Ahmadiyyah & Dekonstruksi Agama

Ahmadiyyah dan Dekonstruksi Agama

Oleh Arif Rahman Hakim*

Tidak ayal lagi, ketika keyakinan sebuah bangsa berdialektika dengan keyakinan bangsa pendatang yang dianggap baru, maka akan melahirkan tiga sikap sebagai respon. Menerima, menolak, atau mengasimilasi kedua keyakinan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh kaum Syu’ubiyyah (bangsa Persia yang masuk Islam di zaman pemerintahan Dinasti Abbasiyyah), walaupun mereka telah menganut agama Islam tetapi mereka tidak meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka (yang di antaranya mempercayai bahwa Kisra itu adalah titisan Tuhan yang tidak akan pernah salah). Bukan itu saja, mereka pun berusaha untuk menyebarkan paham mereka itu dengan menyebarkan hadits-hadits palsu di kalangan umat Islam ketika itu. Terlepas dari motif mereka dalam mesinkretisasi ajaran Islam dan Majusi, apakah hanya sekedar menganut paham pluralisme atau untuk menghancurkan umat Islam sebagai balas dendam kekalahan mereka? Yang jelas itu adalah sebagai contoh respon sikap dari sebuah bangsa ketika keyakinan yang mereka anut bergesekan dengan keyakinan pendatang.

Seperti itu juga yang terjadi di India, ketika masyarakat India yang telah menganut agama paganisme Hindu dan Budha berdialektika dengan ajaran Islam yang masuk melalui ekspansi Islam di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Al-Ghaznawi. Ada yang menerimanya dengan masuk Islam, ada yang menolak karena toh Islam memberikan toleransi yang seluas-luasnya dalam beragama, dan ada pula yang mesinkretisasi ajaran Islam dengan Hindu sehingga menjadi ajaran baru. Seperti aliran Sikh contohnya, yang didirikan oleh Karunanak pada abad ke-15. Ia menggabungkan ajaran Tauhid dari Islam dan ajaran Hindu (yang di antaranya ialah keyakinan mengenai reinkarnasi dan pantheisme). Dan di abad ke-19 sinkretisasi ajaran Islam dan Hindu ini masih berlanjut sebagaimana yang dilakukan oleh Tanak, karena kesamaan ajaran tersebut banyak di antara pemeluk aliran Sikh yang memeluk agama baru ini.

Adalah Ahmadiyyah, sebuah aliran baru yang muncul pada abad ke-19 ini lahir di tengah-tengah masyarakat India yang mempunyai karakter beragama sinkretisme. Sehingga bisa dikatakan bahwa muculnya aliran ini sebagai akibat dari sinkretisme agama. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Târikh Al-Madzâhib Al-Ismlâmiyyah berpendapat bahwa aliran Ahmadiyyah ini merupakan sinkretisasi ajaran Islam dengan Kristen yang dibawa oleh Kolonial Inggris ketika menjajah India yang dimulai pada tahun 1870. Sebagai buktinya adalah setelah Mirza Gulam Ahmad—pendiri Ahmadiyyah—memproklamirkan dirinya sebagai seorang Mesias yang dirasuki roh Isa as., ia mengaku bahwa Tuhan (Lâhût) telah menitis ke dalam dirinya. Dan keyakinan seperti ini adalah ajaran Kristen yang saat itu masuk ke India melalu tangan kolonial Inggris.

Namun ada teori lain yang menambahkan teori di atas bahwa lahirnya Ahmadiyyah bukanlah hanya dikarenakan karakter beragama masyarakat India saja (sinkretisme agama), tetapi lahirnya Ahmadiyyah juga merupakan rekayasa kolonial Inggris untuk meredam gerakan perlawanan dari bangsa India—khususnya umat Islam dengan ajaran jihadnya. Sebagai buktinya adalah sebelum Inggris datang untuk menguasai India, mereka terlebih dahulu mengirimkan para peneliti sosial dan misionarisnya pada tahun 1869 ke India. Tujuannya untuk mempelajari keadaan sosial masyarakat India ketika itu. Hasil penelitian mereka menyatakan bahwa sebagian besar para pemeluk Islam di India sangat menaati para pemimpin dan pembesarnya dengan begitu fanatik. Oleh karena itu seandainya ada seseorang yang mengaku menjadi nabi pasti dengan mudah akan diikuti dan itu tentu akan menjadi alat yang mudah disetir oleh Inggris nantinya dalam menguasai India.

Berkaitan dengan gerakan agama dan kolonialisme Eropa, Aljazair (1830) bisa dijadikan contoh tersebut. Ketika kolonial Perancis menyadari sulitnya meredam gerakan perlawanan umat Islam Aljazair, mereka menggunakan dekonstruksi agama (baca: menggunakan bahasa agama untuk menghapus pemahaman agama yang benar) melalui pemikiran-pemikiran keagamaan yang diusung para pemikir ketika itu untuk menghancurkan kekuatan umat Islam dari dalam. Dengan cara itu kolonial Perancis berhasil memecah belah kekutan umat.

Rupanya Inggris pun ingin melakukan hal yang sama di India. Ketika mereka menyadari karakter beragama masyarakat India yang seperti itu (sinkretisme agama), mereka mempolitisirnya dengan merangkul orang-orang yang mempunyai pemahaman seperti itu. Mirza Gulam Ahmad—yang pada mulanya mengaku sebagai titisan Nabi Isa as. kemudian mengaku bahwa Tuhan menitis ke dalam dirinya seperti yang dipercayai umat kristiani (Tuhan menitis pada diri Yesus/Isa as.) dan akhirnya ia mengaku sebagai seorang nabi yang membawa syariat baru untuk melengkapi dan memperbarui syari’at lama (Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw.)—, dirangkul oleh Inggris dan diberikan kedudukan yang tinggi agar mau bekerja untuk kepentingan Inggris. Sehingga bisa terlihat dari dakwah yang diserukannya kepada masyarakat muslim India dengan tujuan untuk meredam perlawanan umat Islam India terhadap penjajahan Inggris dan tentu saja dakwahnya tersebut sangat menguntungkan kolonial Inggris. Salah satu dakwahnya adalah dengan meniadakan kewajiban jihad ketika harta dan kehormatan umat telah terjaga oleh yang berkuasa saat itu walau kolonial Inggris sekali pun. Dengan kata lain, umat Islam tidak boleh melawan Inggris yang berniat baik hendak menjaga ketentraman dan keamanan umat Islam.

Akhirnya dekonstruksi agama menjadi alat kolonial Eropa untuk mencapai tujuannya dalam menguasai negeri-negeri timur yang notabene mayoritas penduduknya beragamakan Islam. Ahmadiyyah hanyalah menjadi salah satu contoh dekonstruksi agama yang mereka lakukan untuk membodohkan dan memecah belah kesatuan umat Islam India. Dan sayangnya alat yang digunakan kolonial Inggris (baca: Ahmadiyyah) untuk mendekonstruksi keyakinan umat Islam India ini malah menjadi keyakinan yang dianggap benar oleh sebagian saudara kita—di Indonesia khususnya. Ironi sekali memang, ternyata usaha kolonial Inggris untuk membodohkan umat Islam India tidak hanya berhasil untuk kawasan India dan pada waktu itu saja, tetapi hasilnya terus merebak dan merambah daerah-daerah umat Islam (khususnya Indonesia) dan sampai saat sekarang. Wallahu a’lam

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana al-Azhar Kairo, Jurusan Akidah dan Filsafat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s