Wawancara Dengan Bpk. Hartono A. Jaiz

Ahmadiyyah adalah sebuah aliran yang menurut salah seorang anggota LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) Jakarta, H. Hartono A. Jaiz, dianggap lebih berbahaya daripada narkoba dan korupsi, karena merusak Aqidah Islam yang shahih. Dengan alasan, urutan pertama diantara lima hal yang harus dijaga dan dijunjung tinggi oleh manusia adalah Hifdzu ad-Dien.

Mantan wartawan harian umum Pelita (19..-19..) yang sejak pemikiran nyeleneh marak di Indonesia, adalah orang yang paling getol membuat second opinion terhadap berbagai isu pemikiran keagamaan di Indonesia. Diantaranya; sekularisme, liberalisme, prularisme, dan aliran keagamaan yang setelah diteliti, dinyatakan sesat, semisal Ahmadiyyah, Baha’iyyah dan lain-lain. Lalu apa dan bagaimanakah sebenarnya aliran Ahmadiyyah ini, khususnya di Indonesia. Berikut petikan wawancara reporter Al-Furqan, Risyan Nur Hakim dan Irfan Hakiem dengan Drs. H. Hartono A. Jaiz, penulis buku Paham dan Aliran Sesat di Indonesia, yang ditemui di Hotel Wisma Nusantara usai mengisi sebuah acara diskusi ilmiah:

Bagaimana perkembangan terakhir Ahmadiyah di Indonesia, setelah dikeluarkannya Fatwa MUI yang menyatakan sesatnya aliran itu?

Di beberapa tempat, Ahmadiyah ini memang sudah ditutup. Yang di Bogor juga sudah ditutup. Hanya saja, langkah ini belum merata semuanya, karena ini adalah menjadi tugas kejaksaan, aparat, dan pemda setempat. Belum tentu mereka menutupnya. Oleh karena itu, akan lebih berhasil, jika larangan ini sudah berbentuk Keppres (Keputusan Presiden-red). Dan, kita ini sedang menunggu Kepress itu keluar.

Jadi ada desakan dari pihak MUI agar ada pelarangan secara resmi dari pemerintah berupa Keppres, begitu?

Ya. Karena kalau aliran ini tidak ditutup secara resmi, ditakutkan kasusnya akan seperti aliran LDII. Aliran ini pada tahun 1971 sudah dilarang oleh pihak kejaksaan Agung, Hanya saat itu namanya Islam Jam’ah. Dan larangan itu tidak sampai berbentuk Keppres. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya, berganti nama menjadi Lemkari, lalu terakhir, LDII.

Bahkan kita tahu, Ahmadiyyah ini sudah mempunyai rencana yang sangat berbahaya, yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat Ahmadiyyah se-Dunia. Di Bogor saja, mereka sudah memiliki tanah seluas kira-kira 180 hektar dan direncanakan akan dibangun pusatnya disana.

Fatwa sesatnya Ahmadiyyah sudah dikeluarkan sejak tahun 1980 silam. Tapi mengapa masalah ini baru mencuat ramai kepermukaan saat ini dan langsung mendapat reaksi keras dari sebagian tokoh nasional?

Sekarang kan zamannya sudah berbeda. Apalagi akidah umat Islam sekarang ini sedang dikoyak-koyak oleh akidah LDII, Ahmadiyyah, liberal dan sebagainya. Nah, ketika umat Islam merasa tidak mendapatkan perlindungannya, sementara mereka yang mengoyak-ngoyak itu dibiarkan bebas. Maka, dengan munculnya fatwa itu, umat Islam langsung menyambutnya dengan antusias.

Mereka yang meng-atasnamakan liberal justru sangat gencar mendukung Ahmadiyyah, hal itu beralasan, sebab mereka juga termasuk aliran yang dikategorikan bertentangan dengan akidah Islam seperti yang termuat dalam fatwa MUI itu. Maka, pada dasarnya, pembelaan mereka terhadap Ahmadiyyah merupakan sarana untuk meruntuhkan fatwa MUI yang dalam isi kandungannya termasuk pula ide pemikiran liberal mereka. Sehingga, ketika fatwa itu ambruk, maka larangan terhadap ide sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme agama yang mereka anut secara otomatis tidak berlaku. Jadi, sekali lagi, pembelaan mereka terhadap Ahmadiyyah itu adalah sebagai sasaran perantara untuk melanggengkan ide ‘SIPILIS’ (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme) itu.

