Sebuah Metode Riset Islami ( Al-Istiqra’ )

Sebuah Metode Riset Islami

(Al-Istiqrâ)

Oleh : Sahuri Sutarjo, Lc.

Pendaluan

Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwasanya Jumhur Ulama’ dalam masalah dalil-dalil Syariat (adillah Syar’iyah) membagi dua bagian. Pertama adalah Adillah Muttafaq “alaiha yaitu Al qur’an, As Sunnah, Al Ijma’ dan Al Qiyas. Yang kedua adalah adillah mukhtalaf fiha yaitu Al Istishab, Al Mashalih Mursalah, Qaulus Shahabi, Al Istihsan,As Syar’u Man Qablana,As Syaddud Dzarai’, Al Urf, dan Al Istiqra’.

Pada pembahasan kali ini saya tidak akan membahas secara keseluruhan masalah adillah mukhtalaf fiha karena telah dikaji pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Istiqra’ yang merupakan salah satu bagian dari adillah mukhtalaf fiha.

Istqra’ adalah sebuah metode penelitian atau pemeriksaan atas berbagai hal dalam sebuah masalah. Ynag menghasilkan sebuah kesimpulan hukum untuk keseluran. Metode ini banyak digunankan ulama’ dalam menyimpulkan hukum-hukum yang tidak memiliki landasan hukum yang tertulis secara jelas di dalam Al Qur’an atau al Hadist. Misalnya ulama’ menyimpulkan bahwa usia yang paling kecil seorang wanita haid adalah umur sembilan tahun. Atau kesimpulan seorang ulama’ yang mengatakan masa ideal haid adalah antara seminggu hingga sepuluh hari. kesemua dari kesimpulan hukum itu tidak berdasarkan atas nash namun berdasarkan penelitian dan riset. Inilah yang biasa disebut istiqra’.

Definisi

Dalam artian secara bahasa Al Istiqra’ adalah yang berarti: meminta untuk dibaca, diselidiki, dan diteliti. Sedangkan dalam artian secara istilah ialah: Meneliti permasalahan-permashan cabang (juz-i) dengan mendetail guna menemukan sebuah hukum yang diterapkan pada seluruh permasalahan (kulli). Atau biasa diartikan dengan sebuah pengambilan dalil dengan menetapkan suatu hukum pada hal-hal yang (Juz-i) yang kemudian diberlakukan pada hal-hal yang (Kulli), atau dalam artian lain adalah pengambilan dalil hukum dengan cara metode induktif.

Pembagian Istiqrâ

Dalam pembahasan kaedah ini, Istiqrâ dibagi menjadi dua macam bentuk didalam penerapannya, sesuai dengan metode penelitian yang delakukan. antara penelitian yang dilakukan secara menyeluruh atau penelitian yang hanya dilakukan pada sebagian besar permasalahan. Pembagian itu adalah:

Pertama, Istiqrâ yang lengkap (Tâmm) yaitu penelitian pada seluruh bagian-bagian permasalahan tanpa tersisa kecuali permasalahan yang berlawanan untuk menetapkan hukum atasnya. Seperti seorang meneiliti seluruh anggota badannya agar mengetahui apakah dia sehat atau sakit. Dan penelitian ini harus benar-benar diyakini bahwa semua cabang permasalahan yang diteliti tanpa tertinggal satupun. Sehingga menghasilkan sebuah keputusan hukum yang pasti (qath’i) bukan hukum yang samar atau sekedar persangkaan (dzanni).

Adapun contoh Istiqrâ Tam yang biasa disebutkan dalam kitab-kitab fiqh adalah shalat terdiri dari shalat wajib atau shalat sunah, dan setiap dari kedua macam shalat ini tidak terlepas dengan adanya bersuci. Karena bersuci adalah merupan sebuah syarat sah seorang mengerjakan shalat. Maka setiap orang melakukan shalat harus senantiasa bersuci (thaharah). atau dengan artian lain; bahwasannya tidak akan sah solat seseorang jika sekiranya tanpa dibarengi dengan Wudlu (Thahârah).

Contoh rumusan skemanya: <!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]&gt; SHAPE \* MERGEFORMAT &lt;![endif]–>

Hukum Kulli

Hukum Juz’i

Hukum Juz’i

Hukum

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]&gt; &lt;![endif]–>

Maka dalam metode induktif ini diharuskan untuk melakukan penelitian di seluruh bagian hal-hal yang bersifat Juz-i, supaya dapat menghasilkan suatu hukum yang dapat sesuai dengan hal-hal yang Juz-i tadi, kepada hal yang Kulli.

