Seorang Putra

Seorang Putra

Oleh: An-Nisa

Kebahagiaan kini hadir dalam kehidupan keduanya. Impian yang kini tak sebatas penantian, setelah 3 tahun akhirnya amanah itu dapat mereka dekapkan dalam sujud syukur.

“Akhirnya Tuhan mendengar do’a kita dan mempercayai kita untuk diamanahi karunia besar ini”, ucap Mas Faisal sambil merangkul istrinya yang sedang mengusap perutnya yang kian membesar.

“Fia…mana masmu?ajak turun untuk sarapan”, pinta ibu.

“Mas Faisal sedang berpakaian, sebentar juga akan segera turun”. Jawabku dengan keberatan membawa perutku sendiri.

Akhir-akhir ini ibu yang selalu menyiapkan sarapan, membiarkanku agar banyak istirahat. Padahal pikirku, usia kandungan menginjak sembilan bulan justru harus banyak gerak, biar lancar saat lahiran…itukan teorinya.Tapi ibu memang terlalu perhatian dan sangat protect untuk cucu pertama yang dinantikannya.

Aku sudah ditinggal kedua orang tuaku sejak menikah dengan Mas Faisal.Aku dan mas Faisal sampai saat ini masih tinggal bersama ibu dan bapak di kompleks kawasan Malibu-Pangalengan. Sebagai anak tunggal, suamiku merasa dengan serumah adalah salah satu cara berbakti kepada orang tua. Bapak dan ibu sudah cukup tua untuk mengurusi rumah sebesar ini, pasti cape.Sempat ada keinginan untuk punya rumah sendiri tapi ibu dan bapak mertuaku langsung menolak. “Lagian rumah ini terlalu besar kalo cuma ditinggali berdua saja”, jawab ibu saat itu. Kami menurut saja.

“Sal, jangan terlalu larut kalau pulang kerja, istrimu sudah hamil tua sebentar lagi lahiran”, saran ibu setelah selesai sarapan.

“Iya, kalo ada apa-apa…kandungan istrimu tiba-tiba terasa sakit kamu sebagai suami harus siaga”, tambah bapak menyarankan.

“Masa akan mengandalkan kami yang sudah tua dan keriput begini”, ucap ibu lagi.

“Pasti bu, hari ini Sal akan pulang cepat”, jawabnya singkat.

“Sal berangkat dulu, titip istri dan jagoanku ya..”,pamitnya setelah bersalaman.

“Hati-hati ya Mas…”, pesanku sambil mengantarnya sampai pintu.

Cepat pulang ya Mas, kau sudah tak sendiri lagi. Ada isteri dan anak kita yang selalu menunggumu. Lamunku sampai bayangannya menghilang dipintu gerbang…

* * *

Kuusap perutku yang tinggal menunggu waktu.

Tiba-tiba perutku terasa sakit yang sangat, aku tidak kuat menahannya. Aku ingin sekali menangis saat ini, apalagi tidak ada orang di rumah. Aku hanya terus berdzikir untuk menenangkan. “Mas cepat pulang…”, lirihku dengan menahan sakit. Mungkin inikah saatnya, biasanya aku hanya merasakan kontraksi yang sebentar dan masih bisa kutahan, katanya itu kontraksi palsu. Tapi saat ini,”Ya A ll ah…ku atkan ham ba un tuk me na han nya”, do’aku terbata. Kucoba raih gagang telpon diruang tamu untuk menghubungi suamiku di kantornya. Belum sempat kuambil, tiba-tiba…,bruk!Semua gelap.

Kubuka mataku perlahan, sepertinya aku telah tidur lama sekali. Berat sekali kepalaku, pusing. “Mas, dimana?“, kupanggil mas Faisal lemah.

“Alhmadulillah Fia sudah sadar, Mas disini”, jawab suamiku lembut. Kupandangai seorang laki-laki yang duduk disampingku. Terlihat mukanya begitu lelah, mungkin sudah lama menungguiku.

