Masyarakat Yang Sakit

Prof. Dr. H.M. Abdurrahman, M.A.

Menurut para psikolog dan sosiolog, kondisi masyarakat kita pada saat ini dikatakan sebagai masyarakat yang sakit. Kenapa dikatakan demikian? Diantaranya ialah karena melihat fenomena yang terjadi masyarakat saat ini, antara lain bermunculannya perbuatan munkarat yang dapat terjadi karena dipicu oleh hal-hal yang sepele dan bahkan karena sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali. Dan hal tersebut terjadi tidak hanya sekedar di kalangan remaja saja, tapi merata pada seluruh lapisan masyarakat.

Berbagai kekerasan yang terjadi, seperti perilaku geng motor baru-baru ini, perusakan fasilitas-fasilitas umum, perilaku supertor sepak bola yang anarkis, konser musik yang menelan korban jiwa, dan berbagai kejadian lainnya, menunjukkan fenomena masyarakat yang sakit. Berbagai kemungkaran yang terjadi tak dapat dibendung lagi.

Ada tiga hal yang yang diwanti-wanti oleh Allah dalam al-Qur’an agar tidak menjadi masyarakat yang sakit

1. Tabdziir

Baca lebih lanjut

Yang Mustajab Do’anya & Saat-Saat Mustajab Do’a

Al-Ustadz, KH. Drs, Shiddiq Amin, MBA

Ketua Umum PP. Persatuan Islam

Orang-orang yang Mustajab Do’anya

Berdasarkan hadits-hadits yang akan disampaikan berikut ini, terdapat tujuh kelompok orang yang do’anya pasti diijabah oleh Allah, mereka itu ialah; 1) Orang yang dizhalimi, 2) Orang yang sedang bepergian, 3) Orang Tua kepada anaknya, 4) orang yang shaum, 5) Pemimpin yang adil, 6) Seorang Muslim kepada saudaranya, 7) Anak kepada orang tuanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga do’a yang diijabah, tidak ada keraguan padanya: Do’a orang yang dizhalim, do’a orang yang sedang bepergian, dan do’a orangtua terhadap anaknya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga orang yang do’anya tidak ditolak, do’a orang yang shaum sampai ia berbuka, do’a pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizhalimi, Allah mengangkatnya di atas mega. Dan Allah membukakan baginyapintu-pintu lamhit, dan berfirman, demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu walaupun sampai akhir zaman. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Baca lebih lanjut

Dzikir Dengan Laa Ilaaha Illallaah

Oleh : KH. Aceng Zakaria

A. Keutamaan Kalimat Laa Ilaaha Illallaah

· Sebagai Ikrar Masuk Islam

Kalimat laa ilaaha illallaah, merupakan kalimat ikrar, pernyataan untuk masuk Islam, berdasarkan hadits,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ مُعَاذًا قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّه (مسلم : 27)

Dari Ibnu Abbas r.a. sesungguhnya Mu’adz berkata, Rasulullah saw. Mengutusku, beliau berpesan, “Sesungguhnya engkau akan datang kepada kaum ahli kitab, ajaklah mereka untuk mengakui, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah rasulullah” (HR. Muslim)

· Untuk Mentalkinkan Yang Hampir Mati

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (مسلم : 1524)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, rasulullah saw. Bersabda,”Talkinkanlah orang yang hamper mati di antara kalian dengan kalimat laa ilaaha illallaah. (H.R. Muslim)

Baca lebih lanjut

Makna Dzikir Dalam Al Qur’an

K.H. Aceng Zakaria

1. Al-Qur’an

Dzikir itu artinya al-Qur’an sebagaimana firman Allah,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya(Q.S. al-Hijr: 9)

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44)

Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (Q.S. An-Nahl: 44)

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ( 28  )

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ( Q.S. Ar-Ra’du : 28 )

Semua kata “dzikr” dalam ayat-ayat di atas maksudnya al-Qur’an. Imam Ibnu Qoyyim berpendapat, “Dzikrullah itu ialah al-Qur’an yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan al-Qur’an

Demikian firman Allah, juga ayat

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (An-Nahl:43)

Yang dimaksud ahli dzikir disini bukanlah yang suka membaca kalimat dzikir seperti membaca laailaha illallah 1000 kali dsb, tapi ahli dzikir di sini maksudnya ialah yang menguasai al-Qur’an dan Sunnah.

