Sejarah Al Azhar (Bag. II)

Sejarah Al-Azhar (Bag. II)

Danni Nursalim Harun, Lc. Dpl.

Al-Azhar Masa Penjajahan Perancis

Al-Azhar mempunyai peranan penting dalam sejarah Mesir, Bangsa Arab dan Umat Islam. Terutama pada penghujung abad ke XVIII yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan sejarah Mesir, yaitu masa pendudukan Perancis.

Ekspansi Perang Napoleon telah sampai ke perairan Aleksandria pada 1 Juli 1798 M (17 Muharram 1213 H). Pada hari berikutnya, bala tentara Perancis turun ke front depan dan salah satu batalyon berhasil mendudukinya. Pasukan tersebut beriringan ke Damanhur menuju ke Kairo. Pada tanggal 2 Juli, Napoleon mengumumkan kepada bangsa Mesir bahwa ia datang ke Mesir untuk menghukum orang-orang Shanjuq yang memerintah di Mesir, yang memusuhi orang-orang Perancis dan menzalimi mereka. Juga untuk meniadakan Kesultanan Mamalik, menyelamatkan bangsa Mesir dari kezaliman mereka dan mereformasi kepemerintahan. Ia juga mengatakan bahwa bangsa Perancis menyukai Umat Islam dan loyal kepada kesultanan Utsmany. Kemudian dia meminta agar desa-desa di sekitar jalur yang dilewati tentaranya seluas tiga jam, untuk menyerah. Ia memerintahkan semua tokoh setiap desa untuk menjaga kekayaan Mamalik, semua syaikh, ulama dan kadi untuk meneruskan tugas mereka, setiap orang untuk tenang di rumah masing-masing dan agar sholat di masjid-masjid tetap didirikan.

Orang-orang Perancis mengalahkan kekuatan Murod Bek pada Pertempuran Al-Ahram atau Pertempuran Imbabah. Pada 12 Juli 1798, mereka melintasi sungai Nil dan menduduki Kairo. Kemudian pasukan yang mempertahankan Kairo pun mundur, meninggalkan Kairo berada di bawah belas kasihan musuh. Sehingga kegoncangan terjadi di mana-mana, dan akhirnya banyak yang melarikan diri dari berbagai pelosok kota.

Dari sini muncullah peranan Al-Azhar sebagai pemimpin bangsa dalam gerakan mengusir penjajah, setelah melewati berbagai kejadian yang beruntun. Pada Ahad pagi, tanggal 22 Juli 1798, sebagian ulama dan syaikh berkumpul di masjid Al-Azhar. Pada saat itu, penjajah belum menyeberangi sungai Nil dan sampai di Kairo. Mereka semua bersepakat untuk mengirimkan surat kepada orang-orang Perancis untuk menanyakan maksud kedatangan mereka, kemudian melihat bagaimana jawabannya.

Kemudian dua orang menyeberang sungai Nil menuju ke Giza untuk menyampaikan surat kepada Komandan Tertinggi mereka. Percakapan antara mereka menghasilkan sebuah surat yang menjamin keamanan bagi penduduk Mesir, dan menegaskan niat baik kedatangan pasukan Perancis. Kemudian komandan tersebut meminta para syaikh dan tokoh masyarakat untuk berkumpul untuk membentuk sebuah dewan yang akan menghandle semua urusan. Penduduk pun merasa tenang. Sebagian besar syaikh dan tokoh yang lari pun kembali lagi.

Pada hari Selasa, 25 Juli, setelah pasukan Perancis masuk ke Kairo dan Napoleon Bonaparte menetap di rumah Al-Alfy di Azbakiyyah, ia mengundang para ulama dan para syaikh untuk menemuinya. Terutama Syaikh Abdullah Syarqowy, Syaikh Al-Jami’ Al-Azhar, Syaikh Kholil Al-Bakry, Syaikh Musthafa As-Showy dll. Waktu itu Syaikh Muhammad Al-Mahdy ditetapkan sebagai sekretaris dewan.

