<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Republik Arab Mesir</title>
	<atom:link href="http://pwkpersis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pwkpersis.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 06:22:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pwkpersis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Republik Arab Mesir</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pwkpersis.wordpress.com/osd.xml" title="Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Republik Arab Mesir" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pwkpersis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Selayang Pandang Tentang Fiqih Islam*</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/06/selayang-pandang-tentang-fiqih-islam/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/06/selayang-pandang-tentang-fiqih-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 06:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Syari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arif Rahman Hakim** Pengertian Fiqih Fiqih secara etimologi (bahasa Arab) memiliki arti pemahaman (al-fahm). Oleh karena itu orang-orang Arab (sebelum islam) menggunakan kata faqîh untuk seorang cendikiawan yang mempunyai ilmu yang luas. Selain itu, masih secara bahasa fiqih berarti pengetahuan (al-&#8217;ilm). Hal tersebut bisa kita lihat penggunaannya pada istilah fiqh al-lughah yang mempunyai makna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=312&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Arif Rahman Hakim**</p>
<p>Pengertian Fiqih</p>
<p>Fiqih secara etimologi (bahasa Arab) memiliki arti pemahaman (al-fahm). Oleh karena itu orang-orang Arab (sebelum islam) menggunakan kata faqîh untuk seorang cendikiawan yang mempunyai ilmu yang luas.<br />
Selain itu, masih secara bahasa fiqih berarti pengetahuan (al-&#8217;ilm). Hal tersebut bisa kita lihat penggunaannya pada istilah fiqh al-lughah yang mempunyai makna hampir sama dengan &#8216;ilmu al-lughah karena isinya sama-sama membahas tentang kaidah-kaidah dan aturan bahasa Arab.<br />
Adapun secara terminologi makna fiqih mengalami perubahan dari masa ke masa. Dari maknanya yang begitu luas dan mencakup berbagai objek seiring dengan perubahan zaman maknanya terus menyempit dan menjadi suatu disiplin ilmu yang khusus, tidak ada bedanya dengan filsafat yang pada akhirnya berubah menjadi salah satu disiplin ilmu tertentu.<span id="more-312"></span><br />
Fiqih pada masa awal tasyri&#8217; (takwîn) mempunyai arti yang umum yaitu pemahaman terhadap ajaran agama islam secara menyeluruh. Hal ini bisa kita lihat pada ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang menggunakan kata fiqih yang disandingkan dengan kata dien (agama). Juga pada hadits-hadits Nabi Saw. Yang di antaranya ketika beliau mendo&#8217;akan Ibnu Abbas, beliau berkata Allahumma faqqihhu fi al-dîn wa &#8216;allimhu fi al- ta&#8217;wîl.<br />
Penggunaan istilah fiqih dengan makna umum tersebut terus berlanjut sampai pada masa tadwîn tasyri&#8217; (kodifikasi) periode awal. Terbukti dengan kitab al-fiqh al-akbar yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah. Yang mana isinya membahas tentang pokok-pokok keyakinan (akidah) islam dan bukannya membahas tentang permasalahan hukum.<br />
Barulah pada akhir abad kedua hijriyah, fiqih mengalami penyempitan makna. Fiqih hanya digunakan secara eklusif dalam permasalahan hukum. Di mana saat itu para ulama sudah mulai menulis karya-karya yang berdiri sendiri mengenai masalah khusus ini. Seperti karya-karya Abu Yusuf (182 H) dan al-Syaibani (189 H) merupakan usaha sistematis yang pertama kali dalam bidang ini.<br />
Adapun yang menjadi sebab terjadinya penyempitan makna tersebut adalah karena semakin luasnya wilayah khilafah islamiyyah waktu itu sehingga banyak orang-orang asing yang memeluk agama islam. Maka di sanalah mulai terjadinya dialektika peradaban sebagaimana lazimnya. Hal tersebut sebagaimana yang disinyalir oleh Prof. Dr. Ahmad Hasan, ia mengatakan:<br />
Alasan terjadinya perubahan ini jelas sekali, karena masyarakat kaum muslimin semasa hidup rasulullah tidaklah sedemikian kompleks dan beraneka ragam sebagaiamana tumbuh kemudian. Pembauran kaum muslimin dengan kaum non-muslim di daerah-daerah takluskan, munculnya beberapa madzhab hukum dan theologis dalam islam, serta perkembangan ilmu-ilmu keislaman merupakan faktor-faktor utama yang menyebabkan perubahan arti beberapa istilah dalam islam yang sederhana dan tidakpelik sebagaimana yang dipahami kaum muslimin pada masa rasululah.<br />
Maka mulai dari akhir abad kedua hijriyah sampai sekarang fiqih dipahami sebagai satu disiplin ilmu yang membahas tentang hukum syari&#8217;ah praktis sebagai hasil dari ijtihad yang berdasarkan kepada dalil-dalilnya yang rinci. Sebagaimana yang tercantum jelas dalam literatur-literatur ushul fiqih.<br />
Abdu al-Wahab Khalaf mencatat bahwa fiqih menurut istilah ialah ilmu tentang hukum-hukum syar&#8217;I yang bersifat praktis yang didapatkan dari dalil-dalilnya yang rinci. Atau fiqih juga bisa didefinisikan sebagai kumpulan hukum-hukum syar&#8217;I praktis yang diambil dari dalil-dalilnya yang rinci.<br />
Dari definisi yang telah disepakati oleh para ulama tersebut maka ada dua objek ilmu fiqih sebagaimana yang dipaparkan dengan gamblang oleh Muhamad Abu Zahrah. Yang pertama, adalah hukum syar&#8217;I praktis, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan pokok-pokok keyakinan (akidah) tidak termasuk ke dalam pengertian fiqih secara terminologi. Kedua, dalil-dalil yang rinci untuk setiap permasalahan hukum.<br />
Namun makna fiqih yang sekarang banyak dipahami oleh umat islam ternyata hanya sebatas fiqih ibadah saja. Ketika terdengar kata fiqih maka yang tergambar oleh masyarakat luas ialah tata cara wudlu, rukun shalat, syarat wajib zakat, pembatal shaum, rukun sahnya haji dan hal-hal lainnya yang hanya terbatas pada makna ibadah saja. Padahal fiqih walaupun hanya membicarakan sekitar hukum syar&#8217;I secara aplikatif meliputi cakupan yang luas yaitu seluruh aspek kehidupan manusia. Karena yang menjadi objek fiqih adalah perbuatan (&#8216;amaliyah) manusia ditinjau dari segi hukumnya. Untuk masalah cakupan dan ruang lingkup fiqih lebih jelasnya akan dibahas dalam pembahasan cabang-cabang ilmu fiqih.</p>
<p>Sumber-sumber Fiqih Islam<br />
Sebagaimana yang diterangkan di atas bahwa fiqih merupakan pengetahuan tentang hukum syari&#8217;ah praktis yang diambil dari dalil-dalilnya yang rinci. Maka apa yang menjadi dalil-dalil tersebut yang menjadi sumber fiqih dalam melahirkan suatu hukum tentang suatu perbuatan mukallaf.<br />
Dr. Thaha Jabir al-&#8217;Alwani merangkum pendapat Imam al-Ghazali dan ulama-ulama ushul fiqih lainnya, bahwa yang menjadi sumber fiqih itu ada tiga. Pertama, wahyu yang meliputi al-Qur&#8217;an dan sunnah. Kedua akal berupa tafsiran-tafsiran bagi al-Qur&#8217;an maupun sunnah Nabi Nabi, juga termasuk di dalamnya berijtihad menentukan hukum sesuatu yang tidak terdapat di dalam nash. Ketiga, eksperimen, adat kebiasaan dan mashlahat.<br />
Dan jika kita merujuk kepada literatur-literatur ushul fiqih, kita akan mendapati dua jenis dalil. Yang pertama dalil yang disepakati oleh para ulama sebagai sumber yang layak dijadikan pijakan (adillah muttafaq alaiha) dan yang kedua dalil-dalil yang dipertentangkan kevaliditasannya untuk dijadikan argumen (adilah mukhtalaf fieha).<br />
Dalil-dalil yang sudah disepakati ini ada empat yang di antaranya ialah:<br />
Al-Qur&#8217;an<br />
Para ulama mendefinisikan al-Qur&#8217;an ini sebagai firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Melalui malaikat Jibril selain sebagi bukti kerasulan Nabi Muhammad Saw. Juga sebagai aturan hidup bagi seluruh manusia. Firman Allah tersebut terkodifikasikan dalm sebuah mushaf (lembaran-lembaran kertas yang disatukan menjadi buku) yang dimulai dengan surat al-Fâtihah dan diakhiri dengan surat al-Nâs. Diriwiyatkan dan sampai kepada kita dengan cara mutawatir (dari orang banyak dan diterima oleh orang banyak pula) yang terpelihara dari segala bentuk perubahan.<br />
Di antara karakteristik al-Qur&#8217;an ini adalah wahyu Allah yang berbentuk lafad dan makna. Maksudnya bahwa baik lafad maupun maknanya berasal dari Allah langsung dan bukan bahasa Nabi Muhammad Saw. Berbeda dengan hadits.<br />
Sudah menjadi konsensus bahwa al-Qur&#8217;an merupakan sumber yang pertama bagi syari&#8217;ah Islam. Bukan hanya sumber untuk hukum saja, tetapi al-Qur&#8217;an merupakan sumber seluruh ajaran islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah Sang Khaliq.<br />
Walaupun dalil yang berasal dari al-Qur&#8217;an bersifat qat&#8217;iyu tsubut tetapi dari segi dilalahnya ada yang bersifat qath&#8217;î dan ada yang zhannî. Nash yang qath&#8217;îyu dilalah sudah tidak perlu lagi kepada penafsiran yang detail, karena dengan sendirinya ia telah mejelaskan secara detail tentnag hukum yang terkandung dalam nash tersebut. Contohnya saja seperti ayat-ayat warits, shaum, zakat dan ayat-ayat lainnya yang serupa.<br />
Berbeda dengan ayat-ayat yang zhannîyu dilalah yang tidak secara detail menerangkan tentang suatu hukum, oleh karena itu ayat tersebut memerlukan penafsiran yang detail baik itu dari ayat lain, sunnah Nabi dan sumber-sumber lainnya yang diakui secara konsensus. Contohnya ayat-ayat yang bersifat umum, muthlaq dan lainnya yang serupa yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.<br />
Sunnah<br />
Dengan sederhana para fuqaha mendefinisikan sunnah sebagai segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. Selain al-Qur&#8217;an baik itu berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuannya terhadap suatu perkara yang diperbuat oleh sahabatnya.<br />
Namun ternyata tidak semua yang datang dari Nabi itu sunnah yang harus kita ikuti, karena ada beberapa perbuatan yang dikhususkan bagi Nabi saja, contohnya menikah lebih dari empat, wajibnya shalat qiyamu al-lail dan perbuatan lainnya yang dikhususkan bagi Nabi Saw. Maka yang demikin itu tidak termasuk kategori sunnah. Selain itu juga ti dak semua perkataan dan perbuatan Nabi Saw. Bisa dijadikan argumen hukum. Karena biarpun Nabi, beliau tetap seorang manusia. Maka perkataan dan perbuatan Nabi Saw. Yang bisa dijadikan hujjah adalah yang didukung dengan wahyu dan isi dari perbuatan maupun perkataannya ditujukan untuk menerangkan ajaran agama.<br />
Sunnah merupakan sumber syari&#8217;ah islam yang kedua setelah al-Qur&#8217;an. Dan hal ini sudah menjadi konsensus di kalangan umat islam kecuali bagi mereka yang belum memahami islam secara utuh. Sebagaimana perkataan al-Syaukani yang dikutip Dr. Ahmad al-Hashari dalam bukunya: &#8220;Legitimasi sunnah dengan keindependenannya sebagai argumen dan sumber hukum merupakan hal yang sudah pasti dan tidak bisa diragukan lagi. Dan tidak ada seorangpun yang mengingkari hal itu kecuali bagi orang yang tidak memahami islam secara utuh.&#8221;<br />
Ijma&#8217;<br />
Pada garis besarnya ijma&#8217; merupakan kesepakatan para mujtahid umat pada satu zaman setelah Nabi Saw. Wafat tentnag satu perkara hukum syar&#8217;I praktis.<br />
Ijma&#8217; tidak seperti al-Qur&#8217;an dan sunnah yang merupakan sumber hukum yang independen. Ijma&#8217; tidak melahirkan hukum yang baru. Karena ijma&#8217; harus selalu bersandar kepada nash dan tidak bisa tidak.<br />
Tentang kehujjahan ijma&#8217; ini sudah menjadi konsensus umat dan diakui bersama kelayakannya menjadi sumber hukum dengan syarat tidak bertentangan dengan nash.<br />
Qiyas<br />
Qiyas oleh para ulama ushul fiqih didefinisikan sebagai penyerupaan hukum suatu perkara yang tidak terdapat di dalam nash kepada perkara yang hukumnya secara gamblang terdapat dalam nash karena terdapat kesamaan sebab di antara keduanya.<br />
Sama seperti tiga sumber hukum yang pertama, qiyas pun sudah menjadi konsensus untuk dijadikan sebagai argumen hukum. Selain itu juga, prinsip yang digunakan oleh qiyas yaitu mencari keserupaan sebab adalah prinsip yang digunakan al-Qur&#8217;an dalam menerangkan suatu perkara. Hal ini lebih memperkuat bahwa qiyas layak dijadikan argumen.<br />
Sedangkan dalil-dalil yang masih diperselisihkan kekuatan hukumnya untuk dijadikan sumber hukum di antaranya:<br />
Istishlâh<br />
Istishlâh adalah sebuah usaha menentukan hukum yang tidak terdapat dalam nash maupun ijma&#8217; dengan memperhatikan mashlahat yang terkandung dalam suatu perkara tersebut.<br />
Sedangkan yang dimaksud dengan mashlahat di sini adalah manfaat yang dimaksudkan oleh Allah untuk hamba-hambaNya seperti menjaga keberadaan agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya, dan hartanya.<br />
Istihsân<br />
Para ulama ushul fiqih berbeda pendapat dalam mendefinisikan istihsan ini. Namun Dr. Musthafa Dib al-Bugha dalam bukunya lebih condong memilih pendapat Abu al-Hasan al-Kurkhi al-Hanafi ketika mendefinisikan istihsan sebagai suatu dalil yang bertentangan dengan qiyas jali atau dengan kata lain mentakhshish qiyas dengan dalil yang lebih kuat darinya. Alasan beliau memilih definisi ini adalah karena definisi tersebut dianggap sebagai definisi yang paling komprenhensif dan banyak digunakan pada literatur-literatur fiqih.<br />
Istishâb<br />
Istishab diartikan sebagai menentukan hukum dengan cara memberlakukan tetapnya keberadan sesuatu sehingga ada argumen lain yang menyatakannya tidak ada ataupun sebaliknya.<br />
Saddu Dzari&#8217;ah<br />
Saddu Dzari&#8217;ah didefinisikan sebagai pelarangan terhadap perkara yang pada dasarnya dibolehkan namun bisa menyebabkan terjadinya perkara yang diharamkan. Oleh karena itu pada prinsipnya saddu dzari&#8217;ah merupakan usaha preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum.</p>
<p>Karakteristik Fiqih Islam<br />
Karena fiqih merupakan salah satu dari khazanah pengetahuan yang mempunyai sumbu ke langit, maka tentu saja karakteristik yang dimiliki syari&#8217;ah islam sebagai aturan yang Allah turunkan untuk umat manusia dimiliki juga oleh fiqih. Karena fiqih merupakan salah satu bagian dari sistem syari&#8217;ah islam yang komprehensif. Dan kalau kita perhatikan apa yang ditulis oleh Dr. Yusuf Qardhawi ketika menerangkan karakteristik fiqih islam sebenarnya adalah karakteristik syari&#8217;ah itu sendiri. Ia mengatakan: &#8220;Karakteristik dan keistimewaan yang dimiliki fiqih islam atau bisa juga disebut karakteristik syari&#8217;ah islamiyah tidak akan cukup diterangkan dan ditulis dalam sebuah buku tetapi akan memerlukan berjilid-jilid buku…&#8221;<br />
Di sana beliau menyamakan antara karakteristik syari&#8217;ah dengan fiqih. Hal itu memang tidaklah aneh karena fiqih merupakan bagian dari sejumbah anasir syari&#8217;ah.<br />
Selanjutnya dalam bukunya itu Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan dengan ringkas karakteristik-karakteristik tersebut, di antaranya ialah:<br />
Bersumber langsung dari Allah<br />
Fiqih mempunyai sumber yang datang langsung dari Allah yaitu wahyu yang terdapat dalam al-Qur&#8217;an dan sunnah yang berisi tentang pokok-pokok aturan dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetepkan demi kemashlahatan manusia.<br />
Menumbuhkan nurani dan kesadaran menta&#8217;ati hukum<br />
Karena sumbernya yang langsung dari Allah, hal tersebut menumbuhkan dalam diri manusia sebagai pelaksana hukum Allah tersebut nurani kesadaran untuk menta&#8217;atinya. Karena rasa takut akan pengawasanNya mendorongnya untuk selalu ta&#8217;at di mana dan kapanpun juga.<br />
Manusiawi (humanis)<br />
Lagi-lagi karena sumbernya yang langsung dari Allah Sang Pencipta alam semesta termasuk di dalamnya manusia, maka isi dari aturan tersebut benar-benar sesuai dengan kemashlahatan manusia. Allah yang menciptakan manusia, maka Dia juga yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Terbukti dengan hak-hak asasi manusia dam kebebasan yang sangat dijunjung tinggi oleh Syari&#8217;at Islam.<br />
Komprehensif<br />
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa fiqih tidak hanya membahas hubugan manusia secara vertikal saja namun juga tidak luput dari pembahasan hubungan manusia secara horizontal. Dengan demikian ruang lingkup fiqih mencakup segala aspek kehidupan manusia yang selanjutnya akan dibahas pada pembahasan tentang cabang-cabang ilmu fiqih.<br />
Menjunjung tinggi moralitas<br />
Jika kita perhatikan hukum-hukum yang terdapat pada fiqih ibadah, mu&#8217;amalah, ahwal syakhshiyah, hudud dan fiqih lainnya, kita akan menemukan bahwa pada prinsipnya semua hukum itu bertujuan untuk mengarahkan dan memelihara moral manusia menjadi baik. Sebagai contoh kita bisa lihat tujuan dari diperintahkan shalat di antaranya ialah untuk mencegah manusia dari perbuatan tercela.<br />
Universal<br />
Sebagai efek dari sumbernya yang pertama yaitu al-Qur&#8217;an bersifat universal karena ia ada dan dituturnkan untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya manusia malah, melainkan diperuntukkan pula untuk jin. Keuniversalan sumbernya tersebut tentu saja akan memberi pengaruh yang sama terhadap fiqih sebagai sarana aplikasi syari&#8217;ah Islam.<br />
Objektif<br />
Fiqih bersifat objektif karena dia bersumber langsung dari Allah. Apa yang menjadi undang-undang yang harus dita&#8217;ati manusia sudah disesuaikan dengan kebutuhan manusia itu sendiri dan tidak berat sebelah atau memenangkan salah satu kelas sosial tertentu. Berbeda jauh dengan hukum positiv buatan manusia yang terkadang dibuat sesuai dengan kepentingan salah satu kelas sosial dan merugiakan yang lainnya.<br />
Moderat<br />
Karena sifatnya yang objektif secara otomatis fiqih pun bersifat moderat dalam artian tidak terlalu keras ataupun terlalu lunak. Baik itu berupa perintah, larangan maupun sangsi yang diberikan bagi pelanggar tidak terlalu berat ataupun trlalu ringan untuk dijalankan.<br />
Adanya keseimbangan dalam memperhatikan hak manusia baik secara individu maupun sosial<br />
Fiqih slam sangat memperhatikan hak manusia secara seimbang baik manusia secara individu maupun sosial. Tidak seperti negara kapitalis yang terlalu memperhatikan hak manusia secara individu sehingga melahirkan adanya kelas-kelas sosial yang tidak merata. Siapa yang memiliki modal dialah yang berkuasa. Juga tidak seperti negara sosialis yang terlalu memperhatikan hak manusia secara sosial sehingga tidak memperduliakn hak individu. Setiap individu tidak memiliki apa-apa, karena semua milik negara dan itu berarti milik bersama sebagaimana anggapannya. Tetapi fiqih slam menghargai hak manusia baik dari segi individunya maupun sosialnya. Sebagai salah satu buktinya ialah diakuinya hak kepemilikan individu yang tentunya berbatasan dengan hak kepemilikan orang lain. Dan juga adanya aturan hak kepemilikan bersama seperti wakaf yang kesemuanya itu diatur secara rinci dalam fiqih mu&#8217;amalah.<br />
Prinsip-prinsipnya bersifat global<br />
Prinsip-prinsip fiqih yang lebih dikenal dengan nama ushul fiqih adalah kumpulan dari kaidah-kaidah yang bersifat umum. Sehingga bisa dijadikan rujukan untuk setiap perkara yang beragam dan bermacam-macam. Kita hanya tinggal mengembalikan setiap perkara kepada prinsipnya yang sesuai. Atau pun sebaliknya dari prinsip-prinsipnya yang bersifat global itu kita bisa menerapkannya pada perkara-perkara yang berbeda-beda.<br />
Menerima perubahan (inovatif)<br />
Karena fiqih merupakan hasil pemikiran manusia yang tidak terlepas dari koridor wahyu, maka ia bersifat fleksibel. Islam mempunyai kemampuan untuk membrikan apa yang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia tak terkecuali. Sebagai buktinya islam bisa diterima oleh semua kalangan dari berbagai lingkungan dan zaman yang berbeda, dimana fiqih merupakan salah satu bagian dari sistem ajaran islam terbebut. Fiqih bisa ditafsirkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada karena fiqih merupakan hasil pemikiran manusia dalam usahanya mengaplikasikan syari&#8217;ah yang disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Maka di sini fiqih mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya.</p>
<p>Fiqih dan Syari&#8217;ah<br />
Syari&#8217;ah diartikan sebagai perintah Allah yang harus dijalankan. Pada masa awal syari&#8217;ah memliki makna yang umum sama seperti fiqih. Ia meliputi teologi, ibadah, mu&#8217;amalah, akhlak dan pokok ajaran lainnya. Dengan kata lain syari&#8217;ah adalah agama islam itu sendiri. Tetapi ada juga di antara ulama yang membedakan antara syari&#8217;ah dengan din (agama). Dia adalah Abu Hanifah, menurutnya din dianggap sebagai ajaran-ajaran yang berkaitan dengan pokok keimanan (tauhid) sehingga dia tetap dari dulu (nabi pertama) sampai sekarang (nabi terakhir). Sedangkan syari&#8217;ah kewajiban yang harus dita&#8217;ati oleh seorang hamba dan kewajiban tersebut berbeda beda dari satu nabi denga nabi lainnya.<br />
Dan sekarang istilah syari&#8217;ah diartikan meliputi semua aspek islam mencakup fiqih dan kalam bersama-sama sebagaimana yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Ahmad Hasan.<br />
Syari&#8217;ah dan fiqih mempunyai hubungan umum wa khusus ala muthlaq. Syari&#8217;ah lebih umum dari fiqih. Jika syari&#8217;ah meliputi segala aspek kehidupan manusia semua perilaku dan perbuatannya, sedangkan fiqih lebih sempit cakupannya. Ia hanya meliputi hal-hal yang hanya berkaitan dengan aturan-aturan dan tindak hukum saja.<br />
Syari&#8217;at merupakan perintah Tuhan yang harus dita&#8217;ati, maka ia bersifat tetap dan tidak berubah. Sedangkan fiqih merupakan hasil nalar manusia yang bersumber dari nash, maka ia bersifat berubah dan terus berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan tempat manusia itu hidup yang terus berubah semakin kompleks.<br />
Oleh karena itu fiqih bisa diartikan sebagai artikulasi dari usaha penyelarasan syari&#8217;ah dengan kondisi masyarakat dan zamannya.</p>
<p>Fiqih dan Ushul Fiqih<br />
Ushul fiqih terdiri dari dua kata yang masing-masing mempunyai makna yang berdiri sendiri. Yaitu ushul dan fiqih. Ushul secara bahasa berati pokok. Maka secara etimologi ushul fiqih berarti pokok yang menjadi landasan lahirnya fiqih. Sedangkan ushul fiqih sebagai salah satu cabang ilmu syari&#8217;ah didefinisikan oleh para ulama sebagai pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dijadikan landasan dalam melahirkan fiqih dari dalil-dalilnya yang rinci.<br />
Dari definisi di atas bisa kita lihat adanya perbedaan antara ushul fiqih dan fiqih. Namun walaupun berbeda keduanya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Jika fiqih diartikan sebagai hasil nalar manusia yang bersumber kepada nash tentnag hukum suatu perbuatan, maka ushul fiqih berfungsi sebagai metodologinya (manhaj) untuk dapat melahirkan fiqih. Maka ushul fiqih menempati fungsi ilmu mantiq bagi ilmu filsafat.<br />
Sedangkan perbedaan ditinjau dari segi objeknya adalah objek Fiqih meliputi perbuatan manusia (mukallaf) dari segi hukumnya. Atau dengan ungakapan lain objek fiqih adalah hukum-hukum syari&#8217; yang bersifat aplikatif (amaliyah).<br />
Adapun yang menjadi objek ushul fiqih adalah penjelasan tentang metodologi pengambilan hukum.<br />
Lebih jelasnya Muhamad Abu Zahrah dengan gamblang menjelaskan tetang persamaan sekaligus perbedaan antara fiqih dan ushul fiqih, ia mengatakan: &#8220;Kedua ilmu itu (fiqih dan ushul fiqih) sama-sama membahas tentang dalil. Tetapi fiqih membahas dalil dari segi mengeluarkan hukum &#8216;amaliyah darinya sedangkan ushul fiqih membahas dalil dari segi metodologi istinbath hukumnya dan menjelaskan hirarki argumen-argumen hukum (mulai dari al-Qur&#8217;an, sunnah, ijma&#8217; dan qiyas)…&#8221;</p>
<p>Fiqih dan Qawâid Fiqhiyyah<br />
