<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Republik Arab Mesir</title>
	<atom:link href="http://pwkpersis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pwkpersis.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Jul 2009 12:51:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='pwkpersis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5cc22b98caeed2befb3b411972048bab?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Republik Arab Mesir</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Jejak Shalat</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/jejak-shalat/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/jejak-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Jejak Shalat 
 
Oleh : Rashid Satari 
Shalat yang dilakukan dengan baik akan meninggalkan bekas yang baik pula. Allah SWT berfirman, &#8221;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=271&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="judul">Jejak Shalat </span><br />
<span class="underdeck"> </span><br />
<span class="penulis">Oleh : Rashid Satari </span></p>
<p><span class="deskripsi">Shalat yang dilakukan dengan baik akan meninggalkan bekas yang baik pula. Allah SWT berfirman, &#8221;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS Al Ankabut [29]: 45).</p>
<p>Ayat Alquran di atas menunjukkan pelaksanaan ibadah shalat memiliki efek positif pada tingkah laku pelaksananya. Secara langsung, seseorang yang melaksanakan shalat dengan baik akan senantiasa terkontrol dan terjaga perilakunya. Serta, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Islam.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW berpesan dalam salah satu hadisnya yang lain tentang urgensi shalat dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama. Dan, barang siapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama.&#8221; (HR Baihaqi). Sebagaimana sebuah bangunan, Islam pun akan mudah goyah dan runtuh bila berdiri tanpa tiang, yaitu ibadah shalat.</p>
<p>Islam akan tegak ketika nilai-nilai ajarannya terimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ke-Islaman seseorang akan kuat berdiri ketika Islam tidak hanya diyakini melainkan juga dipraktikkan. Hal tersebut terjadi karena ibadah shalat mendorong pelaksananya untuk senantiasa ingat kepada Allah SWT. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, &#8221;Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.&#8221; (QS Thaahaa [20]: 14).<span id="more-271"></span></p>
<p>Lebih lanjut, betapa penting pengaruh shalat dalam kehidupan manusia sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW, &#8221;Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat. Apabila shalatnya baik (lengkap) maka baiklah seluruh amalnya yang lain dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain.&#8221; (HR Thabrani).</p>
<p>Di sinilah terdapat hikmah agung, yaitu ketika shalat wajib disyariatkan lima kali dalam satu hari. Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan baik, kehidupannya sepanjang hari akan selalu berada dalam koridor Islam. <em>Wallahu alam bish-shawwab</em>.</p>
<p></span></p>
<ul>
<li><span class="deskripsi">dikutip dari <a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=338689&amp;kat_id=14" target="_blank">http://republika.co.id</a>
<p></span></li>
<li><span class="deskripsi">Penulis adalah Sekretaris LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah ) Pwk PP. Persis Mesir 2006-2008<br />
</span></li>
</ul>
<p><span class="deskripsi"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/271/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/271/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=271&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/jejak-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Imam Ibnu Majah</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/al-imam-ibnu-majah/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/al-imam-ibnu-majah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Al-Imâm Ibnu Mâjah* 
Oleh Muhammad Ridhwan Abdur Rasyid**
 
Muqaddimah
 
Kejayaan ummat islam terletak pada ke-iltizâm-an mereka dalam berpegang kepada dua landasan kehidupan yang Allah telah tentukan yaitu al-Qurân dan as-Sunnah. Merupakan kewajiban seorang muslim untuk membaca atau mempelajari dua sumber undang-undang tersebut kemudian memahaminya, meng’amalkannya dan menda’wahkannya serta membela kebenarannya walaupun harus mengorbankan apa saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=270&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoTitle"><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;">Al-Imâm Ibnu Mâja</span><span style="font-family:&quot;">h</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;text-decoration:none;">*</span></span></a><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;">Oleh Muhammad Ridhwan Abdur Rasyid<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">**</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h3><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Muqaddimah</span></em></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Kejayaan ummat islam terletak pada ke-<em>iltizâm-</em>an mereka dalam berpegang kepada dua landasan kehidupan yang Allah telah tentukan yaitu al-Qurân dan as-Sunnah. Merupakan kewajiban seorang muslim untuk membaca atau mempelajari dua sumber undang-undang tersebut kemudian memahaminya, meng’amalkannya dan menda’wahkannya serta membela kebenarannya walaupun harus mengorbankan apa saja yang dimiliki, demi <em>ihyâ’ al-Kitâb wa as-Sunnah </em>dibumi Allah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sejarah telah membuktikan ke-<em>juhûd-</em>an yang tinggi dari <em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> dalam menjaga keduanya. Setelah al-Quran berhasil di-<em>mushhaf-</em>kan seperti kita lihat dan baca saat ini dan terjaga dengan baik sebagaimana janji Allah dalam kitab-Nya<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a>, <em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> mengalihkan <em>juhûd</em> mereka kepada pemeliharaan keberadaan as-Sunnah. Dan salah satu diantara mereka yang sudah dicatat oleh tinta emas sejarah dan insya Allah akan kita kaji pada saat ini adalah <strong>al-Imâm al-Kabîr al-Muhaddits al-Hâfizh Ibnu Mâjah</strong>. Kita bermohon kepada Allah, agar Allah membukakan mata hati kita untuk dalam mengambilkan pelajaran dari kajian ini yang ujungnya kita mau untuk ber’amal demi kepentingan al-Islâm, semoga Allah dan Rasul-Nya serta Mu’minûn menyaksikan ‘amal kita ini, sebagaimana janji-Nya<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> amîn…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h1><em><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;">Nasab Ibnu Mâjah dan kelahirannya</span></em></h1>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Beliau adalah: al-Hâfizh al-Kabîr al-Hujjah al-Mufassir Abu ‘Abdullâh<span> </span>Muhammad bin Yazîd bin Mâjah al-Qazwînî<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a>. Sedangkan Ibnu Mâjah adalah laqab bapaknya (Yazîd). Bukan nama kakek beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata Ibnu Khalkân, adz-Dzahabî dan Ibnu Katsîr<span> </span>juga ad-Dâwudî serta Ibnu al-‘Ammâd al-Hanbalî bahwa: “dilahirkan Ibnu Mâjah pada tahun 209 H”. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 207 H. Pendapat yang <em>râjih</em> adalah pendapat pertama<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a>. pendapat ini kuat, karena nyata bahwa beliau meninggal pada tahun 273H. Sedangkan ketika itu beliau berusia 64 Tahun<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a>. Tidak ada perselisihan atau keraguan pada permasalahan wafatnya beliau. Sedangkan nisbahnya kepada Qazwîn adalah nisbah kepada salah satu kota yang terkenal di ‘Irâq. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa beliau termasuk <em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span> </em>yang<em> </em>telah ikut berandil besar dalam menjaga <em>as-Sunnah an-Nabawiyah asy-Syarîfah</em>.</span></p>
<p><span id="more-270"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<h2 style="text-align:justify;text-indent:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Perjalanan Ibnu Mâjah dalam menuntut ‘ilmu</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-style:normal;"> </span></span></strong></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Satu hal yang sangat mena’jubkan dari ‘ulama terdahulu adalah perjalanan mereka dalam menuntut ‘ilmu. Kebanyakkan dari mereka mengorbankan biaya dan waktu yang sangat banyak dalam menuntut ‘ilmu. Adanya pengorbanan harta dan Mushâbarah dalam menuntut ‘ilmu serta menjaga aturan-aturan <em>dîn al-Islam </em>telah menjadikan mereka para ‘âlim yang selalu dikenang sejarah dan dido’akan oleh generasi setelah mereka. Semoga kita juga dapat ikhlâsh dalam mengorbankan harta kita dalam menuntut ‘ilmu ini serta selalu shabar didalamnya serta kita menjaga aturan-aturan islam. Mudah-mudahan Allah memberikan ‘ilmu yang bermanfa’at pada kita yang dengan ‘ilmu tersebut kita selamat didunia yang fana ini serta diakhirat yang baqa’ nanti amîn.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adapun Imâm Ibnu Mâjah didalam perjalanan beliau didalam mencari ‘ilmu beliau dikenal telah melewati perjalanan kebeberapa tempat diantaranya; ‘Iraq, al-Bashrah, al-Kûfah, Makkah, Syam dan Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Al-Imam Ibnu Mâjah merasakan kesulitan dalam mendapatkan ilmu dan sulitnya perjalanan kepada tempat akan diperolehnya ‘ilmu. Namun beliau tetap melakukan semata-mata mencari <em>mardhâtillâh</em> dan untuk<em> khidmah</em> kepada <em>as-Sunnah an-Nabawiyah asy-Syarîfah</em>. Juga beliau berusaha dengan sebaik-baiknya untuk dapat menghafal apa yang beliau telah dapatkan serta menjaga apa yang telah beliau dapatkan serta menjauhi lupa dari apa yang telah beliau dapatkan<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a>. Satu catatan penting yang terkadang terlupakan oleh generasi akhir ini yaitu menghafal apa yang telah diperdapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h4><span style="font-family:&quot;">Para guru dan murid<span> </span>Ibnu Mâjah</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sebagaimana diketahui bahwa ‘ulama salaf begitu haus pada ‘ilmu dan mempelajari ‘ilmu pada sekian banyak guru, maka demikian juga halnya dengan Ibnu Mâjah. Beliau mencari dan mendalami ‘ilmu dari guru yang sangat banyak. Diantara guru beliau adalah;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Ali bin Muhammad ath-thanâfisî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Mush’ab bin ‘Abdullah az-Zubair</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Suwaid bin Sa’îd</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abdullâh bin Muawiyah al-Jumahî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin Ramh</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ibrahîm bin Mundzir al-Hizâmî<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sedangkan jika kita rinci, maka kita akan mendapati para guru beliau berdasarkan negeri yang beliau kunjungi dalam mencari ‘ilmu adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Mesir</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Harmalah Yahyâ</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu ath-Thâhir bin as-Sarh</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin al-Hârits</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Yunûs bin abd al-A’lâ dll<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Damaskus</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Hisyâm bin ‘Ammâr </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Abbas bin al-Walîd</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">al-Khilâl dll<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference">9</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Iraq</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu Bakar bin abî Syaibah</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Isma’îl bin Mûsâ al-Fazârî dll<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ini hanyalah sebagian dari sekian banyak guru-guru beliau dalam mempelajari islam dan beberapa guru beliau dalam mendengarkan al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>âdits dari mereka.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan murid-murid beliau sangat banyak. Karena keluasan ‘ilmu beliau sangat banyak para </span><em><span style="font-family:&quot;">thalib al-‘Ilm</span></em><span style="font-family:&quot;"> pada masa beliau mengambil ‘ilmu dari beliau. Diantara mereka adalah;</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin ‘Isâ al-Abharî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu Thayyib Ahmad al-Baghdâdî</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Sulaiman bin Yazîd <a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Ali bin Ibrâhîm <a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a>al-Qaththân</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ishaq bin Muhammad</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Muhammad bin ‘Isâ ash-Shiffâr </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">‘Ali bin Sa’îd al-‘Askarî dll<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ibnu Sibawaih</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Wajdî Ahmad bin<span> </span>Ibrâhîm<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a></span></span><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Demikian sekilas dari para guru dan murid dari Ibnu Mâjah. Mereka telah menoreskan tulisan indah dalam sejarah kejayaan islam. Semoga Allah menerima ‘amal mereka dan kita semua Amîn</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><em><span style="font-family:&quot;">Perkataan ‘ulama terhadap Ibnu Mâjah</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata adz-Dzahabî: “Ibnu Mâjah adalah seorang hâfizh yang besar, Nâqid, Shâdiq, luas ilmunya…”<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata Abu Ya’lâ al-Khalîlî : “ Dia adalah seorang tsiqah yang besar yang disepakati atasnya dan dipakai hujjah. Dia mempunyai pengetahuan tentang hadits dan menghafalnya. Dia menulis sunan dan<span> </span>tafsîr serta tarîkh. Dan ia ‘arif tentang hal ini”<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berkata Ibnu Katsîr: “ Muhammad bin Yazîd bin Mâjah adalah shâhib kitab as-Sunnah al-Masyhurah. Ini menunjukkan pada ‘amalnya dan ‘ilmunya serta keluasannya pengetahuannya juga tela’ahnya serta ittibâ’nya terhadap as-Sunnah pada ushûl dan furû’”<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sedangkan al-Hâfizh al-Khazrazî mengatakan: “dia adalah seorang al-Hâfizh salah seorang dari al-aimmah dan shâhib sunan, tafsîr dan tarîkh serta melakukan perjalanan yang luas (jauh)”<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Rasanya sangat banyak pujian yang akan kita tuliskan pada lembaran ini melihat keluasan ‘ilmu beliau. Hafalnya beliau terhadap banyak hadîts. Kemudian beliau mengarang tentang tafsîr dan tarîkh. Seorang yang tsiqah yaitu penggabungan antara ‘adil dan dhâbith. Semoga kita dapat meniru beliau, kalaupun tidak lebih dari beliau atau sama, minimal kita berusaha dengan ikhlash menuju kearah yang lebih baik pada masa mendatang dalam mempejari <em>ulûm ad-Dîn</em> ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h5><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Karangan-karangan Ibnu Mâjah</span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sejarah telah mencatat, bahwa Ibnu Mâjah telah menghabiskan hidup beliau dalam mencari dan mempelajari serta mengajarkan ‘ilmu. Dan beliau telah menyusun beberapa karangan untuk dijadikan salah satu sumber ‘ilmu bagi generasi setelah beliau. Adapun diantaranya yang masyhur adalah:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kitab as-Sunan yang masyhur dan kitab ini adalah salah satu dari <em>al-Kutub as-Sittah al-Masyhûrah</em></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Tafsîr      al-Qurân al-Karîm</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kitab      at-Tarîkh yang berisi sejarah mulai dari masa <em>ash-Shahâbah</em> sampai      kemasa beliau.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan yang masih ada sampai saat ini dari ketiga karangan beliau adalah kitab sunan yang beliau karang saja<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a>. Walaupun hanya satu karangan beliau yang sampai ketangan kita pada hari ini, nama beliau tetap mengharumkan dan menambah jumlah para pembela sunnah Rasulullah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<h5><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kitab “as-Sunan”</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;font-weight:normal;font-style:normal;"> </span></h5>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Kalau kita menginginkan perincian dari manhaj atau metodologi Imam Ibnu Mâjah dalam pengambilan hadits, maka kita tidak akan menemukan keterangan manhaj beliau yang<span> </span>serinci Imam al-Bukharî atau Imam Muslim. Kita hanya akan melihat manhaj beliau yang bisa disimpulkan dari kitab as-Sunan yang beliau karang. Dari memperhatikan kitab ini kita akan mengetahui bagaimana manhaj beliau didalam mengumpulkan dan menulis al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts. Berangkat dari hal ini kita akan melihat secara rinci hal-hal yang berhubungan dengan kita sunan Ibnu Mâjah ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">Sunan Ibnu Mâjah </span></span></em></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sunan ini adalah kitab yang membawa Ibnu Mâjah kepada kemasyhuran. Didalamnya ditemui bagaimana kebagusan susunan beliau didalam mengelompokkan al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>âdîts. Beliau menggelompokkan dari kitab kemudian bab. Sebagaimana hal ini telah ditempuh oleh al-Kutub al-Khamsah sebelumnya. Dan beliau memulai dari bab <em>“ittibâ’ sunnah rasulillah shallallahu ‘alaihi wassalam”</em>. Disetiap kitab dan bab beliau menulis hadits-hadits yang berkenaan dengan permasalahan tersebut. Dan kata lain beliau menuliskan hadits-hadits berdasarkan urutan fiqh<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Didalam kitab ini Ibnu Mâjah juga menerima <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dari rijâl yang dituduh berdusta dan mencuri <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference">21</span></a> Karena itu ada perselisihan ‘ulama didalam menempatkan kedudukan sunan beliau ini, insya Allah akan kita kaji secara rinci. Adapun kerincian dari sanad hadits yang beliau tulis dalam sunan ini adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">4341 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Jumlah <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">3002 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Jumlah <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts yang dikeluarkan oleh <em>Ashhâb al-Kutub al-Khamsah</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">1339 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Jumlah <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts selain<span> </span>dikeluarkan oleh <em>Ashhâb al-Kutub al-Khamsah</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dari <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts-<span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts selain yang diriwayatkan oleh <em>Ashhâb al-Kutub al-Khamsah</em> memiliki keberadaan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">428 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : Dirawikan oleh <em>Rijâl Tsiqât Shahîh al-Isnâd</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">199 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : <em>Hasan al-Isnâd</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">613 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : <em>Dha’îfah al-Isnâd</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">099 <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts : <em>Wâhiyah al-Isnâd</em> (Munkarah atau Makdzûbah)<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sedangkan jumlah kitabnya adalah 32 kitâb, 500 bab<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a>. Dengan catatan pada beberapa bab sebagai berikut: 1.Mendahulukan Ash-Shiyâm daripada Az-Zakâh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>2.Meletakkan al-Hajj jauh daripada al-‘Ibâdât dengan<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span><span> </span>meletakannya setelah bab jihâd <a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dari beberapa hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keutamaan kitab ini dari yang lain adalah adalah baiknya pencocokan (dalam mencocokan <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dengan babnya) dan luasnya penggumpulan serta indahnya susunan. akan tetapi memang harus diketahui dan dijaga bahwa dalam kitab ini dimasukkan hadits as-Shahîh, adh-Dhaîf bahkan al-Munkar juga al-Maudhû’<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Mungkin akan timbul banyak pertanyaan dari permasalahan memasukkan <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts yang dhaîf bahkan munkar dan maudhû’, Seperti:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Apakah      mereka (pertanyaan untuk umum termasuk untuk sunan Ibnu Mâjah) tidak tahu      bahwa<span style="text-decoration:underline;"> h</span>adîts itu<span> </span>munkar atau      maudhû’?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kalau mereka      tahu kenapa mereka memasukkannya memasukkannya?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Kalau mereka      tahu kenapa mereka tidak membuang atau menghapuskannya dari kitab mereka?</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">dll.</span></li>
</ol>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pertanyaan seperti ini harus kita perhatikan dan harus dijawab dengan baik. Sebagai <em>thâlib al-‘Îlm</em>, harus dipelajari kalau kita belum mengetahuinya dan harus disampaikan kepada yang lain yang belum mengetahuinya agar tidak salah paham dalam memandang kitab-kitab hadits yang ada didalamnya hadits yang dhaif bahkan munkar juga maudhû’. Adapun jawabannya pernah dijelaskan oleh DR Muhammad Mushthafâ Muhammad Sâlim didalam sebuah kitabnya walaupun ini jawaban ini bukan khusus untuk Ibnu Mâjah saja. Adapun diantara jawabannya adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Permasalahan tahu atau tidak tahunya mereka (termasuk Ibnu Mâjah), jawabannya adalah mereka tahu. Hal ini karena keluasan ‘ilmu mereka dan pengetahuan mereka terhadap keadaan rawi-rawi dan lain.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a><span class="MsoFootnoteReference">6</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Permasalahan kalau mereka tahu kenapa mereka tetap memasukkan kedalam kitab mereka, maka jawabannya adalah karena berbagai sebab diantaranya salah satu dibawah ini:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Karena mereka menyusun kitab dan mengumpulkan bahan-bahannya. Selanjutnya ingin mengoreksikan dan membersihkannya dari hal-hal diatas (maudhû’ dll). Akan tetapi mereka meninggal sebelum hal itu terlaksana atau ada sebab lain seperti sakit yang sangat parah dll.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Karena mereka ingin memberi peringatan bahwa <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts itu adalah maudhû’ dan agar ummat berhati-hati terhadapnya serta tahdzir terhadap bahaya melaksanakannya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adakalanya mereka tidak ingin menjelaskan kedudukannya dikarenakan keadaan hal ini sudah diketahui oleh orang-orang dimasa mereka tanpa perlu penjelasan. Tentunya hal ini disebabkan oleh pada saat itu mereka adalah aset ‘ilmu-‘ilmu serta adanya tanâfus pada riwayah dan mujâlasah al-‘Ulamâ’</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Adakalanya mereka juga tidak menjelaskan adalah agar para murid-murid mencari sanad lain yang lebih kuat. Sehingga hadits yang lemah bisa menjadi lebih kuat atau terangkat derajatnya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Inilah diantara sebab kenapa mereka tetap memuat <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dhaîf termasuk munkar dan maudhû’ dalam kitab mereka<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Permasalahan kalau dia maudhû’ kenapa tidak dibuang atau dihapus dari kitab? Jawabannya adalah: agar hal ini senantiasa dikenal oleh ummah sampai hari kiamat dan menjadi peringatan serta perhatian dari ummah. Juga agar ‘ulama selalu tampil dalam meneliti kedudukan isnad pada suatu <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts. Juga sebab lain adalah karena adanya perselisihan ‘ulama pada <em>sifah al-Qabûl</em> dan hukum pada ar-Râwî. Seandainya ‘ulama mengizinkan untuk menghapus suatu <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts dengan seenaknya, maka akan menghapus setiap orang yang ingin menghapus dari suatu hadits karena beliau memandangannya hadits tersebut dhaîf atau munkar padahal tidak demikian kedudukannya menurut yang lain<a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference">28</span></a>. Allâhu A’lam </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kesimpulan Metodologi Ibnu Mâjah dalam Sunannya</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dari keterangan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa secara rinci metodologi Ibnu Mâjah pada sunannya adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ibnu Mâjah menyusun sunannya berdasarkan kitab dan bab. Dan pengaturannya dilaksanakan dengan sangat teliti, tersusun dan rapi serta universal. Sehingga sunan ini dikenal sebagai bentuk yang baik pada susunan karangan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Keistimewaan letak-letaknya. Karena beliau menyusun dengan teliti serta penuh dengan kehatian-hatian sehingga mudah dipahami oleh yang membaca.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ibnu Mâjah terkadang mengulang beberapa hadits pada bab yang sama dengan tujuan dan menjelaskan perbedaan dan mutasyâbih pada matan dan isnad</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dibanding kitab-kitab yang selainnya dari kitab yang enam, maka sunan beliau adalah yang paling banyak hadits dhaîfnya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ditemukan pada sunannya <em>al-fawâid al-Fiqhiyah</em></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>f.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Apabila seseorang memperhatikan dengan teliti sunan beliau maka akan terlihat bahwa beliau adalah seseorang yang menyusun dengan sebaik-baik susunan, teratur babnya dan sedikit <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîtsnya. Beliau meninggalkan menggulang <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts.<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kedudukan Sunan Ibnu Mâjah dalam kitab-kitab Hadits</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Memang banyak pendapat tentang kedudukan sunan Ibnu Mâjah ini dalam kitab-kitab <span style="text-decoration:underline;">h</span>adîts. Namun pendapat yang dipakai jumhur adalah bahwa kitab sunan Ibnu Mâjah ini pada urutan keenam setelah <em>kutub al-I’immah al-Khamsah </em>sebelumnya yaitu; al-Bukharî, Muslim, Abu dâwûd, at-Tirmidzi dan an-Nasâî.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Adapun yang pertama sekali menempatkan sunan Ibnu Mâjah ini pada urutan keenam dalam kitab-kitab hadits adalah al-Hâfizh Abu al-Fadhl Muhammad bin Thâhir al-Muqaddisî yang wafat pada tahun 507H. kemudian hal ini diikuti oleh al-Hâfizh ‘Abd al-Ghanî bin ‘Abd al-Wâhid al-Muqaddisî yang wafat tahun 600H.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference">30</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Adapun sebagaimana kita jelaskan diatas ada perbedaan pendapat ‘ulama pada mendudukan posisi Sunan Ibnu Mâjah ini pada susunan kutub as-Sunnah adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sunan Ibnu Mâjah ini adalah pada urutan keenam pada kutub as-Sunnah. Ini adalah pendapat terbanyak dari al-Muhadditsin.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah ini terletak setelah:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Al-Muwaththa’ atau </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sunan ad-Dârimî <a name="_ftnref34" href="#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dari semua keterangan ini kita dapat melihat bahwa sekalipun diperselisihan, pendapat yang terbanyak mengatakan bahwa Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah ini terletak pada urutan keenam dari kutub as-Sunnah. Maka akan kita temui isthilah-ishtilah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau dimuthlaqkan lafazh “as-Sunan” maka yang dimaksud adalah Sunan Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Ibnu Mâjah.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau dimuthlaqkan lafazh “ash-Shahah as-Sittah” maka yang dimaksud adalah ash-Shahîhain dan as-Sunan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau ada lafazh “ats-Tsalâtsah” atau “al-Arba’ah illâ ibn Mâjah” atau “</span></span><span style="font-size:12pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">3</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">” yang dimaksud adalah as-Sunan kecuali Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">kalau ada lafazh “al-Khamsah” maka yang dimaksud adalah ash-Shahîhain dan as-Sunan kecuali Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah<a name="_ftnref35" href="#_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Terakhir dan terpenting, kalau ada lafazh “al-Aimmah as-Sittah” maka yang dimaksud adalah:</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Ibnu Mâjah<a name="_ftnref36" href="#_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference">33</span></a>. atau</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Malik atau </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan ad-Dârimî.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Namun untuk tetap kita catat, yang asal dalam permasalah ini adalah al-Bukharî, Muslim,<span> </span>Abu Daud, at-Tirmidzî, an-Nasâî dan Ibnu Mâjah. Hal ini disampaikan agar kita dapat melihat secara rinci kedudukan Sunan<span> </span>Ibnu Mâjah ini dalam kutub as-Sunnah.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Wafatnya Ibnu Mâjah</span></em></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Setiap yang bernyawa pasti menemui kematian<a name="_ftnref37" href="#_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference">34</span></a>. Demikianlah hal juga dengan Ibnu Mâjah. Setelah beliau menjalani kehidupan dunia yang penuh cobaan ini, beliau menghadap <em>Rabb</em> beliau setelah berbuat yang terbaik untuk ummah. Imam besar ini wafat pada hari senin dan dikuburkan pada hari selasa. 22 Ramadhan 273H. Pengurusan penguburan beliau dipimpin oleh saudara beliau Abu ‘Abdullâh dan anak beliau ‘Abdullâh bin Muhammad bin Yazîd semoga Allah merahmati mereka semua.<a name="_ftnref38" href="#_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference">35</span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kenangan manis telah beliau tinggalkan. Memang manusia mati meninggalkan budi. Ini terus dicatat oleh kenyataan yang tidak akan dipungkiri kecuali oleh orang yang benci pada kebaikan itu sendiri. Sekarang tanyalah pada diri kita, kalau kita meninggal, apa yang telah kita persiapkan untuk besok<a name="_ftnref39" href="#_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference">36</span></a>dan apa yang telah kita perbuat untuk islam pada hari? <em>Allâhu A’lam bi Ash-Shawab. Taqabbal minâ ya Allah… Amîn</em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference">*</span></a> sebuah dirâsah untuk mengambil pelajaran dari sejarah<span> </span><em>as-Salaf ash-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> dalam acara Bidang Ta’lim pada tanggal 04 Shafar 1423H bertepatan dengan 17 April 2002M di Sekretariat Fospi Cairo</p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference">**</span></a>sifaqir pada ampunan Allah Swt yang sedang berusaha <em>Tafaqquh fi ad-Dîn</em> di al-Azhar Univ Fakultas Ushul ad-Dîn Jurusan al-Hadits Zaqaziq Egypt</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a>tadabburi firman Allah dalam surat al-hijir ayat 09 yangberbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> tadabburi firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 105 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 277</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf<span> </span>hal 255</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 61 Dar Ihyâu at-Turâts al-‘Arab</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 256 mengutip risâlah ad-Duktûrah Mahrûs Ridhwan</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 278 jilid 13</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 257</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference">9</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 279 jilid 13</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"></a></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 258</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 57 maktabah al-Îman<span> </span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a> siyar a’lâm an-Nubalâ’ hal 280 jilid 13</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 57 maktabah al-Îman<span> </span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 260</p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a> al-‘Îqad ats-tsamîn fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Mahmûd Hilâl Hilâl Muhammad as-Sîsî</p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 261</p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a> al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts wa al-Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>additsîn au ‘inayah al-Ummah al-Islamiyah bi as-Sunnah an-Nabawiyah<span> </span>Muhammad Muhammad Abu Zahw hal 418</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">21</span> al-‘Îqad ats-tsamîn fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Mahmûd Hilâl Hilâl Muhammad as-Sîsî</p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"></a></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a> lihat thuruq takhrîj hadîts Rasulullâh Saw DR Abu Muhammad Abdul Muhdî bin Abdul Qâdir bin Abdul Hâdî Penerbit Dar al-I’tishâm Cairo</p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a> dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf hal 257 dan lihat juga al-Hadîts wa al-Muhadditsîn au ‘inayah al-Ummah al-Islamiyah bi as-Sunnah an-Nabawiyah<span> </span>Muhammad Muhammad Abu Zahw hal 362</p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a> lihat thuruq takhrîj hadîts Rasulullâh Saw DR Abu Muhammad Abdul Muhdî bin Abdul Qâdir bin Abdul Hâdî Penerbit Dar al-I’tishâm Cairo</p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a> al-Khulasah fî ‘ilmi at-Takhrîj DR Muhammad Mushthafâ Muhammad Sâlim hal 10</p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference">26</span></a> ibid</p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"></a></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a> ibid hal 11</p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a> al-‘Îqad ats-tsamîn fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Mahmûd Hilâl Hilâl Muhammad as-Sîsî hal 164</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">30</span> ibid</p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"></a></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn34" href="#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a> lihat dirâsat fî Manâhij al-Muhadditsîn DR Isma’il Abdul Wahîd Makhlûf kesimpulan hal 270-271</p>
</div>
<div id="ftn35">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn35" href="#_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a> al-Khulasah fî ‘ilmi at-Takhrîj DR Muhammad Mushthafâ Muhammad Sâlim hal 16</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">33</span> ibid</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">34</span> tadabburi firman Allah dalam surat al-‘Ankabût ayat 57 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">35</span> al-Bidâyah wa an-Nihâyah Ibnu Katsîr hal 57 maktabah al-Îman<span> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference">36</span> tadabburi firman Allah dalam surat al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn36">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn36" href="#_ftnref36"></a></p>
</div>
<div id="ftn37">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn37" href="#_ftnref37"></a></p>
</div>
<div id="ftn38">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn38" href="#_ftnref38"></a></p>
</div>
<div id="ftn39">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn39" href="#_ftnref39"></a></p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/270/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/270/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=270&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/al-imam-ibnu-majah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malik Bin Anas</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[Photo]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/</guid>
		<description><![CDATA[ 
MÂLIK BIN ANAS
 
