Hakekat Ahmad Badawy

HAKEKAT AHMAD BADAWY
Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl. I.S.

Sayyid Ahmad Badawy adalah sebuah nama yang terkenal di Mesir sebagai seorang wali Allah. Di Kota Tanta, di sebelah barat Mesir, kita bisa melihat kuburannya yang berada di dalam masjid yang diberi nama sama dengan namanya, banyak dikunjungi orang dari berbagai kalangan dan berbagai niat. Untuk itu, adalah sebuah kewajiban kita untuk mengetahui hakekat dari Sayyid Badawy ini, dan apa yang menjadikannya menjadi orang yang sangat dikenal, sehingga kuburannya tidak pernah sepi dari para penziarah.

Riwayat Singkat Pertumbuhan Sayyid Badawy

Namanya adalah Ahmad bin Ali bin Ibrahim bin Muhammad Al-Badawy, dilahirkan di kota Faas, Maroko, pada tahun 596 H / 1200 M, meninggal tahun 675 H / 1276 M. Syaikh Mustafa Abdurraziq—Syaikh Al-Azhar dan Guru Besar Filsafat di Cairo University—telah merujuk kepada literatur (makhtutot) Maroko dan mendapatkan pengingkaran bahwa Ahmad Badawy adalah seorang sufi. Malah terbukti bahwa dia adalah seorang Syiah Alawy Ismaily pengikut Dinasty Fatimiyah di Mesir. Ali Badawy—bapaknya—adalah seorang Syiah Alawy Ismaili yang mengungsi ke Makkah, sebab orang-orang syiah di Maroko mendapatkan tekanan dari suku Barbar, setelah jatuhnya Dinasti Fatimiyah.

Setelah jatuhnya negara syiah di tangan Sholahuddin Al-Ayyubi, kaum syiah mencoba mendirikan kembali negara mereka dengan cara menyebarkan pemahaman dan aqidah mereka yang menyimpang. Untuk menutupi dan mempermudah gerakan, mereka memakai selubung zuhud dan tasawwuf. Sehingga mereka berhasil mengadakan muktamar di Makkah pada tahun 603 H untuk mengembalikan negara Syi’ah Batini.

Disebutkan bahwa Ahmad Badawy hafal Al-Quran dan mempelajari Fiqh Syafii, serta meninggalkan banyak tulisan-tulisannya yang menunjukkan betapa luas pengetahuannya. Tapi pada hakekatnya, dia tidak meninggalkan tulisan apapun kecuali beberapa nasehat dan wasiat, serta syair-syair yang menetapkan adanya sifat ketuhanan pada dirinya, serta mencampur adukkan antara tasawwuf dan syiah.

Sebelum Badawy menetap di Tanta, pada tahun 634 H / 1236 M dia pergi ke Irak dengan kakaknya—Hassan—untuk mengunjungi pusat tasawwuf syiah yang didirikan oleh Ahmad al-Rifa’i yang meninggal tahun 570 H / 1174 M. Dia mengatakan, bahwa kepergiannya ke Irak berdasarkan perintah yang didapatnya dalam mimpi ketika tidur di samping Kabah. Tapi Dr. Ahmad Asyur melihat, bahwa riwayat yang diceritakan oleh para penulis kehidupan Badawy ini adalah sebuah hal yang berlebihan, dengan tujuan untuk meyakinkan para pengikutnya bahwa segala apa yang dilakukan oleh Sayyid Badawy ini adalah berdasarkan ilham dari Tuhan . Dalam perjalanannya ke Irak, dia sempat menziarahi kuburan Al-Hassan bin Mansur Al-Hallaj yang dieksekusi tahun 319 H berdasarkan fatwa para ulama sezamannya karena keyakinan wihdatul wujudnya yang sesat.

Dari sana dia pergi menuju Al-Kazhimiyah untuk menziarahi kuburan-kuburan Imam Syiah, lalu menuju utara Irak untuk menziarahi kuburan Uday bin Musafir al-Hikary (557H) pendiri Tarekat Al-Adawiyah dan diteruskan ke Mousul. Dalam riwayatnya, Badawy mengakui bahwa di tengah perjalanan dia sempat mematikan dan menghidupkan kembali orang-orang berbuat jelek kepadanya. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Umm Ubaidah tempat beradanya makam Ahmad Al-Rifa’i.