Qawâid merupakan bentuk jamak dari qâidah yang berarti prinsip global yang meliputi seluruh bagian-bagiannya secara keumuman untuk mengetahui hukum-hukum setiap bagian-bagian tersebut dari prinsip yang global tadi. Maka yang dimaksud dengan qawâ&#8217;id fiqhiyyah ialah permasalahan-permasalahan yang bersifat global yang termasuk ke dalamnya bagian-bagainnya yang diketahui hukum dari setiap bagian –bagian tersebut dari permasalahan-permasalahan global tadi. Dan pada keumumannya prinsip atau permasalahan yang global tadi sesuai dengan bagian-bagiannya.<br />
Tetapi perlu digaris bawahi, bahwa sifat kaidah-kaidah ini tidak seperti kaidah-nahwu atau ushul fiqih yang bersifat mutlak pasti. Maksudnya setiap kaidah nahwu atau ushul fiqih pasti berlaku pada permasalahan-permasalahan yang sama dengan kaidahnya. Sebagai contoh di dalam kaidah nahwu bahwa setiap fa&#8217;il itu marfu&#8217;, maka sudah pasti ketentuan itu berlaku kepada setiap kata yang berkedudukan menjadi fa&#8217;il tidak terkecuali. Begitu juga yang berlaku dengan kaidah ushul fiqih.<br />
Berbeda dengan keduanya, kaidah yang terdapat pada qawâ&#8217;id fiqhiyyah tidak bersifat mutlak akan tetapi bersifat aglabiyah atau keumumannya saja. Karena ada beberapa permasalahan yang secara zhahir termasuk ke dalam kaidah global tetapi pada kenyataannya ternyata tidak sesuai dan tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu para fuqaha menambahkan variabel aglabiyah di akhir definisi qawâ&#8217;id fiqhiyyah.<br />
Kemudian hubungannya dengan fiqih, secara kronologis lahirnya qawâ&#8217;id fiqhiyyah lebih terakhir dibandingkan dengan fiqih. Jadi hukum-hukum fiqih yang serupa dikumpulkan dan diakitkan yang satu dengan yang lain sehigga melahirkan kaidah umum yang disebut qawâid fiqhiyyah.<br />
Secara garis besarnya hubungan antara fiqih, ushul fiqih dan qawâid fiqhiyyah bisa kita petakan sebagai berikut. Ketika kita menemukan sebuah nash yang ingin kita istinbath hukum yang terkandung dalam nash tersebut maka kita gunakan ushul fiqih sebagai metodologi fiqih. Dari sana maka lahirlah fiqih/hukum &#8216;amaliyah dari nash tersebut. Kemudian hukum-hukum fiqih yang serupa tersebut dikumpulkan dan dikaitkan yang satu dengan yang lain sehingga melahirkan kaidah umum fiqih yang disebut qawâid fiqhiyyah yang digunakan sebagai rujukan untuk diterapkan pada permasalahan yang serupa.</p>
<p>Cabang-cabang ilmu fiqih islam<br />
Di atas telah disinggung mengenai karakteristik fiqih islam yang salah satu di antaranya ialah bersifat komprehensif. Hal tersebut terbukti dengan cakupan ilmu fiqih yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dari segi hukumnya. Semua kegiatan manusia mulai dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur kembali di malam hari semuanya sudah terangkum dalam fiqih. Semua kegiatan manusia yang bersifat pemenuhan kebutuhannya sebagai individu dan sosial pun merupakan objek fiqih. Tidak hanya itu hatta konsep bernegara pun tidak luput dari perhatian fiqih.<br />
Sebagaimana yang dipaparkan Dr. Yusuf Qardhawi ketika menjelaskan tentang fiqih islam yang komprehensif meliputi segala aspek kehidupan manusia, ia mengatakan:<br />
Ilmu fiqih adalah suatu ilmu yang mengatur kehidupan seorang muslim, komunitas muslim, umat islam secara keseluruhan maupun dalam bentuk sebuah negara dengan hukum-hukum syari&#8217;at. Baik itu yang mengatur hubungan manusia secara vertikal denga Tuhannya yang dikenal dengan sebutan fiqih ibadah. Atau yang mengatur hubungan manusia dengan pribadinya sendiri yang dikenal dengan adab tingkah laku atau etika. Atau yang mengatur individu dengan anggota keluarganya yang dikenal dengan sebutan fiqih usrah/ahwal syakhshiyah. Atau yang mengatur kehidupan manusia dengan sesamanya yang dikenal dengan sebutan fiqih mu&#8217;amalah. Atau yang berhubungan dengan kriminalitas dan sangsi hukumannya yang dikenal dengan sebutan fiqih jina&#8217;i. Atau yang mengatur hubungan antara negara dengan rakyatnya yang dikenal dengan sebutan siyasah syar&#8217;iyyah. Atau yang mengatur tentang peperangan (pembelaan terhadap serangan musuh/jihad) yang termasuk ke dalam istilah &#8216;alaqat dauliyah dan macam-macam fiqih lainnya.<br />
Dari paparan Yusuf Qardlawi tersebut disebutkan beberapa cabang ilmu fiqih yang kita kenal, seperti:<br />
Fiqih Ibadah: mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (hablun mina al-Lâh).<br />
Fiqih Mu&#8217;amalah: mengatur hubugan manusia dengan sesamanya (hablun mina al-nâs).<br />
Fiqih Usrah/Ahwal Syakhshiyyah: mengatur hubungan manusia dengan keluarganya, seperti pernikahan (al-zawâj), perceraian (al-thalâq), dan lain sebagainya.<br />
Fiqih Jina&#8217;i/Hudud: mengatur masalah kriminalitas dan sangsi hukumannya.<br />
Siyâsah Syar&#8217;iyyah: mengatur tentang kepemimpinan dalam bernegara. Al-Ahkâm al Sulthâniyyah adalah salah satu karya klasik yang khusus membahas tentang hal tersebut.<br />
&#8216;Alâqât Dauliyyah: mengatur hubungan satu negara dengan negara lain termasuk di dalamnya pembelaan diri dari serangan musuh.<br />
Dan lain sebagainya.</p>
<p>Fiqih dan Ijtihad<br />
Ijihad secara etimologi mempunyai arti bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Sedangkan secara terminologi yang sering digunakan ulama ushul fiqih ialah usaha seorang faqîh (ahli fiqih) dengan mencurahkan segala kemampuannya dalam mengeluarkan hukum dari dalil yang rinci.<br />
Di sini kita dapati bahwa fiqih merupakan hasil dari ijtihad, maka bisa disimpulkan bahwa no ijtihad no fiqih. Dengan demikian ijtihad mempunyai peranan yang sangat penting di dalam fiqih. Fiqih tidak akan terwujud jika tidak ada ijtihad. Karena fiqih merupakan usaha mujtahid dalam mengejewantahkan syari&#8217;ah sesuai dengan kondisi masyarakatnya melalui penelitiannya dalam memahami maksud sumber-sumber syari&#8217;ah (nash).<br />
Ijtihad sebagai sebuah proses berpikir tentu saja tidak akan terlepas dari pengaruh situsai dan kondisi yang ada. Situasi dan kondisi yang berbeda akan mengakibatkan hasil ijtihad yang berbeda pula padahal masih tentang permasalahan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa fiqih menerima perubahan. Sebagaimana yang kita bahas di atas bahwa fiqih merupakan hasil ijtihad, maka ketika terjadi perubahan situasi dan kondisi yang menyebabkan perubahan ijtihad hal itu akan ikut mempengaruhi perubahan fiqih sebagai hasil dari ijtihad. Dan hal ini sebagai bukti bahwa syari&#8217;ah islam shâlihun likulli zaman wa makân. Karena fiqih merupakan aplikasi dari syari&#8217;ah tersebut.<br />
Tetapi tentu saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berijtihad. Karena jika berpikir tanpa aturan tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang tertib dan teratur. Yang ada hanyalah kerusakan. Jika ijtihad tidak memiliki prinsip dan aturan yang jelas maka tidak mungkin menghasilkan fiqih yang saat ini terbukti sangat tertib dan rapi. Hal ini menunjukkan bahwa fiqih yang kita miliki saat ini sebagi hasil ijtihad para ulama pendahulu kita dihasilkan dari ijtihad yang memperhatikan prinsip dan aturan yang harus diperhatikan. Di sisi lain tanpa adanya prinsip dan kaidah dalam berijtihad akan membuka terjadinya &#8220;huru hara&#8221; dalam pemikiran islam. Semua orang akan menginterpretasikan nash dan mengaplikasikannya sesuai dengan keinginan dan kepentingan masing-masing dengan alasan sebagai hasil ijtihadnya. Tentu saja pintu tersebut harus ditutup rapat-rapat agar tidak terjadinya &#8220;huru hara&#8221; tersebut.<br />
Oleh karena itu para ulama telah membuat serangkaian prinsip dan kaidah yang harus diperhatikan dalam berijtihad agar tidak menghasilkan ijtihad yang menyimpang. Prinsip dan kaidah tersebut terbagi dua, ada yang berhubungan dengan pelaku ijtihad dan yang kedua berhubungan dengan proses ijtihadnya itu sendiri.<br />
Para ulama mensyaratkan bagi mereka yang akan melakukan ijtihad agar memnuhi syarat-syarat tersebut. Imam al-Syathibi (790 H) menyaratkan bagi para pelaku ijtihad, pertama harus menguasai kaidah linguistik bahasa Arab dan kedua memahami tujuan syari&#8217;ah secara menyeluruh (maqâshid syarî&#8217;ah).<br />
Namun para ulama lain lebih memperinci lagi syarat-syarat yang harus dimiliki seorang mujtahid yang di antaranya ialah:<br />
Muslim dan adil<br />
Disyaratkan beragama islam karena ijtihad merupakan bagian dari ibadah, sedangkan syarat sahnya suatu ibadah adalah islam. Maka suatu kewajaran jika yang pertama kali disyaratkan bagi seorang mujtahid adalah islam.<br />
Dan yang dimaksud dengan adil di sini ialah mempunyai akhlak yang terpuji dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Karena tidak mungkin seseorang yang akan memberikan fatwa tentang hukum suatu perkara &#8211;yang pada hakekatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq&#8211; adalah seorang pendosa. Hal tersebut tentu sama sekali bertentangan dengan pekerjaannya yang mulia.<br />
Menguasai al-Qur&#8217;an<br />
Cukuplah bagi seorang mujtahid untuk mengetahui dan menguasai ayat-ayat ahkam yang menurut hitungan para ulama ada sekitar 500 ayat. Dan tidak disyaratkan hafal seluruh al-qur&#8217;an di luar kepala.<br />
Menguasai Sunnah Nabi Saw.<br />
Tidak berbeda dengan syarat yang kedua, yang dimaksud dengan menguasai Sunnah Nabi adalah menguasai dan memahami hadits-hadits ahkam baik secara linguistik maupun maksudnya. Dan mengetahui literatur-literatur hadits yang biasa dijadikan referensi sehingga dengan mudah baginya untuk merujuk dengan cepat kepada literatur tersebut ketika menghadapi suatu permasalahan.<br />
Mengetahui nâsikh dan mansûkh baik di dalam al-Qur&#8217;an maupun Sunnah<br />
Hal tersebut untuk menghindari dari pengamalan suatu hukum yang sudah tidak diberlakukan lagi baik dalam al-Qur&#8217;an maupun Sunnah (mansûkh).<br />
Mengetahui permasalahan-permasalahn yang sudah ijma&#8217;<br />
Karena dengan mengetahui hal tersebut agar terhindar dari berijtihad pada suatu perkara yang sebenarnya sudah menjadi ijma&#8217;. Sehingga hal itu hanya membuang waktu dan tenaga saja.<br />
Mengetahui qiyâs dan permasalahannya<br />
Yaitu dengan mengetahui sebab (&#8216;illah) suatu hukum yang dijadikan sandaran lahirnya hukum tersebut untuk dijadikan rujukan dalam menentukan permasalahan yang sama (menganalogikannya).<br />
Menguasai kaidah linguistik bahasa Arab<br />
Sebagai perangkat untuk memahami nash-nash yang dijadikan sumber hukum. Karena nash-nash tersebut sebagaimana telah kita ketahui bersama diturunkan dengan bahasa Arab. Maka sudah menjadi keharusan ketika ingin memahami maksud suatu nash, pertama kali yang dilakukan adalah memahaminya dulu dari segi bahasanya.<br />
Menguasai ushul fiqih<br />
Karena ushul fiqih merupakan metodologi fiqih yang dijadikan sandaran dalam mengeluarkan suatu hukum dari nash-nash yang menjadi sumber hukum tersebut.<br />
Mengetahui maqashid syari&#8217;ah<br />
Yaitu mengetahui apa saja yang menjadi dharuri (primer), hajiyat (sekunder), dan tahsiniyat (suplementer) bagi manusia. Karena tujun diturunkannya syari&#8217;at ini adalah untuk kemashlahatan manusia dan bukan sebaliknya.<br />
Memiliki metodologi berpikir yang benar<br />
Dalam artian menguasai kaidah berpikir yang benar atau yang lebih dikenal dengan ilmu manthiq. Agar bisa membuat kongklusi dengan benar dari premis-premis yang ada.<br />
Selanjutnya prinsip-prinsip yang harus diperhatikan yang berkaitan dengan kegiatan ijtihadnya itu sendiri. Di antaranya ialah:<br />
Memperhatikan lapangan ijtihad<br />
Karena tidak semua bisa dijadikan lapangan ijtihad. Ada beberapa hal dalam syari&#8217;ah islam yang tidak boleh adanya intervensi akal menusia. Oleh karena itu para ulama menentukan bahwa lapangan ijtihad hanya berkisar pada permasalahan yang tidak diterangkan di dalam nash maupun ijma&#8217; dan permasalahan yang diterangkan di dalam nash namun masih bersifat samar maksudnya (zhannîyu dilâlah).<br />
Memperhatikan nash muhkamât dan mutasyâbihât<br />
Agar tidak terjebak oleh orang-orang yang ingin mempermainkan syari&#8217;ah islam dengan mengotak-atik nash muhkamat dirubah menjadi mutasyabihat yang menerima multi interpretasi. Sehingga hal-hal yang sudah jelas duduk perkaranya dan tidak bisa ditawar-tawar lagi menjadi samar dan bisa ditafsirkan dengan pemahaman lain sesuai dengan kehendak dan kepentingan masing-masing.<br />
Jika ayat-ayat muhkamat ini sudah dipermainkan maka tidak ada lagi standar kebenaran yang absolud pada nash karena semuanya menjadi relatif.<br />
Memperhatikan yang qath&#8217;î dan zhannî<br />
Seorang mujtahid harus memperhatikan nash itu apa adanya, jika nash yang datang dengan sifat qath&#8217;î maka harus tetap dianggap qath&#8217;î sehingga tidak boleh dirubah atau ditafsirkan lain. Namun jika nash tersebut bersifat zhannî maka harus tetap dianggap zhannî sehingga bisa ditafsirkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar tercapainya kemashlahatan yang menjadi tujuan diturunkannya syari&#8217;ah tersebut.<br />
Dan jangan sebaliknya hal yang qath&#8217;î (sudah pasti hukumnya) diberlakukan seperti yang zhannî sehingga diotak-atik seenaknya sehingga hal yang sudah pastipun disamarkan dan yang absolud pun menjadi relatif. Demikian juga yang zhannî diberlakukan seperi yang qath&#8217;î sehingga nash tersebut dipahami begitu kaku yang pada akhirnya melahirkan kesulitan dan keberatan bagi yang akan mangamalkannya.<br />
4. Tidak terpengaruh oleh tekanan realitas<br />
Realitas umat islam sekarang janganlah sampai mempengaruhi hasil ijtihad. Ijtihad jangan dijadikan alat pelegitimasi realitas yang ada saat ini. Di mana umat Islam saat ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Hilangnya persatuan, kepemimpinan, terjajah, tertinggal dan keterpurukan lainnya. Tetapi justru ijtihad harus bersih dari tekanan realitas tersebut dan bukan sebaliknya malah mengikuti tekanan realitas tersebut. Sehingga ijtihad yang dihasilkan malah melegitimasi realitas umat islam yang sedang terpuruk saat ini. Walaupun ijtihad itu harus memperhatikan situasi dan kondisi umat, namun bukan berarti harus tunduk pada realitas yang ada. Ijtihad harus tetap bersifat idealis dan tidak menyerah pada realitas.<br />
5. Memperhatikan inovasi yang berkembang<br />
Tidak semua yang baru dan asing itu harus dijauhi, sekiranya ada manfaat dan mashlahat yang bisa diambil kenapa tidak. Itulah yang harus diperhatikan oleh seorang mujtahid. Dengan demikian seorang mujtahid harus bisa membedakan mana yang pokok (ushûl) dan mana yang cabang (furû&#8217;). Pada yang ushûl dia harus bersikap tegas untuk mempertahankannya karena itulah standar kebenaran syari&#8217;ah ini. Sedangkan pada yang furû&#8217; seorang mujtahid bisa bersikap inovatif dengan melihat perkembangan zaman dan memperhatikan kebutuhan umat.<br />
6. Memperhatikan syarat menjadi seorang mujtahid<br />
Harus dibedakan mana ijtihad yang salah dan mana ijtihad yang benar. Dan hal itu tentu saja dengan memperhatikan apa saja yang harus dikuasai seseorang sehingga ia layak untuk berijtihad. Karena hadits Nabi yang menerangkan tentang ijtihad yang benar mendapatkan dua pahala sedangkan yang salah hanya satu pahala, hal itu tidak berlaku untuk semua orang. Karena jika demikian akan terjadi kekacauan pemikiran. Semua orang bisa menentukan sendiri semua hukum sesuai dengan kehendak dan kepentingannya masing-masing. Tetapi yang dimaksud hadits tersebut adalah yang memang layak untuk berijtihad karena mempunyai kemampuan yang menunjang untuk itu. Maka ketika ijtihadnya itu salah maka tetap ia mendapatkan satu pahala karena usahanya itu.<br />
Dengan memperhatikan syarat-syarat tersebut –Insya Allah—akan dihasilkan sebuah ijtihad yang benar atau minimalnya mendekati kebenaran. Dan terhindar dari ijtihad yang serampangan yang hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=312&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/06/selayang-pandang-tentang-fiqih-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKHLAS; Tanpanya amal hanya sia-sia…</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-tanpanya-amal-hanya-sia-sia/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-tanpanya-amal-hanya-sia-sia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 03:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[mahmudah]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Sujang El-Sundawy* “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5) “Hanyasanya segala amal itu tergantung niatnya. Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan…” (HR. Imam Bukhari: 54) Sahabat Muslim yang Semangat Tentunya sahabat sudah sangat dekat bahkan sering mendengar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=307&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Oleh : Sujang El-Sundawy*</p>
<p style="text-align:center;"><em>“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”</em> (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p align="center"><em>“Hanyasanya segala amal itu tergantung niatnya. Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan…”</em> (HR. Imam Bukhari: 54)</p>
<p>Sahabat Muslim yang Semangat</p>
<p>Tentunya sahabat sudah sangat dekat bahkan sering mendengar kata <strong><em>ikhlas</em></strong>, kita sering mendengar orang menyebut-nyebut kata ikhlas tersebut. Tapi apakah sahabat sudah memahami dengan baik apa itu ikhlas?? So, dalam tulisan sederhana ini saya akan mencoba untuk berbagi pengetahuan mengenai ikhlas.</p>
<p>Sahabat Musalim yang Semangat<span id="more-307"></span></p>
<p>Suatu saat Rosulullah menatap satu persatu para sahabat yang sedang berkumpul dalam majlis. Suasana sangat hening. Tiba-tiba ada seorang hadirin yang berkata, “Ya Rosulullah, bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah kiranya engkau menjawabnya.”</p>
<p>“Apa yang hendak engakau tanyakan itu?” Tanya Rosulullah dengan nada suara yang lembut.</p>
<p>Dengan sikap yang agak tegang, sahabat tersebut itu pun bertanya, “Siapa diantara kami yang akan menjadi ahli surga?”</p>
<p>Pertanyaan yang sungguh keterlaluan, setengah sahabat menilainya setengah ujub (bangga atas diri sendir) atau riya dan tidak sedikit yang murka. Adalah Umar bin Khathab yang terlebih dahulu bereaksi, bangkit dan menghardik si penanya. Untunglah Rosulullah menoleh kearahnya dan memberi isyarat agar ia menahan diri.</p>
<p>Rosulullah menatap ramah, Beliau menjawab dengan tenangnya, “Engkau lihatlah ke arah pintu, sebentar lagi orang itu akan muncul.”</p>
<p>Setiap mata menoleh ke ambang pintu, setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebutkan oleh Rosulullah. Namun, manakala orang itu mengucapkan salam kemudian berbaur kedalam majlis, keheranan semakin bertambah, sosok tubuh itu tidak lebih dari seoarang pemuda sederhana. Ia adalah wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam deretan daftar sahabat dekat Rosulullah.</p>
<p>Apa kehebatan pemuda ini?? Setiap sahabat penasaran menunggu penjelasan dari Rosulullah.</p>
<p>Menghadapi kebisuan ini Rosulullah bersabda: “Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharap ridha dari Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.”</p>
<p>Bagai duri menusuk dada, bagai halilintar menyambar jiwa, semua sahabat tersentak. Ikhlas alangkah indah makna yang terkandung didalamnya. Ikhlas bersih dari segala maksud pribadi, dari segala pamrih dan riya, mengharap pujian dari orang lain, bebas dari perhitungan untung rugi material. Ikhlas, bersih dari segala hal yang tidak disukai Allah. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa alam raya. Ikkhlas dalam menerima Allah sebagai satu-satunya zat yang berhak untuk diruku’i dan disujudi, diharapkan, dicintai, ditakuti, diikuti. Ikhlas menerima nabi Muhammad sebagai teladan, penjelas, penyampai risalah Islam yang sempurna, dan ikhlas menerima al-Quran sebagai pedoman hidup.</p>
<p>Suasana kembali membisu, sebagian sahabat berkaca-kaca, air mata mengembang di ujung mata mereka, menelusuri niat dalam hati. Sudahkah ikhlas tertanam kokoh dalam hati??</p>
<p>Itulah sahabat muslim, sebuah ilustrasi tentang ikhlas. Betapa ikhlas memiliki makna yang sangat berarti dalam setiap aspek kehidupan kita. Mempunyai arti untuk setiap amal yang kita lakukan. Lalu apa arti ikhlas itu sendiri?</p>
<p>Ikhlas adalah salah satu tiang akhlak islami, tanpa ikhlas, amal apapun akan lenyap, tidak memiliki manfaat. Ikhlas adalah kualitas tertinggi kemurnian hati, hanya karena Allah dan untuk Allah.</p>
<p>Ikhlas adalah memurnikan tujuan bertaqorrub kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya. Ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam melaksanakan segala bentuk ketaatan baik yang nyata atau pun tersembunyi. Ikhlas adalah ketika seseorang melakukan sesuatu kebaikan maka ia mengabaikan pandangan makhluk dan selalu terfokus kepada kholiq.</p>
<p>Inilah ikhlas, yang mesti kita tanamkan dalam hati untuk setiap aktivitas dan amal kebaikan yang kita lakukan. Ikhlas sebelum melakukan sesuatu, ketika sedang, dan setelah melakukannya.</p>
<p>Rosulullah bersabda:</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya</em>”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)</p>
<p>Apabila suatu amalan telah tercampuri harapan-harapan duniawi –yang disenangi oleh diri dan hati manusia- sedikit atau banyak, maka sungguh kejernihan amal itu telah tercemari. Dan hilanglah keikhlasan. Kebanyakan manusia terlena dalam harapan-harapannya dan juga syahwatnya. Hampir tidak ada satu amalan atau ibadah yang dilakukan oleh seseorang, bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan yang sebenarnya tidak berharga ini. Oleh itulah ada pepatah, ‘<em>Barang siapa yang sesaat dari umurnya telah ikhlas, hanya mengharap wajah Allah, pastilah ia akan selamat.’</em></p>
<p>Maka ikhlas adalah salah satu barometer diterima atau tidaknya suatu ibadah atau amal kebaikan bagi seorang hamba. Sehebat apapun amalan atau ibadah seorang hamba, kalau tidak disertai dengan keikhlasan, maka amalan atau ibadah tersebut tidak akan bernilai apa-apa dihadapan Allah, bahkan ia akan dilemparkan kedalam neraka. Maka, diantara syarat diterimanya amal kebaikan atau ibadah itu adalah; ikhlas dan sesuai dengan contoh Rosul.</p>
<p>Dan kita sadari sahabat muslim yang semangat, bahwa untuk memurnikan niat atau tujuan dari setiap perbuatan yang kita lakukan memang sangat sulit, perlu belajar dan belajar, juga memohon kepada Allah untuk dijadikan sebagai hamba-Nya yang ikhlas. Karena ujian keikhlasan sangat berat, dan syaitan tidak akan pernah berhenti untuk terus menjerumuskan kita dalam dosa, sehingga kita jadi temannya nanti di neraka. Namaun perlu kita yakini bahwa Allah menjelaskan dengan tegas bahwa syaitan tidak akan pernah bisa menjerumuskan hamba-Nya yang ikhlas. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><em>“Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”.</em></p>
<p>Oleh itu kita harus senantiasa berusaha untuk selalu mengikhlaskan niat kita ketika melakukan suatu perbuatan. Jangan sampai amal ibadah yang telah kita lakukan tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah. Diantara resep untuk ikhlas adalah memupus kesenangan-kesenagan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia, dan berusaha memfokuskan hati kepada negri yang kekal yaitu negri akhirat. Hal ini bisa memudahkan kita untuk menggapai keikhlasan. Banyak diantara kita yang berpanyah-panyah dalam beramal dan menyangka bahwa ia melakukannya dengan ikhlas karena Allah, padahal dalam kenyataannya ia tertipu. Dan itu disebabkan karena tidak memperhatikan perkara-perkara yang bisa merusak keikhlasan.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Katakanlah: <em>“Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya</em>. ” (QS. Al-KAhfi: 103-104)</p>
<p>Sahabat Muslim yang Semangat,.</p>
<p>Yu, kita mulai untuk ikhlas dalam setiap amal kita, jangan sampai kita terpeleset dalam amal yang kita lakukan bukan karena Allah. Coba kita perhatikan hadits berikut, sebuah hadits yang sangat menyentuh dan menjadi pelajaran bagi kita, betapa merugi mereka yang melakukan amal kebaikan tanpa disertai keikhlasan. Rosulullah bersabda:</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta, tetapi engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang pahlawan.’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.</em></p>
