Wawancara Dengan DR. Abdul Basith Muhammad Amin, MA

foto_duktur_.jpg

Pendangkalan akidah dengan Globalisme baru

 

There is only one religion, the religion of Love;

There is only one language, the language of the Heart;

There is only one caste, the caste of Humanity;

There is only one law, the law of Karma;

There is only one God, He is Omnipresent.

 

Demikian petikan ideologi yang didengungkan Satyanarayana Raju. Ia adalah seorang ‘guru’ yang lahir pada tahun 1926 di daerah India yang kemudian dikenal dengan nama Bhagavan Sri Sathya Sai Baba (Selanjutnya disebut Sai Baba). Ia memiliki pengikut yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Dalam ajarannya, ia mengklaim bahwa dirinya memiliki mukjizat. Dua mukjizat yang sering ia perlihatkan adalah mematerialisasikan abu untuk kaum miskin dan mematerialisasikan permata untuk kaum kaya.

Ajaran Sai Baba tidak hanya menyebar di daerah kelahirannya saja. Bahkan Indonesia pun yang nota bene negara muslim terbesar di dunia, tidak luput dari pengaruh ajaran ini. Salah satunya adalah kota Surabaya dan Bali yang menjadi sarang pengikut ajaran sesat ini.

Fenomena tersebut cukup menyita perhatian masyarakat dunia termasuk kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa Sai Baba adalah penjelmaan dajjal yang telah dijanjikan dalam hadits Rasulullah Saw. Pertanyaan selanjutnya adalah benarkah Sai Baba adalah dajjal yang dijanjikan Rasulullah Saw dalam haditsnya? Pernahkah sejarah mengungkapkan kehadiran manusia setelah Rasulullah Saw. yang mempunyai ‘mukjizat’ seperti yang telah dilakukan oleh Sai Baba? Lalu bagaimana seharusnya ummat Islam menghadapi masalah tersebut?

Melihat fenomena tersebut, tim reporter Al-furqan mencoba untuk berkonsultasi dengan salah seorang pakar Aqidah di Majma’ Buhuts Al-Islamiyyah Al-Azhar Asy-Syarief. Beliau adalah DR. Abdul Basith Muhammad Amin. Berikut petikan wawancara kami.

Bagaimana pandangan Anda melihat fenomena Sai baba ini?

Bismillahirrahmaanirrahim. Sesungguhnya masalah seperti ini bukanlah hal yang baru dalam dunia Islam. Dari dulu, bahkan sepeninggal Rasulullah Saw. pun telah muncul nabi palsu yang bernama Musailamah Al-Kadzab. Pada era selanjutnya, diantaranya muncul Bahaiyyah dan sang ‘Nabi Palsu’ Mirza Ghulam Ahmad. Dengan demikian, apabila ada orang yang mengaku nabi dan mempunyai ‘keajaiban’ yang kemudian dianggap sebagai mukjizatnya, itu adalah sebuah hal yang mungkin. Dan kita berkewajiban untuk memeranginya.

Ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa Sai Baba adalah dajjal?

Jika kita memperhatikan beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang dajjal, maka kita akan menemukan 30 dajjal yang akan muncul. Mereka datang sebagai fitnah terhadap kaum muslimin untuk menyesatkan mereka dari kebenaran agamanya.

Bukankah dajjal itu memiliki bentuk fisik yang khas serta akan turun ditempat khusus seperti yang disebutkan dalam hadits?

Benar, diantara ciri-ciri dajjal, bahwa sebelah matanya buta, seperti diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. tidak buta. Ketahuilah bahwa al-Masih ada Dajjal buta sebelah kanannya. seakan-akan sebuah anggur yang busuk. (HR. Bukhari) Kemudian, dajjal itu lebar lehernya dan bungkuk seperti sabda Rasul, Adapun penebar kesesatan (dajjal), dia buta matanya sebelah, lebar jidatnya, luas lehernya dan agak bungkuk mirip dengan Qathn Ibnu Abdil Uzza. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya). Terus, dajjal adalah laki-laki pendek sebagaimana diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, pincang, keriting, buta matanya sebelah tidak timbul tidak pula berlubang. Kalau ia membuat kalian ragu-ragu ketahuilah Rabb kalian tidak buta. (HR. Daud). Ciri lainnya, dajjal adalah pemuda keriting, Hadits dari an-Nawwas bin Sam’an bahwa Rasulullah bersabda ketika mensifati dajjal : “Dia adalah seorang pemuda keriting, matanya rusak, aku melihatnya mirip dengan abdul Uzza ibnu Qathn. (HR. Muslim). Dajjal itu Memiliki “Surga” dan “Neraka” dan diantara kedua matanya tertulis kafir dan beberapa ciri lain. Dajjal itulah dajjal yang akan turun di akhir zaman nanti. Sedangkan 30 dajjal yang saya sebutkan di awal tadi akan hadir sebelum kemunculan dajjal di akhir zaman.

Apa perbedaan antara Al-Mahdi Al-Muntadhar dengan dajjal?