Demikianlah didirikan Dewan Pemerintahan Pertama dari para ulama Al-Azhar di bawah pendudukan Perancis. Walaupun wewenang dewan ini terbatas dan berdasarkan petunjuk dari penjajah, namun hal itu menunjukkan betapa penting peranan Al-Azhar dan kedudukan para ulamanya, serta pengakuan akan kepemimpinan Al-Azhar bagi bangsa dan negara.

Masa terus berlalu, kondisi tidak stabil dan jiwa tidak merasa tenang. Orang-orang Perancis terus berusaha untuk menundukkan negeri, dan memberangkatkan ekspansi mereka ke hulu dan ke hilir. Mereka mendapatkan perlawanan dari sisa-sisa pemimpin Mamalik dan para penduduk yang mendukung mereka. Adapun di ibukota, kuku mereka semakin menancap sedikit demi sedikit. Mereka memaksakan ke seluruh wilayah berbagi pajak dan upeti, merampas banyak harta milik dan bangunan, dan menghancurkan gerbang-gerbang menuju gang-gang untuk menancapkan kekuasaannya di semua daerah. Mereka juga sangat banyak membunuh penduduk. Secara umum, mereka telah menjalankan undang-undang teror atas kota Kairo, sehingga para penduduk merasa sesak dan resah dan menunggu waktu untuk membalas dendam.

Kebencian umum terdengar gaungnya di Masjid Al-Azhar. Di situ dibuat sebuah “Panitia Revolusi”, begitu orang-orang Perancis menyebutnya, atau “Sebagian orang-orang yang bersorban yang tidak melihat akibat setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan Al-Jabarty. Perkumpulan tersebut mulai menyerukan untuk menyerang dan melawan. Sebagaimana biasanya, gerakan dimulai dengan mengumpulkan massa di jalan-jalan. Dewan Pemerintahan tadi pun melemah pengaruhnya, dan orang-orang tidak mau mendengarkan para tokoh ulama yang menyeru mereka untuk tenang.

Awal gerakan itu muncul pada tanggal 21 November 1798, ketika massa sudah berkumpul sejak hari masih pagi sekali, terutama di daerah Huasainiyah. Mereka berjalan ke rumah Qodhy Al-‘Askar (Ketua Para Qodhy Turki) dan memaksanya untuk ikut bersama mereka berjalan menuju rumah Napoleon. Namun dia menolak karena takut akan akibatnya. Akhirnya massa merajam dia dan menjarah isi rumahnya.

Pada saat yang sama, massa yang besar berkumpul di shohn Masjid Al-Azhar sambil meneriakkan seruan untuk balas dendam dan berperang, dipimpin oleh sebagian syaikh yang membakar mereka dengan khutbah-khutbahnya. Jenderal Deboy—Gubernur Kairo—mendengar hal itu. Ia turun ke jalan bersama satu pasukan berkuda. Massa pun kontan mengelilinginya. Batu-batu pun beterbangan dari berbagai penjuru menimpanya dan pasukannya. Deboy berusaha untuk menenangkan massa, tapi tak ada yang mendengarkannya. Maka ia pun menyerang massa dengan pasukan berkudanya, dan mereka pun memabalas serangan itu dengan pukulan, lemparan batu, serta tusukan dengan tombak dan pedang. Deboy dengan sebagian pasukannya terbunuh. Pada saat itu, gerakan semakin mengeras, massa makin bertambah banyak. Revolusi tersebar ke semua daerah, dan kondisi pun bertambah rawan.