“Tidak tersisa lagi di muka bumi ini, yang lebih alim darimu terhadap As-Sunah masa lalu” (Baqiyyah).1
 
 
Mukadimah
Ketika aku berada di majlis Imam Malik, seekor Kalajengking menyengat kaki beliau sebanyak 16 sengatan. Aku melihat terjadi perubahan pada air mukanya, beliau tetap bertahan dan tidak memotong hadits Rasulullah SAW yang sedang beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=269&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoTitle" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoTitle"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="IN">MÂLIK BIN ANAS</span></p>
<p class="MsoTitle"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Tidak tersisa lagi di muka bumi ini, yang lebih alim darimu terhadap<span> </span>As-Sunah masa lalu” (Baqiyyah).<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></h1>
<h1 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mukadimah</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ketika aku berada di <em>majlis</em> Imam Malik, seekor Kalajengking menyengat kaki beliau sebanyak 16 sengatan. Aku melihat terjadi perubahan pada air mukanya, beliau tetap bertahan dan tidak memotong hadits Rasulullah SAW yang sedang beliau lontarkan dihadapan murid-muridnya Tatkala <em>majlis</em> bubar dan orang-orang telah pulang aku bertanya kepadanya : “Aku melihat suatu keajaiban darimu”, beliau menjawab : “Aku mampu bersabar dari sengatan itu karena penghormatanku terhadap hadits Rasulullah SAW”.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> (Ibnu Mubarak)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Benar kata Ulama-ulama kita terdahulu : “Ukuran keagungan seseorang dilihat dari antusiasnya terhadap As-Sunah dan semangatnya menjauhi bid’ah, kecintaannya<span> </span>terhadap Al-Qur`an dan As-Sunah menyatu dalam darah dan dagingnya dan dibuktikan dengan amal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Lalu siapakah manusia agung ini, yang sampai-sampai Rasulullah SAW memprediksikan : “Hampir-hampir manusia tidak mendapatkan orang yang lebih alim dari para <em>`alim</em><span> </span>Madinah”<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau tidak lain adalah Malik Bin Anas Imam <em>Dar ’l Hijrah</em>.</span></p>
<p><span id="more-269"></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Nasabnya </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau adalah <strong>Mâlik bin Anas bin Mâlik bin Abi Âmir bin Amru bin Al Harits bin <span style="text-transform:uppercase;">g</span>hailân bin Hasyat bin Amru bin Harits</strong><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a>. Kakek bapak beliau (Abi Amir) seperti yang disebutkan oleh Qôdi`iyâd adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang mengikuti seluruh peperangan dimasa Rasulullah SAW kecuali perang Badar<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a>. Sedang kakek beliau (Malik) adalah seorang pembesar dan ulama para Tabi’in yang meriwayatkan dari Umar, Utsman, Thalhah, Aisyah, Abu Hurairah, Hasan dan lain-lainnya <em>Radiallâhu `anhum,</em> dan beliau juga adalah salah seorang dari empat orang yang memikul jenazah Utsman dimalam hari menuju kuburnya, juga yang memandikannya<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau dilahirkan di<span> </span>Madinah tahun 93 H pada masa pemerintahan Al-Walîd Bin Abdul Muluk Al-Umawi semasa dengan Imam Al-Faqih Abu Hanifah, namun berbeda dengan Imam Hanifah, Imam Malik masih mendapatkan puncak kejayaan Daulah Abasiyah ketika itu<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="margin-top:0;"><span lang="IN">Kehidupannya</span></h1>
<h1 style="margin-top:0;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">“</span><em><span style="font-weight:normal;" lang="IN">Kemuliaan bertitik tolak dari hal-hal yang tidak disenangi, kebahagiaan tidak dapat diraih melainkan dengan meniti jembatan kesusahan, perjalanan sukses tak dapat ditempuh kecuali dengan perahu kesungguhan</span></em><span lang="IN">”(Shalahul Ummah)</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik tumbuh ditengah-tengah kegemerlapan ilmu pengetahuan, hidup dikeluarga yang mencintai ilmu, dikota ilmu <em>Dar`l Hijrah</em>, mata air As-Sunah dan kota rujukan para alim ulama. Di usia yang relatif sangat belia, beliau telah menghapal Al-Qur`an, menghapal As-Sunah Rasulullah, menghadiri <em>majlis</em> para ulama dan ber<em>mulazamah </em>kepada salah seorang ulama besar pada masanya (Abdurrahman Bin Hurmuz).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Setelah ia merampungkan pelajaran hadits, <em>asar</em> dan ilmu Fiqih, pada usia 17 tahun<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a> beliau membentuk sebuah<em> majlis ilm’</em> di mesjid Nabawi, untuk memberikan pelajaran dan fatwa<span class="MsoFootnoteReference">9</span> tentunya setelah mendapatkan 70 persetujuan Imam<span> </span>Madinah, bahwa beliau berhak dalam hal itu<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Majlis</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> ilmu beliau penuh dengan ketenangan dan jauh dari perkataan yang sia-sia. Al-Wâqidi menggambarkan <em>majlis</em> beliau : “<em>Majlis</em> beliau adalah <em>majlis</em> yang penuh dengan ilmu dan ketenangan, beliau adalah seorang yang arif dan berwibawa, tidak terdengar satupun debat kusir serta suara hiruk pikuk. Apabila beliau ditanya tentang sesuatu, maka beliau menjawab pertanyaan sang penanya tanpa bertanya : Dari mana datangnya perkataan itu ?. Dan orang-orang yang berziarah kemasjid<span> </span>Madinah berdesak-desakan dipintu mesjid untuk meminta fatwa dari beliau<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a>seperti berdesak-desaknya orang didepan pintu para raja” <a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau adalah Imam didalam Hadits dan Fiqih.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a> Abdurrahman Bin Mahdi berkata: “Sufyan dan Ats-Tsauri adalah imam didalam hadits tetapi keduanya bukan imam dalam As-Sunah, Auza`i adalah imam didalam As-Sunah tetapi bukan imam didalam hadits, sedang Malik adalah Imam kedua-duanya (Hadits dan As-Sunah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ibnu Shalah ditanya tentang makna dari perkataan Abdurrahman ini, beliau menjawab: “As-Sunnah disini adalah kebalikan dari bid`ah, sebab terkadang ada manusia yang mengenal hadits tetapi tidak mengenal As-Sunah.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Guru-gurunya </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Orang-orang bodoh menyangka bahwa kitab-kitab itu memberi petunjuk&#8230;. jika ilmu dipelajari tanpa seorang guru maka ia pasti tersesat dari jalan yang lurus.” </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Abu Hayan).<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Berbeda halnya dengan imam-imam yang lainnya, seperti Ahmad bin Hanbal yang harus bersusah payah menempuh perjalanan beribu-ribu mil jauhnya demi mendapatkan ilmu. Ke Maroko, Syam, Aljazair, Makkah,<span> </span>Madinah, Hijaz, Yaman, Iraq, Khurasan, Baghdad, dan negeri-negeri lainnya. Atau Yahya Al-Laitsi yang berasal dari Andulusia menuju<span> </span>Madinah dan Makkah dan kemudian kembali ke Andulusia ataukah Baqiyyu bin Mahlad yang berjalan kaki dari Spanyol ke Baghdad hanya untuk bertemu dengan Imam Ahmad.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a> Imam Malik menghabiskan seluruh masa pencarian ilmunya di<span> </span>Madinah, adalah hal yang wajar, karena dikota itulah Nabi SAW, sahabat-sahabatnya, dan <em>Tabi`in</em> meninggalkan <em>atsar</em> yang tak terbilang banyaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau mereguk ilmu sekaligus sumber penerimaan haditsnya dari 900 orang banyaknya<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a> diantaranya; Ibnu Syihab, Az-Zuhri, Abu AswadYatîm Al-Urwah, Ayyub As-Sakhtayani, Rabi`ah bin Abdurrahman (Rabi`ah Ar-Ra`yi), Yahya bin Sa`id Al-Anshari, Musa bin Uqbah, Hisyam bin Urwah, Nafi` Al-Qari, Muhammad bin `Ajlan, dan<span> </span>Abu An-Nadzr Salim (semuanya adalah Tabi`in)<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a><span class="MsoFootnoteReference"></span></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Murid-muridnya</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Diantara zakat ilmu adalah menyebarkannya&#8230; </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Bakr bin Abdullah Abu Zaid)<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Jika pada masa Dinasti Umayah, Imam Malik lebih banyak ”menanam” dengan mengasah kecerdasan otaknya, pemikiran dan pendapat-pendapatnya, maka pada masa dinasti Abbasiyah adalah masa-masa “penuaian” beliau. Pada masa inilah beliau banyak bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya serta menggembleng murid-muridnya.<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Diantara murid-muridnya yang terkenal; Imam Syafi`i, Abdurrahman bin Qasim, Abdullah bin Wahab bin<span> </span>Muslim, Asyhab bin Abdul Aziz Al-Qaisi, Abdullah bin Abdul Hakam, Asbah bin Al-farj, Muhammad bin Abdullah, Abdul Malik bin Abi Salamah Al-Majisun dll.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference">21</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Cobaan terhadap Imam Malik</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Cinta palsu banyak tersingkap dari cobaan, bersabar dari cobaan adalah bukti dari cinta yang hakiki” </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Shalâhu ‘l Ummah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Para sejarawan menyebutkan, bahwa pada tahun 146 H Imam Malik pernah mendapat hadiah cambukan serta siksaan hingga menyebabkan salah satu tangannya terlepas dari pundaknya.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a> Tetapi para sejarawan berbeda pendapat dalam sebab kejadian tersebut, namun pendapat yang terkuat bahwa kejadian itu disebabkan karena beliau meriwayatkan sebuah hadits <em>“Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa”</em>.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Manshur (Abu Ja`far Sulaiman) wali<span> </span>Madinah ketika itu, melarang Malik menceritakan hadits tersebut, tetapi beliau enggan. Kasus ini membuat orang-orang diluar ramai membicarakannya. Karena keengganan Malik, Ja`far bin Sulaiman memukulnya. Hal ini membuat ahli<span> </span>Madinah murka terhadap Bani Abbas dan pemerintahannya. Namun akhirnya Abu Ja`far Al-Mansur minta maaf kepada Malik atas kejadian tersebut, karena ia tidak memilik ilmu tentang itu.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Keberanian Malik dihadapan sang penguasa </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“seutama-utama jihad adalah kalimat hak dihadapan sultan yang zalim” (Hadits).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Suatu hari Imam Malik ditanya :<em>”Engkau telah masuk ke dalam penguasa, sedang mereka adalah orang yang zalim dan aniaya?” Beliau menjawab : “Semoga Allah merahmatimu, lalu dimanakah kebenaran itu diucapkan. </em>(Abu Muta`al bin shalih).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik berkata : <em>“Harun Ar-Rasyid (sang khalifah) pernah mengutus salah seorang utusannya kepadaku dan memintaku datang keistananya untuk membacakan hadits dihadapannya, lalu aku katakan padanya: “Wahai Amirul Mukminin ilmu itu didatangi tidak mendatangi”. Kemudian Harun mendatangi rumahku</em>.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Manhaj fil hadits</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik adalah imam dalam ilmu hadits begitu juga Imam dalam ilmu fiqh. Para ahli hadits mengakui hal itu, karena mereka melihat bahwa sanad-sanad yang terdapat disebagian hadits-haditsnya adalah sesahih-sahih sanad. Para <em>muhadits</em> menyebutnya dengan <strong><em>silsilah az-zahabiah</em></strong>.<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference">26</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Bukhari berkata : <em>“seshahih-shahih sanad adalah</em> Malik<em> dari Nafi` dari ibnu Umar”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sufyan bin Uyainah berkata : <em>“Tidak ada yang lebih keras kritikannya terhadap rijal-rijal hadits dari pada beliau.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Yahya in Ma`in berkata: <em>“semua yang diriwayatkan oleh</em> Malik<em> adalah tsiqah, kecuali Abu Umayah”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Berkata (bukan satu orang saja): “<em>Sahabat-sahabat</em> Malik<em> yang paling tepercaya adalah Nafi` dan Az-Zuhri”. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Syafi`i berkata: <em>“Apabila hadits datang maka</em> Malik<em> adalah bintang”</em>.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ahmad bin Hanbal lebih mendahulukan Malik ketimbang Auza`i, Ats-Tsauri, Al-Laitsi, Hamad dan Al-Hakam, dan berkata ia adalah imam hadits dan fiqh.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference">28</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dalam penerimaan hadits, beliau hanya menerima dari orang yang dipandang ahli hadits dan terpercaya (tsiqah), sedang dalam periwayatan hadits beliau hanya meriwayatkan hadits ma’ruf dan mensyaratkannya juga matan hadits tersebut sejalan dengan amalan ahli Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Namun bersamaan dengan kritisnya beliau dalam menerima riwayat, beliau juga menerima hadits-hadits<em> mursal</em>.<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a> diterima tidaknya hadits <em>mursal</em> dalam ber<em>hujah</em> menimbulkan perdebatan panjang.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference">30</span></a> namun dalam madzhab beliau dan madzhab Hanafi menerima hadits <em>mursal</em> sebagai <em>hujah</em> dengan dua alasan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pertama</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">, rawi-rawi yang <em>tsiqat</em> tidak akan mungkin meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw secara langsung jika ia tidak mendengar dari orang-orang yang tsiqat. Yang <em>zahir</em> dari keadaan para <em>tabi`in</em> itu, bahwa mereka mengambil hadits-hadits dari sahabat dan mereka adalah orang-orang yang adil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">, bahwa kurun ketika itu (<em>tabi`in</em>) kondisi umum mereka dalam keadaan jujur dan adil, karena persaksian nabi terhadap mereka. Dengan demikian hadits-hadits mereka diterima.<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dengan demikian hadits-hadits beliau didalam kitab Muwatta-nya terdapat banyak hadits <em>mursal</em>, bahkan tidak itu saja terdapat pula hadits yang munqathi` al-isnad<a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a> dan balaghât yaitu, beliau berkata : balaghani (telah sampai kepadaku) bahwa Rasulullah bersabda demikian. Ini menunjukan bahwa manhaj beliau dalam mengambil hadits tidak seluruhnya berada dalam sanad-sanad yang mutasil (bersambung) tetapi beliau cukup merasa tenang akan kesahihan hadits.<a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference">33</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Orang-orang berbeda pendapat, apakah beliau lebih mendahulukan <em>qiyas</em> daripada <em>Khabar ‘l Ahad</em> yang masyhur dari beliau, bahwa beliau lebih mendahulukan khabar ahda daripada <em>qiyas</em>.<a name="_ftnref33" href="#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference">34</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Karya beliau : AlMuwatha</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">` </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik meninggalkan kepada generasi-generasi setelahnya sebnuah pusaka yang ta ternilai harganya. Muwatta` karangan beliau yang merupakan permintaan abu ja`far al-manshur.<a name="_ftnref34" href="#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference">35</span></a> wali<span> </span>Madinah ketika itu telah memberikan sumbangsih yang teramat besar daidalam dunia islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau adalah yang pertama kali dikenal sebagai penulis buku dan pengarang di dala islam, karena kitabnya almuwatta adalah kitab yang pertama kali muncul dikala itu.<a name="_ftnref35" href="#_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference">36</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Banyak pujian yang dilontarkan pada kitab tersebut dan barangkali pujian yang paling masyhur di kalangan kita adalah pujian imam muhammad bin idris asy-syafi`i : “saya tidak mengetahui kitab ilmu yang lebih banyak benarnya dibanding kitab Imam Malik” atau perkataan beliau : “tidak ada lagi diatas bumi ini kitab setelah kitabullah yang lebih sahih dari kitab Imam Malik”.<a name="_ftnref36" href="#_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference">37</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pujian ini tidak berlebihan, karena pada wakt itu sudah banyak kitab-kitab sunan yang dikarang semisal sunan ibnu juraij, sunan ibnu ishaq, sunan abi qurrah musa bin tarik az-zabidi dan mushannaf abdur arzaq.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Namun yang perlu menjadi catatan bahwa apa yang disebutkan oleh imam syafi`i tersebut adalah sebelum munculnya shahih bukhari dan muslim. Adapun yang dikatakan oleh as-suyuti syarh almuwatta (hal <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> : “<em>yang benar, bahwa muwatta adalah sahih secara mutlk, tidak ada satupun yang dikecualikan</em>”. Perkataan ini tidak benar, yang benar bahwa didalam muwatta yang mausul lagi marfu`<a name="_ftnref37" href="#_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference">38</span></a> hingga ke Rasulullah saw, seluruhnya adalah sahih seperti hadits-hadits yang terdapat di dalam sahihain, dan juga didalamnya terdapat hais <em>mursal</em> dan balaghât. Kitab beliau tidak termasuk dalam barisan kitab-kitab sahih (seperti bukhari dan muslim) itutidak lain karena banyaknya hadits-hadits <em>mursal</em> dan balaghât didalamnya, dan juga banyaknya pendapat-pendapat fiqh Imam Malik.<a name="_ftnref38" href="#_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference">39</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adapun sebab kitab tersebut dinamakan al-muwatta beliau berkata : aku mengajukan kitabku ini kepada tujuh puluh fuqaha dari fuqaha<span> </span>Madinah, “semuanya <em>wattâni</em> (menyetujuiku) atas karyaku itu, maka aku menamakannya dengan Al-Muwatta (yang disepakati).<a name="_ftnref39" href="#_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference">40</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sekilas pokok-pokok dasar Imam Malik<a name="_ftnref40" href="#_ftn40"><span class="MsoFootnoteReference">41</span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17.85pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:17.85pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adapun dasar-dasar pokok mazhab Malik dalam mengistinbat hukum furu` sebagaiman yang terdapat dalam muwatta :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Qur`an Al-Karim</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik memandang bahwa Al-Qur`an mencakup seluruh aspek syari`at, dan ia adalah sandaran agama serta ayat-ayat <em>risalah</em>. Pola pikir beliau terhadap Al-Qur`an berbeda dengan pola pikir ahli <em>jidal</em> dan <em>mutakallimin</em>. Diriwayatkan darinya: <em>“Bahwa barang siapa yang mengatakan Al-Qur`an adalah makhluk maka dia adalah zindiq, wajib dibunuh”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">As-Sunah</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> (lihat penjelasannya pada <em>Manhaj Malik dalam as-As-Sunah</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Amalan Ahli<span> </span>Madinah</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dalam pandangan Imam Malik,<span> </span>Madinah adalah <em><span> </span>Dar ‘l Hijrah</em>, tempat turunnya Al-Qur`an, tempat tinggalnya Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dan ahli<span> </span>Madinah adalah masyarakat yang lebih mengetahui turunnya wahyu Al-Qur`an, yang mana keistimewaan-keistimewaan ini tidak dimliki oleh selain mereka. Dengan demikian amalan-amalan mereka adalah <em>hujah</em> dan lebih didahulukan ketimbang <em>qiyas</em> dan <em>Khabar ‘l Ahad</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Perkataan Sahabat</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Bagi Imam Malik jika tidak terdapat hadits sahih dalam sebuah permasalahan dari nabi saw maka perkataan sahabat selama tidak diketahui mukhalif maka menjadi hujah. Akan tetapi beliau lebih mendahulukan amalan ahli<span> </span>Madinah dibanding perkataan sahabat.<a name="_ftnref41" href="#_ftn41"><span class="MsoFootnoteReference">42</span></a> begitu juga apabila sahabat rsul berbeda dalam suatu permasalahan, amak beliau lebih memilih pendapat yang lebih sesuai dengan amalan ahli<span> </span>Madinah.<a name="_ftnref42" href="#_ftn42"><span class="MsoFootnoteReference">43</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Mâsalih ‘l-Mursalah</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beramal dengan <em>Mashâlih Mursalah</em> adalah asas dari asas-asas yang menjadi sandaran beliau dalam mazhabnya. Yaitu :mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, yang mana syari`at tidak merealisir kemaslahatan tersebut dan tidak juga membatalkannya. Karena pembebanan syarat itu semuanya kembali pada pemeliharaan<em> maqâsid-maqâsid</em> dalam penciptaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Qiyâs</span></strong></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Jika tidak terdapat <em>nash</em> dari Kitab, As-Sunah, perkataan sahabat, atau <em>ijma`</em> dari kalangan ahli<span> </span>Madinah, maka Imam Malik berijtihad, dan mempergunakan <em>qiyas</em> dalam ijtihadnya.<a name="_ftnref43" href="#_ftn43"><span class="MsoFootnoteReference">44</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sad ‘z Zara`i</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik paling sering mengamalkan <em>sad ‘z zara`i</em><a name="_ftnref44" href="#_ftn44"><span class="MsoFootnoteReference">45</span></a> sampai-sampai sebagian ulama ada yang mengatakan, bahwa mengamalkan <em>sad ‘z zara`i</em> adalah merupakan ciri khas dari mazhab Imam Malik<a name="_ftnref45" href="#_ftn45"><span class="MsoFootnoteReference">46</span></a></span></p>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mauqif-mauqif Imam Malik</span></h1>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Seorang datang kepada Imam Malik dan bertanya : <em>“Ya,      Abu Abdullah apa pendapatmu tentang orang yang berkata: “Bahwa Qur`an itu      adalah makhluk !” Beliau menjawab: zindiq, bunuh orang ini. Orang itu      berkata : “Ya Abu Abdullah aku hanya menceritakan perkataan dari apa yang      aku dengar”. Beliau berkata :”Tapi saya mendengarnya dari kamu, dan kamu      mengagungkan perkataan tersebut </em>(Yahya bin Khalaf At-Tarsusi)<a name="_ftnref46" href="#_ftn46"><span class="MsoFootnoteReference">47</span></a></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Seorang bertanya kepada beliau tentang firman Allah;      <em>Ar-Rahmân `ala arsy istawâ</em>,(Allah yang maha penyayang bersemayam      (istiwa’) diatas Arsy) bagaimanakah Allah ber<em>istiwa</em>? Imam Malik      terdiam, lalu berkata: “Istiwa adalah suatu yang maklum, bagaimana caranya      adalah hal yang tidak ma’qul (tidak dapat dicerna oleh akal) dan bertanya      hal itu adalah bid`ah sedang mengimaninya adalah wajib, dan aku kira kamu      ini adalah orang yang sesat, keluarkan orang ini. Lalu seseorang menyeru:      “Ya Abu Abdullah, demi tuhan aku pernah bertanya hal ini kepada ahli      Basrah, Kufah dan Iraq. Lalu aku tidak mendapatkan satupun sikap seperti      sikapmu terhadap orang tadi (Abu Thalib al-Maki).<a name="_ftnref47" href="#_ftn47"><span class="MsoFootnoteReference">48</span></a> </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau pernah ditanya 48 pertanyaan, 32 dari      pertanyaan tersebut beliau jawab; saya tidak tahu.<a name="_ftnref48" href="#_ftn48"><span class="MsoFootnoteReference">49</span></a> Imam Ahmad berkomentar :<em>”Sepatutnyalah      orang-orang alim mewarisi perkataan beliau : lâ adrî (saya tidak tahu)</em>.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Malik ditanya : <em>“Mengapa kamu tidak      mengambil hadits dari Amr bin Dinar? Beliau menjawab aku pernah      mendatanginya lalu aku mendapatkan orang-orang mengambil hadits darinya      dalam keadaan berdiri, hadits rasulullah saw bagiku terlalu agung jika aku      mengambilnya dalam keadaan berdiri.<a name="_ftnref49" href="#_ftn49"><span class="MsoFootnoteReference">50</span></a> dan beliau sama sekali tidak pernah membacakan sebuah hadits, kecuali      beliau dalam keadaan suci (Abu Mus`ab)</em><a name="_ftnref50" href="#_ftn50"><span class="MsoFootnoteReference">51</span></a></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adalah Malik jika didatangi oleh ahli <em>ahwa`</em> beliau berkata : <em>“Adapun aku berada dalam bayyinah agamaku, sedang anda      adalah orang yang berada dalam keraguan, pergilah kamu kepada oarang-orang      yang syak sepertimu lalulah berjidalah dengannya</em><a name="_ftnref51" href="#_ftn51"><span class="MsoFootnoteReference">52</span></a></span></li>
</ul>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mereka berbicar tentang Imam Malik</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 0.0001pt 35.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Malik adalah <em>alim</em> dari ahli Hijaz dan ia adalah <em>hujah</em> pada zamannya (Ibnu Uyainah)</span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Tidak ada seorangpun yang <em>alim</em> di<span> </span>Madinah setelah para <em>tabi`in</em> yang      menyerupai Malik dalam ilmu, fiqh, keagungan dan hafalan (Az-Zahabi).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Jika ulama disebutkan maka Malik adalah bintang      (Syafi`i)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Seandainya bukan Malik dan ibnu uyainah niscaya      hilanglah ilmu hijaz (Syafi`i).</span></li>
</ol>
<h1><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Wafat</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">“Setiap orang diambil dan ditinggalkan perkataanya kecuali pemilik kubur ini (maksudnya Nabi SAW)”</span></em><a name="_ftnref52" href="#_ftn52"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">53</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Demikianlah untaian kata yang pernah diucapkan oleh Imam Malik dikala hidupnya, sebuah peringatan yang teramat bernilai bagi mereka yang lebih cinta terhadap agama ini, bahwa <em>ta`asub</em> hanyalah kepada Rasulullah bukan terhadap kami, yang terkadang salah dan terkadang benar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau menghadap Allah SWT pada malam <strong>14 safar 179 H pada usia yang ke 85 tahun<a name="_ftnref53" href="#_ftn53"><span class="MsoFootnoteReference">54</span></a> dan dimakamkan di Baqî`<span> </span>Madinah.</strong><em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Wallahu `alam</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">*** Dipresentasikan pada acara kamisan FOSPI tanggal 7 Maret 2002 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>oleh Ibnu Ja’far </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">1</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Sholâhu ’l Ummah Fi U’luwwi’ l Himmah</em> 2/181 oleh Dr Sayyid Al `Iffâni </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">2</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Ibid,182</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">3</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban, Hakim dan Baihaqi. Semuanya bersumber dari hadits Ibnu Uyainah dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir, dan rijal-rijalnya adalah <em>Tsiqot</em> kecuali bahwa Ibnu Juraij dan Abu Jubair keduanya <em>Mudallis</em>.tetapi bersamaan dengan itu Tirmidzi menghasankannya,disahihkan oleh Hakim, disepakati oleh Az-Zahabi dan disahkan juga oleh Ibnu Hiban.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">4</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Bidâyah wan<span> </span>N ihâyah</em>, Ibnu Katsir 7/164 </span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">5 Lihat </span></a><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Târikh Tasyrî`</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Islamî</em> Manna ‘l Qattan 345.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">6</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em>, <em>syarh muwatta</em> Imam Malik oleh Muhammad Abdul Baqi Bin Yusuf Azzurqoni, Mukadimah Hal,5. </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">7</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Manâ ‘l Qattân</em>343 dan <em>Fiqh ‘l Islamî wa Adilatuhu</em> Hal 45</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">8</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Demikian yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah, namun syeikh <em>Manâ ‘l Qattân</em>menolak hal tersebut, beliau lebih cenderung berpendapat bahwa usia Malik ketika sudah berada dalam usia yang matang, lihat <em>Târikh Tasyri`</em> Manna ’l Qattan,Hal 346.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">10</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em>, Muqadimah 1/5.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">11</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Manna ’l Qattan, Hal 347.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">12</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarhu Az-Zurqani</em> 1/5</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">13</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid,</em> Hal 6</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">14</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> I<em>bid,</em> Hal 6</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">15</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Hilyatu Tâlib’ l Ilmi</em>. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, hal 24.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">16</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Rawai` wa Tarâif</em>, Ibrahim An-Ni`mah, hal. 77</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">17</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em> hal 5.</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">18</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em> hal 8</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">19</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Hilyatu Tâlib’ lIlmi</em> hal 51</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">20</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Târîkh Tasyri`</em>, Manna ’l Qattan, 343.</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">21</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> lihat lebih rinci <em>Fiqh ‘l Islâmî wa Adillatuh</em> 1/48.</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">22</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Semenjak kejadian tersebut beliau tidak sanggup meletakan tangan kanannya diatas tangan kirinya seperti yang terdapat dalam <em>Al-Intifa`</em> hal 44, Yang kemudian dijadikan hujjah oleh para pengikutnya”bahwa shalat tidak meletakkan tangan diatas dada setelah bertakbir” Namun hal ini terbantah, karena dua tahun setelah kejadian itu beliau mengarang <em>Al-Muwatta`</em> yang diantaranya berisi : “dan Ia (Rasulullah SAW) meletakan tangannya (tangan kanannya) diatas tangan yang lainnya (tangan kirinya) di dalam salat (hadiah <em>Sulthan Ila Muslim Bilad ’lYaban</em>) oleh Muhammad Sulthan Al-Ma`shumi hal, 57.</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">23</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Hadits ini tidak <em>marfu`</em> melainkan <em>mauquf</em> dari Ibnu Abas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushanaf , 5/48: <em>“Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa dan disiksa”.</em> Rijal-rijalnya adalah <em>tsiqat</em> dan di<em>ta`likan </em>oleh Bukhari 9/343. dan lafadznya: Ibnu Abas berkata : <em>“Talak orang yang mabuk dan dipaksa tidak boleh”</em>. Al-Hafidz berkata hadits ini telah disambungkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Sa`id bin Manshur.</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">24</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Shalâh ’l Ummah,</em> 3/34.</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">25</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>, 3/34.</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">26</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Târikh Tasyri`</em>`, Mana `l Qattan 352.</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">27</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Bidâyah wa nihâyah</em>, 7/164.</span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">28</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Siyar `Alamin Nubâla</em> ditukil dalam <em>Salah ’l ummah fi uluw ‘l himmah</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">29</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Arti hadits <em>mursal</em> yang masyhur : hadits yang di<em>rafa`</em> oleh <em>tabi`in</em>, seperti <em>tabi`in</em> berkata “Rasulullah saw bersabda “ (tanpa menyebut nama sahabat). Hukum hadits <em>mursal</em> menurut <em>jumhur muhaddis</em> dan <em>fuqaha</em> dan <em>ushuliyun</em> bahwa hadits <em>mursal</em> adalah <em>dha`if</em> tidak boleh ber<em>hujah</em> dengannya (lihat <em>manhaj an-naqd fi ulum ‘l hadits</em>) oleh DR. Nuruddin Attar. Hal 370, Dar el Fikr.</span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">30</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> silahkan membaca kitab Al-Hafidz ’l-Alaih, <em>jami` ‘t- tahsil</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">31</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Nurudin Attar, 372.</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">32</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>, orang yang pertama mendefinisikan <em>Munqathi`</em> adalah Al-Hafiz Ibnu Abdul Birr yaitu : <em>munqati`</em> adalah segala sesuatu yang tidak bersambung baik dinisbatkan langsung atau lainnya </span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">33</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Manâ ‘l Qattân, 353.</span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn33" href="#_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">34</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em></span></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn34" href="#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">35</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Sebelum pembukuan Al-Muwatta` rampung Abu Ja`far Al-Manshur keburu meninggal dunia lihat Manâ ‘l Qattân,<span> </span>350.</span></p>
</div>
<div id="ftn35">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn35" href="#_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">36</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em></span></p>
</div>
<div id="ftn36">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn36" href="#_ftnref36"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">37</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Lihat <em>Al-Bâ`is Al-Hasîs</em>, oleh Ibnu Katsir, hal 24.</span></p>
</div>
<div id="ftn37">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn37" href="#_ftnref37"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">38</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Hadits <em>Marfu`</em> yang disandarkan kepada Rasulullah saw baik berupa perkataan, perbuatan, <em>takrir</em>, atau sifat, lihat M<em>anhaj an-Naqd </em>Nurudin Attar.</span></p>
</div>
<div id="ftn38">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn38" href="#_ftnref38"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">39</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Llihat secara rinci <em>Al-Bâ`is Al-Hasîs</em>, oleh Ibnu Katsir, hal 24.</span></p>
</div>
<div id="ftn39">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn39" href="#_ftnref39"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">40</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em> hal 12.</span></p>
</div>
<div id="ftn40">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn40" href="#_ftnref40"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">41</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Manâ ‘l Qattân, 352</span></p>
</div>
<div id="ftn41">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn41" href="#_ftnref41"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">42</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> diriwayatkan didalam muwatta bahwa umar bin khatab pernah membaca aya sajdah sedang beliau ketika itu berada diats mimbar pada hari jum`at, lalu beliau turun dan sujud, lalu oran-orangpun sujud bersamanya. Kemudian pada hari jum`at berikutnya beliau membacanya lagi, lalu ia melarang orang-orang bersujud dan berkata : tetaplah kalian pada posisi kalian, sesungguhnya Allah swt tidak mewajibkan kepda kita bersujud kecuali jika kita mau, maka beliau tidak bersujud dan melarangmereka bersujud. Dalam asar tersebut umar membolehkan imam turun dari mimbar untuk bersujud jika mau apabila membaca ayt sajdah. Lalu imam Malik mengomentari : bukanlah amalan (ahli<span> </span>Madinah) bah imam boleh turun dari mimbar untuk bersujud apabila ia membaca ayat-ayat sajdah.</span></p>
</div>
<div id="ftn42">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn42" href="#_ftnref42"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">43</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> diriwayatkan oleh zaid bn tsabit, salat wusta adalah salat zuhur, sedang Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abas berpendapat shalat wustha adalah slat subuh. Kemuadian imam Malik berkata : perkataan Ali dan Ibnu Abas yang aku lebih senang mendengarnya…. Sebagimana juga dalam riwayat-riwayat lain bahwa alat wustha adalah salat ashar.</span></p>
</div>
<div id="ftn43">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn43" href="#_ftnref43"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">44</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> di dalam muwatta disebutkan bahwa imam malim ditanya tentang wanita haid yang suci dan tidak mendapatkan air, apakah ia boleh bertayamam beliau menjawab: ya, hendaknya ia bertayamum, karena keadaannya seperti orang junub yang tidak mendapatkan air.</span></p>
</div>
<div id="ftn44">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn44" href="#_ftnref44"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">45</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> zari`ah artinya wasilah atau jalan yang menyampaikan pada tujuan, yang dimaksud dengan zari`ah disini ialah jalan untuk sampai kepada yang haram atau lepada yang halal. Wasilah yang menyampaikan kepada yang haram maka hukumnya haram dan wasilah yang menyampaikan kepada yng halal maka halal pula hukumnya. </span></p>
</div>
<div id="ftn45">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn45" href="#_ftnref45"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">46</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> dalam sahih muslim disebutkan: “barang siapa yang berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari dari syawal maka puasanya seperti setahun”. Akan tetapi imam Malik membenci puasa yang</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"> bersambung dengan ramdhan yang berturut-turut karena taut diyakin oleh orang-orang sebagai suatu kewajiban.</span></p>
</div>
<div id="ftn46">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn46" href="#_ftnref46"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">47</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Al-Hilyah</em>, 6/324, <em>Siyar `alâmin Nubala</em>, 8/99 dinukil kembali dalam <em>`Uluw ’l Himmah</em> 2/182.</span></p>
</div>
<div id="ftn47">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn47" href="#_ftnref47"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">48</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>. dinukil dari <em>Siyar</em> 8/106-107, <em>tartîb<span> </span>’l madârik</em> 1/170-176.</span></p>
</div>
<div id="ftn48">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn48" href="#_ftnref48"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">49</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Syarh Az-Zurqani</em> hal 1/5.</span></p>
</div>
<div id="ftn49">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn49" href="#_ftnref49"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">50</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>`Uluw<span> </span>‘l Himmah</em> 5/661.</span></p>
</div>
<div id="ftn50">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn50" href="#_ftnref50"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">51</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn51">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn51" href="#_ftnref51"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">52</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> <em>Ibid</em>. hal 2/183.</span></p>
</div>
<div id="ftn52">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn52" href="#_ftnref52"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">53</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Kalimat ini pernah diucapkan oleh sang penterjemah Al-Qur`an Abdullah bin Abas, sebagimana yang dipaparkan oleh Taqiyuddin As-Subki didalam Al-Fatawa (1/148) dan beliau mengagumi keelokan dan keindahan perkataan tersebut. Kemudian mujahid mengambil perkataan tersebut dari Abdullah bin Abas, seperti yang terdapat dalam J<em>ami` Bayan ’l-ilmi wafadlihi</em> 1/91 dan <em>Al-Ihkam fi Ushûl<span> </span>‘l ahkâm </em>1/145. kemudian Imam Malik mengambilnya dari mujahid yang akhirnya perkataan ini disandarkan kepada imam Malik serta tersebar luas bahwa perkataan tersebut adalah perkataan Imam Malik (lihat <em>hal muslim mulzamu bittiba` mazhab muayyan min ‘l mazahib al-`arb`ah</em> hal.59</span></p>
</div>
<div id="ftn53">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn53" href="#_ftnref53"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">54</span></span></a><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> Ibnu Waqidi menyebutkan bahwa usia beliau mencapai 90 tahun (lihat <em>Bidâyah wanihâyah</em>) Ibnu Katsir.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/269/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/269/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/269/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=269&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/malik-bin-anas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Nasa&#8217;i; Figur Muhaddits Sejati</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/imam-nasai-figur-muhaddits-sejati/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/imam-nasai-figur-muhaddits-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Imam Nasa’I : Figur Muhaddits Sejati
Oleh : Agus Setiawan, Lc*
 