Para peneliti berpendapat bahwa kepergian Badawy ke Irak adalah atas perintah dari kaum Alawy, agar ia mendapatkan bekal dakwah dari seorang sufi syiah Ibnu Arab, yang dikenal dalam Thabaqot Rifa’iyyah sebagai Syaikh Barri, yang merupakan murid Al-Rifa’i. Dari sana, Badawy belajar bagaimana bisa terlihat sebagai seorang yang linglung dan zuhud . Irak pada waktu itu adalah Sekolah Syiah yang berselubung tasawwuf. Setelah selesai belajar dari sana, Badawy kembali ke Makkah dengan penampilan yang baru dan menarik perhatian, sebagai hamba yang selalu bangun malam sambil menatap langit sehingga hitam matanya memerah, dan tidak makan serta minum selama 40 hari..

Tak berapa lama sesampainya di Makkah, ia mengaku bahwa datang ilham yang menyuruhnya untuk segera pergi ke Tanta. Namun para peneliti mengatakan, bahwa kepergian Baday ke Mesir atas perintah kaum Alawy Syiah untuk menyebarkan ajaran mereka di sana, dan mengembalikan kejayaan Dinasti Fatimiyah. Apalagi setelah dieksekusinya penyair Omaroh el-Yamany dan pengikutnya tahun 569 H / 1173 M setelah tersingkap konspirasi mereka untuk melawan Shalahuddin Al-Ayyubi, juga kematian Da’i Syiah, Abul Futuh el-Wasity pada tahun 635 H / 1237 M di Aleksandria.

Dalam hal ini, Syeikh Mustafa Abdur Raziq berkata, ” Kaum Alawy tidak mendapatkan orang yang lebih mumpuni dibanding Sayyid Badawy untuk tugas seperti ini sebagai utusan rahasia bagi Sufi Syiah. Maka diarahkanlah ke Mesir. Sebelum dia sampai ke Mesir, telah datang setahun sebelumnya—637—H Izzuddin al-Sayyad (670 H / 1271 M), seorang Sufi Syiah, pemimpin Tarekat Rifa’iyyah, untuk mencari tempat yang sesuai bagi Badawy untuk melancarkan dakwahnya.

Sesampainya di Tanta, dia menetap di loteng rumah Rakin el-Din, di dekat Masjid Al-Boushah yang sekarang dikenal sebagai Masjid Al-Bahy. Dia selalu berteriak dari loteng itu agar semua orang tahu kelinglungannya. Abdul Samad Zainuddin el-Ahmady berkata, “Dia tinggal di loteng dan tidak pernah meninggalkannya baik siang maupun malam. Sewaktu-waktu dia berteriak-teriak secara terus menerus. Badawy memakai pakaian orang linglung, dan selalu menutupi mukanya dengan kain. Jika ia memakai sorban di kepalanya, tidak pernah mencucinya sampai sorban itu hancur, lalu diganti dengan sorban yang lain..”

Diriwayatkan oleh Al-Hafidh Al-Sakahwy dalam kitabnya “Al-Dlou’ Al-Laami’ “, Bahwasanya Ibnu Hayyan bersama Pangeran Nasiruddin bin Jankaly mengunjungi Badawy pada hari Jumat, dan di sekitarnya orang-orang yang mendatanginya dari berbagai tempat untuk meminta keperluannya. Kemudian mereka berhenti di Masjid Jami’ Tanta, dan duduk menunggu sholat. Ketika Khatib selesai khutbah Jumat, Badawy berdiri dan menutup kepalanya dengan kerah bajunya sehingga terlihat auratnya di hadapan manusia, lalu ia buang air kecil di bajunya dan di tikar masjid, kemudian duduk dengan kepala terus terbenam di kerahnya sampai selesai sholat dan dia tidak sholat.