<p><em>Berikutnya adalah seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran. Dia didatangkan ke pengadilan Allah. Lalu diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang engkau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Quran karena-Mu’. Allah berfirman: ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar disebut sebagai orang ‘Alim’ dan engkau membaca al-Quran agar disebut sebagai seorang Qori. Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan kedalam neraka.</em></p>
<p><em>Berikutnya adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan ni;mat-ni’mat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak meninggalkan suatu jalan pun yang Engakau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu’. Allah berfirman: ‘Engakau dusta. Engkau melakukannya agar kau disebut sebagai seorang yang dermawan,’ Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan kedalam neraka. </em>(HR. Imam Muslim)</p>
<p>Betapa pun besarnya amal yang kita lakukan dan kellihatannya hebat namun jika kita ikhlas dalam melakukannya maka amalan itu akan sia-sia saja, tidak bermanfaat. Tapi sebaliknya amalan baik sekecil apa pun tapi kita lakukan dengan ikhlas maka pahalanya besar ihadapan Allah.</p>
<p>Itulah ikhlas mampu memberi kekuatan yang sangat luar biasa. So,… semakin jelaslah sahbat muslim yang semangat, bahwa ikhlas sangatlah penting dalam seluruh aktivitas kita. Jadi, setelah kita mengetahui betapa pentingnya ikhlas untuk kita. Nah… sekarang kita harus memulai segala aktivitas kita dengan niat yang ikhlas, memurnikan tujuan hanya mengharap wajah dan pahala dari Allah. Dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Jangan sampai amalan yang kita lakukan menjadi sia-sia.</p>
<p>Mereka berkata tentang ikhlas;</p>
<ul>
<ul>
<li>Ya’kub berkata; “<em>Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya”.</em></li>
</ul>
</ul>
<ul>
<ul>
<li>As-Suusiy berkata: “<em>Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa yang masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”.</em></li>
</ul>
</ul>
<ul>
<ul>
<li>Suhail pernah ditanya tentang sesuatu yang paling berat bagi diri. Ia menjawab: “Yaitu ikhlas, sebab dengan ikhlas, diri tidak mendapatkan bagian dari apa yang dikerjakan sama sekali”.</li>
</ul>
</ul>
<ul>
<li>Fudhail berkata: “<em>meninggalkan amal karena orang lain adalah riya. Sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya”.</em></li>
</ul>
<p>*<em>Anggota Pwk. PP Persis Mesir</em></p>
<p>**<em>Tulisan ini bisa dibuka juga di http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/10/ikhlas/</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=307&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/06/ikhlas-tanpanya-amal-hanya-sia-sia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Humanisme Islam</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/02/humanisme-islam/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/02/humanisme-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 04:41:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kolusi]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[da perbedaan problematika yang melilit negara maju dengan negara berkembang. Problematika krusial yang melilit masyarakat maju adalah kehilangan nilai-nilai spiritual. Sedangkan, problematika yang melilit negara berkembang adalah kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Pada negara maju, agama telah dipinggirkan karena dianggap sebagai ajaran yang skeptis. Namun, meskipun begitu, pada masyarakat maju, buta huruf, putus sekolah, kemiskinan, pengangguran, korupsi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=305&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>da perbedaan problematika yang melilit negara maju dengan negara berkembang. Problematika krusial yang melilit masyarakat maju adalah kehilangan nilai-nilai spiritual. Sedangkan, problematika yang melilit negara berkembang adalah kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.<br />
Pada negara maju, agama telah dipinggirkan karena dianggap sebagai ajaran yang skeptis. Namun, meskipun begitu, pada masyarakat maju, buta huruf, putus sekolah, kemiskinan, pengangguran, korupsi, kolusi, nepotisme, suap, baku hantam lalu lintas, dan pencemaran lingkungan memiliki kadar tingkat yang sangat rendah.<span id="more-305"></span><br />
Sebaliknya, pada masyarakat berkembang, agama masih dianggap sebagai ajaran sakral. Namun, pada masyarakat berkembang, buta huruf, putus sekolah, kemiskinan, pengangguran, korupsi, kolusi, nepotisme, suap, baku hantam lalu lintas, dan pencemaran lingkungan memiliki kadar tingkat yang sangat tinggi.<br />
Itulah dua drama kehidupan sosial yang sekarang sedang menghiasi dunia. Antara dunia pertama dan dunia ketiga. Dunia yang kehilangan nilai-nilai ruhani dan dunia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.<br />
Bagi kita selaku manusia yang hidup di tengah-tengah negara berkembang, sudah saatnya tidak hanya menampilkan agama dalam bentuk kewajiban (spiritual) saja, tetapi juga dalam bentuk hak (kemanusiaan). Karena, sebagaimana dicatat oleh Al-Quran, tujuan diturunkannya Nabi ke dunia ini adalah untuk menjawab problem-problem kemanusiaan.<br />
Namun tentunya, menampilkan kemanusiaan tidak berarti harus menghilangkan nilai-nilai spiritual yang sakral (epistemologi). Spiritual harus tetap kita jaga, dan kemanusiaan harus kita ciptakan. Spiritiual adalah moral kita terhadap Pencipta, sedangkan kemanusiaan adalah moral kita terhadap sesama. Keduanya harus disinergikan, bukan dipisahkan atau dibenturkan.<br />
Penyinergian tersebut tiada lain bias dari kemoderataan (wasath) agama Islam. Kemoderatan tersebut berarti bahwa Islam pandai menyinergikan antara satu ajaran dengan ajaran lain. Menempatkannya pada tempat yang sesuai agar kehidupan ini berjalan di atas keseimbangan (mizan). Ini persis seperti sistem tata surya yang berjalan di atas porosnya masing-masing. Atas dasar itu pulalah kita tidak bisa menerima konsep humanisme Barat yang lepas dari nilai-nilai agama.<br />
Hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan kita lebih dikarenakan pandangan kita yang &#8220;sempit&#8221; terhadap ibadah. Selama ini kita hanya mengidentikan ibadah dengan zikir, shalat, puasa, dan haji. Sedangkan, disiplin, tepat waktu, tertib dalam lalu lintas, kebersihan lingkungan, menolong orang miskin, gelandangan, putus sekolah, dan pengangguran tidak pernah kita anggap sebagai ibadah. Kita tidak pernah menganggap bahwa kemanusiaan adalah bagian integral dari ibadah. Itulah hal yang menyebabkan membengkaknya fenomena-fenomena kemanusiaan di tengah-tengah kehidupan kita.<br />
Kita yakin, jika nilai-nilai kemanusian dihadirkan dan diracik dengan nilai-nilai spiritual yang selama ini kita anut, sebuah tatanan masyakarat maju dan saleh pasti akan tercipta. Sebuah masyarakat civilized yang dulu pernah dibangun oleh Nabi. Yaitu, masyarakat yang bermoral terhadap Tuhannya dan sesamanya. Dan, keyakinan kita terhadap hal itu bukanlah cek kosong, tetapi janji Al-Quran itu sendiri. Redpel</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=305&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/12/02/humanisme-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Redefinisi Fiqih; Catatan Pribadi tentang Warna Fiqih kita</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/28/redefinisi-fiqih-catatan-pribadi-tentang-warna-fiqih-kita/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/28/redefinisi-fiqih-catatan-pribadi-tentang-warna-fiqih-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 21:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Yadi Saeful hidayat Seperti tak pernah selesai, ide untuk menggagas fiqih baru seolah menjadi semangat beragama para pemikir muslim saat ini. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai konsepsi menyangkut ruang lingkup pembahasan fiqih selalu menjadi wacana yang terus-menerus dipenuhi oleh aksi perdebatan dan lintas pemikiran yang cukup alot. Semua ini terkesan ingin menunjukkan bahwa fiqih memerlukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=303&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yadi Saeful hidayat</p>
<p>Seperti tak pernah selesai, ide untuk menggagas fiqih baru seolah menjadi semangat beragama para pemikir muslim saat ini. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai konsepsi menyangkut ruang lingkup pembahasan fiqih selalu menjadi wacana yang terus-menerus dipenuhi oleh aksi perdebatan dan lintas pemikiran yang cukup alot. Semua ini terkesan ingin menunjukkan bahwa fiqih memerlukan sebuah inovasi baru, metodologi baru dan wajah yang baru pula. Term fiqih yang selama ini hanya bersifat partisan, tidak elektik, dan terkesan kaku sudah saatnya diganti dengan format yang lebih modern, prosperous, adil dan aman dalam kehidupan yang plural di tengah-tengah era globalisasi. Bukan karena memiliki penyakit latah, tapi hemat penulis, saat ini fiqih memang memerlukan usaha pembaruan dari para pewarisnya. Kita tidak ingin menjadikan karya fiqih ulama terdahulu sebagai &#8220;doktrin&#8221; dan bahkan juga &#8220;dogma&#8221; agama.<br />
Namun begitu, kita harus tetap mengakui karya mereka sebagai karya yang luar biasa pada zamannya, sehingga wajar jika saat ini kita memberikan apresiasi atas jerih payah mereka. Hanya mungkin, kondisi semacam ini jangan lantas melahirkan kebekuan pada sikap beragama kita. Penulis sering bertanya, kenapa dewasa ini fiqih sering mengalami stagnasi dalam aplikasinya? Menurut penulis, penyebab utamanya adalah pemahaman mengenai fiqih yang <span id="more-303"></span>membelenggu diri. Faktor seperti ini akan menyulitkan munculnya terobosan untuk mampu menyentuh penyelesaian permasalahan yang aktual dan muncul ke permukaan. Hal inilah yang menuntut perlunya melakukan redefinisi berfiqih. Redefinisi itu perlu bukan saja bagi mereka yang menjadi pengamal fiqih klasik, namun juga bagi mereka yang mengritik praktik fiqih klasik.<br />
Adalah seorang Jamal al-Banna, adik kandung pemimpin Ikhwan al-Muslimun, Hasan al-Banna, mencoba menawarkan konsep tentang fiqih yang lebih egalitarianistik. Beberapa gagasan dan pemikirannya ia kemas menjadi sebuah buku kontroversial yang diberi judul &#8220;Nahwa Fiqh Jadid&#8221;. Dalam pengantarnya, ia mengatakan, &#8220;bahwa fiqh dengan format yang sama sekali baru merupakan sebuah keniscayaan. Ini tidak cukup hanya dengan insiatif ijtihad saja, tanpa sekaligus menggagas metodologinya dengan paradigma baru, apalagi sampai berhenti hanya pada tataran tajdid al-fiqh atau tathwir saja&#8221;.<br />
Jika melihat pembacaannya, terkesan seperti ada ketidakpuasan pribadi atas fiqih klasik yang lebih bersifat partikular dan kaku. Karena itu, nampaknya, gagasan Jamal untuk menggulirkan fiqih baru lebih didasari pembacaannya atas fenomena sosial yang sedang terjadi dewasa ini. Tentunya, hal ini tak lepas dari arus modernisasi di mana sikap masyarakat Islam sendiri dalam menghadapi hal ini terkesan ragu-ragu. Di tengah kondisi dunia yang serba mewah; sosial, ekonomi, politik maupun budaya, masyarakat Islam justru semakin tepuruk pada jurang kebekuan. Pada situasi seperti inilah, Jamal melihat, masyarakat Islam perlu menentukan sikapnya dalam menghadapi arus modernisasi; antara menerima hal itu dengan terbuka tanpa harus menghilangkan identitas kemuslimannya, atau justru menolak mentah-mentah dan tetap memegang warisan nenek moyang sekalipun harus jatuh ke dalam lembah kejumudan.<br />
Sekali lagi, kita harus tetap memberikan apresiasi atas karya-karya fiqih ulama terdahulu, karena itu merupakan bagian dari khazanah Islam. Akan tetapi, bukan berarti kita sama sekali tidak memiliki otoritas untuk mengotak-atik kumpulan karya mereka, apalagi seiring dengan berputarnya waktu, situasi dan kondisi sebagai konsekuensi logis perkembangan dunia lima abad terakhir ini, menuntut kita untuk sama-sama menentukan pilihan; tetap mempertahankan wajah fiqih klasik yang semakin tidak dinamis, atau mencoba melakukan upaya persenyewaan dengan realitas kehidupan yang semakin menantang dan menggelembung (?)<br />
Dalam satu hal, penulis sependapat dengan pendapat Jamal, ketika ia mengatakan, bahwa tuntutan untuk menggagas fiqih baru bukan merupakan hal yang luar biasa. Justru sebaliknya, adalah luar biasa ketika kita tetap bersikukuh berpijak pada fiqih klasik yang seolah-olah dianggap sebagai karya maha langit, suci, tanpa cacat dan seterusnya. Namun pada sisi lain, ketika fiqih itu sendiri terlalu dimodifikasi, diotak-atik tanpa batas, sehingga warna yang muncul terkesan serampangan, maka saya kurang sependapat. Sebut saja, fiqih lintas agama yang sekarang sering didengung-dengungkan oleh kelompok Islam Liberal. Karena itu, hemat penulis, sekalipun saat ini dibutuhkan metodologi hukum yang benar-benar bisa mempertemukan fiqih dengan realitas yang ada, tetapi pada prakteknya jangan sampai asal hantam. Kita memang niscaya untuk melakukan pembaruan terhadap ruang lingkup fiqih, tetapi harus tetap memperhatikan bagian mana saja yang memerlukan pembaruan (mutaghayyirât), karena tidak seluruh persoalan fiqih perlu ditata ulang, masih ada bahkan banyak ruang fiqih yang masih bisa menyentuh realitas kekinian (tsawâbit).<br />
Terakhir, alangkah indahnya jika kita berani mengkaji pemikiran ulama terdahulu atau hasil keputusan hukum Islam yang dikeluarkan organisasi keagamaan tidak lagi secara doktriner dan dogmatis. Lebih dari itu, kita menjadikan critical study sebagai sejarah pemikiran (intellectual history atau history of ideas). Artinya, kita mengkaji setting sejarah pemikiran ulama dahulu dan sekaligus latar belakang mengapa ulama tersebut bisa berpendapat seperti itu. Jika ini bisa kita lakukan, maka budaya klaim-mengklaim, ancam-mengancam, gugat-menggugat yang selama ini melingkari sikap beragama kita akan bisa terkikis sedikit demi sedikit. Semoga (!)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/303/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=303&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/28/redefinisi-fiqih-catatan-pribadi-tentang-warna-fiqih-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELANTIKAN DEWAN PENGURUS PERWAKILAN PIMPINAN PUSAT PERSATUAN ISLAM MESIR MASA JIHAD 2011-2012</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/17/pelantikan-dewan-pengurus-perwakilan-pimpinan-pusat-persatuan-islam-mesir-masa-jihad-2011-2012/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/17/pelantikan-dewan-pengurus-perwakilan-pimpinan-pusat-persatuan-islam-mesir-masa-jihad-2011-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:50:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=299&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pwkpersis.files.wordpress.com/2011/11/312880_317761551571823_100000139429757_1462577_786190505_n.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-300" title="pelantikan" src="http://pwkpersis.files.wordpress.com/2011/11/312880_317761551571823_100000139429757_1462577_786190505_n.jpg?w=510" alt="pelantikan"   /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/299/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/299/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=299&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/17/pelantikan-dewan-pengurus-perwakilan-pimpinan-pusat-persatuan-islam-mesir-masa-jihad-2011-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pwkpersis.files.wordpress.com/2011/11/312880_317761551571823_100000139429757_1462577_786190505_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pelantikan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MASBUQ DALAM SHOLAT DAN PERMASALAHANNYA</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/17/masbuq-dalam-sholat-dan-permasalahannya/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/17/masbuq-dalam-sholat-dan-permasalahannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:44:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sandi Heryana &#160; MUQODDIMAH Sholat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Ia memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam Islam.  Rosulullah bersabda: رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ “Pokok urusan itu adalah Islam, tiangnya sholat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad”. (HR. Tirmidzi, no: 2616; dll, dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani) Umar bin Khathab pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=297&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: <em>Sandi Heryana</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>MUQODDIMAH</em></strong></p>
<p>Sholat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Ia memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam Islam.  <strong>Rosulullah</strong> bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ</strong><strong></strong></p>
<p><strong>“<em>Pokok urusan itu adalah Islam, tiangnya sholat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad</em>”. (HR. Tirmidzi, no: 2616; dll, dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani)</strong></p>
<p><strong>Umar bin Khathab</strong> pernah berkata: <strong><em>“Perkara yang paling urgen menurutku adalah sholat, Siapa saja yang menjaganya, maka ia telah menjaga agamanya. Dan siapa saja yang menyia-nyiakannya maka ia akan lebih menyia-nyiakan terhadap selainnya.  Dan tidak ada bagian dalam Islam utnuk orang yang meninggalkan sholat.”<span id="more-297"></span></em></strong></p>
<p>Terlebih lagi jika sholat  itu dilakukan secara berjamaah. Rasululloh SAW bersabda, <strong><em>“Sesungguhnya Allah Ta’ajub pada shalat (yang dilakukan) secara berjamaah.” (Lihat shahihul Jami’, (1820).</em></strong></p>
<p><strong><em>“Shalat berjama’ah itu lebih utama 25 derajat daripada shalat sendirian.” (HR. al-Bukhari)</em></strong><strong><em>.</em></strong> Dalam riwayat lain disebutkan: <strong><em>“(lebih utama) 27 derajat.”</em></strong> <strong><em>(Fathul Baari’, 2/131).</em></strong></p>
<p>Setiap muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid tepat pada waktunya. Namun dalam  prakteknya ada diantara kaum muslimin yang masih tertinggal sholat berjamaah atau lebih di kenal dengan istilah Masbuq. Maka seperti apakah permasalahan Masbuq itu?</p>
<p>Dalam  tulisan sederhana ini, penulis akan mencoba membahas seputar permasalahan yang urgen mengenai masbuq.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>1.       </em></strong><strong><em>Devinisi Masbuq</em></strong></li>
</ol>
<p>Secara <strong><em>etimologi</em></strong> Masbuq adalah isim maf’ul dari kata “ <em> </em><em>سبق</em>”<em> </em> yang bermakna <strong><em>“ terdahului/tertinggal”.</em></strong></p>
<p>Adapun secara <strong><em>terminologi</em></strong> Masbuq adalah Orang yang tertinggal sebagian raka’at atau semuanya dari imam dalam sholat berjama’ah. Atau orang yang mendapati imam setelah raka’at pertama atau lebih dalam sholat berjama’ah. <em>(Kamus al-Muhith, Qawaid al-Fiqh dan Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 1/400)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>2.       </em></strong><strong><em>Kapan Seorang Makmum itu Disebut Masbuq?</em></strong></li>
</ol>
<p>Dalam hal ini, terdapat perbedaan pendapat. Dimana ada dua pendapat  mengenai kapan seorang makmum itu disebut masbuq.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Pendapat Pertama:</em></strong></p>
<p>Yaitu pendapat <strong><em>Jumhur Ulama</em></strong><em> </em>yang menyatakan bahwa seorang makmum disebut masbuq itu apabila ia tertinggal ruku’ bersama imam.  Jika seorang makmum mendapati imam sedang ruku’, kemudian ia ruku bersama imam, maka ia mendapatkan satu raka’at dan tidak disebut masbuq. Dan gugurlah kewajiban membaca surat al-Fatihah.</p>
<p><strong><em>Dalil-dalil Pendapat Pertama:</em></strong></p>
<ol>
<li>مَنْ أَدْرَكَ الرُّكُوْعَ فَقَدْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ  { أبو داود ، الفقه الإسلامي – سليمان رشيد 116 }<em></em></li>
</ol>
<p>Artinya: “<em>Siapa yang mendapatkan ruku’, maka ia mendapatkan satu raka’at”. (HR. Abu Dawud, FIqh Islam-Sulaiman Rasyid : 116)</em><em></em></p>
<ol>
<li>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلم : &#8221; إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْهاَ شَيْئاً وَ مَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ  &#8220;<em> </em>{ رواه أبو داود 1 : 207،عون المعبود  3 :<em> 145</em>}<em></em></li>
</ol>
<p>Dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : <em>“ Apabila kamu datang untuk shalat, padahal kami sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu raka’at) dan siapa yang mendapatkan ruku’, bererti ia mendapat satu rak’at dalam sholat (nya</em>)”. ( H.R Abu Dawud 1 : 207, Aunul Ma’bud &#8211; Syarah Sunan Abu Dawud  3 : 145 )</p>
<p>Jumhur Ulama berkata:  <em>“Yang dimaksud dengan raka’at disni adalah ruku’, maka yang mendapati imam sedang ruku’ kemudian ia ruku’ maka ia mendapatkan satu raka’at</em>. (Al-Mu’in Al-Mubin 1 : 93, Aunul Ma’bud 3 : 145)</p>
<ol>
<li>إِنَّ أَباَ بَكْرَةَ إِنْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صلّى الله عليه و سلم وَ هُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلّى الله عليه و سلم فَقاَلَ : &#8221; زَادَكَ اللهُ حِرْصاً وَ لاَ تُعِدْ &#8220;<em>  </em>{ رواه البخاري، فتح الباري 2 : <em> </em>381}<em></em></li>
</ol>
<p>“ <em>Sesungguhnya Abu Bakrah telah datang untuk solat bersama Nabi SAW (sedangkan) Nabi SAW dalam keadaan ruku’, kemudian ia ruku’ sebelum sampai menuju shaf. Hal itu disampaikan kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda  (kepadanya) : “ Semoga Allah menambahkan kesungguhanmu, tetapi jangan kamu ulangi lagi ”.</em></p>
<p>Dari dalil-dalil diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa menurut jumhur ulama seorang dikatakan masbuk itu apabila ia tidak sempat ruku’ bersama imam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Pendapat Kedua</em></strong></p>
<p>Pendapat ini mengatakan bahwa makmum disebut masbuk apabila ia tertinggal bacaan surat Al-Fatihah. Ini adalah <strong><em>pendapat segolongan</em></strong> dari ulama. Diantaranya adalah ucapan <strong>Abu Hurairah</strong>, diriwayatkan oleh <strong>Imam Bukhori</strong> tentang bacaan al-Afatihah di belakang imam dari setiap pendapat yang mewajibkan bacaan al-Afatihah di belakang imam. Demikian pula pendapat <strong>Ibnu Khuzaimah</strong>, <strong>Dhob’i</strong> dan selain keduanya dari <strong>Muhaddits Syafi’iyyah</strong> kemudian diperkuat oleh <strong>Syaikh Taqiyyuddin As-Subki</strong> dari Ulama Mutakhkhirin dan ditarjih oleh <strong>al-Muqbili</strong>, ia berkata: <strong><em>“Aku telah mengkaji permasalahan ini dan aku menghimpunnya pada pengkajianku secara fiqih dan hadits maka aku tidak mendapatkan darinya selain yang telah aku sebutkan yaitu tidak terhitung raka’at dengan mendapatkan ruku’</em>.</strong> (‘Aunul Ma’bud 3:146)</p>
<p>Sanggahan Pendapat kedua terhadap dalil-dalil jumhur ulama yang menyatakan bahwa makmum yang mendapatkan ruku bersama imam maka ia mendapatkan satu raka’at. Diantaranya:</p>
<ol>
<li>Dalam Sunan Abu Dawud tidak ada redaksi hadits dengan lafazh matan seperti tersebut diatas. Pendapat ini cenderung beranggapan salah tukil saja.</li>
