Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah ( Bag I )

I. AWAL MULA KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN SYI’AH

Etimologi dan Terminologi Syi’ah

Syi’ah menurut etimologi mempunyai beberapa arti diantaranya ialah sekumpulan orang yang menyepakati suatu perkara, sekelompok atau segolongan orang dan pengikut.

Sedangkan syi’ah menurut terminologi tertuju kepada satu sekte (firqah) yang mengaku sebagai pengikut dan pendukung setia Ali bin Abi Thalib dan keturunanya, sehingga Syi’ah menjadi nama yang khusus bagi mereka.

Dr. Abdul Halim Mahmud mengatakan bahwa syi’ah bukanlah firqah diniyyah sebagaimana yang disebutkan dalam definisi syi’ah di atas, tetapi ia tidak lebih dari sebuah hizb dini (partai agama) dengan alasan karena syi’ah terlahir dari konflik politik yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyyah dan bukan karena pemikiran keagamaan (aqidah). Dr. Abdul Halim Mahmud membedakan antara istilah firqah diniyah dan hizb dini. Menurutnya firqah diniyah terlahir disebabkan oleh perbedaan pemikiran keagamaan berbeda lagi dengan hizb dini yang terjadi karena persoalan politik semata dan jauh dari urusan aqidah.

Adapun Muhammad Abu Zahrah mempunyai istilah yang lain lagi untuk syi’ah ini. Menurutnya syi’ah itu termasuk salah satu madzhab siyasiyyah (aliran politik) dengan alasan yang sama dengan Dr Abdul Halim Mahmud yang memasukan syi’ah ke dalam kategori hizb dini. Yaitu kemunculannya yang disebabkan konflik politik dan pemikirannya mengenai imamah. Muhammad Abu Zahrah membagi madzhab menjadi tiga, yaitu madzhab siyasiyyah yang terlahir karena politik, madzhab aqidiyyah yang terlahir karena pemikiran keagamaan (aqidah) dan madzhab fiqhiyyah yang terlahir karena perbedaan metode dalam mengistinbath hukum (fiqih).

Dari ketiga istilah di atas yang secara etimologi berbeda tetapi sebenarnya secara substansi sama. Dr. Abdul Halim Mahmud membedakan antara firqah dengan hizb—yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berati kelompok atau golongan—hanya ingin membedakan mana aliran yang lahir karena persoalan politik dan mana aliran yang muncul karena perpedaan pemikiran keagamaan atau keyakinan (aqidah). Begitu juga dengan Muhammad Abu Zahrah yang memberikan istilah madzhab siyasiyyah terhadap syi’ah karena ingin membedakan dengan aliran lainnya yang muncul disebabkan oleh persoalan selain politik.

Kesimpulannya syi’ah bisa disebut firqah, madzhab atau juga hizb karena semuanya mempunyai arti dan substansi yang sama yaitu menunjukkan kepada sebuah golongan, kelompok atau aliran.

Asal Mula Munculnya Syi’ah

Mengenai asal munculnya syi’ah ini ada beberapa pendapat yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa syi’ah muncul karena sinkretisme Islam dengan ajaran agama Persia. Dengan alasan bahwa umat islam termasuk penganut demokrasi (kebebasan dalam memilih pemimpinnya melalui pemilihan/musyawarah) mereka tidak mengenal kekuasaan warisan sebagaimana yang menjadi ajaran pokok agama Persia, bahwa raja yang akan mati telah mewasiatkan dan mewariskan kerajaannya kepada anaknya dan begitu seterusnya. Dan itu tampak dengan jelas sekali dalam keyakinan syi’ah bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah Saw. meninggal ialah sepupunya Ali karena disamping beliau tidak meninggalkan anak juga karena Ali adalah keluarganya yang paling dekat. Itulah argumen yang berpendapat bahwa syi’ah muncul dari ajaran Persia, dan Prof. Dawzen adalah salah seorang dari mereka.

Pendapat lain mengatakan bahwa munculnya syi’ah dikarenakan ajaran Yahudi yang mempengaruhinya dengan alasan bahwa Abdullah bin Saba lah sebagai pemrakarsa aliran ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Walhawzen. Di dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh orang-orang syi’ah, Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi yang masuk islam pada masa Ali memerintah. Ketika ia menghadap Ali ia mengatakan bahwa Ali adalah Tuhan dan dirinya sebagai nabinya. Ali pun marah dan menyuruhnya untuk bertobat tetapi ia menolak, maka iau pun dihukum dengan cara dibakar.

Kedua pendapat di atas dibantah oleh Dr. Abdul Halim Mahmud. Ia mengatakan bahwa syi’ah tidak lahir karena pengaruh dari ajran Persia maupun Yahudi tetapi ia sudah ada lebih dahulu sebelum terjadinya sinkretisme. Syi’ah lahir secara alami, yaitu karena simpati segolongan kaum muslimin terhadap Ali dan keturunanya.

Dan pendapat tersebut dikuatkan oleh Muhammad Abu Zahrah yang mengatakan bahwa benih-benih syi’ah ini sudah tampak di akhir masa pemerintahan Utsman Bin Affan. Bahkan diantara segolongan kaum muslimin yang simpati (menganggap Ali sebagai afdhalu al-Shahabah) terhadap Ali, seperti: Ammar bin Yasir, Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Faritsi, Jabir bin Abdullah, Ubay bin Ka’ab, Hudzaifah, Buraidah, Abu Ayyub al-Anshari, Sahl bin Hanif, Utsman bin Hanif, Abu al-Haitsam bin al-Tihan, Abu Thufail bin ‘Amir bin Wailah, ‘Abbas bin Abdu al-Muthalib dan seluruh bani Hasyim.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kecintaan mereka terhadap Ali itu sama sekali murni karena kelebihan yang dimiliki Ali baik ilmu, akhlaq dan juga kedekatan nasabnya dengan Nabi Saw. Dan sama sekali jauh dari pengaruh ajaran Persia, Yahudi ataupun ajaran asing lainnya.