Fase Dakwah Badawy

Fase dakwah Badawy terbagi menjadi dua fase :

Pertama : Pada akhir masa pemerintahan Ayubiyun.
Masa ini bisa disebut sebagai masa permulaan munculnya dakwah Badawy yang dimulai pada tahun 637 H. Pada waktu itu, Badawy tinggal di loteng selama 12 tahun. Kadang-kadang dia diam seribu bahasa, kadang-kadang dia berteriak-teriak untuk menunjukkan kelinglungan dan kegilaannya. Namun bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa. Pada masa tersebut dia berhasil mendidik pengikutnya yang setia yang berjumlah 40 orang dan bergelar Al-Sathiyyuun (dinasabkan ke loteng tempat mereka mendapatkan ajaran) sebagaimana yang diriwayatkan Abdul Wahhab Al-Sya’rony. Lalu mereka disebar ke berbagai tempat untuk menyebarkan ke semua orang tentang karomah dan kesaktiannya.

Diantara orang yang disebarkan oleh Badawy adalah Syaikh Yusuf Al-Inbabi, ke Imbabah, Syaikh Sa’duun ke Bilbis, Ali Al-Kurany ke Yaman, Syaikh Izzuddin ke Mousol dll. Badawy mengatakan kepada Abdul Aal—penggantinya—agar mengirim mereka ke tempat-tempat yang telah ditetapkan, dan tidak boleh meninggalkannya sampai mati. Pada masa ini, dakwah Badawy berjalan pelan tapi pasti, sehingga dia mempunyai banyak pengikut di Mesir, Syam, Hijaz dan Yaman. Hubungan rahasia antara tempat-tempat tersebut dengan pusat dakwah di Tanta terus berlanjut. Ketika Syaikh Rakin Al-Din meninggal, ia pindah dan tinggal di Daar Ibnu Sakhith—tokoh masyarakat—sampai akhir hayatnya.

Kedua : Pada Masa Pemerintahan Mamalik
Pada fase kedua ini, Badawy mendapatkan pengawasan yang ketat, terutama dari Al-Dhohir Bibris yang baru saja menghadapi konspirasi syiah di bawah pimpinan Al-Kurany, sebagaimana Mesir juga sedang menghadapi agresi salibis dipimpin oleh Louis IX yang berhasil menduduki Dumyat. Belum ditambah bahaya serangan dari Mongol.

Syaikh Mustafa Abdurrazik berkata, “Badawy segera merasa bahwa dia dikelilingi mata-mata dan Al-Dhahir Bibris telah mengetahui niatnya. Dia segera berbalik mengajar Nahwu dan Sharaf, dan membacakan pelajaran Fiqh, serta bertahun-tahun lamanya tidak mengadakan pertemuan dengan Sutuhiyyun secara terbuka.”

Jika pada fase pertama, ambisi politik Badawy telah berhasil dengan mengantarkan Al-Dhahir Bibris sebagai pemimpin Mesir, namun hal itu berbalik menjadi bumerang ketika Al-Dhahir Bibris menghadapi makar syiah. Konspirasi ini terjadi ketika Bibris sibuk berjihad melawan serangan Mongol pada tahun 657 H. Kewaspadaan Bibris yang amat sangat telah membuatnya curiga terhadap Al-Izz bin Abdissalam hanya karena dia berteman dengan Abu Hasan Al-Syadzily.

Pada awal mulanya, Al-Dhahir Bibris menugaskan Kepala Qady, Ibnu Daqiq Al-Ied untuk mengawasi gerak-gerik Badawy dan menyingkap ambisi politiknya. Namun, kemudian dia merasa tidak puas dengan hasil yang didapatnya, maka dia mengawasi sendiri Badawy dengan cara sembunyi-sembunyi dan menyamar. Dia pergi ke semua tempat yang diduga sebagai pusat pergerakan Badawy, serta memecat semua gubernur yang bekerja sama dengan Badawy.