“Teladanilah para tokoh, walaupun engkau sulit untuk menjadi seperti mereka, karena meneladani orang yang mulia adalah sebuah kemenangan”.
 
Dari kata mutiara di atas, terpatri dalam diri insan muslim dan kaum akademis, bahwa warisan sejarah adalah barang yang mahal. Mengambil hikmah keteladanan mereka sebuah keniscayaan. 
Tokoh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=268&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoTitle"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam Nasa’I : Figur Muhaddits Sejati</span></p>
<p class="MsoTitle"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Oleh : Agus Setiawan, Lc*</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">“Teladanilah para tokoh, walaupun engkau sulit untuk menjadi seperti mereka, karena meneladani orang yang mulia adalah sebuah kemenangan”.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dari kata mutiara di atas, terpatri dalam diri insan muslim dan kaum akademis, bahwa warisan sejarah adalah barang yang mahal. Mengambil hikmah keteladanan mereka sebuah keniscayaan. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Tokoh kali ini, sangat sarat dengan nilai kesungguhan, perjuangan demi sebuah idealisme dakwah. Memelihara “warisan” nabi Saw, menuangkannya dalam karya abadi dengan tinta emas, demi generasi mendatang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Para ulama sejawatnya menyanjung beliau, “Imam Nasa’i adalah figur muhaddits yang tangguh, kuat, kaya hafalanya, rujukan para ulama dalam ilmu jarh wa ta’dil, memilki karya-karya monumental”.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Namun disini pembahas mohon maaf karena tulisan ini terlalu singkat untuk tokoh sekaliber beliau. Semoga tulisan ini menjadi tangga pertama bagi rekan-rekan untuk meniti, mendalami dan menyelami ketokohan beliau, imam Nasa’i.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p><span id="more-268"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Nasab Sang Jenius</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Ia adalah Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib al Khurasani, seorang yang bergelar al hafidz. Imam besar pada masanya dan rujukan dalam ilmu jarh (kritik) dan ta’dil (legitimasi) para periwayat hadits. Beliau dilahirkan pada tahun 215 hijriyah di daerah Nasa’. Bukan dari kata nisa’a yang berarti perempuan, sebagaimana yang diangkat oleh kaum feminis. Nasa’ sendiri adalah sebuah kota yang cukup terkenal di Khurasan, Persia dan Sarkhas (Iran sekarang-red).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Tapak Tilas Keilmuan</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau mendengar hadits dari para ulama hadits di Khurasan (Iran), Hijaz (Saudi), Irak, Mesir, Syam (Syiria) dan Jazirah (Saudi Arabia).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau orang terkenal sangat alim dan wara’. Piawai dalam ilmu hadits. Kuat kaya akan hafalan. Sehingga imam Adz Dzahabi memuji beliau dengan sanjungan bahwa beliau lebih kuat dan banyak hafalannya dari imam Muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau wafat di Ramullah (Palestina) tahun 303H.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Histori Kitab Sunan</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau<span> </span>menyusun kitab Sunan Kubra. Pada awalnya kitab ini berisikan hadits shahih dan juga dhaif. Kemudian beliau meringkas menjadi Sunan Shughra diberi nama “Al Mujtaba”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kisah peringasan sunan kubro sebagai berikut; Ibnul Atsir menceritakan bahwa ketika imam Nasa’i merampungkan penulisan sunan kubro. Beberapa pangeran menanyakan isi kitab tersebut : “Apakah isinya hadits shahih semuanya?” Ia menjawab, “Tidak”. “Kalau demikian, ringkaslah kitab tersebut dengan menyebutkan hadits-hadits yang shahih saja!”. Lalu imam Nasa’i pun meringkasnya. Dan dinamai dengan “Al mujtaba”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Karena itu para ulama menegaskan tidak boleh sembarang mengamalkan hadits-hadits yang ada di kitab sunan kubro, tanpa diteliti terlebih dahulu keotentikannya. Adapun kitab “Al mujtaba” atau sunan shugra, boleh mengamalkan hadits-hadits yang ada tanpa perlu diteliti lebih lanjut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kitab berada di bawah kitab shahih Buhari dan Muslim. Hal ini disebabkan, kitab ini merupakan kitab hadits dalam gaya penulisan sunan yang paling sedikit riwayat lemahnya. Imam Jalaludin Suyuti telah men<em>syarah</em>, memperkaya penjelasan dalam kitab ringkas yang beliau beri nama “Zahru Raba ‘Ala Mujtaba”. Demikian pula Abul Hasan Muhammad bin Abdul Hadi As Sindi Al Hanafi (wafat 1138H). Beliau mencukupkan hal-hal yang diperlukan pembaca umum dan pengajar dengan memberi kejelasan makna dan ketepatan kata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Selisih Pendapat</span></h1>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam Adz Dzahabi ketika menulis biografi imam Nasa’i dam kitab monumentalnya “Siar A’laamin Nubalaa” menegaskan; apa yang disebutkan oleh Ibnul Atsir, bahwa kitab al mujtaba adalah karya dan ringkasan imam Nasa’i adalah tidak tepat. Yang sebenarnya adalah imam Ibnu Sunni, murid imam Nasa’i.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Hal ini ditegaskan kembali oleh imam Dzahabi dalam kitabnya “Tadzkiro Huffadz” ketika menjelaskan Ibnu Sunni; “Ia adalah pengarang kitab “amal yaumi wa lailah”, yang meriwayatkan hadits-hadits imam Nasa’i, komit terhadap agama, baik, terpercaya, sampai Dzahabi mengatakan, ia meringkas sunan dan diberi judul al mujtaba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Lebih “Kuat” dari Abu Daud</span></h1>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sebagian ulama ada yang condong, dan berpendapat bahwa kitab imam Nasai lebih “kuat” dan shahih ketimbang kitab Abu Daud. Diantaranya adalah imam Abu Ali Naisuburi, Abu Ahmad bin ‘Adi, Daruqthni, Ibnu Mandih, Abdul Ghani bin Said. Kesemuanya men-generalisasi bahwa kitab Nasai lebih shahih. Tanpa merinci apakah benar keseluruhan isi –hadits- lebih kuat para perawinya ketimbang sunan Abu Daud?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Karena itu sebagian ulama ada yang mengkategorikan kitab imam Nasa’i sebagai kitab shahih. Artinya keseluruhan hadits yang terkandung di dalamnya adalah hadits shahih. Diantara para ulama tersebut adalah : Al Khatib As Silafi, imam Hakim (sebagaimana yang disinyalir oleh Ibnu Hajar). Bahkan Ibnu Mandih mengatakan : “Yang memuat hadits-hadits shahih dalam kitabnya ada empat; Imam Bukhari, imam Muslim, imam Abu Daud dan imam nasa’i”. Termasuk yang berpendapat ini adalah Abu Ali bin Sakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h1 style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Memperselisihkan Kriteria Perawi</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al Hafidz Dzahabi mencatat dalam kitab karyanya “At Tabshirah”; Ibnu Thahir bercerita : “ Pernah kutanyakan kepada Sa’ad bin Ali Az Zinjani tentang seseorang yang diterima oleh Sa’ad periwayatan haditsnya. Mengapa engkau menyetujuinya padahal imam Nasa’i menganggapnya lemah? Ia menjawab : “Wahai anakku ketahuilah bahwa imam Nasai’ memiliki kriteria rawi yang lebih ketat ketimbang imam Bukhari dan Muslim”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Akan tetapi pendapat tersebut tidak tepat. Karena imam Ibnu Salah dalam kitab ulumul haditsnya tidak pernah menyebutkan hal itu. Demikian pula imam Zainudin al Iraqi sama sekali tidak pernah menyebutkan dalam kitab “At Tabshirah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Bahkan dinukil dari imam Zainudin Iraqi dalam kitab At Tadzkiroh dari Ibnu Mandih, bahwa kriteria rawi menurut imam Nasai adalah “Selama ulama belum sepakat untuk menolaknya, maka riwayat orang tersebut dapat diterima”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dalam kata pengantar ringkasan kitab Sunan, imam Abu Daud menuliskan, “&#8230;&#8230;&#8230;.Imam Nasa’i berkomentar; Seorang rawi tidak akan ditinggalkan riwayatnya (tidak diambil) kecuali seluruh ulama sepakat untuk mendhaifkannya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ibnu Hajar menambahi, bahwa dari ungkapan imam Nasa’i jelas kalau kriteria beliau terhadap perawi seolah-olah demikian “luas” cakupannya. Padahal tidak demikian. Betapa banyak perawi yang dikutip haditsnya oleh imam Abu Daud dan Tirmidzi namun tidak dicantumkan hadits-hadits mereka dalam kitab sunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Daftar Isi Kitab Sunan Nasa’i</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Cetakan Mustafa al Halabi 1964 M/1383H)<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ath thaharah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al miyah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al haidh</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al ghuslu wa tayammum</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ash shalat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al mawaqiit</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al adzan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al masajid</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al qiblah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al imamah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>11.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Iftitah shalat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>12.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">At tatbiiq</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>13.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">As sahwu</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>14.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al jumu’at</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>15.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Taqsir shalat fi safar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>16.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al kusuf</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>17.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al istisqa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>18.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Shalat khauf</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>19.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Shalat al ‘idain</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>20.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Qiyam lail wa tathawwu’ nahar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>21.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al janaiz</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>22.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ash shiyam</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>23.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Az zakat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>24.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Manasik haji</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>25.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al jihad</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>26.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">An nikah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>27.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ath thalaq</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>28.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al khail</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>29.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al ahbas</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>30.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al washaya</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>31.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">An nihl</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>32.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al hibah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>33.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ar ruqba</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>34.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al ‘umri</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>35.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al aimaan wan nudzur wal muzara’ah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>36.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">‘Isyratun nisa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>37.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Tahrim dam</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>38.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Qasm fai</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>39.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al bai’at</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>40.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al aqiqah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>41.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al far’u wal ‘atirah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>42.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ash shaid wadz dzabaih</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>43.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adh dhahaya</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>44.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al buyu’</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>45.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al qosamah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>46.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Qot’u sariq</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>47.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al iman wa syara’ihu</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>48.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Az zinah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>49.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Aadab qodha</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>50.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al isti’adzah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>51.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al asyribah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Bagi yang mencermati kitab sunan Nasa’i akan mendapatkan bahwa beliau mengumpulkan dalam kitabnya ini hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum. Karenanya kitab sunan tidak mencantumkan hadits-hadits yang berkaitan dengan tafsir, akhbar (berita sebelum nubuwwah), manaqib (derajat para sahabat), maupun mawa’idz (wejangan-wejangan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Rahasianya adalah karena beliau memilih hadits-hadits tadi terkhusus masalah hukum. Yaitu dari kitabnya “As Sunan Kubro”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kalau kita ingin mengklasifikasikan isi kitab tersebut adalah sebagaimana berikut ini :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dari kitab pertama sampai kitab ke dua puluh satu adalah tentang thaharah dan shalat. Namun beliau lebih memperbanyak masalah shalat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau mengedepankan kitab shaum dari kitab zakat.</span></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau memberi jarak antara pembahasan “pembagian rampasan perang” dengan “jihad”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau juga memisahkan antara pembahasan al khail dengan jihad.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam nasai membuat kitab khusus tentang wakaf (ahbas), juga kitab wasiat dengan tersendiri, pula kitab an nihl (pemberian untuk anak), kitab hibah, tanpa ada kitab faraidh (pembagian waris).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau memisah antar kitab asyribah dengan kitabshaid<span> </span>dan dzabaih. Juga beliau memisahkan kitab-kitab tadi dengan kitab dhahaya</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Beliau mengakhirkan kitab iman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kitab iman dengan kitab isti’adzah sajalah yang tidak membahas tentang hukum. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Wallahu A’lam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">*Tulisan ini dipresentasikan dalam kajian “Para Tokoh Muhaddits”. Yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Persatuan Islam (FOSPI) Kairo, tanggal 17 April 2002.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/268/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/268/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=268&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/imam-nasai-figur-muhaddits-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Muslim An-Naisaburi</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/imam-muslim-an-naisaburi-2/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/imam-muslim-an-naisaburi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 12:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[IMAM MUSLIM AN-NAISABURI
 