Dengan demikian para sahabat itu bisa dikatakan syi’ah karena sesuai dengan definisi syi’ah di atas (versi Muhammad ‘Imarah). Tetapi perlu dicatat bahwa syi’ah pada masa awalnya hanya sebatas sekelompok orang yang simpati dan mendukung Ali, tidak lebih dari itu.

Tidak seperti syi’ah yang ada sekarang yang mempunyai keyakinan bahwa Rasulullah Saw. sudah mewasiatkan secara eksplisit dan implisit siapa yang akan menggantikan beliau ketika wafat, dan menurut mereka itu adalah Ali. Dan jika kita merunut sejarah syi’ah, keyakinan mengenai wasiat ini baru muncul pada masa imam syi’ah yang keenam yaitu Ja’afar al-Shadiq. Jadi sebelumnya keyakinan seperti itu belum ada.

Dan penjabaran di atas pun bisa sebagai bukti bahwa Syi’ah merupakan madzhab siyasah yang pertama di dalam Islam. Walaupun pendapat lain mengatakan bahwa firqah yang pertama itu ialah Khawarij dengan alasan merekalah yang pertama memisahkan diri dari shaf kaum muslimin.

Tetapi hal itu bisa terjawab dengan penjabaran sebagai berikut. Pada masa terpilihnya Abu Bakar Umar dan Utsman menjadi khalifah seluruh kaum muslimin sepakat dan tidak segolonganpun yang menolak. Tetapi ketika ‘Ali terpilih menjadi khalifah seluruh kaum muslimin mendukungnya kecuali Bani Umawiyyah yang menuntut Ali untuk mengadakan investigasi pembunuhan Utsman tetapi Ali menolak sehingga terpecahlah shaf kaum muslimin pada saat itu menjadi dua golongan. Golongan yang mendukung Ali (syi’ah) dan golongan yang mendukung Mu’awiyyah. Baru setelah Majlis Tahkim terjadi muncullah golongan yang ketiga yang tidak menyetujui tahkim tersebut yang dinamai Khawarij yang asalnya merupakan golongan Ali. Jadi sebenarnya kalau dirunut rentetan kejadiannya seperti itu jelaslah bahwa Khawarij merupakan golongan ketiga setelah golongan Ali (syi’ah) dan golongan Mu’awiyyah.

Dari penjabaran di atas juga bisa diambil kesimpulan bahwa yang menjadi sebab timbulnya perpecahan di kalangan umat islam pertama kali bukan dikarenakan perbedaan keyakinan dan pemikiran mengenai pokok agama tetapi melainkan dikarenakan persoalan politik semata. Tetapi karena Syi’ah sebagai aliran politik islam, maka tentu tidak akan bisa terlepas dari hubungannya dengan agama Islam, baik itu dari segi aqidah, keimanan maupun fiqihnya sekalipun. Oleh karena itu mereka membangun prinsip-prinsip dan landasan pemikiran mereka dengan menjadikan agama sebagai penopangnya. Sehingga tidak aneh kalau ada diantara ajaran-ajaran agama yang disalahtafsirkan atau dengan kata lainnya diselewengkan supaya bisa sejalan dan selaras dengan pemikiran mereka. Dan itulah yang terjadi juga pada aliran-aliran lainnya selain Syi’ah.

Syi’ah berkembang dan tumbuh subur di Irak, di samping karena Irak sebagai pusat pemerintahan Islam pada zaman Ali juga karena memang Irak merupakan lahan yang kondusif untuk berkembangnya aliran-aliran pemikiran baru. Hal itu disebabkan Irak yang merupakan tempat terjadinya asimilasi beberapa peradaban kuno seperti, Persia dan Kaldan sebagai tuan rumah. Ditambah dengan filsafat Yunani dan India. Sehingga tidak aneh kalau asimilasi dari beberapa peradaban itu melahirkan aliran pemikiran baru. Sebagai bukti bahwa Syi’ah ikut terbumbui oleh ajaran Persia ialah dalam masalah Imamah. Mereka menganggap bahwa imamah harus diwariskan secara turun temurun, bukannya diserahkan kepada rakyat yntukmemilih pemimpin yang dikehendakinya melalui pemilihan atau musyawarah. Dan itulah yang menjadi inti ajaran Syi’ah. Mereka berpendapat bahwa sebenarnya orang yang berhak menggantikan Nabi Saw. untuk memimpin umat Islam ialah keturunannya. Dikarenakan beliau tidak mempunyai anak laki-laki, maka Ali lah yang paling berhak karena dialah yang paling dekat nasabnya dengan Nabi Saw. disamping kelebihan dan keutamaan lain yang dimilikinya. Dan setelah Ali wafat maka yang berhak untuk menggantikannya ialah anak cucu dan keturunanya. Imamah menurut mereka adalah bagian dari aqidah dan bukan masalah ijtihadi.

Dari sini bisa kita satukan antara pendapat yang mengatakan bahwa kemunculan syi’ah merupakan pengaruh ajaran Persia. Dan yang lain mengatakan bahwa kemunculan syi’ah merupakan pengaruh dari ajaran Yahudi. Maka kalau bisa kita simpulkan bahwa syi’ah muncul karena konflik politik yang terjadi pada masa Ali, yang seiring dengan bergantinya zaman terpengaruh oleh kedua ajaran tersebut sehingga keyakinan syi’ah sekarang sudah bukan murni lagi ajaran Islam yang sebenarnya dan sudah melebar permasalahannya ke masalah keyakinan. Padahal pada masa awal syi’ah muncul hanya terbatas pada persoalan politik saja.

