Pornografi Dan Pornoaksi: Suatu Tela’ah Syari’ah

Pornografi Dan Pornoaksi: Suatu Telaah Syariyah

March 11th, 2008

Prof.DR.H. M. Abdurrahman, M.A.

A. Pendahuluan

Maraknya kejahatan di kalangan masyarakat saat ini tidak lepas dari sistem nilai yang dianutnya yang dapat membentuk prilaku ucap, tindak, dan gerak, sehingga setiap anggota masyarakat berperan membentuk budaya yang diekspresikan melalui prilaku kesehariannya. Sistem nilai ini dibentuk oleh paradigma berfikir setiap individu atau kelompok atau sistem kekuasaan terntentu yang berasal dari filsafat spiritualisme dan naturalisme. Nilai-nilai spiritual yang didasarkan pada agama “samawi” akan amat berbeda dalam membangun nilai-nilai penganutnya dibandingkan dengan agama bumi yang bersifat kultural – natural. Dalam agama kultur-natural, porno merupakan bentuk peribadatan dan persembahan yang amat tinggi pada dewa-dewa. Dalam tarian agama tertentu digambarkan tanpa memakai pakaian yang memadai, sehingga “terkesan” pornografi dan pornoaksi.

Munculnya budaya pornografi dan pornoaksi sekarang ini tidak lepas dari sistem nilai yang terbentuk dari budaya masyarakat yang sekarang lebih cenderung mengambil dari falsafat naturalisme, walaupun nilai-nilai religi yang dianut serta sistem konstitusi yang diterapkan di Indonesia berdasarakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sistem nilai naturalis yang mengalahkan sistem nilai religi ini tidak lepas dari kekuasaan yang ada sekarang, sistem hukum yang lemah dan nilai-nilai materialistik sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebanyakan masyarakat, sehingga menjadi penganut materialism. Bukti dari semuanya ialah kerusakan yang melanda masyarakat dunia khusnya Indonesia dengan rusaknya Sosio-kultural dan moral bangsa dan kerusakan alam serta lingkungan.

Dalam sistem masyarakat Islam, bukan hanya sistem nilai yang diutamakan, tetapi juga sistem krido dan norma yang terimplementasi dalam aqidah, syariah, dan akhlaq. Sumber segala sistem ini adalah Alquran dan al-Sunnah yang sekarang sudah dilupakan kaum muslimin sendiri. Alquran, al-Furqan: 30 dinyatakan,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.

Islam mengatur segala ucapan, tindak, gerak, dan langkah manusia mukallaf dalam koridor hukum yang dalam implementasinya disebut al-ahkmul khamsah (hukum yang lima). Ketika pornografi dan pornoaksi muncul, maka landasan filosifisnya dikembalikan pada dharuriyat (ketentuan hukum yang selalu harus ada), hajiyat (kebutuhan pokok), dan tahsiniyat (keindahan) yang dalam implementasinya berkaitan dengan hifzh al-din, hifzh nafs, hifzh nasl wa al-‘ardh, hifzh mal, dan hifzh al-aql. Maka problematika porno dalam Islam amat transparan dan jelas, sehingga dikenal batas-batas haram dan halal, jangankan dalam urusan porno, batas-batas aurat pun baik bagi laki-laki maupun perempuan amat eksplisit dan terinci. Semuanya bermuara pada hifzh al-nasl dan al-‘ardh (memelihara keturunan dan kehormatan). Hukuman pornografi dan pornoaksi, walaupun diharamkan Alquran dan Sunnah tidak jelas hukum pidananya. Karena itu, ahli hukum, fuqaha, dan para yurist, dapat menentukan melalui ta’zir (celaan).