 
MUQADDIMAH
 الحمد لله فأشهد أن لا إله إلا الله و أ شهد أن محمدا عبده و رسوله. و بعد :
فقال الله تعا لى : و أ نزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم و لعلهم يتفكرون ( النحل : 44)
Para ulama menafsirkan adz-dzikra disini dengan al-Hadits. Dengan demikian kedudukan hadis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=267&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;">IMAM MUSLIM AN-NAISABURI</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">MUQADDIMAH</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;" lang="AR-SA"><span> </span>الحمد لله فأشهد أن لا إله إلا الله و أ شهد أن محمدا عبده و رسوله. و بعد :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;" lang="AR-SA">فقال الله تعا لى : و أ نزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم و لعلهم يتفكرون ( النحل : 44)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Para ulama menafsirkan <em>adz-dzikra</em> disini dengan <em>al-Hadits.</em> Dengan demikian kedudukan hadis di dalam agama Islam menempati kedudukan kedua setelah al-Qur’an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Rasulullah saw. Ketika menyampaikan wahyu – al-Qur’an – yang ia terima kepada para sahabatnya beliau memerintahkan kepada mereka untuk menjaganya baik dengan hafalan ataupun dengan tulisan bagi yang bisa baca tulis. Adapun al-Hadits tidak demikian adanya. Beliau melarang para sahabat untuk menulis hadits yang mereka dengar, sebagaimana hadis Abi Sa’id al-Khudri<span> </span>di <em>Shahih Muslim</em> :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;" lang="AR-SA">لا تكتبوا عنى و من كتب عنى غير القر أن فليمحه و حدث عنى و لا حرج &#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Para ulama menerangkan bahwasanya pelarangan ini disebabkan kekhawatiran beliau atas tercampurnya tulisan al-Qur’an yang mereka tulis dengan hadits, karena mereka menulis dalam lembaran yang sama. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">خرج علينا رسو ل الله عليه و سلم و نحن نكتبو الأحاديث , فقال : ما هذ ا الذى تكتبون ؟ قلنا : أحاديث سمعناها منك. قال : أ كتابا غير كتاب الله تريدون ؟ ما أضل المم من قبلكم إلا ما اكتتبوا من الكتاب مع كتاب الله &#8230;<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" dir="ltr"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwasanya larangan beliau tidak mutlak terhadap semua sahabat, ada sebagian sahabat yang dibolehkan untuk menulis hadits, seperti Abdullah ibn Amr ibn al-‘Ash, sebagaimana hadits Abi Hurairah :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">ما من أصحاب النبى صلى الله عليه و سلم أحد أكثر حديثا عنه منى إلا ما كان من عبدالله بن عمرو بن العاص, فإنه كان يكتب و لا أ كتب </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" dir="ltr" lang="AR-SA"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">…</span></p>
<p><span id="more-267"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Zaman terus berlalu, Islam semakin menyebar dan bangsa Arab sudah banyak berbaur dengan bangsa asing yang tak lepas dari adanya perkawinan di antara mereka, kemudian tumbuh generasi baru yang kekuatan mereka dalam menghafal tidak sebagus bangsa Arab dulu.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:&quot;">Kemudian banyak tersebarnya hadis-hadis palsu di masyarakat, maka Umar ibn Abdul Aziz pada tahun 101 H., memerintahkan Abu Bakar Muhammad ibn Hazm –seorang faqih di zaman tabi’in yang diangkat oleh Umar menjadi gubernur di Madinah al-Munawwarah- untuk membukukan hadits.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Perintah khalifah Umar ibn Abdul Aziz ini disiarkan ke semua wilayah negara Islam. Adapun ulama yang pertama menyelesaikan pembukuan hadis ini adalah Ibn Syihab az-Zuhri. Akan tetapi pembukuan yang dilakukan oleh Imam az-Zuhri tidak seperti pembukuan yang kita lihat pada <em>Shahih Bukhari</em> atau<em> Shahih Muslim.</em> Akan tetapi metode yang ia pakai adalah : mengumpulkan hadits-hadits yang sama yang semakna dalam satu judul yang juga bersamaan dengan hadis-hadis tersebut ada perkataan para sahabat dan fatwa para tabi’in.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Kemudian setelah generasi az-Zuhri berlalu, datanglah generasi baru generasi tabi’u at-Tabi’in, mereka antara lain : Ibn Juraij di Mekkah, Imam Sa’id ibn Abi Arubah dan Imam malik ibn Anas di Madinah, Hammad ibn Salamah di Basrah, Sufyan ats-Tsauri di Kufah, al-Auza’I di Syam, Husyaim ibn Wasith, Ibn al-Mubarak di Khurasan, Ma’mar ibn Rasyid di Yaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Metode penulisan mereka sam seperti az-Zuhri : masih menyatukan al-Hadits dengan perkataan sahabat dan fatwa tabi’in. Pada abad ke-3 H., setelah berlalunya zaman tabi’u at-Tabi’in, bermunculanlah para ulama yang membukukan hadits dengan cara <em>al-Masanid,</em> </span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;">dan memisahkan perkataan sahabat<span> </span>juga fatwa tabi’in dari hadits Rasulullah yang mereka kumpulkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para imam Muhadditsin pada masa itu antara lain : Abu Dawud ath-Thayalisi, Asad ibn Musa al-Umawi, Masdad al-Basri, Ishaq ibn Rahawaih, Ahmad ibn Hambal asy-Syaibani, Abu al-Abbas al-Asnawi, …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Sistem penulisan dengan metode <em>al-Masanid,</em> tampak ada beberapa kesulitan dan kekurangan, antara lain : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:69.75pt;text-align:justify;text-indent:-42.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Dalam mencari hadist-hadits yang bersangkjutan dengan hukum tertentu sangat sulit karena …</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:69.75pt;text-align:justify;text-indent:-42.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Mereka masih mencampurkan hadis-hadits shahih dengan dha’if .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Dikarenakan demikian adanya, maka para muhaddits lain membuat manhaj lain yang lebiuh sempurna dan mudah, lagi bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Di antara para muhadditsin tersebut adalah : Imam Bukhari dan Imam Muslim. <a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">“Al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, dan tetapi perbuatan hamba makhluk, dan menanya untuk menguji bidh’ah”. Sebagian orang menangkap bahwa beliau mengata-kan lafazh al-Qur’an makhluk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sejarah Ringkas Tentang Biografi Imam Muslim :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:&quot;">Nama beliau Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim ibn Ward ibn Qusyaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Beliau lahir di kampung Naisabur, di kota Khurasan pada tahun 204 H.</span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;"> bertepatan pada tahun meninggalnya Imam asy-Syafi’i. Yang disayangkan, tidak ada kisah yang menceritakan masa kecilnya atau keluarganya. Imam Muslim juga saudagar yang kaya raya, kekayaan harta dan tanahnya banyak, dan beliau sangat terkenal dermawan di kalangan masyarakat Naisabur.</span><span dir="rtl"> <a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span><span style="font-family:&quot;"> Rihlah ilmiahnya dalam menuntut ilmu hadits beliau menimba ilmu hadits ketika berumur 18 tahun dari Yahya ibn Yahya at-Tamimi. Pada tahun 220 H. beliau pergi menunaikan ibadah haji, walaupun ketika itu beliau masih sangat muda, dan selama di Mekkah beliau menuntut ilmu hadits dari seorang ahli Mekkah yang bernama al-Qa’nabi &#8211; guru besar Imam Muslim -. Dalam perjalanan pulang beliau melewati Kufah, selama di Kufah beliau memanfaatkan untuk mengambil hadits dari Ahmad ibn Yunus juga para muhaddtsin setempat, kemudian beliau melanjutkan perjalanan pulangnya. Sepulang-nya dari ibadah haji dan beberapa tahun kemudian, beliau baru memulai rihlah ilmiahnya, ketika itu beliau belum sampai 30 tahun dari umurnya, rihlah ilmiah beliau antara lain ke Iraq, Hijaz, dan Mesir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Guru-guru beliau : guru-guru beliau yang ada pada <em>Shahih Muslim</em> berjumlah 220 orang, dan banyak lagi guru beliau yang tidak termaktub di <em>Shahih-</em>nya, seperti Ali ibn al-Ja’d, Ali ibn al-Madani, Muhammad ibn Yahya az-Zuhli dan Imam Muslim banyak meriwayatkan hadis Ali ibn al-Ja’d.</span><span dir="rtl"> <a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:&quot;">Kekeratan beliau dengan Imam Bukhari : Ketika Imam Bukhari mampir<span> </span>dan menetap di Naisabur (250 H),</span><span dir="rtl"> <a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span><span style="font-family:&quot;"> maka bergurulah Muslim kepada beliau dengan suruhan dari Muhammad ibn Yahya tanpa meninggalkan majlis gurunya yang bernama Muhammad ibn Yahya az-Zuhli. Sampai pada suatu ketika terjadi perselisihan pendapat dan kesalahpahaman antara Muhammad Yahya dengan al-Bukhari tentang fitnah al-Qur’an adalah makhluk, bukan kalamullah. Muhammad ibn Yahya berpe-gang teguh pada mazhab salaf yang mengatakan bahwa al-Qur’an kalamullah, ketika Bukhari ditanya apa pendapat beliau pada masalah ini, beliau menjawab dari sini terjadi salah paham dan terjadi perselisihan antara mereka berdua. Kemudian imam Bukhari diusir masyarakat nisabur,maka beliau keluar dari masyarakat Naisabur semua orang menjauhi beliau kecuali Muslim, ia masih terus berkunjung ketempat Bukhari dan menuntut hadits darinya. Pada suatu hari imam Moh bin Yahya berkata dimajlisnya kepada muridnya : Barang siapa berpendapat seperti pendapat bukhori dalam masalah al-Qur’an yang kita lantunkan adalah makhluk hendaknya keluar dari majlis saya ini. Ketika itu juga imam muslim meninggalkan majlis Imam Moh bin yahya menuju pulang ,sesampainya dirumah beliau mengumpulkan lembaran-lembaran hadits yang ditulis dari Moh bin yahya kemudian mengirimya ke Moh bin Yahya, semenjak itu Muslim tidak lagi mengambil riwayat dari Moh bin Yahya</span><span dir="rtl"> <a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span><span style="font-family:&quot;"> dan Muslim tidak lagi menulis dibukunya riwayat-riwayat dari Moh bin Yahya juga Bukhari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Murid-murid beliau yang termasyhur dalam meriwayatkan hadits dari beliau<span> </span>kurang lebih 33.</span><span dir="rtl"> <a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Kepergian beliau kerahamatullah /wafatnya imam muslim .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Muhammad bin Abdullah an-Naisaburi mengisahkan sebab wafatnya Muslim ; saya mendengar kisah ini dari Muh bin Ya’qub dari Ahmad bin salamah teman Muslim dalam mengambil riwayat dari bukhari sekaligus murid dari muslim ia mengisahkan : suatu ketika pada saat majlis muzakarah, dilafadhkan sebuah hadits yang belum mengetahuinya ,makaketika ia pulang kerumah beliau langsung menyalakan patromak dan berkata pada keluarganya “jangan ada yang masuk kesini”ketika dikabarkan kepaada beliau bahwasanya ada yang menhadiahkan kurma kepadanya “kemarikan “kemudian ia melanjutkan pencarian hadits yang asing itu, samapaialah menjelang pagi : kurma telah habis dan haditspun telah ketemu.Muh bin adb berkata : “saya tambah yakin dengan cerita ini bahwasannya wafat disebabkan kekenyangan korma tersebut. </span><a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:&quot;">Ibn Katsir berkata : ‘Dikarenakan kekenyangan memakan korma beliau sakit pada hari itu sampai tibalah ajalnya di malam hari itu selepas isya malam senin’. Beliau dikuburkan keesokan harinya senin 25 rajab 261 H. di Naisabur, dan umurnya saat itu 57 tahun, dan kuburannya sampai saat ini masih sering dikunjungi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Perkataan ulama tentang beliau dan kedudukannya :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Imam      al-Hakim, <em>Shahib al-Mustadrak</em> berkomentar : ‘Saya pernah mendengar      Abu Abdurrahman as-Sulami bercerita, “Saya pernah melihat seorang alim      yang berwibawa, selalu berpakaian rapi lagi bagus dan ada selendangnya,      memakai imamah, ternyata ia adalah Imam Muslim”. Para pejabat memujinya      dan menyampaikan bahwasanya Amirul Mukminin memerintahkan agar masyarakat      menjadikan beliau Imam Masjid Agung. <a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Hakim      berkata, bahwasanya Ishaq ibn Manshur berkata kepada Muslim : “Kami tidak      akan kehilangan berkah Allah selagi Allah menaruh kamu diantara umat      Islam”.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Abu Quraisyi      al-Hafiz berkata : “Dunia Islam memiliki 4 orang Hafiz : Abu Zar’ah di      ar-Ra’y, Muslim di Naisabur, Abdullah ad-Darimi di Samarkand dan Muh.      Ismail di Bukhara.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ahmad ibn      Salamah berkata : “Saya melihat Abu Zar’ah dan Abu Hatim lebih      mengedepankan Muslim dalam pengetahuan hadis Shahih dihadapan ulama atau      guru-guru hadis zaman mereka”. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Shahih Muslim dan Pujian Ulama Terhadap Kitab Shahih Muslim </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Para ulama sepakat bahwa Shahih Muslim dan Bukhari kedudukannya <em>ashshahhulkutub</em> setelah al-Qur’an.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Imam Muslim      telah mengarang bukunya <em>al-Jami’ ash-Shahih</em> dari 300.000 hadits      yang ia dengar dan beliau berkata : Seandainya penduduk bumi ini terus      menulis hadits selama 200 tahun tidaklah ruang lingkup sanad mereka      kecuali berkisar di sanad-sanad ini. Mengomentari buku Shahihnya beliau      berkata : “Tidak saya letakkan sebuah hadits pun disini kecuali dengan      hujjah, …”</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ahmad ibn      Salamah berkata : Saya menemani Muslim dalam penulisan bukunya selama 15      tahun, dan ia telah menulis 12.000 hadis –dengan yang diulang-. Jumlah      hadis yang ada di Shahih Muslim sebanyak 4000 tidak termasuk yang diulang      dan jika dengan yang diulang jadi 7275.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Al-Hafiz Abu      Ali an-Naisaburi memuji : “Tidak ada buku yang lebih baik/Shahih di kolong      langit ini dalam ilmu hadits daripada buku Muslim”.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Kelebihan/Keistimewaan Shahih Muslim :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Hadis yang      beliau keluarkan tidak dipotong, dan beliau tidak meriwayatkan hadits bil      makna.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Beliau      membedakan perkataan <em>haddatsana</em> (saya mendengar) dan <em>akhbarana</em> (saya membaca).</span><span dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span><a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span><span style="font-family:&quot;"></span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-family:&quot;">An’anah.</span></em><span style="font-family:&quot;"></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Imkanul Liqa</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Kitab-kitab yang mensyarah Shahih Muslim di antaranya :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Al-Minhaj      milik an-Nawawi</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ikmal      al-Mu’alim milik Qadliiyyadh</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ad-Dibbaj      milik as-Suyuthi (ada <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>ا تظر كتاب : تقييد العلم للأمام الخطيب البغدادي<span> </span>ص : 22</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>فتح الباري : كتاب العلم باب كيف يقبض العلم</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span dir="rtl" lang="AR-SA"><span> </span></span>Pengumpulan riwayat seorang sahabat …</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Riset Ilmu Hadis karangan M. Zaki Abdul al_Hamid</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>سير أعلام النبلاء : 12\558 : تذكرة الحفاظ : 2\588</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>العبر : 1\375</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>سير أ علام النبلاء : 12\558<span> </span>و تهذ يب الكمال : 27\499</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>مقدمة فتح الباري<span> </span>ص : 725</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>البداية و النهاية : 11\34 : تار يخ بغداد : 13\103 : وفيات الاعيان : 5\194</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>تهذيب الكمال </span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>البداية و النهاية : 11\34</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>سير أ علام النبلاء : 12\566</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"> </span><span> </span><span lang="AR-SA"><span> </span>ا نظر : الانارة في أحاديث المختارة من صحيح أمام مسلم</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/267/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/267/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=267&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/27/imam-muslim-an-naisaburi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Bukhari</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-bukhari/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 05:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhârî
Amîr-ul ‘Mu’minîn fî-l ‘Hadîts[1]
 