(Bersambung ….)

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Tagged

28 comments on “Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah ( Bag I )

  1. # shohib Says: Your comment is awaiting moderation.
    May 28th, 2008 at 4:11 pm

    Syi’ah yang dulu dan sekarang sama, mereka menganggap Kholifah setelah Nabi SAW, adalah Ali. Ali di angkat sebagai Pemimpin setelah Nabi SAW oleh Nabi sendiri, ini sebagai Wasiat. Hal ini tertera pada Hadist Al-Ghadir. Hadist yang menyatakan Pengankatan Ali tersebesar dari berbagai Jalur. Kumplit baik yang dimiliki Sunni, dalam Kitab Hadist Kutubu Sittah, apalagi jalur Hadist Kitab Syi’ah.
    # shohib Says: Your comment is awaiting moderation.
    May 28th, 2008 at 4:17 pm

    “Maka kalau bisa kita simpulkan bahwa syi’ah muncul karena konflik politik yang terjadi pada masa Ali, yang seiring dengan bergantinya zaman terpengaruh oleh kedua ajaran tersebut sehingga keyakinan syi’ah sekarang sudah bukan murni lagi ajaran Islam yang sebenarnya dan sudah melebar permasalahannya ke masalah keyakinan. Padahal pada masa awal syi’ah muncul hanya terbatas pada persoalan politik saja.”
    //—————————-
    Lantas ISLAM yang “murni ajaran Islam yang sebenarnya”, yang mana?? yang di anut oleh PERSIS gituh?? atau dianut idiologi WAHABISMEU??

  2. Islam yang murni adalah yang sesuai dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa alaa aalihi wa sallam dan para shahabatnya, yang kemudian disebut Al-Jama’ah.

    Mengenai hadits Al-Ghadir yang menjadi senjata orang syiah rafidhoh mengenai keberhakan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah, apa yang tercantum dalam kitab sunny tidak sama dengan buku-buku syiah, seperti Al-Kaafi, Anwar Nu’maniyah.

    Lagi pula apa gunanya kaum syiah memakai buku sunny sedangkan mereka mengkafirkan 99% shahabat Rasulullah? Apakah Ali bin Abi Thalib pernah mengajarkan hal itu? Bagaimana umat Islam akan bersatu dengan kaum yang mengkafirkan Ummul Mukminin, Aisyah radliyallahu ‘anha?

    Apalagi kalau kita mau meneliti otentitas sumber-sumber syi’ah sangat rentan dengan kedustaan dan kebohongan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang beriman.

    Orang Yahudi ditanya, siapa kaum terbaik? mereka menjawab, pengikut Nabi Musa alaihissalam
    Orang Nasrani ditanya, siapa kaum terbaik? Mereka menjawab, pengikut Isa alaihissalam
    Orang Syiah ditanya siapa Kaum Terburuk? Mereka menjawab, Shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa alaa aalihi wa sallam

    Laa hawla wa laa quwwata illa billah

  3. GHADIR KHUM
    ANTARA KEYAKINAN SYIAH DAN AHLUS SUNNAH

    Oleh Abu Salma al-Atsari

    Rasulullah yang mulia Shallallahu ‘alahi wa ‘ala Ali wa Salam pernah bersabda :

    من كنت مولاه فعلي مولاه, اللهمّ والى من واله وعادى من عاداه

    ”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka (aku angkat) Ali sebagai walinya, Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.”

    Dari hadits di atas, kaum Syi’ah mengklaim bahwa ’Ali-lah yang berhak atas wilayah (kekuasaan khilafah) setelah wafatnya Rasulullah yang mulia ’alaihi ash-Sholatu was Salam, benarkah demikian? Mari kita telusuri keabsahan hadits ini dan kesimpulannya…

    TAKHRIJ HADITS GHADIR KHUM

    من كنت مولاه فعلي مولاه, اللهمّ والى من واله وعادى من عاداه

    ”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka (aku angkat) Ali sebagai walinya, Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.”

    Hadits di atas warid dari banyak thuruq (jalur periwayatan) dari jama’ah Shahabat, seperti :

    Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘anhu.

    Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘anhu.

    Buraidah bin al-Hashib Radhiallahu ‘anhu.

    ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu.

    Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu.

    Al-Barra’ bin ‘Aazib Radhiallahu ‘anhu.

    Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu.

    ‘Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu.

    Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu.

    Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu.

    Tafshil (perincian) thuruqil hadits

    I) Hadits Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘anhu. Padanya 5 thuruq :

    Pertama : Dari Abi Thufail yang dikeluarkan oleh Nasa’i dalam Khoshoish ‘Ali hal 15, Hakim (III/109), Ahmad (I/118), Ibnu ‘Abi ‘Ashim (1365), Thabrani (hal. 4969-4970).

    Berkata al-Hakim : “Shahih atas syarat Syaikhaini.”

    Al-Albani berkata : “Dzahabi mendiamkannya, di sanadnya terdapat Habib, dan ia adalah Mudallis, dan ia ber’an’anah. Namun hadist ini tak bersendirian, karena ia memiliki penyerta.” Diantaranya adalah :

    Dari Fithr bin Khalifah yang dikeluarkan oleh Ahmad (IV/370), Ibnu Hibban dalam shahihnya 2205, Ibnu Abi ‘Ashim (1367,1368) dan Thabrani (4968).

    Albani berkata : “Shahih menurut syarat Bukhori”.

    Berkata al-Haitsami dalam Majmu’ (IX/104) : “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, dan rijalnya shahih kecuali Fithr bin Khalifah, ia adalah Tsiqah.”

    Dari Salamah bin Kuhail yang dikeluarkan oleh Turmudzi (II/298) dan ia berkata : “Hadits Hasan Shahih”.

