Teologi Global

Teologi Global

Oleh : Jemil Firdaus*

Era global, itu yang sering kita dengar di jaman ini, suatu masa dimana terjadi perubahan besar dalam ruang lingkup peradaban manusia hingga hampir menyentuh kesemua sekte kehidupan, terutama dalam dimensi sains, hingga pluralisme agama pun menjadi tawaran menu garapan era global ini. Satu dari sekian dampak globalisasi adalah lenyapnya jati diri dan nilai suatu budaya, namun di sisi lain juga memberi konstribusi menghidupkan nilai-nilai tradisi serta penegasan jati diri keagamaan (religious self-assertion). Munculnya paham ideology yang beraneka ragam yang saling baku hantam menyalahkan satu sama lain, dan disisi lain juga ada yang mempunyai toleransi tinggi dalam menyikapi perbedaan dengan kreatif dan penuh rasa tangung jawab untuk tetap menjadikan dunia aman makmur, walau penuh aliran yang berbeda di dalamnya. Pada akhirnya hal ini memaksa memunculkan inisiatif beberapa pemikir untuk menelorkan sebuah gagasan teori akan perlunya mempersatukan semua agama dalam naungan atap yang satu, sering di kenal dengan pluralisme agama (teology global). Hingga dengan gagasan teori ini diharapkan bisa untuk meminimalisir akan terjadinya bentrokan antar ideologi, atau dengan kata lain bahwa teology global ini dianggap sebagai solusi menghadapi fenomena pluralisme agama.

Bermunculan tulisan-tulisan atau teori ideologi bahkan menjelma menjadi pergerakan aliran dengan mengatasnamakan world theology atau global theologi dan yang serupa dengan itu sudah banyak kita temui, misalkan Wilfred Cantwell Smith dengan bukunya Toward A World Theology (Menuju Sebuah Teologi Dunia) pada tahun 1981. Atau ajaran Sai Baba yang baru-baru ini muncul di india. Tepatnya Beghawan Sri Sathya Sai Baba, dijuluki sebagai Sang Avatar; penjelmaan tuhan penguasa alam semesta yang menitis pada tubuhnya. Dia mengajak orang kepada kebaikan, menegakkan kebenaran dan membinasakan kejahatan. Ajaran yang menyatukan semua agama dan kemampuan magic yang dimilikinya mendatangkan pengikut dari seluruh penjuru dunia dan lebih dari puluhan juta manusia dari lintas agama telah mengikutinya, hingga para pengikutnya menjulukinya sebagai ‘Pemersatu Semua Agama’. Namun apakah teologi global, mempersatuan agama adalah jawaban relevan dengan kelangsungan kondisi pluralitas agama sebagai bentuk kehidupan baragama yang realistis? Apakah ini benar-benar merupaakan gagasan yang mampu menciptakan perdamaian dunia pada umumnya? Lantas apa konsekuensi logis dari gagasan paham pluralisme ini? Bagaimana agama Islam menilai teologi global ini? Dan masih banyak lagi setumpuk pertanyaan yang patut diajukan sebagai bahan koreksi tentang teologi global ini.

Pada dasarnya produk pemikiran mempersatukan ajaran agama adalah ide usang yang sudah ditawarkan pada Rasulullah Saw. empat belas abad yang lalu. Namun munculnya kembali gagasan ini bukan menutup pintu untuk mempelajari kembali dan mengkritisi akan motiv apa di balik itu semua? Oleh karena itu kita akan sedikit memahami akar permasalahan dari menunculnya teologi global.

