Meraih Jilbab II

Meraih Jilbab II

Oleh : Teguh Hudaya

“Bukannya berjilbab itu bukti bahwa kita masih punya malu?”

“Dan bukannya Jilbab itu pagar kehormatan, juga kesucian dan identitas wanita terhormat?!”

Nuraniku menegur lagi saat kupantulkan dua bola mataku menatap cermin.

Ah tidak! sebab aku belum benar-benar yakin akan fungsi jilbab, toh masih banyak perempuan-perempaun berjilbab tapi akhlaknya masih dipertanyakan.

Kutatap keduakalinya…

“Bukannya pake jilbab lebih aman, Rina??”

Cermin itu malah membuntutiku berfikir hebat. Ya, aku beragama islam, tentu sudah lebih dulu mengakui La ilaa ha illallah. Dengan begitu aku harus taat kepada aqidahNya dan mengakui syari’atNya. Dan kalau aku tulus akan keislmanku serta yakin tentang kebenaran al islam, berarti aku harus taat akan seluruh hukum dan perintahnya. Jadi aku harus memakai jilbab??

Akhirnya cermin itu kutinggalkan, aku langsung berlalu menuju ruang tengah. Kuperhatikan ibuku duduk rebah di sudut kursi. Ia mendangiku seperti heran.

Kali ini kendalanya keluargaku yang masabodoh terhadap jilbab.

* * *

“Rambut kamu jadi jelek… rontok, banyak ketombe, akibatnya muka pun terkena jerawat. Sudahlah jangan pake jilbab…!!”

Orang lain berkata aku cantik, namun lebih cantik apabila rambutku tertutup jilbab. Tidak! bukan cantik tidaknya, tapi menurutku akan kewajiban syari’at yang memerintahkanku. Tapi kenapa mama berpandangan seperti ini?

“Ah mamah… apa gak ada alasan lain?!”

“Tuuh kan kamu itu suka melawan, buktinya wajah orang-orang yang berjilbab jadi belang ketika dibuka jilbabnya, dan itu karena sebagian mukanya terhalang jilbab!”

“Ya sudah kalo mamah terus gitu ntar Rina fikir-fikir lagi deh!”ungkapku agak berat.

“Tuh uangnya sudah mamah simpan di tas kamu, bagian yang kecilnya. Dan kue kaleng tuk temen-temen di kosanmu sudah mamah kardusin!”

Hari ini aku gagal lagi untuk berjilbab, mamahku paling sulit mendengarkan omonganku. Mamah membolehkan berjilbab kalau berniat untuk mendatangi pengajian atau melayat orang meninggal.

“Wajah cantikmu itu adalah pemberian yang Kuasa, makanya kamu mesti membanggakannya, syukur-syukur jika banyak orang bisa mengaguminya, jadi gak usah pakai jilbab lah” ungkapan mamah suatu hari, ketika pertama kepergianku ke kost-an. Dan sekarang aku akan pergi lagi.

“Silakan kamu pergi lagi ke kuliah, tapi mamah tidak memberimu uang jajan” alasan itu yang lumayan berat untukku.

“Ya udah, sekarang Rina mo berangkat dulu. Mah…”

Perlahan kulangkahkan kakiku ke luar rumah. Melihat aku belum juga berjilbab berarti aku harus siap mendengar pepatah Rahimah aktifis rohis itu, atau Mukti sosok ikhwan yang diam-diam memperhatikanku. Mereka mengatakan, Hati yang baik adalah hati yang tak lepas dari cinta, rasa takut dan penuh pengharapan yang sangat kepada Allah, dan apabila semuanya sudah tertanam baik, maka akan menimbulkan sebuah ketaatan yang dipenuhi keiklasan juga kesungguhan kepada Allah.

“Sayaang… ayo berangkat…”Pinta mamah merajuk, matanya lekat memandangiku.

Tubuhnya mematung di depan pintu. Geraian rambutnya mengingatkanku waktu lalu, saat aku membantah teman-teman sekos-an, aku menolak untuk berjilbab. Bahwa status orang tua juga dalam islam menempati posisi yang begitu tinggi dan terhormat. Waktu itu aku mengeluarkan ayat alqur’an yang pernah kudengar dari Romuyah “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak (1)

“Sayang…, ayo berangkat. Nanti kesorean…” ibu masih menatapku heran. Kulihat rambut hitamnya tergurai indah, mengkilap menampakan pesonanya.

