“Murtad” sosial; Hilangnya Karakteristik

“Murtad” sosial;

Hilangnya karakteristik

Selalu ada yang menarik ketika menyoroti dinamika manusia Indonesia, baik dari perubahan yang dinilai positif apalagi yang negatif, perbincangan ini seakan tak ada titik akhir, berbagai sudut pandang sudah dikupas baik dalam bentuk buletiin, jurnal, buku bahkan, ivent pagelaran semacam whorkshop dan seminar pun sudah teramat sering hanya sekedar menguliti permasalahan, juga solver yang ditawarkan.

Untuk sebagian orang pembahasaan semacam ini sudah dinilai usang, boleh jadi sedikit muak, karena tidak menghasilkan perubahan sama sekali. Tanpa bermaksud menambah kejenuhan, pemaparan dibawah ini sebetulnya bukan unutk mengulang-ulang persoalan, apalagi sekedar mancabik-cabik penyakit bangasa yang kian kronis.

Yang menjadi akar permasalahan paling penting adalah, komunitas yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi solusi (agen of change) justru mendapat porsi paling besar terjangkit krisis ini. Kaum intelegensia yang sering kita sebut kaum intelektual -pelajar dan mahasiswa- meminjam istilah Gramsci adalah manusia yang memiliki semangat perubahan, Karakteristik inilah barangkali yang mulai hilang dari jiwanya.

Alih-alih untuk menjadi solver, permasalah yang ada ditubuh kamunitas inipun begitu akut karena cukup menyita perhatian publik; degradasi moral, budaya, akhlak, dan krisis keprecayaan adalah beberapa persoalan yang melilit intelektual kita saat ini, tentu saja hal tersebut memerlukan perhatian yang cukup serius dari berbagai eleman yang ada.

Realitas yang tampak seperti sekarang ini tidak terjadi begitu saja dengan sendirinya. Banyak faktor yang melatar belakangi hilangnya karakteristik yang dimiliki, hal ini merupakan antitesa perjalanan sejarah yang panjang dari peradaban manusia yang diawali dari reanaissan, sekulerisasi globalisasi dan kapitalisme global yang tentu saja tidak nihil dengan nilai-nilai yang diperjuangkan.

Proses sekulerisasi global

Semenjak masa pencerahan eropa dari abad ke-17 hingga abad ke-19, seiring itupula kebangkitan nalar, empirisme dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di barat. Banyak ilmuwan dan filosof semisal Maritain, Prancias Auguste Comte dan Fiedrich Nietzshe memberikan futuristik peradaban akan datangnya kebangkitan ilmu dan keruntuhan agama. Comte Percaya bahwa menurut logika sekuler perkembangan filsafat dan ilmu barat berevolusi dari tingkat paling primitif ke tingkat paling modern. Nietzshe dengan tokoh novel Zarathustra menggambarkan kondisi untuk dunia barat setidaknya tuhan mati.

Kristen sebagai agama mayoritas barat saat itu dihinggapi kompleksitas masalah yang serius. Bahkan tidak sedikait diantara cendikiawan kristen yang menjadi avangarde sekulerisasi. Hingga titik kulminasi, keharusan menerima dan peradaptasi dengan sekulerisasi tidak dapat terhindarkan lagi. Malah pada paroh perjalanan selanjutnya justru turut andil bersekutu dalam penyebaran sekulerisasi ini. Kondisi seperti inilah yang berulang kali Masscall sebutkan dalam bukunya, sebagai usaha merubah kristen menjadi dunia, bukan sebaliknya merubah dunia menjadi kristen.

Teriakan Nietzxhe tuhan “telah mati” kini berubah menjadi kidung “kristen telah mati”. Aagama sebagai kontrol sosial menjadi tidak memiliki arti karena sudah terpetakan ruang privasi dan publik. Kondisi seperti itu menjadikan fungsi agama hanya sekadar sarana penebus dosa atau meminjam istilah Gordon W. Alport something to use but not to live. Bisa saja dalam keseharian mengorbankan nilai-nilai moral, kejujuran, keadialan, dll. Pada saat yang sama mereka pun rajin melakukan ibadah ritual sebagai usaha pensucian.

Dekadensi moral, budaya dan ideologi yang terjadi dibelantika dunia saat ini tidak terlepas dari proses sekulerisasi yang merambah ke penjuru negeri. Sekulerisasi dengan berbagai pilar yang diperdagangkan mampuh merubah dunia menjadi nihil dan absurd dari nilai-nilai luhur yang menajdi identitas suatu bangsa –khususnya Islam dan dunia ketimuran-.

Jika sekulerisasi ini dipaksakan menjadi pandangan hidup, rusaknya sebuah tatanan kehidupan, keberagamaan, etika, moral dan budaya menjadi menjadi kemungkinan terbesar. Perubahan inilah yang disebut oleh karl Marx sebagai prose “evolusioner” imbasnya segala sesuatu dapat berubah dan tidak ada nilai yang mapan karena selalu mengusahakan penyelarasan dan konseptualisasi dengan kebutuhan yang berkembang.

