Islam; Antara Syari’at Muhammad SAW dan Syari’at Para Nabi ( Sebuah Analisa Ushuliyyah )

ISLAM: Antara Syariat Muhammad SAW. dan Syariat Para Nabi[1]

Sebuah Analisa Ushûliyyah[2]

Oleh: Mabruri Mohammad Sa’i, Lc.[3]

من يبتغى غير الاْسلام دينا فلن يقبل منه وهو فى الاْخرة من الخاسرين

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [ 3]:85)

Pendahuluan

Syariat secara umum mempunyai dua tujuan besar pertama, demi kemaslahatan dan kedua, menghilangkan kerusakan. Maka tak heran Allah menjelaskan tujuan ini berkali-kali, baik secara umum dalam Al-Quran, seperti firman Allah SWT tentang pengutusan nabi dan rosul,

“Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. 4:165)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21:107)

Sebagaimana firman-Nya tentang asal penciptaan,

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. 11:7)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. 51:56)

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. 67:2)

Secara khusus, Allah SWT menjelaskan tujuan ini dalam syari’at-syari’atnya, seperti firman Allah swt setelah ayat wudhu;

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. 5:6)

Begitu pula tentang ayat shaum;

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. 2:183)

Sama halnya dengan ayat sholat:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. 29:45)

Allah SWT berfirman pula dalam ayat kiblat:

“Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak hujjah manusia atas kamu.” (QS. 2:150)

Dan dalam ayat jihad:

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnaya mereka telah dianiaya.” (QS. 22:39)

Di dalam ayat qishos:[4]

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa.” (QS. 2:179)

Dan tujuan ini tidak hanya terbatas kepada nabi Muhammad saw saja, atau kepada salah satu nabi diantara sekian banyak para nabi dan rasul, melainkan kepada seluruh nabi dan rasul. Allah SWT mengutusnya dengan Syariat untuk mencapai dua tujuan tersebut. Allah SWT misalnya menceritakan kisah perkataan Nabi Syu’aib as. dalam Al-Quran :

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah.” (QS. 11:88)

Allah SWT pula yang telah mengabadikan perkataan Nabi Musa:

“Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun: ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan’.” (QS. 7:142)

Seperti menceritakan tentang Firaun:

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. 28:4)

Kemudian allah swt pula yang menceritakan syari’at-syari’at para nabi dalam Al-Quran misalnya syariat Nabi Syu’aib as kepada ahli Madyan:

“Maka sempurnakanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya.”(QS. 7:85)

Dan didalam ayat lain:

“Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. 7:74)

Atau syariat Nabi Musa as kepada kaumnya:

“Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. 2:60)

Kemudian setelah itu Allah SWT mensyariatkan kepada kita:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS. 7:56)

“Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. 2:205)

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan.” (QS. 47:22)

“Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. 47:23)

Dan masih banyak syariat-syariat para nabi lainnya yang diceritakan oleh Allah SWT dalam AlQuran seperti syariat qishos,[5] denda dan lain sebagainya.[6]

Islam Sebagai Sebuah Syari’at

Manusia sebagai makluk sosial sudah tentu membutuhkan orang lain sebagai partner hidup. Baik itu untuk memutuskan satu masalah atau hanya sekedar untuk berbagi. Oleh karena itu, para filosof seperti Aristoteles, Al-Faribi, atau pun Ibnu Khaldun mengakui pentingnya teman dalam kehidupan manusia.

Akan tetapi, di dalam aktifitas dan interaksinya dengan orang lain, tak jarang seorang anak manusia harus merasakan gesekan-gesekan yang apabila tidak segera dicari pemecahannya akan menimbulkan permasalahan, bahkan perang. Maka tak ayal lagi, manusia membutuhkan satu undang-undang yang ditaati oleh semua kalangan, untuk mengatur semua hubungan manusia dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari pengaturan pribadi, keluarga, tetangga sampai negara.

Setidaknya ada dua syariat utama yang harus dipenuhi oleh undang-undang ini. Pertama, berisikan aturan-aturan yang menyeluruh. Kedua, berisikan manhaj untuk berfikir. Karena kelebihan manusia adalah diberikan akal untuk berfikir, maka undang-undang ini harus memuaskan akal fikiran manusia, terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam; siapa yang telah menciptakannya? siapa pula yang telah menciptakan bumi langit serta isinya ? siapa yang menjadikan malam dan siang?siapa yang mengatur daur kehidupan ini? ada apa setelah kehidupan ini? jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan, keimanan dan kemaslahatannya. Karena disamping sebagai mahluk sosial, manusia pun mempunyai fitrah-fitrah pencarian.