Satu dari sekian tawaran gagasan teologi global (menurut Wilfred Cantwell Smith) yaitu mewujudkan dua hal penting bagi manusia pada abad dua puluh ini, bagaimana mengubah our nascent world society (masyarakat dunia yang baru tumbuh dan muncul) menjadi a world community (sebuah komunitas dunia), lebih lanjut menegaskan bahwa manusia harus mempelajari tugas baru untuk hidup bersama sebagai partner dalam dunia yang multi-relijius dan multi-kultural. Selama manusia tidak bisa belajar saling mengerti dan mencintai satu sama lain secara lintas batas agama, dan selama tidak bisa membina suatu dunia, maka masa depan planet manusia tidak akan cerah. Oleh karena itu tugas terbesar adalah universal friendsip (persahabatan universal). Dan persahabatan ini terlalu besar untuk diwujudkan atas dasar apapun selain dasar relijius. Dengan apa dan bagaimana? Pokok permasalahannya sebenarnya terletak pada terminologi agama itu sendiri, dengan menyatakan hanya agamanya yang satu-satunya mengantarkan ke tuhan. Maka perlu muncul ideologi baru yang menjelma sebagai solusi dari semua itu. Sekali lagi dalam pandangan Smith perlu mengkaji ulang terminologi agama, karena agama merupakan permasalahan yang problematik, ambigu, kontroversial dan mengundang polemik serta pernyataan-pernyataan tidak berujung, sampai pada level di mana seseorang tidak mungkin bisa memberikan definisi yang bisa disepakati bersama. Sampai-sampai Smith menyatakan ‘di bumi mana pun di langit, tidak ada sesuatu yang bernama agama’.

Teologi global Mengajak melepas terminologi agama, digantikan oleh alternatif yang biasa disebut sebagai cumulative tradition (himpunan tradisi) dan faith (pengalaman keimanan pribadi). Penafsiran agama dengan dua hal tersebut mempuyai dua keungulan menurut Smith. Pertama: maknanya jelas, definitif, spesifik, dan bisa dikaji secara historis dan empiris. Kedua: mencakup keseluruhan manusia dari beragam keimanan sampai yang ateis. Dia berkeyakian bahwa konsep arternatif ini terjadi sebelum proses ‘refikasi agama’, kondisi ini tercipta dengan cara memperlebar jendela kaca, jangan terkungkung oleh sudut pandang yang sempit.

Berkaitan dengan penafsiran tuhan merupakan permasalahan inti dalam mendamaikan atau membenarkan teologi global. Dalam teologi global tuhan ada dua bentuk, “The Real” (tuhan yang nyata) dan “The Phenomenal Real” (tuhan yang nampak sebagai hasil dari tradisi). Semua agama menafsirkan tuhan sebatas tradisi pengalaman masing-masing, maka perlu mentransformasi dari pemusatan agama ke pemusatan tuhan (menurut John Hick; the transformation from religion-centredness to god centredness).

Kesimpulan

Dokrin teologi global ini adalah usaha terencana, sistematis dan sophisticated, menghapus agama dengan perlahan dan menggantikannya dengan hal baru hasil produk gagasan ini, atau paling tidak mengurangi (banalisasi) dan menjinakkan (domestikasi) keyakinan akan kebenaran agama tersendiri. Kalu kita cermati ada dua titik konsekuensi permasalah krusial yang dihasilkan oleh gagasan teologi global ini, yang pertama: bahwa upaya pembenaran terhadap agama-agama sudah tidak relevan lagi, kedua: teks-teks suci secara implisit dan eksplisit menyatakan kebenaran mutlak adalah miliknya sendiri, hanya dalam satu agama tertentu saja kebenaran itu ada, sering dikenal dengan the conflicting truth-claims (klaim-klaim kebenaran yang besebrangan). Maka semua agama dalam pandangan teologi global ini sebagai hal yang nisbi, relatif. Bisa dikatakan teologi global merupakan upaya alternatif teori-teori skeptisisme total terhadap fenomena pluralitas agama. Dan ini sangat berbahaya, mengancam eksistensi agama itu sendiri dan justru bisa menyebabkan munculnya konflik permasalahan baru antara agama dan teologi global.

Keamaan dunia hanya bisa dirasakan dengan merelisasikan ungkapan Al Quran yang begitu indah menyatakan “lakum dinikum waliyadin.” Wallahu ‘Alam.

 

* Bidgar Kaderisasi

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Wacana Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s