Semut Dan Lebah

Semut dan Lebah

Oleh : Ridwan Ibnu Asikin*

”Orang yang cerdik dan berakal ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap-harapkan kemurahan atas Allah, yakni mengharap-harapkan kebahagiaan dan pengampunan di akhirat, tanpa beramal shaleh.” (HR Tirmidzi).

Kecerdikan seseorang tidak bisa kita ukur begitu saja dengan menggunakan takaran nilai, begitupun kelemahan seseorang tidak bisa kita nilai oleh raga. Namun, kecerdikan dan kelemahan seseorang dinilai dari pemanfaatan terhadap waktu yang begitu singkat ini. Orang yang bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat untuk bekal kehidupan, dia akan menjadi orang yang beruntung.

Alam memberi analogi pada kita dengan contoh perilaku dua ekor hewan yang mempunyai sifat hampir sama dengan apa yang dimaksud oleh hadis di atas. Pertama, semut (annaml), yang selalu bekerja keras mengumpulkan makanan tanpa henti. Mereka mengumpulkan makanan sebanyak mungkin, padahal makanan tersebut takkan bisa mereka habiskan sampai mereka mati, tetapi mereka tetap bekerja.

Kedua adalah lebah (an-nahl), yang memiliki naluri yang dalam bahasa Alquran disebut, ”Atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.” (QS An-Nahl [16]: 68). Dan lebah selalu memperhitungkan keadaan dirinya, sehingga yang tidak bermanfaat bagi dirinya selalu ditinggalkan.

Lebah juga binatang yang bisa memberikan manfaat bagi makhluk lain, berupa madu yang dihasilkannya. Tak salah jika Rasulullah SAW pernah mengibaratkan seorang Muslim itu seperti seekor lebah, ”Tidak makan kecuali yang baik-baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat, jika menimpa sesuatu tidak merusak, dan tidak pula memecahkannya.” Itulah lebah.

Contoh perilaku kedua hewan di atas menjelaskan bahwa yang disebut orang yang cerdik adalah ibarat lebah yang selalu memberikan manfaat bagi yang lain. Sedangkan, contoh orang yang lemah diibaratkan seperti perilaku semut yang selalu menuruti hawa nafsunya. Apa yang dikumpulkannya tidak selalu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, sehingga mereka menjadi makhluk yang merugi. Wallahu a’lam bish-shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al Azhar Fakultas Ushuluddin Kairo & Alumni PPI No 92 Majalengka dan PPI No 2 Bandung.

dikutip dari http://republika.co.id

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s