Ah wajar-wajar saja kalau aku tidak berjilbab, karena harus menuruti orang tuaku. Belaku waktu itu. Mendengar jawabanku, mereka berkata lain, bahwa kepatuhan orang tua itu memang tidak terbatas kecuali oleh satu aspek, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah, begitu deras mereka mengeluarkan ayat lain. “…dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya (2). Terang saja akupun tercekat saat itu.

“Tapi buktinya, ketika aku akan memakai jilbab orang tuaku malah diam dan bersikap dingin… bukannya itu masalah masalah keduniaan, lebih konkret tentang kehidupan kita sehari-hari” Ucapku waktu itu

“Itukan teknis! Berarti itu tantanganmu untuk berdakwah, coba perlihatkan dulu keperibadianmu yang baik, karakter kamu yang baik, aku kira nanti juga ibumu akan mengerti. Asal ada kesungguhan dan keihlasan!” Ucap Deras.

Diam-diam kuayunkan langkahku menuju pagar. Sementara bayangan wajah ibu masih terlintas, rambutnya rapi tergurai indah. Bisakah aku memakai jilbab?

* * *

Di sekelilingku senyap tak ada suara. Dari sudut bangku depan hingga bangku belakang penuh orang tidur, tak terkecuali dengan lelaki yang dari tadi duduk di sampingku ini, sama tertidur lelap.

Aku diam melengo. Terdiam melintasi jejak hidupku yang selama ini kujalani. Sangat sulit untuk meyakinkan mamah yang keras. Dilemparkan alasan wajibnya bejilbab, malah berkelit. Aku belum ngerti!, atau mamah belum tahu dengan alAsan keduaku? Yaitu keberadaanku yang sudah merasa tersiksa akibat sekian laki-laki yang terus mengejarku. Barangkali dengan alasan kedua ini mamah akan menerima keinginanku untuk berjilbab. Dari Jaky yang gaul. More yang cuek, hingga yang sekarang, Ridwan yang diam-diam menyimpan harapan kepadaku. Ah, terkadang ingin tertawa melihat Radwan, ingin pacaran tapi tak mau dibilang pacaran, tingkahnya ingin memanfaatkanku apabila kepulanganku ke kostan larut malam.

“Eh, Ukhti Rina… ada yang bisa ana bantu?”

“Terimakasih, mau bareng kok sama kang Ujang penjaga kampus” jawabku ramah,

Begitulah khas Ridwan menebar pesonanya, penuh gugup dan malu-malu. Apalagi aku dipanggil Ukhti, rasanya gelideh.

“Ukhti Rina! Kang Ujangkan tidak sampai ke kos-anmu, apakah kamu tidak takut?” paksanya

Aku paling senang ada orang yang memperhatikanku, tapi malah sebal bila perhatian itu berlebihan dan terkesan dibuat-buat.

“’Eeuu… Syu..Syukron Kak.!”

Ah itu pengalamanku dulu sebelum kepulanganku ke rumah, dan sekarang aku sudah kembali lagi ke kost-an.

Aku masih mengaburkan pandanganku di balik kaca Bis, kutembuskan mataku melihat rerumputan hijau yang terbelah lurus jalan aspal. Tak ada ayang aneh. Akhirnya diam-diam kubuka catatan harianku. Ugh! Tak disangka ternyata selama lima bulan ini aku sudah menolak empat laki-laki yang melamarku. Kontan, aku langsung mengingat percakapanku dengan lelaki yang duduk di sampingku ini. Kutarik nafasku dalam-dalam.

“Silahkan, kalo memang prinsipmu seperti itu, mencari yang cocok! hanya saja saya selaku kaum Adam merasakan sakitnya ditolak oleh perempuan, jadi saya harap tolaklah laki-laki dengan cara halus baik sikap ataupun kata-kata”ungkapnya

Kalo hanya untuk pacaran, yang ia rasakan sekedar ingin mendapatkan perhatian lebih sebagai bentuk motivasi diwaktu BeTe. Yang paling asik dan menarik adalah proses pengejarannya.

