Jalan Masih Panjang

Jalan Masih Panjang

Membina umat manusia adalah sebuah kewajiban utama bagi mereka yang mempelajari Islam secara khusus, dan bagi setiap muslim umumnya. Tujuannya jelas, mengalihkan manusia dari peribadatan terhadap hamba menjadi peribadatan terhadap Tuhan para hamba. Al-Quran dan Al-Hadits telah demikian jelas bahwa semua makhluk yang diciptakan mempunyai kewajiban untuk mengagungkan dan mensucikan Allah pada setiap kesempatan. Tak terkecuali gunung dan batu, semuanya bertasbih dan bertahmid, hanya kita tidak faham tasbih dan tahmid mereka. Bahkan seekor Hudhud pun heran melihat kaum yang menyembah matahari.

Jika kita melihat kondisi umat manusia sekarang ini, maka kita akan segera mengambil kesimpulan bahwa mereka memerlukan pembinaan. Siapapun tak akan dapat mengingkari. Hasilnya, semua fihak berlomba untuk membina manusia sesuai cara dan kepercayaan masing-masing. Sayangnya, umat Islam sekarang ini masih banyak yang belum sadar akan kompetisi pembinaan umat ini.

Lihatlah, bagaimana gencarnya umat Nasrani mengumpulkan ‘domba-domba yang sesat’. Berbagai cara ditempuh, agar domba yang sesat ini masuk dalam gembala mereka. Mereka tidak segan mengorbankan harta dan tenaga untuk mencapai tujuan. Demikian juga dengan golongan-golongan yang sesat, berusaha untuk menyebarkan kesesatan mereka kepada mereka yang belum sesat. Adapun kita, menolong sesama muslim pun terkadang masih enggan. Kalaupun membantu, maka bantuan itu sangat minim atau banyak tapi tak lepas dari riya’, kecuali mereka yang mendapat hidayah Allah.

Akibat dari diamnya umat Islam dan atas ketidakpedulian mereka terhadap kondisi umat manusia adalah maraknya kemunkaran serta berkuasanya kezhaliman dan kesesatan. Tanyalah kepada diri kita, kenapa di Indonesia sampai terjadi kontes Miss Waria? Bukankah kaum seperti itu (baca: kaum Nabi Luth as) yang menyebabkan sebuah sebuah kampung dihujani batu dan dibalikkan sehingga mereka terkubur hidup-hidup sebelum menerima adzab selanjutnya? Pada abad yang lalu, para pengikut nabi palsu (baca: Ahmadiyah Qadiani) berani menggugat Majalah Dewan Dakwah Islamiyah karena covernya yang menunjukkan Ghulam Ahmad dililit ular. Tahun ini, mereka berani mengajukan gugatan serupa karena merasa diserang oleh sekolompok Islam dengan dukungan berbagai LSM dan organisasi yang berlabel ‘Islam’. Padahal apa bedanya antara dia dengan Musailamah Al-Kadzzab yang wajib diperangi kecuali nama, tempat dan waktu belaka?

Di lain tempat, sekelompok yang mengakui dirinya sebagai pecinta Ahlul Bait, bekerja sama dengan Bandit Dunia, membantai golongan yang memegang Sunnah Rasulullah saw. Daerahnya dihancurkan, setiap yang bergerak ditembak, yang tertangkap hidup diperbudak atau dijadikan budak nafsu. Tidak lupa mereka mengatakan bahwa mereka memberantas terorisme. Sangat ironis, untuk mengusir imperialis modern mereka memakai cara diplomatis dan politis, tapi untuk berhadapan dengan golongan lain mereka memakai peluru dan amunisi.

Wahai umat yang terbaik, sadarlah… Apakah sedemikian butanya mata hati kita sehingga tidak sadar bahwa berbagai macam binatang buas sudah mengepung kita kita dan menunggu waktu yang tepat untuk memangsa? Ini menunjukkan bahwa penyakit ‘wahn’ yang diramalkan Rasulullah saw telah menimpa kembali umat ini sebagaimana telah terjadi pada saat kita dicabik-cabik oleh Tatar, sehingga sungai Tigris dan Eufrat diwarnai tinta dan darah pada tahun 856 H.

Membina umat tidak cukup mengandalkan kekuatan akal, tapi membutuhkan keteguhan hati. Sebab, justru mereka yang pintar dan genius akan terjungkal ke dalam jahannam karena mereka tidak mempunyai hati. Tidak ada yang bisa membina hati kecuali yang mempunyai hati, sebagaimana orang bodoh tak akan bisa membina orang menjadi pintar. Sudah menjadi aksioma bahwa yang tidak punya tak akan memberi.

Marilah tanyakan nurani kita, apakah hati kita sudah terbina? Jika belum, binalah, kalau sudah teruskanlah. Pembinaan hati adalah bekal dalam perjalanan panjang menuju persinggahan terakhir. Jika bekal kita kurang maka kita akan terpuruk di tengah jalan, menunggu fihak yang menolong kita atau melindas kita.

Membina hati tidak bisa dilakukan dengan meditasi, semedi, yoga dan cara-cara jahiliah lainnya. Membina hati hanya bisa dilakukan dengan menjalankan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya, yang diawali dengan membersihkan keimanan kita dari pengaruh-pengaruh jahiliah. Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan cara-cara pembinaan hati yang sudah terbukti dan terjamin keampuhannya. Bukankah para shahabat ra yang mencukupkan diri dengan itu mendapatkan gelar ‘Generasi Terbaik’ dan mendapat jaminan masuk surga?

Ketika umat Islam mulai mencari cara pembinaan hati di luar itu, maka gelar Generasi Terbaik pun tercerabut. Lalu didapatkan gelar sebagai kaum yang berpecah belah menjadi 73 golongan, semua masuk neraka, kecuali satu. Siapa? Mereka yang mengikuti jalannnya Generasi Terbaik.

Sungguh beruntung umat Islam yang mempunyai metode pembinaan hati yang unik, khas dan ampuh, di saat umat manusia berlomba-lomba menjajakan terapi penenangan hati—kepada mereka yang jenuh dengan kesemrawutan dunia yang mengikis hati—yang tidak teruji keampuhannya. Tapi sayang, metode Islam ini tidak begitu banyak dikenal orang, karena umat Islam malu dan enggan mengenalkannya pada fihak luar. Bahkan betapa banyak umat Islam yang mencari ketenangan hati dengan cara-cara yang belum jelas halal dan haramnya.

Maka, kembalilah kepada Islam yang murni dan suci, sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta difahami para shahabatnya ra. Jika tidak demikian, maka jangan mengharapkan kita akan mampu membina hati kita, apalagi umat manusia.

Engkau mengharapkan keselamatan tapi tidak menyusuri jalannya

Sesungguhnya Perahu tidak akan berjalan di daratan….

Allahumma hal ballaghtu, Allahumma fasyhad

Rab’ah, 22072005

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Kolom Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s