Sketsa Dasar Ideologi Marxisme

SKETSA DASAR IDEOLOGI MARXISME*

J. Firdaus**

“Kensengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat.” (Karl Marx)

Pendahuluan

Pemahaman Marxisme sebgai sebuah Istilah, rasanya tidak asing lagi saat ini, dan mungkin sebagian dari kita sudah mengenal ide-ide dasar yang digagas oleh para nabi Marxisme, Karl Marx[1] dan Frederick Engels[2], yang Kemudian diteruskan oleh Stalin dan Lenin sehingga ide ini menyentuh ranah politik dan ekonomi lebih luas[3]. Dari para “jaguar” tersebut, menghasilkan bentuk dan asesoris yang berubah-ubah pada penampilan Marxisme. Hal ini terjadi karena proses penyesuaian dengan sosio kultur yang ada pada saat itu. Oleh karenanya, Marxisme juga dikenal dengan istilah Marxisme Engelianisme, Marxisme Leninisme, Marxisme Stalinisme namun, dari semua itu tetap menampilkan satu wajah dasar asli, dengan asesoris yang berbeda.

Pondasi teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar[4]:

Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialekika (al Mâdiyyah al Jadaliyah) dan Materialisme historis (al Mâdiyyah al Târikhiyyah). Kedua, politik ekonomi (al Iqtishôd as Siyâsi). Pembahasan yang paling urgen dalam masalah ini yaitu pandangan meterialisme dalam teori nilai laba atau keutungan, beserta segala yang terkait dengan hal itu; baik rentetan yang mempengaruhi kondisi sosial masarakat, bahkan yang menyentuh dimensi agama dan. Ketiga; konsep ketatanegaraan dan pendangan revolusi (an Nadhôriyyah ad Daulah wa as Staurah). Dari ketiga pondasi marxisme diatas, tema pertama (filsafat materialisme) itulah yang akan menjadi pokok pembahasan pada makalah ini, dan mungkin amat sedikit berbicara masalah politik, ekonomi, sosial dan system ketatanegaraan marxis. Semoga di lain kesempatan bisa meluangkan waktu untuk mengkaji lebih dalam masalah tersebut.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sekilas Tentang Sekularisme

Lembaga Buhuts Islamiyyah (LBI)

Pwk. Persis Mesir 2006-2008

Divisi Pemikiran

Sekilas Tentang Sekularisme*

Oleh Arif Rahman Hakim**

Secara etimologi sekularisme berasal dari kata saeculum (bahasa latin) yang memiliki arti waktu tertentu atau tempat tertentu. Atau lebih tepatnya menunjukkan kepada waktu sekarang dan di sini, dunia ini. Sehingga, sungguh tepat jika saeculum disinonimkan dengan kata wordly dalam bahasa inggrisnya.[1] Maka sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai faham yang hanya melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini (keduniaan an sich). Tanpa ada perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti adanya kehidupan setelah kematian yang notabene adalah inti dari ajaran agama.

Oleh karena itu, sekularisme secara terminologi sering didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memisahkan antara negara dan agama (state and religion). Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi tatatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan. Maka, menurut para sekular, negara dan agama yang dianggap masing-masing mempunyai kutub yang berbeda tidak bisa disatukan. Masing-masing haruslah berada pada jalurnya sendiri-sendiri. Namun sebelum lebih jauh mengenal sekularisme secara terminologi dan epistemologinya, ada hal penting yang harus diketahui dan difahami terlebih dahulu sebagai “pintu masuk” untuk bisa menjawab pertanyaan yang mendasar, mengapa sekularisme itu “terlahir” ke dunia ini. Pintu masuk tersebut tiada lain adalah sejarah dan latar belakang lahirnya sekularisme.

Sejarah Sekularisme

Sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk kekecewaan (mosi tidak percaya) masyarakat Eropa kepada agama kristen saat itu (abad 15 an). Di mana kristen beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Padahal pada saat yang sama peradaban Islam saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Sehingga ketika perang salib berakhir dengan kekalahan di pihak Eropa, walau mereka mengalami kerugian di satu sisi, tetapi, sebenarnya mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yaitu inspirasi pengetahuan. Karena justru setelah mereka “bergesekan” dengan umat Islam di perang salib hal tersebut ternyata menjadi kawah candradimuka lahirnya renaissance beberapa abad setelahnya di Eropa. Setelah mereka menerjemahkan buku-buku filsafat yunani berbahasa arab dan karya-karya filosof Islam lainnya ke dalam bahasa latin.