Karena itulah, sejak pertama Adam dan Hawa diturunkan, diperintahkan pula untuk mencari undang-undang dan mengikutinya. Tidak lain adalah undang-undang Islam. Allah berfirman: ”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka.” (QS. 20:123)

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. 20:124)

Kemudian allah menjelaskan bahwa, hidayah dan syariat adalah fitrah yang ada dalam setiap diri manusia.karena syariat islam adalah kumpulan perintah dan hokum yang berisikan dogma kepercayaan dan praktek amaliyah yang mewajibkan penganutnya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan untuk mencapai tujuan syariah, yaitu kemaslahatan.[7]

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus” (QS. 30:30)

Syariat; antara Muhammad SAW dan para Nabi

Umat islam sepakat bahwa syariat Muhammad telah me-nasakh syariat para nabi secara umum,[8] sebagaimana tergambar jelas dalam firman-Nya:

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. 3:85)

Berbeda dengan para nabi yang diutus untuk umatnya masing-masing, nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh umat sampai akhir kiamat, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’.” (QS. 7:158)

Maka, syariat yang diturunkan kepada Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, menghapus semua syariat-syariat para nabi sebelumnya secara umum.

Hal ini ditegaskan pula oleh nabi Muhammad SAW dalam hadits Jabir:

وأنه لو كان موسى حيا بين أظهركمما حل له إلاّ أن يتبعنى ………. رواه ابو يعلى

لو كان موسى وعيسى حيا لما وسعهما الا اتبعى …….

عن أبى هريره عن النبى : والذى نفسى محمد بيده لا يسمع بى أحد من هذه الأمة يهودى ولا نصرانى ثم يموت ولم يؤمن بالذى أرسلت به إلا كان من أصحاب النار- رواه مسلم

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain yang menjelaskan bahwa Al-Quran adalah hakim bagi kitab-kitab sebelumnya, yang berisikan syariat-syariat para nabi, dan memerintahkan kepada ahli syari’at ini –yahudi dan nasrani- untuk mengikuti Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW. (Al-Maidah 48-49 dan Al-A’raf 157-158).[9]

Sebagaimana umat Islam pun tidak berselisih bahwa syariat Muhammad SAW tidak me-nasakh syariat para nabi secara terperinci.[10] Karena sebenarnya asal syariat ini adalah sama, allah berfirman :

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. 42:13)

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka.Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan.Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. (QS. 42:14)

Seperti halnya aqidah, karena inti dari aqidah adalah meng-esakan allah. Maka, hal yang mustahil diantara para nabi berbeda dalam aqidah. Inilah yang dimaksudkan dari perkataan nabi SAW:

نحن معاشر الأنبياء إخوة لعلات ديننا واحد …. رواه البخارى

Yang berarti, sekalipun syariat berbeda namun agama dan aqidah mereka adalah sama.[11]

Islam; antara syariat Muhammad dan syariat para nabi

Ketika menjelajah turats Islam, -terutama kitab-kitab fiqih, ushul fiqih dan kitab tauhid-,[12] kita mendapatkan bahwa pembahasan syariat para nabi ini berkisar pada jawaban dari dua pertayaan yang mendasar, yaitu:

Pertama : Apakah Muhammad SAW sebelum menjadi rasul beribadah dengan salah satu syariat dari syariat para nabi?[13]

Kedua : apakah Muhammad SAW setelah menjadi Rasul beribadah dengan salah satu syariat dari syariat para nabi? atau pertanyaannya : apakah kita beribadah dengan syariat para nabi?

Mengenai persoalan pertama, setidaknya ada tiga pendapat-baca: madzhab-utama yaitu:

Pertama: pendapat sebagaian malikiyah dan jumhur mutakallimin yang menafikan bahwa Muhammad beribadah.

Kedua : pendapat seperti hanafiyah, hanabilah, ibnu Alhajib dan AlQodhi Albaidhowi yang berpendapat bahwa Muhammad SAW beribadah.