    Al-Albani berkata : “Isnadnya Shahih atas syarat syaikhaini”

    Dari Harits bin Jubair dan ia adalah orang yang dha’if, dikeluarkan oleh Thabrani (4971)

    Kedua : Dari Maimun Abi Abdillah yang dikeluarkan Ahmad (IV/372) dan Thabrani (5092) dari jalan Abu Ubaid, dikeluarkan Nasa’ i (hal 16) dari jalan A’masy dan ‘Auf keduanya, dari Maimun tanpa lafadh “Allahumma waali…”.

    Berkata Maimun, “Menceritakan kepadaku sebagian kaum dari Zaid bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, Allahumma…dst”.

    Berkata Haitsami : “Diriwayatkan Ahmad dan Bazzar, pada sanadnya terdapat Maimun Abu Abdullah Al-Bishri, Ibnu Hibban mentsiqahkannya namun jama’ah (Muhaddits) mendhaifkannya”.

    Albani berkata : “Hakim menshahihkannya” (III/125).

    Ketiga : Dari Abu Sulaiman (Al-Mu’adzdzin) yang dikeluarkan oleh Ahmad (V/370).

    Abul Qasim Hibatullah Al-Baghdadi dalam bagian kedua ‘Al-Amaaliy’ (20/2), ia berkata : “Hadits hasan matannya shahih”.

    Berkata Haitsami (IX/107) : “Diriwayatkan Ahmad, pada sanadnya terdapat Abu Sulaiman, dan aku tak mengetahuinya kecuali (jika yang dimaksud) adalah Basyir bin Sulaiman, (jika benar ia), maka ia adalah orang yang tsiqah dan sisanya adalah perawi tsiqah.”

    Adapun Abu Israil adalah Ismail bin Khalifah, di dalam ‘At-Taqrib’ dinyatakan ia adalah ‘shaduq sedikit hapalannya’.

    Albani mengatakan : “Hadits ini hasan dengan syawahid.”

    Keempat : Dari Yahya bin Ju’dah yang dikeluarkan oleh Thabrani (4986) dan rijalnya tsiqat.

    Kelima : Dari ‘Athiyah Al-‘Aufiy yang dikeluarkan oleh Ahmad (IV/368) dan Thabrani (5068-5071), dan rijalnya tsiqat termasuk rijal Muslim kecuali ‘Athiyah, ia adalah dha’if.

    II) Hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, padanya terdapat 3 thuruq:

    Pertama : Dari Abdirrahman bin Sabith secara Marfu’ yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (121), berkata Al-Albani : “Isnadnya shaih”.

    Kedua : Dari Abdul Wahid bin Aiman, dari ayahnya yang dikeluarkan oleh Nasa’i (Khashaish hal 16), Isnadnya Shahih, Rijalnya Tsiqat.

    Ketiga : Dari Khaitsamah bin Abdirrahman yang dikeluarkan oleh Hakim (III/116) dari jalan Muslim Al-Mala`i, berkata Dzahabi dalam ‘Talkhish’ : “Hakim mendiamkan keshahihannya dan Muslim (al-Mala`i) adalah matruk”.

    III) Buraidah bin Al-Hashib, padanya terdapat 3 thuruq :

    Pertama : Dari Ibnu Abbas, dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan Hakim (III/110), Ahmad (V/347) dari jalan Abdul Malik bin Abi ‘Athiyah, ia berkata, mengabarkan pada kami Hakim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas.

    Albani berkata : “isnadnya shahih menurut syarat syaikhain”.

    Kedua : Dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, dikeluarkan oleh Nasa’i dan Ahmad (V/350,358,361).

    Albani berkata : “Isnad ini shohih menurut syarat Syaikhaini atau Muslim, jika Ibnu Buraidah yang dimaksud adalah Abdullah, maka ia termasuk rijalnya syaikhaini, jika yang dimaksud adalah Sulaiman maka ia termasuk rijalnya Muslim.”

    Dikeluarkan pula oleh Ibnu Hibban (2204).

    Ketiga : Dari Thawus dari Buraidah tanpa lafadh “Allahumma…”, dikeluarkan oleh Thabrani dalam ‘Ash-Shaghir’ no 171 dan ‘Al-Awsath’ (341) dari 2 jalan dari Abdurrazaq dengan 2 sanad dari Thawus dan rijalnya tsiqat.

    IV) Ali bin ‘Abi Thalib, padanya 9 thuruq :

    Pertama : Dari ‘Amr bin Sa’id, dikeluarkan oleh Nasa’i dari jalan Haani’ bin Ayyub dari Thawus (asalnya Thalhah) dari ‘Amr bin Sa’id (asalnya Sa’d).

    Albani mengatakan : “Hani’ sebagaimana dikatakan Ibnu Sa’d, padanya kelemahan, namun Ibnu Hibban menyebutnya dalam ‘Ats-Tsiqat’.”

    Kedua : Dari Zadzan bin Umar, dikeluarkan oleh Ahmad (I/87), Ibnu ‘Abi ‘Ashim (1372) dari jalan Abu Abdurrahman Al-Kindi.

    Albani berkata : “Al-Kindi aku tak mengetahuinya.”

    Haitsami berkata : “Diriwiyatkan Ahmad dan sanadnya terdapat rijal yang tak kukenal.”

    Ketiga dan Keempat : Dari Said bin Wahb dan Zaid bin Yutsi’, dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id ‘Al-Musnad’ (I/118) dan darinya Adh-Dhiyaa’ Al-Muqoodisi dalam Al-Mukhtarah (406) dari jalan Syarik dari Ibnu Ishaq dari keduanya dan dikeluarkan oleh Nasa’i (16), namun tanpa menyebutkan Sa’id bin Wahb dalam sanadnya.