Baca lebih lanjut

Sebuah Metode Riset Islami ( Al-Istiqra’ )

Sebuah Metode Riset Islami

(Al-Istiqrâ)

Oleh : Sahuri Sutarjo, Lc.

Pendaluan

Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwasanya Jumhur Ulama’ dalam masalah dalil-dalil Syariat (adillah Syar’iyah) membagi dua bagian. Pertama adalah Adillah Muttafaq “alaiha yaitu Al qur’an, As Sunnah, Al Ijma’ dan Al Qiyas. Yang kedua adalah adillah mukhtalaf fiha yaitu Al Istishab, Al Mashalih Mursalah, Qaulus Shahabi, Al Istihsan,As Syar’u Man Qablana,As Syaddud Dzarai’, Al Urf, dan Al Istiqra’.

Pada pembahasan kali ini saya tidak akan membahas secara keseluruhan masalah adillah mukhtalaf fiha karena telah dikaji pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Istiqra’ yang merupakan salah satu bagian dari adillah mukhtalaf fiha.

Istqra’ adalah sebuah metode penelitian atau pemeriksaan atas berbagai hal dalam sebuah masalah. Ynag menghasilkan sebuah kesimpulan hukum untuk keseluran. Metode ini banyak digunankan ulama’ dalam menyimpulkan hukum-hukum yang tidak memiliki landasan hukum yang tertulis secara jelas di dalam Al Qur’an atau al Hadist. Misalnya ulama’ menyimpulkan bahwa usia yang paling kecil seorang wanita haid adalah umur sembilan tahun. Atau kesimpulan seorang ulama’ yang mengatakan masa ideal haid adalah antara seminggu hingga sepuluh hari. kesemua dari kesimpulan hukum itu tidak berdasarkan atas nash namun berdasarkan penelitian dan riset. Inilah yang biasa disebut istiqra’.

Baca lebih lanjut

Sadd adz-Dzara’i, dan Keabsahannya Sebagai Dalil

Sadd adz-Dzarâi’, dan Keabsahannya Sebagai Dalil

Oleh : Rahimatus Sa’diyah*

I. Pendahuluan

Allah Swt mengutus Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rasul dengan berbagai keistimewaan risalah-Nya (al-Islam). Diantara karakteristik atau keistimewaan tersebut adalah bahwa Islam merupakan agama yang universal. Sebagaimana dalam firman-Nya :”dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…”(QS. Saba:28). Kemudian agama Islam juga adalah agama yang menyeluruh, ajarannya mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan manusia; aspek ruh, jasad, dan akal.”…Dan kami turunkan alquran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”(QS. An-Nahl:89). Selain itu juga Islam adalah agama yang fleksibel. Mampu menjawab tantangan dan pertanyaan seiring dengan lajunya perkembangan zaman (shâlihun likulli zamân wa makân).

Sebagai salah satu upaya dalam merealisasikan aspek fleksibilitas Islam, maka Rasulullah sallalâhu alahi wasallam membolehkan kepada para sahabat untuk berijtihad. Hal inilah yang dijadikan salah satu landasan para mujtahid dalam berijtihad mengenai suatu hukum yang tidak terdapat dalam nash shorih mengenai penetapan hukumnya.

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Al-Quran, Sunah, Ijm’a, dan Qiyas merupakan sumber hukum Islam yang muttafaq alaih. Kemudian kita juga mengenal adillah mukhtalaf fîhâ yang merupakan produk ijtihad. Keabsahannya untuk dijadikan sumber hukum masih dipertentangkan. Salah satu dari adillah mukhtalaf tersebut adalah sadd adz dzarâi’.

Dalam tulisan yang sederhana ini penulis akan mencoba mengulas beberapa permasalahan mengenai sadd adz dzarâi’ sebagai salah satu sumber dalam penetapan hukum Islam.