“Oh iya, kalaupun kamu sudah punya calon, jangan coba-coba memberi harapan atau isyarat agar kaum adam itu melamarmu. Jangan sampai kamu menjebaknya dengan kefamilieranmu yang sangat! Dan kamu harus punya pendirian, jangan karena calonmu jauh lantas kamu memanfaatkan kaum adam yang ada di sekelilingmu”

Dan jujur saja, keinginanku berjilbab selain kenyang ceramahan Rohimah, berjilbab bagiku pagar kehormatan dan bukti bahwa aku masih punya malu. Bukan itu saja, sebenarnya aku juga ingin mengurangi banyaknya kaum lelaki yang terus mengejarku. Ah, Semoga setelah aku berjilbab, karakter dan keperibadianku semakin membaik. Bukannya bejilbab itu adalah pagar kesucian juga identitas wanita terhormat?

Di kuris bis, mataku kini mulai melintas membaca catatan harianku dua bulan kebelakang. Ah kayanya aku terlalu egois, aku melonak lamaran itu mentah-mentah. Batinku, ketika aku membaca surat dari seorang lelaki. Ia mengajakku untuk menikah, uniknya ia tetap memaksaku. Aku sempat kesal terhadapnya, apalagi tiba-tiba meminta nomer telpon dan alamat rumahku. Keterlaluan!

Deg! aku tiba-tiba terkaget. Lelaki di sampingku itu tiba-tiba terbangun. Saat kutatap ia tersipu. Ah dasar!

“Ehm, enggak ngantuk?” suara seraknya keluar, ia bertanya kepadaku

“Oh… eng, nggak…”ucapku pelan

“Seneng nulis ya…?” matanya tertuju melihat buku putih dalam genggamanku

“Nggak juga sih, cuman iseng kok” buru-buru kututup dan cepat kumasukan ke dalam tas. Malu.

Santai namun penuh meyakinkan, selama satu jok dengannya tak sedikitpun menampakan hidung belangnya. Penuturannya acap meyakinkan“Ah akan kutulis dicatatan harianku, aku baru menemukan sosok lelaki seperti ini….” kutarik nafasku pelan-pelan sambil kutundukan wajahku.

“Wajahmu cantik…”

Hegh! Aku tertegun. Dasar! baru saja aku puji, tak disangka lelaki ini mulai bermain-bermain kepadaku.

“Apa? Aku cantik?!”sentaku pelan. Sedikit melotot.

“’Iya kamu cantik, tapi ‘Euu… Tidakkah lebih cantik jika kamu memakai jilbab?” wajahnya memandangiku lekat.

Aku terkaget. Kenapa ia tiba-tiba bertanya seperti ini? kulirikan mataku kearahnya. Jengkel.

“Belum mendapat hidayah kali!” jawabku sedikit menguji.

Kendati sudah beberapa bulan ini aku gagal untuk berjilbab, di hadapannya aku mencoba berpura-pura. Sering sekali teman-temanku menyuruhku berjilbab, tapi alasannya selalu klise, biar enggak kepanasanlah, hanya modelah, yang paling parah, silakan pakai kerudung tapi lihat dulu tempat yang akan dituju. Dan sekarang…. Bagaimana dengan lelaki ini. Apakah sama juga alasannya seperti mereka? Aku mengatakannya belum mendapat hidayah…

Lho, bukannya hidayah itu akan didapatkan jika diiringi kesungguhan?!” jawabnya tiba-tiba

Hidayah? Ugh! Aku salah menyimpan alasan. Cepat ganti alasanku.

“Ng… Nggak… bukan hidayah maksudku. Tapi… eh, bukankah akan menarik jika kaum perempuan tampil seksi?” kupandangi lelaki itu. Aku tidak mau membawa-bawa hukum agama. Aku akan kalah.

“Menarik? menarik menurut siapa maksudmu?!”lelaki itu tambah agresif

“Ya menurut kamu, laki-laki. Kamu juga menikmatinya, bukan? menikmati keindahan rambutku dan leherku ini?” replek ia menangkap rambutku yang tak terbungkus jilbab.

“Relatif!” “Mmm…. Terus yang kamu rasakan, apakah perasaanmu tenang jika busanamu terus seperti ini, Hingga mengundang perhatian orang, bahkan membangkitkan selera kaum laki-laki…?!” jawabnya.