<li>Pada hadits (no 2) terdapat rawi yang bernama <strong><em>Yahya Bin Abi Sulaiman Al-Madani</em></strong>. Menurut Amirul Mukminin dalam hadits (yaitu<strong>) Muhammad Bin Ismail Al-Bukhari</strong> dalam (kitab) Juz-u Al-Qiraat, Yahya (ini) munkarul hadits. ( Mizanul I’tidal 4 : 383, Aunul Ma’bud 3 : 147 ) Sedangkan yang dimaksud dengan Munkarul Hadits menurut pernyataan Imam Bukhori adalah: “ Setiap orang yang aku nyatakan <strong><em>Munkarul Hadits</em></strong>, berarti tidak dapat dijadikan hujjah ”. Bahkan dalam satu riwayat (dinyatakan) : “ <strong><em>tidak boleh meriwayatkannya</em></strong> ”. ( Fathul Mughits  1 : 346 ). Imam <strong>Syaukani</strong> berkata : <em>“</em><em>Hadits tersebut bukan dalil atas pendapat mereka, kerana anda pasti tahu, bahwa yang disebut raka’at itu (mencakup) semua aspek; bacaan, rukun-rukunnya secara hakiki syar’i, maupun ‘urf (kebiasaan). Kedua a</em><em>rti tersebut harus lebih didahulukan daripada a</em><em>rti menurut bahasa. Demikian ketetapan para ahli Ushul Fiqih</em>. ( Nailul Authar, Asy-Syaukani 2 : 219 )</li>
<li><strong>Ibnu Hazm</strong> dalam kitab <strong>Al-Muhalla</strong> telah menjawab / membahas mengenai hadits Abu Bakrah, (menurutnya) bahwa hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah / alasan / argumentasi oleh mereka dalam hal tersebut (yaitu termasuk raka’at asalkan mendapat ruku’) kerana pada hadits tersebut tidak dinyatakan cukup (terhitung) raka’at. ( Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud 3  : 146 ).</li>
</ol>
<p>Menurut <strong>Asy-Syaukani</strong> : Dalam hadits tersebut<em> </em>tidak ada dalil / bukan dalil yang menguatkan pendapat mereka, kerana sebagaimana (dimaklumi) tidak ada perintah mengulangi (raka’at), tapi juga tidak menyatakan terhitung raka’at. Adapun Nabi mendoakan kepadanya agar lebih bersungguh-sungguh, itu tidak berarti terhitung satu raka’at.<em> </em>( ‘Aunul Ma’bud, 3:146 )</p>
<p><strong><em>Adapun dalil-dalil pendapat kedua ini</em></strong>, bahwa seorang disebut masbuk apabila tertinggal bacaan al-Fatihah bukan tertinggal ruku’ adalah:</p>
<ol>
<li>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ قاَلَ : إِنْ أَدْرَكْتَ الْقَوْمَ رُكُوْعاً لَمْ تَعْتَدَّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةِ. { رواه البخاري، عون المعبود<em>{ 3:147,</em></li>
</ol>
<p>Dari Abi Hurairah ra, bahwasanya ia berkata : <em>“ Jika engkau mendapatkan suatu kaum sedang ruku’, maka tidak terhitung raka’at ”</em>. ( H.R Al-Bukhari, Aunul Ma’bud 3 : 147 )</p>
<p><strong><em>Imam Syaukani</em></strong> berkata: “Telah diketahui sebelumnya bahwa kewajiban membaca Al-Fatihah itu untuk imam dan makmum pada setiap raka’at. Dan kami telah menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut sah untuk dijadikan hujjah bahwa membaca Al-Fatihah itu termasuk syarat sahnya sholat. Maka siapa saja yang mengira bahwa sholat itu sah tanpa membaca al-Fatihah, ia haruslah menunjukkan keterangan yang mengkhususkan dalil-dalil tersebut.”</p>
<ol>
<li>عَنْ قَتاَدَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم كَانَ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفاَتِحَةِ الْكِتاَبِ.<em> </em>{ رواه الترمذي<em>  { </em></li>
</ol>
<p>Dari Qatadah, bahwa Nabi SAW membaca Fatihatil Kitab pada setiap raka’at ”.  ( H.R  At-Tirmidzi )</p>
<ol>
<li>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه و سلّم قاَلَ : إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقاَمَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَ عَلَيْكُمُ السَّكِيْنَةَ وَ الْوِقاَرَ وَ لاَ تُسْرِعُوْا فَماَ أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَ ماَ فاَتَكُمْ فَأَتِمُّوْا. { رواه الجماعة، فتح الباري<em>{ 2: 167, </em> <em></em></li>
</ol>
<p>Dari Abi Hurairah, dari Nabi SAW, ia bersabda <em>: “ Apabila kamu mendengar Iqamah, pergilah untuk sholat, dan kamu mesti tenang, santai serta tidak terburu-buru. Apa yang kamu dapati (bersama imam) sholatlah, dan apa yang ketinggalan (dari imam), maka sempurnakanlah ”</em>. ( H.R  Al-Jama’ah, Fathul Bari 2 : 167 )</p>
<p>Menurut Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqal<span style="text-decoration:underline;">a</span>ni dalam kitab Fathul Bari : Hadits tersebut dapat dijadikan dalil / alasan bahwa orang yang mendapatkan imam sedang ruku tidak dihitung raka’at, kerana ada perintah untuk menyempurnakan  (apa-apa) yang ketinggalan, sedangkan (dalam hal ini) jelas makmum ketinggalan (tidak ikut berdiri dan membaca fatihah). (Fathul Bari : 2: 170)</p>
<p>Imam Syaukani berkata : “Dengan ini, jelaslah kelemahan alasan-alasan pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan bahwa siapa yang mendapatkan imam dalam keadaan ruku’, termasuk raka’at bersamanya (imam) dan dapat dihitung satu raka’at sekalipun tidak mendapat bacaan (Al-Fatihah) sedikitpun”.<strong><em> </em></strong><em>( Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud 3 : 147 )</em></p>
<p><strong><em>Inilah Muhammad Bin Ismail Al-Bukhari, salah seorang mujtahid serta tokoh agama, beliau berpendapat bahwa yang mendapat ruku’ (bersama-sama dengan imam) tidak dihitung mendapat raka’at, sampai ia membaca F<span style="text-decoration:underline;">a</span>tihatul Kit<span style="text-decoration:underline;">a</span>b (dengan sempurna), </em></strong>maka ia mesti mengulangi lagi raka’at  (yang tidak sempat membaca Al-Fatihah) setelah imam salam<strong><em>.  ( Aunul Ma’bud, Syarah Sunan Abu Dawud 3 : 152 )</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>3.       </em></strong><strong><em>Waktu Berdirinya Orang yang Masbuk untuk Menyempurnakan Raka’at yang terlewat.</em></strong><strong><em></em></strong></li>
</ol>
<p><strong><em>Menurut Madzhab Hanafi</em></strong> :</p>
<p>Seorang yang masbuk berdiri untuk menyempurnakan raka’at yang tertinggal bukanlah setelah dua salam, tetapi menunggu selesainya imam, dan diam sejenak sampai imam bangkit untuk melaksanakan sholat sunnah jika setelahnya ada sholat sunnah. Atau membelakangi mihrab jika setelahnya tidak ada sholat sunnah. Atau berpindah dari tempatnya.</p>
<p>Dan tidak boleh berdiri sebelum salam setelah tasyahud kecuali di beberapa kondisi: &#8211; apabila seorang pengukur tanah takut kehilangan masanya. – atau yang memiliki kebutuhan takut keluar dari waktunya. Apabila yang masbuk pada sholat jum’at khawatir masuk pada waktu ashar. Atau masuk sholat zhuhur pada sholat ‘id, atau terbit matahari pada sholat shubuh. Ataupun khwatir berhadats. Maka bagi yang tersebut itu boleh untuk tidak menunggu selesainya imam.</p>
<p><strong><em>Menurut Madzhab Maliki</em></strong>:</p>
<p>Seorang yang masbuk berdiri untuk menyempurnakan raka’atnya yang terlewat setelah imam salam. Apabila ia berdiri sebelum imam salam, maka sholatnya batal. (Ad-Dasuki 1/345)</p>
<p><strong><em>Menurut MAdzhab Safi’i</em></strong>:</p>
<p>Disunnahkan bagi yang masbuk untuk menyempurkan raka’at yang tertinggal setelah imam menyelesaikan kedua salamnya. Jika ia berdiri setelah imam selesai mengucapkan: “Assalamu’alaikum”, pada salam pertama, maka boleh. Jika ia berdiri sebelum imam mengucapkan dua salam maka sholatnya batal. Sekalipun ia berdiri setelah imam mengucapkan salam sebelum selesai membaca: “’alaikum”, maka hukumnya seperti apabila ia berdiri sebelum imam mengucapkan dua salam. (Roudhoh at-Tholibin 1/378 dan Majmu’, 3/487)</p>
<p><strong><em>Menurut Madzhab Hanbali</em></strong>:</p>
<p>Seorang yang masbuk berdiri untuk menyempurnakan raka’at yang luput setelah salam kedua imamnya. Jika ia berdiri sebelum salam imam dan tidak kembali untuk berdiri setelah salamnya. Maka sholatnya berubah menjadi sunnah. (Syarah Muntaha Al-Iradat 1/248 dan al-Inshaf, 2/222)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Menyempurnakan Raka’at yang Tertinggal</em></strong>.</p>
<p><em>Jumhur Ulama</em> (Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah) berpendapat bahwa apa yang didapati seorang masbuk dari sholatnya bersama imam maka itu adalah akhir sholatnya. Dan apa yang disempurnakan oleh seorang masbuk adalah raka’at awal sholatnya. (Al-Bahru Raiq, 1/313, Asy-Syarh Ash-Shagir 1/458, dan Al-Inshaf 4/225)</p>
<p><em>Menurut Madzhab Syafi’i</em>; Apa yang didapati masbuk dari sholat bersama imam maka itu adalah awal sholatnya. Dan apa yang disempurnakannya setelah imam salam adalah akhirnya. Berdasarkan sabda Rosulullah: “Maka apa yang kamu dapati (bersama imam) sholatlah, dan apa yang kamu luput (bersama imam) maka sempurnakanlah”. Dan penyempurnaan sesuatu itu tidaklah ada kecuali setelah permulaannya. Berdasarkan ini, apabila ia sholat shubuh bersama imam pada raka’at yang kedua kemudian qunut bersama imam, maka ia harus mengulang qunut. Kalau ia mendapati satu raka’at sholat magrib bersama imam, maka tasyahud yang keduanya itu sunnah, karena ia menempati tasyahudnya yang pertama. Dan tasyahudnya bersama imam lil mutaba’ah (mengikuti) hal itu adalah hujjah bahwa apa yang ia dapati bersama imam adalah permulaan sholatnya. (Mugni Al-Muhtaj 1/206)</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong><em>4.       </em></strong><strong><em>M</em></strong><strong><em>engangkat Imam Pada Sholat Masbuq?</em></strong></li>
</ol>
<p>Pada dasarnya tidak apa-apa seorang yang masbuk menjadi imam. Apabila seseorang datang untuk sholat berjama’ah, sedangkan imam dan jama’ahnya sudah selesai melaksanakan shalat. Kemudia ia mendapatkan seorang masbuk yang sedang menyempurnakan raka’at yang tertinggal, maka ia berdiri disamping kanannya dan menjadikan orang yang masbuk itu imam untuknya supaya mendapatkan pahala berjamaah. Maka insya Allah hal tersebut sah.</p>
<p>Pada contoh seperti ini, Syaikh Bin Baz berkata : “Tidak apa-apa akan hal tersebut insya Allah menurut yang shohih”. Dan ia berkata: “Dianjurkan baginya sholat bersama yang masbuk dimana ia berdiri disamping kanannya. Dengan semangat untuk mendapatkan fadhilah sholat berjama’ah. Dan orang yang masbuk merubah niatnya menjadi imam, maka tidaklah mengapa pada hal tersebut menurut ucapan para ulama yang paling shohih”. (Kitab Ad-Da’wah 2/117)</p>
<p>Tapi bagaimana jika mengangkat yang masbuk menjadi imam untuk yang masbuk. Misalkan ada tiga orang masbuk. Setelah imam salam, kemudian mereka berdiri untuk menyempurnakan raka’at yang tertinggal dan mengangkat imam dari salah seorang diantara mereka. Maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.</p>
<p><strong><em>Pendapat Pertama</em></strong><em>:</em></p>
<p>Menurut pendapat ini, mengangkat yang masbuk menjadi imam pada sholat masbuk itu tidak boleh, bahkan sebagian dari mereka mengkategorikannya kepada perbuatan bid’ah. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya satu pun dalil yang menjelaskan secara shorih bahwa Rosulullah memerintahkan atau mencontohkannya.</p>
<p>Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir ‘Abdat, di dalam Buku Risalah Bid&#8217;ah, hal. 190, menyatakan: Bid&#8217;ah ini tegas-tegas telah menyalahi Sunnah: Nabi <em>shallahu&#8217;alaihi wa sallam </em>bersama Mughirah bin Syu&#8217;bah pernah menjadi <em>masbuq</em> di dalam peperangan Tabuk. Ketika Abdurrahman bin &#8216;Auf yang menjadi imam shalat memberi salam (selesai shalat), kemudian Nabi <em>shallahu&#8217;alaihi wa sallam</em> dan Mughirah menyempurnakan satu raka&#8217;at yang tertinggal sendiri-sendiri tidak membuat jama&#8217;ah. (Hadits riwayat Muslim dan lain-lain.)</p>
<p><strong><em>Pendapat Kedua</em></strong><em>:</em></p>
<p>Pendapat ini membantah pernyataan pendapat pertama, bahwa tidak boleh mengangkat imam pada sholat masbuk. Pendapat ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Mugirah bin Syu’bah diamana hadits ini menjelaskan bahwa Mugirah bersama Rosulullah pernah masbuq. Adapun hadits tersebut sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL">عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَخَلَّفْتُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى حَاجَتَهُ قَالَ أَمَعَكَ مَاءٌ فَأَتَيْتُهُ بِمِطْهَرَةٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يَحْسِرُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمُّ الْجُبَّةِ فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ تَحْتِ الْجُبَّةِ وَأَلْقَى الْجُبَّةَ عَلَى مَنْكِبَيْهِ وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِ وَعَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ وَقَدْ قَامُوا فِي الصَّلَاةِ يُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا<em>.</em></p>
<p>Artinya: Dari muqhirah bin syu’bah dari ayahnya dia berkata: <em>Rasulullah tertinggal (dari rombongan pasukan) dan aku tertinggal bersama beliau, ketika beliau selesai dari hajatnya, beliau bertanya apakah kamu ada air? Maka aku bawakan ember (tempat bersuci), kemudian membasuh kedua telapak tanganya, wajahnya dan menyingkap lengannya, namun lengan jubahnya terlalu sempit, maka beliau mengeluarkan tangannya dari bahwa jubah, dan meletakkan jubahnya di atas bahunya, kemudian beliau membasuh kedua lengannya dan mengusap ubun-ubunnya, dan bagian atas surbannya serta kedua khufnya (semacam kaos kaki dari kulit), kemudian beliau naik (kendaraan) dan akupun naik, ketika kami sampai pada rombongan kaum (para sahabat), mereka sedang shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf, dan sudah selesai satu rakaat, ketika (Abdurrahman bin Auf) menyadari kedatangan Rasulullah, dia mundur, maka Rasulullah memberi isyarat kepadanya, maka (Abdurrahman bin Auf) meneruskan tetap mengimami shalat mereka, maka ketika Abdurrahman bin Auf salam (selesai shalat), Rasulullah berdiri, dan aku berdiri, kami ruku’ (menyempurnakan) rakaat yang tertinggal</em>. (HR. Imam Muslim, 2/123 Bab Al-Mashu ‘ala An-Nashiyah wa al-‘Imamah no: 81)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ غَزَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبُوكَ قَالَ الْمُغِيرَةُ فَتَبَرَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ الْغَائِطِ فَحَمَلْتُ مَعَهُ إِدَاوَةً قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ أَخَذْتُ أُهَرِيقُ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ الْإِدَاوَةِ وَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يُخْرِجُ جُبَّتَهُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمَّا جُبَّتِهِ فَأَدْخَلَ يَدَيْهِ فِي الْجُبَّةِ حَتَّى أَخْرَجَ ذِرَاعَيْهِ مِنْ أَسْفَلِ الْجُبَّةِ وَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ تَوَضَّأَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ أَقْبَلَ قَالَ الْمُغِيرَةُ فَأَقْبَلْتُ مَعَهُ حَتَّى نَجِدُ النَّاسَ قَدْ قَدَّمُوا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَصَلَّى لَهُمْ فَأَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ فَصَلَّى مَعَ النَّاسِ الرَّكْعَةَ الْآخِرَةَ فَلَمَّا سَلَّمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتِمُّ صَلَاتَهُ فَأَفْزَعَ ذَلِكَ الْمُسْلِمِينَ فَأَكْثَرُوا التَّسْبِيحَ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ ثُمَّ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ يَغْبِطُهُمْ أَنْ صَلَّوْا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا<em></em></p>
<p>Artinya: <em>“Bahwasannya Muqhirah bin Syu’bah menceritakan, bahwa dia berperang bersama Rasulullah Saw diperang Tabuk. Mughirah berkata; Rasulullah hendak membuang hajat, kemudia mencari tempat yang tertutup, maka aku bawakan satu ember air sebelum shalat subuh, ketika beliau kembali, aku tuangkan air dari ember itu ketangannya, beliau membasuh tiga kali, kemudian membasuh wajahnya, kemudian menyingsingkan jubahnya untuk mengeluarkan lengannya, akan tetapi lengan jubah itu sempet, maka Rasulullah memasukan tangannya kedalam jubahnya dan mengeluarkannya dari bawah jubah, maka beliau membasuh kedua tangannya sampai kedua sikunya, kemudian beliau berwudlu di atas khuf (maksudnya tidak membasuh kaki, tapi beliau cukup mengusap bagian atas khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit), kemudian beliau bergegas (menyusul rombongan), Mughirah berkata: akupun bergegas bersama beliau, maka kami mendapati romobongan (para sahabat) sedang shalat shalat, dan Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam mereka, dan sudah masuk rakaat terakhir. Maka ketika Abdurrahman bin Auf salam dan selesai shalat, Rasulullah menyempurnakan shalatnya, maka hal itu membuat kaum muslimin keheranan (Rasulullah menjadi ma’mum), merekapun memperbanyak tasbih, maka ketika Rasulullah selesai shalat, beliau menghadap kepada para sahabat dan berkata: ahsantum (kalian telah berbuat benar), Mughirah berkata: atau beliau waktu itu mengatakan: kalian benar, dimana mengajak manusia untuk shalat tepat pada waktunya”.</em> (HR. Imam Muslim 2/107 no: 105)</p>
<p>Itulah diantara dalil pendapat kedua ini yang menjelaskan bahwa Rosulullah dan Mugirah masbuk kemudian mereka menyempurnakan raka’at yang tertinggal secara berjama’ah. Hal teresebut seperti yang disebutkan dalam hadits : “<em>قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا</em> “ yang artinya : Rasulullah berdiri, dan aku berdiri, kami ruku’ (menyempurnakan) rakaat yang tertinggal.</p>
<p>Penggunaan dhamir nahnu secara makna asal (hakiki) menunjukkan bahwa orang pertama dan ketiga (yang dibicarakan) melakukan suatu perbuatan secara bersama-sama. Berarti melakukan rakaat shalat yang ketinggalan itu dengan berjamaah.<em> </em>Apabila tidak diartikan demikian harus menunjukkan qarinah (keterangan pendukung). Sebagai perbandingan kita lihat penggunaan dhamir yang sama pada kalimat sebelumnya dalam riwayat Muslim.</p>
<p>Oleh karena iltu lah pendapat ini berpegang pada hadits tersebut, bahwa seorang masbuk boleh mengangkat imam pada sholat masbuk. Kemudian juga didukung dengan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan sholat berjamaah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Wallahu a’lamu bi As-Shawab</em></p>
<p><em>Walhamdu lillahi rabbil’alamin</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p align="center"><strong>MARAJI’</strong></p>
<p align="center">
<ol>
<li>Al-Qomus Al-Muhith lil-Fairuzabadi (al-‘Allamah Mujiddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi Asy-Syiraji 729-817 H)</li>
<li>Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah – Wuzarah al-Auqaf wa Asy-syu’un Al-Islamiyyah</li>
<li>Al-Fih Al-Islamiy wa Adillatuh (Dr. Wahbah Az-Zuhaili) –Daar Al-Fikr-</li>
<li>‘Aunul MA’bud Syarh Sunan Abu Dawud (Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsu al-Haq al-‘Azhim Abadi bersama Syarh al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah) –Maktabah Asslafiyyah-</li>
<li>Nailul Authar Min Asrari Muntafa Al-Akhbar (Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani 1173-1250 H); Daar Ibnu ‘Affan, Daar Ibnu Al-Qoyiim</li>
<li>Radd Al-Muhtar ‘Ala Ad-Dar Al-Mukhtar Syarh Tanwiir Al-Abshar (Muhammad Amin yang masyhur dengan Ibnu ‘Abidin); Daar ‘Alam Al-Kutub –Riyadh</li>
<li>Majmu’ah al-Fatawa (Syaikh Islam Taqiyyuddin Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani)</li>
<li>Al-Muntafa Syarh Muwaththa Malik (Al-Qodhi Abu Al-Walid Sulaiman bin Khalaf bin Sa’ad bin Ayyub Al-Baaji, wafat tahun 494 H); Daar al-Kutub Al-‘Alamiyyah</li>
<li>Mugni Al-Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazh al-Manhaji (Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Al-Khathiib Asy-Syarbini ) ‘Ala Matni Minhaj Ath-Thalibin (Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi asy-Syafi’i); Daar al-Ma’rifah Bairut Lebanon</li>
<li>Al-Wajiz fi Fiqhi Al-Imam Asy-Syafi’I (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Gozali); Daar al-Arqam bin Abi Al-Arqam – Bairut Lebanon</li>
<li>Al-Mugni (Ibnu Qudamah)</li>
<li>Limadza Nusholli (Syaikh Muhammad Ahmad Isma’il Al-Muqaddam); Daar Al-‘Aqidah</li>
<li>Fiqi Sunnah (Sayyid Sabiq); Daar Alfath lil-A’lam Al-‘Arabi</li>
<li>Syarh Shohih Muslim (Imam Nawawi); Daar At-Taufiqiyyah li At-Turats</li>
<li>Fathu Al-Bari fi Syarhi Shohih Al-Bukhori (Ibnu HAjar al-‘Atsqolani); Daar Mishr li Ath-Thaba’ah</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/297/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=297&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/17/masbuq-dalam-sholat-dan-permasalahannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isbal Dalam Prespektif Ulama</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/16/isbal-dalam-prespektif-ulama/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/16/isbal-dalam-prespektif-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 00:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Agustiar Nur Akbar Pendahuluan Sebagai seorang muslim tentu mencintai dan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan. Panutan yang secara langsung oleh Allah swt disematkan kepada Rasulullas saw. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=292&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Agustiar Nur Akbar</strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Sebagai seorang muslim tentu mencintai dan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan. Panutan yang secara langsung oleh Allah swt disematkan kepada Rasulullas saw.</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21).</p>
<p>Berusaha untuk mengikuti Rasulullah saw secara keseluruhan merupakan dambaan bagi seorang muslim. Selain hal tersebut sebagai wujud cinta kepada Rasulullah saw. Juga karena Rasulullah saw (baca sunah) salah satu mashadir syariat Islam.</p>
<p>Hal ini menyangkut segala aspek dalam kehidupan, diantaranya termasuk tata cara berpakaian Rasulullah saw. Sebut saja masalah isbal, atau menjulurkan kain hingga menutupi mata kaki. Karena hal yang demikian termasuk ranah fiqih, maka tidak akan lepas dari <em>niza (</em>perdebatan) dikalangan umat.</p>
<p>Kedapannya penulis akan mencoba mengupas lebih lanjut dengan ringkas akan permasalah isbal ini. Apakah ia jatuh hukumnya haram bagi musbil, misalnya. Atau makruh maupun mubah.</p>
<p>Disini penulis hanya akan mengkajinya secara ringkas. Mencoba mengupas apa yang melandasi perbedaan para ulama dalam melihat masalah ini. Kemudian me-rajih-kannya setelah melakukan nadzhar pada dalil-dalil yang ada.</p>
<p><span id="more-292"></span></p>
<p><strong>Definisi Isbal</strong></p>
<p>Secara bahasa اسبال  dari bab س ب ل  dapat diartikan memanjangkan atau melabuhkan kain.</p>
<p>اسبال  Juga diartikan ارسال : &#8221; أَسْبَلَ فُلَانٌ ثِيَابَهُ إِذا طَوَّلَهَا وأَرسلها إِلى الأَرض&#8221;  (Lisanu Arab, Mukhtar Shohah)</p>
<p>Secara istilah yang dimaksud isbal di sini adalah memanjangkan kain pakaian secara berlebihan hingga menutupi mata kaki. Baik itu pakaian perempuan maupun pakaian laki-laki.</p>
<p><strong>Perselisihan Seputar Isbal</strong></p>
<p>Tidak ada perselisihan diantara jumhur ulama tentang kain yang berada diatas mata kaki (bagi laki-laki). Baik itu sarung ataupun celana seperti yang kita pakai sekarang ini.</p>
<p>Perselisihan dalam masalah ini pada lafadz <strong>خيلاء</strong><strong> (<em>khuyala)</em> yang berati sombong. Apakah lafadz tersebut menjadi pengkhusus atau qoyid dalam hadis-hadis yang melarang akan isbal. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Pertama; Pendapat yang mengatakan bahwasanya <em>khulaya</em> itu adalah taqyid. Dimana <em>khuyala</em> juga mengkhususkan bagi pelarangan isbal. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu ‘Abdi l-Bar, dan yang lainnya.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kedua; Pendapat yang mengatakan bahwasanya khuyala disana bukanlah qoyid atau takhsis. Atau qoyid dan takhis tidaklah mu’tabar dalam hadis ini. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Abu Ja’far Muhammad, Ibnu ‘Arabiy, Ibnu Bathal, Imam Shon’aniy, Qodhi ‘Iyad  dan yang lainnya.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hukum Isbal</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>; <em>Boleh atau mubah</em>. Mereka yang berpendapat bahwasanya isbal itu boleh ada umat dimasa sekarang ini, pada jaman ini. Sedangkan dari ulama terdahulu tidak ada yang berpendapat bahwasanya isbal itu boleh atau mubah. Alasan mereka karena khulaya disana adalah takhsis atau taqyid. Sehingga jika menurunkan kain dibawah kaki tanpa khuyala tidak menjadikannya termasuk yang tercela seperti yang dikatakan di dalam hadis.</p>