Kedua, Istiqrâ yang kurang (Nâqish) yaitu: Penelitian yang dilakukan hanya pada sebagian besar dari permasalahan yang menjadi obyek pembahasan untuk mendapat sebuah kesimpulan hukum keseluruhan. Dalam metode ini tidak didapatkan permaslahan –permasalhan yang berlawanan hukum. Sehingga kesimpulan hukum yang dihasilkan dari istiqra’ naqish ini hanya secara keumuman (hasbi dhohir). Karena tidak semua permasalahan diteliti satu-persatu. Maka kekuatan hukum yang dihasilkan juga bersifat persangkaan (dzonni) bukan bersifat pasti (qath’i). Sebagaimana hasil penelitian bahwa hewan adalah mengunyah makanan dengan geraham bawah. Namun hasil penelitian ini tidak berlaku untuk semua jenis hewan, karena ada beberapa hewan yang memakan mangsanya tidak dengan gerakan geraham bawah, contohnya adalah buaya. Disebut dengan naqish karena hukum yang dihasilkan pada penelitian ini tidak berlaku untuk keseluruhan. Berbeda dengan istiqra’ tam yang berlaku untuk semua cabang permasalahan.

Seorang ulama’ syafiiah menyontohkan istiqra’ naqish ini adalah dengan kesimpulan imam syafii tentang tidak wajibnya hukum shalat witr, berdasarkan perbuatan Nabi Saw yang melakukan shalat witr diatas hewan kendaraan. Karena berdasarkan istqra’ (penelitihan) yang imam lakukan bahwasanya Nabi Saw tidak pernah melaksanakan shalat fardu diatas hewan kendaraan. Dan contoh ini masih patut dikoreksi ulang menurut beberapa ulama’.

Contoh rumusan skemanya:

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]&gt; SHAPE \* MERGEFORMAT &lt;![endif]–>

Hukum Kulli

Hukum Juz’i

Hukum

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]&gt; &lt;![endif]–>

Perbedaan Ulama’ tentang Setatus Hukum Istiqra’ Naqish

Ulama’ berbeda pendapat tentang hasil kesimpulan dari istiqra’ naqish kepada dua pendapat:

Pendapat pertama adalah pendapat Ulama’ Jumhur yang berpendapat bahwa istiqra’ naqish menetapakan hukum keseluruhan secara dzhan (persankaan).

Dalil yang dipakai oleh kelompok ini dalah dalil aqli, yaitu kita dapat menemukan sebagian besar dari bagian-bagian permasalahn yang diteliti kemudian menyimpulkan sebuah hasil. Maka hasil ini berlkaku untuk bagian-bagian lain yang belum diteliti, yang biasa kita anggap sebagian besar adalah mewakili keseluruhan secara persangkaan.

Pendapat kedua adalah pendapat imam Fahrur Razi mengatakan bahwasanya istiqra’ naqish tidak dapat menghasilkan sebuah kesimpulan hukum baik secara pasti atau secara persangkaan.

Alasan pendapat kedua adalah penelitian yang dilakukan sebagian dari seluruh permasalahan adalah tidak dapat menyimpulkan sebuah hukum yang dapat deberlakukan secara keseluruhan, karena bisa jadi permasalahnan yang belum diteliti memiliki hukum yang berbeda dan bertentangan dengan kesimpulan hukum yang diputuskan.

Pendapat ini dibantah oleh beberapa ulama’ bahwasanya yang belum diteliti adalah sebagian kecil, sedangkan sebagian besar telah diteliti dan menemukan kesimpulan hukum. Maka bagian kecil ini terikut oleh hasil kesimpulan yang lebih banyak. Maka oleh sebab itu kesimpulan yang dihasilkan ini adalah kesimpulan dzhanni bukan qath’i.

Kesimpulan

Jika kita menemukan cabang permasalahn yang belum diketahui apakah hukum kesimpulan umumnya pasti (qath’an) atau samar (dzhonnan). Maka yang patut kia lakukan adalah melihat kembali dari metode istiqra’ apakah yang digunakan. Jika metode istiqra’ yang dipakai adalah istiqra’ taam maka hasil hukumnya bersifat pasti. Adapun jika metode istqra’ yang dipakai adalah istiqra’ naqish maka hasil kesimpulan hukumnya bersipfat samar atau belum pasti.

Penutup

Dalam pengambilan metode Istiqrâ, golongan Syafi’iyah, Malikiah dan Hambaliah menetapkannya sebagai sebuah Hujjah dan dipakai oleh mereka. sedangkan golongan Hanafiah, mereka tidak mengakuinya sebagai kaedah hukum yang mutlak, akan tetapi metode tersebut menurut mereka kembali kepada dalil Qiyas dan bisa juga kembali kedalam dalil ‘Urf dan (‘Âdah) kebiasaan. Wallahu A’lam Bisshawab.

Bacaan:

  • Al ayatul Bayinat, Syarhu Jam’ul Jawami’. Imam jalauddin Al Mahalli.
  • Syarhul Kaukabus Sathi’, Nadzam Jam’ul Jawami’. Abu Bakar As Syuyuti.
  • Al Ilmam Bil Mukhtalaf Fih min Ushulil Ahkam. Hamdi Shubhi Thaha.
  • Makalah Kelompok Kajian Andalus. Ade Budiman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s