Baca lebih lanjut

Istishhab; dalam Aplikasi Ulama Fiqh

Istishhab ; dalam Aplikasi Ulama Fiqh [1]

Oleh : Pipih Imron Nurtsani[2]

Pendahuluan

عن أبى أمامة الباهليّ عن رسول لله صلّى الله عليه و سلم قال : لينقضنّ عرى الاسلام عروة عروة فكلّما انتقضت عروة تشبّث النّاس بالّتى تليها و اوّلهنّ نقضا الحكم و أخرهنّ الصّلاة ( رواه احمد )

” Dari Abi Umamah Al-Bahily dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda : ” Untaian tali-tali Islam ini akan terurai satu persatu, setiap kali satu untaian terurai maka orang-orang berpegang pada untaian berikutnya. Dan untaian yang terurai pertama kali adalah hukum, sedangkan yang terakhir adalah shalat .”

( HR.Ahmad ).

Berangkat dari pijakan Hadits di atas, maka kita senantiasa meyakini akan terjadinya suatu keadaan seperti yang di gambarkan Rasulullah beberapa abad silam lamanya yaitu syari’at islam sedikit demi sedikit akan hilang dari para pemeluknya sehingga suatu saat nanti akan asing melihat orang yang menjalankan syari’at Islam .

Pada masa Khulafa Ar-Rasyidin pernah terjadi adanya yang tidak mau membayar zakat, sehingga sampai diperangi. Masa kini mungkin akan semakin banyak penyimpangan –penyimpangan terhadap syari’at Islam di Mesir, Rifa’ah Al-Tafthawi (1800-1873), yang tinggal 7 tahun di Paris dan kembali ke Mesir pada tahun 1983, adalah peletak batu pertama dalam memusuhi hijab dengan menghalalkan dansa antara antara laki-laki dan perempuan.[3] di Indonesia penyimpangan-penyimpangan syari’at Islam mungkin akan semakin pelik dan beragam, dengan lahirnya sebuah kelompok yang suka merasionalisasikan urusan yaitu : Jaringan Islam Liberal ( JIL) sampai saat ini mereka paling giat mengotak-atik teks al-Quran sehingga tak sedikit ayat al-Quran yang mereka langkahi dan mengedapankan rasio mereka dengan dalih itu untuk kemaslahatan manusia walaupun pastilah mereka tahu akan akibat dari apa yang mereka lakukan seperti tertulis di sebuah hadits : barang siapa yang menafsirkan al-Quran dengan menggunakan rasio atau tanpa ilmu maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka. “[4]

Baca lebih lanjut

Islam; Antara Syari’at Muhammad SAW dan Syari’at Para Nabi ( Sebuah Analisa Ushuliyyah )

ISLAM: Antara Syariat Muhammad SAW. dan Syariat Para Nabi[1]

Sebuah Analisa Ushûliyyah[2]

Oleh: Mabruri Mohammad Sa’i, Lc.[3]

من يبتغى غير الاْسلام دينا فلن يقبل منه وهو فى الاْخرة من الخاسرين

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [ 3]:85)

Pendahuluan

Syariat secara umum mempunyai dua tujuan besar pertama, demi kemaslahatan dan kedua, menghilangkan kerusakan. Maka tak heran Allah menjelaskan tujuan ini berkali-kali, baik secara umum dalam Al-Quran, seperti firman Allah SWT tentang pengutusan nabi dan rosul,

“Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. 4:165)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21:107)

Sebagaimana firman-Nya tentang asal penciptaan,

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. 11:7)

Baca lebih lanjut

Hujjiyah Qaul As-Shahabi Dalam Penetapan Hukum Islam

Hujjiyah Qaul As-Shahabi Dalam Penetapan Hukum Islam

Oleh Sarah Abdurrohmah, Lc.