Namun pembelaan itu justru menjadi bumerang bagi mereka. Ketika umat Islam sudah mendapat penjelasan tentang sesatnya aliran ini, dan dengan mudah mengetahui dan memahami tidak benarnya aliran Ahmadiyyah ini, maka orang-orang yang membelanya tentu akan difahami pula termasuk kelompok yang tidak benar. Logika umat memang akan seperti itu. Dengan pembelaan mereka, umat menjadi tahu bahwa aliran liberal itu statusnya sama dengan mereka (Ahmadiyyah).

Bisa diuraikan kembali, sebenarnya apa saja inti ajaran Ahmadiyah sehingga dinilai sesat dan bertentangan dengan akidah Islam?

Menurut ajaran Ahmadiyyah, Islam yang benar itu adalah yang mengikuti Nabi mereka yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Mereka meyakini bahwa dia itu adalah Nabi yang mendapat wahyu langsung dari Allah. Dan wahyu-wahyu itu terkumpul dalam kitab yang bernama “Tadzkiroh”. Sebuah kitab yang memuat perkataan Allah yang disampaikan langsung kepada Mirza Ghulalm Ahmad. Karena kitab ‘Tadzkirah” itu yang mereka jadikan pedoman, maka mereka meyakini beberapa hal, diantaranya; tidak boleh menikahi orang muslim atau muslimah selain pengikut Ahmadiyyah, tidak boleh bermakmum shalat kepada selain mereka, mengklaim bahwa Islam yang sah itu hanya mereka, dan orang diluar mereka diklaim kafir dan musuh dsb. Jadi, secara ringkas, inti ajaran mereka adalah; mereka punya nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, bulan dan tahun sendiri, tempat haji dan khalifah sendiri yang bernama Thahir Ahmad yang bermarkas di London Inggris itu.

Mereka menganggap orang-orang selain pengikut mereka itu kafir?

Ya, betul. Ajaran mereka menganggap kita (yang bukan pengikut Ahmadiyyah) itu kafir. Makanya, hal itulah yang bertentangan dengan akidah Islam yang benar.

Ajarannya persis seperti LDII?

Bedanya dengan LDII adalah mereka tidak memilik kitab suci dan tidak mengklaim Hasan Ubaidah, pemimpinnya itu sebagai nabi.

Ada asumsi yang mengatakan bahwa fenomena perbedaan dalam hal apapun itu adalah ekses dari perbedaan landasan pemahaman terhadap teks. Dengan munculnya berbagai aliran, faham, dan ide itu mengapa tidak kita anggap wajar saja. Bagaimana menurut Anda?

Metode berfikir seperti itu saya katakan metode yang ‘serampangan’. Meminjam istilah Imam Ahmad bin Hanbal, metode itu adalah metode yang Mujmal. Sebagaimana kita ketahui, bahwa jika ada nash-nash yang sudah jelas-jelas mengatakan itu salah dan ini benar, maka kita tidak boleh mengatakan,”boleh dong berbeda”. Permasalahan Ahmadiyyah yang mengakui adanya nabi yang baru, kitab suci yang baru, itu kan AlQuran dan hadis sudah dengan gamblang menyatakan itu tidak benar. Pernyataan yang mengatakan perbedaan itu harus dimaklumi, itu adalah pernyataan yang mujmal. Menghalalkan segala sesuatu itu kan sudah jelas salah.

Dalam hal dunia pun, sesuatu yang sudah disepakati bersama, tidak boleh ada yang berbeda. Contoh, kita sepakat bahwa ini (menunjuk kursi yang sedang diduduki beliau) kursi. Maka seorang pun tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah pintu. Mengapa? Karena istilah ini sudah disepakati. Apalagi dalam hal agama yang sudah jelas ada nash-nya dan disepakati keabsahannya.

