Mendaur Ulang Misi Ulama

Mendaur Ulang Misi Ulama

Yusuf Burhanudin
Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir.

Saat ini peran dan eksistensi ulama tengah dipertaruhkan. Buruk rupa cermin dibelah. Begitu ilustrasi sementara kalangan menyoroti kiprah ulama dewasa ini terutama seiring dengan maraknya aliran sesat yang menyempal dari pakem keyakinan mainstream umat beberapa waktu lalu.

Para ulama seolah lebih asyik menyesatkan dan memberikan cap murtad bagi kelompok tertentu, tetapi mengabaikan penyebab kenapa mereka tersesat. Mesti disadari bahwa yang menjadi korban tak lain adalah internal umat Islam sendiri, orang awam yang seharusnya menjadi garapan utama ulama.

Maraknya aliran sesat di Tanah Air belakangan ini merupakan fakta memprihatinkan. Hal tersebut semestinya menjadi isyarat evaluatif rapuhnya dakwah yang digencarkan para ulama sehingga menelantarkan umat awam.

Fakta kesesatan selain karena kedangkalan keilmuan, terbukti sesesat-sesatnya aliran selalu saja menyedot banyak pengikut yang sejatinya menjadi misi ulama. Itu juga menampar muka ulama karena lengah dan gagal dalam membimbing (to guidance), mengarahkan, membina, dan memberdayakan umat menuju cita-cita luhur (al-ahdaf al-ummah al-islamiyyah).

Lantas, apa misi ulama dan bagaimana pula karakteristik mereka yang notabene pewaris misi para nabi (waratsatul anbiya’)? Bagaimana tanggung jawab ulama dan juga lembaga ulama dalam masyarakat kontemporer? Tulisan berikut akan mencoba mengulasnya.

Identifikasi ulama
Menjadi ulama tak sekadar menarik berpidato dan beretorika di atas podium. Seorang ulama tak hanya khatib atau muballigh. Lebih dari itu, mereka dituntut mampu memijarkan keteladanan dalam pencerahan masyarakat menuju kemajuan peradaban.

Ulama adalah isim fa’il dari ‘ilm yang berarti orang berilmu, berpengetahuan, dan memiliki wawasan luas. Tak bisa disangkal, yang membedakan ulama (‘alim) dengan awam kebanyakan (‘abid) adalah ilmu pengetahuan. Keutamaan para ulama dengan orang kebanyakan dilukiskan oleh Nabi SAW, fadhlul ‘alim ‘alal ‘abid ka fadhlil qamar laylatal badri ‘ala sa-iril kawakib (keutamaan orang berilmu dari orang biasa laiknya sinar rembulan purnama di antara seluruh bintang-gemintang).

Ulama adalah sosok manusia yang dimuliakan Allah. Derajat mereka lebih unggul dari manusia kebanyakan karena keilmuan mereka (QS Al-Mujadilah [58]: 11). Abu Al-Aswad Ad-Duwaly melukiskan, “Jika para raja penguasa sekalian manusia, para ulama justru penguasa yang mengatur raja-raja.”

Ulama adalah manusia pilihan Allah (selecta persona) karena tersandang pada pundak mereka misi istimewa meneruskan tugas para nabi memberdayakan umat manusia dari kebodohan, kejumudan, keterbelakangan, dan kemiskinan (QS. Fathir [35]: 32). Mereka dituntut memainkan peran tengah (wasit) guna menjembatani keadilan antara yang zalim dan mazlum, kaya dan miskin, kaum penindas dan tertindas.

Dalam al-Islam bayna jahli abna-ihi wa a’juzi ulama-ihi (Islam, Antara Kebodohan Umatnya dan Ketakberdayaan Ulamanya), Abdul Kadir Audah menegaskan pelabelan Rasulullah SAW bagi para ulama sebagai pewaris para nabi, mengisyaratkan tingginya penghargaan Nabi terhadap kedudukan ulama. Sebagai pewaris, ulama berkewajiban mewarisi sekaligus melanjutkan misi, jejak, peran, dan tanggung jawab (mas’uliyyah) kenabian di tengah-tengah umat (IIFSO: 1998, h. 142).

Meninggalkan dakwah berarti mengkhianati ilmu. Mereka kelak terancam kekangan api neraka (Siapa ditanya ilmu lalu dia menyembunyikannya, niscaya dikekang kekangan api neraka, HR. Ahmad dari Abu Hurairah). Menyembunyikan ilmu tentu bukan sebatas tidak menjawab pertanyaan saat berfatwa, tapi melepaskan tanggung jawab keilmuan demi kepentingan duniawi, individualistik, dan egois. Misalnya, memiliki keilmuan agama tetapi tidak diamalkan karena lebih mementingkan kehidupan pribadi, keluarga, klan, dan kelompok.

Menimbang misi ulama
Ada enam misi utama ulama yang dijelaskan Alquran dan Sunah Rasul. Pertama, transformasi keilmuan. Tugas utama ulama adalah mencerdaskan umat melalui transformasi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan meliputi seluruh perangkat ilmu bagi tegaknya peradaban, mulai dari ilmu agama sampai ilmu umum. Ilmu ibarat cahaya penerang bagi perjalanan umat dalam menempuh peradaban gemilang sehingga mampu membebaskan mereka dari kegelapan, kebodohan, dan kesesatan. Mustahil rasanya bila kita bercita-cita besar, tetapi tidak dibarengi ketinggian ilmu.