“Tidak ada yang paling tahu di muka bumi ini dalam hadits, selain Muhamad bin Ismail (Bukhari)”. 
(Abu Bakar bin Khuzamah)[2]
oleh: Yandi Rahmayandi[3]
Iftitah
Sanjungan dan pujian diatas hanyalah salah satu dari begitu banyaknya ungkapan kekaguman para ‘Âlim dan tokoh terkemuka tempo dulu sampai sekarang terhadap salah seorang Imam hadits Muhamad bin Ismail [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=266&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoTitle"><strong>Imam Bukhârî</strong></p>
<p class="MsoSubtitle"><span>Amîr-ul</span> ‘Mu’minîn fî-l ‘<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;">“Tidak ada yang paling tahu di muka bumi ini dalam hadits, selain Muhamad bin Ismail (Bukhari)”</span></em><span style="font-family:&quot;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;">(Abu Bakar bin Khuzamah)<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;">oleh: Yandi Rahmayandi<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<h2>Iftitah</h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sanjungan dan pujian diatas hanyalah salah satu dari begitu banyaknya ungkapan kekaguman para ‘<em>Âlim</em> dan tokoh terkemuka tempo dulu sampai sekarang terhadap salah seorang Imam hadits Muhamad bin Ismail al-Bukhârî. Kekaguman mereka terhadap Imam Bukhârî, memang bukan tanpa alasan. Karya momentalnya “<em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>-ul‘Bukhârî</em>” telah membawa kemasyhuran namanya sampai hari kiamat nanti. Betapa tidak, kitab inilah yang disepakati Ulama hadits yang otientik setelah al-Qur’an. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Shalâh (W. 643 H), kemudian pendapat ini diikuti, dan dipopulerkan oleh Imam Nawawî (W. 676 H).<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Agaknya pendapat ulama ini, khususnya Imam Nawawî sudah terlanjur menjadi “<em>dalil</em>” yang akhirnya penelitian khusus <em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>-ul‘Bukhârî</em> dianggap kurang penting. Apalagi, kritikan terhadap sejumlah hadits dianggap kurang penting. Apalagi kritikan terhadap sejumlah hadits dalam <em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>-ul‘Bukhârî</em> juga sudah disanggah antara lain oleh Imam Ibnu <span style="text-decoration:underline;">H</span>ajar (W. 852 H.) dalam kitabnya <em>hady al-sari</em> dan <em>fath-ul ‘bârî</em>. Namun akibat lebih jauh dari hal itu, adalah kenyataan bahwa kebanyakan umat Islam, kita khususnya, tidak mengetahui siapa Imam Bukhari, bagaimana asal muasal kitabnya yang mashur itu, bagaimana metode beliau dalam meneliti dan mengkritik hadits?, dan lain sebagainya. Padahal di pihak lain, mereka juga tidak pernah membantah pendapat Imam Nawawî yang tersebut diatas.</span></p>
<p><span id="more-266"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Berangkat dari faktor-faktor tersebut, tulisan sederhana ini, akan mencoba memaparkan tentang Imam Bukhârî, berikut hal-hal yang ada kaitannya dengan metodologi beliau dalam ilmu hadits. Semoga hal ini bisa menambah khazanah ilmiyyah tentang hadits.</span></p>
<h3 style="margin-bottom:0.0001pt;">Imam Bukhârî</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Nama lengkap beliau ialah Abu Abdullâh Muhamad bin Isma’îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhârî.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Beliau dilahirkan pada hari jum’at, 13 syawal 194 H./1810 M. di Bukhârâ. Ayahnya <span>Isma’îl</span> bin Ibrâhîm al-Ju’fî tanpaknya cendrung kepada hadits nabawi. Ketika pergi haji pada tahun 179 H. beliau menyempatkan diri menemui tokoh-tokoh ahli hadits seperti Imam Malik bin Anas, Abdullâh bin Mubârak, Abu Muawiyyah bin Shâleh dan yang lainnya.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;">Ternyata semangat dan kecendrungan ini diwariskan kepada putranya Muhamad. Ketika Muhamad masih kecil, ayahnya Isma’îl meninggal dunia, dan meninggalkan perpustakaan pribadi yang diperuntukkan khusus buat putranya tercinta Isma’îl. Dalam keadaan yatim ia diasuh oleh ibunya dengan penuh kasih sayang, dibimbingnya untuk selalu mencintai buku-buku peninggalan ayahnya. Bersama teman-teman sebayanya Muhamad mulai belajar membaca, menulis,<span> </span>belajar al-Qur’an dan hadits.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;">Ketabahan ibu yang shalehah ini akhirnya mulai membuahkan hasil, ketika pada umur 10 tahun Muhamad muncul sebagai anak yang berilian otaknya mengalahkan anak-anak sebayanya, dan pada umur 10 tahun itulah Muhamad mulai mempelajari dan menghapal hadits. Ketika berumur 11 tahun perpustakaan ayahnya sudah tidak memenuhi syarat lagi baginya. Cita-cita untuk mendalami hadits semakin menggebu-gebu. Akhirnya Muhamad kecil menemui tokoh-tokoh ahli hadits di tanah airnya untuk mempelajari hadits. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Melihat kehebatan Muhamad ini, para gurunya juga tidak urung menemuinya. Betapa tidak, pada waktu berumur 16 tahun Muhamad sudah hapal kitab-kitab hadits yang ditulis oleh abdullâh bin Mubârak dan Waki’, dua tokoh ahli hadits yang terkemuka pada masa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Cita-cita Muhamad tidak berhenti sampai disitu, dengan bimbingan ibundanya pada tahun 216 H., Muhamad di ajak pergi ke Makkah disertai kakaknya Ahmad. Sesudah menunaikan ibadah haji, ibunya bersama Ahmad pulang kembali ke Bukhârâ, sedang Muhamad mendalami hadits dari tokoh-tokoh ahli hadits, seperti, al-Walid al-Azraqî dan Isma’îl bin Salim al-Saigh, kemudian pergi ke Madinah untuk mempelajari hadits dari anak cucu sahabat Nabi Saw. satu tahun Muhamad tinggal di Madinah, ia juga sempat menulis dua buah buku di sana, yaitu: “<em>Qadhâyâ ash-Shahâbah wa at-Tabi’în</em>” dan “<em>Tarîkh al-Kabîr</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Fase berikutnya, Muhamad menjelajahi negeri-negeri lain, disamping mondar mandir ke beberapa kota untuk menemui guru-guru hadits. Maka tersebutlah nama beberapa kota tempat Muhamad<span> </span>belajar hadits, antara lain : Makkah, Madînah, Syâm, Baghdad, Washt, Bashrah, Bukhârâ, Kûffah, Mesir, Harah, Naisabur, Qarasibah, Asqalan, dan Khurasan.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Muhamad ternyata bukanlah santri yang pasif, yang hanya mampu menerima dan menghapal pelajaran saja. Muhamad adalah santri yan produktif, sembari belajar, ia menulis buku. Maka tersebutlah karya tulisnya di samping dua kitab tersebut di atas, sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Tarîkh al-Shagîr</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Tarîkh al-Awsath</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Dhuafâ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Kunâ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Adab al-Mufrâd</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Jâmi’ al-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> (<em>shahih bukhari</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- Raf’ul Yadain fî al-Shalâh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Wuhdan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- Khair Kalâm fî al-Qira’ah khalf al-Imâm</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Asyrifah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- Asami al-Shahâbah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- Bir al-Wâlidain</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- Khalq Af’al al-‘Ibâd</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Ujlah fî al-Hadîts</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Musnad al-Kabîr</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Mabsut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- al-Inbah.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Maka setelah berumur 62 tahun, anak yatim yang kemudian termasyhur sebagai ahli hadits nomor satu. Dan setelah kembali menentap di Bukhârâ, pergi ke desa Khartank di kawasan Samarqand untuk menjenguk familinya yang bernama Ghalib bin Jibril. Beberapa hari muhamad tinggal di sana sampai akhirnya sakit dan wafat pada hari sabtu, malam ‘idul fitri 1 syawal 256 H./870 M. semoga Allah memberkahi dan merahmatinya. <em>Amîn</em>.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Memperhatikan karya-karya tulisannya, Imam Bukhârî sebenarnya tidak hanya sekedar tokoh ahli hadits seperti dikenal selama ini, tetapi, ia dikenal juga sebagai sejarawan (<em>muarrikh</em>), ahli fiqh dan lain sebagainya. Walaupun ia menulis beberapa kitab hadits atau ilmu hadits, namun yang membawa namanya terkenal sampai hari kiamat nanti adalah kitabnya yang berjudul “<em>Jâmi’ al-Musnad al-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Mukhtashar Min Umûr-i Rasul-il’Llâh Shallâ-l ‘Llâhu Alayhi Wasallâm wa sunanihi<span> </span>wa ayyâmih-i</em>”, yang lajim disebut dengan “<em>al-Jâm’i al-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>” dan lebih populer dengan sebutan “<em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî</em>”. Sehingga barangkali dapat dikatakan bahwa tanpa “<em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî</em>” Muhamad bin Isma’îl tidak akan menjadi Imam Bukhârî seperti sekarang ini.</span></p>
<h3 style="margin-bottom:0.0001pt;">Motifasi Pembukuan</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Meski sudah termasuk luar biasa dalam bidang hadits dan ilmu hadits, tampaknya Imam Bukhârî tidak begitu saja membukukan hadits-hadits nabawi. Ada beberapa faktor yang mendorong untuk menulis kitab itu, yang menunjuknya bahwa penulisnya tidak mau berangkat dari kemauannya sendiri. Karenanya wajar apabila keikhlasan beliau menjadikan kitabnya sebagai rujukan yang paling otientik sesudah al-Qur’an. Sementara faktor-faktor itu ialah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">1. pada masa akhir Tabi’în, dimana para Ulama sudah menyebar ke berbagai penjuru negeri Islam, hadits-hadits Nabi mulai dibukukan. Tersebutlah orang-orang yang membukukan, antara lain: al-Râbi’ bin Shâlih (w. 160 H), Sa’id bin Abu ‘Arabah (W. 156 H) dan yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;">Metode penulisan mereka terbatas pada bab-bab yang menyangkut masalah-masalah tertentu saja. Kemudian datanglah Ulama priode berikutnya, dimana mereka menulis lebeih lengkap dari pada cara penulisan sebelumnya. Mereka menulis hadits-hadits yang menyangkut masalah-masalah hukumnya secara luas. Tersebutlah nama-nama seperti Imam Malik bin Anas dengan kitabnya al-Muwaththa di Madinah, Ibn Juraij di Makkah, al-Auzai’ di Bashrah. Hanya saja tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabi’în dan atbau-t’tabi’în.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Pada awal abad ke II, para ulama bermaksud menulis hadits secara tersendiri tanpa dicampuri fatwa sahabat dan tabi’în. Maka tersebutlah penulis-penulis seperti Ubaidillah al-Kuffi, Musaddad al-Bashri, Asad al-Umawi dan Nua’im al-Khunzai. Metode penulisan mereka berbentuk musnad, dimana disebutkan dahulu nama sahabat kemudian hadits-hadits yang diriwayatkannya. Metode ini diikuti oleh tokoh-tokoh sesudahnya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Utsman bin Abu Syaibah dan yang lainnya. Adapula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abu bakar bin asy-Syaibah. Namun hadits-hadits yang mereka tulis masih campur aduk antara hadits-hadits yang sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>, hasan dan dha’îf. Dari sinilah kemudian Imam Bukhârî punya inisiatif untuk menghimpun hadits-hadits yang shahih saja, sehingga tidak membingungkan orang. Ternyata Ishaq bin Rawaihah seorang guru Imam Bukhârî mendorong maksud ini, sebagaimana dituturkan oleh Bukhârî: “<em>ketika saya berada di kediaman Ishaq bin Rawaihah, ia menyarankan agar saya menulis kitab yang singkat, yang hanya memuat hadits-hadits shahih saja. Saran beliau itu sangat mendorong saya hingga kemudian saya menulis al-Jâmi’ ash-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>”.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">2. Dorongan moral yang seperti beliau tuturkan sendiri sebagai berikut : “saya bermimpi bertemu Nabi Muhamad Saw. Saya berdiri dihadapan Nabi seraya menyapa saya. Setelah itu, saya menemui ahli-ahli ta’bir mimpi untuk menanyakan arti mimpi itu. Jawabnya “<em>anda akan membersihkan pembohong-pembohong yang dilontarkan kepada Rasulullah Saw</em>” itulah yang mendorong saya untuk menulis al-Jâmi’ al-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span>”.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Kandungan Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ibnu Shâlah, begitu pula imam Nawawî, menuturkan bahwa <em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî</em> berisi 7275 hadits dengan pengulangan, dan apabila tanpa pengulangan jumlah itu hanya 4000 hadits saja. Jumlah diseleksi dari 600.000. hadits yang diperolehnya dari 90.000 guru koleksi <em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî</em> ditulis selama 16 tahun, berisi dari 100 kitab dan 3450 bab. Lamanya penulisan ini karena Imam Bukhârî sangat cermat dalam menyeleksi hadits. Bahkan ia tidak mau menulis satu hadits pun sebelum mandi lalu shalat istikhorah 2 rakaat dan yakin bahwa hadits yang ditulisnya itu benar-benar shahih.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Jumlah kitab yang mensyarah <em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî</em> mencapai 57 kitab diantaranya yang sangat populer yaitu <em>fath-ul ‘bârî</em> karangan ibn Hajar al As qalani (W.853H) dan <em>umdat-ul qari’</em> karangan al ‘Ain (W. 855 H). Jumlah kitab <em>ta’liq</em> (komentar pada bagian-bagian tertentu) ada 5 buah. Sedang <em>mukhtasar</em> (resumenya) ada 3 buah dan yang populer adalah <em>al-Tajrîd as-Sharîh</em> karangan az Zubaidi (W. 893 H). ada juga kitab lain yang masih membahas <em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî</em>, disamping kitab-kitab mukhtasar dari beberapa kitab syarah diatas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Antara Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî Dan Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ibn Shâlah dan Imam Nawawî yang pertama kali menuturkan pendapatnya bahwa para ulama telah sepakat kitab Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî dan Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim di terima sebagai kitab yang otentik sesudah al-Qur’an. Namun, ada perbedaan pendapat, mana yang lebih otentik di antara dua kitab tersebut ?. Sejumlah ahli hadits dari Maroko berpendapat bahwa Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim lebih unggul dari Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî, sedangkan Jumhur Ulama berpendapat bahwa Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî lebih otentik dari Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim. Dengan argumen-argumen sebagai berikut : <em>Pertama</em>, keunggulan pribadi Bukhârî atas Muslim yang hal ini, dapat dilihat dari penuturan-penuturan tokoh-tokoh Ulama sebagai berikut :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ad-Darukuthnî      menuturkan : “<em>seandainya tidak ada Bukhârî maka Muslim tidak akan ada</em>”      dalam kesempatan lain ia berkata : “<em>apakah sebenarnya yang dilakukan      muslim, ia tidak lebih sekedar mentransfer kitab Bukhârî dan memberi      tambahan di sana-sini</em>”.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Al-Hakim Abu      Ahmad Naisaburi mengatakan : “<em>semoga Allah merahmati Muhammad bin      Ismail, karena ia telah menulis (membukukan) hadits-hadits yang menjadi      sumber hukum Islam dan menerangkannya kepada manusia, orang-orang yang      membukukan hadits sesudahnya seperti Muslim bin Hujaj sebenarnya hanya      mengambil dari kitab Bukhârî</em>”.</span></li>
<li class="MsoNormal">Para ulama umumnya juga sepakat bahwa Bukhârî lebih      alim dari pada Muslim dalam biang hadits, Muslim sendiri mengakui hal itu.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;">, keunggulan kitab Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî itu sendiri atas Imam Muslim karena perbedaan metode pengambilan hadits yang dilakukan masing-masing, sebagaiamana terlihat dalam ketentuan-ketentuan sebagai berikut:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Bukhârî, rawi-rawi haditsnya ditulis oleh Imam Bukhârî saja (tanpa      bersaman dengan Imam Muslim) berjumlah kurang lebih 435 orang. Di antara      jumlah ini yang mendapat kritikan hanya 80 orang. Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim, rawi-rawi yang di tulis Imam Muslim saja (tanpa bersamaan dengan      Imam bukhârî) berjumlah 620 orang. Dari jumlah ini yang mendapatkan      kritikan 160 orang. Logikanya, kitab yang sedikit mendapat kritikan lebih      baik daripada yang mendapat banyak kritrikan, meskipun dengan catatan      bahwa adanya kritikan itu tidak mengurangi nilai keotientikan kitab      Bukhârî.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî: 80 orang yang dikritik dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî itu      kebanyakan adalah guru Imam Bukhârî sendiri, di mana beliau pernah      bertemu, mendampingi, dan mengetahui keadaan mereka, serta mengetahui      dengan teliti nilai hadits-hadits mereka, mana yang baik dan mana yang      tidak. Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim, 160 orang yang di kritik dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim itu kebanyakan adalah orang-orang tabi’în dan atba-ut tabi’în yang      tidak pernah bertemu dengan Imam Muslim, sehingga keadaan Imam Muslim juga      tidak mengetahui keadaan mereka secara langsung. Ketidaktahuan Imam Muslim      terhadap mereka secara langsung, ini menjadikan kitab Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim berada di bawah Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî, dalam hal bersambungnya sanad, Imam Bukhârî mensyaratkan bahwa      sanad dapat disebut bersambung apabila murid dengan guru, atau rawi kedua      dengan rawi pertama benar-benar bertemu meskipun hanya sekali. Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim, menurut Imam Mus lim, sanad sudah dapat disebut bersambung apabila      ada kemungkinan bertemu bagi kedua rawi diatas, di mana keduanya hidup      dalam satu kurun waktu dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh menurut      ukuran saat itu, meskipun keduanya belum pernah bertemu sama sekali.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-family:&quot;">Jelaslah dari sini, bahwa pengertian “bersambung” yang dimaksud oleh Imam Bukhârî lebih jelas dan tegas di banding yang dimaksudkan oleh Imam Muslim. Dari beberapa argumen tersebut, memperkuat pendapat Jumhur Ulama bahwa Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî lebih otientik daripada Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim. Sedang pendapat Ulama Maroko yang menyatakan Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim lebih kuat dari pada Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî diartikan sebagai baik dalam metode penyusunannya, bukan dari segi nilai haditsnya. Tentu saja, keunggulan dan keotientikkan Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî itu bila di tinjau dari secara umum, sebab dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Muslim pun terdapat beberapa hadits yang lebih otientik di banding beberapa hadits dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî</span></p>