Mengapa al-Qur’an dikatakan dzikr, karena al-Qur’an berfungsi sebagai pengingat penggugah, dan penyadar. Dan arti dzikir itu sendiri ialah ingat, sadar.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Refleksi Dengan kaitkata

Studi Literatur Fiqh Seri I; Pengantar Studi Fiqh Madzhab Syafi’i

STUDI LITERATUR FIQH SERI I

PENGANTAR STUDI FIQH MADZHAB SYAFI’I

Oleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati***

Pendahuluan

Mengkaji literature Fiqh bukan saja membutuhkan kesabaran, akan tetapi juga kemampuan dan keuletan. Mengapa? Ya, karena seorang bahis di samping harus mengetahui buku-buku primer fiqh yang sedang dikajinya, juga terlebih dahulu ia harus memahami dan menguasai paling tidak seluk beluk dasar dari madzhab fiqh yang sedang dibahasnya. Belum lagi ia harus mengetahui buku-buku yang termasuk kategori awwalun, mutawasithun, dan muta’akhirun. Hal ini penting, mengingat umumnya buku-buku literature fiqh satu sama lain saling berkaitan erat.

Ketika anda mendapatkan sebuah syarah atau hasyiyah atau mukhtashar dari salah satu buku, tidak berarti bahwa itu semua tidak berarti dan tidak penting. Banyaknya hasyiyah dan syarah, hakikatnya semakin menambah beban seorang bahis, lantaran satu syarah dan hasyiyah dengan yang lainnya tentu sangat berbeda dan mempunyai penekanan tersendiri. Semua ini hanya bisa dipahami tentunya oleh mereka yang telah lama ‘bersentuhan’ dengan literature dimaksud. Karena banyaknya hal yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang bahis inilah, banyak kalangan fiqh sendiri mengatakan bahwa hakikatnya mengkaji literature turats tidaklah gampang. Masih lebih mudah mengkaji buku-buku kontemporer ketimbang buku-buku turats.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Fiqh Dengan kaitkata

Ibnu Taimiyyah; Berjihad Dengan Pena Dan Pedang

Ibnu Taimiyyah;

Berjihad Dengan Pena Dan Pedang

Oleh Rifqi Fauzi*

Nama asli Ibnu Taimiyyah adalah Ahmad bin Abdu al-Halim bin Abdu as-Salam bin Abdullah bin Muhammad bin al-Khudri bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah al-Harani al-Damsyiqi. Beliau juga terkenal dengan sebutan Abu al-Abas.

Ibnu Taimiyyah di lahirkan pada hari Senin, tanggal sepuluh Rabi`u al-Awal 661 Hijriyah di kota Haran . Ketika beliau menginjak umur tujuh tahun, beliau pindah ke Damsyiq dikarenakan penjajahan bangsa Tartar atas kota kelahirannya. Beliau dibesarkan dalam keluarga berpendidikan, terbukti kakek-kakek beliau merupakan ulama terkenal pada jamannya seperti: Muhammd bin al-Khudri, Abdu al-Halim Ibnu Muhammd bin Taimiyyah , Abdu al-Ghani bin Muhammad bin Taimiyyah. Termasuk ayahnya sendiri- Abdu al-Halim bin Abdu as-Salam al-Harani- merupakan ulama terkenal. Sehingga beliau terdidik dengan ilmu agama sejak kecil. Beliau juga terkenal sebagai anak cerdas, terbukti dengan hapalnya al-Qur`an sejak masih kanak-kanak dan sejak kecil beliau telah belajar ilmu-ilmu agama dari ayahnya dan para ulama Damsyiq, seperti ilmu Hadits, Tafsir, Usul Fiqh dan lain-lain. Dan sudah terlihat keahliannya dalam berijtihad sejak beliau masih remaja, beliau juga telah menguasai berbagai macam disiplin ilmu agama sebelum beliau berumur 30 tahun.

Baca lebih lanjut

Hakikat Silaturrahmi

Hakikat Silaturahmi

Oleh:Rifqi Fauzi*

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim (Arham). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa[4]:1)

Silaturahmi secara bahasa bearsal dari dua kata yaitu silah (hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan)yang mempunyai arti Hubungan nasab, sebagaimana ayat diatas kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai Silaturahmi. Namun pada hakikatnya silaturahmi bukanlah sekedar hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan sesama muslim merupakan bagian dari silaturrahmi, sehingga Allah mengibarat kan umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat[49] :10).