Dakwah tanpa ilmu berarti mendakwahkan kebodohan. Dakwah atas nama kebodohan lebih banyak madharat-nya bagi umat. Munculnya sosok ulama maupun dai karbitan yang mengedepankan popularitas dan retorika hanya melahirkan umat yang menjadikan dakwah sebagai tontonan, bukan tuntunan dan gerakan.

Sebab itu, para penganjur dakwah dan penebar ilmu wajib berilmu. Bagaimana mereka hendak menebar ilmu jika dirinya terperangkap dalam kebodohan? Bagaimana menerangi umat bila dirinya sendiri dalam kegelapan?

Tanpa ilmu, mereka bukan memberi cahaya dan pencerahan, tetapi merusak dan menghancurkan peradaban umat. Mereka memahami ajaran seenaknya tanpa disertai metodologi ilmu yang benar sehingga melahirkan ajaran sesat.

Kedua, amal dan teladan. Selain berilmu, ulama dituntut memiliki kekuatan teladan. Keilmuan tanpa amal perbuatan, sia-sia. Seorang ulama mesti menjadi teladan yang baik bagi umat, dirinya, dan ilmunya sendiri.

Tanpa teladan, alih-alih seruan akan didengar justru menjadi bencana bagi dirinya sendiri. Teladan lebih ampuh dari 1001 petuah.

Nabi SAW berdakwah selama 23 tahun dibentuk di atas kapasitas qudwah (teladan). Beliau tak sekadar transformator ilmu, tapi juga sosok yang mengampanyekan kebenaran dari pelosok ke pelosok. Bukan tipologi cendekiawan menara gading yang berbicara ini dan itu, seolah ilmu cukup berhenti sebatas pesan verbal (tabligh). Padahal, ilmu sejatinya meliputi misi pencerdasan, pencerahan, partisipasi, dan pemberdayaan umat.

Falsafah ummi Rasulullah bukan berarti buta ilmu, tapi buta dari ilmu-ilmu yang tidak mengandung daya gerak dan semangat perubahan. Misalnya, cukup berceramah di televisi atau menulis di media kemudian tidak melakukan apa-apa.

Ilmu mestinya memancarkan nuansa egaliter, transformatif (mengangkat harkat dan martabat umat), emansipatif (memberdayakan potensi umat), dan revolusioner (memiliki kekuatan perubahan/taghyir dan perbaikan/tanshif). Bukankah ilmu bertujuan menyelamatkan umat dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan (tahwil al-jahalah ila al-ma’rifah), dari ilmu ke gerakan (min al-ma’rifah ila al-harakah), dari gerakan ke peradaban (min al-harakah ila al-hadlarah)?

Ketiga, tahu skala prioritas. Para nabi memulai dakwah dengan tauhid. Mereka memulai dengan hal mendasar. Membangun atap sebelum fondasi, alih-alih atap bisa tegak justru akan runtuh.

Orang-orang yang sibuk dengan perkara cabang (furu’) sebelum tauhid (ushul) ibarat dokter yang ingin mengobati orang mati. Keempat, para ulama mesti berkarakter. Karakter adalah kepribadian yang melekat pada diri seseorang.

Karakter bukan tabiat pembawaan pasif dan pemberian, tapi syakhshiyyah yang mengalami proses (tasykhish/being to be). Karakter adalah pencitraan akhlak. Betapa syakhshiyyah Rasulullah sebagai Al-Amin dahsyat pengaruhnya di kemudian hari saat beliau harus menyampaikan kebenaran wahyu dengan risiko munculnya resistensi pendustaan.

Kelima, menyadari risiko dakwah. Ketika para ulama diterjunkan, jangan berharap mendapat sambutan istimewa dari masyarakat setempat. Di mana pun, selalu ada lima kelompok orang dalam menyikapi dakwah.

Dalam Fiqh Al-Harakah fi Al-Mujtama, Gamal Mazhi menyebut lima konsekuensi dakwah, yaitu apatis (mendukung tetapi tidak mengikuti (ashabun), mengikuti (hawariyyun), menolak (mad’u), dan bukan saja menolak bahkan menghalangi (mu’aridh).

Keenam, mengikhtiarkan persatuan. Persatuan merupakan kekuatan umat. Persatuan dan kesatuan umat tidak datang sendiri, tapi mesti direncanakan, direkayasa, dan diikhtiarkan. Umat masih bercerai-berai sehingga mereka mudah terjebak oleh gesekan horizontal yang tidak perlu dan pada gilirannya mengabaikan agenda besar ke depan.

Perlu cita-cita mengubah jam’iyyah (komunitas kecil terbatas) menuju jamaah (komunitas besar dan universal). Menurut M Natsir (1983), hendaknya umat menjadikan iman sebagai pilar persatuan. Timbulnya tafarruq dan tanazu’ di kalangan umat bukan karena banyaknya organisasi, tapi karena di tengah-tengah perjalanan wijhah organisasi samar dan kabur. Jika perbedaan didasarkan kejujuran, niscaya memiliki titik temu.

Sosok ulama idaman umat saat ini berarti ulama berwawasan luas, memiliki integritas keumatan, paham masalah umat, berbudi pekerti luhur, memancarkan nilai keteladanan, menjadi perekat, dan pemersatu umat. Adakah sosok itu saat ini?

Ikhtisar:
– Ulama mengemban misi mulia sebagai penerus para nabi dan rasul.
– Yang ideal agar umat selamat, ulama harus berilmu dan mampu memberi teladan.

dikutip dari http://republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s