Ningsih Purnamasari

Ningsih Purnamasari

Oleh : Abu Haitamie*

“Udah Ferdi, kita berteman biasa saja, gak usah hubungan”.

“Gak mau, saya gak mau berteman biasa, saya mau yang lebih”.

“Untuk apa hubungan, lagian kamu juga tidak akan mungkin ngawinin saya. Saya masih punya suami, saya juga punya anak.”

“Ya, saya tahu, habis gimana saya suka sama kamu”.

“Nanti Jum’at kamu turun kan? Kalau turun saya jemput ya…!!”

“Tidak usah”

”Sudah pokoknya saya jemput”.

“Klik…” Akhirnya telepon itu ditutup.

Ferdi bukanlah laki-laki pertama yang mengajak Ningsih hubungan. Ningsih Purnamasari nama lengkapnya, wanita asli berdarah Sunda. Ayahnya berasal dari Sukabumi dan Ibunya asli Bandung. Dari kecil hingga menikah ia tidak pernah jauh dari kedua orangtuanya. Dia tinggal di Bandung tepatnya di Cicalengka. Perwakannya tidak terlalu tinggi, tidak juga terlalu pendek. Tidak terlalu gemuk, tidak terlalu kurus. Kulitnya putih bersih dan memiliki sepasang mata yang sipit. Orang yang tidak mengenalnya pasti menyangka dia orang Korea atu orang Cina. Terlebih setelah rambut panjangnya dipotong pendek diatas bahu. Umurnya sudah menginjak kepala tiga, tiga puluh satu tepatnya.

Keberadaannya di Kairo sudah tiga tahun lebih. Sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya untuk pergi jauh menyebrangi lautan lepas meninggalkan anak satu-satunya yang teramat dicintainya. Setelah sebelumnya ia sempat keguguran. Ia pergi merantau ke Kairo untuk mencari nafkah demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Awalnya suaminya tidak mengijinkan namun ia bersikeras untuk berangkat. Akhirnya mau tidak mau suaminya mengijinkan walau dengan berat hati.

“Haloo Assalamu’alaikum, Agusnya ada?” Terdengar suara seorang wanita disebrang sana.

“Wa’alikumussalam…ya ini Agus”

“Kemana wae di telepon gak pernah ada ?”

“Hehe… hehe… Biasa teh. Kumaha aya naon teh”.

“Ah… kie we Gus… lieur”.

“Si eteh mah lieur we. Kumaha kitu ?”

“Tadi si Ferdi nelpon katanya mo ngejemput teteh nanti Jum’at.”

“Trus teteh kumaha?”

“Tadinya teteh gak mau, tapi dianya maksa. Teteh belum sempet ngomong lagi telponnya udah di tutup. Ah teuing, lieur antep we.”

“”Teh ari si Ferdi tahu teteh sudah punya si Rita, trus masih ada mamang?”

“Iya teteh juga sudah bilang, “Sudah kita gak usah hubungan, kita berteman biasanya saja. Lagian kamu juga gak mungkin kawin sama saya. Saya masih punya suami, saya juga punya anak.”

“Trus dia bilang apa?”

“Iya saya tahu, habis gimana saya suka sama kamu. Lagian itu kan di Indonesia ini.”

“Astaghfirullah… dia bilang kayak gitu teh??”

“Iya”.

“Gelonya… Teh, coba bilang ke dia, “Bukannya gak boleh hubungan sama orang yang sudah punya suami? Kan ferdi sekolah agama disini, Pasti lebih tahu masalah ini ? Bilangnya pelan-pelan teh. Bener teh, saya mah gak habis pikir padahal kan mereka disininya itu belajar agama tapi kenapa kayak yang gak tau ya ?? Aneh”.

“ Iya nanti teteh coba… Eh sudah dulu ya Gus, bye..”

“Bye,bye.. Assalamua’alikum!! udah kayak apa aja”.

“Hehe.. hehe.. kebiasaan. Teteh dulu juga kayak gitu, suka ngucapin salam. Semenjak gaul sama TKW yang lainnya dan madam-madam jadi ketularan.”

“Sama yang lain terserah, tapi kalau sama Agus mah jangan”!!

“Iya atuh, Assalamu’alikum…”
”Wa’alaikumussalam…”

Ningsih Purnamasari belum lama mengenal Agus. Ia mengenal Agus gara-gara telpon salah sambung. Ketika Ningsih menelpon ke rumah kawan mahasiswanya, orang yang dicarinya tidak ada. Nah, kebetulan yang ngangkat telponnya si Agus. Dari sana perkenalan mereka menjadi panjang. Ningsih memang termasuk orang yang senang memperbanyak kawan. Terlebih sekarang dia berada di negri orang. Maka bertemu atau berkenalan dengan orang Indonesia adalah kebahagiaan tersendiri bagi Ningsih. Terlebih kalau ‘selembur’, sama-sama orang sunda. Kayak si Agus ini, dia kebetulan orang Sumedang.