Hubungan persaudaraan inilah yang menjadikan sesama muslim mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menghormati, menjenguk ketika sakit, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, saling mendoakan, larangan saling mencela, menghasud dan lain sebagainya.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Dengan kaitkata

Pemimpin

Pemimpin

Oleh : Rashid Satari*

”Katakanlah, wahai Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau cabut kerajaan (kekuasaan) dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki, di tangan-Mu semua kebajikan. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran [3]: 26).

Kepemimpinan adalah amanah. Oleh karena itu, apa pun bentuk dan skalanya, kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. Baik itu presiden, gubernur, jenderal, raja, kepala RT, maupun kepemimpinan personal.

Dalam sebuah hadis dari Ibnu Umar RA disampaikan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, ”Perhatikan! Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu dipertanggungjawabkan atas apa yang kamu pimpin. Maka, seorang penguasa yang memimpin manusia dipertanggungjawabkan atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim).

Mengenai kepemimpinan, Umar bin Khathab RA telah memberikan contoh teladan yang indah. Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Umar RA tak canggung turun ke bawah untuk melihat langsung kesejahteraan rakyatnya. Bahkan, Umar RA pun tak canggung memikul sekarung gandum dengan pundaknya sendiri sebagai bentuk khidmat pada rakyat yang dipimpinnya. Demikianlah prototipe pemimpin bertanggung jawab atas amanah yang diemban.

Tak jarang pemimpin yang dibenci rakyatnya sendiri karena tidak mengemban amanah dengan baik. Pemimpin seperti ini tentu saja dibenci juga oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa ditakdirkan Allah untuk menjadi pemimpin rakyat dan dia mati, dan saat itu ia menipu rakyatnya, Allah pun mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim).

Lebih berbahaya lagi, pemimpin seperti itu juga bisa menjadi ancaman bagi stabilitas masyarakat dan negerinya. Seperti yang difirmankan Allah SWT, ”Jika Kami menghendaki akan membinasakan suatu negeri, Kami akan perintahkan orang-orang besar (pemimpin) supaya menaati Allah. Tetapi, mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu maka patutlah mereka disiksa, lalu Kami robohkan negeri itu seroboh-robohnya.” (QS Al Isra [17]: 16).

Maka, pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang mampu membina diri dan masyarakatnya dalam mengamalkan nilai-nilai Ilahiah. Seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Jika seorang pemimpin menyuruh bertakwa pada Allah adalah baginya pahala dan jika dia menyuruh yang lainnya, maka balasannya demikian pula.” (HR Muslim). Wallahu a’lam.

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Dengan kaitkata

Humor Rasulullah

Humor Rasulullah

Oleh : A Taufik Rahman

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ada seorang laki-laki meminta pada Rasulullah agar membawanya di atas kendaraan. Kemudian, Rasulullah berkata, ”Aku akan membawamu di atas anak unta.”

Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian, Rasulullah berkata, ”Bukankah yang melahirkan anak unta itu seekor unta juga?” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Humor atau bercanda adalah bumbu komunikasi yang tak pernah lepas dalam pergaulan sehari-hari, saking akrabnya hal tersebut sudah menjadi profesi seseorang. Di samping dapat menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, dan meredakan amarah, tak jarang di dalam kelakar muncul benih persahabatan dan persaudaraan.

Pernah suatu ketika Sufyan bin Uyainah ditanya apakah canda itu termasuk perbuatan tercela? Ia menjawab tidak, ”Bahkan, termasuk sunah bagi yang dapat mengondisikannya sesuai dengan aturan.”

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Dengan kaitkata

Etika Dagang

Etika Dagang

Oleh : Resa Gunarsa

”Dan, kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang banyak.” (QS Alfajr [89]: 20).

Manusia diciptakan dengan kecintaan terhadap harta benda. Allah tidak mencela kecenderungan itu, selama harta yang dicintai dan dicarinya tidak membuat ia bermaksiat kepada Allah dan berperilaku buruk kepada sesama. Allah justru mengapresiasi orang-orang yang memerhatikan etika dalam mencari harta, sehingga hartanya membawa keberkahan untuk pemiliknya.

Berdagang adalah salah satu cara seseorang menjemput rezeki Allah di dunia ini. Suri teladan kita, Nabi Muhammad SAW, adalah seorang pedagang. Begitu juga para sahabat, banyak di antaranya menjalani profesi sebagai pedagang dan mencapai kesuksesan. Seperti Utsman ibn Affan, Abdurrahman ibn Auf, Suhaib Alrumi, dan yang lainnya.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Dengan kaitkata