Al-Mahdi Al-Muntadhar adalah seorang lelaki yang shaleh, namanya sama persis dengan nama Nabi Muhammad Saw. Adapun dajjal adalah seorang yang fasid, seorang yang menyeru pada kesesatan. sebuah perbedaan yang amat jauh, dimana yang satu menyeru pada yang baik, dan yang satunya lagi menyeru pada maksiat terhadap Allah Swt.

Ada sebagaian ulama berpendapat hadits yang menjelaskan tentang dajjal dan Al-Mahdi Al-Mutadhar itu adalah hadis ahad?

Kalaupun itu hadits ahad, apa yang menghalangi mengimani dan beramal dengannya? Ini adalah hadits shahih, sebagian besar hadits ahad juga shahih, termasuk adalah hadits Bukhari yang sudah dikenal keshahihannya. Diantara hadits Bukhari dan Muslim pun ada yang diriwayatkan dengan riwayat ahad.

Tapi, bagaimana tentang pendapat ulama yang mentidakbolehkan untuk mengamalkan hadits ahad dalam hal akidah ?

Ini adalah pendapat khusus sebagian muslim, dan khusus untuk mu’tazilah, mereka berpendapat tidak bolehnya beramal dengan hadits ahad. Dan itu bukan pendapat Jumhur.

Salah satu hal yang diususng oleh Sathya Sai Baba adalah agama cinta dan kesetaraan kasta, bagaimana pendapat Doktor?

Islam lebih baik dari pada konsep tersebut, konsep kesetaraan sudah berabad-abad silam dijunjung, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Alhujuraat : 13).

Hadits nabi yang menjelaskan tidak ada perbedaan antara arab dengan yang lain kecuali taqwa, itu sudah amat jelas. Islam tidak membedakan antar suku bangsa, kulit, keturunan dan hal-hal rasis lainnya, orang yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling takwa. Jadi Islam adalah ‘lokomotif’ kesetaraan. Iman lah yang membuat

orang menjadi bernilai lebih, bukan warna kulit, gender ataupun keturunan. Dan rasisme bukanlah ajaran Islam, karena itu Islam menentangnya.

Banyak orang berbondong-bondong datang kepada Satya Sai Baba, sebagian pemikir islam menyebutkan bahwa itu adalah indikasi kejenuhan mereka akan agama yang telah ada, dan mereka membutuhkan ajaran yang menampung akan kehausan spiritual yang nilai-nilainya telah ada dalam agama mereka sekarang?

Saudaraku yang dimuliakan Allah, dakwah pada penyatuan agama bukanlah sesuatu yang baru, hal tersebut telah diserukan sebelum orang ini, seperti Bahaiyyah, Mirza Gulam Ahmad dan yang lainnya. Kebanyakan dari mereka menyeru akan hal ini adalah untuk mengumpulkan manusia.dari seluruh penjuruj dunia. Akan tetapi asas dari ajaran ini batil kenapa? Penyatuan agama, seperti penyatuan agama samawi, dan dakwah para anbiya yaitu menyeru pada penyatuan agama yang berlandaskan tauhid. Adapun penyeruan pada agama samawi dan watsani itu adalah suatu hal yang amat mustahil karena keduanya mempunyai sumber dan pemahaman yang lahir dari landasan yang amat berbeda. Nabi Muhammad dan nabi sebelumnya seluruhnya menyeru pada tauhidillah agama samawi. Nah jika kemudian agama samawy dan watsani disatukan itu adalah suatu hal yang mustahil, dan hal yang tidak alami karena agama samawy sudah jelas kebenarannya sedangkan wastani sudah jelas kesesatannya, bagaimana mungkin kita bisa menyatukan antara kebenaran dan kesesatan. Jadi jika orang ini manusia membutuhkan sebuah ajaran yang yang akomodatif, maka Islam adalah jawabannya, karena ia sarat dengan nilai-nilai kemanusian yang komperhensif.

Proses interaksi manusia saat ini sudah mengglobal, letak geografis tidak lagi menjadi batas penghalang untuk besentuhan dengan hal-hal semacam itu. Maka secara otomatis mereka pun membutuhkan agama yang mengglobal pula sebagai jembatan Ideologi, bagaimana pandangan Anda?

Globalisasi, merupakan istilah baru, yang muncul setelah Uni Soviet kalah dari Amerika Serikat. Dengan sendirinya AS (mewakili Barat) menjadi satu-satunya negara adidaya yang dijadikan kiblat peradaban. Penyebaran norma, nilai dan faham merapakan program yang ramai dikampanyekan. Salah satu pilarnya adalah globalisasi. Hal tersebut tidak hanya dalam teknologi saja, namun sudah menjadi sebuah perang Ideologi dan pemikiran. Tidak terkecuali ruang privasi manusia, yaitu akidah dan kepercayaan umat beragama menjadi sasaran empuk globalisasi. Kompetisi menguasai alam adalah sebuah keniscayaan di era sekarang, dalam segala hal, termasuk agama. Dan tugas kita untuk meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang global (rahmatan lil ‘alamîn) dan akomodatif, karena ia diturunkan Allah sesuai dengan fitrahnya.