Napoleon mengetahui betapa bahayanya kondisi saat itu. Beberapa pasukan Perancis keluar ke pelbagai tempat berkumpulnya massa di semua daerah yang menuju Masjid Al-Azhar. Beberapa pasukan lainnya berusaha untuk menghalangi para penduduk di daerah lain untuk menuju ke tengah kota. Di antaranya adalah pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Salusky Yaor Napoleon. Pada saat itu massa sudah berlipat jumlahnya dan sudah semakin panas. Maka mereka pun bertikai dengan sebagian pasukan, dan berusaha bergerak untuk menuju ke dataran tinggi di benteng tempat meriam-meriam Perancis berada. Pasukan Perancis menahan mereka, dan membunuh sejumlah besar penduduk. Pada waktu itu terbunuh Kolonel Salusky dan kabarnya sampai ke telinga Napoleon yang kemudian sangat terpukul. Hal itu membuat kebenciannya terhadap revolusioner semakin bertambah, dan bertekad untuk memberantas mereka dengan cara apapun.

Di kala itu, meriam-meriam ditembakkan ke pusat-pusat massa yang berontak berada. Terutama daerah sekitar Masjid Al-Azhar, sehingga bangunan dan toko banyak yang hancur lebur dibuatnya. Ketika masalah bertambah runyam, para syaikh yang tergabung dalam Dewan, pergi menemui Napoleon yang menuduh mereka telah gagal bertugas. Para syaikh tadi pun meminta maaf dan meminta agar penyerangan terhadap kota dihentikan. Napoleon memenuhi permintaan mereka dan memerintahkan untuk menghentikan penyerangan sementara. Para syaikh tadi menuju ke Al-Azhar untuk menasehati para revolusioner untuk tetap tenang. Namun mereka tidak menghiraukannya, dan menuduh para syaikh sebagai orang yang tidak berperasaan serta melarang mereka untuk masuk ke masjid.

Pada saat itu, orang-orang Perancis berkeyakinan bahwa untuk mengalahkan revolusi, harus menduduki Masjid Al-Azhar serta jalan-jalan yang menuju kesana. Maka keluarlah perintah untuk menyerang Al-Azhar, dan berjatuhanlah bom-bom menimpa Masjid Al-Azhar dan daerah sekitarnya. Al-Azhar pun bergetar keras dan roboh sedikit demi sedikit. Banyak orang-orang yang mati terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhannya. Para revolusioner pun tercerai berai, banyak di antara mereka yang membuang senjata dan meminta keamanan. Tentara Perancis membuat pagar betis di sekitar jalan menuju Al-Azhar yang dijaga oleh pasukan berkuda. Serangan itu berlangsung dari pagi sampai sore pada hari Selasa, 23 November 1798.

Demikianlah tentara Perancis menduduki Masjid Al-Azhar dan melarang para ulama dan para penuntut ilmu untuk memasukinya. Bala tentara bertebaran di daerah sekitarnya, menjarah isi rumah-rumah dengan alasan mencari senjata. Mereka merusak pasar dan melakukan aksi penangkapan besar-besaran. Sehingga banyak penduduk sekitar yang lari menyelamatkan diri. Namun korban yang berjatuhan tidak terhitung banyaknya.

Setelah Masjid Al-Azhar diduduki, para syaikh pergi menemui Napoleon untuk memintakan maaf dan menjamin keamanan dan ketenangan penduduk. Juga mereka meminta agar tentara Perancis keluar dari Masjid Al-Azhar. Napoleon berjanji akan memenuhi permintaan mereka, tapi ia meminta mereka untuk memberitahukan siapa saja yang memimpin revolusi. Namun para syaikh tadi mengemukakan ketidak tahuan mereka akan hal tersebut. Napoleon mengatakan bahwa para syaikh mengetahui mereka satu per satu. Ia kemudian memerintahkan untuk mengosongkan masjid, namun tetap tersisa satu pasukan yang berjumlah 70 orang yang berjaga-jaga di daerah sekitarnya, serta mengawasi gerak-gerik penduduk dan pelajar.