    Albani berkata : “Syarik adalah Abdullah Al-Qadhi dan dia sedikit hafalannya, haditsnya jayyid jika disertai syawahid, dan telah disertai hadits Syu’bah oleh Nasa’i (16) dan Ahmad (V/366).”

    Kelima : Dari Syarik juga, dari Abu Ishaq, dari Amir, dengan tambahan, “Wan-shur man nashorohu wakhdzul man khodzalahu”. Dikeluarkan oleh Ibnu Hatim (III/1/232).

    Keenam : Dari Abdurrahman bin Abu Laila, tanpa tambahan, “Wanshur…”. Dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad (I/119) dengan jalan Yazid bin Abu Ziyad dan Samak bin ‘Ubaid bin Walid al-Abbasi.

    Albani berkata : “Hadits ini shohih dengan mengumpulkan 2 jalan darinya.”

    Ketujuh dan Kedelapan : Dari Abu Maryam dan orang-orang yang bermajlis dengan ‘Ali bin Abi Thalib, dikeluarkan oleh Abdullah (I/152) dari Nu’aim bi Hakim dan orang-orang yang bermajlis dengan Ali. Sanadnya laa ba’sa bihi dengan penyertanya. Abu Maryam adalah Majhul sebagaimana dalam at-Taqrib.

    Kesembilan : Dari Thalhah bin Musharrif, dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abi ‘Ashim (1373) dengan sanad yang dha’if, dan ia adalah Muhajir bin ‘Umairah, demikianlah dalam ‘al-Jarh wat Ta’dil’ (IV/1/261) dari riwayat ‘Adi bin Tsabit Al-Anshari darinya. Dan tidaklah disebutkan padanya jarh maupun ta’dil, demikian pula pada ‘Tsiqaat Ibnu Hibban’ (III/256).

    V) Abu Ayyub Al-Anshari, meriwayatkan padanya Riyah bin Al-Harits.

    Dikeluarkan oleh Ahmad (V/419) dan Thabrani (4052,4053) dari jalan Hinsy bin Al-Harits bin Laqith an-Nakha’I dari Riyah bin al-Harits.

    Albani berkata : “Sanadnyanya jayyid dan rijalnya tsiqat”.

    Haitsami berkata : “Diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, dan rijalnya Ahmad tsiqat.”

    VI) Al-Barra’ bin’Aazib, meriwayatkan padanya ‘Adi bin Tsabit.

    Dikeluarkan oleh Ahmad dan putranya dalam Zawaid-nya (IV/281) dan Ibnu Majah (116) secara ringkas dari jalan Ali bin Zaid dari ‘Adi bin Tsabit. Rijalnya Tsiqat dan semuanya rijalnya Muslim kecuali Ali bin Zaid dan ia adalah Ibnu Jud’an dan ia adalah Dha’if.

    VII) Ibnu ‘Abbas, meriwayatkan darinya ‘Amr bin Maimun secara Marfu’ tanpa tambahan.

    Dikeluarkan oleh Ahmad (I/330-331) dan Hakim (III/132-134), ia berkata : “Isnadnya shahih dan Dzahabi mensepakatinya”.

    VIII), IX) dan X) Anas bin Malik, Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah.

    Meriwayakan dari mereka ‘Amirah bin Sa’d. Dikeluarkan oleh Thabrani dan ‘ash-Shaghir’ (hal 33 no 112) dan dalam ‘al-awsath’ (no 2442) dari Ismail bin Amr, Mas’ar menerima dari Thalhah bin Mushrif dari ‘Amirah bin Sa’d, ia berkata, tidaklah diriwayatkan dari Mas’ar kecuali Isma’il.

    Albani berkata : “Ia adalah dha’if” karenannya Haitsami berkata (IX/108) setelah dengan cerdiknya beliau menjama’nya, “dalam isnadnya layyin”.

    Albani berkata : “Namun dikuatkan oleh thuruq lainnya dari Abu Hurairah dan Abu sa’id Al-Khudri, dan selain keduanya dari sahabat Nabi.”

    Adapun Hadits Abu Hurairoh, meriwayatkan darinya Ikrimah bin Ibrahim al-‘Azdiy, menceritakan padaku Idris bin Yazid al-‘Awdiy dari ayahnya. Dikeluarkan oleh Thabrani dalam al-Awsath (1105) dan ia berkata, tidak diriwayatkannya dari Idris kecuali Ikrimah.

    Albani berkata : “Ia adalah dha’if”.

    Adapun Hadits Abu Sa’id, meriwayatkan padanya Hafsh bin Rasyid, menerima Fudhail bin Marzuq dari ‘Utbah dari ayahnya, dikeluarkan oleh Thabrani dalam al-Awsath (8599), dan ia berkata : “Tidak meriwayatkannya dari Fudhail melainkan Hafsh bin Rasyid”.

    Albani berkata : “Hadits ini memiliki banyak thuruq” dan beliau mengumpulkan thuruqul haditsnya dan mentashhihnya.

    Beliau berkata lagi : “Jika kalian telah mengetahui hal ini, sesungguhnya saya terdorong untuk menjelaskan perkataan atas hadits ini dan menerangkan keshahihannya, dikarenakan aku melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dimana beliau telah mendha’ifkan bagian pertama dari hadits ini dan adapun bagian kedua beliau menuduhnya dusta (lihat ‘Majmu’ Fatawa’ (IV/417-418)). Hal ini termasuk diantara sikap berlebih-lebihannya beliau, dan menurut asumsiku/perkiraanku hal ini disebabkan karena ketergesa-gesaan beliau dalam mendha’ifkan hadits ini sebelum menjama’ thuruqnya dan meneliti secara mendalam terhadapnya. Wallahul Musta’an!”

    Kesimpulan : Hadits di atas shahih setelah pengumpulan thuruqul hadits­-nya.

