Masyarakat Yang Sakit

Prof. Dr. H.M. Abdurrahman, M.A.

Menurut para psikolog dan sosiolog, kondisi masyarakat kita pada saat ini dikatakan sebagai masyarakat yang sakit. Kenapa dikatakan demikian? Diantaranya ialah karena melihat fenomena yang terjadi masyarakat saat ini, antara lain bermunculannya perbuatan munkarat yang dapat terjadi karena dipicu oleh hal-hal yang sepele dan bahkan karena sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali. Dan hal tersebut terjadi tidak hanya sekedar di kalangan remaja saja, tapi merata pada seluruh lapisan masyarakat.

Berbagai kekerasan yang terjadi, seperti perilaku geng motor baru-baru ini, perusakan fasilitas-fasilitas umum, perilaku supertor sepak bola yang anarkis, konser musik yang menelan korban jiwa, dan berbagai kejadian lainnya, menunjukkan fenomena masyarakat yang sakit. Berbagai kemungkaran yang terjadi tak dapat dibendung lagi.

Ada tiga hal yang yang diwanti-wanti oleh Allah dalam al-Qur’an agar tidak menjadi masyarakat yang sakit

1. Tabdziir

Tabdzir ialah, membagi-bagikan atau memisah-misahkan. Yaitu menghambur-hamburkan harta sementara ia tidak mengetahui untuk apa hartanya itu digunakan. Disebut tabdzir juga jika seseorang menggunakan harta tanpa tahu tujuaan atau tidak jelas manfaatnya.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27) الإسرآء

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Isra: 26-27)

Allah memerintahkan kepada kita untuk menunaikan hak kepada keluarga dekat, orang miskin, dan ibnu sabil. Namun Allah mengingatkan pula agar tidak terjadi tabdzir dalam penunaian hak tersebut. Maksudnya ialah bahwa pemberian itu harus sesuai dengan kelayakan yang diberi dan yang diberi harus dapat memanfaatkan pemberian itu. Jika tidak demikian, maka akan termasuk kategori tabdzir.

Makanya, meskipun pemberian kita itu sesuatu yang baik, tetapi jika penggunaannya tidak benar maka ini pun termasuk kategori tabdzir

2. Israaf

Israf ialah melebihi batas (berlebihan) dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia, meskipun itu dalam urusan berinfaq. Allah swat berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (25/67)

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al-Furqan: 67)

Dikatakan isrof juga ialah Ketika kita memberi pada orang lain sementara untuk kita tidak ada, yaitu apabila dengan infak tersebut meninggalkan permasalahan sesudahnya.

Makanya dalam urusan hak yang ada pada harta kita, Allah hanya meminta sedikit saja dari harta kita sebagai zakat, yaitu 2,5%. Selain dari zakat sepertiga dari hartapun sudah dikatakan banyak oleh Rasulullah saw.

Sangat kecil Allah meminta dari harta kita, hanya 2.5% zakat yang harus dikeluarkan sebagai pembersih harta dan jiwa kita.

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (6/141)

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Q.S. Al-An’am:141)

Dalam urusan berpakaian, makan, dan minum pun kita dilarang untuk israf. Allah berfirman:

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (31)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (Q.S. 7:31)


Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

Israf dalam makanan tidak sekedar urusan kenyang tidak kenyang saja, tapi berkaitan pula dengan etika makan. Bagaimana kesesuaian cara makan kita dengan apa yang diajarkan oleh Rasululullah saw. seperti makan dan minum dimulai dengan basmalah, menggunakan tangan kanan, tidak sambil berdiri dst. Demikian juga israf dalam berpakaian harus memperhatikan batasan-batasan syari’at dalam berpakaian

Orang yang yang isrof tidak dzikir kepada Allah

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (12)

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S.Yunus: 12)

Dan orang yang berbuat israf termasuk penghuni neraka. Firman Allah

لاَ جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلاَ فِي الْآَخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ (43)

Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. (Q.S Al-Mu’min: 43)

3. Itraf

Itraf ialah berlebihan dalam keni’matan yang ia miliki yaitu sikap hidup bermewahmewah sehingga berbuat sesuka hatinya dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah dan bertindak sewenang-wenang terhadap sesama makhluk. Perilaku itraf inilah yang sekarang populer dengan sebutan hedonis.

Orang-orang kafir dan yang mendustakan hari akhir memiliki gaya hidup bermewah-mewahan. Karena ukuran kemuliaan manusia menurut mereka adalah tergantung dari harta dan jabatannya. Allah berfirman:

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآَخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَذَا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ (33)

Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.. (Q.S. Al-Mu’minun: 33)

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلاَ قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (34)

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.(Q.S. Saba’: 34)

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (17/16)

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.(Q.S. Al-Isra: 16)

حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64)

Hingga apabila Kami timpakan azab, kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong.(Q.S. Al-Mu’minun: 64)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s