Bukti Yang Menunjukkan Adanya Strategi Syiah di Belakang Badawy

1. Badawy menggunakan tipu daya dan penyamaran

a. Badawy menyamar dengan baju orang yang linglung / stress
Hal itu dilakukan setelah dia belajar di Madrasah Al-Rifa’i bagaimana agar terlihat linglung, untuk menyembunyikan dirinya sebagai Da’i Syiah. Karena mayoritas orang Mesir merasa bertoleransi terhadap mereka yang stress / linglung. Syaikh Al-Nahwy meriwayatkan, bahwasanya dia bersama sekumpulan muridnya pergi ke Tanta, kemudian duduk di bawah dinding loteng tempat tinggal Badawy. Lalu keluarlah Badawy, dan kencing di atas kepala-kepala mereka. Ditambah dengan segala tindakan Badawy yang sering dikaitkan dengan wahyu, seperti perkataan, ” Datang sebuah panggilan dalam mimpinya untuk pergi ke Irak..” dll.

b. Hal yang mencurigakan seputar kepergiannya ke Tanta
Hal yang membuktikan bahwa kedatangan dia ke Tanta bukanlah kebetulan, tapi suatu yang direncanakan, adalah lokasi Tanta sebagai daerah yang terpencil dari ibu kota dan jauh dari pengawasan pemerintah. Sehingga Badawy dapat bekerja tanpa ada yang menyadarinya. Selain sejarah menunjukkan, bahwa Tanta pada zaman Dinasti Fatimiyah merupakan Ibu kota daerah, pada masa Al-Mustansir (427 – 487 H). Ditambah dengan kedatangan Izzuddin Al-Sayyaad setahun sebelum kedatangannya untuk menyiapkan lingkungan agar siap menerima Badawy.

c. Selalu tutup mulut terutama di hadapan orang asing, dan hanya menunjukkannya dengan bahasa isyarat.
d. Tidak mau menemui dua orang dalam waktu yang sama, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Mustafa Abdurrazik.
e. Kematian Abdul Hamid yang misterius
Legenda mengatakan bahwa Abdul Hamid, salah seorang murid Badawy, mati karena bersikeras untuk melihat wajah Badawy tanpa penutup muka. Abdul Hamid adalah salah seorang Sutuhiyyun pemula dan merupakan kakak dari Abdul ‘Aal, pengganti Badawy. Padahal, adiknya Badawy—Al-Syarif Hassan—tidak terpengaruh apa-apa karena melihat wajah Badawy, saat mereka bertemu kembali di Makkah. Selain pada keluarganya, Badawy selalu menutup muka, bukan hanya dengan satu kain, tapi dengan dua kain. Hal itu menunjukkan bahwa rahasia yang di bawa oleh Badawy sangatlah besar. Mungkin saja, Abdul Hamid mengetahui rahasia yang ditakutkan Badawy akan bocor, maka dibunuhlah dia. Namun hal itu berubah menjadi legenda bahwa Abdul Hamid mendapatkan hal didapatkan Nabi Musa as ketika ingin melihat Allah SWT.

2. Hubungan antara Badawy dengan para da’i syiah di dunia

a. Menggunakan kata sandi dalam surat menyuratnya, dan mengaku bahwa itu adalah bahasa Suryani.
Al-Sya’rany mengatakan, “Badawy bisa berbicara bahasa ‘Ajam (selain Arab), bahasa Suryani, Bahasa Ibrani, Bahasa Negro dan semua bahasa hewan liar dan burung-burung.”

b. Mengaku bernasab kepada Nabi saw
Mengakui bernasab kepada Nabi merupakan kebiasaan buruk Dinasti Fatimiyah, yang diteruskan oleh gerakan syiah lainnya.

c. Tersangka merencanakan konspirasi melawan ummat
Badawy tidak bisa mencapai tujuan politiknya, karena Al-Dhahir Bibris sangat waspada, dan berpengalaman dalam menghadapi syiah batini. Oleh karena itu, setelah kematian Badawy, para pengikutnya berusaha mengadakan konspirasi untuk menggoncang pemerintahan yang ada. Diantaranya konspirasi Abdul Ghaffar bin Nuh, yang melancarkan pembakaran 60 gereja di Mesir dalam waktu yang sama, dan dengan cara yang sama, yaitu semuanya dibakar pada saat Sholat Jumat pada tahun 721 H, pada masa Al-Nasir Muhammad Qolawun. Abdul Ghaffar bin Nuh adalah salah seorang murid Abu Al-Abbas Al-Mulatsam, pendamping Badawy dalam dakwahnya.

