidak mau termasuk golongan yang disebut Al-Quran sebagai Kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun…?

Ketiga, keberadaan Pwk PERSIS Mesir juga merupakan sumber kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Mungkin sebagian fihak masih menganggap bahwa mereka yang tergabung di Pwk PERSIS masih terlalu idealisatau terkesan utopia dalam menawarkan ide-idenya. Namun seseorang yang tidak bercita-cita berarti tidak mempunyai tujuan hidup. Dan orang yang tidak mempunyai tujuan hidup berarti no thing!

Selayaknya, Pwk PERSIS menjadi benang merah antara PERSIS dengan mitra luar negeri. Kita tidak akan lupa, ketika masa K.H. A. Latif Mukhtar, MA. (Allahu Yarhamuh) betapa PERSIS mempunyai jaringan kuat dengan berbagai lembaga Timur Tengah. Bahkan penulis ingat, ketika PERSIS berhasil mengadakan Pelatihan Da’i se-Indonesia yang mulai dari dana, materi s.d. tutornya disediakan oleh Universitas Ibnu Saud, Riyadh. Belum ditambah bertebarannya masjid berkubah hijau, yang menjadi bukti keberhasilan diplomasi PERSIS. Namun sepeninggal beliau, hubungan seperti itu seakan telah terkubur juga.

Alangkah baiknya, kita mencoba menjalin hubungan itu kembali, dan mengembalikan kepercayaan mitra luar negeri PERSIS yang dulu sehingga PERSIS semakin maju. Sebab, dengan menjalin hubungan dengan mitra luar negeri, kita akan mendapatkan berbagai keuntungan. Pertama, mengenalkan keberadaan kita. Kedua, menjalin kerja sama dalam segala bidang yang berhubungan dengan Dakwah Islam. Ketiga, memperbaiki sistem manajemen di PERSIS yang terkesan berjalan di tempat, kalau tidak mundur. Keempat, memperbaiki sistem dan materi pembelajaran dan pendidikan di pesantren-pesantren PERSIS, sehingga mampu menghasilkan para kader da’i yang mempunyai bekal yang mumpuni, terutama dalam pemahaman keislamannya, sehingga tidak terjadi perpecahan hanya karena perbedaan kepentingan atau perbedaan politik.

Hal yang perlu disadari oleh semua fihak, bahwa semua problema dan tugas yang tertunda itu adalah tanggung jawab kita bersama, bukan mereka, atau dia, tapi kita. Persatuan Islam adalah sebuah nama yang lebih ideal, karena Islam mengajarkan persatuan dan membenci perpecahan. Bahkan seharusnya, Persatuan Islam menjadi sebuah Jama’ah dan bukan sekedar Jam’iyyah. Namun percayalah, persatuan yang diimpikan tidak akan terwujud kalau aqidahnya belum disatukan.

Oleh karena itu, sebagai wujud rasa tanggung jawab kita dua hal yang harus dilaksanakan oleh kita secara berkesinambungan, yaitu : Belajar dan Ibadah, bukan sebaliknya. Sebab ibadah tanpa ilmu adalah sebuah kesalahan dan ilmu tanpa ibadah adalah sebuah kesombongan. Jadilah kita sebagai generasi yang termaktub dalam QS. Al-Maidah : 54

”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

Wallahu A’lam

Allahumma hal balaghtu, allahumma fasyhad…..


* Ketua Majelis Penasehat Pwk PERSIS Mesir.