Revitalisasi Peran Dakwah Dan Tarbiyyah

Revitalisasi Peran Dakwah dan Tarbiyah

Oleh: Risyan Moehamad Taufik*

Islam adalah agama yang universal. Agama yang berisikan ajaran mengenai pola kehidupan manusia baik dalam tataran fungsi duniawi maupun ukhrawi. Dalam, persfektif Islam, tidak ada dikhotomi antara fungsi kehidupan dunia dan akhirat. Keduanya memiliki dimensi ritual yang sama. Namun dalam perkembangan selanjutnya, agama Islam diletakkan secara parsial yang terbagi menjadi kegiatan ritual dan non ritual. Ibadah yang memiliki hubungan ukhrawi dimaksud sebagai kegiatan ritual dan memilki dimensi transandental. Bahkan biasanya kesholehan diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan.

Pergeseran pemahaman ini akan berdampak buruk pada masyarakat. Jika masyarakat adalah kumpulan orang banyak yang berbudaya, maka pergeseran pemahaman ini akan memarjinalkan budaya dalam tubuh masyarakat dari dimensi Islam. Islam hanya akan ada di masjid-masjid, majelis-majelis keilmuan atau hanya ada dalam forum-forum resmi saja. Padahal secara normatif, Islam adalah aturan kehidupan yang menyeluruh. Islam bisa ada di pasar, terminal atau di tempat lainnya. Seolah-olah masyarakat merasa tabu jika kegiatan sosial dikaitkan dengan dimensi keislaman. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw, bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing.

Di Indonesia pun kecenderungan ini nampak dan terlihat. Sepertinya hal tersebut telah menjadi satu masalah yang kompleks dan akut. Sadar atau tidak sadar, budaya ketimuran Indonesia sedikit demi sedikit luntur. Sedangkan budaya timur Indonesia adalah cerminan budaya Islam yang telah ditanam sejak lama oleh para muballigh Islam terdahulu. Namun, tidak dinamakan masalah jika tidak ada solusinya. Jika dahulu para muballigh Islam telah sukses menanamkan Islam, padahal kondisi masyarakat Indonesia saat itu lebih jahiliyah dan lebih jauh dari Islam, maka sejatinya kita pun akan mampu mengembalikannya kembali kepada kondisi dan suasana islami. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai kader umat. Apa yang harus kita persiapkan agar bisa menyelesaikan masalah yang ada (?).

Melihat fenomena, inti dari masalah yang ada adalah krisis tuntunan dan bimbingan secara aktual pada khalayak masyarakat. Masyarakat secara tidak langsung diberikan tuntunan yang memarjinalkan peran Islam. Tuntunan yang membawa kepada suatu budaya baru dan melemahkan budaya Islam. Hal yang paling ketara adalah media yang memberikan tuntunan buruk pada masyarakat. Media-media yang ada sangat tidak mendidik. Alih-alih media yang ada membawa masyarakat pada jurang krisis multi dimensional. Bahkan bisa meluas hingga pembentukan karakter yang jauh dari dimensi religi. Karena menurut hemat penulis budaya adalah karakter masyarakat yang telah terbangun dan menjadi kebiasaan.

Jika masalahnya adalah budaya atau karakter bangsa, maka kita harus mengganti karakter menjadi lebih baik. Maksudnya, kita harus bisa menghancurkan karakter non-Islam dan membangun karekater berdimensi islami. Salah satu usahanya adalah melalui pengembangan dakwah dan tarbiyah. Memang dakwah dan tarbiyah bukanlah segalanya, tetapi segalanya bisa bermula dari dakwah dan tarbiyah ini. Seperti yang pernah disampaikan oleh KH. Mustofa Bisri saat dialog publik di Mesir tahun 2004 lalu, bahwa yang dibutuhkan bangsa ini adalah reformasi mental seluruh rakyatnya.

Sisi urgensi tarbiyah atau pendidikan dalam masyarakat adalah terciptanya karakter bangsa yang sesuai dengan dimensi keislaman. Pendidikan adalah sebuah pembinaan bukan hanya sekedar transfer ilmu sehingga prosesnya memerlukan waktu lama dan metode yang jitu. Melalui pendidikan akan mampu membangun kembali pemahaman Islam yang benar. Pemahaman bahwa kehidupan ini adalah bagian integral sebuah ritual yang tak pernah lepas dari dimensi religi (Islam). Melalui pendidikan juga akan mampu mengubah budaya bangsa dan menatanya kembali sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Sedangkan dakwah adalah usaha untuk mengajak masyarakat kepada syariat juga mengisi kekosongan ruhani mereka. Konsep dan strategi dakwah adalah pemecahan masalah. Kegiatan dakwah adalah usaha pemecahan masalah atau penyelesaian persoalan yang ada dalam masyarakat. Maka seorang da’i dituntut untuk bisa memberikan solusi bagi masyarakat. Sehingga akan tumbuh kepercayaan masyarakat bahwa ternyata Islam mampu membawa pada kehidupan yang lebih ideal.

Tuntutan mahasiswa adalah berfikir dan bertindak demi tanggung jawab sosialnya. Dan sebagai kader umat juga kader bangsa, tuntutan ini mesti dijawab dengan tindakan nyata. Segala usaha harus kita lakukan untuk bisa memahami masalah yang ada dewasa ini. Indonesia memiliki beragam masalah, kita dituntut untuk bisa memberikan solusi bukan malah menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Terlebih sebagai mahasiswa, umumya harapan masyarakat terhadap mahasiswa sama, yaitu bagaimana seorang mahasiswa mampu membawa sebuah pencerahan dan solusi untuk umat. Tanggungan dakwah dan tarbiyah ada di pundak kita. Kelak kita dituntut menjadi da’i dan murobbi. Maka, apapun kita sejatinya selalu bervisi kepada pengembangan dakwah dan tarbiyah. Apapun posisi kita, seorang organisatoris, cerpenis, musisi, politisi, entrepreneur atau apa saja semuanya harus bervisi pada pengembangan dakwah dan tarbiyah. Karena jika dakwah dan tarbiyah dilakukan dalam berbagai segi dan aspek kehidupan akan lebih mempermudah terwujudnya kondisi masyarakat berdimensi Islam (masyarakat madani).

Kita harus teridentifikasi sebagai mujahid yang bersungguh-sungguh dengan tulus ikhlas. Untuk saat ini kita perlu men-tajdid niat kita mengembalikannya kepada tujuan mulia. Modal utama adalah ilmu. Wawasan yang luas akan memberikan pandangan arif bagaimana seharusnya bertindak. Masalah yang ada memerlukan penyelesaian berdasarkan ilmu. Maka, perkayalah diri dengan ilmu dan wawasan. Sehingga kelak menjadi apa yang disebut khairunnas man anfa’ahum linnas.

Untuk menjadi da’i dan murabbi yang baik selain harus mengetahui metoda atau manhaj yang tepat, integritas diri pun mesti diperhatikan. Dengan integritas diri, kita bisa menjadi tauladan yang baik. Segala ilmu yang didapat harus terefleksikan dalam tingkah laku. Ilmu apapun yang telah kita ketahui harus menjadi diri kita, bukan hanya sekedar ilmu tanpa amal. Sehingga kita tidak tergolong ke dalam apa yang termaktub dalam surat As-Shaf ayat 2 dan 3. “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. Wallahu a’lam bishowab


* Alumnus Mu’allimin Persis Tarogong Garut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s