“Assalamu’alaikum haloo…”

“Wa’alaikumussalam, Agus ya…tumben ada di rumah…??”

“Iya neh teh lagi males keluar rumah…”

“Kumaha teh sehat??”

“Ah kie we biasa… Eh eteh udah bilang ke si Ferdi waktu turun kemarin.”

“Trus apa katanya teh?”

“Dia malah marah-marah, “Sudah kamu jangan ngajarin saya!! Saya yang lebih tahu, kamu kan cuman pembantu disini.”

“Astagfurullah… Dia bilang kayak gitu teh??”

“Ah teuing Gus kalau sudah di tutup hawa nafsu mah beda. Eh kemarin si Adit sms teteh.”

“Adit mana ??”

“Adit yang kuliah di Manshuro, yang waktu itu eteh nelpon kamu, kamunya gak ada, dan dia yang angkat.”

“Ohh Aditya, Aditya yang orang Karawang itu ? Apa katanya??”

“Bentar eteh bacain…”

‘Teh lagi ngapain ? Adit gak bisa tidur neh.. inget teteh terus. Gak tau knp. Wajah teteh selalau kebayang terus. Met bobo yach…’

Gila, ngerayu tuh…”

“waktu itu juga please call me ke teteh trus teteh telpon balik”

“Apa katanya??”

“Sama kayak Ferdi dia juga ngerayu teteh, ngajak hubungan”.

“Banyak juga yang ngefans sama teteh ya…”

“Si Adit tau kalau teteh ada Rita trus masih ada si mamang??”

“Sudah teteh sudah bilang, “ Sudah ktia berteman saja, saya masih punya suami. Saya juga punya anak. Kamu nggak akan mungkin kawin sama saya.” “.

“Trus apa katanya??”

“Katanya, “ Jodohnya siapa yang tahu, saya siap menyayangi Rita. Percaya atau nggak walaupun kamu nanti pulang ke Indonesia kamu gak akan lama di Indonesia kamu akan balik lagi ke Kairo. Sebab kamu gak akan betah, kamu akan pisah sama suami kamu. Karena Jodoh kamu ada disini.” “.

“Maksudnya apa dia bilang kayak gitu??”

“gak tahu kayaknya dia ‘bisa’ Gus, ilmu nu karitu. Tapi omongan Adit ku teteh di akurkuen jeung nu bahuela pernah maca tangan teteh gitu. Sama, teteh akan pulang ke Indo, dan cobaannya berat. Kalau teteh kuat akan selamat. Kalau teteh gak kuat bakal balik lagi ke Kairo, trus ketemu sama laki-laki yang bakal jadi sama teteh.”

“Ah gak tahu teh, Agus mah gak percaya sama yang kayak gituan. Teh bilang sama Adit, tapi jangan bilang dari Agus. Bilang gini, “ Adit kan tahu kalau saya punya suami dan anak, sekarang kalau misalkan keadaannya terbalik gimana ? Misalnya, ibu atau saudara perempuan Adit diposisi saya. Dan orang lain di posisi Adit?? Adit ridho gak, Adit rela gak??” Kalau manusia yang sehat mah, dia akan berpikir teh”.

Hari itu sore yang cerah, udara tidak begitu dingin tidak begitu panas. Udara musim semi, yang kata orang mirip dengan Indonesia. Agus dirumah sedang menikmati sore ditemani muqoror dan segelas susu coklat hangat. Aktivitasnya terhenti ketika Ali kawan serumahanya mengajaknya berbicara.

“Gus… ana mau nanya neh”.

“Apaan?? Tumben kayaknya serius aja??”

“Ah biasa aja.. Nt dah lam kenal sama teh Ningsih??’

“Lumayan, kenapa gitu ?”

“ Kade ah, ari ana lain mo ngelarang, sok-sok we, itu mah privacy nt. Tapi ana gak mau rumah in gak barokah gara-gara ‘nge-cash’.
”Maksudnya apa?? Ngecash??”
”Ana tau istilah ini udah lama, tadinya ana gak ambil pusing. Tapi sudah beberpa kali ana perhatikan gejalanya sama. ‘Gak di mana gak dimana’. Nelpon berjam-jam. Sampai di rumah kawan ana di Mutsalats juga sama, kata kawan ana, ‘Biasa TKW’. Dan obrolanny gak jauh…”

“Maksud A Ali ‘nge-cash’ telpon sex?? Kalau itu yang dimaksud silahkan saja sama A Ali dengerin kalau saya nelpon, bahkan kalau perlu pararelkan…!!” Jawab Agus dengan nada sedikit tersinggung. Karena saat itu dia sudah merasa ‘dihakimi’ secara paksa, bahkan ‘dituduh’. Dan itu semua belum dibuktikan dengan ‘valid’.