d. Kemiripannya dalam menganggap remeh syiar-syiar agama
Seperti meninggalkan sholat, dan membodohi manusia dengan mengatakan bahwa kewajiban ibadah telah jatuh bagi siapa saja yang telah mencapai derajat tertentu. Bukti yang nyata, adalah tindakan sebagian mereka, seperti Syaikh Tajuddin al-Dzakir yang berwudlu setiap tujuh hari sekali, dan pada akhir hidupnya setiap 11 hari sekali. Bahkan Abu Sa’ud al- Jarihi, berwudlu pada awal Ramadlan, dan tidak berwudlu lagi kecuali setelah enam hari setelah iedul fitri.

e. Kemiripannya dalam menyebarkan dekadensi moral melalui ;
i. Peringatan Maulid. Pada saat ini terjadi ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan, dan mereka tidak menjaga percampuran bebas, karena kemurahan dan syafaat Badawy akan mengampuni mereka. Al-Sya’rany mengatakan, bahwa siapa saja yang mengingkari peringatan maulid Badawy akan mendapatkan bencana yang diantaranya dicabutnya baju keimanan darinya.
Seorang ahli sejarah Mesir, Al-Jabarty mengatakan, “Sebagian penziarah peringatan maulid bertujuan untuk berbuat kefasikan, bahkan orang-orang sufi miskin dari tarekat Ahmady (pengikut Badawy) menghalalkan bagi diri mereka untuk merampok toko, mencuri manusia, dan memakai harta orang lain dengan cara tidak halal pada saat itu. Argumen mereka, bahwa Gharbiyyah (provinsi beradanya kota Tanta) adalah negeri Badawy, dan kami adalah orang-orang miskin negeri ini, maka apa yang kami ambil adalah halal bagi kami.”
Sebagaimana sebagian fihak yang mengambil manfaat menyebarkan pernyataan, bahwa barang siapa yang berhaji ke makam Badawy dan dia percaya, pasti akan terkabul keinginannya dan terlaksana tujuannya.
ii. Mempersaudarakan antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahram dalam tarekat tasawwuf.
Al-Sya’rany berkata, “Sesungguhnya pengikut Tarekat Al-Ahmadiyah (Ahmad Badawy), pengikut Tarekat Al-Barhamiyah (Ibrahim Al-Dasuki) dan pengikut Al-Qadiriyah (Abdul Qadir Jaelani) mengambil janji seorang perempuan, kemudian ramai-ramai menggaulinya tanpa sepengetahuan suaminya..” Artinya mereka menjadikan tasawwuf sebagai jalan untuk mengeksploitasi perempuan dengan dalih bahwa ia telah menjadi anaknya atau saudaranya dalam tarekat.
Seorang Sufi yang faqih, Ibnu Al-Hajj, mengecam bid’ah yang dimunculkan tarekat Al-Ahmadiyah, dengan perkataannya, “Mereka mempersaudarakan antara laki-laki dan perempuan, bahkan sebagian perempuan tinggal satu atap dengan sebagian laki-laki dengan alasan bahwa mereka adalah saudara dari Syaikh.”
iii. Mendorong untuk menampakkan aurat dan pergaulan bebas
Sebagai contoh, apa yang dikatakan Al-Sya’rany, “Ketika saya menikahi istri saya Fatimah, dia adalah seorang perawan dan saya tidak menggaulinya selama lima bulan. Kemudian datanglah Badawy, membawa saya dan istri saya, kemudian membentangkan tikar di atas tiang kubah di sebelah kiri dalam. Lalu dia memasak manisan untuk saya, dan mengajak orang, baik yang masih hidup maupun yang mati, untuk menyantapnya. Kemudian dia berkata : Hilangkan keperawanannya di sini. Dan pada malam itulah saya menggauli istri saya untuk pertama kali..”

