Istiqamah

Istiqamah

Kesetiaan adalah bersikap teguh dalam pilihan. Kesetiaan adalah sebuah komitmen untuk tetap berada pada satu hal yang telah menjadi keputusan hati. Berawal dari memilih kemudian menentukan keputusan, lalu berpegang teguh pada keputusan itu. Dengan kata lain, kesetian adalah istiqamah.

Sikap setia memerlukan loyalitas yang penuh. Sedangkan untuk membangun loyalitas, memerlukan pengetahuan dan rasa memiliki. Benar kiranya sebuah pepatah lama menyebutkan, “tak kenal maka tak sayang”. Ketika telah tahu dan kenal, adalah kemudian memutuskan untuk bersikap setia atau tidak. Ketika tahu bahwa hal itu baik, saya kira tak salah untuk setia kepada hal tersebut. Namun, ketika tahu bahwa itu tidak baik, sepertinya akan sulit membangun loyalitas di atas kekecewaan dan ketidakpuasan.

Kesetiaan atau istiqamah adalah hal penting dalam beragama. Bahkan ini menjadi tantangan terberat bagi seorang muslim kaffah adalah menterjemahkan isi dan ajaran keyakinan religi (baca: Islam) ke dalam kehidupan dan realitas sosial. Penterjemahan Quran dan Hadits dalam kehidupan ini membawa seseorang menemukan kesejatian hidupnya dalam kebahagiaan. Seorang muslim yang rindu akan kebahagian akan selalu berusaha keras menjawab tantangan itu.

Istiqamah adalah amalan hati dan bermula dari hati. Tiada trik-trik tertentu dalam menjalaninya. Semua orang memahaminya, namun tak semua orang bisa melakukannya. Firman Allah swt, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf [46]:13).

Kemestian Istiqamah ini bukan hanya dalam beragama, dalam setiap lini kehidupan pun memerlukan sikap istiqamah. Dalam berjam’iyyah pun demikian, perlu kesetiaan dan sikap istiqamah.

Salah seorang senior kita, Yusuf Burhanuddin pernah menyampaikan bahwa kita harus eksklusif namun jangan pernah menjadi eksklusivisme. Artinya, ini kembali kepada kesetiaan dan istiqamah kita dalam hidup berjam’iyyah. Ada karakteristik yang menjadi identitas kita dalam berjam’iyyah yang tidak bisa begitu saja kita tinggal.

Kesetiaan itu adalah komitmen. Sedangkan Komitmen itu serupa ikrar atau tekad yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Tuntutan komitmen adalah loyalitas. Namun, sikap loyalitas dalam ruang ini tak boleh dibentengi dari kritik rasional, seolah-olah keyakinan yang kita miliki adalah absolut benar. Harus selalu ada ruang-ruang untuk menerima kebenaran tanpa harus kehilangan identitas kita.

Terpenting bagi kita adalah komitmen ini, baik dalam beragama atau berjam’iyyah mesti tertanam dalam jiwa. Jangan sampai miskin komitmen dan miskin loyalitas. Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan loyalitas, kemiskinan azam, tekad bukannya kemiskinan harta. Firman Allah swt Hud [11]:120, menjelaskan bahwa orang-orang yang beristiqamah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Wallahu a’lam.

Risyan M Taufik

Ketua Umum Pwk PP. Persis Mesir

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s