Ketiga: pendapat seperti imam ghozali, Al-Amidi, Al-Qodhi Abdu Al-Jabbar dan para peneliti lainnya, mereka tidak menghukumi masalah ini karena tidak ada dalil qothi’ yang menerangkan tentang kejadian ini.[14]

Kemudian madzhab yang berpendapat bahwa Muhammad sebelum menjadi rasul beribadah, berbeda pendapat pula mengenai : Muhammad SAW beribadah berdasarkan syariat siapa? banyak sekali pendapat dari madzhab ini, ada yang mengatakan bahwa Muhammad beribadah berdasarkan syariat Adam, syariat Nuh, syariat Ibrahim, syariat Musa, syariat Isa, ada juga yang berpendapat bahwa Muhammad beribadah berdasarkan salah satu dari syariat para Nabi, syariat seluruh nabi, bahkan ada pula yang berpendapat Muhammad beribadah tidak berdasarkan syariat para nabi, berdasarkan akal dan pendapat-pendapat lainnya.[15]

Syariat para nabi sebagai sumber hukum islam

Yang dimaksud dengan syariat para nabi adalah hukum yang diriwayatkan kepada kita, baik oleh AlQuran atau Hadits yang disyariatkan kepada umat-umat sebelum kita dengan perantara para nabi-nabi mereka.[16]

Sedangkan peran syariat para nabi ini`sebagai sumber hukum islam tidak independen, sebagaimana sumber-sumber syariat lainnya. Apabila kita membuka buku tentang sumber hokum islam tidak ada yang mengatakan secara langsung bahwa syariat para nabi adalah sumber hukum islam yang independent.[17]

Hal ini disebabkan karena syariat para nabi yang diriwayatkan kepada kita tidak lebih dari dua macam.

Pertama : yang diriwayatkan kepada kita melalui kitab mereka-taurat dan injil-ataupun langsung dari mereka. Hal ini telah disepakati untuk tidak diterima sekalipun setelah mereka masuk islam.[18]

Kedua : diriwayatkan oleh AlQuran atau Hadits, inilah yang diterima.

Syariat para nabi yang diterima ini dapat dibedakan sebagai berikut:

1) syariat para nabi yang disepakati.

a. Syariat para nabi, akan tetapi tidak ada dalam Al-quran dan Hadits. Syariat ini disepakati untuk tidak diterimasekalipun ada dalam kitab mereka (taurat dan injil). Hai ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah : ayat 75, Al Maidah ayat 13, Al Baqaroh ayat 79 dan yang lainnya.

padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. 2:75)

Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, (QS. 5:13)

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya:”Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:79)

b. Syariat para nabi, ada dalam al quran dan Hadits, diwajibkan atau disyariatkan untuk mengerjakannya seperti shaum ramadhan dan shaum Daud. Ini disepakati sebagai sumber hukum.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

لا صوم فوق صوم داود كان يصوم يوما و يفطر يوما . اخرجه البخارى

c. Syariat para nabi, ada dalam al quran dan Hadits yang berisikan Aqidah dan Ushuludin, ini disepakati juga sebagai sumber hokum. Seperti firman Alloh dalam surat An Nahl ayat 36 dan As Syuro ayat 13

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, (QS. 16:36)

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS. 42:13)

d. Syariat para nabi akan tetapi di mansukh oleh al quran dan hadits, sebagaimana dihalalkan ghonaim setelah sebelumnya diharamkan oleh syariat para nabi

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, (QS. 8:69)

2) Syariat para nabi yang diperselisihkan

Syariat para nabi, ada dalam al quran dan Hadits, akan tetapi tidak ada perintah untuk mengerjakannya dan tidak diketahui syariat tersebut mansukh atau tidak.syariat ini adalah syariat amaliyah.[19]

Perbedaan pendapat tentang syariah para nabi ini dapat dibedakan menjadi dua pendapat. Pertama : pendapat bahwa syariat para nabi ini bukan sumber hokum, ini adalah pendapat sebagian ushuliyyin seperti AlRoji, AlAmadi, AlGhoji, Abu Ishak, AsSyiroji, sebagian hanafiah dan sebagian shafi’iyah.

Pendapat yang kedua: syariat para nabi ini adalah sumber hukum islam. Ini adalah pendapat Malikiyah, sebagian besar Hanafiyah, sebagian besar Syafiiyah dan jumhur fuqoha.[20]

Sebab perbedaan pendapat ini adalah karena ada dalam nash-nash sumber hukum kita -baca al quran dan hadits- syariat-syariat para nabi, akan tetapi tidak disertai dengan qorinah atau keterangan bahwa syariat itu telah mansukh oleh syariat kita[21] atau kita diperintahkan oleh syariat tersebut.[22]

Maka ada yang berpendapat bahwa syariat tersebut adalah syariat bagi kita karena tidak ada faidah dan kegunaan disebutkan dalam AlQuran akan tetapi tidak dijadikan sumber hukum selama tidak ada larangan untuk mengerjakan syariat tersebut.[23] Sebagaimana alasan yang mereka kemukakan adalah surat AnNahl 123 dan AlMaidah 44.

