Rekonstruksi Paradigma Mahasiswa Mesir

Rekontruksi Paradigma Mahasiswa Mesir;

Intelektualis Versus Organisatoris

Oleh Rifqi Fauzi*

Orang berakal bukanlah orang yang mengetahui kebaikan dan kejelekan. Namun orang berakal adalah orang yang bisa memilih salah satu dari dua kebaikan dan bisa memilih salah satu dari dua kejelekan” ( Ibnu Taimiyyah)

Mau apa saya datang ke Mesir?, itu merupakan pertanyaan klasik yang terdapat dalam benak setiap mahasiswa yang datang ke negri para nabi ini. Paradigma yang berkemabang di mahasiswa Mesir (selanjutnya di singkat masisir)-pun terbagi menjadi dua kubu. Diantaranya mereka ada memprioritaskan intelektual, dimana tujuan utama mahasiswa Indonesia datang ke negri ini adalah untuk ‘mengasah’ intlektualitas. Disisi lain mereka ada yang memprioritaskan organisasi, dimana pembelajaran organisasi adalah prioritas pertama mereka, dengan dalih bahwa mahasiswa mempunyai multi peran, bukan saja sebagai agent of intelectual, tetapi mempunyai peran lain seperti agent of change, agent of reform dan agent of revolution. Menurut hemat penulis alangkah lebih baiknya kita membandingkan kondisi mahasiswa mesir dan mahasiswa Indonesia , supaya kita tidak terjebak oleh dua paradigma diatas.

Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir runtuhnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia, sehingga masarakat Indonesia bisa menghirup alam reformasi di masa sekarang. Menurut Arbi Sanit, dalam bukunya yang berjudul Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia [1997], ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier. Jadi menurut Ardi Sanit, bahwa salah satu faktor mahasiswa mengadakan perubahan adalah seringnya terlibat dalam clash action dengan problematika kemasyarakatan. Sehingga pantas kalau mahasiswa Indonesia banyak mengadakan perubahan, dikarenakan mereka berhadapan langsung dengan berbagai problem yang dihadapi masyarakat sekitarnya, dari mulai masalah ekonomi sampai masalah politik. Sedangkan kalau kita perhatikan kondisi masisir, mereka hanya menghadapi 3000 masyarakat Indonesia, itupun kebanyakannya mahasiswa yang notabene sebagai problem solver bukan problem maker, sehingga sangat sedikit sekali problem yang dihadapi masisir dibandingkan mahasiswa Indonesia yang menghadapi jutaan masyarakat dengan jutaan problemnya, belum lagi kondisi pemerintahan Mesir yang dipensif- baik terhadap masyarakatnya sendiri ataupun masyarakat ajnabi – yang melarang segala bentuk pergerakan yang dapat mengganggu kursi kekuasaan. Sehingga masisir tidak bebas bergerak dalam mengapresiasikan pendapatnya -terutama dalam masalah pemerintahan- karena terhalang oleh system pemerintahan yang diterapkan di Negara ini, tidak seperti mahasiswa Indonesia dengan kondisi alam reformasi, yang memungkinkan mahasiswa bisa mengapresiasikan pendapatnya sebebas mungkin.

Jadi menurut penulis, memperdalam organisasi di Mesir bukanlah hal yang tepat karena organisasi merupakan ilmu praktek bukan ilmu teori, sedangkan media yang mendukung terhadap ilmu tersebut hanyalah sedikit. Mesir sendiri lebih dikenal sebagai Negara penghasil Ulama-Ulama terkenal. Dengan ini membuktikan bahwa Mesir adalah ‘gudangnya’ ilmu agama Islam. Menurut Penulis memperdalam ilmu inilah harus tetap menjadi skala prioritas setiap masisir.

Penulis khawatir, ketika masisir pulang ke Indonesia mereka kehilangan seluruh perannya sebagai mahasiswa, dikarenakan mereka telah menjadikan pembelajaran organisasi sebagai prioritas pertama, padahal di Indonesia sudah terdapat organisator-organisator lebih hebat. Dan sebenarnya yang di butuhkan Indonesia sekarang adalah intelektual-intelektual muda yang bisa membenahi system pendidikan, setelah rangkingnya merosot dikalahkan Negara Vietnam yang baru menghirup udara kemerdekaan. Jadi jangan sampai masisir menyesal dikala pulang mereka hanya mempunyai skill yang tanggung.

*Penulis adalah Ketua Association for Research And Islamic Studies Pwk. Persis Mesir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s