Pada hari berikutnya, Napoleon mengirimkan orang-orangnya untuk mencari dan menangkap ‘biang kerok’ kerusuhan “yang bersorban’. Hal itu berakhir dengan menangkap sejumlah syeikh diantaranya; Syaikh Ahmad A-Syarqowy, Syaikh Abdul Wahhab As-Syabrowy, Syaikh Salman Al-Jusiqy, Syaikh Yusuf Al-Mushailhy, Syaikh Ismail Al-Barawy. Mereka mencari syaikh Badr Al-Maqdisy, tapi ia telah melarikan diri ke Syam. Semuanya itu adalah para ulama terkemuka di Al-Azhar. Mereka itu ditangkap setelah dibawa ke rumah Al-Bakry. Ketika para tokoh syaikh mendengar hal itu, mereka mengirimkan utusan yang dipimpin oleh Syaikh As-Sadat menemui Napoleon untuk memintakan ampun bagi syaikh-syaikh yang ditangkap tadi. Mereka pun diminta untuk menunggu dan tetap tenang.

Setelah berada di rumah Al-Bakry sampai Sabtu sore, para syaikh yang ditangkap tadi dibawa dulu ke rumah Al-Komandan. Di situ pakaian mereka dilucuti dan diseret menuju benteng (Solahuddin) / (Qol’ah), dan dipenjarakan di sana. Al-Jabarty mengatakan bahwa mereka ditembak mati pada hari berikutnya, dan jasad mereka dilemparkan dari pagar di belakang benteng. Adapun dokumen resmi Perancis mengatakan, bahwa mereka diadili secara rahasia dan divonis mati pada tanggal 3 November 1798. Kemudian dihukum mati pada hari berikutnya dengan dipenggal kepalanya. Pada saat itu, para syaikh terus berusaha memintakan ampun, dengan sangkaan bahwa mereka masih hidup.

Yang menjadi perhatian kita di sini, bahwa orang-orang Perancis menyadari kedudukan para Ulama Al-Azhar. Sehingga mereka mencoba untuk mengekploitasi wibawa para ulama untuk menenangkan dan menundukkan bangsa Mesir. Hasil dari kerusuhan tersebut adalah dinon fungsikannya Dewan Pemerintahan.

Ketika kondisi mulai tenang, Napoleon membentuk Dewan baru yang lebih luas cakupannya dan lebih banyak anggotanya menjadi 60 orang dari asalnya hanya 10 orang. Dalam dewan tersebut dimasukkan selain 10 orang ulama, juga unsur-unsur lain yang meliputi tentara, pedagang, kristen coptic dan orang asing. Dewan ini terbagai menjadi dewan khusus yang beranggotakan 14 orang yang bertugas untuk menjaga dan memperhatikan kondisi kota Kairo.

Pada tanggal 2 Februari 1799, Napoleon meninggalkan Kairo untuk memimpin ekspansi yang telah dipersiapkannya untuk menyerang Siria. Tapi ekspansi ini menemui kekalahan yang fatal di perbatasan front ‘Aka, sehingga Napoleon terpaksa kembali dan sampai ke Kairo pada pertengahan bulan Juni. Pada saat itu benih-benih perlawanan sudah muncul di daerah perairan, yang menyibukkan tentara Perancis untuk memadamkannya. Kemudian ekspansi Daulah Utsmaniyah telah sampai ke perairan Aleksandria dan mendarat di Abu Qir. Napoleon pun bergegas untuk menahannya dan berhasil mengalahkan Turki pada akhir bulan Juli. Setelah itu kembali lagi ke Kairo.

Di sini dia menerima kabar yang mengkhawatirkan mengenai kondisi Eropa dan Perancis. Ia pun bertekad untuk meninggalkan Mesir, dan betul-betul pergi pada akhir tahun 1799. Dia menunjuk Jenderal Al Patsat Cleber untuk memegang tampuk kepemimpinan umum.

Setelah Cleber datang ke Kairo dan menempati rumah Napoleon dulu, ia langsung memanggil para anggota dewan. Syaikh Muhammad Al-mahdy berbicara sebagai wakil dewan yang mengungkapkan penyesalannya atas keberangkatan Napoleon sekaligus pengharapan agar penggantinya ini berbuat adil. Cleber menjawab, bahwa dia akan berusaha untuk membahagiakan bangsa Mesir.

