Wawancara dengan Dr. Daud Rasyid, MA

Dua Dunia Yang Mesti Terpisah;

Liberalisme dan Hedonisme

phot0016.jpg

Wawancara Dengan Dr. Daud Rasyid, MA

Selama ini, bagaimana benturan yang terjadi dalam dunia pemikiran anda?

Lebih detailnya bisa anda baca atau dengar dalam dialog interaktif soal pembaharuan Islam yang dihadiri oleh kalangan intelektual Muslim liberal dan fundamental seperti Nurchalis, Harun Nasution, Prof. Rasyidi dan lainnya. Telah saya revisi ulang dan diperbaharui. Juga saya telah menyebutkan berbagai pengalaman mengajar yang menarik di UIN ciputat. Di sana, seperti hidup di hutan rimba, yang terdiri dari harimau, buaya dan sebagainya.

Bagaimana pergumulan pemikiran yang terjadi di Universitas yang ada di Indonesia ?

ee…Seperti persoalan saya dikeluarkan dari mengajar di UIN telah saya catat dalam buku secara detail. Ini, tidak mengada-ada karena kenyataannya seperti itu. Bahwa setelah Harun Nasution meninggal dunia, saya diamanahi mengajar hadits di pasca sarjana. Bahkan, siapa pun dosen yang ingin diuji desertasinya dari bidang apapun, mesti berhadapan terlebih dahulu dengan saya. Itu amanah terakhir dari Harun Nasution kepada saya. Tetapi, setelah dia meninggal dunia, saya tidak dikasih kesempatan lagi untuk mengajar walau satu mata kuliah saja. Artinya, tiada lain kecuali didivortasi. Ibarat orang yang tinggal di negara orang lain, kemudian izin tinggalnya dicabut.

Itulah yang terjadi selama ini. Saya juga sudah merasakannya sebelum Harun Nasution meninggal. Bagaimana tekanan itu datang terus menghantam Harun Nasution dengan mengatasnamakan mahasiswa. Karena jika mengatasnamakan dosen, tidak etis.

Lalu, kenapa kajian liberalisme ini tidak pernah padam?

Karena mereka sangat mengagungkan akal daripada nash. Segala nushush (teks) yang bertentangan dengan akalnya akan ditolak mentah-mentah. Dan ukuran akal di sini relatif, jika dibenturkan dengan penomena sosial. Apabila dalam konsep syariat baik dari nash Alquran dan Hadits berbenturan dengan konsep syariat lagi. Mereka mengatakan, hal seperti ini tidak boleh diterima, atau mesti ada takwil lagi terhadap teks tersebut.

Apakah ini dinamai dengan sebuah kesalahan paradigma?

Betul. Ini disebabkan kesalahan paradigma berpikir yang ditanamkan semenjak S1. Dan diperkuat lagi ketika terdaptar menjadi mahasiswa pasca-sarjana (S2). Karena kebanyakan pimpinan di pasca-sarjana ini mengatakan, “Anda harus menanggalkan segala keterikatan-keterikatan yang membelenggu pemikiran anda semua”.

Kebanyakan yang mengalami penyelewengan dalam berpikir itu bermula dari mahasiswa-mahasiswa filsafat. Bagaimana menurut anda?

Ooo…Karena hal itu telah menjadi tren keberanian semenjak S1. Mendebat, menghujat, dan mengkritik Alquran adalah sebuah prestasi kebanggaan tersendiri. Studi kasus di UIN bandung, jurusan filsafat dan perbandingan agama sudah sedikit peminatnya. Karena telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam menggunakan paradigma berpikirnya. Fenomena semacam ini terjadi hampir di setiap Universitas agama Islam. Jumlah yang masuk ke dalam filsafat dan perbandingan agama menjadi sesuatu yang mengerikan. Ini adalah kemunduran bagi jurusan filsafat, terutama di UIN dikarenakan kesalahan dalam pola pikir.

Liberalisme begitu semarak di perguruan tinggi Indonesia, terutama UIN. Bisakah anda sedikit menjelaskan?

Hakikatnya, kurikulum yang dipakai UIN adalah berasal dari timur tengah. Pembelajaran Alquran dan Hadits masih dapat dikatakan orisinil. Karena awal berdiri UIN adalah untuk mencetak kader intelektual yang mempunyai wawasan keislaman yang dapat diandalkan, baik dari tafsirnya, haditsnya, syariahnya, dan lain sebagainya. Seperti Universitas Al-Azhara sekarang ini.

Perubahan itu terjadi ketika masuknya alumni-alumni dari barat. Yang ingin menggantikan segala kurikulum yang berbau keislaman. Sehingga kajian metodologi terhadap Alquran yaitu yang disebut dengan ‘hermenetik’ menjadi kebanggan mahasiswa Indonesia.