Apakah ajaran Sri Sathya Sai Baba adalah salah satu bagian globalisme?

Ya mungkin saja, tapi itu tidak akan pernah mempengaruhi eksistensi Islam hingga akhir zaman. Kasuistik semacam ini akan berakhir seperti pendahulu mereka. Untuk itu musuh-musuh Islam akan memberikan perhatian dan respon lebih dengan menyediakan fasilitas dan kemajuan teknologi mereka guna memerangi kita. Dan tugas kita adalah membentengi akidah dari hal-hal semacam itu.

Apakah mungkin perkembangan ajaran Sri Sathya Sai Baba itu tidak terlepas dari kontribusi para oreintalis?

Kaum orientalis senantiasa mendorong upaya penyesatan umat, menjauhkan kaum muslimin dari kemulian ajaran Islam. Hal tersebut dilakukan dengan cara menanamkan keragu-raguan terhadap pokok keimanan hingga memurtadankannya. Mereka senantiasa mendukung dengan memberikan attensi dan apresiasi, bahkan mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk kemudahan operasional mereka. Maka siapapun orang yang meretas untuk mengahancurkan Islam, tentu akan mereka dukung. Dan peran mereka dalam mengembangkan kasus ini sangatlah besar kemungkinannya.

Ada suatu titik kesimpulan dari pembicaraan kita, Siapapun yang mencoba menyatukan manusia dalam satu etik atau agama, pada hakikatnya telah mendirikan agama baru?

Seperti yang telah saya utarakan tadi, hal ini bukanlah barang baru. Seperti yang pernah dilakoni Mirza Gulam Ahmad, Bahaiyyah dll. Mereka pada hakikatnya mendirikan agama baru. Yang terjadi bukanlah menyatukan agama, melainkan mendirikan agama baru, buktinya pemahaman mereka melenceng jauh dari pemahaman agama yang telah ada.

Pada dasarnya, Nabi Muhammad membawa risalah untuk menyatukan manusia dalam satu agama tauhid, yaitu Islam. “innad dîna ‘indallâhil Islâm”. Seluruh agama seharusnya menunju pada tauhid yang sama yang telah dibawa oleh para nabi, maka sabagai nabi terakhir, islam seharusnya menjadi agama tunggal penyatu agama-agama samawy khusunnya dan umat manusia pada umumnya

Jika kita menilik pada sejarah, bagaimana akhir dari dakwah aliran seperti ini?

akhirnya akan sama persis dengan yang telah mencoba hal tersebut, dan berakhir dengan kegagalan.

Apakah orang-orang akan meninggalkan mereka?

Musailamah, Bahaiyyah, Mirza Ghulam Ahmad dan aliran yang serupa merupakan contoh diantara yang pernah mencoba, lambat laun pengikutnya berkurang karena berpaling dari mereka. Apalagi dakwah yang terpusat pada figuritas atau orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan seperti seorang nabi, bukan terletak pada sistem yang berasal dari ajarannya. Ajaran seperti ini akan menemukan kesulitan ketika sosok figur atau penggagas ajarannya meninggal. Dan apabila tidak didapati orang yang memiliki kemampuan seperti dia sebagai pewaris tahta kepemimpinan ajaran tersebut, maka ajaran ini akan tenggelam dan sirna.

Bagaimana solusi dari masalah ini ?

Yang pasti ini bukan merupakan masalah terakhir, akan datang beberapa masalah lagi yang lebih rumit dan kompleks. Akan tetapi para dai, ulama, pemerintah, al Azhar dan seluruh kaum muslimin dimanapun berada – khususnya orang yang memiliki kapabilitas untuk menjelaskan segala sesuatunya, terkhusus dalam masalah tauhid kenabian dan tauhid ululhiyyah- patut merasa khawatir akan ancaman seperti ini. Sudah seharusnya pihak-pihak terkait menjelaskannya, sehingga kaum muslimin apalagi yang lemah imannya (awam) tidak terjebak dalam kesesatan ajaran seperti ini.

Terakhir apa pesan Anda khususnya untuk mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di al Azhar guna menghadapi hal-hal semacam ini.?

Saya berpesan kepada seluruh mahasiswa, khususnya mahasiswa Indonesia. Kalian datang ke negeri ini untuk belajar pokok-pokok agama Islam di al Azhar. Apabila kalian belajar hal ini, hingga kalian berwawasan luas. Adalah menjadi sebuah kewajiban kalian ketika pulang ke tanah air untuk menjelaskan kepada saudara kalian (kaum muslimin) atas apa yang telah kalian pelajari di al Azhar. Islam ini adalah agama yang toleran, namun ia dibangun diatas inti akidah yang kokoh. Maka hendaklah kita menjelaskan pokok-pokok agama ini kepada kaum muslimin, karena mengokohkan akidah adalah suatu hal yang amat penting sehingga kita tidak terjebak pada keragu-raguan yang menggelincirkan dari inti ajaran islam. Dan siapapun ketika ada orang yang mengaku-ngaku nabi atau apapun halnya, maka mereka akan mendustkannya karena mereka telah memahami pokok-pokok agama islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s