Tafkiru at-Tafkir, Why Not ??

Takfiru at-Tafkir; Why Not?

Oleh : Irfan Hakiem*

“Benturan antar peradaban akan mendominasi politik global. Garis-garis pemisah antara peradaban akan menjadi ajang pertentang di masa depan. Konflik antara peradaban akan menjadi fase terakhir dari evolusi konflik dalam dunia modern”. (Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization)

Suatu hal yang wajar bila ada istilah Takfiru at-Tafkir (pengkafiran terhadap sebuah pemikiran), karena yang demikian itu adalah sebuah dialektika antara yang mempunyai pemikiran kanan dan kiri (baina al-Fikr al-Aiman wa al-Aisar), yang disebabkan adanya kepentingan masing-masing dalam memahami sebauh ajaran agama (teks alQuran dan alSunnah). Dan penulis kira, hal ini tidak akan pernah berhenti sampai di sini saja, tapi akan terus berlanjut sampai pada generasi yang akan datang.

Penulis sedikit mencoba melirik terhadap kejadian orang-orang dahulu, seperti Ahmad bin Hanbal, yang mempunyai komitmen dalam memperjuangkan alQuran dan alSunnah, dengan tidak ingin menyebut bahwa alQuran adalah makhluk, dengan berbagai desakan dari pemerintah dan pihak-pihak lain. Yang menjadi pertanyaan, sebenarnya apa yang terjadi dalam tubuh pemerintahan al-Makshum itu?

Ternyata betul, benturan paradigma pemikiran sangat mempengaruhi lorong-lorong pemerintahan, karena di dalamnya ada seorang mu’tazili yaitu, Abu Du’ad yang mencoba mempengaruhi pemerintahan al-Makshun dengan segala pemikirannya. Maka benturan ini terjadi antara yang mempertahankan alQuran dan alSunnah dengan orang yang mempunyai pemahaman baru (al-Fikr al-Hadits) yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran barat, baik Yunani dengan filsafatnya maupun Mu’tazilah dengan kebebasan berpikirnya.

Berangkat dari sana, penulis mempunyai keyakinan sampai kapan pun bahwa, benturan semisal ini tak akan pernah berhenti. Kenapa, karena di samping otak manusia terus berproses, berubah, bertambah, dan akan menemukan hal-hal yang baru, juga otak (pemahaman manusia) tidak akan pernah bisa disatukan dalam satu kerangka berpikir (baca:disamakan), baik dengan pemikiran kanannya maupun dengan pemikiran kirinya (kita akan lebih paham dengan istilah kanan dan kiri). Penulis kira, sangat wajar bila benturan ini terus berlanjut, agar dapat mempengaruhi dan berdialektika dalam warna pemikiran kita, sesuai dengan pertumbuhan jaman yang semakin asyik dalam ruang-ruang globalisasi.

Sebut saja, benturan globalisasi dan modernisasi akan terus menghantam umat Islam, baik dari aspek budaya, peradaban, moralitas, dan pemikiran. Yang akan sulit untuk dapat melepaskan diri dari sentuhan-sentuhan barat dewasa ini, kenapa penulis anggap bahwa benturan semisal itu identik dengan barat. Karena, masa kini adalah masa kejayaan barat, peradaban sekarang adalah milik barat, dari mulai paradigma berpikir sampai pada budaya keseharian khalayak. Sebagaimana dikemukakan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya, “The End of History” bahwa kemenangan Barat atau kemenangan ide Barat melalui ideologi liberalisme ekonomi dan politik, tampak jelas pertama-tama pada keletihan total gagasan-gagasan yang secara sistematik telah diajukan sebagai alternatif terhadap liberalisme Barat.

Maka rambu-rambu pemilahan antara orisinalitas pemikiran Islam dan pemikiran barat, akan sedikit sulit untuk diidentifikasi. Kenapa, karena dewasa ini semua memakai pisau Islam, baik para orientalisme maupun orang Islam itu sendiri. Maka wajar ketika muncul pertanyaan, bagaimana kita memilah-milah antara pemikiran Islam dan barat?. Kalau meminjam istilah Dr. Hasan Hanafi dalam bukunya, “Ilmu al-Istighrab (oksidentalisme)” bahwa barat mempunyai cara untuk menghancurkan pemahaman umat Islam yaitu, dengan para orientalisme yang banyak mempelajari ajaran Islam, untuk dapat diselewengkan dari pemahaman yang asal terhadap pemahaman mereka, dengan banyak memakai logika-linguistik. Kenapa tidak?, kita juga mempelajari pemikiran barat untuk dapat mengetahui sela-sela kelemahan dari pemikiran barat itu sendiri.