<p>Kemudian jaman dahulu dengan jaman sekarang adalah berbeda. Dengan berbedaan jaman ini maka itu menggugurkan alamat khulaya yang berlaku di jaman nabi Muhammad saw. Diantara yang berpendat seperti ini adalah syaikh Ali Jum’ah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; <em>Makruh</em>. Mereka yang meng-i’tibarkan qoyid dan takhsis dalam hadis pelarangan isbal.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <em>Haram.</em>. Mereka yang tidak meng-i’tibarkan qoyid dan takhis dalam hadis pelarangan isbal.</p>
<p><strong>Dampak Dari Perselisihan</strong></p>
<p>Dampak dari perselisihan antara mereka yang mengi’tibarkan takhsis dan qoyid dengan yang tidak mengi’tibarkan adalah produk hukum tentang masalah ini. Dan setiap produk hukum mempunyai konskuensinya masing-masing. Bagi mereka yang berpendapat dan meyakini isbal adalah haram. Maka jika melakukannya mereka terkena ancaman dosa. Berbeda bagi mereka yang berpendapat memakruhkannya. Mereka tidak akan terkena ancaman dosa seperti yang terjadi kepada mereka yang mengharamkannya.</p>
<p>Bagi sebagian orang atau kelompok perbedaan dalam masalah ini menjadi pemicu pertengkaran. Yang mana akan merusak ukhuwah islamiyah diantara kaum muslimin. Saling mencela atau menghujat pun tak jarang sering terjadi dikarenakan perselisihan dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Penulis lebih cenderung kepada pendapat yang mengi’tibarkan takhsis atau taqyid bagi lafadz <em>khulaya</em>. Penulis pun sepakat dengan pendapat Imam Nawawi dan juga yang lainnya. Yang berpendapat, setengah betis adalah sunah, diantara betis dan mata kaki adalah mubah, dan menutupi mata kaki tanpa <em>hajah</em> adalah makruh. Baik dalam sholat maupun diluar sholat.</p>
<p>Yang menarik disini, Imam Nawawi dan Imam Muslim meletakan pembahasan ini kedalam Kitabu l-Iman. Hemat penulis baik bagi kita untuk merenungkan mengapa mereka memasukannya kedalam pembahasan iman.</p>
<p>Tidak ada perselisihan diantara para jumhur ulama akan kain yang berada di atas mata kaki (bagi laki-laki). Kemudian pembahasan ini telah menjadi kajian ulama sejak sekian ratus tahun lamanya. Mereka pun tentu mengamalkan apa yang mereka yakini.</p>
<p>Dari sini kita bisa berekesimpulan. Isbal adalah bukan perkara baru yang aneh diakalang umat muslim. Isbal juga bukan punya satu kelompok tertentu atau menjadi <em>icon</em> kelompok tertentu. Terakhir tidak sepantasnya mengolok-ngolok mereka yang mengambil keputusan untuk mengikuti sunah Rasulullah saw menurut pemahaman ulama terdahulu dalam masalah ini.</p>
<p>Isbal juga berlaku bagi wanita, seperti kisah Umu Salamah yang menanyakan batasan isbal bagi perempuan. Batasannya yaitu, maksimal satu <em>dzara’</em> atau satu <em>hasta.</em></p>
<p><strong>Khatimah</strong></p>
<p>Sejatinya sebagai seorang muslim kita harus senantiasa menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Dan jika terdapat perbedaan yang tak terelakan dituntut kedewasaan dan pertanggungjawabannya secara ilmiah sebagai seorang tholabul ilmi. Jika kita berada di posisi awam, maka cukup bagi kita untuk mengikuti pendapat yang kita yakini benar. Dengan menghindari taqlid buta.</p>
<p>Sengaja penulis sertakan hadis-hadis secara terpisah, dengan maksud agar mempermudah dalam pemahaman. Hadis-hadis yang penulis sertakan hanya sebagian saja, dan ini bisa dikatakan hadis-hadis yang ma’ruf dalam masalah isbal.</p>
<p>Wallahu a’lam bis showab.</p>
<p><strong>Hadis-hadis Tentang Isbal:</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال: ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثلاث مرارا. قال أبو ذر: خابوا وخسروا من هم يا رسول الله؟ قال: المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب  (رواه مسلم</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dari Abu Dzar, dari Nabi <em>-shollallahu alaihi wasallam-</em> bersabda: “Ada tiga golongan, -yang pada hari kiamat nanti Allah tidak bicara dengan mereka, tidak melihat mereka, tidak membersihkan (dosa) mereka dan bagi mereka siksa yang pedih”. Rasulullah <em>-shollallahu alaihi wasallam-</em> mengulangi sabdanya itu tiga kali. Abu dzar mengatakan: “Sungguh celaka dan merugilah mereka! Wahai Rasulullah, siapakah mereka?”. Beliau menjawab: “<strong>Orang yang isbal</strong>, orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim).</p>
<p><strong>عن</strong> <strong>محمد بن عقيل سمعت ابن عمر يقول: كساني رسول الله صلى الله عليه وسلم قبطية،  وكسا أسامة حلة سيراء. قال: فنظر فرآني قد أسبلت فجاء فأخذ بمنكبي, وقال: يا ابن عمر! كل شيء مس الأرض من الثياب ففي النار. قال: فرأيت ابن عمر يتزر إلى نصف الساق (رواه أحمد وقال الأرناؤوط</strong><strong>: </strong><strong>صحيح لغيره وهذا إسناد حسن</strong><strong>)</strong></p>
<p>Dari Muhammad bin ‘Aqil aku mendengar ibnu umar bercerita: Rasulullah <em>-shollallohu alaihi wasallam-</em> pernah memberiku baju <em>qibtiyah</em> dan memberikan kepada usamah baju <em>hullah siyaro</em>. Ibnu Umar mengatakan: ketika Nabi <em>-shollallohu alaihi wasallam- </em>melihatku isbal beliau datang dan memegang pundakku seraya berkata: “Wahai Ibnu Umar! semua pakaian yang menyentuh tanah, (nantinya) di neraka”. Ibnu Aqil berkata: “Dan (setelah itu) aku melihat Ibnu Umar selalu memakai sarungnya hingga pertengahan betis”. (HR. Ahmad. al-Arnauth mengatakan: Derajat haditsnya <em>shohih lighoirihi</em>, sedang sanad ini hasan).</p>
<p dir="RTL"><strong> </strong><strong>قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين, ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار, من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه. (رواه أبو داود وقال الألباني صحيح</strong><strong>(</strong></p>
<p>Rasulullah -<em>shollallohu alaihi wasallam- </em>pernah bersabda: “Sarung seorang muslim adalah sebatas pertengahan betis, dan tidak mengapa sarung yang berada antaranya (betis) dan mata kaki. Adapun yang dibawah mata kaki, ia di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret sarungnya karena takabur (sombong), maka Allah tidak akan mau melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)”. (HR. Abu Dawud, dan Albany mengatakan: shohih).</p>
<p dir="RTL"><strong>    عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الإسبال في الإزار والقميص والعمامة, من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. (رواه أبو داود وغيره وقال الألباني صحيح)</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar dari Nabi <em>-shollallohu alaihi wasallam-</em> bersabda: “Isbal bisa terdapat pada sarung, baju ataupun sorban. Barangsiapa menyeret salah satu darinya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan mau melihat kepadanya” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Albany mengatakan, hadits ini shohih).</p>
<p dir="RTL"><strong>    عن المغيرة بن شعبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا سفيان بن سهل! لا تسبل, فإن الله لا يحب المسبلين! (رواه ابن ماجه وصححه الألباني)</strong></p>
<p>Dari Mughiroh bin Syu’bah berkata: Rasulullah <em>-shollallahu alaihi wasallam- </em>bersabda: “Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu ber-isbal ! Karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap mereka yang ber-isbal” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Albany)</p>
<p dir="RTL"><strong>    عن أبي جري جابر بن سليم الهجيمي قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: ارفع إزارك إلى نصف الساق, فإن أبيت فإلى الكعبين. وإياك وإسبال الإزار, فإنها من المخيلة, وإن الله لا يحب المخيلة. (رواه أبو داود وغيره  وصححه الألباني)</strong></p>
<p>Dari Abu Jari, Jabir bin Sulaim al-Hujaimy: Bahwa Rasulullah <em>-shollallohu alaihi wasallam-</em> menasehatinya: “Angkatlah sarungmu sampai tengah betis! Tapi jika kau tidak berkenan, maka hingga batas mata kaki. Dan jangan sekali-kali meng-<em>isbal</em>-kan sarungmu! Karena <em>isbal </em>adalah termasuk perbuatan sombong, dan Allah tidak menyukai perbuatan sombong. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albany).</p>
<p dir="RTL"><strong>    عن جبير بن مطعم : أنه كان جالسا مع ابن عمر, إذا مر فتى شاب عليه حلة صنعانية يجرها مسبل قال : يا فتى هلم! قال له الفتى : ما حاجتك يا أبا عبد الرحمن؟ قال : ويحك أتحب أن ينظر الله إليك يوم القيامة؟ قال: سبحان الله وما يمنعني أن لا أحب ذلك؟ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لا ينظر الله إلى عبد يوم القيامة يجر إزاره خيلاء. قال : فلم ير ذلك الشاب إلا مشمّرا حتى مات بعد ذلك اليوم. (قال الألباني: رواه البيهقي بسند صحيح)</strong></p>
<p>Jubair bin Muth’im mengisahkan: Dia pernah duduk bersama Ibnu Umar. Ketika ada seorang pemuda yang musbil berjalan dengan baju <em>hullah shon’aniyah</em> yang diseret, Ibnu Umar berkata: “Wahai pemuda, kemarilah!” Pemuda tersebut menimpali: “Apa yang engkau inginkan, wahai Abu Abdirrohman (panggilan kesayangan Ibnu Umar)?” (Ibnu Umar) menjawab: “Celakalah kamu! Tidak senangkah kau seandainya Allah melihat padamu di hari kiamat nanti?” Pemuda itu menimpali: “<em>Subhanallah</em>, adakah yang menghalangiku hingga aku tidak menyenanginya?!” Ibnu Umar berkata: Aku telah mendengar Rasulullah <em>-shollallahu alaihi wasallam-</em> bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat kepada hamba yang menyeret sarungnya karena sombong”. Jubair bin Muth’im mengatakan: “Setelah hari itu, pemuda tersebut tidak pernah terlihat, kecuali ia mengangkat pakaiannya hingga pertengahan betis, sampai meninggalnya”. (Albany mengatakan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)</p>
<p dir="RTL"><strong>    عن عمرو بن فلان الأنصاري قال : بينا هو يمشي وقد أسبل إزاره إذ لحقه رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد أخذ بناصية نفسه وهو يقول : ” اللهم عبدك وابن عبدك ابن أمتك ” قال عمرو : فقلت : يا رسول الله إني رجل حمش (دقيق) الساقين فقال : ” يا عمرو إن الله عز و جل قد أحسن كل شيء خلقه يا عمرو ” وضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم بأربع أصابع من كفه اليمنى تحت ركبة عمرو فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم ضرب بأربع أصابع تحت الموضع الأول ثم قال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم وضعها تحت الثانية فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” (رواه أحمد وصححه الألباني والأرناؤوط)</strong></p>
<p>Amr bin Fulan al-Anshory mengisahkan dirinya: Ketika ia berjalan dengan meng-<em>isbal</em>-kan sarungnya, tiba-tiba Rasulullah <em>-shollallohu alaihi wasallam-</em> menghampirinya, dan beliau telah meletakkan tanganya pada permulaan kepala beliau seraya berkata: “Ya Allah (lihatlah) hambamu, putra hamba laki-laki-Mu dan putra hamba perempuan-Mu!”. ‘Amr beralasan: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku seorang yang betisnya kurus kering”. Rasulullah <em>-shollallohu alaihi wasallam- </em>menimpali: “Wahai ‘Amr, sesungguhnya Allah <em>ta’ala</em> telah menjadikan baik seluruh ciptaan-Nya!</p>
<p>Maka Rasulullah <em>-shollallohu alaihi wasallam- </em>meletakkan empat jari dari telapak kanannya tepat di bawah lututnya ‘Amr, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”</p>
<p>Kemudian beliau mengangkat empat jarinya, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang pertama, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”</p>
<p>Kemudian beliau mengangkat empat jarinya lagi, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang kedua, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung” (HR. Ahmad. Dishohihkan oleh Albany dan al-Arnauth)</p>
<p dir="RTL"><strong>عن حذيفة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : موضع الإزار إلى أنصاف الساقين و العضلة ، فإذا أبيت فمن وراء الساقين ، و لا حق للكعبين في الإزار. (رواه أحمد والنسائي)</strong></p>
<p>Hudzaifah berkata, Rasulullah <em>-shollallohu alaihi wasallam-</em> bersabda: “Tempat sarung adalah sampai pertengahan dua betis dan pada tonjolan dagingnya, tetapi jika kamu tidak menghendakinya maka (boleh) di bawah dua betis, dan tidak ada hak bagi mata kaki (tertutupi) sarung. (HR. Ahmad dan Nasa’i­)</p>
<p dir="RTL"><strong>    عن زيد بن أسلم: كان ابن عمر يحدث أن النبي صلى الله عليه وسلم رآه وعليه إزار يتقعقع يعني جديدا, فقال: من هذا؟ فقلت: أنا عبد الله. فقال: إن كنت عبد الله فارفع إزارك! قال: فرفعته. قال: زد! قال: فرفعته حتى بلغ نصف الساق. قال: ثم التفت إلى أبي بكر فقال: من جر ثوبه من الخيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. فقال أبو بكر: إنه يسترخي [أحد شقي] إزاري أحيانا [إلا أن أتعاهد ذلك منه]. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لست منهم (رواه أحمد والبخاري)</strong></p>
<p>Zaid bin Aslam mengatakan, Ibnu Umar pernah bercerita: Suatu ketika Nabi <em>-shollallahu alaihi wasallam-</em> melihatnya sedang memakai sarung baru. Beliau<em> </em>bertanya: “Siapakah ini?” Aku menjawab: “Aku Abdullah (Ibnu Umar)”. Kemudian Nabi <em>-shollallohu alaihi wasallam- </em>berkata: ”Jika benar kamu Abdullah, maka angkatlah sarungmu!”. (Ibnu Umar) mengatakan: “Aku pun langsung mengangkatnya”. (Nabi) berkata lagi: “Tambah (angkat lagi)!” (Ibnu Umar) mengatakan:  “Maka aku pun mengangkatnya hingga sampai pertengahan betis”. Kemudian Nabi <em>-shollallohu alaihi wasallam-</em> menoleh ke Abu Bakar, seraya mengatakan: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat kepadanya ”. Mendengar hal itu, Abu Bakar bertanya: “Sungguh salah satu dari sisi sarungku terkadang terjulur, akan tetapi aku selalu menjaganya agar ia tak terjulur”. Maka Nabi <em>-shollallohu alaihi wasallam- </em>menimpali: “Kamu bukanlah termasuk dari mereka” (HR. Ahmad dan Bukhari).</p>
<p>&#8221; من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه &#8221; متفق عليه</p>
<p>Siapa yang memanjangkan pakaiannya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya. (Mutafaqun ‘alaih)</p>
<p>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، «أَنَّ النَّبِيَّ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; نَهَى عَنْ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ، وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد</p>
<p>Dari Abi Hurairah, Sesungguhnya nabi sholallahi ‘alaih wassalam melarang as sadl (isbal) di dalam sholat dan menutupi mulutnya. (H.R Abud Dawud, Tirmidzi)</p>
<p><strong>Maraji’</strong></p>
<ol start="1">
<li>Subul as Salam Syarah Bulughul Maram Ta’liq Syaikh Albani (Imam Shon’ani) – Maktabah Ma’arif Rhiyad</li>
<li>Fathu l-Bari – Dar al Ma’arif Beirut</li>
<li>Sarh Sohih Muslim Nawawi &#8211; Dar Ihyau Turats Beirut</li>
<li>Istifau l-Af’al Fii Tahrim Isbal ‘Ala Rijal – Imam Shon’ani</li>
<li>Lisanu l-‘Arab (Muhammad bin Makram bin ‘Ali Afriqiy, Ibnu Mandzhur Anshori Afriqiy) – Dar Shodr beirut</li>
<li>Mukhtar Shoha (Muhamad bin Abi Bakar bin Abdul Qodir Rozi) – Maktabah ‘Ashriah</li>
<li>Sohih Muslim (Muhaqiq Muhamma Zuhair Nashir an Nashir) Cet pertama – Percetakan Amiriah Cairo</li>
<li>Sohih Bukhari (Muhaqi Fuad Abdul baqi ) – Ihyau Turats ‘Arabiy Beirut</li>
<li>Raudha Tholibin Wa ‘Umdah Muqtiin (Imam Nawawi) – Maktabah Islamiy, Beirut, Yaman, Damasqus</li>
<li>Tufahtu Muhtaj Fii Syarah Minhaj (Ahmad bin Muhamd bin ‘Ali bin Hajar Haitami) – Maktabah Tijariah Kubri Mashri</li>
<li>Mughni Muhtaj Fii Syarh Ma’aniy (Syamsudin, Muhamad bin Ahmad Khatib Syarbiniy) – Dar al Kitab ‘Ilmiah</li>
<li>Fiqhu Manhaji ‘Ala madzhab Imam Syafi’I ( – Dar al Qolam Damsqus</li>
<li>Mawahib Jalil Fii Syarh Mukhtashr Khalil (Syamsudin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdurrahman Thurablisi Maghribiy Khatib Ru’iniy Malikiy) – Dar al Fikr</li>
<li>Syarh Mukhtashr Khalil Lilkharsiy (Muhammad bin ‘Abdullah Kharsiy Malikiy) – Dar al fikr Beirut</li>
<li>Majmu’ Syarah Madzhab (Imam Nawawi) – Dar al Fikr</li>
<li>Rohisonline.com</li>
<li><a href="http://ascooor.maktoobblog.com/" target="_blank">http://ascooor.maktoobblog.com/</a></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/292/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=292&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2011/11/16/isbal-dalam-prespektif-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jejak Shalat</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/jejak-shalat/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/jejak-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Jejak Shalat Oleh : Rashid Satari Shalat yang dilakukan dengan baik akan meninggalkan bekas yang baik pula. Allah SWT berfirman, &#8221;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=271&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="judul">Jejak Shalat </span><br />
<span class="underdeck"> </span><br />
<span class="penulis">Oleh : Rashid Satari </span></p>
<p><span class="deskripsi">Shalat yang dilakukan dengan baik akan meninggalkan bekas yang baik pula. Allah SWT berfirman, &#8221;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS Al Ankabut [29]: 45).</p>
<p>Ayat Alquran di atas menunjukkan pelaksanaan ibadah shalat memiliki efek positif pada tingkah laku pelaksananya. Secara langsung, seseorang yang melaksanakan shalat dengan baik akan senantiasa terkontrol dan terjaga perilakunya. Serta, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Islam.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW berpesan dalam salah satu hadisnya yang lain tentang urgensi shalat dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama. Dan, barang siapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama.&#8221; (HR Baihaqi). Sebagaimana sebuah bangunan, Islam pun akan mudah goyah dan runtuh bila berdiri tanpa tiang, yaitu ibadah shalat.</p>
<p>Islam akan tegak ketika nilai-nilai ajarannya terimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ke-Islaman seseorang akan kuat berdiri ketika Islam tidak hanya diyakini melainkan juga dipraktikkan. Hal tersebut terjadi karena ibadah shalat mendorong pelaksananya untuk senantiasa ingat kepada Allah SWT. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, &#8221;Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.&#8221; (QS Thaahaa [20]: 14).<span id="more-271"></span></p>
<p>Lebih lanjut, betapa penting pengaruh shalat dalam kehidupan manusia sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW, &#8221;Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat. Apabila shalatnya baik (lengkap) maka baiklah seluruh amalnya yang lain dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain.&#8221; (HR Thabrani).</p>
<p>Di sinilah terdapat hikmah agung, yaitu ketika shalat wajib disyariatkan lima kali dalam satu hari. Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan baik, kehidupannya sepanjang hari akan selalu berada dalam koridor Islam. <em>Wallahu alam bish-shawwab</em>.</p>
<p></span></p>
<ul>
<li><span class="deskripsi">dikutip dari <a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=338689&amp;kat_id=14" target="_blank">http://republika.co.id</a>
<p></span></li>
<li><span class="deskripsi">Penulis adalah Sekretaris LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah ) Pwk PP. Persis Mesir 2006-2008<br />
</span></li>
</ul>
<p><span class="deskripsi"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/271/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/271/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=271&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/jejak-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Imam Ibnu Majah</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/al-imam-ibnu-majah/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/al-imam-ibnu-majah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Al-Imâm Ibnu Mâjah* Oleh Muhammad Ridhwan Abdur Rasyid** Muqaddimah Kejayaan ummat islam terletak pada ke-iltizâm-an mereka dalam berpegang kepada dua landasan kehidupan yang Allah telah tentukan yaitu al-Qurân dan as-Sunnah. Merupakan kewajiban seorang muslim untuk membaca atau mempelajari dua sumber undang-undang tersebut kemudian memahaminya, meng’amalkannya dan menda’wahkannya serta membela kebenarannya walaupun harus mengorbankan apa saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=270&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle"><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;">Al-Imâm Ibnu Mâja</span><span style="font-family:&quot;">h</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;text-decoration:none;">*</span></span></a><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;">Oleh Muhammad Ridhwan Abdur Rasyid<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">**</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h3><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Muqaddimah</span></em></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Kejayaan ummat islam terletak pada ke-<em>iltizâm-</em>an mereka dalam berpegang kepada dua landasan kehidupan yang Allah telah tentukan yaitu al-Qurân dan as-Sunnah. Merupakan kewajiban seorang muslim untuk membaca atau mempelajari dua sumber undang-undang tersebut kemudian memahaminya, meng’amalkannya dan menda’wahkannya serta membela kebenarannya walaupun harus mengorbankan apa saja yang dimiliki, demi <em>ihyâ’ al-Kitâb wa as-Sunnah </em>dibumi Allah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sejarah telah membuktikan ke-<em>juhûd-</em>an yang tinggi dari <em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> dalam menjaga keduanya. Setelah al-Quran berhasil di-<em>mushhaf-</em>kan seperti kita lihat dan baca saat ini dan terjaga dengan baik sebagaimana janji Allah dalam kitab-Nya<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a>, <em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> mengalihkan <em>juhûd</em> mereka kepada pemeliharaan keberadaan as-Sunnah. Dan salah satu diantara mereka yang sudah dicatat oleh tinta emas sejarah dan insya Allah akan kita kaji pada saat ini adalah <strong>al-Imâm al-Kabîr al-Muhaddits al-Hâfizh Ibnu Mâjah</strong>. Kita bermohon kepada Allah, agar Allah membukakan mata hati kita untuk dalam mengambilkan pelajaran dari kajian ini yang ujungnya kita mau untuk ber’amal demi kepentingan al-Islâm, semoga Allah dan Rasul-Nya serta Mu’minûn menyaksikan ‘amal kita ini, sebagaimana janji-Nya<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> amîn…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h1><em><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;">Nasab Ibnu Mâjah dan kelahirannya</span></em></h1>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Beliau adalah: al-Hâfizh al-Kabîr al-Hujjah al-Mufassir Abu ‘Abdullâh<span> </span>Muhammad bin Yazîd bin Mâjah al-Qazwînî<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a>. Sedangkan Ibnu Mâjah adalah laqab bapaknya (Yazîd). Bukan nama kakek beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata Ibnu Khalkân, adz-Dzahabî dan Ibnu Katsîr<span> </span>juga ad-Dâwudî serta Ibnu al-‘Ammâd al-Hanbalî bahwa: “dilahirkan Ibnu Mâjah pada tahun 209 H”. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 207 H. Pendapat yang <em>râjih</em> adalah pendapat pertama<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a>. pendapat ini kuat, karena nyata bahwa beliau meninggal pada tahun 273H. Sedangkan ketika itu beliau berusia 64 Tahun<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a>. Tidak ada perselisihan atau keraguan pada permasalahan wafatnya beliau. Sedangkan nisbahnya kepada Qazwîn adalah nisbah kepada salah satu kota yang terkenal di ‘Irâq. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa beliau termasuk <em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span> </em>yang<em> </em>telah ikut berandil besar dalam menjaga <em>as-Sunnah an-Nabawiyah asy-Syarîfah</em>.</span></p>