B. Porno: Arti dan Sejarah

Porno bukan bahasa Indonesia asli, tetapi berasal dari bahasa pinjaman (asing) yang maknanya seolah-olah sudah berubah dari makna aslinya. Efimisme dari suatu bahasa ke bahasa lainya pasti ada. Di kalangan masyarakat Indonesia, misalnya, penghalusan bahasa begitu kental, seperti buta diganti dengan tuna netra, penjara menjadi lembaga pemasyarakatan, penganggur dengan tuna karya, dan lain-lain. Porno itu sendiri diambil dari bahasa Yunani yang berarti pelacur, sundel, prostitusi, (ungkluk-ublag-lonte-Sunda). Dalam bahasa efisme disebut WTS dan PSK. Porne itu sendiri adalah pelacuran. Pornografi berkaitan dengan tulisan tentang kebiasaan dsb. daripada pelacur-pelacur, sajian daripada hal-hal yang mesum dalam sastra. Maka pornografi adalah art with obscence unchaste treatment or subject (seni dengan penyajian yang mesum atau yang kurang sopan, hal-hal mesum).

H. Montgomary Hyde dalam A History of Pornography, menyatakan, “The word is derived from the Greek, Pornographos, meaning literally “the writing of harlots”. Thus in its orginal significance it connotes the discription of te life, manners and customs of prostitutes and their patrons”. (Perkataan pornografi itu berasal dari kata Yunani kuno pornographos yang menurut arti aslinya ialah tulisan-tulisan tentang pelacur, maka dalam arti aslinya ialah kata itu berarti tulisan tentang kehidupan, kelakuan dari pada pelacur-pelacur serta langganannya. Dalam Oxford English Dictionary, Pornography, “The ekspression or suggestion of obscence or unchaste subject in literature or art (Pernyataan atau saran mengenai hal-hal mesum atau kurang sopan di dalam sastra atu seni). Sebagai contoh seni lukis pornografis dikemukakan fresco-fresco yang mengilustrasikan tiap-tiap cara persetubuhan, seperti yang dikemukakan di Pompei. Fresco-fresco (lukisan dinding) itu menghias dinding-dinding ruang khusus untuk merayakan pestap-pesta (orgi Bacchanal). Bacchus adalah dewa minuman anggur. Peserta Bacchanal meminum anggur demikian banyak sampai mencapai suatu ekstase. Lukisan-lukisan di dinding ruang pesta itu dinilai tinggi, sehingga sekarang masih mengagumkan orang-orang modern. Lukisan-lukisan tentang adegan-adegan persetubuhan juga menghias mangkok dan piring yang dipakai untuk makan dan minum dalam pesta tersebut” (Alex A. Rachim, 1978: 8).

Selanjutnya, dalam buku Pornografi dalam Pers Indonesia yang diedit oleh Rahim tersebut, sebagaimana dikutip di atas diuraikan dengan jelas tentang latar belakang munculnya pornografi. Menurutnya, “Istilah pornografi berasal dari masyarakat Romawi-Yunani kuno, di mana dikenal tiga jenis cinta, ialah “Erao”, yang ada kaitan dengan Eros, “Philein”, dan “Agapan”. Dalam bahasa Yunani kata Erao dan Eros berarti cinta birahi, cinta yang disertai hawa nafsu-asmara. Dalam mitologi Yunani, “Eros” diperdewakan dan dipuja dalam keadaan mabuk nafsu. “Philein” berati cinta kasih antara orang tua dan anaknya, antara kawan dan kawan, antara teman sekerja dan teman sekerja. Kata yang ketiga, “Agapan”, mengandung arti cita kasih yang memilih seseorang, kasih yang setia antara manusia dan manusia.

Menurut moral perkawinan di Yunani kuno, cinta antara antara suami istri adalah cinta “agapan”. Perkawinan tidak mempunyai hubungan dengan cita “Erao” atau “eros”. Di dalam cinta antara suami istri tidak ada cinta birahi. Istri, kawan sehidup, yang memelihara rumah tangga terpercaya dan ibu dari ahli waris, yakni ahli waris yang sah. Kawan dalam hubungan seks adalah porne (pelacur) dan “hitaerai”, suatu klas wanita, yang memberi hiburan pada kaum pria yang lebih sopan……. Hetaerai dipelihara semata-mata untuk pelesiran dan porne dibayar setiap hari dan istri untuk keturunan yang sah, belaka, dan untuk memelihara rumah tangga yang dapat dipercaya….”. Dalam suatu masyarakat yang naturalis alam selalu baik, benar dan indah. Maka keindahan tubuh alamiah seorang hetaerai pun tidak mungkin mempunyai pengaruh buruk”. (Alex A. Rachim: 9-10).