“Kamu tadi pingsan, setelah bayinya berhasil keluar”, ucap Mas faisal sambil mengelus kepalaku.

“Mana anak kita Mas?”, tanyaku ingin segera menggendongnya.

Suamiku terdiam.

“Kenapa mas?, ada apa ko terlihat tidak begitu senang?”, tanyaku ketika mendapati raut muka suamiku yang tidak sepenuhnya memancarkan kebahagiaan.

“Tidak ada apa-apa, Fia sebaiknya istirahat saja sekarang”, pinta suamiku menenangkan.

“Ibu dan Bapak mana?”, tanyaku kemudian.

“Mereka pulang dulu untuk ganti pakaian skalian bawa pakaian Mas juga, nanti sore kembali lagi”, jawabnya sambil tersenyum.

“Suster, bisa saya melihat bayi saya?”, pinta Fia dengan penuh kebahagiaan. Kebetulan saat itu ada seorang suster jaga diruanganku.

Suster itu seketika menatap laki-laki disampingku, Mas Faisal. Tak lama ia mengiyakan setelah mendapat isyarat suamiku yang menganggukan kepala. Lalu suster itupun segera keluar. Aku berganti menatap suamiku, langsung ia tersenyum.

“Fia pasti masih letih dan sakit, istirahat saja ya”, sarannya kembali.

“Insya Allah Mas, kalo Fia sudah lihat bayinya Fia pasti langsung segar dan sembuh”, tolakku meyakinkannya.

Tak lama suster itu datang bersama seorang dokter. Sepertinya ia yang telah membantu proses persalinanku. Dokter itu yang menggendong anakku. “Kecil sekali bayiku”, kataku dalam hati.

“Selamat nona Fia, anak Anda laki-laki. Berat 2,5 Kg”, ucap dokter sambil menghampiriku. Kulihat dokter itu sekilas bertatapan dengan suamiku sebelum menyerahkan bayi itu.

Ketika gendongan itu berpindah ke tanganku dan kubuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, tiba-tiba dadaku terasa sesak. Suamiku yang duduk disampingku memegang lenganku, mencoba menguatkanku. Dokter yang menungguiku langsung berbalik kearah jendela dan suster yang ada di ruangan langsung keluar.

“Sabar ya sayang, ini ujian untuk kita”, bisik suamiku sambil mencium kepalaku.

Aku hanya bisa menangis sambil menatap bayi yang masih ada dalam gendonganku. Dia anakku, diakah?. Seketika pikiranku berharap bahwa bayiku tertukar dengan seorang ibu yang lain. Bayi itu lahir tanpa kedua belah telinga!

Lama kuperhatikan bayi itu, mata bulatnya dan hidungnya sama persis sepertiku. Bibirnya kecil dan mukanya oval seperti suamiku. Rambutnya hitam lebat seperti punyaku. Ya, dialah anakku. Sekilas kulihat sebentuk senyum manis terukir dari bibirnya, senyum itu milik suamiku. Tentu dia anakku. Langsung ku peluk erat bayi itu.

“Mas, dia anak kita. Aku tetap akan menyayanginya, akan merawat dan selalu menjaganya”, lirihku dalam tangis yang tak bisa kutahan. Kurasakan tangan Mas Faisal mengusap kepalaku agar aku bersabar.

“Benar, kita berdua akan membesarkannya dan menjadikannya seorang putra yang cerdas dan berjiwa besar”, balasnya sambil memelukku.

“Maafkan Fia Mas, tidak bisa memberikan seorang putra yang sempurna”, selaku masih dalam pelukan suamiku.

“Mas tidak akan pernah menyalahkan istri Mas, tidak akan menyalahkan Tuhan yang menciptakannya. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini”,jawabnya lebih erat memelukku.

“Bagaimana Ibu dan Bapak, mereka sudah tahu?”, tanyaku sambil meletakan bayiku yang tertidur disampingku.

“Tenang saja, mereka tetap menerima cucu mereka. Malah kalau bisa Omanya mau mendonorkan telinga tuanya untuk cucunya”, jawab Mas Faisal seraya tersenyum menghiburku.