<h3 style="margin-bottom:0.0001pt;">Kritik Terhadap Hadits-Hadits Bukhârî</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam ilmu hadits, kritik ditujukan kepada dua aspek, yaitu: sanad dan matan hadits. Krtik sanad (<em>naqd sanad/naqd ar-Rijal</em>) diperlukan untuk mengetahui apakah rawi-rawi itu jujur, taqwa, kuat hapalannya, dan apakah sanad itu bersambung atau tidak. Sedang kritik matan (<em>naqd al-matan</em>) diperlukan untuk mengetahui apakah hadits itu mempunyai cacat (<em>illat</em>) atau janggal (<em>syadz</em>). Dari sini, kemudian timbul istilah ahli hadits “<em>hadza al-hadîts sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-isnad</em>” (hadits ini shahih sanadnya), dan “<em>hadza sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-matan</em>” (hadits ini shahih matannya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Para orientalis seperti, Ignaz Boldziher (1850-1921), Arent Jan Wenssinck (1882-1939), Joseph Schacth (1902-1969), dan yang lainnya, berpendapat bahwa dalam meneliti hadits, para ahli hadits hanya menggunakan metode kritik sanad saja tanpa menilai metode kritik matan. Sehingga, menurut mereka, banyak ditemukan di belakang hari hadits-hadits yang semula di anggap shahih ternyata palsu, termasuk hadits yang terdapat dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî. Hadits-hadits Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî ternyata tidak luput dari kritikan berbagai pihak, baik dahulu maupun sekarang. Kritikan juga ditujukan kepada sanad dan matan hadits, seperti dalam uraian berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;">Kritik hadits Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> tenpo dulu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Perlu diketahui lebih dulu, bahwa sebagian besar hadits-hadits bukhari di akui sebagai hadits shahih oleh ahli-ahli hadits. Namun, juga di akui bahwa sejumlah kecil hadits-hadits Bukhari dan Muslim dikritik oleh sejumlah ahli hadits masa dulu seperti ad-Daruquthnî (w. 385 H), Abu Ali al-Ghasani (w. 365 H) dan yang lainnya. Mereka menganggap hadits-hadits tersebut dha’îf.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Menurut Imam Nawawî, kritikan mereka itu berangkat dari tuduhan bahwa dalam hadits-hadits Imam Bukhari tidak menepati persyaratan-persyaratan yang ia tetapkan. Untuk itu, ad-Daruquthnî menulis buku yang berjudul “<em>al-Istidrakat wa al-tatabu</em>”, di mana ia mengkritik 200 buah hadits yang terdapat dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî dan Muslim. Imam Nawawî menegaskan bahwa kritik ad-Daruquthnî dan yang lainnya itu hanyalah berdasarkan kreteria-kriteria yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadits yang justru di nilai lemah sekali di tinjau dari ilmu hadits, karena berlawanan dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh Jumhur Ulama. Karena demikian, lanjut Nawawî, anda jangan sekali-kali terperdaya oleh kritikan-kritikan itu.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<h4 style="margin-top:6pt;">Kritik sanad</h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam mengkritik Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî, ad-Daruquthnî menyoroti sanad dalam arti deretan rawi-rawi hadits, sedangkan ahli hadits yang lain ada yang menyoroti pribadi-pribadi rawi. Ad-Daruquthnî berkata: “Imam Bukhari (dan Imam Muslim) menulis hadits al-Zubaidi dari Zuhri, dan Urwah dari Zainab binti Abi Salamah, bahwa Nabi Muhamad Saw melihat seorang wanita di rumah Umi Salamah, wajah wanita itu memar, lalu nabi bersabda: “<em>obatilah wanita itu dengan jampi-jampi (ruqyah)</em>”. Kata ad-Daruquthnî selanjutnya,: “<em>hadits ini oleh Uqail diriwayatkan dari al-Zuhri dari Urwah secara mursal. Begitu pula Yahya bin Said meriwayatkannya dari Sulaiman bin Yasar dari Urwah secara mursal</em>.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Jelaslah bahwa ad-Daruquthnî menilai hadist tersebut dha’îf, sebab hadits mursal itu putus sanadnya, di mana Uqa’il tidak menyebut Zainab dan umi Salamah, tetapi langsung menyebut Nabi. Sanad hadits ini selengkapnya, seperti yang terdapat dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Riwayat Bukhârî: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Muhamad bin Khalid- Muhamad bin Walid-Muhamad bin Harb-al-Zubaidi-al-Zuhri-Urwah-Zainab binti Abi Salamah-Ummu Salamah-Nabi.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Riwayat yang lain :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Ibn      Walid-Ibn Lahiah-al-Zuhri-Urwah-Nabi.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Di sini Urwah meriwayatkan hadits langsung dari Nabi dengan menggugurkan      dua riwayat yaitu Zainab binti Abi Salamah dan Umu Salamah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Abu      Muawiyyah-Yahya bin Yazid- Sulaiman bin Yasar-Urwah-Umu Salamah- Nabi. Di      sini yang digugurkan hanya Zainab binti Abi Salamah, dan riwayat ini      ditulis oleh Imam al-Bazzar.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-family:&quot;">Dari perbandingan riwayat-riwayat itu dapat di ketahui bahwa setenarnya riwayat hadits yang mursal (putus sanadnya menjelang Nabi) terdapat dalam riwayat yang lain. Riwayat inilah yang sebenarnya dha’îf. Sedangkan riwayat yang terdapat dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî sanadnya bersambung, maka haditsnya di nilai shahih. Sedang di cantum hanya sanad Uqail-al-Zuhri-Urwah-Nabi” atau yang semisal dengan itu dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî, hal itu dimaksudkan sebagai <em>istisyhad </em>bahwa hadits yang diriwayatkan itu, diriwayatkan pula oleh penulis hadits yang lain, dengan sanad yang lain pula. Periwayatan semacam itu dalam ilmu hadits dikenal sebagai hadits syahid atau hadits mutabi’. </span></p>
<h4 style="margin-top:6pt;">Kritik pribadi rawi</h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sejumlah ahli hadits menyoroti beberapa nama rawi yang terdapat dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî. Menurut mereka, rawi-rawi itu tidak memenuhi persyaratan sebagai rawi yang di terima haditsnya. Menyanggah tuduhan itu, Ibn Hajar menegaskan bahwa hal itu tidak dapat di terima kecuali apabila rawi-rawi itu terbukti dengan jelas mempunyai sifat-sifat dan, atau melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan haditsnya tertolak. Dan ternyata setelah diteliti dengan cermat, tidak ada satu rawi pun dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî yang mempunyai sifat-sifat dan atau melakukan perbuatan seperti itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Faktor-faktor yang menyebabkan seorang rawi di talak haditsnya- dalam ilmu hadits disebut “<em>asbab al-Jarh</em>” berkisar pada lima masalah, yaitu: <em>ghalath</em> (rawi sering keliru dalam meriwayatkan hadits), <em>jahalah</em> (rawi tidak dikenal), identitasnya, rawi berlawanan maksudnya dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang lebih dapat dipercaya dari raw (pertama), <em>bid’ah</em> (rawi melakukan perbuatan dan atau mempunyai keyakinan dapat menyebabkan dirinya kafir) dan <em>da’wa al-inqitha fi as-sanad</em> (rawi di tuduh menyebutkan sanad yang tidak bersambung). Kelima masalah ini tidak terdapat pada pribadi rawi dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî.<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Menurut al-Azdi, Usamah lemah haditsnya, dan menurut Abu al-Qasim, Usamah tidak di kenal identitasnya. Dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî ada satu hadits yang diriwayatkan dari Usamah yaitu dalam <em>kitab al-dzabaih</em>. Ibnu Hajar pernah membaca dalam buku <em>mizan I’tidal</em> yang ditulis ad-Dzahabi, bahwa Usamah di kenal identitasnya. Imam-imam yang empat juga meriwayatkan hadits dari Usamah.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Jelaslah dari sini bahwa tuduhan tidak di kenal identitasnya (jahalah) hanya berdasarkan kriteria majhul sejumlah tokoh hadits yang justru kurang memperoleh pengakuan ilmiah di banding misalnya dengan adz-Dzahabi. Karena itu, penilaian adz-Dzahabi tentang Usamah lebih diunggulkan daripada perkataan abu al-Qasim, apabila ditambahkan bahwa Imam yang empat juga meriwayatkan haditsnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kritik-kritik terhadap hadits-hadits Bukhari pada masa lalu, baik yang ditujukan pada sanad ataupun pribadi rawi tidak dapat mengurangi derajat atau nilai keotientikan hadits-hadits Bukhari, sebab kritik-kritik itu bertolak dari kaidah-kaidah yang justru lemah menurut mayoritas ahli-ahli hadits, di samping hadits-hadits yang di kritik itu hadits-hadits mutabi’, yang pencantumannya dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî tidak dimaksudkan sebagai hadits pokok. Karena itu, tepat sekali komentar kritikus terkemuka masa-masa terakhir Syeh Ahmad Syakir yang menyatakan bahwa seluruh hadits-hadits Bukhari dan Muslim adalah Shahih. Adapun bantahan-bantahan yang datang dari ad-Daruquthnî dan yang lainnya itu, hanyalah karena beberapa hadits Bukhari dan Muslim itu tidak memenuhi persyaratan masing-masing kedua tokoh hadits itu. Namun, apabla hadits-hadits itu dikembalikan kepada persyaratan ahli-ahli hadits pada umumnya, maka memang shahih.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<h4 style="margin-top:6pt;">Kritik hadits Bukhari masa kini</h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Meskipun ahli-ahli hadist masa lalu sudah melakukan kritik hadits, baik sanad maupun matannya. Namun, kalangan orientalis menuduh bahwa para ahli hadits dahulu hanya mengkritik hadits dari segi sanad atau matannya saja. Sebab banyak hadits yang termasuk dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî yang pada kemudian hari ternyata tidak shahih (otientik) di tinjau dari segi sosial, politik, sains dan yang lainnya. Karenanya, mereka tidak mengetahui hasil penelitian ahli-ahli hadits masa lalu. Mereka melihat teori sendiri yang di kenal dengan “kritik materi hadits”. Tersebutlah nama-nama kelompok ini : Ignaz Boldziher, A.J. Wensinch, Robson, Maurice Bacaille, dan lain-lain. Sedangkan dari kubu orang Islam terdengar nama Ahmad Amin.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<h1 style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;text-decoration:none;">Ignaz Boldziher</span></em></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Contoh hadits yang di kritik oleh dia adalah hadits yang berasal dari al-Zuhri, di mana Rasulullah bersabda: “<em>tidak diperintahkn pergi kecuali ke tiga masjid. Masjid alharam (mekah), masjid rasul (madinah) dan masjid al-aqsa (alquds palestina)</em>”.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Hadits ini di babad habis-habisan oleh Ignaz dari segi politik, sehingga ia berkesimpulan bahwa hadits ini palsu. Menurutnya, Abdul Malik bin Marwan (di Damaskus) merasa khawatir kalau-kalau Abdullah bin az-Zubair (di Mekkah) mengambil kesempatan untuk menyuruh orang-orang Syam yang peri ke haji (Makkah) untuk melakukan bai’at kepadanya. Karenanya, Abdul Malik berusaha agar orang-orang Syam tidak pergi haji ke Makkah, melainkan cukup ke Kubbah Sakhra di al-Quds (palestina). Untuk mewujudkan usaha yang bersifat politis ini, Abdul Malik menugaskan al-Zuhri untuk membuat hadits yang sanadnya bersambung kepada Nabi, di mana umat Islam tidak diperintahklan pergi kecuali ke tiga masjid<span> </span>itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Prof. Dr. Muhamad Mushthafa Azami, ulama kontemporer kebangsaan India, sekarang Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas King Saud Riyadh Saudi Arabia dalam disertasi Ph.d-nya di Combridge Univercity, Inggris tahun 1976. Diantaranya membantah pendapat Ignaz, setelah melakukan penelitian secara umum terhadap hadits nabawi. Menurutnya, teori Ignaz tidak di tunjang oleh argumen dan dalil yang valid, karena tidak ada bukti-bukti sejarah yang dapat menunjang kebenaran teorinya. Bahkan justru sebaliknya. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran al-Zuhri antara 50-58 H. al-Zuhri belum pernah bertemu dengan Abdul Malik sebelum tahun 81 H. Palestina, dimana terdapat masjid al-Aqsa, pada tahun 67 H. berada di luar kekuasaan Abdul Malik dan pada tahun 68 H. orang-orang Bani Umayyah berada di Makkah dalam urusan haji. Dari sini Azami berkesimpulan bahwa Abdul Malik baru berpikir untuk membangun Quds Asahra- yang konon sebagai pengganti Ka’bah sesudah tahun 68 H. apabila demikian halnya, maka al-Zuhri pada saat itu baru berusia antara 10-18 tahun, karenya tidak logis seorang anak yang berumur belasan tahun sudah populer sebagai alim di luar daerahnya sendiri. Dimana ia mampu mengalihkan ibadah haji dari Makkah ke Palestina. Lagi pula pada saat itu di Syam masih banyak terdapat para sahabat dan tabi’in, sehingga tidak mungkin mereka diam saja melihat kejadian itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Kenyataan lain yang membantah teori Ignaz adalah hadits itu sendiri sebagaimana dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî. Di sini tidak ada satu petunjuk pun yang mengisyaratkan bahwa ibadah haji itu dapat dilakukan di al-Quds, yang ada hanyalah “keistimewaan” yang diberikan pada masjid al-aqsha. Dan ini wajar saja, karena masjid itu, pernah menjadi kiblat pertama umat Islam. Ignaz tanpaknya hanya menuduh al-Zuhri sebagai pemalsu hadits, padahal riwayat itu diriwayatkan pula oleh 18 rawi yan lain (selain al-Zuhri), namum mereka beruntung tidak di tuduh sebagai pemalsu hadits oleh Ignaz.<em></em></span></p>
<h4 style="margin-top:6pt;">Ahmad amin</h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam bukunya <em>fajr Islam</em>, Ahmad Amin tidak kepalang-tanggung ikut mengkritik ahli-ahli hadits, setelah mereka di tuduh hanya lebih memperhatikan sanad. Giliran Imam Bukhari di hantam secara tersendiri. Kata amin: “<em>kita lihat sendiri sampai dengan Imam Bukhari, meskipun tinggi reputasi ilmu haditsnya, dan cermat penelitiannya, beliau menetapkan hadits-hadist yang tidak shahih di tinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiah. Karena penelitian beliau hanya terbatas pada sanad saja</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Amin menyebutkan contoh hadits Rasululah Saw bersabda: “<em>seratus tahun lagi tidak ada manusia yang masih hidup diatas bumi ini</em>”. Dalam hadist ini ternyata Amin keliru memahami maksudnya, sebab, yang di maksud oleh hadits itu bukan sesudah seratus tahun sejak Nabi mengucapkan hal itu, tidak ada lagi yang hidup di dunia ini. Melainkan yang di maksud adalah orang-orang yang pada saat itu masih hidup seratus tahun lagi mereka sudah meninggal dunia. Dan ini memang terbukti demikian. Karenanya hadits itu termasuk mu’jizat Nabi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Demikian beberapa contoh tuduhan orientalis dan konconya terhadap hadits-hadits yang terdapat dalam Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî berikut bantahannya. Sehingga tuduhan-tuduhan mereka dengan tanpa adanya argumen dan dalil yang valid hanya didasari oleh sikap permusuhan mereka terhadap Islam dan ingin menghancurkannya melalui pilar kedua yaitu as-sunnah atau al-hadits karena dengan adanya tuduhan-tuduhan tersebut akan berpengaruh terhadap umat Islam dalam mempercayai al-hadits sebagi sumber syari’at yang kedua setelah al-Qur’an akan menimbulkan <em>syak</em> (keragu-raguan) tentang keotientikannya dan yang diharapkan mereka umat Islam meninggalkan as-sunnah yang kemudian lebih jauh lagi melepaskan al-Qur’an dan Islam itu sendiri. Namun, usaha-usaha mereka itu hanya sebuah makar yang hanya menghasilkan isapan jempol belaka tanpa hasil yang nyata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dengan demikian Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> Bukhârî masih tetap kitab yang paling otientik setelah al-Qur’an dan ini telah dan akan terus disepakati umat Islam sampai hari kiamat. Alur penelitian yang logis akan menyatakan bahwa seorang yang keliru semakin banyak orang yang melihatnya semakin banyak pula orang yang menyatakan bahwa ia keliru. Namun, logika tersebut tidak relevan apabila diterapkan pada pribadi Imam Bukhari. Sebab sejarah mencatat bahwa Imam Bukhari yang wafat pada abad ke-III itu justru menanjak reputasinya setelah banyak di kritik pada abad ke-IV. Padahal para ahli hadits mengakui bahwa abad ke II dan ke IV itu merupakan masa yang matang dengan suburnya karya-karya ilmiah, terutama dalam bidang hadits.</span></p>
<h3 style="margin-bottom:0.0001pt;">Guru-guru Imam Bukhari</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Sebagaimana diketahui bahwa Imam Bukhari seorang yang sangat cinta ilmu, sehingga ke mana pun, siapa pun dan di mana pun ia akan cari dan belajar. Oleh karena itu,guru-guru beliau dalam <em>tolab ilmi</em>, sangat<span> </span>banyak sekali. Lebih dari 1000 orang seperti ucapannya sendiri “<em>aku menulis dari 1000<span> </span>orang guru atau lebih</em>”.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-family:&quot;">Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidh Ibn Hajar al-Asqalani, bahwa guru-guru belaiu itu diklasifikasikan ke dalam lima <em>tabaqat</em>:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">yang      menerima atau meriwayatkan haditsnya dari tabi’in, misalnya Muhamad bin      Abdullah al-Anshari yang meriwayatkan dari Humaid, abu Nua’im dari Amasy,      Maki bin Ibarhim yang meriwayatkan dari Yazid bin Abi Uba’id dan yang      lainnya. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">yang semasa      dengan mereka pada tingkatan pertama tetapi tidak mendengar dari tabi’in      seperti Adam bin Abi Ias, Said bin Abi Maryam dan yang lainnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">guru-guru      beliau yang pertengahan yaitu yang gtidak bertemu dengan tabi’in, namun      mengambilnya dari tabi-ut ‘tabi’in seperti, Sulaiman bin Harb Qutaibah bin      Said, Ishaq bin Rahawah, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin      al-Madini, Nua’im bin Hamad dan yang lainnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">merupakan      teman beajar, namun pernah mendengar sesuatu sebelumnya darinya seperti      Muhamad bin Yahya al-Dzahali, Abu Hatan al-Raji Ahmad bin Nazhar dan yang      lainnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">kaum atau      golongan orang yang dekat, baik pada waktu belajar atau periwayatan hadits      dan pernah mendengar dari mereka faidah-faidah, seperti Abdullah al-Hamd      al-Hamili, Abdullah bin Abi ash al-Khawanzani dan yang lainnya.</span></li>
</ol>
<h3 style="margin-bottom:0.0001pt;">Murid-murid Imam Bukhari</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Begitu juga dengan mengenai murid-murid beliau sangat sulit membatasi atau menentukan jumlahnya, karena teramat banyaknya. Namun, seprti yang dikatakan Muhamad bin Yusuf al-Tarbary yang pernah mendengar (murid) dari Muhamad bin Ismail sebanyak 90.000 orang”<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Yang paling termasyhur diantaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">1. Ibrahim bin Ma’qal al Nasafi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">2. al-Husain bin Ismail al-Muhamily</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">3. Hamad bin Syakur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">4. Saleh bin Muhamad al-Mulaqqab</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">5. Muhamad bin Ishaq bin Khuzamah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">6. Abu Isa Muhamad bin Isa at-Turmidzi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">7. Muhamad bin Yusuf al-Farbali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">8. Muslim bin al-Hujaj.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Demikian nama guru-guru dan murid-murid dari Imam Bukhari yang kesemuanya merupakan para pembela dien Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Membaca dan menelaah tokoh sekaliber Imam Bukhari butuh waktu yang lama, sangat banyak mutiara-mutiara hikmah dan ibroh yang beliau miliki, bukan saja kepribadian namun juga karya-karyanya yang agung. sebagaimana diungkapkan Ibn Hajar al-Asqalani dalam <em>hady syarah</em>-nya Imam Bukhari bagaikan lautan yang sangat dalam, kedalaman dan keluasan ilmunya khususnya hadits, telah dan akan terus dikenang umat Islam sampai hari Qiamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Semoga Allah senantiasa memberkati dan merahmatinya, dan semoga kita semua termotivasi untuk mengikuti langkah serta mendalami segala aktifitasnya sebagai bukti penghormatan kita terhadap jerih payah dan usaha mulyanya. Inilah tulisan singkat dan sederhana yang bisa dituangkan penulis, masih banyak kekurangannya sehingga kritik konstruktif sangat ditunggu. <em>Wallâh-u ‘alam bis-shawâb</em>.</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> </span><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">Makalah ini disampaikan pada acara “kajian tokoh Imam Hadits”, yang diadakan oleh Bidang Taklim Forum Silaturahmi Persatuan Islam. Pada hari rabu, 13 Maret 2002. Di <em>markaz</em> FOSPI (el-Hây el ‘Âsyir panyisian)</span><span style="font-size:8pt;">.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Fathul bari Vol II. Hal 196-202.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> </span><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">Penulis adalah <em>santri</em> di Fakultas Ushûl-ud’dîn spesialisasi hadits, Universitas al-Azhar Cairo. Juga ketua Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB) Egypt.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Al-Suyuti. Tadriabu ar-rawi,ed, abd al-wahan abdul latif. Almaktabah al-islamiyyah.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Al-Kamil ibn Adi. Vol I. Hal 140 dan Tarikh baghdad Vol. II. Hal 5-6.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> H. Ali Mushthfa yaqubma. Imam bukhari dan metodolodi kritik dalam hadits.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> hadya sari. Hal 516-517.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> At-Tarif bi kutub alk-Hadits al-Sittah. Muhamad bin muhamd abu syahbah. Cetakan peramam 1988 M/1409 H. maktabah al-Ilm cairo, mesir.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibnu hajar al-Astqalani. Hadi sari muqadimah fathul bari. Vol. I.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> At-Tarif bi kutub alk-Hadits al-Sittah. Muhamad bin muhamd abu syahbah. Cetakan peramam 1988 M/1409 H. maktabah al-Ilm cairo, mesir. Hal.+ 55</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> </span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibn Katsir. Syarh al bahts al watsib fi ikhtisar ‘ilmu al hadits. Maktabah al ma’arif. Cet I 1996.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> </span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibnu Hajar al-asqalani. Op.cit. 11:346.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibnu Hajar al-asqalani. Hady al-sari. Vol II. Hal. 384-385.</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Ibid. hal.389.</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> muhamad adib syah. Lawhat fi ushul al-hadits. Maktabah al-islami. Beirut 1399H. hal 123-125.</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Muhamad Musthafa azama. Op.cit. 127-131. </span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> H.R. Bukhari.</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Mawqif<span> </span>alimamain albukhari wa muslim. Khalid mansur abdullah ad-durais. Cetakan pertama 1997. maktabah ar-Rusy riyadh.</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> Taqliq at-ta’liq. Ibnu hajar. Vol V. hal 356./</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:&quot;"> hady sari. Hal 516-517.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/266/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/266/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=266&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Ahmad Bin Hanbal</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-ahmad-bin-hanbal/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-ahmad-bin-hanbal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 05:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ahmad bin Hanbal
Imamnya Para Imam Hadits
Oleh pardan syafrudin sambas[1]
 