    TANBIH (PERINGATAN PENTING) :

    Imam Albani berkata : “Adapun yang disebutkan oleh Syi’ah dalam hadits ini dengan tambahan lafazh yang lain, bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya ia adalah khalifahku sepeninggalku nanti”, maka lafazh (tambahan) ini tidak shahih dari segala penjuru/sisi, bahkan padanya memiliki kebathilan yang banyak, yang menunjukkan kejadian/peristiwa tersebut di atas kedustaan.

    Seandainya memang benar Nabi bersabda demikian, pastilah akan terjadi, karena tidaklah beliau mengucapkan sesuatu melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah dan Allah tak pernah menyelisihi perkataannya/janjinya.”

    Dan telah dikeluarkan hadits-hadits dusta ini dalam kitab lainnya milik Imam Albani, yakni ‘adh-Dha’ifah’ (4923,4932).

    Lucunya, dengan hadits dusta dan munkar ini, syi’ah mengklaim bahwa ‘Ali adalah khalifah setelah Rasulullah, sedangkan Abu Bakar dan Umar mengkhianati Ali dan mengkhianati sabda Rasulullah dengan merampas hak wilayah Ali, maka sungguh mereka (syi’ah) itu telah melakukan:

    Kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya.

    Kedustaan atas nama Ali dan sahabat-sahabatnya.

    Mengingkari firman Allah subhanahu wa Ta’ala bahwa tidaklah Muhammad itu berkata kecuali dari wahyu yang diwahyukan.

    Mendustakan kebenaran sabda Nabi.

    Menuduh Allah Ta’ala tidak amanah dengan perkataan dan janji-Nya.

    Menuduh Rasulullah berdusta karena sabdanya tidak terlaksana.

    Menuduh, menfitnah dan mencela sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia.

    Mendustakan hadits-hadist Nabawi yang shohih.

    Mengada-adakan sesuatu di dalam Islam yang tak pernah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Mengkafirkan sahabat Rasulullah, melaknat mereka dan mengkafirkan ahlus sunnah wal jama’ah.

    Maka wajib atas kita, baro’ terhadap kesesatan dan kekufuran mereka (syi’ah) atas tuduhan dan pengada-adaan yang mereka lakukan di dalam dien ini.

    Allahumman-shur man nashoro dien wakh-dzul man khadzalahu.!!!

    Ya Alloh tolonglah hamba-Mu yang membela agama-Mu dan hinakanlah mereka yang menghinakan agama-Mu

    (diringkas dari Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah IV/330-334/1750

    http://www.abusalma.wordpress.com

  4. buat (5).

    agama islam yang benar ialah selalu berpegang teguh kepada AL-qur’an dan AS-Sunnah…
    itulah agama islam yang benar…
    kalau NU saya kurang paham….
    kalau syi’ah adalah..
    adalah satu golongan yang membolehkan nikah mut’ah…
    disitulah ciri2 mereka….

  5. Saya akan membuktikan kebenaran syi’ah dengan bermubahalah, yaitu Alloh yang menjadi hakimnya.

    Saya bermubahalah , “Jika syi’ah sesat, Alloh akan mencabut nyawa saya saat ini juga.”

    • apakah anda membenarkan nikah mutah yg telah dilarang oleh Rasulullah?
      sadarkah anda bahwa segala sesuatu yg ALLAH SWT turunkan dan Rasulullah SAW haditskan adalah yg terbaik??

  6. saya orang ISLAM …. bukan syiah … bukan sunni … ngapain sih mesti seperti itu …. sadar dong … masalah kita umat Islam jauh lebih besar daripada memperdebatkan ini ….

    • karena anda akan di pertanyakan oleh Allah SWT pada saatnya nanti apakah mengikuti yg sudah jelas2 terbaik atau hanya menjalankan apa yg menurut akal anda baik padahal ALLAH SWT dan Rasulullah SAW melaknatnya.

    • ..dan karena seandainya Anda cari tahu lebih dalam lagi tentang agama Anda, yakni Islam, yang saya juga sangat mencintainya, kemudian Anda juga berusaha cari tahu tentang apa itu syiah, Anda akan menjadi tahu sehingga kemudian akan berkata bahwa perdebatan ini seharusnya bukan antara “Sunni dengan Syiah”, melainkan antara Islam dengan Syiah. Karena Syiah sudah sangat menyimpang dan menyimpangkan ajaran Islam.

  7. ”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka (aku angkat) Ali sebagai walinya, Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.”

    ========>”Kesimpulan : Hadits di atas shahih setelah pengumpulan thuruqul hadits -nya.”

    Dari hadits di atas, kaum Syi’ah mengklaim bahwa ’Ali-lah yang berhak atas wilayah (khalifah)====> menurut kaum “sunni” apa makna dari hadist tersebut? bukannya tanpa tambahan apapun hadist tersebut bermakna bahwa jika menganggap Rosul= wali maka imam Ali- wali juga?

    dan bagian hadist “Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.” berarti Allah SWT mendukung Ali dan memusuhi MUSUHnya Ali? terus sejarah perang jamal?shiffin? bisa dijelaskan gak diperang tersebut Allah SWT berada di barisan siapa? barisan Khalifah Ali kah atau di musuhnya? mohon penjelasan kepada saya yang awam ini. Af1

  8. Berlanjut dari semua itu setelah imam ali dan mua’wiah meninggal perseteruan tersebut dilanjutkan oleh ibnu Ziyad imam Husein dan berhujung pada pembantaian pada imam Husein dan kerabatnya
    1. mengapa hal itu bisa terjadi bukankah ima Husein adalah ahlil baitnya rasul dan rasul sangat mencintai mereka, rasul bersabda
    “Ya Allah aku mencintai Hasan dan Husein. Ya Allah cintailah mereka”.