Namun setelah kerusuhan tersebut, kondisi yang tidak stabil terus menerus menghantui bangsa Mesir. Al-Azhar pn tidak terlepas dari hal itu. Pelajaran-pelajaran yang biasa diadakan di Masjid Al-Azhar banyak yang terhenti karena ketakutan dari para syaikh dan muridnya dari pengawasan tentara-tentara Perancis yang tak henti-hentinya siang dan malam. Bahkan pintu Masjid Al-Azhar pun sering ditutup.

Di sisi lain, tentara Perancis berusaha untuk menunjukkan rasa hormat mereka terhadap Al-Azhar pada hari-hari yang dianggap bersejarah bagi umat Islam. Namun para ulama Azhar dan bangsa Mesir tidak akan pernah lupa, bahwa Perancis adalah musuh utama mereka. Mereka senantiasa berharap agar kekuasaan Perancis di Mesir cepat berakhir, sehingga mereka terbebas dari belenggu dan timah panas mereka yang selalu mengancam.

Rupanya keinginan Ulama Azhar dan bangsa Mesir terealisasi melalui serentetan kejadian yang berlangsung berurutan secara cepat. Hal itu dimulai dengan kesulitan yang dialami Cleber dalam memegang Pimpinan Umum dikarenakan pasukan Daulah Utsmaniyah yang terus merangsek ke dalam Mesir, walaupun mereka pernah dikalahkan. Ditambah Angkatan Laut Inggris yang dipimpin Sidney Smith menguasai perairan Mesir mulai dari Yafa sampai dengan Aleksandria, yang menyebabkan Perancis terisolasi dari dunia luar.

Akhirnya setelah bermusyawarah dengan pimpinan lainnya, Cleber menyetujui perjanjian damai dengan Daulah Utsmaniyah dan Inggris untuk mengosongkan Mesir. Perjanjian yang dilakukan di Al-‘Arisy pada bulan Januari tahun 1800 menyebutkan bahwa Perancis harus meninggalkan dengan segala senjata dan perlengkapannya dalam tenggang waktu maksimal 45 hari. Isi perjanjian ini diberitahukan kepada anggota dewan, dan diumumkan serta disebarluaskan yang disambut gembira oleh khalayak ramai.

Namun Inggris melanggar perjanjian, dan bersikeras menganggap Perancis sebagai tawanan perang yang haus dilucuti senjata dan perlengkapannya. Pada saat yang sama, bala tentara Daulah Utsmaniyah telah sampai di dalam Mesir. Maka Cleber pun kembali untuk bersiap-siap dan berhasil mengalahkan pasukan Utsmany di dekat Al-Marj pada bulan Maret tahun 1800 M.

Kairo pun kembali tergoncang. Benih-benih perlawanan muncul lagi di berbagai wilayah Mesir. Revolusi di Kairo bermula di Bulaq yang merenter ke daerah-daerah lain. Para pejuang berhasil menghancurkan pertahanan-pertahanan Mesir dan mendirikan pagar betis di jalan-jalan. Mereka pun berhasil membuat mesiu yang membuat penjajah semakin merasa terancam. Perancis menghalalkan segala cara untuk menumpas perlawanan tersebut yang berakhir dengan dipadamkannya perlawanan pada bulan April tahun 1800 M. mereka pun melanggar janji mereka untuk memberikan keamanan bagi penduduk Kairo dengan menetapkan upeti yang sangat besar. Banyak ulama dan tokoh yang diberantas. Diberlakukan di Kairo hukum terorisme yang mengerikan. Sehingga kebencian antara pribumi dan penjajah semakin mendalam.

* Alumnus Fak. Studi Islam & Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, Post Degree Diploma Institut Studi Islam, Ketua Majelis Penasehat PWK PP PERSIS 2004-2006, Staf Pengajar Pusat Kebudayaan dan Informasi Kedutaan Republik Indonesia, Cairo 2000-2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s