“Tidaklah aku meninggalkan Baghdad, kecuali aku tinggalkan Ahmad bin Hanbal dalam keluasan ilmu dan kefaqihan. Ia Imam dalam delapan hal, Imam hadits, fiqh, luhgah, qur’an, faqir, zuhud, dan imamnya sunnah” (Imam Syafi’i).
 
Tidaklah berlebihan kiranya sanjungan yang diberikan Imam Syafi’i kepada Imam Ahmad, ia adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=265&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">Imam Ahmad bin Hanbal</span></strong></p>
<h1>Imamnya Para Imam Hadits</h1>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:9pt;">Oleh pardan syafrudin sambas<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">“<em>Tidaklah aku meninggalkan Baghdad, kecuali aku tinggalkan Ahmad bin Hanbal dalam keluasan ilmu dan kefaqihan. Ia Imam dalam delapan hal, Imam hadits, fiqh, luhgah, qur’an, faqir, zuhud, dan imamnya sunnah</em>” (Imam Syafi’i).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Tidaklah berlebihan kiranya sanjungan yang diberikan Imam Syafi’i kepada Imam Ahmad, ia adalah Ulama yang faqih seperti gurunya, lembut, halus, supel dalam bergaul dan ramah dalam bermuamalah. Ia terkenal dengan kejuhudan serta kewara’an. Namun bukan berarti ia sering menegadahkan tangan dan membungkukkan badan di depan penguasa. Kelembutan dan kehalusan sifat beliau tidak pernah mempengaruhi dalam menegakkan hukum, terlebih hal-hal yang menyangkut dengan <em>aqidah</em>. Semuanya akan berubah menjadi ketegasan, kejelasan dan keistiqamahan beliau dalam menyebarkan <em>syi’ar-syi’ar Ilâhî</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Pengembaraan dalam mencari ilmu telah mengantarkan<span> </span>Ahmad bin Hanbal menjadi ulama yang besar dan disegani, bukan hanya oleh masyarakat, tapi juga oleh penguasa. Beberapa negara telah ia lawati dalam mencari keabsahan satu hadits sekalipun. Dalam pengembaraannya, kita patut me-<em>ngibrah</em> kepadanya, bagaimana tidak, setiap kali bekalnya habis, ia selalu mendermakan dirinya untuk bekerja guna melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau menerima uang ataupun materi lainnya selain dari hasil kerja keras dan hasil keringatnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Setelah mengembara ke beberapa negara, akhirnya ia kembali ke negaranya, yang kala itu menjadi “<em>manarul Islam</em>” . Disinilah keilmuan dan keistiqamahan beliau mulai teruji. Baghdad yang saat itu menjadi kota metropolit, telah mengalihkan para penguasa dan koleganya untuk selalu menghambur-hamburkan harta, serta lalai dalam bersyukur atas nikmat Allah swt. Ironis memang, kala itu, di tengah-tengah istana yang megah dan pola hidup yang glamor yang di pertotonkan kaum penguasa, sementara dipinggiran mereka, rakyat kecil dan masyarakat jelata, hidup di bawah garis kemiskinan, penguasa tidur lelap dalam kekeyangan dan rakyat jelata menjerit karena kelaparan.</span></p>
<p><span id="more-265"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Begitu juga dengan para ulama, mereka telah menjadi “ulama negara” yang selalu melegitimasi dan menjustifikasi kehendak penguasa, untuk melanggengkan kekuasaannya. Sementara mereka menutup mata dan diam seribu basa melihat kemunkaran dan kedhaliman di sekeliling mereka. <em>Naudzubillah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Permasalahan pada waktu itu bukan hanya itu saja, kondisi masyarakat telah terkontaminasi dengan pemikiran filsapat dan logika yang disebarkan oleh kaum Mu’tazilah. Retorika inilah yang mengantarkan kepada pemahaman bahwa al-Qur’an itu adalah mahluk. Ulama di paksa untuk mengakui dan mengiukutinya. Bagi mereka yang enggan mengakuinya, mereka diintimidasi dan disiksa untuk menurutinya. Yang akhirnya banyak para ulama saat itu yang menuruti kehendak penguasa dengan menyatakan bahwa al-Qur’an itu adalah mahluk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Lain halnya dengan Imam Ahmad, ulama yang satu ini lebih rela disiksa penguasa untuk mempertahankan keyakinan pendapatnya, yang menyakini bahwa al-Qur’an itu adalah <em>kalamullah</em> (firman Allah), dan ia berkata: “<em>barang siapa yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu mahluk ia telah kafir, dan barang siapa yang mengatakan bahwa Qur’an itu bukan mahluk ia telah melakukan bid’ah. Sesungguhnya Qur’an itu adalah firman Allah Swt</em>”.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Siksaan yang ia alami tidaklah ringan dan sebentar, siksaan yang berat dan begitu lamanya mengakibatkan kondisi fisiknya melemah, namun hal itu tidaklah menyulutkan beliau untuk terus berdakwah dan menyebarkan sunnah-sunnah rasulnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Diakhir kehidupannya ia mengabdikan ilmunya, yang selalu ia ajarkan di rumah dan masjid jami’ Baghdad. Sebelum menghadap I<em>lâhî,</em> Ia sempat mewariskan pusaka yang sangat berharga bagi kaum muslimin, yaitu berupa himpunan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Sehingga selain kefaqihan, kewara’an dan kejuhudannya, ia juga terkenal dengan keluasan ilmunya dalam bidang hadits, dan ia terkenal dengan sebutan “imamnya iman hadits”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dari sanalah penulis mencoba, menguak tabir beliau secara singkat guna mengetahui sosok Imam hadits yang satu ini, serta kita memetik pelajaran dan me-<em>ngibrah</em> kisahnya, serta menjadikan kita untuk termotipasi sebagai pelanjut estafeta perjuangannya. <em>Amin</em>. </span></p>
<h2 style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Biografi Ahmad bin Hanbal</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Nama lengkap beliau ialah Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Halâl bin Asad bin Idris bin Abdullah bin <span style="text-decoration:underline;">H</span>ayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasithi bin Marin bin Syaeban bin Duhl bin Tsa’labah bin Uqabah bin Sha’ab bin Ali bin Bakar bin Wail. Yang terkenal dengan <em>laqab</em>-nya Abu Abdullah asy-Syaibânî. Ia dilahirkan di Marwa pada bulan Rabi’ul Awal tahun 64 H.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Semenjak kecil, ia telah ditinggalkan wafat oleh ayahnya, sehingga sedari kecil ia hanya mendapatkan pengawasan dan kasih sayang ibunya saja. Ibunya yang membesarkan dan mendidik dia setelah dilahirkan. Ahmad kecil dibawa pindah oleh ibunya ke Baghdag dan dibesarkannya disana. Ahmad terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan jarang bicara serta tidak mengundang kawan-kawannya untuk berdebat. Namun demikian, Ahmad tumbuh dengan kesungguh-sungguhan dan keoptimisan dalam menjalani hidupnya, sehingga hari-harinya selalu ia isi dengan mencari pengetahuan dan beribadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Setelah ia meninjak dewasa, ia mulai mengembara ke luar negri untuk mendapatkan ilmu dan wawasan yang lebih luas. Setelah mengembara sekian lama, akhirnya ia kembali ke tanah airnya dan mengabdi disana. Dalam pengabdiannya itulah ia mulai bertolak belakang dengan penguasa, namun hal ini bukan menjadikan ia terasing, justru sebaliknya, kemashuran dan keluasan ilmunya semakin bertambah dikenal. Para jama’ah pengajiannya semakin berjubel dan datang dari semua penjuru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Bukan hanya itu saja, dalam masalah ibadahpun ia tidak pernah lalai, walaupun selalu mengisi majlis taklim yang begitu padat waktunya. Kurun waktu satu malam ia selalu meakukan shalat sebanyak 300 raka’at, namun menjelang usia senja ia hanya melakukannya sebanyak 150 raka’at. Selain itu, ia selalu menghatamkan al-Qur’an selama seminggu dua kali khatam. Hal ini sebagaimana dituturkan putranya Abdullah bin Ahmad.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<h2 style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Guru-guru dan Murid Ahmad bin Hanbal</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Semenjak kecil, ia memulai untuk belajar, banyak sekali guru-guru beliau, diantaranya, Husyaim Sufyan bin Uyainah, Ibrahim bin Sa’ad, Jarir bin Abdul Hamid, Ya<span style="text-decoration:underline;">h</span>ya al-Qaththân, Walîd bin Muslim, Ismail bin ‘Alayah, Ali bin Hasyim bin al-Barîd, Mu’tamar bin Sulaiman, Amr bin Muhamad bin Ukh asy-Syura, Ya<span style="text-decoration:underline;">h</span>ya bin Salim ath-Thaifi, Basyar bin Mufadhal, Ziyaâd bin al-Bakâ, Abu Bakar Bin Iyas, Abu Khâlid al-A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mar, ‘Ibad bin ‘Ibad a-Mahlabi, ‘Ibad bin Awam, Abdul Aziz bin Abdul Samad al-‘Ammî, Muhamad bin Ubaid ath-Thanafisi, Muthalib bin Jiyyad, Yahya bin Abi Zaidah, Abu Yusuf , Waki’î, Ibnu Numair, Abdul Rahman bin Mahdi, Yazid bin Harun Abdul Razak, Imam Syafi’i dan yang lainnya.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam ilmu hadits, ia memulai belajarnya dari Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithi, yang pada waktu itu merupakan <em>Grand Syeh</em> dalam bidang hadits di kota Baghdad. Ahmad bin Hanbal ber-<em>mulâzamah</em> (belajar) kepada beliau selama empat tahun dan ia mendapatkan (menulis) hadits sampai 3000 hadits. Setelah dari sana, ia melanjutkan <em>study toor</em>-nya ke negri <em>Hadraalmaut</em> (yaman), Kuffah, Basrah, Madinah, dan Makkah.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ibnu Katsir dalam kitabnya menyebutkan bahwa Imam Ahmad mulai mencari hadits ketika ia berumur 16 tahun.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ketika Imam Ahmad melaksanakan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah, ia bertemu dengan Imam Syafi’i, Imam Ahmad merasa kagum terhadap kebesaran dan keluasan ilmunya, sehingga Ahmad bin Hanbal ber-<em>mulâzamah </em><span> </span>kepada Imam Syafi’i. Dari sinilah tali silaturahmi antara Imam Ahmad dan Imam Syafi’i semakin erat, setelah itu ikatan mereka semakin dipererat lagi ketika Imam Syafi’i datang ke Baghdad, dan hal ini menghantarkan Imam Ahmad untuk terus menggali ilmunya, mulai dari fiqh, ushul-fiqh dan yang lainnya.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ketika Imam Syafi’i “hijrah” ke Mesir, sebetulnya Imam Ahmad pun hendak mengikuti jejaknya, namun disayangkan karena beberapa hal yang menghalanginya, ia mengurunkan niatnya untuk mengikuti jejak gurunya itu. Walaupun Imam Syafi’i berada di Mesir, dan imam Ahmad berada di Baghdad, hal ini tidak sampai memutuskan hubungan mereka. Keduanya biasa bertukar pikiran dan berhubungan lewat surat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Ahmad bin Hanbal mulai mengamalkan keilmuannya semenjak ia berumur empat puluh tahun, hujjah yang dijadikan alasannya ialah bahwa Rasulullah pun mulai menyebarkan dakwahnya semenjak ia berumur empat puluh tahun. Diantara murid-muridnya ialah Abdurrahman bin Mahdi, Abu <span style="text-decoration:underline;">H</span>âtim ar-Razi, Musa bin Harun, Baqi bin Muhlid, al-Andalusi, Ali bin Almadini, Muhamad bin Ismail Albukhari, Muslim bin al-Hujaj an-Naesaburi dan Abu Dawud. Tiga muridnya yang disebutkan terakhir inilah yang langsung meriwayatkan hadits Imam Ahmad. Selain mereka muridnya juga sekaligus anaknya sendiri yaitu Abdullah dan Shalih bin Ahmad.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<h2 style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Metodologi hadits</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam hal ini, Ahmad mewariskan karya monumentalnya, berupa kitab <em>al-Musnad</em>, kitab sebanyak 20 jilid (ini setelah dirangkai, disusun dan direpisi oleh anaknya dan murid-muridnya), kitab ini memuat ribuan hadits. Imam Ahmad sendiri termasuk hafizh dalam bidang hadits .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Imam Ahmad menghimpun al-Musnad dan meneliti haditsnya, dan menyandarkan hadits-haditsnya dari kalangan sahabat serta mengkhususkan setiap sahabat satu musnad.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Selain itu, setelah ia mencatat dan mengkomparasikannya dengan al-Qur’an.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Imam Ahmad menulis al-Musnad sangat lama sekali, hal ini ia lakukan hingga menjelang usia senjanya. Ia menulis Musnad secara terpisah-pisah, yang kemudian dirangkai dan disusun oleh anaknya Abdullah dan Shalih bin Ahmad serta beberapa muridnya.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam al-Musnad memang semuanya bukan hadits yang shahih, terdapat juga hadits-hadits yang dha’if. Hal ini sebagaimana yang Ia ungkapkan: “<em>dalam menulis kitab al-Musnad ini, saya bermaksud menghimpun hadits-hadits yang masyhur, sehingga apabila aku bermaksud untuk meriwayatkan seluruh hadits yang shahih menurutku. Maka saya tidak meriwayatkan Musnad ini kecuali sejumlah kecil hadits saja, akan tetapi, aku tidak meninggalkan hadits yang dha’if, jika dalam bab yang bersangkutan tidak ada hadits yang mewakilinya</em>”.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dari sini jelas adanya bahwa dalam Musnad itu terdapat hadits yang dhai’if, hal ini sebagaimana diakui oleh Imam Ahmad sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Selain itu, dalam <em>ashah-ul asânîd</em> (sisilatu sanad) Imam Ahmad berbeda dengan Imam-imam sesudahnya, seperti Imam Bukhari. Artinya, <em>ashah-ul asanîdnya</em> Imam Ahmad berbeda dengan <em>ashah-ul asânîd</em>-nya Imam Bukhari. Seperti <em>asha-ul asânîd</em>-nya Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawayh ialah Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Imam Bukhari ialah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Dalam Musnadnya Imam Ahmad menghimpun 18 musnad dari 66 jalan. Sebanyak inilah sanad yang dihimpun oleh Imam Ahmad.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Musnad Al-Kabir ini berisi 30000 hadis, sebagai hasil menyaring lebih dari 750 000 hadis. Tetapi sebagian ulama menyebut bahwa di dalamnya ada juga hadis-hadis yang lemah.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:27pt;"><span style="font-family:&quot;">Imam Ahmad, selain sebagai seoarang muhaddits, juga ia terlkenal sebagai seorang <em>fuqaha</em> (ahli fiqh) dan menjadi salah satu Imam dari Madzhab Hanbali. Ahmad bin Hanbal menjadikan konsep hukumnya dengan lima langkah. <em>Pertama</em>, al-Qur’an. Hal ini sebagaimana firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:27pt;"><em><span style="font-family:&quot;">Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Qur’an.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[15]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></em><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:27pt;"><em><span style="font-family:&quot;">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;">, sunnah. <em>Ketiga,</em> Ijma <em>ahlul aqdi wal hilli</em>. <em>Keempat</em>, perkataan sahabat, hal ini di sandarkan dari hadits:<em> “sahabat-sahabatku seperti bintang, jika kamu mengikutinya pasti akan memberikan petunjuk terhadap kamu”</em>.<em> Kelima</em>, Qiyâs. Imam ahmad juga mengingkari konsep Istihsân.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Karya monumentalnya ialah <em>al-Musnad</em>. Madzhab ini banyak tersebar di negara Saudi Arabia.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><strong><em><span style="font-family:&quot;">Karya-karya Imam Ahmad bin Hanbal</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Imam Ahmad, selain seorang muhadits, <em>fuqaha</em> juga ulama<span> </span>yang produktif dalam tulis menulis, karya belaiu yang paling terkenal dan <em>Masterpiece</em>nya ialah al-Musnad. Selain itu ada juga buku yang lainnya, seperti Tafsîr, an-Nâsikh Wal Mansûkh, al-Muqaddam wal Muakhar Fî Kitâb-il ‘Llâh, Jawâb-ul Qur’an, al-Manâsik-ul Kab‑îr, Almanâsik-ul ‘Shagîr, dan yang lainnya. Sementara kitab yang tersebar sampai sekarang, yang di himpun kembali oleh imam abu Daud dan Rasyid Ridla ialah kitab: Kitâb-u ash-Shalât, Kitâb Shagîr, Kitâb-ul ‘Sunnah, Risâlat-u Shagîrah, Kitâb-ul Wara’, Kitâb-ul Zuhud, dan yang lainnya.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="text-transform:uppercase;"></span></span></p>
<h2 style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ahmad bin Hanbal Dalam Pandangan Para Ulama</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Imam Syafi’i berkata : “<em>tidaklah aku meninggalkan baghdad, kecuali aku tinggalkan ahmad bin hanbal dalam keluasan ilmu dan kefaqihan. Ia imam dalam delapan hal, iamm hadits, fiqh, luhgah, qur’an, faqir, zuhud, dan imamnya sunnah</em>”.<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Qutaibah berkata: “<em>Sufyan ats-Tsauri wafat, maka hilanglah kewara’an ummat. Imam Syafi’i wafat, maka hilanglah sunnah-sunnah dan imam Ahmad wafat menyebarlah kebid’ahan. Imam Ahmad adalah ulama pewaris Nabi yang benar menempati posisinya sebagai penuntun ummat</em>”.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Ishaq bin Rahawayh berkata: “<em>Imam Ahmad ialah hujjah antara Allah dan hambanya-Nya di muka bumi ini</em>”<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Yahya bin Muayyin berkata: “<em>umat berharap kepadaku supaya seperti Ahmad bin Hanbal. Demi Allah tidaklah aku sedikitpun sepertri dia, karena aku tidak mampu mengikuti jejaknya</em>”.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Hilal bin ‘Alâ berkata: “<em>Allah swt telah menganugrahkan kepada umat ini dengan empat Imam. Imam Syafi’i, ahli hadits serta mampu menginterpretasikannya, juga menjelaskan antara yang mujmal dan mufahshal, khusus dan umumnya, nasikh dan mansukhnya.<span> </span>Abi Ubaid yang telah menjelaskan keasingannya. Yahya bin Muayyan telah menghilangkan kebohongan dalam hadits. Dan Ahmad bin Hanbal yang bersabar dalam mihnah (ujiannya sangat berat), tapi ia sangat sabar dan istiqamah. Kalaulah tidak ada mereka, maka celakalah ummat ini</em>”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Abu bakar al-Atsram berkata: “<em>tidaklah aku melihat orang yang paling mengetahui dalam sunnah kecuali Imam Ahmad bin Hanbal</em>”.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Berkata Abdurrahman an-Nasâî: “<em>Imam Ahmad bin Hanbal ialah ulama pandai dalam hadits, fiqh, wara, zuhud dan sabar</em>”.<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></span></p>
<h2 style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Wafatnya Imam Ahmad</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Menjelang usianya yang senja, pada tahun 241 H. Imam Ahmad bin Hanbal terkena sakit yang kronis, selama sembilan hari ia sakit, dan akhirnya pada hari jum’at, 12 Rabiul Awal 241 H. ia meninggal dunia di panggil Sang Maha Kuasa untuk menghadap-Nya. Dalam masa sakitnya ini masyarakat Baghdad, khususnya penguasa mengalami kebingungan karena disibukkan dengan para pelayat yang ingin melayat beliau. Yang menjadi menarik dalam kejadian ini ialah, bahwa ketika beliau terkena sakit bukan hanya kaum muslimin saja yang ikut melayat, tapi juga orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan yang lainnya pun ikut melayatnya.<span class="MsoFootnoteReference"> <a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-family:&quot;">Pada tahun 241 H. inilah umat Islam kehilangan salah seorang ulama terbaiknya, bukan saja masayarakat Bagdad yang menmgalami <em>‘Âm al-Hazn</em>. Tapi seluruh umat manusia pun ikut bersedih atas wafatnya Imam Ahmad. Selama seminggu kuburannya penuh orang-orang berdesakan untuk menshalatkannya. Sahabat imam Ahmad, Abu Hasan at-Tamimy harus rela menunggu selama seminggu hanya untuk melakukan salat di kuburannya secara langsung.<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Setelah wafatnya belaiu sekitar 20.000 orang lebih dari kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi memeluk ajarana Islam.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <em>Subhanallah</em>. <em>Wallâhu ‘alam bish-shawâb.****</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;">Ya Allah ya tuhan kami, jika kami mencintai-Mu karena takut akan neraka maka siksalah aku dengan api-Mu. Dan jika aku beribadah karena mengararapkan surga-Mu, maka haramkanlah aku untuk memasukinya. Dan jika aku beribadah karena cinta kepada-Mu dan rindu tuk menemui-Mu, maka buatlah aku dengan apa yang Kau mau.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;"> </span></em></p>
<h3><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pinggiran kota Cairo</span></h3>
<h4><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">El-hây el-Âsyir endah</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span style="font-family:&quot;">Markaz besar FOSPI</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;">Teruntuk saudara-saudara seperjuangan kita tegakkan dan syi’arkan nilai-nilai Ilahi dalam segala aktifitas kita. <span style="text-transform:uppercase;">A</span>min.</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><br /> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Makalah ini diobrolkan bareng kawan-kawan di sekretariat FOSPI, dalam acara Bidang Taklim. Pada hari kamis, 21 maret 2002 M. </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal. <em>Al-Musnad</em>. Dar el-Hadits, Cairo, Egypt, 1995. Cetakan Pertama Vol. I. Hal 88-89.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">. Dr. Mushthfâ al-Syuk’ah. <em>Islâm Bilâ Madzâhib</em>. Dâr Al-Mishriyyah Al-Libnaniyyah. Cairo, Egypt, 2000. Cet. XIV. Hal. 465</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal. <em>Ibid</em>. Hal. 67.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Dr. mushthfa al-Syuk’ah. <em>Ibid</em>. hal.464. lihat juga <em>al-Musnad</em> hal. 68.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Imam al-Hâfizh Abul Fidâ Ismail bin Katsir ad-Damsyiqai. Al-Bidayatu Wa al-Nihayatu. Dar at-Turats al-Arabi. Beirut, Libanon, 1993. Vol. X. Hal 359.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid.</em> hal. 464. jika kita melihat, memang aliran fiqh Hanbali merupakan hasil komparasi antara ilmu beliau dan gaya pemikiran fiqh Imam Syafi’i.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal. <em>Ibid</em>. hal. 67-68.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Abdurahman asy-Syarqawi, <em>Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan 5 Imam Madzhab Terkemuka</em>. Al-Bayan Kelompok Penerbit Mizan, Cetakan Pertama, Nopember 1994. Hal 165.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid.</em> 165.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid</em>. Hal. 166.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid.</em> Hal. 166.</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Lihat Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal, dalam al-Musnadnya. Hal. 140-142.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> www. Isnet.com dalam artikel <em>Dasar-dasar Islam</em>. Lihat juga buku Islâm Bilâ madczâhib. Hal 485.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Q.S. al-An’am 6:38. dalam Alqur’an dan terjemahannya yang di keluarkan Depag, maksud ini ialah, sebagaimana para Mufassirîn menjelaskan al-Kitab ini dengan <em>lauhul mahfuzh</em>. Dan ada pula yang menafsirkannya: “bahwa al-qur’an itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. </span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 482</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Prof. Dr. Ali Mar’î.Ibid.<em> Al-Mawshû’ah Al-Islâmiyyah Al-‘Âmmah.</em> Di bawah pengawasan Prof. Dr. Mahmûd Hamdî Zaqzûq, Mentri Agama Republik Arab Mesir,<span> </span>dan Direktur <em>Majlis A’la Li Syu’ûn Al-Islâmiyyah</em>. Cairo, Mesir 2001 M./1422 H. Hal. 1276</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Dr. Mushtafa al-SYuk’ah. <em>Ibid</em>.Hal. 485.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid.</em> hal. 464. lihat juga <em>Bidayah Wa Nihayah</em>, karangan Ibnu Katsir vol.X. Hal. 369.</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Ibnu Katsir. <em>Ibid</em>. hal 369. Imam Ahmad juga terkenal sebagai ulama yang selalu memberantas bid’ah.</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid</em>. Hal. 370</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>ibid</em>. Hal. 370.</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Imam Ahmad bin Hanbal. <em>Ibid.</em> Hal. 74.</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Ibid. hal. 78.</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. <em>Ibid</em>. Hal. 370.</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> I<em>bid</em>. Hal. 487.</span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[27]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"> <em>Ibid</em>. Hal. 468.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/265/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/265/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=265&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-ahmad-bin-hanbal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Ad-Darimi &amp; Kitabnya As-Sunan</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-ad-darimi-kitabnya-as-sunan/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-ad-darimi-kitabnya-as-sunan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 04:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Imam ad-Dârimî &#38; Kitabnya as-Sunan[1]
Oleh. Ahmad Junaidi, Lc. Dipl.
Biografi
Beliau adalah Al-Hafizh al-Imam Abdullah bin Abdul Rahman bin Fadhl bin Bahram bin Abdillah abu Muhmad ad-Darimi as-Samarqandi.[2] ad-Darimi adalah nama lengkapnya Darim bin Malik bin Handalah bin Zaid bin Munah bin Tamim.[3] Ia di lahirkan pada taun 181 H (ada juga yang berpendapat 182) atau bertepatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=264&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoTitle"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Imam ad-Dârimî &amp; Kitabnya as-Sunan<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&quot;">Oleh. Ahmad Junaidi, Lc. Dipl.</span></p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Biografi</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Beliau adalah Al-Hafizh al-Imam Abdullah bin Abdul Rahman bin Fadhl bin Bahram bin Abdillah abu Muhmad ad-Darimi as-Samarqandi.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> ad-Darimi adalah nama lengkapnya Darim bin Malik bin Handalah bin Zaid bin Munah bin Tamim.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ia di lahirkan pada taun 181 H (ada juga yang berpendapat 182) atau bertepatan dengan tahun 797 M.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<h1 style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Keilmuan</span></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sebagai seorang yang bertekad menjadi penyebar hadits dan sunnah, maka syarat-syarat sebagai seorang rawi sejati menjadi satu kemestian untuk dimiliki. Diantaranya ia mesti terlebih dahulu belajar dan berguru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">a. guru-guru beliau</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Yazid bin Tharus, Nadzar bin Syumail (paling awal meninggal diantara guru-gurunya), imam Muslim dan yang lainnya.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dan setelah mendapatkan ilmu dan memulai menapaki masa-masa kematangan intelektualnya, beliaupun mulai mengajar dan berkarya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">b. Murid-murid beliau</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Abdullah bin Beumaid (ia adalah murid paling awal/pertama).<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">c. karya beliau</span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Sunan ad-Darimi (ada juga yang menyebutnya al-Jam’u ash-Shahiih) </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Tsulutsiyat (kitab hadits)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">al-Musnad</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Tafsir <a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">karenanya menjadi tidak mengherankan jika kemudian para ulama memuji dan menyanjung keilmuan beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">1. Imam Ahmad bin Hanbal memuji beliau dan menggelarinya dengan gelar “imam” dan berpesan agar menjadikannya rujukan (seraya ucapannya diulang-ulang).<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">2. Muhamad bin Basyar (bundar) berkata : “penghapal kaliber dunia ada empat: Abu Zur’ah ar-Razi, Muslim an-Nasaiburi, Abdullah bin Abdul Rahman di Samarqandi dan Muhamad bin Ismail di Bukhari”.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p><span id="more-264"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Abu Harits ar-Razi berkata: “…dan Abdullah bin Abdurrahman paling kuat (<em>atsbat</em>) di antara mereka (Bukhari, Muhamad bin Yahya dan Muhamad bin Aslam).<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sebagai seorang imam (barangkali profesor/guru besar sekarang) ilmu yang dikuasainya tidak terbatas kepada satu macam saja. Pantas saja jika para ulama menempatkan beliau<span> </span>sebagai seorang ahli tafsir yang sempurna mumpuni dan seorang ahli fiqh yang alim.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sudah barang tentu, penghargaan ulama seperti ini kepada beliau bukanlah datang dengan tiba-tiba &#8211;bim salabim&#8211;. Hal ini merupakan buah atau hasil dari sebuah proses panjang dalam hidup <em>rabbani</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Abu Bakar al-Khilib al-Baghdadi melukiskan hal ini dalam buku beliau <em>tarikh baghdad</em>,<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dan kemudian di nukil<span> </span>oleh adz-Dzahabi, ia berkata: “ia salah seorang pengembara sejati dalm mencari hadits atau memiliki kekuatan hapalan, dalm mengumpulkan hadits secara propesional (itqan)……”.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Adz-Dzahabi menjulukinya dengan <em>tawafal</em> (mengelilingi banyak negeri) menjadi seorang imam, tentu saja sebuah gelar yang besar/agung. Kebesaran ini menjadi lengkap, karena ternyata beliau memang seorang imam seperti dalam makna yang sesungguhnya, luar dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Muhamad bin Ibrahiem bin Manshur as-Saerozi: “Abdullah adalah puncak kecerdasan dan konsistensi beragama, di antara orang yang menjadi teladan/perumpamaan dalam kesantunan, keilmuan, hafalan, ibadah dan juhud….”.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Bahkan imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa suatu ketika ditawarkan kepada beliau materi (dunia) tetapi beliau tidak menerimanya.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">d.Wafat beliau</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Beliau meninggal dunia pada hari Kamis, 8<span> </span>Dzulhidjah (hari tasriah) setelah ashar tahun 225 H<span> </span>/69 M, dalam usia 75 tahun. Dan dikuburkan keesokan harinya, Jumat (hari Arafah).<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">Kitab<span> </span>“Sunan”: </span></span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Nama kitab:</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dari dua ahli sejarah lama, Adzahabi dan Ibnul Imad,<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> menyebutnya dengan “al-Musnad” juga dalam photo copy manuskrip (<em>makhtuth</em>) di Tendiyas India.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dan dari dua ahli sejarah kontemporer, Umar Ridla Kahalah<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dan ad-Darakli,<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>menyebutkan dengan “as-Sunan atau Sunan ad-Darimi”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dan setelah mempelajari susunan bab-bab (kitab yang telah di cetak) disusun sesuai dengan bab-bab fiqh, maka lebih tepat di sebut dengan “Sunan”.<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">cetakan kitab sampai tahun 1997, sudah ada lima cetakan kitab sunan      ad-Darimi.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Pada tahun 1293 H di Kanbower, dengan tebal halaman 467.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Pada tahun 1346 H di Cairo, dalam dua jilid, diperbanyak oleh M.       Ahmad Rahman.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Pada tahun 1404 H, dengan takhrij, tahqiq, ta’liq: Abdullah Hasyim       Yamani Al-Madani di Faishal Abad dalam dua jilid. Juga di Cairo pada       tahun tersebut di <em>Dar Ihya as-Sunnah ar-Rabiyyah</em> dalam dua jilid       juga.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Pada tahun 1405 H di Cairo, tahqiq bagian ke tiga dalam disertasi       doktoral setebal 1110 halaman oleh Abdul Qayyim Abdul Rabi Nabbiy       al-Fakistani dengan dosen pembimbing M. Syaukani Khadr as-Sayyid.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">pada tahun 1412 H di Damaskus, tahqiq, syarh, dan daftar isi<span> </span>Dr. Mushthafa Diib al-Bugha.</span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">kedudukan Sunan ad-Darimi:</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">sejarah yang saya ketahui, Sunan ad-Darimi, mendapatkan perhatian lebih dari para peneliti (<em>bahitsin</em>), terutamanya setelah muncul al-Mujtamul Mufahrats Li Alfazdil Hadits, dimana Sunan ad-Darimi menjadi salah satu rujukan Mu’jam tersebut, sehingga jika kemudian disebut <em>Kutub at-Tis’ah</em>, maka masuklah Sunan ad-Darimi di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Adapun dalam tulisan-tulisan ulama terdahulu, tentang pembahasan-pembahasan atau istilah-istilah tertentu yang berkaitan dengan kitab-kitab hadits, maka jarang di masukkan, contoh: ketika membahas tentang syarat-syarat kitab-kitab hadits tertentu, seperti Abu Bakar Muhamad Musa al-Hazimi (w. 584 H) dalam kitabnya <em>syurutul……….khamsah</em>, atau Abu Fadhl bin Thahir al-Maqdisi (w. 507 H), (dalam kitabnya <em>syurutul….sittah</em> lebih lanjut, apakah tesis/desertasi atau kajian/tulisan non akademis? Saya belum melihatnya), hanya melihat 5/6 kitab dan tidak termasuk di dalamnya Sunan ad-Darimi. <em>Wallahu a’lam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sampai sejauh ini kajian atau penelitian yang mendalam –selain dari tahqiq, tq’liq, syarh dan yang sejenisnya—belum saya jumpai, sampaipun dalam tesis-tesis atau disertasi-desirtasi. Di berbagai universitas di negeri Arab, ada satu judul buku “<em>Imam ad-Darimi Atsaruhu Fil Hadits</em>”<span> </span>dalam catatan kaki sebuah buku, namun tidak rinci. Karenannya saya pribadi tidak bisa menulis lebih dari sekedar memperkenalkan secara sangat kasat tentang buku ini.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">isi Sunan ad-Darimi</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span><span> </span>- kitab ini di mulai dengan muqaddimah yang berisi bab-bab pengantar seperti:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">kondisi manusia sebelum islam</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">tentang sifat, mu’jizat Nabi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">tentang fatwa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">tentang ilmu dan orang berilmu </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:117pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Didalamnya terdapat 654 hadits, dan yang lainnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- kemudian di sambung dengan kitab Taharah, kitab Shalat dan di akhiri dengan kitab Fadhail al-Qur’an. Jumlah kitab dalam Sunan Darimi seluruhnya berjumlah 23 kitab, dan dalam setiap kitab terdapat bab, di dalam bab-bab inilah beliau menyebutkan hadits-hadits yang sesuai dengan judul bab yang di maksud.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">jumlah hadit-hadits dan kedudukannya:</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- dari hitungan Dr. Mushthafa Diib al-Bugha: “terdapat sebanyak 3375 hadits dalam sunan darimi termasuk hadits-hadits yang termaktub dalam muqaddimah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">- sejauh ini, saya belum mengetahui sebuah study dan penelitian yang detail dan mendalam tentang persentase kekuatan/kedudukan hadits-hadits Sunan ad- Darimi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Barangkali, dari contoh-contoh riwayat beliau yang di nukil sebagian oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya <em>Siyar ‘Ilam Nubala</em>,<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dapat disimpulkan, bahwa sebagian hadits beliau ada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, artinya riwayatnya termasuk kategori shahih. Dan ada yang masuk dalam kategori <em>Gharibul Isnad</em>. Seperti halnya karakter dari kitab sunan yang menekankan kepada hadits-hadits hukum, maka kemungkinan adanya hadits-hadits yang tidak shahih adalah wajar. Karena para penulis (<em>mukharrij sunan</em>) tidak mensyaratkan hal itu (hanya meriwayatkan yang shahih saja). <em>Wallahu ‘alam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;">penutup</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> Makalah ini diobrolkan dalam acara Bidang Taklim Forum Silaturahmi Persatuan Islam (FOSPI) Cairo Mesir, hari Rabu, 17 April 2002 M, bertepatan, 4 Shafar 1423 H.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>Syamsuddin adz-Dzahabi, <em>Syar ‘Alam Nubala</em>. Dar Fikr. Vol. X. Hal. 173. lihat juga, <em>al-A’lam</em>. Vol. IV. Hal 95. juga <em>Mu’jam-ul ‘Muallifîn.</em> Vol.VI. Hal.71. Sebagaimana dituturkannya sendiri (saya di lahirkan pada tahun wafatnya Ibnu Mubarak 181 H.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span><em>ibid.</em></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>Umar Ridlo. <em>Mu’jamul Muallifîn</em>. Vol. VI. Hal. 71</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>Syamsudin adz-Dzahabi. <em>ibid</em></span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span><em>ibid</em></span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>Umar Ridlo.<em>ibid</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>Khairuddin az-Zarakli. <em>al-A’lam</em>. <em>Dar ilmi lil Malaayin</em>. Vol. IV. Hal. 95.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>Syamsudin adz-Dzahabi. <em>Ibid.</em> Hal. 174 </span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span><em>Ibid</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>ibid</em>. Vol. X. Hal. 29 (lihat catatan kaki Hijaz<span> </span>hal 175).</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>. Hal 175</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>. Hal 174</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>. Hal 175</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>. Hal 175. lihat juga, Imam al-Hambali, <em>Syarat-udz Dzahabi Fî Akbarinan Ad Dazahabi</em>. Dar al-fikr Al-Arabiyah. Vol. II. Hal. 130</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> Imam al-Hambali, <em>Syarat-udz Dzahabi Fî Akbarinan Ad Dazahabi</em>. Dar al-fikr Al-Arabiyah. Vol. II. Hal. 130</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"><span> </span>pengantar dan pentajdid<span> </span>Sunan ad-Darimi, Dr. Mushthafa Diib al-Bugha</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>. Vol. VI. Hal. 71.</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> <em>Ibid</em>. Vol. IV. Hal. 95, tetapi ia menyebutnya nama lain, yaitu<span> </span><em>ash-Shahih</em> bukan dari al-Musnad.. </span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> Sunan dalam istilah pembagian kitab-kitab hadits. Definisi sunan adalah kitab yang di susun sesuai dengan bab-bab fiqh, thaharah, shalat dll. Risalah manuskrif hal. 33. sementara definisi musnad ialah kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan sahabat ……..</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> Muhyidin…….Vol. II. Hal. 521</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-GB">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-GB"> vol. X hal 176 dan seterusnya.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/264/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/264/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=264&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-ad-darimi-kitabnya-as-sunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Abu Daud</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-abu-daud/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-abu-daud/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 04:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah )]]></category>
		<category><![CDATA[LBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Imam Abu Daud
 Oleh : Arif Rahman Shiddiq
 