Ya Allah…Engkaulah Yang Maha Sempurna, berikan kekuatan kepada kami. Biarkan kami tetap memiliki-Mu dihati kami, walaupun kami tidak mempunyai segalanya di dunia ini. Jadikanlah makhluk-Mu yang tidak sempurna ini untuk bisa menghadapi kehidupan dengan sempurna agar mampu menyempurnakan yang tidak sempurna dengan kebaikan dan keimanan.

* * *

Kami beri nama anak kami Putra Adzkia Al-Barra. Tak terasa sekarang Putra sudah kelas 4 SD, usianya 9 tahun. Waktu telah membuktikan bahwa pendengarannya bekerja dengan sempurna. Dia seorang anak yang cukup tampan dengan cacatnya. Namun sering sekali dia pulang kerumah dalam keadaan menangis karena ulah teman-teman kompleks yang selalu mengejeknya.

Pernah satu kali ia bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan mamanya sambil menangis. “Seorang anak laki-laki besar mengejekku, katanya aku ini makhluk aneh”, katanya sambil terus menangis. “Oh, putraku…jadilah putra yang berjiwa besar agar kelak kau menjadi orang besar”, batinku.

Lamunanku terhenti ketika Ibu menghampiriku yang sedang sibuk didapur menyiapkan makan malam.

“Fia, mana Putra? Sudah sore begini belum pulang?”, tanya ibu sembari membuka panci diatas kompor.

“Sepulang sekolah tadi diajak Mas Faisal bermain bola dilapang depan”, jawabku sambil memotong sayuran.

“Kenapa masih diajak main, padahal sebentar lagi ujian kenaikan kelas”, protes Ibu padaku.

“Bagaimana tadi disekolahnya? Dia masih suka dibandelin teman-temannya?”, tanya ibu kembali.

“Ya, memang masih ada yang selalu mengerjainya, tapi Putra bilang tidak suka membalasnya. Dia hanya ingin mencari teman dan mencoba terus berbuat baik dengan teman-temannya”, ucapku mengingat perkataannya tadi siang.

“Fia tidak menyangka kalau Putra akan sebijak itu memperlakukan teman-temannya, padahal dia masih kecil. Fia sangat bangga padanya apalagi prestasi belajarnya yang selalu baik”, lanjutku.

“Yah, dia memang cucuku yang sangat baik. Dia selalu mencoba untuk tidak membuat orang tuanya merasa khawatir walaupun dia yang tersakiti”, nenek membenarkan ucapanku.

“Fia, Ibu terpikir bagimana kalau kita mencari seorang dokter yang bisa mencangkokan telinga untuknya”, ucap Ibu mengusulkan.

“Memang bisa ya Bu, kalau ada Fia tentu akan melakukannya untuk Putra walaupun harus dibayar mahal. Tapi…”, jawabku ragu.

“Bahkan Ibu berniat yang akan mendonorkan….”, ucapannya terputus ketika tiba-tiba ada suara yang memanggil kami.

“Mama…oma..Putra menang, Putra menang!”, teriaknya ketika masuk rumah

“Sudah pulang nak, ada apa terlihat gembira sekali?”, tanyaku menyambutnya.

“Cucu nenek main apa, pakainannya kotor sekali”, tambahnya kaget.

“Tadi Putra main bola sama Papa, dan Putra menang”, jawabnya bangga sambil menepuk dadanya.

* * *

Banyak prestasi yang diraih Putra di sekolahnya. Tidak hanya prestasi belajar yang selalu diraihnya di peringkat utama. Setiap lomba yang diadakan, Putra selalu mengikuti. Terutama lomba mengarang dan melukis, Putra pasti menjadi juara pertama. Bahkan itu juga yang selalu membuat iri teman-teman dikelasnya yang selalu dicontohkan para guru sebagai murid berbakat disekolah.

“Mah, mau lihat hasil gambar Putra di Sekolah?”, tanyanya menghampiriku yang sedang duduk diruang tengah.