Kehidupan seks model Yunani inilah yang sekarang sedang tumbuh di dunia ini, termasuk Indonesia. Yunani pernah dikuasai oleh para porne, pelacur, akan menguasai kehidupan ini juga dan itulah yang terjadi di dunia sekarang. Para pelaku raja-raja produksi pornografi dan pornoaksi menguasai ekonomi, media cetak dan elektronik, sehingga para pembelanya perlu menghalangi agar RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tidak disahkan. Istilah porno tidak aka kaitan dengan hubungan seks yang halal melalui perkawina, tetapi justru berkaitan erat dengan pelacuran. Penentangan terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi menunjukkan bahwa pelacuran, gambar-gambar prilaku seks, ngumabr aurat akan dipelihara dan dikembangkan di Indonesia dan itu maunya para naturalis materialis menyikapi dunia ini untuk bisnis manusia serakah semata.

C. Prinsip Preventif ajaran Islam

Ajaran Islam adalah ajaran yang selalu memegang prinsip al-hifz, preventif dalam menjaga kemaslahatan dan menjauhkan mafsadat manusia. Memelihara keturunan dan kehormatan keluarga, bahkan orang lain merupakan ajatran Islam yang paling fundamental, seperti pada implentasi dharuriyat di atas. Upaya memelihara kehormatan ini ada kaitan dengan pemeliharaan anggota badan, satrul aurah, menundukkan pandangan dan menjaga diri kontak dengan orang lain jenis dan bukan mahram, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, maka ada beberapa istilah yang berkaitan dengan tindakan preventif atau dalam bahasa kaidah ushuliyah, “Sadd al-Dszari’ah” (menutup jalan), seperti penyebutan kata yang sopan untuk yang ada kaitannya dengan hubungan seksual, seperti kata, mubasyarah, mulamasah, masas, harst, dll.

Upaya preventiv untuk menghindari terjadinya perno dalam ajaran Islam dengan adanya ketentuan halal dan haram ketika bermuamalah, kontak, dan berbicara dengan orang lain, bahkan dengan keluarga sendiri, seperti dilarangnya ikhtilath tanpa tujuan yang syar’i. Anak-anak yang sudah berumur sepuluh tahun dipisahkan tempat tidurnya dari saudaranya, anak-anak dilarang masuk kamar orang tuanya pada waktu-waktu tertentu. Pakaian yang sopan dan menutupi aurat, baik laki-laki maupun perempua, walaupun batas aurat di antara keduanya berbeda. Di bawah ini akan diuraikan upaya-upaya ajaran Islam agar seseorang tidak tergoda dengan porne, pornografi maupun pornoaksi.

1. Khalwat (menyendiri antara laki-laki dan perempuan)

Khulwah adalah keterpisahan atau menyendiri antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Yang dimaksud dengan mahram ada kaitan darah, keturunan atau melalui perkawinan. Parameter mahram atau bukan mahram adalah diperbolehkannya secara syar’i seseorang menikah dengan orang tersebut. Untuk menghindari sesuatu yang akan membawa kepada porno (hubungan seksual di luar nikah) adalah dengan membatasi pergaulan antara lain jenis manusia itu, kecuali mahramnya ada. Karena itu seorang perempuan yang keluar rumah, tanpa disertai mahramnya dilarang agama. Dalam hal ini Rasul saw. bersabda,

Tidak boleh menyendiri seseorang dengan perempuan kecuali ada mahramnya, dan seorang perempuan tidak boleh bepergian kecuali dengan mahramnya”. HR. Bukhari-Muslim).


Pada riwayat lainnya diterangkan larangan terhadap seseorang (laki-laki) masuk rumah orang lain bila suaminya tidak ada di rumah, padahal hanya ada perempuan. Rasul bersabda,


Awas kalian masuk (kerumah) yang hanya ada seorang perempuan”. (HR. Bukhari-Muslim). Disebutkan juga bahwa larangan menyendiri itu walaupun dengan istri saudaranya.