    Yang menjadi persoalan mengapa Ziyad begitu meinginkan kematian terhadap husein padahal husein adalah kerabat Nabi bukankah Nabi sangat menyayangi dan mencintai keluarganya dan barang siapa yang mencintai Nabi maka cintailah kerabatnya sebagai mana yang di panjatkan ketika berdoa seudah azan. memerangi kerabat Nabi, bukankah sama halnya sama halnya dengan memerangi Nabi?

    2.bukankah kita perlu menelaah lebih jauh hadis-hadis yang diriwatkan oleh Abu Huraira disebabkan Hurairah sendiri baru memeluk islam dan datang di madinah pada tahun ke 9 hijriah. mengapa abu hurairah temasuk perawih hadis yang tgerbanyak padahal dia hidup bersama rasul tidak terlalu lama, dibandingkan dngan sahabat-sahabat lainya. dan hadis-hadisnya banyak dipergunakan oleh kalangan ahlul sunah wal jama’ah sebagai dasar untuk syariat islam?

    balas

    • ini ada sedikit kisah hidup dari Abu Huraira

      Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu

      Shahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu termasuk salah seorang dari mereka. Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan. Abu Hurairah radhiyallahu anhu mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi meng- hafal dan menyimpan. Didengarya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya.

      Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka memperalat nama Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan menyalah- gunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata: — “Berkata Abu Hurairah… “

      Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.’

      Di sana Abu Hurairah radhiyallahu anhu berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.

      Setiap anda mendengar muballigh atau penceramah atau khatib Jum’at mengatakan kalimat yang mengesankan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata ia, telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ……” Saya katakan ketika andamendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fiqih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka diketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi, antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya…..Karena itulah perbendaharaannya yang menakjubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi·Shalallahu ‘alaihi wasallam. jarang diperoleh bandingannya … Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah radhiyallahu anhu merupakan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabatnya dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. beserta shahabat-shahabatnya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut.

      Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan.

      Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan …. ! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa …. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata: –

      “Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin …. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku ! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian …. Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah radhiyallahu anhu ikutan ummat…..!”

      Ia datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan …. Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam; dan berbai’at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur …. Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran… !’

      Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah radhiyallahu anhu mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

      Pahlawan perang dikalangan shahabat, banyak…. Ahli fiqih, juru da’wah dan para guru juga tidak sedikit ….

      Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya,jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementingkan tulis menulis. Dan tulis menulis itu belum Lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.

      Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajnya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf, tak tahu tulis baca, padahal menurut ukuran masa itu, mereka memiIiki kecerdasan dan kemampuan besar….

      Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, baganana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.

      Sebenamya Abu Hurairah radhiyallahu anhu bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempata atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus….

      Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya .. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul”, agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.

      Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian ….

      Abu Hurairah radhiyallahu anhu bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagai- mana telah kita utarakan, ia adalahseorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan …. Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah hengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap….

      Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul’Ala (wafat), Abu Hurairah radhiyallahu anhu terus-menerus menyampaikan Hadits hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengarya dan diendapkannya dalam ingatannya ….

      Abu Hurairah radhiyallahu anhu telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari putra shahabatnya, maka katanya: “Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam…. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan hadits-hadits itu..? Ketahuilah, bahwa shahabat-sahahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat- shahabatku orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan.

      Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau: “Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarya dari padaku !”

      Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya … ! Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat)!”

      Demikianlah Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

      · Pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.

      · Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat.

      · Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya!

      Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya … hingga pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar berkata kepadanya: “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka akan kukembalikan kau ke tanah Daus… !” (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

      Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah radhiyallahu anhu, hanyalah sebagai pengukuhan dari.suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran….

      Al-quran adalah kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya dan terlalu banyaknya’ cerita tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam., saat sedang dihimpunnya Al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tidak berguna dan tak perlu terjadi

      Oleh karena ini, Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah…”. Dan katanya lagi: “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”

      Dan sewaktu beliau mngutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak ia berpesan,kepadanya: — ‘Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al-quran seperti suara lebah. maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda binbangkan merek adengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini….!”

      Al-qur’an sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya….. Adapun hadits, maka umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan merugikan Agama Islam…..

      Abu Hurairah radhiyallahu anhu menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.

      Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pemah didengar dan ditangkapnya tetap saja disampaikan dan dikatakannya….

      Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah radhiyallahu anhu ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam. dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka’ab al-ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

      Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasusullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali dan dimintanya membacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu walau agak sepatah kata pun.

      Ia berkata tentang dirinya: — “Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak ..; “. Dan Imam Syafi’i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah radhiyallahu anhu: — “la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya”. Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: –”Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah”.

      Abu Hurairah termasuk orang ahli ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya… ” Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah radhiyallahu anhu, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!

      Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk menyertai Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya dan ditekannnya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid rambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian sahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan .. .!

      Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Huraiiah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam …. Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya…

      Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul….Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut:

      Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kataku: –”Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk islam, Ajaranku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja, memintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri Anda. Karenanya mohon anda du’akan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam….”

      Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, berdo’a: “Ya Alloh tunjukkilah ibu Abu Hurairah!”

      Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang du’a Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran hunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: “Hai Abu Hurairah, tunggulah ditempatmu itu… !”

      Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan membalutkan selendangnya sambil mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh.

      Aku pun segera berlari menemui Rasulullah. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: “Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabullkan du’a anda …, Allah telah menunjuki ibuku ke dalam islam … “. Kemudian kataku pula: “Ya Rasulallah, mohon anda du’akan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu’min, baik laki-laki maupun perempuan!” Maka Rasul berdu’a: “Ya Allah, mohon engkau jadikan hambu-Mu ini beserta ibunya dikasihi oleh sekalian orang-orang Mumin, laki-laki dan perempuan …!”