Masjid Badawy dan Penyelewengan Aqidah di Dalamnya

A. Hal yang mencurigakan seputar pendirian Masjid Badawy
Masjid Badawy belum didirikan pada masa hidupnya, karena dia tidak menjaga sholat jama’ah. Namun yang mendirikannya adalah Abdul ‘Aal, penggantinya. Pada awal mulanya, masjid itu hanya berupa tempat menyepi di samping kuburannya. Kemudian dijadikan zawiyah olehnya sebagai tempat persinggahan para pengikutnya. Selanjutnya dijadikan mesjid yang megah oleh Ali Bek Al-Kabir (1182 – 1186 H), orang yang mendirikan masjid, kubah-kubah serta hiasan dari kuningan sekitar makam dan mewakafkan segala hal untuk keperluan masjid. Siapakah yang mendalangi pembangkangan Ali Bek Al-Kabir atas Khalifah dengan mendirikan masjid ini? Pada masa Anwar Sadat, masjid ini mengalami perluasan, dan pada saat yang sama, Sadat juga memerangi gerakan-gerakan pemurnian aqidah Islam..

B. Sebagian penyimpangan yang terjadi dalam Masjid Badawy
Setiap sholat selalu didirikan dua jama’ah yang dipimpin oleh imam yang berbeda. Pertama, jama’ah di makam dan kedua jama’ah umum, mereka mengadakan sholat pada saat yang bersamaan. Di dalam ruangan makam, banyak orang yang bertawaf sekeliling kuburan sambil mengusap-usap pagar sekeliling makam. Ada juga mereka yang bertawassul, bermunajat, serta memohon keinginannya kepada Badawy. Nampak keyakinan dari para penziarah, bahwa Badawy akan mengabulkan keinginannya. Oleh karena itu, Badawy dijuluki Abu al-Faraj.

C. Ibadah Haji antara Ka’bah dan kuburan Badawy
Kita akan melihat banyak orang yang datang untuk bersa’i dan bertawaf dengan tahlil dan takbir serta menyembelih kurban di makam Badawy. Bahkan mereka menaruh sebuah batu yang menyerupai Hajar Aswad di makam. Setelah mereka selesai ‘berhaji’ mereka memberikan hadiah, baik berupa sembelihan atau lainnya, sebagaimana orang berhaji di Makkah.

D. Musuh-musuh Islam dan mereka yang berkepentingan mendukung khurafat seputar Badawy dan masjidnya
Sebagai misalnya, apa yang tertulis dalam Dairoh Ma’aarif Al-Islamiyah (Ensiklopedi Islam) yang dikeluarkan oleh para orientalis, dalam Juz I halaman 468 tentang Sayyid Badawy, bahwasanya dia “adalah Wali Allah di Mesir yang terbesar, yang bisa menghilangkan segala bencana dan kesusahan sejak waktu yang lama..” Sebagaimana yang berkepentingan menyokong legenda yang bercerita tentang Badawy sehingga kuburannya menjadi kiblat pengganti. Dalam hal ini, Al-Sakhawy mengatakan dengan mantap, “Datang para haji tahun ini ke makam Badawy dari Syam, Halab dan Makkah lebih banyak dari Haji ke Haramain..”

Sikap Syariah Atas Penyelewengan Ini

Mukmin sejati adalah orang yang selalu khawatir atas dirinya dan tidak pernah menganggap dirinya suci,
“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
Orang Yahudi mengganggap dirinya suci maka mereka berhak mendapatkan kemurkaan Allah,
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah mesucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).”

Wali Allah adalah orang yang mengikuti syariahnya, lahir dan batin, mengerjakan kewajibannya dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Adapun orang yang menampakkan diri sebagai orang linglung atau gila kemudian melaksanakan hal-hal yang haram dan tidak melaksanakan kewajiban, mereka bukanlah Wali Allah. Sebab gila adalah kebalikan berakal, sedangkan seseorang akan dikatakan beriman jika dia berakal sehat. Wali Allah adalah orang-orang yang mendekatkan diri dengan mengerjakan hal-hal yang disunnahkan Rasulullah saw, dan bukan mereka yang meninggalkan kewajiban agama.

Penutup
Setelah kita mengetahui hakekat Sayyid Badawy beserta Masjidnya, juga kemunkaran yang ada di dalamnya, maka adalah kewajiban bagi setiap muslim dan mukmin yang ingin menjaga kemurnian aqidahnya untuk mengambil sikap tegas, sesuai ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.

Wallahu A’lam

Rab’aah 16092005/12081426
Buya Sunny

One comment on “Hakekat Ahmad Badawy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s