<p><span id="more-270"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<h2 style="text-align:justify;text-indent:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Perjalanan Ibnu Mâjah dalam menuntut ‘ilmu</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-style:normal;"> </span></span></strong></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Satu hal yang sangat mena’jubkan dari ‘ulama terdahulu adalah perjalanan mereka dalam menuntut ‘ilmu. Kebanyakkan dari mereka mengorbankan biaya dan waktu yang sangat banyak dalam menuntut ‘ilmu. Adanya pengorbanan harta dan Mushâbarah dalam menuntut ‘ilmu serta menjaga aturan-aturan <em>dîn al-Islam </em>telah menjadikan mereka para ‘âlim yang selalu dikenang sejarah dan dido’akan oleh generasi setelah mereka. Semoga kita juga dapat ikhlâsh dalam mengorbankan harta kita dalam menuntut ‘ilmu ini serta selalu shabar didalamnya serta kita menjaga aturan-aturan islam. Mudah-mudahan Allah memberikan ‘ilmu yang bermanfa’at pada kita yang dengan ‘ilmu tersebut kita selamat didunia yang fana ini serta diakhirat yang baqa’ nanti amîn.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adapun Imâm Ibnu Mâjah didalam perjalanan beliau didalam mencari ‘ilmu beliau dikenal telah melewati perjalanan kebeberapa tempat diantaranya; ‘Iraq, al-Bashrah, al-Kûfah, Makkah, Syam dan Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Al-Imam Ibnu Mâjah merasakan kesulitan dalam mendapatkan ilmu dan sulitnya perjalanan kepada tempat akan diperolehnya ‘ilmu. Namun beliau tetap melakukan semata-mata mencari <em>mardhâtillâh</em> dan untuk<em> khidmah</em> kepada <em>as-Sunnah an-Nabawiyah asy-Syarîfah</em>. Juga beliau berusaha dengan sebaik-baiknya untuk dapat menghafal apa yang beliau telah dapatkan serta menjaga apa yang telah beliau dapatkan serta menjauhi lupa dari apa yang telah beliau dapatkan<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a>. Satu catatan penting yang terkadang terlupakan oleh generasi akhir ini yaitu menghafal apa yang telah diperdapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h4><span style="font-family:&quot;">Para guru dan murid<span> </span>Ibnu Mâjah</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sebagaimana diketahui bahwa ‘ulama salaf begitu haus pada ‘ilmu dan mempelajari ‘ilmu pada sekian banyak guru, maka demikian juga halnya dengan Ibnu Mâjah. Beliau mencari dan mendalami ‘ilmu dari guru yang sangat banyak. Diantara guru beliau adalah;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Ali bin Muhammad ath-thanâfisî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Mush’ab bin ‘Abdullah az-Zubair</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Suwaid bin Sa’îd</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abdullâh bin Muawiyah al-Jumahî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin Ramh</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ibrahîm bin Mundzir al-Hizâmî<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sedangkan jika kita rinci, maka kita akan mendapati para guru beliau berdasarkan negeri yang beliau kunjungi dalam mencari ‘ilmu adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Mesir</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Harmalah Yahyâ</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu ath-Thâhir bin as-Sarh</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin al-Hârits</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Yunûs bin abd al-A’lâ dll<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Damaskus</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Hisyâm bin ‘Ammâr </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Abbas bin al-Walîd</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">al-Khilâl dll<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference">9</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Iraq</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu Bakar bin abî Syaibah</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Isma’îl bin Mûsâ al-Fazârî dll<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ini hanyalah sebagian dari sekian banyak guru-guru beliau dalam mempelajari islam dan beberapa guru beliau dalam mendengarkan al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>âdits dari mereka.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan murid-murid beliau sangat banyak. Karena keluasan ‘ilmu beliau sangat banyak para </span><em><span style="font-family:&quot;">thalib al-‘Ilm</span></em><span style="font-family:&quot;"> pada masa beliau mengambil ‘ilmu dari beliau. Diantara mereka adalah;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin ‘Isâ al-Abharî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu Thayyib Ahmad al-Baghdâdî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Sulaiman bin Yazîd <a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Ali bin Ibrâhîm <a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a>al-Qaththân</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ishaq bin Muhammad</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin ‘Isâ ash-Shiffâr </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Ali bin Sa’îd al-‘Askarî dll<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ibnu Sibawaih</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Wajdî Ahmad bin<span> </span>Ibrâhîm<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a></span></span><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Demikian sekilas dari para guru dan murid dari Ibnu Mâjah. Mereka telah menoreskan tulisan indah dalam sejarah kejayaan islam. Semoga Allah menerima ‘amal mereka dan kita semua Amîn</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><em><span style="font-family:&quot;">Perkataan ‘ulama terhadap Ibnu Mâjah</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata adz-Dzahabî: “Ibnu Mâjah adalah seorang hâfizh yang besar, Nâqid, Shâdiq, luas ilmunya…”<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata Abu Ya’lâ al-Khalîlî : “ Dia adalah seorang tsiqah yang besar yang disepakati atasnya dan dipakai hujjah. Dia mempunyai pengetahuan tentang hadits dan menghafalnya. Dia menulis sunan dan<span> </span>tafsîr serta tarîkh. Dan ia ‘arif tentang hal ini”<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata Ibnu Katsîr: “ Muhammad bin Yazîd bin Mâjah adalah shâhib kitab as-Sunnah al-Masyhurah. Ini menunjukkan pada ‘amalnya dan ‘ilmunya serta keluasannya pengetahuannya juga tela’ahnya serta ittibâ’nya terhadap as-Sunnah pada ushûl dan furû’”<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sedangkan al-Hâfizh al-Khazrazî mengatakan: “dia adalah seorang al-Hâfizh salah seorang dari al-aimmah dan shâhib sunan, tafsîr dan tarîkh serta melakukan perjalanan yang luas (jauh)”<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Rasanya sangat banyak pujian yang akan kita tuliskan pada lembaran ini melihat keluasan ‘ilmu beliau. Hafalnya beliau terhadap banyak hadîts. Kemudian beliau mengarang tentang tafsîr dan tarîkh. Seorang yang tsiqah yaitu penggabungan antara ‘adil dan dhâbith. Semoga kita dapat meniru beliau, kalaupun tidak lebih dari beliau atau sama, minimal kita berusaha dengan ikhlash menuju kearah yang lebih baik pada masa mendatang dalam mempejari <em>ulûm ad-Dîn</em> ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h5><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Karangan-karangan Ibnu Mâjah</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sejarah telah mencatat, bahwa Ibnu Mâjah telah menghabiskan hidup beliau dalam mencari dan mempelajari serta mengajarkan ‘ilmu. Dan beliau telah menyusun beberapa karangan untuk dijadikan salah satu sumber ‘ilmu bagi generasi setelah beliau. Adapun diantaranya yang masyhur adalah:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kitab as-Sunan yang masyhur dan kitab ini adalah salah satu dari <em>al-Kutub as-Sittah al-Masyhûrah</em></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Tafsîr      al-Qurân al-Karîm</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kitab      at-Tarîkh yang berisi sejarah mulai dari masa <em>ash-Shahâbah</em> sampai      kemasa beliau.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan yang masih ada sampai saat ini dari ketiga karangan beliau adalah kitab sunan yang beliau karang saja<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a>. Walaupun hanya satu karangan beliau yang sampai ketangan kita pada hari ini, nama beliau tetap mengharumkan dan menambah jumlah para pembela sunnah Rasulullah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h5><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kitab “as-Sunan”</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-weight:normal;font-style:normal;"> </span></h5>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Kalau kita menginginkan perincian dari manhaj atau metodologi Imam Ibnu Mâjah dalam pengambilan hadits, maka kita tidak akan menemukan keterangan manhaj beliau yang<span> </span>serinci Imam al-Bukharî atau Imam Muslim. Kita hanya akan melihat manhaj beliau yang bisa disimpulkan dari kitab as-Sunan yang beliau karang. Dari memperhatikan kitab ini kita akan mengetahui bagaimana manhaj beliau didalam mengumpulkan dan menulis al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts. Berangkat dari hal ini kita akan melihat secara rinci hal-hal yang berhubungan dengan kita sunan Ibnu Mâjah ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">Sunan Ibnu Mâjah </span></span></em></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sunan ini adalah kitab yang membawa Ibnu Mâjah kepada kemasyhuran. Didalamnya ditemui bagaimana kebagusan susunan beliau didalam mengelompokkan al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>âdîts. Beliau menggelompokkan dari kitab kemudian bab. Sebagaimana hal ini telah ditempuh oleh al-Kutub al-Khamsah sebelumnya. Dan beliau memulai dari bab <em>“ittibâ’ sunnah rasulillah shallallahu ‘alaihi wassalam”</em>. Disetiap kitab dan bab beliau menulis hadits-hadits yang berkenaan dengan permasalahan tersebut. Dan kata lain beliau menuliskan hadits-hadits berdasarkan urutan fiqh<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Didalam kitab ini Ibnu Mâjah juga menerima <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dari rijâl yang dituduh berdusta dan mencuri <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference">21</span></a> Karena itu ada perselisihan ‘ulama didalam menempatkan kedudukan sunan beliau ini, insya Allah akan kita kaji secara rinci. Adapun kerincian dari sanad hadits yang beliau tulis dalam sunan ini adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">4341 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Jumlah <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">3002 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Jumlah <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts yang dikeluarkan oleh <em>Ashhâb al-Kutub al-Khamsah</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">1339 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Jumlah <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts selain<span> </span>dikeluarkan oleh <em>Ashhâb al-Kutub al-Khamsah</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dari <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts-<span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts selain yang diriwayatkan oleh <em>Ashhâb al-Kutub al-Khamsah</em> memiliki keberadaan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">428 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Dirawikan oleh <em>Rijâl Tsiqât Shahîh al-Isnâd</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">199 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : <em>Hasan al-Isnâd</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">613 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : <em>Dha’îfah al-Isnâd</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">099 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : <em>Wâhiyah al-Isnâd</em> (Munkarah atau Makdzûbah)<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan jumlah kitabnya adalah 32 kitâb, 500 bab<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a>. Dengan catatan pada beberapa bab sebagai berikut: 1.Mendahulukan Ash-Shiyâm daripada Az-Zakâh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>2.Meletakkan al-Hajj jauh daripada al-‘Ibâdât dengan<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span><span> </span>meletakannya setelah bab jihâd <a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dari beberapa hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keutamaan kitab ini dari yang lain adalah adalah baiknya pencocokan (dalam mencocokan <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dengan babnya) dan luasnya penggumpulan serta indahnya susunan. akan tetapi memang harus diketahui dan dijaga bahwa dalam kitab ini dimasukkan hadits as-Shahîh, adh-Dhaîf bahkan al-Munkar juga al-Maudhû’<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Mungkin akan timbul banyak pertanyaan dari permasalahan memasukkan <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts yang dhaîf bahkan munkar dan maudhû’, Seperti:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Apakah      mereka (pertanyaan untuk umum termasuk untuk sunan Ibnu Mâjah) tidak tahu      bahwa<span style="text-decoration:underline;"> h</span>adîts itu<span> </span>munkar atau      maudhû’?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kalau mereka      tahu kenapa mereka memasukkannya memasukkannya?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kalau mereka      tahu kenapa mereka tidak membuang atau menghapuskannya dari kitab mereka?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">dll.</span></li>
</ol>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pertanyaan seperti ini harus kita perhatikan dan harus dijawab dengan baik. Sebagai <em>thâlib al-‘Îlm</em>, harus dipelajari kalau kita belum mengetahuinya dan harus disampaikan kepada yang lain yang belum mengetahuinya agar tidak salah paham dalam memandang kitab-kitab hadits yang ada didalamnya hadits yang dhaif bahkan munkar juga maudhû’. Adapun jawabannya pernah dijelaskan oleh DR Muhammad Mushthafâ Muhammad Sâlim didalam sebuah kitabnya walaupun ini jawaban ini bukan khusus untuk Ibnu Mâjah saja. Adapun diantara jawabannya adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Permasalahan tahu atau tidak tahunya mereka (termasuk Ibnu Mâjah), jawabannya adalah mereka tahu. Hal ini karena keluasan ‘ilmu mereka dan pengetahuan mereka terhadap keadaan rawi-rawi dan lain.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a><span class="MsoFootnoteReference">6</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Permasalahan kalau mereka tahu kenapa mereka tetap memasukkan kedalam kitab mereka, maka jawabannya adalah karena berbagai sebab diantaranya salah satu dibawah ini:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Karena mereka menyusun kitab dan mengumpulkan bahan-bahannya. Selanjutnya ingin mengoreksikan dan membersihkannya dari hal-hal diatas (maudhû’ dll). Akan tetapi mereka meninggal sebelum hal itu terlaksana atau ada sebab lain seperti sakit yang sangat parah dll.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Karena mereka ingin memberi peringatan bahwa <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts itu adalah maudhû’ dan agar ummat berhati-hati terhadapnya serta tahdzir terhadap bahaya melaksanakannya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adakalanya mereka tidak ingin menjelaskan kedudukannya dikarenakan keadaan hal ini sudah diketahui oleh orang-orang dimasa mereka tanpa perlu penjelasan. Tentunya hal ini disebabkan oleh pada saat itu mereka adalah aset ‘ilmu-‘ilmu serta adanya tanâfus pada riwayah dan mujâlasah al-‘Ulamâ’</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adakalanya mereka juga tidak menjelaskan adalah agar para murid-murid mencari sanad lain yang lebih kuat. Sehingga hadits yang lemah bisa menjadi lebih kuat atau terangkat derajatnya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Inilah diantara sebab kenapa mereka tetap memuat <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dhaîf termasuk munkar dan maudhû’ dalam kitab mereka<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Permasalahan kalau dia maudhû’ kenapa tidak dibuang atau dihapus dari kitab? Jawabannya adalah: agar hal ini senantiasa dikenal oleh ummah sampai hari kiamat dan menjadi peringatan serta perhatian dari ummah. Juga agar ‘ulama selalu tampil dalam meneliti kedudukan isnad pada suatu <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts. Juga sebab lain adalah karena adanya perselisihan ‘ulama pada <em>sifah al-Qabûl</em> dan hukum pada ar-Râwî. Seandainya ‘ulama mengizinkan untuk menghapus suatu <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dengan seenaknya, maka akan menghapus setiap orang yang ingin menghapus dari suatu hadits karena beliau memandangannya hadits tersebut dhaîf atau munkar padahal tidak demikian kedudukannya menurut yang lain<a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference">28</span></a>. Allâhu A’lam </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kesimpulan Metodologi Ibnu Mâjah dalam Sunannya</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dari keterangan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa secara rinci metodologi Ibnu Mâjah pada sunannya adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ibnu Mâjah menyusun sunannya berdasarkan kitab dan bab. Dan pengaturannya dilaksanakan dengan sangat teliti, tersusun dan rapi serta universal. Sehingga sunan ini dikenal sebagai bentuk yang baik pada susunan karangan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Keistimewaan letak-letaknya. Karena beliau menyusun dengan teliti serta penuh dengan kehatian-hatian sehingga mudah dipahami oleh yang membaca.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ibnu Mâjah terkadang mengulang beberapa hadits pada bab yang sama dengan tujuan dan menjelaskan perbedaan dan mutasyâbih pada matan dan isnad</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dibanding kitab-kitab yang selainnya dari kitab yang enam, maka sunan beliau adalah yang paling banyak hadits dhaîfnya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ditemukan pada sunannya <em>al-fawâid al-Fiqhiyah</em></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>f.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Apabila seseorang memperhatikan dengan teliti sunan beliau maka akan terlihat bahwa beliau adalah seseorang yang menyusun dengan sebaik-baik susunan, teratur babnya dan sedikit <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîtsnya. Beliau meninggalkan menggulang <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts.<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kedudukan Sunan Ibnu Mâjah dalam kitab-kitab Hadits</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Memang banyak pendapat tentang kedudukan sunan Ibnu Mâjah ini dalam kitab-kitab <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts. Namun pendapat yang dipakai jumhur adalah bahwa kitab sunan Ibnu Mâjah ini pada urutan keenam setelah <em>kutub al-I’immah al-Khamsah </em>sebelumnya yaitu; al-Bukharî, Muslim, Abu dâwûd, at-Tirmidzi dan an-Nasâî.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Adapun yang pertama sekali menempatkan sunan Ibnu Mâjah ini pada urutan keenam dalam kitab-kitab hadits adalah al-Hâfizh Abu al-Fadhl Muhammad bin Thâhir al-Muqaddisî yang wafat pada tahun 507H. kemudian hal ini diikuti oleh al-Hâfizh ‘Abd al-Ghanî bin ‘Abd al-Wâhid al-Muqaddisî yang wafat tahun 600H.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference">30</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Adapun sebagaimana kita jelaskan diatas ada perbedaan pendapat ‘ulama pada mendudukan posisi Sunan Ibnu Mâjah ini pada susunan kutub as-Sunnah adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sunan Ibnu Mâjah ini adalah pada urutan keenam pada kutub as-Sunnah. Ini adalah pendapat terbanyak dari al-Muhadditsin.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah ini terletak setelah:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Al-Muwaththa’ atau </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sunan ad-Dârimî <a name="_ftnref34" href="#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dari semua keterangan ini kita dapat melihat bahwa sekalipun diperselisihan, pendapat yang terbanyak mengatakan bahwa Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah ini terletak pada urutan keenam dari kutub as-Sunnah. Maka akan kita temui isthilah-ishtilah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau dimuthlaqkan lafazh “as-Sunan” maka yang dimaksud adalah Sunan Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Ibnu Mâjah.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau dimuthlaqkan lafazh “ash-Shahah as-Sittah” maka yang dimaksud adalah ash-Shahîhain dan as-Sunan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau ada lafazh “ats-Tsalâtsah” atau “al-Arba’ah illâ ibn Mâjah” atau “</span></span><span style="font-size:12pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">3</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">” yang dimaksud adalah as-Sunan kecuali Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">kalau ada lafazh “al-Khamsah” maka yang dimaksud adalah ash-Shahîhain dan as-Sunan kecuali Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah<a name="_ftnref35" href="#_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Terakhir dan terpenting, kalau ada lafazh “al-Aimmah as-Sittah” maka yang dimaksud adalah:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Ibnu Mâjah<a name="_ftnref36" href="#_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference">33</span></a>. atau</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Malik atau </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan ad-Dârimî.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Namun untuk tetap kita catat, yang asal dalam permasalah ini adalah al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Ibnu Mâjah. Hal ini disampaikan agar kita dapat melihat secara rinci kedudukan Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah ini dalam kutub as-Sunnah.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Wafatnya Ibnu Mâjah</span></em></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Setiap yang bernyawa pasti menemui kematian<a name="_ftnref37" href="#_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference">34</span></a>. Demikianlah hal juga dengan Ibnu Mâjah. Setelah beliau menjalani kehidupan dunia yang penuh cobaan ini, beliau menghadap <em>Rabb</em> beliau setelah berbuat yang terbaik untuk ummah. Imam besar ini wafat pada hari senin dan dikuburkan pada hari selasa. 22 Ramadhan 273H. Pengurusan penguburan beliau dipimpin oleh saudara beliau Abu ‘Abdullâh dan anak beliau ‘Abdullâh bin Muhammad bin Yazîd semoga Allah merahmati mereka semua.<a name="_ftnref38" href="#_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference">35</span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kenangan manis telah beliau tinggalkan. Memang manusia mati meninggalkan budi. Ini terus dicatat oleh kenyataan yang tidak akan dipungkiri kecuali oleh orang yang benci pada kebaikan itu sendiri. Sekarang tanyalah pada diri kita, kalau kita meninggal, apa yang telah kita persiapkan untuk besok<a name="_ftnref39" href="#_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference">36</span></a>dan apa yang telah kita perbuat untuk islam pada hari? <em>Allâhu A’lam bi Ash-Shawab. Taqabbal minâ ya Allah… Amîn</em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference">*</span></a> sebuah dirâsah untuk mengambil pelajaran dari sejarah<span> </span><em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> dalam acara Bidang Ta’lim pada tanggal 04 Shafar 1423H bertepatan dengan 17 April 2002M di Sekretariat Fospi Cairo</p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference">**</span></a>sifaqir pada ampunan Allah Swt yang sedang berusaha <em>Tafaqquh fi ad-Dîn</em> di al-Azhar Univ Fakultas Ushul ad-Dîn Jurusan al-Hadits Zaqaziq Egypt</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a>tadabburi firman Allah dalam surat al-hijir ayat 09 yangberbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> tadabburi firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 105 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 277</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf<span> </span>hal 255</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 61 Dar Ihyâu at-Turâts al-‘Arab</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 256 mengutip risâlah ad-Duktûrah Mahrûs Ridhwan</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 278 jilid 13</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 257</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference">9</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 279 jilid 13</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"></a></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 258</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 57 maktabah al-Îman<span> </span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 280 jilid 13</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 57 maktabah al-Îman<span> </span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 260</p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a> al-‘Îqad ats-tsamîn fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Mahmûd Hilâl Hilâl Muhammad as-Sîsî</p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 261</p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a> al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts wa al-Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>additsîn au ‘inayah al-Ummah al-Islamiyah bi as-Sunnah an-Nabawiyah<span> </span>Muhammad Muhammad Abu Zahw hal 418</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">21</span> al-‘Îqad ats-tsamîn fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Mahmûd Hilâl Hilâl Muhammad as-Sîsî</p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"></a></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a> lihat thuruq takhrîj hadîts Rasulullâh Saw DR Abu Muhammad Abdul Muhdî bin Abdul Qâdir bin Abdul Hâdî Penerbit Dar al-I’tishâm Cairo</p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 257 dan lihat juga al-Hadîts wa al-Muhadditsîn au ‘inayah al-Ummah al-Islamiyah bi as-Sunnah an-Nabawiyah<span> </span>Muhammad Muhammad Abu Zahw hal 362</p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a> lihat thuruq takhrîj hadîts Rasulullâh Saw DR Abu Muhammad Abdul Muhdî bin Abdul Qâdir bin Abdul Hâdî Penerbit Dar al-I’tishâm Cairo</p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a> al-Khulasah fî ‘ilmi at-Takhrîj DR Muhammad Mushthafâ Muhammad Sâlim hal 10</p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference">26</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"></a></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a> ibid hal 11</p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a> al-‘Îqad ats-tsamîn fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Mahmûd Hilâl Hilâl Muhammad as-Sîsî hal 164</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">30</span> ibid</p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"></a></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn34" href="#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a> lihat dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf kesimpulan hal 270-271</p>