      Abu Hurairah radhiyallahu anhu hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid … tak pernah ia ketinggalan dalam perang, dan tidak pula dari ibadat. Di zaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain, sedang Umar sebagaimana kita ketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apabila ia mengangkat seseorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mempunyai dua pasang pakaian juga…… malah lebih utama kalau ia hanya memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang dibolehkan syara’! Suatu dunia lain …. Yang diisi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumkan… Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka iapun dipanggilnya datang ke Madinah……Dan mari kita dengarkan Abu Hurairah, memaparkan soal jawab ketus yang berlangsung antaranya dengan Amirul Mu’minin Umar: — Kata Umar: – “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?’· Jawabku;. “Aku bukan musuh Allah dan tidak pula musuh kitab-Nya ._.hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah . . !’·- Dari mana,kau peroleh sepuluh ribu itu? — Kuda kepunyaanku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan …. Kembalikan harta itu ke perbendaharaan negara (baitul maal)… !

      Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdu’a: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mu’minin

      Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya: — “Kenapa, apa sebabnya?” Jawab Abu Hurairah: “Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul… !”

      Kemudian katanya lagi: “Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih … !”

      Pada suatu hari sangatlah rindu Abu Hurairah radhiyallahu anhu hendak bertemu dengan Allah …. Selagi orang-orang yang mengunjunginya mendu’akannya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang-ulang memohan kepada Allah dengan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu, Semoga Engkau pun demikian … !” Dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 Hijriyah ia pun berpulang ke rahmatullah.

      Di sekeliling orang-orang shaleh penghuni pandam pekuburan Baqi’, di tempat yang beroleh berkah, di sanalah jasadnya dibaringkan … ! Dan sementara orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari pekuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hentinya membaca Hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasul yang mulia……..

      Salah seorang di antara mereka yang baru masuk islam bertanya kepada temannya: “Kenapa syekh kita yang telah berpulang ini diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)? Tentu temannya yang telah mengetahui akan menjawabnya: ‘Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar “Bapak Kucing”, moga-moga Allah ridla kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah.

  9. saya mau bertanya dan mohon untuk jawabannya..
    saat ini saya yakin bahwa di Indonesia semakin banyak penganut syiah,, seperti semakin banyaknya org2 yg beramai2 berzikir bersama padahal Rasulullah ,para sahabat,tabiin dan tabiut tabiin tidak pernah mengerjakannya, pengadaan maulud yg semakin marak yg mana rasulullah melarangnya, para habib yg semakin banyak muncul,,

    yg saya ingin tanyakan selain para habaib, ustad siapa saja yg menganut syiah berkedok sunni??

  10. Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Sy seorang duafa ilmu. Tulisan tentang syiah ini menarik sekali. Sy bnyak belajar.

    Tp, mohon untuk tidak cepat menghujat? Karena kalau Anda bisa menghujat atau mengkrtitisi syiah yang msh saudara muslim kita, mohon lakukan hal yg sama terhadap sunni yg msh melakukan ajaran2 berbau animisme yg msh banyak di Indonesia ini?
    Mohon kritisi, hukumi, dan hujat juga negara2 di jazirah arab yg msh menggunakan sistem monarki yg kepemimpinan negaranya berdasarkan keturunan raja… Contoh paling besar adalah Arab Saudi, UEA, Kuwait, dll…

    Jangan sampai karena mereka suka memberi beasiswa, nalar dan pikiran kritis kita jadi terbungkam.

    Saya hanya khawatir kita hanya buang-buang waktu untuk meributkan masalah yg sifatnya cabang saja bukan batangnya, sementara ada pihak lain (Illuminati, Luciferian yg berkiblat pada Dajjalisme) ‘secara terorganisir berusaha menguasai dunia’ dan mengadu domba sesama muslim agar tujuan mereka segera tercapai (New World Order tanpa agama dan berkiblat pada Lucifer/Dajjal).

    Terima kasih.

    Wassalam.

    • seandainya Anda cari tahu lebih dalam lagi tentang agama Anda, yakni Islam, yang saya juga sangat mencintainya, kemudian Anda juga berusaha cari tahu tentang apa itu Syiah, Anda akan menjadi tahu sehingga kemudian akan berkata bahwa perdebatan ini seharusnya bukan antara “Sunni dengan Syiah”, melainkan antara Islam dengan Syiah. Karena Syiah sudah sangat menyimpang dan menyimpangkan ajaran Islam. Ajaran dan doktrin Syiah sudah bukan lagi cabang dari Islam. Kelak Anda akan menyadari bahwa penghancuran ajaran Islam yang paling membahayakan adalah dari Syiah ini.

  11. assalaamu alaikum
    menurut saya yang masih dangkal agamanya, sangat menyayangkan sekali umat muslim terpecah belah…ini semua karena oknum2 brengsek pasca meninggalnya nabi muhammad salallahu alaihi wasallam yang mempolitisir agama demi kepentingan mereka atau juga karena ketidak pahaman oknum2 tersebut…
    gunakan saja logika : jaman nabi tidak ada yang namanya islam syia’h, suni dll….mereka muncul setelah nabi meninggal, artinya itu buatan/karangan oknum2 (syia’h, suni/muhammadiyah,Nu itu sebenarnya hanya sebuah organisasi/komunitas)
    jadi bagi saya islam yang sebenarnya adalah : orang muslim yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan perintah allah SWT dan petunjuk/sunah nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam (ahlusunah waljamaah, bukan suni/syia’ah/nu/muhammadiyah)

    ente2 pade yang sok berdebat dan ngaku paling bener udah belum beriman dan BERTAQWA???????? lakukan yang menurut anda benar jangan saling mendebat yang kebablasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s