Westernisasi dan Globalisasi

Globalisasi dan westernisasi merupakan dua hal yang tidak bisa di pisahkan, satu sama lain memiliki mata rantai yang utuh sebagai misi untuk menghegemoni dunia ketiga. Terlebih lagi dengan lahirnya persatuan negara adikuasa yang dinamakan G-8.

Sebagai salah satu instrumen sekulerisasi, globalisasi ternyata cukup laris diberbagai belahan dunia, hal ini dinilai sukses karena ada semacam ketakutan dari beberapa pihak penerima, ketinggalan, terbelakang dan tidak berperadaban jika tidak mengikuti budaya yang sedang ngetrend.

Dengan jargon ICTnya globalisasi telah mampu medobrak bangsa yang ramah, santun dan religius manjadi buas, ganas dan amoral. Bukan hanya segelintir orang saja yang terjangkit krisis ini, anak-anak, pemuada, orang tua, laki-laki, perempuan, dari tingkat paling bawah hingga para elitis. Yang lebih ironis adalah kaum terpelajar sebagai komunitas intelegensia mendapat porsi paling besar dalam perubahan yang dinilai negatif ini.

Bukan hanya ekonomi, informasi, komunikasi dan teknologi yang menjadi sasaran empuk globalisasi namun, etika regional serta idiologi yang selama ini dinilai memiliki ruang privasi menjadi bidikan yang urgen untuk dipertaruhkan. Hal ini dinilai cukup membawa perubahan yang sangat signipikan terhadap pola pikir dan pandangan hidup (world view) manusia yang tadinya tertutup menjadi terbuka yang statis menjadi dinamis. Pergeseran nilai norma budaya sangat terasa dan tak terelakkan lagi, dengan terbukanya cakrawala dunia yang menembus ruang dan waktu, perang budaya dan ideologi (ghazwu al-fikri) yang menyababkan dekadensi moral menjadi keniscayaan tersendiri.

Berbagai prodak yang ditawarkan telah dikonsumsi mentah-mentah oleh publik, mulai demokrasi, kebebasan, toleransi, kesetaraan gender, HAM dsb. Semua produk tersebut mampu mendongkrak tata nilai yang telah mapan, dari moral sosial, hukum kenegaraan serta nilai keberagamaan yang dianggap sakral dan absolut sekalipun tidak luput dari upaya pendekonsrtuksian. Semua itu tidak lain agar sesuai dengan selera, humanistik, hak asasi dan nilai pembebasan (liberalitation). Ketika nilai-nilai itu diperjuangkan, tidak bisa dipungkiri segala nilai dan pegangan yang dianggap mapan akan menjadi profan, absurd serta dapat dikompromikan.

Media (cetak dan visual) sebagai instrumen globalisasi menjadi senjata ampuh pentransport segala bentuk yang diperjuangkan, semua sajian yang disodorkan dapat menghegemoni konsumen. Pada mulanya segala bentuk sajian tersebut akan menjadi lifestyle hingga akhirnya meng-ideologi pada setiap konsumen.

Jika meilik lebih dekat, fenomena perubahan ini sungguh sangat transpatran, jika dulu anak bangsa saat menjelang maghrib bergegas untuk belajar sembahyang dan mengaji ke Surau-surau, Mesjid, Mushala dsb. saat ini bukan pemandangan itu yang tampak, saat adzan maghrib berkumandang, kini pemandangan itu sangat asing, yang ada adalah sepasang bola mata yang sigap duduk menyaksikan idolanya dilayar kaca dengan lifetyle yang “miskin nilai”. Jika dulu tayangan televisi cukup hanya TVRI serta station swasta lainnya yang lumayan cukup mendidik, saat ini tampak berbeda, dengan marak stasion televisi yang baru, malah dipojok layar kaca sudah terpangpang label; untuk semua umur, BO (bimbingan orang tua), 18+ dan sebagainya. Tanpa disadari, semua hal tersebut yang akan membentuk pola pikir dan gaya hidup masyarakat.

Merebaknya pandangan hedonistik

Kembali lagi pada komunitas intelegensia, kita tidak menutup mata bahwa kenyataan yang terjadi dilapangan adalah maraknya pola hidup yang serba baru, modis, populis dan “kontoversi”. Sekali lagi hal ini dapat terjadi karena sudah terhegemoni (soft hegemony) oleh sebuah kekuatan yang kita sebut kapitalisme global.

Menarik sekali yang diutarakan John Lennon, “Sex, TV, and Music make you weak”. Seperti halnya virus pola hidup seperti ini mudah sekali merambah keseluruh lapisan pelajar dan mahasiswa. Budaya Idol, EMO, indi, dugem, party, dsb. menjadi sangat akrab dengan dunianya saat ini.

Rupanya virus epigonistik sebagai budaya “membebek” sudah mendarah daging. Gaya hidup hedonis barat cenderung diterima tanpa selektif dan filter yang ketat. Identitas pelajar dan mahasiswa sebagai intlektual organik tempat berkumpulnya aspek kognisi, kesadaran, dan gerakan (collective consciousness movement) mulai terkikis dan lambat laun tidak menutup kemungkinan akan hilang. (TR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s