Dilema Dialog Antaragama

Dilema Dialog Antaragama

Oleh :

Yusuf Burhanudin
Alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir

Pada 3-5 April lalu ada Forum Interfaith Dialogue for Peace and Harmony kawasan Asia Tenggara dan Pasifik di Phnom Penh, Kamboja. Forum ini untuk menggalang kerja sama antarpemeluk agama guna menciptakan perdamaian dunia dan kehidupan yang lebih harmonis.

Dialog antaragama memiliki nilai penting terutama dalam menciptakan kerukunan hidup antarumat beragama. Terlebih lagi, konflik dengan wajah agama sering terjadi. Di Asia Tenggara, misalnya, konflik terjadi antara Islam dan Budha di Myanmar dan Thailand, Katolik dan Islam di Filipina, juga Islam dan Kristen di Tanah Air.

Agama bukan satu-satunya biang konflik. Faktor politik dan perdagangan senjata gelap turut menjadi penyebabnya. Meminjam istilah Quraish Shihab (1998), pertikaian lebih disebabkan kepentingan-kepentingan nonagama.

Secara sederhana, dialog diartikan percakapan antara dua tokoh atau lebih. Secara luas, berdialog bisa juga dimaknai sebagai upaya tulus seseorang untuk bersikap fair, terbuka, dan komunikatif (KBBI: 1999, h. 231). Dengan makna ini, apakah dialog berarti ramai-ramai menggelar diskusi dan seminar antaragama sembari hati para pemeluknya berselisih satu sama lain (tajma’uhum jami’an wa qulubuhun syatta)?

Meminjam istilah Bung Hatta, fakta ini tak lebih dari toleransi gincu. Sekadar memoles ketidakmampuan untuk mewujudkan arti toleransi secara menyeluruh dalam segala segi kehidupan beragama. Apakah dialog sebatas mengemukakan pendapat atau dalil agama secara terbuka pada agama lain? Ataukah membangun komunikasi terbuka dengan mengembangkan prinsip toleransi menuju kerja sama antaragama dalam proyek kehidupan berbangsa dan bernegara? Barangkali, makna terakhir inilah yang mewakili definisi sekaligus menjadi tujuan dialog mereka.

Dialog antaragama dalam makna ajang bertukar pandangan seputar problematika kehidupan kemanusiaan yang berlandaskan pandangan agama masing-masing belum terjalin optimal. Masih ada prasangka dan kecurigaan dari masing-masing agama. Satu persoalan yang sering menjadi batu sandungan adalah fakta konversi agama baik dakwah dalam Islam atau misionarisme dalam agama Kristen dan Yahudi.

Fakta konversi
Mengacu pada berbagai kasus konversi besar-besaran yang berlindung di balik proyek-proyek sosial, seperti pembangunan sekolah maupun layanan rumah sakit yang dilakukan kaum misionaris Kristen di berbagai pelosok desa terpencil di Tanah Air, kian menghambat dialog antaragama terjalin penuh kejujuran, khususnya Islam dan Kristen. Yang terjadi akibatnya ketegangan antaragama kembali mencuat.

Sulit memang memisahkan Islam dari dakwah dan Kristen maupun Yahudi dari ajaran misionarisnya. Keduanya sama-sama berkepentingan menarik pemeluk agama lain kepada keyakinannya yang dianggap paling benar. Sampai di sini kita bisa membedakan antara konversi dan perubahan keyakinan karena pertukaran kemanusiaan dalam suatu diskusi bebas dan terbuka (bil hikmah wal mau’izhah).

Menurut Dr David Frawley, teolog Katolik asal AS, dalam dialog semestinya ada diskusi dan debat terbuka serta bersahabat tentang agama seperti halnya ilmu pengetahuan. Tapi, ketika satu agama menciptakan program pengonversian dengan memobilisasi sumber-sumber daya besar untuk tujuan itu, dengan sasaran kaum fakir miskin dan kelompok tidak terorganisasi, itu bukan lagi diskusi bebas, tetapi penyerangan ideologi. Itu bentuk kekerasan dari agama dan minus toleransi (The Ethics of Religious Conversions, 1999).

Pendeknya, mengonversi kaum beragama merupakan tindakan antidialog sekaligus bentuk pelanggaran terhadap kerukunan beragama. Menyasar agama lain sama saja dengan menyerang pemeluknya.

Sebaliknya, dakwah Islam pun tampak bertentangan dengan prinsip-prinsip toleransi beragama. Satu sisi dakwah menghendaki orang lain mengakui kebenaran Islam, tetapi di lain pihak Islam menuntut pemeluknya menenggang keyakinan orang lain (tasamuh). Kita seolah disodorkan dua pilihan, demi dakwah toleransi dilabrak atau semata toleransi beragama, dakwah mesti diabaikan.

Kekeliruan merelevansikan dua kewajiban tersebut menimbulkan resistensi sosial dan konflik antaragama tiada kunjung berakhir. Inilah kenapa landasan dakwah Islamiah yang paling mendasar adalah tidak adanya upaya pemaksaan terselubung terhadap agama lain (ikrah) untuk mengikuti keyakinan Islam.

Ini berbeda dengan serangan ideologis yang marak digencarkan kaum misionaris melalui kedok bantuan sosial, seperti pembangunan sekolah, balai pengobatan, dan rumah sakit gratis. Selama ornamen keagamaan ada dalam institusi-institusi kedermawanan, mereka masih membuat konversi.

Kegiatan misionaris seperti perang ideologi. Sistematis, termotivasi, dan terarah. Ia bahkan tampak menyamai penyerangan dengan menggunakan media, uang, dan orang-orang. Tugasnya ‘memangsa’ orang-orang yang tidak berpendidikan untuk pindah agama. Mereka tidak mencoba menciptakan pertukaran pandangan-pandangan apalagi debat secara terbuka.

Kegiatan misionaris dan konversi bukanlah kebebasan beragama. Ia upaya satu agama untuk membumihanguskan yang lain. Aktivitas konversi tak lebih ciri keagamaan eksklusif dan intoleran.

Aktivitas konversi jelas tidak menghargai kebebasan beragama sekalipun dengan dalih emansipasi sosial. Aktivitas konversi di seluruh belahan dunia, bukan strategi terorganisasi yang didanai besar-besaran guna memenangkan keyakinan tunggal, yaitu keagamaan yang mengakhiri kebebasan beragama dan keanekaragaman.

Ikhtiar minimal
Dialog antaragama merupakan rukun sosial dalam disket keberagamaan mutakhir. Ia perwujudan tulus dari sikap toleran terhadap keyakinan lain dan penghargaan secara sadar akan keragaman.

Hanya saja, dialog mesti berlangsung penuh kesetaraan. Tanpa kesetaraan, dialog tidak berlangsung jujur. Dalam fenomena radikalisme, misalnya, kenapa yang ramai dibicarakan adalah agenda pembaruan Islam dan bukan agama lain?

Seolah umat Islam yang banyak keliru memahami ajaran agama dan bukan yang lain. Inilah yang disebut Yusuf Qardhawi (2004) sebagai salah satu perlakuan tidak adil dan tidak sejajar dalam wacana dialog keagamaan kontemporer.

  • Penulis adalah mantan ketua umum Pwk PP Persis Mesir masa jihad 2004 – 2006

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Tagged

One comment on “Dilema Dialog Antaragama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s