“Memangnya Putra gambar apa?”, aku balik bertanya.

“Nih, mama lihat baguskan, cantik!.”, ucapnya sambil menyerahkan 3 lukisan dan duduk disebelahku.

“Iya bagus, tapi kenapa semua gambarnya adalah perempuan?”, tanyaku setelah memperhatikan ketiga lukisan itu.

Memang semuanya bergambar perempuan. Yang satu gambar seorang gadis, yang satunya lagi perempuan setengah baya dan yang lainnya berusia lanjut. Dan anehnya semua berambut panjang lurus sedada.

“Memang kenapa? Putra suka aja”, jawabnya enteng.

“Kalau boleh tahu, siapa ketiga perempuan yang Putra lukis ini?”, tanyaku ingin tahu.

“Mah, seandainya Putra seorang perempuan tentu saja Putra akan selalu memanjangkan rambut untuk menutupi cacat Putra”, jawabnya pelan. Membuatku terdiam sesaat dan hampir meneteskan air mata.

“Makanya Putra senang sekali membuat lukisan seorang perempuan”, lanjutnya.

“Apakah mama senang untuk memanjangkan rambut seperti oma?”,tanyanya sambil memainkan jari-jari tanganku. Putra tahu kalau rambut mamanya memang pendek. Rambutku bermasalah, sering rontok. Bukan karena aku tidak merawatnya, tapi dokter bilang ini karena kondisi psikisku yang seperti tertekan dan mempengaruhi kepada keadaan tubuhku termasuk rambut.

“Tentu nak, suatu saat nanti mama akan memanjangkan rambut ini untukmu”, jawabku sambil tersenyum. Namun senyumanku gagal menahan air mata yang kini tumpah mengaliri pipiku. Aku segera menghapusnya, tak ingin Putra melihatku seperti ini yang akan membuatnya lebih menderita. Ya, aku tahu hidup anakku penuh penderitaan dan kekecewaan.

“Fia, ada telpon dari Masmu?”, panggil Ibu. Tak lama Ibu menghampiri kami yang sedang duduk di Sofa.

“Eh, rupanya cucu oma lagi dirumah?”, ucap nenek ketika melihat kami sedang bersandaran.

Aku langsung berdiri dan menuju telpon di ruang tamu. Ibu menggangtikanku menemani Putra dan duduk bersamanya. Terdengar sekilas Putra membicarakan kembali lukisannya kepada Ibu.

“Ada apa Mas?”, tanyaku segera setelah mengambil horn telpon.

“Begini, mas sudah menemukan seorang dokter yang bisa mencangkokan telinga untuk Putra kita”, terdengar suaru Mas Faisal bersemangat.

“Kita tinggal mencarikan seseorang yang mau mendonorkan telinganya”, lanjutnya namun dengan suara agak rendah.

“Jangan katakan pada Putra tentang hal ini, cukup Ibu saja yang kita beritahu”, pesan suamiku.

“Oh iya, mungkin operasi juga akan dilakukan di Singapura oleh dokter itu bersama rekannya”, tambahnya sebelum mengakhiri pembicaraan.

“Baik Mas”, jawabku singkat sambil berpikir.

Kuletakan horn telpon setelah pembicaraan kami selesai. Tiba- tiba Ibu sudah ada di belakangku.

“Ada apa Fia?”, tanya ibu ketika mendapatiku melamun.

“Putra mana?”, tanyaku sambil mengitari ruangan.

“Dia ngantuk, Ibu suruh tidur”, jawab Ibu singkat.

Kuceritakan semua pembicaraanku bersama suamiku barusan. Ibu mulai berpikir, teringat kembali niatnya sebagai pendonor bagi Putra, hal ini sempat mau diucapkan Ibu ketika berbincang di dapur waktu itu bersamaku, namun karena kedatangannya dari bermain bola akhirnya niat itu tak terucapkan.