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad):”Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. (QS. 16:123)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, (QS. 5:44)

Ada pula yang berpendapat syariat para nabi itu bukan syariat bagi kita dengan dalil Al-Maidah 48,

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS. 5:48)

Kemudian mereka berkata bahwa para sahabat nabi dalam riwayat ketika memutuskan perkara hanya meruju kepada AlQuran, Sunnah dan Ijtihad dan tidak menyebutkan kitab-kitab para nabi –baca syariat para nabi-.[24]

Akan tetapi kenyataannya adalah, bahwa imam-imam madzhab dalam kitab-kitab mereka, tidak ada yang menyatakan secara langsung bahwa syariat para nabi ini adalah syariat yang independen.[25] Hal ini disebabkan karena kita mendapatkan contoh yang sedikit sekali dalam fikih Malik, Abu yusuf dan Muhammad. Yang menunjukan bahwa mereka mengambil syariat para nabi ini sebagai sumber dalil yang independent. Apabia mereka menyebutkan contoh bahwa syariat nabi itu adalah syariat bagi kita, mereka mengetahui madzhab yang lain tidak ada yang menyalahinya. Sebagaimana perkataan imam AlSarkhosi setelah mengetahui madzhab imam Abu Hanifah. “sebenarnya imam syafi’I tidak berbeda pendapat dengan kita, dengan berdasarkan dalil nabi me-rajam yahudi dengan hukum taurat sebagaimana dalam nashnya

انا احق من احيا سنة اماتوها ……

Atas wajibnya syariat rajam dalam syariat kita[26] yaitu setelah ada hadits.[27]

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa syariat para nabi dapat dijadikan sumber hukum atau dalil apabila ada dalil lain yang menguatkannya. Apabila tidak ada dalil, maka tidak bisa dijadikan sumber hukum.[28]

Penutup

Ketika allah menciptakana adam AS sebagai khalifah di bumi, kemudian Allah membekalinya dengan syariat. Tujuan dari syariat ini tidak lain adalah untuk menjaga kemaslahatan anak manusia dan mencegahnya dari berbuat kerusakan.

Syariat yang Allah SWT turunkan bukan hanya sebagai syariat yang mengatur segala bentuk kehidupan untuk kemaslahatan anak manusia. Namun juga sebagai wahana untuk mencapai kepuasan berfikir yang ada dalam fitrah manusia. Maka, islam sebagai sebuah syariat memiliki keistimewaan dibandingkan dengan syariat lain hasil buah tangan dan fikiran manusia. Ia tidak hanya berfungsi sebagai undang-undang kehidupan, namun juga sesuai dengan fitrah manusia sejak awal penciptaan. Bagaimana tidak, syariat ini berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia, maka sudah pasti Dia lebih tahu akan kebutuhan dan kemaslahatan manusia.

Datangnya para nabi dan rasul sebagai utusan Allah,-baik datang membawa syariat baru atau tidak-tidak lain dengan membawa tugas menjaga syariat tersebut dan menyuruh kaumnya untuk menerapkan dan menjalankan syariat itu ke dalam tiap sendi kehidupan.

Sampai datangnya Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir pun tugasnya adalah sama. Namun, karena Muhammad ini adalah sebagai nabi penutup, maka syariat ini sudah tentu harus sempurna sehingga bisa dijalankan oleh umatnya dalam setiap waktu dan zaman. Maka, syariat Muhammad ini datang untuk menyempurnakan syariat para nabi sekaligus menghapus syariat para nabi yang sudah tidak sesuai lagi.

Sekalipun memang ada dalam nash syariat kita-alQuran dan Hadits-yang menceritakan syariat para nabi. Namun, tidak diiringi oleh perintah atau larangan juga tidak ada keterangan bahwa syariat tersebut dihapus oleh syariat kita. Namun sekali lagi syariat tersebut sedikit sekali dan tidak menjadi smber masalah diantara para ushuliyyin dan fuqoha.

waAllahuA’lam bi Showab


[1]Penulis menggunakan kata Muhammad SAW dan para nabi, tidak lain adalah untuk mempermudah. Karena sebenarnya antara satu nabi dengan yang lainnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan merekapu diutus oleh satu Tuhan yang sama.