Mukaddimah

Rasulullah Saw, bersabda,” Bahwa sebaik-baiknya generasi adalah generasi pada zamanku kemudian genersi sesudahnya lalu generasi sesudahnya…”. Generasi dimana Nabi Saw, diutus adalah generasi para sahabat. Mereka adalah sebaik-baiknya generasi, dari aspek keimanan mereka sangat memegang teguh ajaran Islam, dan mencintai Allah swt dan RasulNya melebihi dari segalanya. Hal ini bisa dilihat dari kisah para sahabat dalam mempertahankan aqidah mereka, meskipun harus disiksa dan didera oleh berbagai siksaan dan cacian dari kafir quraisy. Mereka adalah generasi yang patut kita jadikan teladan, baik dari kuatnya keimanan, pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari dan usaha para sahabat untuk tidak menjadi shaleh sendiri saja tapi merekalah yang menyebarkan ajaran islam (aqidah, akhlak dan syari’ah) kepada yang lainnya.

Terlepas dari segala keutamaan yang dimiliki oleh para sahabat. Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan segala hal yang sampai pada kita dari sahabat baik itu berupa perkataan, perbuatan ataupun fatwa sebagai salah satu sumber pengambilan hukum dalam Islam.

Para ulama mengkategorikan qaul as-shahabi sebagai salah satu sumber pengambilan hukum yang masih dipertentangkan keabsahannya. Berbeda dengan Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas yang jumhur ulama telah menyepakatinya sebagai sumber pengambilan hukum dalam islam. Yang dimaksud dengan jumhur ulama disini adalah empat Imam mazhab yang mu’tabar. Oleh karena itu untuk mengetahui pendapat dari para ulama yang berbeda pendapat terhadap keabsahan qaul as-shahabi, penulis mencoba memberi sedikit gambaran mengenai hal ini dalam makalah yang sederhana ini.

Baca lebih lanjut

Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqashid Syari’ah

Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqâshid Syarî’ah*

Oleh: Agnan Nasution**

Muqaddimah

Sesuai dengan karakteristiknya, Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal. Legitimasi tersebut lahir karena ajaran Islam mencakup berbagai aspek, baik itu aspek ketuhanan (theology) maupun aspek kemanusiaan (humanism). Islam bukan merupakan agama arogan/egosentris yang hanya mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengagung-agungkan penciptanya saja, tetapi lebih jauh lagi justru Islam hadir untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Sebagai studi kasus, bagaimana sosio-kultural pada zaman jahiliyah yang memperlakukan orang-orang Islam dengan berbagai siksaan karena tidak mau mengikuti ajaran mereka, memenjarakan hak-haknya dan tidak memberikan sedikitpun ruang kepada mereka untuk melaksanakan keyakinannya serta keadilan pada waktu itu merupakan harga yang sangat mahal. Maka setelah Allah mengutus rosulullah sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan terhadap manusia, keadaanpun menjadi berbeda karena Islam memberikan solusi terhadap realitas empirik pada waktu itu yang penuh dengan berbagai ketidak adilan.

Berbagai solusi itu bisa kita terjemahkan melalui syari’atnya yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, karena agama Islam merupakan agama yang mengakomodir pelbagai kebutuhan manusia serta tidak memberikan kesulitan bagi semua pengikutnya dalam melarapkan hukum-hukmnya sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an وماجعل عليكم في الدين من حرج (dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama kesempitan)[1]. Dengan kata lain, Islam menghendaki terciptanya kemaslahatan seluruh umat manusia tak terkecuali hanya yang membedakan mungkin dari sisi konsekuensi (balasan) dan perlakuan terhadap orang-orang di luar Islam.

Baca lebih lanjut

Istihsan; Upaya Mencari Titik Temu Antara Ulama Hanafiyah Dan Ulama Syafi’iyah

ISTIHSAN; UPAYA MENCARI TITIK TEMU ANTARA ULAMA HANAFIYAH DAN ULAMA SYAFI’IYAH[1]

Oleh: Feri Firmansyah[2]

Pendahuluan

Sebagaimana yang telah kita ketahui dan kita yakini, bahwa agama islam itu adalah agama yang sempurna, tidak pernah usang seiring dengan lajunya zaman. Sebagai agama yang sempurna, tentu saja setiap permasalahan yang muncul harus dapat diselesaikan dengan baik dan benar. Terlebih permasalahan yang muncul itu tidak terdapat dalam teks Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, segala permasalahan yang ada langsung dikonsultasikan kepada beliau. Baik permasalahan tersebut adalah masalah-masalah fikih maupun masalah-masalah lainnya diluar fikih. Sehingga sepelik apapun permasalah tersebut, melalui wahyu yang beliau terima, semua permasalahan dapat terselesaikan, tanpa adanya perbedaan pendapat antara Rasulullah Saw dan para sahabat.

