Ibnu Taimiyyah; Berjihad Dengan Pena Dan Pedang

Ibnu Taimiyyah;

Berjihad Dengan Pena Dan Pedang

Oleh Rifqi Fauzi*

Nama asli Ibnu Taimiyyah adalah Ahmad bin Abdu al-Halim bin Abdu as-Salam bin Abdullah bin Muhammad bin al-Khudri bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah al-Harani al-Damsyiqi. Beliau juga terkenal dengan sebutan Abu al-Abas.

Ibnu Taimiyyah di lahirkan pada hari Senin, tanggal sepuluh Rabi`u al-Awal 661 Hijriyah di kota Haran . Ketika beliau menginjak umur tujuh tahun, beliau pindah ke Damsyiq dikarenakan penjajahan bangsa Tartar atas kota kelahirannya. Beliau dibesarkan dalam keluarga berpendidikan, terbukti kakek-kakek beliau merupakan ulama terkenal pada jamannya seperti: Muhammd bin al-Khudri, Abdu al-Halim Ibnu Muhammd bin Taimiyyah , Abdu al-Ghani bin Muhammad bin Taimiyyah. Termasuk ayahnya sendiri- Abdu al-Halim bin Abdu as-Salam al-Harani- merupakan ulama terkenal. Sehingga beliau terdidik dengan ilmu agama sejak kecil. Beliau juga terkenal sebagai anak cerdas, terbukti dengan hapalnya al-Qur`an sejak masih kanak-kanak dan sejak kecil beliau telah belajar ilmu-ilmu agama dari ayahnya dan para ulama Damsyiq, seperti ilmu Hadits, Tafsir, Usul Fiqh dan lain-lain. Dan sudah terlihat keahliannya dalam berijtihad sejak beliau masih remaja, beliau juga telah menguasai berbagai macam disiplin ilmu agama sebelum beliau berumur 30 tahun.

Ibnu Taimiyyah hidup dalam lingkungan yang kita bisa pelajari dari berbagai kitab yang ditulisnya diantaranya: Pertama, beliau hidup dalam masyarakat yang masih kental dengan kemusyrikan dan bid`ah terutama dalam masalah penyembahan terhadap kuburan. Kedua, beliau hidup dalam masyarakat Sufistik. Ketiga, beliau hidup dalam masyarakat yang terkontaminasi dengan filsafat barat dan masyarakat yang pro pada bangsa Tartar. Sehingga dengan keadaan seperti ini beliau merasa dirinya terpanggil untuk mereaktualisasikan nilai-nilai Qur`an Sunah yang telah hilang. Bentuk reaktualisasi yang beliau gulirkan terdiri dari menulis berbagai kitab, sehingga tercacatat bahwa Ibnu Taimiyyah telah menulis kitab sebanyak 300 judul kitab, dan yang sampai kepada kita sekarang hanya sekitar 60 judul kitab. Gerakan reaktualisasinya juga digulirkan melalui ketajaman lisannya yang mengajak seluruh masyarakatnya untuk kembali ke jalan yang sesuai dengan Quran Sunah. Konsekwensi yang beliau terima dari gerakan reaktualisasi ini adalah dijauhkannya dari pena dan masyarakat dengan cara dimasukannya ke dalam penjara.

Selama ini Ibnu Taimiyyah dikenal hanya sebagai da`i dan penulis, padahal selama hidupnya beliau berada dalam penjajahan bangsa Tartar, yang mamaksa dirinya terjun langsung dalam medan perang untuk mengusir bangsa Tartar dari kampung halamannya. Banyak masyarakat yang tercengang ketika melihat keberanian Ibnu Taimiyyah dalam memerangi musuh Islam.

Perjuangannya terhenti ketika beliau menghembuskan nafas terakhirnya dalam terali besi di Damsyiq pada malam Senin, tanggal 20 Dzu al-Qa`dah 728 H. Beliau di penjarakan atas perintah empat Qadhi (baca, Hakim) Mesir, dikarenakan beliau telah menghancurkan kuburan keramat yang menjadi pusat penyembahan.

  • Ketua LBI ( Lembaga Buhuts Islamiyyah ) Pwk PP Persis Mesir

One comment on “Ibnu Taimiyyah; Berjihad Dengan Pena Dan Pedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s