Tapi sayang, banyak pemikir Islam dewasa ini yang belajar Islam dari barat, yang bukan mengkritisi dan menganalisa semua pemikiran tersebut, tapi menelan semua pemikirannya secara mentah (baca:without critikal anything). Maka terjadilah suatu benturan antara umat Islam itu sendiri, yaitu antara yang mengadopsi pemikiran dari barat dengan orang Islam yang mengandalkan pembelajaran dari dalam Islam, tidak banyak bercermin terhadap perkembangan jaman, baik dengan globalisasi pemikiran maupun modernisasi budaya.

Penulis kira, benturan ini akan terjadi sampai kapan pun jua, bila kedua-duanya tidak mau melirik terhadap persoalan-persoalan jaman, yang semakin hari semakin deras dengan luapan peradaban baru (al-Hadlarah al-Jadidah), dan keduanya akan terjebak dengan fanatisme pemahaman masing-masing. Maka komunitas fundamentalis-literalis (penulis sebut saja) mencoba mempertahankan keabsahan ajaran Islam, yang mulai diutak-atik oleh pemikiran baru yang diproduksi oleh barat. Di sisi lain, kaum liberalis-fenomenologis mempunyai pemahaman yang baru, yaitu ingin membangkitkan umat Islam dari stagnasi (jumud) yang kian hari kian mengkronis, yang sangat ketinggalan jauh dari suatu pemahaman Islam yang universal. Yaitu dalam artian mereka, ajaran Islam masa kini tidak bisa mengena dan menyentuh terhadap sendi-sendi fenomena sosial, baik secara mikro maupun makro.

Mungkin dari sinilah, muncul istilah-istilah yang sangat tidak diharapkan dari berbagai pihak atau kalangan, yaitu Takfiru at-Tafkir (pengkafiran terhadap sebuah pemikiran). Penulis kira, Islam itu indah dan orang bebas menempuh dari jalan mana saja, karena sangat mungkin dari setiap yang berbeda pemahaman ini akan dapat melahirkan sesuatu yang positif. Maka kenapa kita tidak dapat melahirkan sesuatu yang positif dari dua komunitas “kubu” ini?

Penulis sedikit mengutif dari apa yang dikemukakan oleh Dr. Muhammad Imarah bahwa, Selama ada produk peradaban Barat yang bisa ditiru dan sesuai dengan prinsip universal Islam, maka sangat memungkinkan untuk dijadikan basis epistemologi kajian keislaman. Karena menurutnya, al-hikmah dhallatul mu`min, anna wajadaha fahuwa ahaqqun nâs bihâ (kearifan merupakan barang tercecer kaum beriman; dimanapun mereka menjumpainya, mereka berhak merangkulnya). Dengan landasan itu, meski sebuah kearifan datang dari warisan “the other” yang berbeda (nonmuslim), asal selaras dengan nilai-nilai universal Islam, maka sepatutnya tetap dijadikan referensi.

Maka istilah pengkafiran, hemat penulis adalah sesuatu yang kurang bijak dalam prihal kajian pemikiran. Yang lebih baik untuk kita dialogkan, tafsirkan dan terjemahkan lebih lanjut, untuk saling mengisi beberapa pemahaman yang berbeda tersebut. Kenapa, karena kebangkitan Islam yang kita tunggu-tunggu, serasa masih jauh dari harapan kita selama kita belum bisa harmonis, saling menghargai, dan berjalan bergandengan dalam pemahaman yang berbeda pula. Wallahu’alam bishawab!

* Penulis adalah Direktur Lembaga Buhuts Islamiyyah (LBI) Pwk.Persis Mesir

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Wacana Tagged

One comment on “Tafkiru at-Tafkir, Why Not ??

  1. Islam adalah sumber pemikiran yang sahih, dan selain dari Islam pasti sesat, karena sumber pemikiran Islam adalah Al Qu’an dan As Sunnah, jadi kalo pemikiran Islam disamakan dengan pemikiran selain Islam sangat tidak benar dan batil. karena yang Haq adalah Haq dan batil adalah batil. standard Islam dalam penilaian ini sangat jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s