(sampai sini ) * * *

Tahun berganti tahun, rahasia itu masih tersimpan. Putra belum tahu orang yang telah rela mendonorkan telinga untuknya. Kini Putra adalah seorang pelukis terkenal di setiap sudut kota tanah air, bahkan telah mengikuti pameran lukisan di luar negri. Bahkan kini dia telah menjadi seorang suami, dengan seorang isteri yang cantik, pintar dan seorang dokter. Pernah satu kali ketika Putra sedang kuliah diYogya menghubungi papanya sengaja menanyakan rahasia yang selama ini tak diketahuinya.

“Pa, Putra harus tahu siapa yang telah berkorban untukku, dia telah berbuat sesuatu yang sangat besar dan berarti namun aku sama sekali belum bertemu dan membalas kebaikannya”, jelasku pada papa ketika itu.

“Papa yakin kau takkan bisa membalasnya, kau cukup selalu mendo’akan kebahagian hidupnya”. Setelah terdiam sesaat papanya melanjutkan,”Sesuai perjanjian belum saatnya bagimu mengetahui semua itu, dia tidak hanya berjasa padamu tapi juga telah mengajarkan papa banyak hal dalam hidup”.

Kabar terakhir, papa menghubungiku bahwa mama sedang sakit, tiba-tiba jantungnya kambuh dan dirawat di RS, aku harus segera pulang.

Opa sudah dulu meninggalkan kami ketika Putra masih SD, dan Oma menyusul Opa seminggu sebelum pernikahannya. Keduanya sakit.

“Pa, kami pulang”, ucap Putra ketika sampai di rumah dan tidak didapati seorang pun didalamnya. Mereka khawatir, sudah malam begini sedang pergi kemana?

Kutekan nomor papa dan terdengar nada sambung. Lama tak diangkat, akhirnya ada jawaban.

“Pa, dimana?.” buruku ketika mendengar suara papa parau. Langsung kami bergegas setelah menerima jawaban papa ditelpon.

Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan bagi keluarga Faisal. Semua turut berduka atas kepulangan Ashfia, yang dikenal sebagai orang yang baik dan ramah. Selalu terukir senyum dibibirnya kepada semua orang.

Faisal dan Putra mendekati jenazah yang akan dimakamkan, sebentar Faisal membuka kain kafan bagian kepala yang telah membungkus istrinya yang terbujur kaku. Nampak bibirnya seperti tersenyum, mukanya bersih. Perlahan Faisal membelai rambut sang istri, lalu menyibaknya sehingga tampaklah….bahwa sang ibu tidak memiliki telinga!

“Mamamu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memajangkan rambutnya”, bisik faisal ditelinga putranya.

“Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya.”, lanjut Faisal penuh takjub memandang jenazah istrinya.

“Jadi, mama yang telah rela mengorbankan semua ini untuk Putra?”, lirihnya sambil terisak.

“Kecantikannya terpancar dari ketulusan hatinya, cinta sejatinya terdapat pada sesuatu yang telah ia korbankan namun tidak ingin diketahui”, ucap Faisal memuji istri yang paling dicintainya.

Tak lama Faisal menutup kembali wajah jenazah dengan kain kafan dan dengan hati-hati jenazah diangkat ke atas peti dibawa menuju pemakaman. Fia dimakamkan pas disamping Ibu dan Bapa.

Putra membuka hadiah cinta yang ia buat untuk sang mama, sebuah lukiasan. Didalamnya terdapat gambar mama, papa dan dirinya. Mamanya yang ia lukis dengan rambut panjang lurus sedada, sambil tersenyum. Begitu cantik. Disampingnya seorang laki-laki gagah dan tampan, dialah sang papa. Dan didepan keduanya berdiri seorang laki-laki muda yang terlihat tampan, itulah dirinya yang baru dengan sepasang telinga yang utuh.

“ Ya Allah, lapangkanlah alam kuburnya dan terangilah dengan cahaya-Mu”, do’aku terucap khusyu.

Mama meninggal dengan tenang setelah shalat isya dilanjutkan tilawah, dalam keadaan masih mengenakan mukena dan memegang Al-Qur’an.

 

* Anggota Pwk PP. Persis Mesir

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Sastra Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s