Thank’s Allah

Thanks’ Allah

Oleh: Putra Damas

Pernahkah kita berpikir bahwa Allah tidak sayang sama kita karena telah menimpakan sebuah bencana terhadap kita? Pernahkah kita merasa bahwa Allah tidak adil karena tidak selalu memenuhi kebutuhan kita? Pernah juga kah kita berpikir bahwa Allah tidak bijaksana karena memberikan sesuatu tetapi bukan yang kita inginkan? Mungkin saja kebanyakan dari kita akan menjawab pernah. Itu wajar. Tapi, mengapa demikian? Itu karena ‘prasangka buruk’ kita terhadap Allah. Mari kita renungkan! Seringkali kita menganggap bahwa apa yang kita inginkan itulah yang terbaik menurut kita, itulah yang terbaik bagi kita. Padahal tidak selalu demikian, seringkali kita menginginkan sesuatu padahal itu bukanlah yang terbaik bagi kita, atau bahkan sebaliknya, seringkali kita tidak menginginkan sesuatu padahal itu adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah (QS. 2:216).

Beberapa waktu yang lalu saat masih di Indonesia, saya hampir kecewa karena ketinggalan sebuah bus. Ya, sebuah bus. Saat itu saya baru saja menghabiskan liburan di rumah seorang bibi di daerah Pangalengan (sebuah daerah pegunungan di Bandung Selatan). Pagi-pagi sekali saya pamit meninggalkan rumah bibi saya tersebut, karena pagi itu juga saya harus kembali masuk sekolah yang kebetulan berada di kampung halaman, di daerah Soreang. Namun, pagi itu saya harus kecewa karena bus yang seharusnya saya naikin telah mendahului saya meninggalkan terminal. Saya kecewa. Kesel. “Seandainya bla bla bla, mungkin tidak akan begini!”, begitu pikir saya. Ujung-ujungnya saya bilang, ”kenapa Allah tidak adil, padahal sudah sangat pagi saya keluar rumah, eh..tetep aja ketinggalan. Bakal kesiangan masuk kelas dong?!”. Beberapa waktu kemudian bus kedua datang dan saya pun naik. Tak lama setelah bus itu melaju saya berkata “Ya Allah, sungguh baiknya Engkau. Sungguh adilnya Engkau. Terimakasih karena telah membiarkan saya ketinggalan bus itu, seandainya tidak, saya tak tahu akan bagaimana”. Kalimat itu saya ucapkan, ketika saya melihat bus yang meninggalkan saya tadi terbalik ditepi jurang di daerah Cikalong (sebuah daerah di antara Pangalengan dan Banjaran). Saya sadar, ternyata apa yang saya ucapkan pertama kali itu adalah karena saya terlalu tergesa-gesa dalam menghukumi sesuatu, saya suudzan sama Allah, padahal Allah lebih tahu apa yang terbaik buat saya (kita), hamba-Nya.

Tentu kita tahu, bahwa ketika kita tidak menyukai sesuatu alias membenci sesuatu, pada saat itu lah Allah memberikan peluang banyak kebaikan bagi kita dari sesuatu yang tidak kita sukai itu (QS. 4:19). Dan tentunya kita tahu, bahwa kebaikan-kebaikan itu hanya akan kita peroleh ketika kita bisa menyikapi sesuatu yang tidak kita sukai itu dengan sabar. Allah berfirman:Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. 16:96) di dunia maupun di akhirat.

Dulu, setelah saya menyelesaikan pendidikan di Madrasah Tsanawiyyah, saya sangat berharap bisa melanjutkan sekolah di salah satu SMU Negri, demi mewujudkan cita-cita menjadi seorang dokter atau psikolog dimana untuk bisa sampai kesana saya punya anggapan bahwa saya harus mencari sebuah lembaga pendidikan yang tentunya bisa membimbing saya untuk sampai ke arah sana, terutama dalam mendalami ilmu-ilmu eksak. Waktu itu saya memilih salah satu SMUN di Bandung yang kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, kebetulan juga passing gradenya tidak terlalu tinggi, jadi saya kira saya bisa lulus jika mendaftar kesana. Tapi, Allah berkehendak lain. Saya tidak diterima di SMUN tersebut, karena DANUN saya waktu itu kurang nol koma sekian. Betul, hanya nol koma saja. Akhirnya, dengan terpaksa saya harus ngikutin keinginan orang tua saya untuk melanjutkan ke sebuah Madrasah Aliyah di luar kota. Walau sedikit enggan (bukan karena saya tidak menyukai pelajaran agama apalagi karena membencinya, melainkan karena kecewa sebab tidak bisa mewujudkan cita-cita saya), tapi tetap saya paksakan untuk terus belajar, saya paksakan untuk bisa bersabar, dan saya coba untuk mengambil hikmah dari semua itu. Beberapa waktu kemudian saya kembali sadar bahwa sungguh Allah maha tahu apa yang terbaik bagi saya, hamba-Nya. Ketika kebetulan saya jalan-jalan di kota Bandung, ketika melewati gedung sekolah yang dulu saya sangat berharap untuk jadi siswa di sana, dalam hati, saya berkata, “ Terima kasih Allah, karena Engkau tidak memberikan kesempatan buat hamba untuk sekolah di sini. Saya tak tahu saya akan seperti apa, saya tak tahu saya akan menjadi apa?! Yang pasti, saya tidak yakin mampu jika harus belajar di tempat yang tidak kondusif seperti ini, tempat yang ramai seperti ini. Sebelah kanan diskotik, sebelah kiri rumah bilyard, di depan tempat prostitusi, dibelakang mall tempat nongkrongnya ABG. Ditambah lagi dengan pergaulan siswa-siswinya yang begitu bebas. Pokoknya saya tidak sanggup!”.

Dari beberapa pengalaman itu, saya semakin yakin betapa Allah sangat mencintai kita, betapa Allah selalu menganugrahkan segala sesuatu yang terbaik buat kita, Hamba-Nya. Semoga kita selalu menjadi hamba-Nya yang tak pernah capek untuk bersabar, yang tak pernah bosan untuk bersyukur. Menjadi hamba-Nya yang dikagumi oleh Muhammad Rasulullah Saw. “Sungguh aku sangat kagum terhadap seorang mukmin. Alangkah baik semua urusannya. Dan itu hanya dimiliki oleh orang mukmin saja. Jika dilimpahkan kepadanya suatu kelapangan, ia bersyukur. Maka rasa syukurnya itu adalah suatu kebaikan baginya. Jika ditimpakan kepadanya suatu kesempitan (bencana), ia bersabar. Maka kesabarannya itu adalah suatu kebaikan baginya”. (HR. Muslim : 5318)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s