Menjadi Jurnalis Dengan Ilmu Hadits

Menjadi Jurnalis dengan Ilmu Hadits

Kita tidak bisa menutup mata, seliweran berita yang sekarang beredar banyak mengandung ketidakvalidan. Zaman sekarang, distorsi seolah-olah telah menjadi konsumsi masyarakat modern. Apalagi di era dunia dot com yang super canggih seperti sekarang, pemutarbalikan fakta adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Dengan sangat mudah, setiap orang bisa saja membuat opini publik, terlepas dari benar atau tidaknya opini tersebut. Lihat misalnya setiap kali ada kasus bom, pasti beberapa menit kemudian sebuah situs internet yang berasal dari Jaringan Al-Qaedah langsung mengumunkan diri sebagai orang yang bertanggung jawab. Padahal, di zaman canggih seperti ini, setiap orang pasti bisa membuat pengakuan seperti itu.

Yang lebih naifnya, prilaku yang tidak argumentatif tersebut sering dilakukan oleh media massa-media massa yang mengatasnamakan “Islam”. Hanya karena “hawa nafsu”, tidak sedikit media massa “islami” yang jatuh terperosok ke dalam pemutarbalikan fakta yang sangat manipulatif. Entah hal itu dilakukan atas nama pembaruan, pencerahan, rekonstruksi, kontekstualisasi, dll.

Untuk memberantas distorsi berita seperti di atas, di zaman modern ini jurnalisme Islam harus menghidupkan etika quoting yang ada dalam ilmu hadis. Adalah Yusuf Qaradhawi salah seorang ulama yang dengan keras memandang perlu untuk melakukan hal tersebut di zaman modern ini.

Selama ini, karya-karya hadis sering kita pandang sebagai karya hadis an sich. Padahal, karya-karya tersebut tiada lain adalah karya sejarah juga. Inilah puncak dari penulisan validitas sejarah yang tidak ada pada umat beragama lain. Setiap isi (matan) dan orang yang membawa berita (sanad) bisa kita ketahui latar belakangnya. Hal yang sangat sulit bisa kita dapatkan dalam berbagai berita yang saat ini sedang berkembang.

Setiap aturan main untuk menerima sebuah berita dalam hadis harus kita terapkan ke dalam berita yang berkembang saat ini. Baik itu yang berkaitan dengan matan ataupun sanad berita. `Ulumul hadits yang berupa kritik sanad, matan, dan jarh wa ta`dil bisa kita terapkan untuk menepis berita-berita manipulatif. Kita yakin, jika hal ini dilakukan, berbagai hegemoni asing yang hendak mendekonstruksi dan mencoreng Islam tidak akan berdaya apa-apa.

Sebenarnya, kritik seperti ini telah lebih dulu dilakukan oleh Ibnu Khaldun. Dalam Muqaddimah-nya, sejarahwan besar Muslim tersebut sering mengkritik hal yang sering dilakukan oleh al-akhbariyyun, orang-orang yang pada saat sekarang disebut dengan “jurnalis”. Orang-orang seperti itu telah memberi saham dalam melakukan distorsi terhadap sejarah Islam. Distorsi inilah yang selama ini menjadi landasan para orientalis dan orang-orang yang “talaqi” kepada mereka (sekularis dan liberalis) dalam memandang sejarah Islam. Padahal, jika hendak diverifikasi dengan lebih teliti, alasan “ilmiyah” yang sering mereka aku-aku sangat manipulatif dan tidak argumentatif. Al-Quran menyebut hal seperti ini dengan “prasangka” belaka (dzann). Bahkan, dengan tegas Allah menyebut bahwa argumentasi ilmiyah hanyalah milik-Nya saja.

Untuk hal tersebut, tidak aneh jika pada zaman klasik kita bisa mendapatkan seorang ahli hadis yang merangkap sebagai sejarawan. Tercatat misalnya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Adz-Dzahabi, Ath-Thabari, As-Suyuthi, dll. Selain sebagai muhaddits, sarjana-sarjana Muslim tersebut ada muarrikh juga.

Ini memang pekerjaan yang sangat sulit. Namun, dengan cara inilah masyarakat akan terimunisasi dari segala berita yang sangat distortif dan manipulatif. Kita rasa tidak ada salahnya jika para jurnalis Islam harus belajar kepada para ahli hadis tentang tata-cara mengambil berita. Selain itu, cara ini benar-benar bisa menjadi sebuah premis dari garansi langit bahwa umat Islam tidak akan melakukan konsensus untuk melakukan sebuah kesesatan bersama. Terima kasih ya Allah atas garansi ini. Redpel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s