Namanya
 
Ada beberapa persi yang mengatakan Nama Imam Abu daud diantaranya:
Al- Hafid Ibnu katsir menyesebutkan : Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Sadad bin Yahya Ibnu Imron Abu daud as-Sajastani.1
Al-Hafid Jalaludien as-Suyuti menyebutkan : Sulaiman bin al-Asy’ats bin basyir bin sadad bin amru bin Imron [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=262&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1 style="text-align:center;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;font-weight:normal;" lang="IN">Imam Abu Daud</span></h1>
<h2><span style="font-weight:normal;" lang="IN"> Oleh : Arif Rahman Shiddiq</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<h3><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;text-decoration:none;" lang="IN">Namanya</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ada beberapa persi yang mengatakan Nama Imam Abu daud diantaranya:</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Al- Hafid Ibnu katsir menyesebutkan : Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Sadad bin Yahya Ibnu Imron Abu daud as-Sajastani.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Hafid Jalaludien as-Suyuti menyebutkan : Sulaiman bin al-Asy’ats bin basyir bin sadad bin amru bin Imron al-azadi as-Sajastani.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Sedangkan ada lagi yang menyebutkan dalam Buku khusus yang menceritakan sejarah Imam Abu daud disana disebutkan : Imam Atsabat (orang yang adil dan dlobit) Abu daud Sulaiman ibnu Al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Sadad bin amru al-Azadi as-Sijistani. Ada juga yang mengatakan Sulaiman bin Asy’ats bin sadad bin amru bin ‘Amir.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ibnu hajar Al-atsqolani menyebutkan bahwasannya Kakeknya Imron terbunuh bersama Ali bin abi Thalib didalam perang Shipin.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Azadi adalah nisbat kepada Azad yaitu qabilah terkenal (mashur) yang ada di Yaman.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Adapun as-Sijistani disini para ulama berbeda pendapat diantaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ibnu Khillikan menyebutkan bahwasannya as-Sijistaniyun dinisbatkan kepada Sijistan yaitu suatu daerah atau Propinsi yang sudah mashur. Ada juga yang berkata as-sijistaniyun dinisbatkan pada sijistan atau sijistanah yaitu suatu kampng yang ada di Busroh.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Akan tetapi Shihabudin al-hamawi meriwaatkan dari muhammad bin abi nasr bahwasannya dia tidak mengenal di Busrah ada sebuah kampungyang dinamai as-Sijistan. Tapi ada juga sebagian yanglain yang mengatakan bahwasannya di dekat daerah Ahwaz ( 7 daerah atau kota kecil terkenal yang ada diantara Busrah dan Faris, yangmasingmasingkota tersebut mempunyai nama) ada kampung yang dinamai dengan Sijistan yang terkenal itu.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">As-sam’ani menyebutkan bahwa as-sijistan dinisbatkan pada sijistan yaitu salah suatu daerah yang terkenal yang ada di kabul</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Abul aziz menyebutkan bahwasannya sijistan dinisbatkan pada “Sistan” yaitu suatu daerah terkenal yang sekarang ada di Negri Afganistan.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p><span id="more-262"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kelahirannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam abu daud hidup pada qurun ke tiga hijrah dimana dia dilahirkan pada tahun 202 H tidak ada yang menyebutkan tanggal hari dan bulannya.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference">8</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dia tingal di busrah pada masa pemerintahan Abasiyah dimana pada waktu itu sedang berkembang pesat Ulumul Islamiyah seperti Ulumul Qur’an, Tafsir dan juga Ulumul Hadits. Bahkan pada saat itu banyak bermunculan pengarang dan yang menyusun buku Sirah Nabawi, Tarikh dan lainsebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam Abu Daud hidup pada masa Para Muhadits diantaranya seperti Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, Bukhori, Muslim dan lain sebagainya.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference">9</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam abu daud adalah salah satu imam hadits yang sering keluar berkeliling ke negri Islam yang mana disana terdapat para syekh yang mengajarkan tentang hadits diantaranya ke Negri syam, Mesir, Iraq, Kharsan, aljazair dan lain sebaginya. Bahkan dia tidak hanya sekali datang mengunjungi kota Bagdad bahkan ada yangmengatakan bahwa kitab As-Sunan nya pun di susun disana.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Guru-gurunya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Iman abu daud adala salah satu Iman yang seringberkeliling mencari hadits ke negri Islam yang mana disana terdapat para Kibar Muhadits, bahkan beliau menconto kepada syekh-syekhnya yang mana mereka adalah orang-orangyangtsiqat dan Amanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Al-Hafid Ibnu hajar al-Asqolani menyebutkan : Syekh Imam abu daud dalam kitab as-Sunan dan yanglainnya ada sekitar 300 orang, diantaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ahmad bin Muhammmad bin      Hanbal as-syaibani al-bagdadi lahir pada tahun164 H dan wafat pada tahun      241 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Yahya bin Ma’in Abu      Zakariya meninggal di madinah pada tahun 233 H </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ishaq bin Rohawiyyah abu      ya’kub al-Handoli lahir pada tahun 161 H dan wafat pada pertengahan      sya’ban tahun 238 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Utsman bin Muhammad bin      abi syaibah abu al-hasan al-abasi al-kufi meninggal pada tahun 239 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Muslim bin Ibrahiem      al-Azdi meningal pada tahun 222 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Abdullah bin maslamah bin      qo’nab al-qo’nabi al-harits al-madani meninggal di makkah pada tahun 221 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Musaddad bin Musarhad      ibnu Musarbal wafat pada tahun 228</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Musa bin Ismail at-Tamimi      wafat pada tahun 223 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Muhammad bin Basar wafat      pada tahun 252 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Zuher bin harbi wafat pada tahun 234 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Umar bin Khotob      as-sijistani wafat pada tahun 264 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Abu Utsman ( Amru naqid      bin muhammad bin bakir wafat pada tahun 222 H</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">As-soleh abu sirri      (Hannad bin sirri) wafat pada tahun 243 H </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">dan lain sebagainya<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Muridnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Banyak sekali murid Imam Abu Daud yang mungkin tidak bisa di sebutkan semuanya<span> </span>hanya mungkin saja kita bisa menggambil dua atu tiga diantara murid imam abu daud sebagaimana di sebutkan oleh adzahabi bahwasannya Imam Atirmidzi dan an-Nasai adalah diantara murid Imam Abu Daud</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ibnu atsir menyebutkan juga diantara murid Imam abu daud adalah anaknya sendiri yaitu Abu bakar abdullah, Abu Abdurahman an-nasai dan abu bakar ahmad bin Salman an-Najad dia adalah diantara orang orang yang terakhir meriwayatkan hadits dari abu daud<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pekataan para Ulama</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Abu Hatim berkata : Abu daud adalah seorang Imam yang Faqih, Alim, Hufad Wara rajin beribadah dan Itqan.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Abu Musa berkata : Abu daud hanya mempelajari Ilmu Fiqh kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan ada sebagian ulama yang yang berkata bahwa Imam abu Daud menyerupai (seperti) Imam Ahmad bin hanbal didalam prilaku ketenangan dan baik tingkah lakunya.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Dikatakan : Keadaan Ibnu ma’ud menyerupai nabi didalam prilaku , ketenangan dan baik ahlaknya, dan Ilqimah menyerupai Ibnu mas’ud, dan Ibrahiem menyerupai Ilqimah, dan Mansur menyerupai Ibrahiem, dan Sufyan menyerupai Mansur, dan Waki’ menyerupai Sufyan dan Ahmad menyeupai Ahmad bin Hanbal dan Abu daud menyerupai Ahmad bin Hanbal.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Musa bin Harun berkata : Abu daud diciptakan di dunia untuk Hadits dan di Akhirat untuk masuk Surga, aku belum pernah melihat orang sehebat dia.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Imam An nawawi berkata: para ulama sepakat atas pujiannya terhadap Imam Abu Daud dengan sifat-sifatnya sebagai Hufadz yang sempurna,ilmunya yang luas,wara’,paham,cerdas,dan bijaksana dalam meriwayatkan hadits dan yang lainnya.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Abu Abdulloh Bin Manduh berkata: Orang-orang yang mengeluarkan hadits dan yang memisah-misahkan antara hadits yang tsabit dengan yang ma’lul kemudian yang salah dengan yang benar adalah empat yaitu:Bukhori,Muslim kemudian setelah kedua Imam tersebut baru Imam Abu Daud dan Nasai.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mazdhab fiqihnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan madzhab Imam Abu Daud ada yang menyebutkan bahwa dia bermazdhab Hanbali ada juga yang menyebutkan Asy syfiie.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Syeh Abu Ishaq Asy syairozi<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference">19</span></a> didalam bukunya “Thobaqot Alfuqoha”menyebutkan bahwa Abu Daud adalah Hanabilah begitu juga Al qodli Ibnu Abi Ya’la dalam bukunya “Thobaqot Al Hanabilah”.Akan tetapi<span> </span>sayyid Shiddiq Hassan menybutkan dalam kitabnya “Abjadu Al ulum” Bukhori,Abu Daud dan Nasai adalah syafiiyyah.<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Musthofa Bin Abdulloh dalam bukunya “Kasyfu Ad-dunun” menyebutkan Abu Daud dalam madzhabnya: Bahwa hadits dloif lebih kuat daripada pendapat orang,dan ini adalah perkataan para ulama diantaranya Ahmad Bin Hanbal oleh sebab itu Abu Daud begitu juga Tirmidzi menyerupai atau sama dengan Imam Ahmad Bin Hambal yaitu sebagai mujtahid mutlaq .<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference">21</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Syeikh Ibnu Qoyyim dalam “’ilam almuwaqi’in” menyebtkan Bukhori,Muslim dan Abu Daud adalah Hanbaliyyah begitu juga Ibnu Abi ya’la dalam bukunya “Thobaqot Al hanabilah”.Akan tetapi Taj As subki tidak menyebutkan dalam bukunya “Tobaqot As syafi’iyyah” kecuali<span> </span>Bukhori,Abu Daud dan An nasai.<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Syeikh Muhammad Zakariya berkata sesungguhnya para ulama berbeda pendapat dalam masalah Imam-imam hadits, sebagian mengatakan semuanya dari golongan dari mujtahidin dan sebagian lainnya mengatakan dari muqolidin adapun saya cenderung bahwasanya Imam Abu Daud adalah Hanabillah seperti At tohawi adalah Hanafiyyah.<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Wafatnya Imam Abu daud</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam abu daud meninggal di Busrah pada hari Jum’at tanggal 16 sawal tahun 275 H dan dikuburkan di pinggir makam Sufyan atsauri<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Anaknya</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam abu daud meninggalkan anak yang bernama Abdullah dan dia termasuk muridnya Imam abu daud dimana dia yaitu Abu bakar Abdullah bin abi Daud menjadi hufad kabir. Dilahirkan pada tahun 230 H dan meninggal pada tahun 316 H.<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sunan Abi Daud</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Kebanyakan rata-rata penyusun kitab Hadits didalamnya terdapat kitab kitab dan Bab diantaranya terdiri dari Ahkam, fadloilul ‘amal, Kisah- kisah, Nasihat, adab dan tafsir dan lain sebagainya. Sehingga datang Imam abu daud dan menyusun kitab “as-Sunan” disusun secara khusus tentang hadits Ahkam wal Istiqsa.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dan perlu diketahui juga bahwasannya dalam kitab as-sunan terdapat istilah istilah khusus seperti Alkatani berkata : Dan bahwasanya istilah istilah tersebut ada dalam kitab yang tersusun menurut bab-bab masalah Fiqih mulai dari bab toharah, Sholat zakat&#8230;. tidak terdapat sedikitpun didalamnya yang Maoquf, karena maoquf tidak dikatakan sebagai sunah akan tetapi dinamakan hadits. <a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference">26</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dari sana jelas sudah<span> </span>kenapa abu daud menamai<span> </span>“as-Sunan” sebagaimana dalam risalahnya yang ditujukan untuk ahli Makah, Abu Daud berkata : Sesungguhnya aku tidak menyusun dalam kitab asunnah ini kecuali<span> </span>kitab Ahkam saja, dan aku tidak menulis kitab<span> </span>Zuhud, Fadloilul ‘amal dan lain sebagainya.<a name="_ftnref27" href="#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Abu daud menyusun kitab as-sunahnya menurut bab Fiqih dan maodlu- maodlu sar’iyyah yang dimulai dari kitab toharah dan begitu selanjutnya sampai akhir tergantung pada susunan maodlu sar’iyyah.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Diantara syarat-syarat imam Abu daud dalam kitab as-Sunan :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Apabila shohih Haditsnya, bersambung sanadnya tidak atau bukan hadits maqtu dan juga bukan hadits Mursal.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Abu daud berkata dalam Risalahnya : dan tidak terdapat dalam kitab as-sunnan yang menyusunnya dari orang yang matruk hadits, apabila terdapat hadits munkar maka dijelaskan bahwa hadits itu Munkar.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Adzahabi berkata : bahwasannya dalam kitab as-sunnan dijelaskan hadits yang jelas dloif, dan diam pada hadits yang dloif muhtamal, dan kalau diam dan berarti itu adalah tidak baik menurutnya.<a name="_ftnref28" href="#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference">28</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Kedudukan kitab as-sunan diantara kutub as-sittah</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Syekh muhammad zakariya menyebutkan : bahwasannya kitab Shahih bukhari adalah yang paling tinggi derajatnya dalam kesohihannya dan yang lainnya menurut jumhur ulama, kemudian sohih muslim kemudian baru sunan imam Abu Daud.<a name="_ftnref29" href="#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Lama Pembuatan (penyusunan) Kitab as-Sunan Abu daud</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Tidak diketahui dan didapatkan berapa lama mudah pembuatan kitab asunan tersebut, akan tetapi ketika menyusun kitab ini Imam Abu Daud memperlihatkan nya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, kemudian diperbaharui dan di perbagusinya. Ini menunjukan bahwasannya pembuatan kitab as-Sunan sebelum tahun 241 H, karena itu adalah tahun kematian Imam Ahmad bin Hanbal.<a name="_ftnref30" href="#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference">30</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Jumlah Riwayatnya</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam Abu Daud berkata dalam Risalahnya : Aku menulis dari Rosulullah saw sebanyak 500 ribu hadits, dan termasuk yang ada dalam kitab saya yang dikumpulkan sebanyak 4800 Hadits.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dan dibagi bagi kepada kitab kitab yang di setiap kitab ada bab-bab nya, diantaranya dibagi kepada 35 Kitab dimana ada 3 kitab yang tidak ada bab nya, dan ada 1871 bab yang ada dalam kitab as-sunan. <a name="_ftnref31" href="#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Khoso’is kitab as-Sunan diantarnaya :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Perkataan suyuti bahwasannya abu daud hanya membatasi didalmnya pada hadits Ahkam saja tidak ada yang lainnya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Bahwasannya imam abu daud mengumpulkan sanad-sanad pada satu sanad, kemudian memisahkan lapadznya satu persatu.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Imam abu daud menyatukan hadits yang riwayatnya bertentangan dengan penjelasan nya seperti dalam bab yang melarang buang air menghadap ke kiblat disatukan dengan bab yang membolehkan sebagai ruhsoh.</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Apabila terdapat dua atau tiga hadits dalam sau bab, beliau suka menambahkannya satu kata atau beberapa kalimat.</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Bahwasannya Imam Abu Daud meringkas Hadits yang panjang. <a name="_ftnref32" href="#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a></span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Diantara Karya- karyanya :</span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Al-marosil dicetak di kairo tahun 1310 H</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Rod ala Qodariyah</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Nasikh wal Mansukh</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Masail al-Imam Ahmad</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Kitab Zuhud</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Asilah li Ahmad bin hanbal ani ruwat wa tsiqat wadu’afa</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Kitab al-ba’ats wa an-Nusyur</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dalail an-Nubuwah</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">dan masih banyak lagi </span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">1</span></span></a><span lang="EN-GB"> Bidayah wa nihayah 11/55 dar al-manarr 2001 M</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">2</span></span></a><span lang="EN-GB"> Taribu ar-Rawie 2/885 dartaiba 1422 H</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">3</span></span></a><span lang="EN-GB"> ‘Alamu al-Muslimin Abu daud karangan Taqiyudien an-Nadwie hal 21 </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">4</span></span></a><span lang="EN-GB"> tahdzibu tahdzib 4/169</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">5</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">6</span></span></a><span lang="EN-GB"> lisanul arab<span> </span>15/158</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">7</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal. 22-23</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">8</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">9</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid<span> </span>hal 15-17</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">10</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 22-23</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">11</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 25-27 / aonul ma’bud 1/9-10 dar al-fikr 1995 M</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">12</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid<span> </span>hal 28-29</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">13</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 30</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">14</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">15</span></span></a><span lang="EN-GB"> bidayah wa nihayah 11/56</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">16</span></span></a><span lang="EN-GB"> tobaqot as-safi’iyyah 2/295 atau tahdzibu tahdzib 4/172</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">17</span></span></a><span lang="EN-GB"> tahdzibul asma wa lughat 2/225</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">18</span></span></a><span lang="EN-GB"> tahdzibu tahdzib 4/472</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">19</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibrahiem bin ali bin yusuf abu ishaq as-syaerozi meninggal tahun 476 H</span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">20</span></span></a><span lang="EN-GB"> abjad al-ulum hal 810</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">21</span></span></a><span lang="EN-GB"> kasfu adunun 2/299</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">22</span></span></a><span lang="EN-GB"> I’lam al-muwaqi’in 1/226</span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">23</span></span></a><span lang="EN-GB"> ‘Alam al muslimin abu daud hal 41</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">24</span></span></a><span lang="EN-GB"> tadrib ar-Rawie 2/885</span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">25</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 42</span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">26</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 52</span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">27</span></span></a><span lang="EN-GB"> risalah abi daud hal 34</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn28" href="#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">28</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 59-60</span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn29" href="#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">29</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 61</span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn30" href="#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">30</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 66</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn31" href="#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">31</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 67</span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn32" href="#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-GB">32</span></span></a><span lang="EN-GB"> ibid hal 69-71</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/262/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/262/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=262&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/imam-abu-daud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pers; Antara Otoritas Dan Distorsi Opini</title>
		<link>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/pers-antara-otoritas-dan-distorsi-opini/</link>
		<comments>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/pers-antara-otoritas-dan-distorsi-opini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 04:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pwkpersis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pwkpersis.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Pers; Antara Otoritas dan Distorsi Opini
- Secarik refleksi atas fenomena Jyllands Posten dan Playboy -
Oleh : Rashid Satari*
 
&#8220;Satu ujung pena lebih kutakuti daripada seribu bayonet&#8221;
(Napoleon Bonaparte)
 
Khusus untuk Indonesia, kran liberalisasi jurnalistik belum lama dibuka. Reformasi 1998 menjadi gerbang utama multi kebebasan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Amien Rais dalam sebuah antologi berjudul &#8220;Reformasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=259&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="IN">Pers; Antara Otoritas dan Distorsi Opini</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-EG"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">- Secarik refleksi atas fenomena <em>Jyllands Posten</em> dan <em>Playboy</em> -</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Oleh : Rashid Satari*</span></em><em><span dir="rtl" lang="AR-EG"></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:13pt;" dir="rtl" lang="AR-EG"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">&#8220;Satu ujung pena lebih kutakuti daripada seribu bayonet&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">(Napoleon Bonaparte)</span><span dir="rtl" lang="AR-EG"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl" lang="AR-EG"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Khusus untuk Indonesia, kran liberalisasi jurnalistik belum lama dibuka. Reformasi 1998 menjadi gerbang utama multi kebebasan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Amien Rais dalam sebuah antologi berjudul <em>&#8220;Reformasi Dalam Stagnasi&#8221;</em> mengatakan bahwa dari enam agenda reformasi, salah satunya berbunyi tentang kebebasan warga negara (dalam hal pers, bicara, ekspresi, religi dan lain sebagainya). Artinya harus diakui bahwa atmosfer bangsa kita pada pra-reformasi memang memandulkan sebagian segmentasi potensi anak bangsa. Hegemoni Orde Baru telah menginvestasikan “bom waktu” yang akhirnya meledak pada titik kulminasi tertinggi dengan kemasan reformasi.</span><span dir="rtl" lang="AR-EG"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl" lang="AR-EG"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Untung tak dapat diraih, reformasi pun mengalami stagnasi. Menurut Amien Rais, juga dalam antologi yang sama, stagnasi ini terjadi karena penyakit mental yang masih menggerogoti bangsa kita. Penyakit mental tersebut diantaranya adalah <em>mental attitude</em> bangsa. <em>Mental Attitude</em> ini berdampak pada terciptanya budaya <em>Public Dishonesty</em> (ketidakjujuran publik) dan <em>Publiclies </em>(kebohongan publik). Akhirnya bisa kita lihat bersama, kran kebebasan berekspresi yang dibuka ternyata malah mereduksi, mengalami ambivalensi dan absurditas arti. Kebebasan diartikulasikan sebagai era kebebasan yang membabi buta.</span><span dir="rtl" lang="AR-EG"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span dir="rtl" lang="AR-EG"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Pers atau dunia jurnalistik sejatinya adalah media informasi yang berposisi sebagai abdi publik. Menyajikan hidangan informasi yang objektif dan transparan merupakan lambang tanggung jawab moral pers terhadap publik. Mengutip Jalaluddin Rakhmat, <em>The American Society of Newspaper Editors</em> tahun 1923 meresmikan kode etik Jurnalistik yang kemudian terkenal sebagai <em>Canons of Journalism</em>. Kode etik itu diantaranya adalah (1) Tanggungjawab (2) Kebebasan Pers;<span> </span>kebebasan pers harus selalu dijaga sebagai hak vital manusia dan pers bebas membicarakan apa saja yang tidak dilarang hukum atau perundang-undangan.<span> </span>(3) Independensi;<span> </span>pers harus membebaskan diri dari segala kewajiban kecuali kepada kepentingan umum. (4) Ketulusan;<span> </span>kesetiaan kepada kebenaran, dan akurasi (<em>Sincerity, truthfulness, and accuracy</em>). (5) Kejujuran<span> </span>dalam menyampaikan informasi (<em>impartiality</em>).<span> </span>(6) Berlaku adil<span> </span>(<em>fair play</em>); pers harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memberikan penjelasan bandingan dari apa yang disampaikan. (7) Kesopanan (<em>Decency</em>).<span> </span>pers harus menyampaikan informasi, betapa pun terperincinya, sesuai dengan standar moral dan kesusilaan masyarakat. </span></p>
<p><span id="more-259"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Selanjutnya, idealisme pers melalui kode etiknya ini harus tersandung oleh realita aktual yang menunjukan bahwa kebebasan bersuara melalui media pers telah menjadi hak milik setiap lapisan komunitas dan individu mana saja dari masyarakat kita, mulai dari kalangan akademisi hingga politisi. Akhirnya tak jarang penerbitan pers kental dengan unsur subyektifitas kelompok yang melatarbelakanginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Atas nama kebabasan pers, subyektifitas dalam penerbitan sebuah media menjadi hal yang tak bisa dipungkiri. Dalam Pemilu Indonesia 1999 saja misalnya, setiap partai politik diberi kewenangan lebar untuk menerbitkan media, apapun bentuknya, sebagai <em>washilah</em> kampanye mereka. Dari sini bisa kita lihat, perang opini menjadi fungsi lain yang diperankan pers. Atas dasar fenomena seperti inilah akhirnya keberadaan dan peran pers dipertanyakan kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Awal 2006 Denmark mengejutkan dunia dengan <em>Jyllands Posten</em>-nya. Indonesia pun tak ingin ketinggalan, melakukan manuver baru di tahun yang baru dengan rencana penerbitan <em>PlayBoy</em> versi dalam negeri. Apa yang terjadi diantara keduanya tak lebih sebagai puncak gunung es saja. Bila kita tilik lebih jauh, dua belas karikatur baginda Nabi Saw. di <em>Jyllands Posten</em> sebenarnya telah terbit sejak September tahun lalu. Begitu pula dengan fenomena <em>Playboy</em>, majalah atau media-media dengan menu hidangan serupa telah banyak menjamur di Indonesia jauh sebelumnya.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia pers sudah jauh dari idealisme dan kode etiknya sebagai transformator kebenaran faktual dan kontekstual yang mengedepankan nilai-nilai universal. Hal ini diasumsikan terjadi karena euforia jurnalistik yang terjadi secara global sehingga merangsang dunia pers untuk semakin berani mengekspresikan kemerdekaannya. Walaupun sejatinya kebebasan ini banyak dilatarbelakangi keberpihakan, namun keberpihakan itu harus dilimpahkan kepada kemashlahatan publik dan konsensus universal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ambiguisitas pers memberikan dampak yang cukup berarti pada berbagai sisi kehidupan kita. Dari <em>Jyllands Posten</em> misalnya, tidak hanya hubungan diplomatik antarbangsa saja yang rusak, krisis perekonomian dan patologi sosial turut menjadi ancaman. Demonstrasi radikal terjadi seperti di Libanon, Suriah dan Indonesia; ribuan karyawan perusahaan Denmark di beberapa negara mayoritas muslim harus mengalami PHK Ini akan berdampak langsung kepada stabilitas sosial ekonomi negara bersangkutan. Begitupun <em>Playboy</em> yang mempertaruhkan perhatian, tenaga bahkan nilai-nilai moralitas bangsa kita. Keduanya belum ditambah lagi dengan sebuah kemungkinan lain yang tak kalah mengerikan, ketika toleransi mencapai titik jenuhnya sehingga memancing petaka global berlatarbelakang akidah dan ideologi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Perkembangan dunia dan euforia jurnalistik telah mengantarkan pers pada perannya yang paradoks. Atmosfer kebebasan telah menghembuskan nuansa tidak sehat diantara pers dan konsumennya. Di sisi lain para pakar komunikasi kontemporer berpendapat bahwa informasi tak bisa lagi dianggap sebagai alat semata bagi sebuah kekuasaan. Sebab, informasi itu sendiri adalah kekuasaan. Di sini, pers adalah penguasa informasi dan opini sepenuhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Tulisan ini tidak bermaksud menggugat kemerdekaan pers, karena kemerdekaan bagi pers adalah nafas hidup. Semoga pers menemukan kembali jati dirinya sebagai abdi publik yang independen dan bertanggungjawab; penyampai berita dan penebar makna. <em>Wallahu &#8216;alam bishawab.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><span> </span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">*) Alumnus Pesantren Persis 76 Rancabogo Tarogong Garut</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><span> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pwkpersis.wordpress.com/259/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pwkpersis.wordpress.com/259/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pwkpersis.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pwkpersis.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pwkpersis.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pwkpersis.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pwkpersis.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pwkpersis.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pwkpersis.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pwkpersis.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pwkpersis.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pwkpersis.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pwkpersis.wordpress.com&blog=3210199&post=259&subd=pwkpersis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pwkpersis.wordpress.com/2008/06/15/pers-antara-otoritas-dan-distorsi-opini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Pwk. PP. Persis Mesir</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>