</div>
<div id="ftn35">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn35" href="#_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a> al-Khulasah fî ‘ilmi at-Takhrîj DR Muhammad Mushthafâ Muhammad Sâlim hal 16</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">33</span> ibid</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">34</span> tadabburi firman Allah dalam surat al-‘Ankabût ayat 57 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">35</span> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 57 maktabah al-Îman<span> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">36</span> tadabburi firman Allah dalam surat al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn36">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn36" href="#_ftnref36"></a></p>
</div>
<div id="ftn37">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn37" href="#_ftnref37"></a></p>
</div>
<div id="ftn38">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn38" href="#_ftnref38"></a></p>
</div>
<div id="ftn39">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn39" href="#_ftnref39"></a></p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/270/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/270/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=270&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/al-imam-ibnu-majah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malik Bin Anas</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pwk. PP Persis Mesir</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[Photo]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/</guid>
		<description><![CDATA[MÂLIK BIN ANAS “Tidak tersisa lagi di muka bumi ini, yang lebih alim darimu terhadap As-Sunah masa lalu” (Baqiyyah).1 Mukadimah Ketika aku berada di majlis Imam Malik, seekor Kalajengking menyengat kaki beliau sebanyak 16 sengatan. Aku melihat terjadi perubahan pada air mukanya, beliau tetap bertahan dan tidak memotong hadits Rasulullah SAW yang sedang beliau lontarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=269&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoTitle"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="IN">MÂLIK BIN ANAS</span></p>
<p class="MsoTitle"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Tidak tersisa lagi di muka bumi ini, yang lebih alim darimu terhadap<span> </span>As-Sunah masa lalu” (Baqiyyah).<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></h1>
<h1 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mukadimah</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ketika aku berada di <em>majlis</em> Imam Malik, seekor Kalajengking menyengat kaki beliau sebanyak 16 sengatan. Aku melihat terjadi perubahan pada air mukanya, beliau tetap bertahan dan tidak memotong hadits Rasulullah SAW yang sedang beliau lontarkan dihadapan murid-muridnya Tatkala <em>majlis</em> bubar dan orang-orang telah pulang aku bertanya kepadanya : “Aku melihat suatu keajaiban darimu”, beliau menjawab : “Aku mampu bersabar dari sengatan itu karena penghormatanku terhadap hadits Rasulullah SAW”.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> (Ibnu Mubarak)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Benar kata Ulama-ulama kita terdahulu : “Ukuran keagungan seseorang dilihat dari antusiasnya terhadap As-Sunah dan semangatnya menjauhi bid’ah, kecintaannya<span> </span>terhadap Al-Qur`an dan As-Sunah menyatu dalam darah dan dagingnya dan dibuktikan dengan amal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Lalu siapakah manusia agung ini, yang sampai-sampai Rasulullah SAW memprediksikan : “Hampir-hampir manusia tidak mendapatkan orang yang lebih alim dari para <em>`alim</em><span> </span>Madinah”<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau tidak lain adalah Malik Bin Anas Imam <em>Dar ’l Hijrah</em>.</span></p>
<p><span id="more-269"></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Nasabnya </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau adalah <strong>Mâlik bin Anas bin Mâlik bin Abi Âmir bin Amru bin Al Harits bin <span style="text-transform:uppercase;">g</span>hailân bin Hasyat bin Amru bin Harits</strong><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a>. Kakek bapak beliau (Abi Amir) seperti yang disebutkan oleh Qôdi`iyâd adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang mengikuti seluruh peperangan dimasa Rasulullah SAW kecuali perang Badar<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a>. Sedang kakek beliau (Malik) adalah seorang pembesar dan ulama para Tabi’in yang meriwayatkan dari Umar, Utsman, Thalhah, Aisyah, Abu Hurairah, Hasan dan lain-lainnya <em>Radiallâhu `anhum,</em> dan beliau juga adalah salah seorang dari empat orang yang memikul jenazah Utsman dimalam hari menuju kuburnya, juga yang memandikannya<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau dilahirkan di<span> </span>Madinah tahun 93 H pada masa pemerintahan Al-Walîd Bin Abdul Muluk Al-Umawi semasa dengan Imam Al-Faqih Abu Hanifah, namun berbeda dengan Imam Hanifah, Imam Malik masih mendapatkan puncak kejayaan Daulah Abasiyah ketika itu<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="margin-top:0;"><span lang="IN">Kehidupannya</span></h1>
<h1 style="margin-top:0;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">“</span><em><span style="font-weight:normal;" lang="IN">Kemuliaan bertitik tolak dari hal-hal yang tidak disenangi, kebahagiaan tidak dapat diraih melainkan dengan meniti jembatan kesusahan, perjalanan sukses tak dapat ditempuh kecuali dengan perahu kesungguhan</span></em><span lang="IN">”(Shalahul Ummah)</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik tumbuh ditengah-tengah kegemerlapan ilmu pengetahuan, hidup dikeluarga yang mencintai ilmu, dikota ilmu <em>Dar`l Hijrah</em>, mata air As-Sunah dan kota rujukan para alim ulama. Di usia yang relatif sangat belia, beliau telah menghapal Al-Qur`an, menghapal As-Sunah Rasulullah, menghadiri <em>majlis</em> para ulama dan ber<em>mulazamah </em>kepada salah seorang ulama besar pada masanya (Abdurrahman Bin Hurmuz).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Setelah ia merampungkan pelajaran hadits, <em>asar</em> dan ilmu Fiqih, pada usia 17 tahun<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a> beliau membentuk sebuah<em> majlis ilm’</em> di mesjid Nabawi, untuk memberikan pelajaran dan fatwa<span class="MsoFootnoteReference">9</span> tentunya setelah mendapatkan 70 persetujuan Imam<span> </span>Madinah, bahwa beliau berhak dalam hal itu<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Majlis</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> ilmu beliau penuh dengan ketenangan dan jauh dari perkataan yang sia-sia. Al-Wâqidi menggambarkan <em>majlis</em> beliau : “<em>Majlis</em> beliau adalah <em>majlis</em> yang penuh dengan ilmu dan ketenangan, beliau adalah seorang yang arif dan berwibawa, tidak terdengar satupun debat kusir serta suara hiruk pikuk. Apabila beliau ditanya tentang sesuatu, maka beliau menjawab pertanyaan sang penanya tanpa bertanya : Dari mana datangnya perkataan itu ?. Dan orang-orang yang berziarah kemasjid<span> </span>Madinah berdesak-desakan dipintu mesjid untuk meminta fatwa dari beliau<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a>seperti berdesak-desaknya orang didepan pintu para raja” <a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau adalah Imam didalam Hadits dan Fiqih.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a> Abdurrahman Bin Mahdi berkata: “Sufyan dan Ats-Tsauri adalah imam didalam hadits tetapi keduanya bukan imam dalam As-Sunah, Auza`i adalah imam didalam As-Sunah tetapi bukan imam didalam hadits, sedang Malik adalah Imam kedua-duanya (Hadits dan As-Sunah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ibnu Shalah ditanya tentang makna dari perkataan Abdurrahman ini, beliau menjawab: “As-Sunnah disini adalah kebalikan dari bid`ah, sebab terkadang ada manusia yang mengenal hadits tetapi tidak mengenal As-Sunah.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Guru-gurunya </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Orang-orang bodoh menyangka bahwa kitab-kitab itu memberi petunjuk&#8230;. jika ilmu dipelajari tanpa seorang guru maka ia pasti tersesat dari jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Abu Hayan).<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Berbeda halnya dengan imam-imam yang lainnya, seperti Ahmad bin Hanbal yang harus bersusah payah menempuh perjalanan beribu-ribu mil jauhnya demi mendapatkan ilmu. Ke Maroko, Syam, Aljazair, Makkah,<span> </span>Madinah, Hijaz, Yaman, Iraq, Khurasan, Baghdad, dan negeri-negeri lainnya. Atau Yahya Al-Laitsi yang berasal dari Andulusia menuju<span> </span>Madinah dan Makkah dan kemudian kembali ke Andulusia ataukah Baqiyyu bin Mahlad yang berjalan kaki dari Spanyol ke Baghdad hanya untuk bertemu dengan Imam Ahmad.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a> Imam Malik menghabiskan seluruh masa pencarian ilmunya di<span> </span>Madinah, adalah hal yang wajar, karena dikota itulah Nabi SAW, sahabat-sahabatnya, dan <em>Tabi`in</em> meninggalkan <em>atsar</em> yang tak terbilang banyaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau mereguk ilmu sekaligus sumber penerimaan haditsnya dari 900 orang banyaknya<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a> diantaranya; Ibnu Syihab, Az-Zuhri, Abu AswadYatîm Al-Urwah, Ayyub As-Sakhtayani, Rabi`ah bin Abdurrahman (Rabi`ah Ar-Ra`yi), Yahya bin Sa`id Al-Anshari, Musa bin Uqbah, Hisyam bin Urwah, Nafi` Al-Qari, Muhammad bin `Ajlan, dan<span> </span>Abu An-Nadzr Salim (semuanya adalah Tabi`in)<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a><span class="MsoFootnoteReference"></span></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Murid-muridnya</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Diantara zakat ilmu adalah menyebarkannya&#8230; </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Bakr bin Abdullah Abu Zaid)<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Jika pada masa Dinasti Umayah, Imam Malik lebih banyak ”menanam” dengan mengasah kecerdasan otaknya, pemikiran dan pendapat-pendapatnya, maka pada masa dinasti Abbasiyah adalah masa-masa “penuaian” beliau. Pada masa inilah beliau banyak bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya serta menggembleng murid-muridnya.<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Diantara murid-muridnya yang terkenal; Imam Syafi`i, Abdurrahman bin Qasim, Abdullah bin Wahab bin<span> </span>Muslim, Asyhab bin Abdul Aziz Al-Qaisi, Abdullah bin Abdul Hakam, Asbah bin Al-farj, Muhammad bin Abdullah, Abdul Malik bin Abi Salamah Al-Majisun dll.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference">21</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Cobaan terhadap Imam Malik</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Cinta palsu banyak tersingkap dari cobaan, bersabar dari cobaan adalah bukti dari cinta yang hakiki” </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Shalâhu ‘l Ummah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Para sejarawan menyebutkan, bahwa pada tahun 146 H Imam Malik pernah mendapat hadiah cambukan serta siksaan hingga menyebabkan salah satu tangannya terlepas dari pundaknya.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a> Tetapi para sejarawan berbeda pendapat dalam sebab kejadian tersebut, namun pendapat yang terkuat bahwa kejadian itu disebabkan karena beliau meriwayatkan sebuah hadits <em>“Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa”</em>.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Manshur (Abu Ja`far Sulaiman) wali<span> </span>Madinah ketika itu, melarang Malik menceritakan hadits tersebut, tetapi beliau enggan. Kasus ini membuat orang-orang diluar ramai membicarakannya. Karena keengganan Malik, Ja`far bin Sulaiman memukulnya. Hal ini membuat ahli<span> </span>Madinah murka terhadap Bani Abbas dan pemerintahannya. Namun akhirnya Abu Ja`far Al-Mansur minta maaf kepada Malik atas kejadian tersebut, karena ia tidak memilik ilmu tentang itu.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Keberanian Malik dihadapan sang penguasa </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“seutama-utama jihad adalah kalimat hak dihadapan sultan yang zalim” (Hadits).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Suatu hari Imam Malik ditanya :<em>”Engkau telah masuk ke dalam penguasa, sedang mereka adalah orang yang zalim dan aniaya?” Beliau menjawab : “Semoga Allah merahmatimu, lalu dimanakah kebenaran itu diucapkan. </em>(Abu Muta`al bin shalih).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik berkata : <em>“Harun Ar-Rasyid (sang khalifah) pernah mengutus salah seorang utusannya kepadaku dan memintaku datang keistananya untuk membacakan hadits dihadapannya, lalu aku katakan padanya: “Wahai Amirul Mukminin ilmu itu didatangi tidak mendatangi”. Kemudian Harun mendatangi rumahku</em>.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Manhaj fil hadits</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik adalah imam dalam ilmu hadits begitu juga Imam dalam ilmu fiqh. Para ahli hadits mengakui hal itu, karena mereka melihat bahwa sanad-sanad yang terdapat disebagian hadits-haditsnya adalah sesahih-sahih sanad. Para <em>muhadits</em> menyebutnya dengan <strong><em>silsilah az-zahabiah</em></strong>.<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference">26</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Bukhari berkata : <em>“seshahih-shahih sanad adalah</em> Malik<em> dari Nafi` dari ibnu Umar”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sufyan bin Uyainah berkata : <em>“Tidak ada yang lebih keras kritikannya terhadap rijal-rijal hadits dari pada beliau.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Yahya in Ma`in berkata: <em>“semua yang diriwayatkan oleh</em> Malik<em> adalah tsiqah, kecuali Abu Umayah”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Berkata (bukan satu orang saja): “<em>Sahabat-sahabat</em> Malik<em> yang paling tepercaya adalah Nafi` dan Az-Zuhri”. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Syafi`i berkata: <em>“Apabila hadits datang maka</em> Malik<em> adalah bintang”</em>.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ahmad bin Hanbal lebih mendahulukan Malik ketimbang Auza`i, Ats-Tsauri, Al-Laitsi, Hamad dan Al-Hakam, dan berkata ia adalah imam hadits dan fiqh.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference">28</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dalam penerimaan hadits, beliau hanya menerima dari orang yang dipandang ahli hadits dan terpercaya (tsiqah), sedang dalam periwayatan hadits beliau hanya meriwayatkan hadits ma’ruf dan mensyaratkannya juga matan hadits tersebut sejalan dengan amalan ahli Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Namun bersamaan dengan kritisnya beliau dalam menerima riwayat, beliau juga menerima hadits-hadits<em> mursal</em>.<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a> diterima tidaknya hadits <em>mursal</em> dalam ber<em>hujah</em> menimbulkan perdebatan panjang.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference">30</span></a> namun dalam madzhab beliau dan madzhab Hanafi menerima hadits <em>mursal</em> sebagai <em>hujah</em> dengan dua alasan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pertama</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">, rawi-rawi yang <em>tsiqat</em> tidak akan mungkin meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw secara langsung jika ia tidak mendengar dari orang-orang yang tsiqat. Yang <em>zahir</em> dari keadaan para <em>tabi`in</em> itu, bahwa mereka mengambil hadits-hadits dari sahabat dan mereka adalah orang-orang yang adil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">, bahwa kurun ketika itu (<em>tabi`in</em>) kondisi umum mereka dalam keadaan jujur dan adil, karena persaksian nabi terhadap mereka. Dengan demikian hadits-hadits mereka diterima.<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dengan demikian hadits-hadits beliau didalam kitab Muwatta-nya terdapat banyak hadits <em>mursal</em>, bahkan tidak itu saja terdapat pula hadits yang munqathi` al-isnad<a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a> dan balaghât yaitu, beliau berkata : balaghani (telah sampai kepadaku) bahwa Rasulullah bersabda demikian. Ini menunjukan bahwa manhaj beliau dalam mengambil hadits tidak seluruhnya berada dalam sanad-sanad yang mutasil (bersambung) tetapi beliau cukup merasa tenang akan kesahihan hadits.<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference">33</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Orang-orang berbeda pendapat, apakah beliau lebih mendahulukan <em>qiyas</em> daripada <em>Khabar ‘l Ahad</em> yang masyhur dari beliau, bahwa beliau lebih mendahulukan khabar ahda daripada <em>qiyas</em>.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference">34</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Karya beliau : AlMuwatha</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">` </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik meninggalkan kepada generasi-generasi setelahnya sebnuah pusaka yang ta ternilai harganya. Muwatta` karangan beliau yang merupakan permintaan abu ja`far al-manshur.<a name="_ftnref34" href="#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference">35</span></a> wali<span> </span>Madinah ketika itu telah memberikan sumbangsih yang teramat besar daidalam dunia islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau adalah yang pertama kali dikenal sebagai penulis buku dan pengarang di dala islam, karena kitabnya almuwatta adalah kitab yang pertama kali muncul dikala itu.<a name="_ftnref35" href="#_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference">36</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Banyak pujian yang dilontarkan pada kitab tersebut dan barangkali pujian yang paling masyhur di kalangan kita adalah pujian imam muhammad bin idris asy-syafi`i : “saya tidak mengetahui kitab ilmu yang lebih banyak benarnya dibanding kitab Imam Malik” atau perkataan beliau : “tidak ada lagi diatas bumi ini kitab setelah kitabullah yang lebih sahih dari kitab Imam Malik”.<a name="_ftnref36" href="#_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference">37</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pujian ini tidak berlebihan, karena pada wakt itu sudah banyak kitab-kitab sunan yang dikarang semisal sunan ibnu juraij, sunan ibnu ishaq, sunan abi qurrah musa bin tarik az-zabidi dan mushannaf abdur arzaq.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Namun yang perlu menjadi catatan bahwa apa yang disebutkan oleh imam syafi`i tersebut adalah sebelum munculnya shahih bukhari dan muslim. Adapun yang dikatakan oleh as-suyuti syarh almuwatta (hal 8) : “<em>yang benar, bahwa muwatta adalah sahih secara mutlk, tidak ada satupun yang dikecualikan</em>”. Perkataan ini tidak benar, yang benar bahwa didalam muwatta yang mausul lagi marfu`<a name="_ftnref37" href="#_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference">38</span></a> hingga ke Rasulullah saw, seluruhnya adalah sahih seperti hadits-hadits yang terdapat di dalam sahihain, dan juga didalamnya terdapat hais <em>mursal</em> dan balaghât. Kitab beliau tidak termasuk dalam barisan kitab-kitab sahih (seperti bukhari dan muslim) itutidak lain karena banyaknya hadits-hadits <em>mursal</em> dan balaghât didalamnya, dan juga banyaknya pendapat-pendapat fiqh Imam Malik.<a name="_ftnref38" href="#_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference">39</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adapun sebab kitab tersebut dinamakan al-muwatta beliau berkata : aku mengajukan kitabku ini kepada tujuh puluh fuqaha dari fuqaha<span> </span>Madinah, “semuanya <em>wattâni</em> (menyetujuiku) atas karyaku itu, maka aku menamakannya dengan Al-Muwatta (yang disepakati).