Setelah Rasulullah Saw wafat, ternyata permasalahan yang menyangkut agama terus bermunculan. Terlebih permasalahan fikih, yang tidak hanya permasalah klasik, tetapi permasalah baru pun muncul, yang tentu saja membutuhkan penyelesaian (baca: ijtihad) dari para ulama. Apalagi permasalahan tersebut tidak terdapat dalam teks Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw. Dari sinilah muncul cara baru yang bisa dijadikan dalil dalam pengambilan keputusan suatu hukum. Pada masa ini pengambilan hukum tidak hanya berdasarkan teks Al-Quran dan Hadits saja, tetapai ada cara baru yaitu melalaui konsensus para ulama, kemudian ada qaul shabi, dan qiyas.

Pada kurun berikutnya, ternyata permasalahan-permasalahan baru pun terus bermunculan, dan perlu mendapat penyelesaian dari para ulama. Maka berkembanglah tata cara baru dalam pengambilan suatu hukum. Dan tata cara baru itu dikodifikasikan sehingga menjadi sebuah cabang ilmu yaitu ushul fikih. Tentu saja cara-cara tadi bukan berdasarkan nafsu dan keinginan seorang mujtahid belaka, tetapi tetap berdasarkan kepada dalil-dalil dari Al-Quran dan hadits. Hanya saja dalam pemahamannya yang tidak tekstual.

Baca lebih lanjut

Wawancara Dengan DR. Abdul Basith Muhammad Amin, MA

foto_duktur_.jpg

Pendangkalan akidah dengan Globalisme baru

 

There is only one religion, the religion of Love;

There is only one language, the language of the Heart;

There is only one caste, the caste of Humanity;

There is only one law, the law of Karma;

There is only one God, He is Omnipresent.

 

Demikian petikan ideologi yang didengungkan Satyanarayana Raju. Ia adalah seorang ‘guru’ yang lahir pada tahun 1926 di daerah India yang kemudian dikenal dengan nama Bhagavan Sri Sathya Sai Baba (Selanjutnya disebut Sai Baba). Ia memiliki pengikut yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Dalam ajarannya, ia mengklaim bahwa dirinya memiliki mukjizat. Dua mukjizat yang sering ia perlihatkan adalah mematerialisasikan abu untuk kaum miskin dan mematerialisasikan permata untuk kaum kaya.

Ajaran Sai Baba tidak hanya menyebar di daerah kelahirannya saja. Bahkan Indonesia pun yang nota bene negara muslim terbesar di dunia, tidak luput dari pengaruh ajaran ini. Salah satunya adalah kota Surabaya dan Bali yang menjadi sarang pengikut ajaran sesat ini.

Fenomena tersebut cukup menyita perhatian masyarakat dunia termasuk kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa Sai Baba adalah penjelmaan dajjal yang telah dijanjikan dalam hadits Rasulullah Saw. Pertanyaan selanjutnya adalah benarkah Sai Baba adalah dajjal yang dijanjikan Rasulullah Saw dalam haditsnya? Pernahkah sejarah mengungkapkan kehadiran manusia setelah Rasulullah Saw. yang mempunyai ‘mukjizat’ seperti yang telah dilakukan oleh Sai Baba? Lalu bagaimana seharusnya ummat Islam menghadapi masalah tersebut?

Melihat fenomena tersebut, tim reporter Al-furqan mencoba untuk berkonsultasi dengan salah seorang pakar Aqidah di Majma’ Buhuts Al-Islamiyyah Al-Azhar Asy-Syarief. Beliau adalah DR. Abdul Basith Muhammad Amin. Berikut petikan wawancara kami.

Bagaimana pandangan Anda melihat fenomena Sai baba ini?

Baca lebih lanjut