Sekarang ini, kajian liberalisme telah merambah ke dalam kajian fikih terutama memakai alat maqashid syariah. Betulkan seperti ini?

Betul. dengan alasan maqashid syariah, mereka gunakan untuk berijtihad dan menafsirkan semaunya saja (semau gw). Padahal maqashid adalah sebuah pintu untuk mendobrak esensi-esensi nash dengan benar.

Dewasa ini, liberalisme telah membebaskan segala-galanya, bukan hanya dalam kerangka berpikir tapi gaya hidup pun menjadi bebas. Kenapa bisa terjadi salah-pemahaman seperti ini?

Karena, kalau kita ibaratkan seperti orang yang baru belajar karate tingkat satu. Apa saja ia tendang, ada dinding dan pohon ia tendang…hehehe. Mereka mengalami demam liberal, semuanya dileberalkan. Yaitu Ingin lepas dari berbagai keterikatan yang membelenggu dirinya. Karena belenggu-belenggu itu mesti dibebaskan, termasuk dalam gaya hidup pun mesti bebas. Barangkali mereka ini lebih liberal daripada para orientalis..hehehe.. Sebenarnya, masalah ini adalah masalah klasik, tapi bajunya terus berganti. Mungkin saja setiap masa akan terus berubah. Padahal intinya masih tetap sama yaitu liberalisme. Seyogianya, kita tidak terkecoh dengan bentuk bajunya, karena konteksnya masih sama. Yaitu ingin merubah hal yang mapan dalam ajaran islam.

Di masa Nurchalis juga begitu. Harun nasution juga pada awalnya begitu. Tapi Intlektual masa kini jauh lebih amatiran daripada masa dahulu. Kalau dulu semacam Nurchalis masih banyak yang mengagumi dengan keilmuan, pemikiran dan retorikanya. Tapi saat ini, sudah tidak ada lagi yang dapat diandalkan dari mereka (baca: orang-orang liberal). Tidak ilmu, tidak retorika, tidak wawasan dan tidak yang lainnya.

Efek dari liberalisme, sekarang menjadi hedonisme. Bagaimana menurut anda?

Sebenarnya, kajian liberalisme mereka adalah dalam rangka mencari materi. Jika gebrakan mereka semakin berani, semakin besar juga bantuan materinya. Hal ini, tidak terlepas dari kaitan perut juga, kebutuhan ekonomi. Karena negara Indonesia sedang ditimpa krisis sosial, juga dilanda kehidupan ekonomi yang tidak matang. Ketika ada tawaran dana yang menjanjikan. Mereka serentak memburu dana yang datang tersebut. Dengan dana tersebut, mereka berani berbuat apa saja dalam rangka memenuhi segala permohonan orang yang memberi dana.

Lalu, liberalisme bagi mereka, ideologikah atau hanya sekedar wacana saja?

Persoalan itu bisa saja berbeda-beda tafsiran. Tapi, langkah mereka telah menyalahi ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka banyak mendebat wahyu, mengkritik dan menghujat. Hal ini, adalah karakter yang tidak dibenarkan oleh para ulama Islam. Baik atas-nama wacana maupun retorika.

Karena di sana ada yang disebut qadasatul wahyu. Ia tidak seperti pendabat syeikh pulan atau ana yang masih bisa didiskusikan antara benar dan salahnya. Tetapi, yang dinamakan wahyu (syariat Allah) tidak bisa disamakan dengan pendabat orang biasa, lagi-lagi atasnama wacana. Metode seperti ini yang sering disebut dengan serampangan atau salah kaprah. Karena dalam pemahaman barat, tidak ada yang disebut dengan sakralisasi. Mereka tidak kenal apa yang disebut dengan—sakral wahyu—itu. Semuanya sama dalam pandangan mereka, baik wahyu maupun pendapat si pulan.

Kader liberal itu banyak muncul dari komunitas besar, seperti NU dan Muhammadiyah. Bagaimana menurut anda?

Saya sampai sekarang mencoba berempati. Karena bagi saya kader liberal itu tidak dapat dinisbatkan pada salah satu kelompok saja seperti NU atau Muhammadiyah. Tapi, semua bisa saja kena dengan virus liberalisme.

Terakhir, apa yang mesti kami persiapkan sebagai mahasiswa Al-Azhar?

Metodologi belajar Islam, yang mesti diperbaharui, yaitu kembali kepada sumber aslinya (baca : kitab turats islam). Atau belajar langsung kepada ahli dalam bidangnya. Kalau kita belajar kepada yang bukan ahlinya, akan terjadi kesalahan dalam berpikir. Atau terjadinya penyelewengan sebuah paradigma berpikir berawal dari kesalahan dalam pembelajaran.

One comment on “Wawancara dengan Dr. Daud Rasyid, MA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s