2. Obrolan seks (dilarang rafats)

Dalam Alquran ada dua ayat yang menyebut rafats, yaitu pada surat al-Baqarah: 187 dan 197. Rafats ialah kata-kata “kotor”, tak enak didengar, berupa cumbu rayu dan kata-kata tidak baik diucapkan yang mendorong kepada hubungan seksual. Rafats adalah arti kiasan untuk hubungan seks, jima. Kata-kata ini tidak boleh sembarang diucapkan dan hanya dibolehkan pengucapannya antara istri dan suami, bahkan antar mereka pun dilarang pada waktu sedang melaksanakan ibadah haji dan dihindari pengucapannya di waktu saum pada siang hari. Alquran menyatakan,

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf[i] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.


Pada ayat lainnya disebutkan larangan ini ketika melaksnakan ibadah haji, sebagaimana tercantum pada al-Baqarah: 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[ii], Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[iii], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwal[iv] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

3. Kewajiban menutupi aurat dan menundukkan pandangan

Kewajiban menutup aurat dan tidak mengumbar pandangan ada kaitan dengan kewajiban menjaga diri dan hati dari niat dan dorongan syetan terhadap manusia yang dalam hatinya ada maradh (penyakit dengan niat jahat) untuk melakukan onar. Dalam Alquran, al-Ahzab: 59) dan hadis disebutkan sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan mukminin agar mengulurkan jilbab-jilbab mereka. Ini lebih mudah untuk dikenal dan agar tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang”.


Pada surat lain, al-Nur: 30-31) Allah berfirman,


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31)

“Katakanlah kepada orang-orang berimana agar mereka menundukkan pandangannya dan memelihara farji-farji mereka. Itu lebih bersih buat mereka. Sesungguhnyha Allah Maha Melihat terhadap apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukminat, agara menundukkan dari pandangan-pandangan mereka dan memelihara farji-farji mereka dan jangan menampilkan erhiasan mereka kecuali yang nampak darinya. Dan agar menutup dengan kerudung-kerudung mereka atas dada-dada mereka. Dan janganlah menampilkan perhiasan mereka kecuali atas suami-suami mereka atau ayah-ayah mereka atau ayah-ayah suami mereka atau anak-anak mereka atau anak-panak suami mereka atau saudara laki-laki mereka atau anak laki-laki saudara laki-laki mereka atau anak-anak saudara waniat-wanita Islam meteka atau budak-budak mereka atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belim mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkjan kakinya agar diketahui perhiasan yang disembunyikan Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Dalam suatu hadis disebutkan, “Awas kamu duduk-duduk di jalan (tepi jalan). Mereka berkata, ‘ Rasulullah, kami mesti duduk-duk untuk ngobrol di sana. Rasul menjawab, ‘Bila kalian tak bisa meninggalkan, maka berilah jalan kepada yang berhak. Mereka berkata, ‘Apa hak jalan itu. Rasul menjawab, ‘Tundukkan pandangan, tida mengganggu, jawab salam, dan, perintah kebaikan dan larang kemungkaran”. (HR. Bukhari dari Ibu Said).

4. Perzinaan harus dijauhi, sebagaimana firman Allah,

“Dan janganlah dekat-dekat pada zina karena itu adalah fahisyah (kekjian) dan jalan (perbuatan) yang jelek”. (al-Isra: 32).

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

a. Hukuman berat bagi pezina.

Hukuman bagi para pezina amat berat ada yang dengan rajam untuk zina muhshan dan ada yang dengan deraan untuk zina ghair muhshan. Rajam diterangkan dalam hadis ketika seseorang mendatangi Rasulullah dan secara terus terang dia mengaku sudah melakukan perzinaan. Setelah dibuktikan dengan mengucapkan syahadat empat kali maka Rasul bersabda,

Bawalah dia pergi dan rajamlah”. (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam surat al-Nur disebutkan untuk zina muhshan sebagai diterangkan berikut:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing seratus kali deraan , dan janglah mengambil kasian terhadap mereka dengan agama Allah (ini), bila kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan saksikanlah (dalam melaksanakan) hukuman kepada mereka segolongan orang beriman”. (al-Nur: 2).

b. Pelaku perzinaan (porne) kehilangan martabat diri

Suatu hadis diterima dari Hudzifah bahwa Nabi saw bersabda:

Wahai manusia, hati-hatilah (takutlah) pada zina, Karena (bila dilakukannya) ada enam macam siksa. Tiga macam siksa di dunai dan tiga lagi di akhirat. Siksa di dunia adalah: Akan kehilangan kehebatan (martabat baik dirinya, mengakibatkan kesengasaraan, dan alan berumur pendek (cepat mati). Sementara itu tiga siksa di akhirat ialah: Kemurkaan Allah swt, hisaban yang jelek, dan siksa neraka”.