“Tidak juga sih…!” kataku

“Tuuh kan..!”

“Eit.. sebentar dulu, tapi bagaimana orang akan tahu jika keindahan milik kita itu terus kita tutup-tutupi.” Kutatap rautnya seperti heran dengan omonganku “Leher dan rambutku kapan dong akan dikaguminya oleh kaum sepertimu kalo terus kututup pake jilbab, Mmm… dan saya pikir bukannya kaum hawa berhak untuk membanggakannya?” kutatap lekat lelaki itu.

* * *

“”Aduh! Siapa nama kamu itu, siapa, ‘euu… Rina ya?” geraknya greget mendengar bantahanku “Rina yakin bersikap itu? Kemudian, apakah menurut Rina semua keindahan itu layak diperlihatkan?”

Deg! Aku cukup terkaget.

“Mmm… membentuk dan memelihara anggota tubuh dengan kosmetik, dan lebih jauhnya membasahi bibir dipolesi lipstik atau membentuk alis seperti bulan sabit, boleh-boleh ‘kan?” aku mulai mempermainkannya, jujur saja posisiku masih menguji dia. Kutatap mukanya semakin heran mendengar jawabanku.

“Tapi apakah Rina yakin dengan mempercantik diri berlebihan lantas Rina memamerkannya kepada orang lain, kemudian akan mempercantik hati Rina sendiri, atau jangan-jangan…. malah sebaliknya….!”

Deg! Aku langsung terdiam, rupanya ini bukan sembarang laki-laki, selalu saja jawabannya rasional.

“tergantung!”kuangkat bahuku “yang penting asal ada keseimbangan saja ‘kan?” bantahku puas.

“Jika memang keseimbangan yang saudari Rina tekankan, terus bagaimana jika suatu saat Rina tak mampu menyeimbangkannya. Bukannya kehati-hatian itu lebih baik dari pada harus terjerumus kedalamnya?”

Aku terdiam sejenak. Kutarik nafasku dalam-dalam. Tiba-tiba nuraniku seperti tersentuh untuk menyepakati argumennya. Tak terasa perlahan pandanganku berubah buyar, seperti ada cairan bening bersarang dalam mataku.

“begini saja Rina…, boleh saya bertanya kepada kamu?” kudengar nadanya mulai melunak

Aku diam tak menjawab.

“apakah saudari Rina setuju, apabila dikatakan kecantikan hakiki itu adalah karya Allah, yaitu Dzat yang mencipta segala sesuatu penuh cermat dan sempurna?”

Aku mengangguk pelan

“Jadi Rina setuju jika kecantikan hakiki itu berada dalam aklhak, karakter dan keperibadian, sementara kecantikan wajah hanya sekejap?”

Aku terdiam lama. Semua jawaban seperti ini jujur saja baru pertama kudapatkan, walaupun pada awalnya aku berniat untuk mengujinya. Sejauhmana pandangan ia terhadap jilbab?

“Gimana, setuju’kan? Ya sudah mulai sekarang pakai Jilbab, jangan menunggu-nunggu waktu…”ungkapnya pelan

Aku tak menjawab, perlahan aku menyibak air mataku yang mulai menitik.

“kok diam? Takut?”

“Takut karena orang tuamu tidak mengizinkan, begitu?”

Aku masih diam tak menjawab. Cairan bening itu terus berjatuhan menimpali pipiku. Tak lama lelaki itu langsung memalingkan mukanya ke arah luar. Tidak lagi menatapku. Selama ini usahaku untuk berjilbab kerap gagal, padahal tinggal memberanikan diriku untuk meyakinkan kepada orang tuaku.

“Eh, sebentar nih… Apakah Rina mengijinkan, andaikan saya nanti kalau ada waktu bermain ke rumahmu, untuk mendatangi orang tuamu…” ucapnya datar

Mendatangi orang tua?! Aku tersentak kaget

“Apa datang kerumahku?? Ngapain kamu main-main ke rumahku??” kutatap tajam mata lelaki itu.

“Mau melamarmu, lalu menikahimu?!”

* * *

———————————–

1) (QS. An-Nisa:36)

2) (QS. Luqman : 15)

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Sastra Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s