<a name="_ftnref39" href="#_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference">40</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sekilas pokok-pokok dasar Imam Malik<a name="_ftnref40" href="#_ftn40"><span class="MsoFootnoteReference">41</span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17.85pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17.85pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adapun dasar-dasar pokok mazhab Malik dalam mengistinbat hukum furu` sebagaiman yang terdapat dalam muwatta :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Qur`an Al-Karim</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik memandang bahwa Al-Qur`an mencakup seluruh aspek syari`at, dan ia adalah sandaran agama serta ayat-ayat <em>risalah</em>. Pola pikir beliau terhadap Al-Qur`an berbeda dengan pola pikir ahli <em>jidal</em> dan <em>mutakallimin</em>. Diriwayatkan darinya: <em>“Bahwa barang siapa yang mengatakan Al-Qur`an adalah makhluk maka dia adalah zindiq, wajib dibunuh”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">As-Sunah</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> (lihat penjelasannya pada <em>Manhaj Malik dalam as-As-Sunah</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Amalan Ahli<span> </span>Madinah</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dalam pandangan Imam Malik,<span> </span>Madinah adalah <em><span> </span>Dar ‘l Hijrah</em>, tempat turunnya Al-Qur`an, tempat tinggalnya Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dan ahli<span> </span>Madinah adalah masyarakat yang lebih mengetahui turunnya wahyu Al-Qur`an, yang mana keistimewaan-keistimewaan ini tidak dimliki oleh selain mereka. Dengan demikian amalan-amalan mereka adalah <em>hujah</em> dan lebih didahulukan ketimbang <em>qiyas</em> dan <em>Khabar ‘l Ahad</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Perkataan Sahabat</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Bagi Imam Malik jika tidak terdapat hadits sahih dalam sebuah permasalahan dari nabi saw maka perkataan sahabat selama tidak diketahui mukhalif maka menjadi hujah. Akan tetapi beliau lebih mendahulukan amalan ahli<span> </span>Madinah dibanding perkataan sahabat.<a name="_ftnref41" href="#_ftn41"><span class="MsoFootnoteReference">42</span></a> begitu juga apabila sahabat rsul berbeda dalam suatu permasalahan, amak beliau lebih memilih pendapat yang lebih sesuai dengan amalan ahli<span> </span>Madinah.<a name="_ftnref42" href="#_ftn42"><span class="MsoFootnoteReference">43</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Mâsalih ‘l-Mursalah</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beramal dengan <em>Mashâlih Mursalah</em> adalah asas dari asas-asas yang menjadi sandaran beliau dalam mazhabnya. Yaitu :mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, yang mana syari`at tidak merealisir kemaslahatan tersebut dan tidak juga membatalkannya. Karena pembebanan syarat itu semuanya kembali pada pemeliharaan<em> maqâsid-maqâsid</em> dalam penciptaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Qiyâs</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Jika tidak terdapat <em>nash</em> dari Kitab, As-Sunah, perkataan sahabat, atau <em>ijma`</em> dari kalangan ahli<span> </span>Madinah, maka Imam Malik berijtihad, dan mempergunakan <em>qiyas</em> dalam ijtihadnya.<a name="_ftnref43" href="#_ftn43"><span class="MsoFootnoteReference">44</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sad ‘z Zara`i</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik paling sering mengamalkan <em>sad ‘z zara`i</em><a name="_ftnref44" href="#_ftn44"><span class="MsoFootnoteReference">45</span></a> sampai-sampai sebagian ulama ada yang mengatakan, bahwa mengamalkan <em>sad ‘z zara`i</em> adalah merupakan ciri khas dari mazhab Imam Malik<a name="_ftnref45" href="#_ftn45"><span class="MsoFootnoteReference">46</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mauqif-mauqif Imam Malik</span></h1>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Seorang datang kepada Imam Malik dan bertanya : <em>“Ya,      Abu Abdullah apa pendapatmu tentang orang yang berkata: “Bahwa Qur`an itu      adalah makhluk !” Beliau menjawab: zindiq, bunuh orang ini. Orang itu      berkata : “Ya Abu Abdullah aku hanya menceritakan perkataan dari apa yang      aku dengar”. Beliau berkata :”Tapi saya mendengarnya dari kamu, dan kamu      mengagungkan perkataan tersebut </em>(Yahya bin Khalaf At-Tarsusi)<a name="_ftnref46" href="#_ftn46"><span class="MsoFootnoteReference">47</span></a></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Seorang bertanya kepada beliau tentang firman Allah;      <em>Ar-Rahmân `ala arsy istawâ</em>,(Allah yang maha penyayang bersemayam      (istiwa’) diatas Arsy) bagaimanakah Allah ber<em>istiwa</em>? Imam Malik      terdiam, lalu berkata: “Istiwa adalah suatu yang maklum, bagaimana caranya      adalah hal yang tidak ma’qul (tidak dapat dicerna oleh akal) dan bertanya      hal itu adalah bid`ah sedang mengimaninya adalah wajib, dan aku kira kamu      ini adalah orang yang sesat, keluarkan orang ini. Lalu seseorang menyeru:      “Ya Abu Abdullah, demi tuhan aku pernah bertanya hal ini kepada ahli      Basrah, Kufah dan Iraq. Lalu aku tidak mendapatkan satupun sikap seperti      sikapmu terhadap orang tadi (Abu Thalib al-Maki).<a name="_ftnref47" href="#_ftn47"><span class="MsoFootnoteReference">48</span></a> </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau pernah ditanya 48 pertanyaan, 32 dari      pertanyaan tersebut beliau jawab; saya tidak tahu.<a name="_ftnref48" href="#_ftn48"><span class="MsoFootnoteReference">49</span></a> Imam Ahmad berkomentar :<em>”Sepatutnyalah      orang-orang alim mewarisi perkataan beliau : lâ adrî (saya tidak tahu)</em>.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik ditanya : <em>“Mengapa kamu tidak      mengambil hadits dari Amr bin Dinar? Beliau menjawab aku pernah      mendatanginya lalu aku mendapatkan orang-orang mengambil hadits darinya      dalam keadaan berdiri, hadits rasulullah saw bagiku terlalu agung jika aku      mengambilnya dalam keadaan berdiri.<a name="_ftnref49" href="#_ftn49"><span class="MsoFootnoteReference">50</span></a> dan beliau sama sekali tidak pernah membacakan sebuah hadits, kecuali      beliau dalam keadaan suci (Abu Mus`ab)</em><a name="_ftnref50" href="#_ftn50"><span class="MsoFootnoteReference">51</span></a></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adalah Malik jika didatangi oleh ahli <em>ahwa`</em> beliau berkata : <em>“Adapun aku berada dalam bayyinah agamaku, sedang anda      adalah orang yang berada dalam keraguan, pergilah kamu kepada oarang-orang      yang syak sepertimu lalulah berjidalah dengannya</em><a name="_ftnref51" href="#_ftn51"><span class="MsoFootnoteReference">52</span></a></span></li>
</ul>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mereka berbicar tentang Imam Malik</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Malik adalah <em>alim</em> dari ahli Hijaz dan ia adalah <em>hujah</em> pada zamannya (Ibnu Uyainah)</span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Tidak ada seorangpun yang <em>alim</em> di<span> </span>Madinah setelah para <em>tabi`in</em> yang      menyerupai Malik dalam ilmu, fiqh, keagungan dan hafalan (Az-Zahabi).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Jika ulama disebutkan maka Malik adalah bintang      (Syafi`i)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Seandainya bukan Malik dan ibnu uyainah niscaya      hilanglah ilmu hijaz (Syafi`i).</span></li>
</ol>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Wafat</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Setiap orang diambil dan ditinggalkan perkataanya kecuali pemilik kubur ini (maksudnya Nabi SAW)”</span></em><a name="_ftnref52" href="#_ftn52"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">53</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Demikianlah untaian kata yang pernah diucapkan oleh Imam Malik dikala hidupnya, sebuah peringatan yang teramat bernilai bagi mereka yang lebih cinta terhadap agama ini, bahwa <em>ta`asub</em> hanyalah kepada Rasulullah bukan terhadap kami, yang terkadang salah dan terkadang benar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau menghadap Allah SWT pada malam <strong>14 safar 179 H pada usia yang ke 85 tahun<a name="_ftnref53" href="#_ftn53"><span class="MsoFootnoteReference">54</span></a> dan dimakamkan di Baqî`<span> </span>Madinah.</strong><em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Wallahu `alam</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">*** Dipresentasikan pada acara kamisan FOSPI tanggal 7 Maret 2002 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>oleh Ibnu Ja’far </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">1</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Sholâhu ’l Ummah Fi U’luwwi’ l Himmah</em> 2/181 oleh Dr Sayyid Al `Iffâni </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">2</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Ibid,182</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">3</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban, Hakim dan Baihaqi. Semuanya bersumber dari hadits Ibnu Uyainah dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir, dan rijal-rijalnya adalah <em>Tsiqot</em> kecuali bahwa Ibnu Juraij dan Abu Jubair keduanya <em>Mudallis</em>.tetapi bersamaan dengan itu Tirmidzi menghasankannya,disahihkan oleh Hakim, disepakati oleh Az-Zahabi dan disahkan juga oleh Ibnu Hiban.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">4</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Bidâyah wan<span> </span>N ihâyah</em>, Ibnu Katsir 7/164 </span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">5 Lihat </span></a><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Târikh Tasyrî`</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Islamî</em> Manna ‘l Qattan 345.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">6</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em>, <em>syarh muwatta</em> Imam Malik oleh Muhammad Abdul Baqi Bin Yusuf Azzurqoni, Mukadimah Hal,5. </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">7</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Manâ ‘l Qattân</em>343 dan <em>Fiqh ‘l Islamî wa Adilatuhu</em> Hal 45</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">8</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Demikian yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah, namun syeikh <em>Manâ ‘l Qattân</em>menolak hal tersebut, beliau lebih cenderung berpendapat bahwa usia Malik ketika sudah berada dalam usia yang matang, lihat <em>Târikh Tasyri`</em> Manna ’l Qattan,Hal 346.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">10</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em>, Muqadimah 1/5.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">11</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Manna ’l Qattan, Hal 347.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">12</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarhu Az-Zurqani</em> 1/5</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">13</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid,</em> Hal 6</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">14</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> I<em>bid,</em> Hal 6</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">15</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Hilyatu Tâlib’ l Ilmi</em>. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, hal 24.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">16</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Rawai` wa Tarâif</em>, Ibrahim An-Ni`mah, hal. 77</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">17</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em> hal 5.</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">18</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em> hal 8</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">19</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Hilyatu Tâlib’ lIlmi</em> hal 51</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">20</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Târîkh Tasyri`</em>, Manna ’l Qattan, 343.</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">21</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> lihat lebih rinci <em>Fiqh ‘l Islâmî wa Adillatuh</em> 1/48.</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">22</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Semenjak kejadian tersebut beliau tidak sanggup meletakan tangan kanannya diatas tangan kirinya seperti yang terdapat dalam <em>Al-Intifa`</em> hal 44, Yang kemudian dijadikan hujjah oleh para pengikutnya”bahwa shalat tidak meletakkan tangan diatas dada setelah bertakbir” Namun hal ini terbantah, karena dua tahun setelah kejadian itu beliau mengarang <em>Al-Muwatta`</em> yang diantaranya berisi : “dan Ia (Rasulullah SAW) meletakan tangannya (tangan kanannya) diatas tangan yang lainnya (tangan kirinya) di dalam salat (hadiah <em>Sulthan Ila Muslim Bilad ’lYaban</em>) oleh Muhammad Sulthan Al-Ma`shumi hal, 57.</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">23</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Hadits ini tidak <em>marfu`</em> melainkan <em>mauquf</em> dari Ibnu Abas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushanaf , 5/48: <em>“Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa dan disiksa”.</em> Rijal-rijalnya adalah <em>tsiqat</em> dan di<em>ta`likan </em>oleh Bukhari 9/343. dan lafadznya: Ibnu Abas berkata : <em>“Talak orang yang mabuk dan dipaksa tidak boleh”</em>. Al-Hafidz berkata hadits ini telah disambungkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Sa`id bin Manshur.</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">24</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Shalâh ’l Ummah,</em> 3/34.</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">25</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>, 3/34.</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">26</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Târikh Tasyri`</em>`, Mana `l Qattan 352.</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">27</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Bidâyah wa nihâyah</em>, 7/164.</span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">28</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Siyar `Alamin Nubâla</em> ditukil dalam <em>Salah ’l ummah fi uluw ‘l himmah</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">29</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Arti hadits <em>mursal</em> yang masyhur : hadits yang di<em>rafa`</em> oleh <em>tabi`in</em>, seperti <em>tabi`in</em> berkata “Rasulullah saw bersabda “ (tanpa menyebut nama sahabat). Hukum hadits <em>mursal</em> menurut <em>jumhur muhaddis</em> dan <em>fuqaha</em> dan <em>ushuliyun</em> bahwa hadits <em>mursal</em> adalah <em>dha`if</em> tidak boleh ber<em>hujah</em> dengannya (lihat <em>manhaj an-naqd fi ulum ‘l hadits</em>) oleh DR. Nuruddin Attar. Hal 370, Dar el Fikr.</span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">30</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> silahkan membaca kitab Al-Hafidz ’l-Alaih, <em>jami` ‘t- tahsil</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">31</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Nurudin Attar, 372.</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">32</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>, orang yang pertama mendefinisikan <em>Munqathi`</em> adalah Al-Hafiz Ibnu Abdul Birr yaitu : <em>munqati`</em> adalah segala sesuatu yang tidak bersambung baik dinisbatkan langsung atau lainnya </span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">33</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Manâ ‘l Qattân, 353.</span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">34</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em></span></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn34" href="#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">35</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Sebelum pembukuan Al-Muwatta` rampung Abu Ja`far Al-Manshur keburu meninggal dunia lihat Manâ ‘l Qattân,<span> </span>350.</span></p>
</div>
<div id="ftn35">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn35" href="#_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">36</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em></span></p>
</div>
<div id="ftn36">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn36" href="#_ftnref36"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">37</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Lihat <em>Al-Bâ`is Al-Hasîs</em>, oleh Ibnu Katsir, hal 24.</span></p>
</div>
<div id="ftn37">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn37" href="#_ftnref37"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">38</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Hadits <em>Marfu`</em> yang disandarkan kepada Rasulullah saw baik berupa perkataan, perbuatan, <em>takrir</em>, atau sifat, lihat M<em>anhaj an-Naqd </em>Nurudin Attar.</span></p>
</div>
<div id="ftn38">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn38" href="#_ftnref38"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">39</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Llihat secara rinci <em>Al-Bâ`is Al-Hasîs</em>, oleh Ibnu Katsir, hal 24.</span></p>
</div>
<div id="ftn39">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn39" href="#_ftnref39"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">40</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em> hal 12.</span></p>
</div>
<div id="ftn40">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn40" href="#_ftnref40"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">41</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Manâ ‘l Qattân, 352</span></p>
</div>
<div id="ftn41">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn41" href="#_ftnref41"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">42</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> diriwayatkan didalam muwatta bahwa umar bin khatab pernah membaca aya sajdah sedang beliau ketika itu berada diats mimbar pada hari jum`at, lalu beliau turun dan sujud, lalu oran-orangpun sujud bersamanya. Kemudian pada hari jum`at berikutnya beliau membacanya lagi, lalu ia melarang orang-orang bersujud dan berkata : tetaplah kalian pada posisi kalian, sesungguhnya Allah swt tidak mewajibkan kepda kita bersujud kecuali jika kita mau, maka beliau tidak bersujud dan melarangmereka bersujud. Dalam asar tersebut umar membolehkan imam turun dari mimbar untuk bersujud jika mau apabila membaca ayt sajdah. Lalu imam Malik mengomentari : bukanlah amalan (ahli<span> </span>Madinah) bah imam boleh turun dari mimbar untuk bersujud apabila ia membaca ayat-ayat sajdah.</span></p>
</div>
<div id="ftn42">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn42" href="#_ftnref42"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">43</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> diriwayatkan oleh zaid bn tsabit, salat wusta adalah salat zuhur, sedang Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abas berpendapat shalat wustha adalah slat subuh. Kemuadian imam Malik berkata : perkataan Ali dan Ibnu Abas yang aku lebih senang mendengarnya…. Sebagimana juga dalam riwayat-riwayat lain bahwa alat wustha adalah salat ashar.</span></p>
</div>
<div id="ftn43">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn43" href="#_ftnref43"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">44</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> di dalam muwatta disebutkan bahwa imam malim ditanya tentang wanita haid yang suci dan tidak mendapatkan air, apakah ia boleh bertayamam beliau menjawab: ya, hendaknya ia bertayamum, karena keadaannya seperti orang junub yang tidak mendapatkan air.</span></p>
</div>
<div id="ftn44">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn44" href="#_ftnref44"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">45</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> zari`ah artinya wasilah atau jalan yang menyampaikan pada tujuan, yang dimaksud dengan zari`ah disini ialah jalan untuk sampai kepada yang haram atau lepada yang halal. Wasilah yang menyampaikan kepada yang haram maka hukumnya haram dan wasilah yang menyampaikan kepada yng halal maka halal pula hukumnya. </span></p>
</div>
<div id="ftn45">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn45" href="#_ftnref45"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">46</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> dalam sahih muslim disebutkan: “barang siapa yang berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari dari syawal maka puasanya seperti setahun”. Akan tetapi imam Malik membenci puasa yang</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"> bersambung dengan ramdhan yang berturut-turut karena taut diyakin oleh orang-orang sebagai suatu kewajiban.</span></p>
</div>
<div id="ftn46">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn46" href="#_ftnref46"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">47</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Al-Hilyah</em>, 6/324, <em>Siyar `alâmin Nubala</em>, 8/99 dinukil kembali dalam <em>`Uluw ’l Himmah</em> 2/182.</span></p>
</div>
<div id="ftn47">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn47" href="#_ftnref47"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">48</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>. dinukil dari <em>Siyar</em> 8/106-107, <em>tartîb<span> </span>’l madârik</em> 1/170-176.</span></p>
</div>
<div id="ftn48">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn48" href="#_ftnref48"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">49</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em> hal 1/5.</span></p>
</div>
<div id="ftn49">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn49" href="#_ftnref49"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">50</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>`Uluw<span> </span>‘l Himmah</em> 5/661.</span></p>
</div>
<div id="ftn50">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn50" href="#_ftnref50"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">51</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn51">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn51" href="#_ftnref51"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">52</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>. hal 2/183.</span></p>
</div>
<div id="ftn52">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn52" href="#_ftnref52"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">53</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Kalimat ini pernah diucapkan oleh sang penterjemah Al-Qur`an Abdullah bin Abas, sebagimana yang dipaparkan oleh Taqiyuddin As-Subki didalam Al-Fatawa (1/148) dan beliau mengagumi keelokan dan keindahan perkataan tersebut. Kemudian mujahid mengambil perkataan tersebut dari Abdullah bin Abas, seperti yang terdapat dalam J<em>ami` Bayan ’l-ilmi wafadlihi</em> 1/91 dan <em>Al-Ihkam fi Ushûl<span> </span>‘l ahkâm </em>1/145. kemudian Imam Malik mengambilnya dari mujahid yang akhirnya perkataan ini disandarkan kepada imam Malik serta tersebar luas bahwa perkataan tersebut adalah perkataan Imam Malik (lihat <em>hal muslim mulzamu bittiba` mazhab muayyan min ‘l mazahib al-`arb`ah</em> hal.59</span></p>
</div>
<div id="ftn53">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn53" href="#_ftnref53"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">54</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Ibnu Waqidi menyebutkan bahwa usia beliau mencapai 90 tahun (lihat <em>Bidâyah wanihâyah</em>) Ibnu Katsir.</span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/269/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/269/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&amp;blog=3210199&amp;post=269&amp;subd=pwkpersis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