“Ana gak nuduh nt kayak gitu, ini hanya ‘tanbih’ dari ana aja. Ana gak mau tau nt suka ketemuan, dimana, mau dibayar atau dikasih duit berapa setiap bulan asalkan jangan dihadapan ana…!!”
”A Ali bilang ana, zina??” Agus kembali menekankan intonasi suaranya. Saat ini posisinya benar-benar seperti orang yang dituduh maling tanpa bukti yang jelas.

“Bukan gitu… sekarang gini ajalah, Kita sama-sama sudah besar dan bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Kalau saya pinjam perkataan Ibnu Qoyyim, zinah itu bukan hanya sebatas masuknya sesuatu atas sesuatu. Tapi zina mata juga ada, zina hati, zina tangan. Sekarang ngobrol sampai berjam-jam kesana kemari dengan lawan jenis. Itu sudah termasuk zina. Ditambah lagi ayat Al-Qur’an “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. 4:114)

Kalau dalam obrolan tidak ada tiga hal, menyuruh manusia memberi sedekah, berbuat ma’ruf, dan mengadakan kemashlahatan diantara manusia. Maka itu termasuk obrolan yang sia-sia. Makanya ana kalau tidak bisa melakukan ketiga hal tersebut, lebih baik menghindari ‘madhorotnya‘.

Iya ana setuju dengan perakataan A Ali, terlebih mamang itu nash Al-qur’an. Tapi bukan karena A Ali sentiment atau menganggap rendah karena teh Ningsih TKW kan ?”

“Bukan, dan ana gak pernah menggap rendah teh Ningsih. Buktinya kue yang kamu bawa, yang di kasih sama teh Ningsih ana juga ikut memakannya. Artinya ana juga menghargainya kan?

Agus berfikir, gak nyambung, apa hubungannya obrolan mereka dengan masalah kue yang dibawanya tempo hari. Pakai bawa-bawa masalah harga- mengahargai segala lagi. Kalau doyan atau suka mah makannya.

“Ok, seprti yang A Ali bilang tadi, dan nash AQur’an. Sekarang gini aja jawaban kongkrit dari ana. Mulai sekarang kalau saya dapat telpon dari teh Ningsih silahkan A Ali dengarkan!! Saya berikan izin seluas-luasnya, lalu A Ali nilai. Kalu ternyata lepas dari tiga perkara tadi, nasehat memberi shodaqoh, berbuat ma’ruf, dan kemashlahatan diantara manusia A Ali boleh langsung menegur saya langsung atau bahkan memutuskan telponnya. Tapi saya minta A Ali obyektif, kalau memang putih katakan putih, kalau hitam katakan hitam. Jangan subyektif…!!”

Pembicaraan Ali dan Agus yang mulai memanas terhenti karena kumandang adzan Maghrib. Mereka terdiam dengan pikrannya masing-masing. Aldi berpikir manusia selalu saja bisa melihat semut yang berada disebrang lautan, tapi gajah di pelupuk mata tidak pernah terlihat. Seperti yang terjadi pada Ali. Ali baru saja menasehatinya hati-hati bergaul dengan TKW, jangan mendekati zina. Karena ngobrol berjam-jam dengan lain muhrim sudah termasuk zina. Tapi, Ali gak sadar, bukankah yang namanya lain muhrim itu bukan saja antara TkW dan mahasiswa??

Melainkan mahasiswa dengan mahasiswa kalau tidak ada hubungan nasab juga bukan muhrim?? Begitu juga dengan tunangan, atau seseorang yang telah kita khitbah, tetap saja belum syah karena belum jadi muhrim jadi gak berhak ‘sayang-sayangan dengan kata-kata mesra baik via sms maupun telepon. Itu semua hukumnya bisa jadi termasuk zina. Dan Ali pernah bahkan sering melakukan dengan perempuan yang telah di khitbahnya. Entah dia tidak sadar atau lupa. Agus sengaja tidak melontarkan hal itu pada Ali karena selain Ali seniornya, maka Agus menghormatinya, juga karena Agus ingin tahu sampai sejauh mana kedewassan Ali. Sebagai seorang mahsiswa tingkat akhir di al-Azhar University fakultas Ushuludin, seharusnya dia bisa menyinergikan ilmu yang dia dapatkan dengan prilakunya. Karena itulah sejatinya ilmu yang bermnafaat.

Untuk semua saudaraku…

Lihatlah semua yang ada disekilingmu

dengan hati yang bersih dan nurani yang jernih

Cernalah kesemuanya dengan nalar yang ‘sehat’

Maka engkau akan mendapatkan buah kebajikan…

( A Nu Akbar )

* Ketua Bidgar Maliyyah Pwk PP. Persis Mesir

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Sastra Tagged

One comment on “Ningsih Purnamasari

  1. nyerempet2 bahaya yach.
    bahaya zina…
    tapi untung masih bisa bertawashau bil-haq dan bert-tawashau bi-shshabr.

    jauhkan lah dari sesuatu yang nyerempet bahaya zina.

    itu azza dulu yach

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s