Semuan ayat-ayat Alquran dan hadis diatas agar seseorang tidak dengan mudah melakukan perzinaan atau berbuat porno. Dimulai dengan memelihara diri dari pergaulan, obrolan, sampai kepada perilaku yang mebawa kepada perzinaan seperti berdekatan dengan perempuan dll. Maka pornografi dan pornoaksi yang merupakan penggambaran lewat tulisan, lukisan, bahkan langsung PERAGAAN sipelaku merupakan perbuatan haram. Bagi perbuatan pornografi dan aksi ini belum ada landasan hukumnya (hudud) dalam Alquran dan hadis secara eksplit dan rinci, maka pemerintah berkewajiban menetapkan ta’zir lewat undang-undang dan itu merupakan hak kaum muslimin yang mayoritas dan hak pemererintah Repubplik Indonesia yang dijamin UUD. Segala produk hukum tidak boleh bertentangan dengan nialai-nilai dan norma-norma Ilahiyah, sebagaimana tercantum pada pasal 29.


D.
Pidana Islam terhadap Pelaku Pornografi dan Pornoaksi

Tidak ada ketentuan secara eksplisit dalam hudud Islam bagi para pelaku pornografi dan pornoaksi. Bila perbuatan porno bisa mendapat hudud dengan rajam atau dera, tetapi yang penggambaran belaka diserahkan kepada pemerintah untuk menetapkan keputusan hukumnya, yang dalam bahasa fikih disebut ta’zir. Ta’zir tersebut berat dan ringannya diserahkan kepada telaah hakim yang ketentuan bisa dengan penjara atau hukuman lain yang setimpal yang mungkin disertai dendaan berupa material. Dalam KUHP sekarang sudah ada pasal 282 dan 283 tentanggang pelanggaran kesusilaan. Bila dapat di.laksanakan dapat menhandle kriminalitas yang disebabkan pornografi dan pornografi. Dengan adanya RUUAP, akan lebih dieksplisitkan, sehingga kepastian hukumnya ke depan lebih eksplisit.

E. Kesimpulan

Porno yang seolah-olah berkonotasi baik, sebenarnya ungkapan yang memiliki makna amat jelek karena berkaitan dengan perzinaan atau pelacuran Memang, dalam segala bahasa, ada bahasa kiasan, mungkin halus, untuk istilah-istilah yang tak sopan jika disebut secara jelas. Dalam Alquran, rafats, mubasyarah, lams, sebagai metapora dari hubungan seksual. Wanita P, PSK, untuk wanita pelacur. Pada dasarnya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki sipat yang sama bila meraka melakukan perziann atau porno. Hanya dalam Islam, walaupun ada istilah-istilah tersebut digunakan pada hubungan seks yang sah.

Belum ada ketentuan yang pasti dari hudud Islam dalam menghukum orang yang melakukan pornografi atau aksi, sementara untuk porno sedah jelas, yaitu dengan didera, dibuang setahun, atau dirajam sampai mati dalam zina muhshan. Untuk itu, maka pornografi dan pornoaksi diserahkan kepada pemerintah yang disebut dengan ta’zir.

KUHP atau RUUAP adalah bentuk ta’zir pemerintah Indonesia dalam menangkal kejahatan yang disebabkan oleh pornografi-pornoaksi, bahkan yang cenderung makin marak dengan tersebarnya majalah-majalah porno, majalah play boy, CD dan tayangan-tayangan di TV yang melanggar batas susila selama ini. Hukuman bagi pelanggar susila termasuk upaya pelaksanaan salah satu kemaslahatan yang menjadi tujuan lima hukum syara (maqashid al-syariyah), yaitu hifz nasl wa a-ardh (memelihara keturunan dan martabat manusia) dan dijamin Undang-undang.

Wallau A’lam bi al-Shawab .

dikutip dari http://persis.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s