[2] Makalah ini dipresentasikan dan dikritisi kembali dalam siding buhus Pwk. PERSIS cairo

[3] Bapak dua putrid dari seorang istri, yang sedang mencari rumah yang bagus, walaupun luas yang penting murah. Ada gak ya?

[4] Lebih jelasnya lihat kitab Al-Muwafaqot karya Imam AsSyatibi

[5] Selengkapnya mengenai ayat qishos dibahas dalam kitab Umdah AlTafsir an Alhafidz Ibnu Katsir karangan syekh Ahmad Syakir jilid pertama tafsir surat Al-Maidah :45

[6] AnNasyimi, Dr.Ojail Jaasim muqaddimah ilmu Ushul al-Fiqh dalam majalah Syariah wa al-Dirosat al-Islamiyah vol. issue no.2 Muharram 1405 november 1984

[7]Abu Eid, Dr. Arip Khalil Al-Quran Syariat al-Mujtami’ dalam majalah Al-syariah wa Al-Dirosah Al-Islamiyah vol. I issue no. 2 muharram 1405 november 1984

[8] Abdul Aly, Dr. Abdul Hany Azb Ushul AlFiqh AlIslamy muqorror kul.UshuladDin hadits tingkat IV

[9] Husni, Dr. Abbas Khosois AlTasri’ AlIslami dalam majalah Syariah wa AlDirosat AlIslamiyah vol IX issue no 24 rajab 1415 H, desember 1994

[10] Abdul Aly, Dr. Abdul Hany Azb op.cit

[11] Husni, Dr. Abbas op.cit

[12] Baaltaji, Prof.Dr. Muhammad Manahij AlTasyri’ AlIslamy fi AlQorn AlTsani AlHijri Cairo:Dar AlSalam hal 614

[13] AlZuhaily, Dr.Wahbah Ushul AlFiqh AlIslami Beirut:Dar AlFikr AlMuasir cet kedua 1998 jilid II hal 868

[14] AlSyaukani, AlImam Alhafidz Muhammad Irsyad AlFuhul ila tahqiq Alhaq min ilmi AlUshul jjilid II cairo:darAsSalam hal 684 cetakan pertama 1998

[15]Pembahasan lengkap tentang hal ini lihat ushul Fiqh AlIslamy oleh Dr. Wahbah Juhaily, Irsyad Alfuhul ile tahqiq alhaq min ilmi Alushul oleh Muhammad Syaukani, Ushul Alfiqh Alislami oleh Dr. Amir Abdul Aziz. Lihat juga syarah shohih muslim oleh imam Nawawi, fathul bari syarah shohih Bukhori oleh imam ibnu Hajar dan Umdatul Qori’ syarah Shohi Bukhori oleh Badri AdDin Ahmad Alaini beb turun wahyu pertama

[16] Abdul Aly, Dr. Abdul Hany Azb op.cit

[17]Baaltaji, Prof.Dr. Muhammad op.cit

[18] Pembahasan mengenai ini lihat salah satunya dalam AlIsroiliyyat wa Almaudhuiyyat fi Alkutub Altafsir dan buku-buku lainnya tentang isroiliyat

[19] AlAsyqor, Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah AlWaadhih fi Ushul AlFiqh lil Mubtadiin cet: pertama cairo : Dar Assalam 1395 H hal 139-143

[20]AlAsyqor, Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah op.cit

[21]Seperti dalam contoh sebelumnya tentang harta rampasan perang

[22] Seperti dalam contoh shaum Ramadan atau dalam hadits shaum daud

[23] Husni, Dr. Abbas op.cit

[24] Husni, Dr. Abbas op.cit

[25] Lihat pembahasannya dalam kitab-kitab madzhab fiqih, salah satunya dalam buku Almadkhol ila Dirosat AlMadzahib AlFiqhiyyah karya Prof. Dr. Ali Jum’ah

[26] Baaltaji, Prof.Dr. Muhammad op.cit

[27] Contoh-contoh yang lain bisa dilihat dalam Syaru’ man Qoblana dalam manhaj abu hanifah dan malik

[28] Abdul Aly, Dr. Abdul Hany Azb op.cit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s