Nah, berarti perbedaan itu ada yang memang tidak dibolehkan, ada juga yang dibolehkan. Jika memang tidak ada dalilnya, atau ada dalilnya tapi belum begitu jelas, maka perbedaan itu termasuk hal yang dibolehkan. Tapi sekali lagi, untuk masalah yang sudah sangat jelas dalilnya, tidak boleh lantas mentolelir perbedaan.

Jadi, secara keilmuan yang menyatakan bahwa ide ini kan hanya perbedaaan pendapat, hanyalah sebagai upaya menyederhanakan pembicaraan dan pengertian. Oleh karena itu, Pak Prof. Dr. H. Rasjidi bilang, pemikiran Cak Nur itu berbahaya karena pemikirannya ‘sederhana’. Imam Ahmad juga mengatakan, pemikiran sesat itu ada karena mereka berfikir mujmal. Kalau saya sendiri mengatakan, pemikiran seperti itu ada karena ‘serampangan’.

Ahmadiyyah ini termasuk hal yang berkaitan erat dengan masalah akidah. Sejauh mana peran akidah sendiri bagi seorang muslim sehingga harus teliti dalam memeliharanya?

Akidah itu adalah hal yang pokok. Maka landasan dalam berkidah itu harus benar dan tidak boleh bertentangan dengan landasan itu. Dalam hal-hal pokok yang landasannya sudah jelas memang tidak boleh ada perbedaan. Bahkan dalam hal fiqh pun, seperti ibadah qurban, itu kan hukumnya tidak sampai wajib dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang sudah mampu. Tetapi kalau ibadah Qurban itu lalu disalah gunakan, maka itu menjadi tidak sah. Misalnya, pesantren Az-Zaitun yang mengganti ibadah qurban ini dengan diambil uangnya. Jadi, binatang Qurbannya itu tidak disembelih tetapi diambil uangnya. Karena itu lebih bisa menyejahterakan masyarakat. Pemahaman semacam itu kan tidak benar. Nah, berarti dalam hal yang tidak wajib saja, dan tidak menyangkut hal-hal pokok, kalau menyelisihi dalil, maka itu salah. Bahkan hal-hal yang dianggap mubah pun, seperti aliran dan tarekat yang mengharamkan daging selama sepuluh hari, itu kan sesat juga. Jadi, pangkal kesesatan itu bukan karena itu ushul atau furu’ atau mubah, tetapi menyelisihi dalil atau tidak. Dalam hal mubah saja, jika menyelisihi dalil, tidak boleh. Apalagi menyangkut hal yang pokok. Hanya saja, kesetatan itu levelnya berbeda-beda, ada yang mengeluarkan dari agama seperti meyakini adanya nabi baru. Ada juga yang tidak sampai dianggap keluar dari Islam.

Mungkin saja ada nilai positif yang dapat kita ambil dari Ajaran Ahmadiyah ini, seperti ada ajaran kedamaiannya, dsb. Bagaimana pendapat Anda?

Kalau sudah berbicara hal yang sudah jelas dalil kesalahan sesuatu, tidak boleh lantas kita membiarkan itu terjadi dengan hanya mengingat ada nilai positif yang bisa kita ambil. Kita sedang berbicara masalah status Ahmadiyah. Dan yang patut dijadikan landasan adalah dalil. Jika memang dalil mengatakan itu adalah salah, maka berarti tidak ada kaitan dengan sisi lain.

Dalam sebuah tulisan yang pernah dimuat disalah satu media cetak, Anda menulis bahwa, Ahmadiyah, faham dan aliran sesat itu lebih berbahaya daripada narkoba, bisa Anda jelaskan maksudnya?

Kan didalam Islam itu, ada lima hal yang mesti dijaga dan dipelihara kelangsungannya, diantaranya, Agama (hifdz al-Din), akal (hifdz Al-‘Aql), harta (hifdz Al-mal), kehormatan, dan …apalagi de? Coba sebutkan!. Anda lihat, pemeliharaan aqidah itu harus diprioritaskan, karena berdasarkan urutannya, agama menempati posisi yang paling utama. Jadi, agama dan akidah itu harus dipelihara dari pengrusakan dan pencemaran. Sedangkan narkoba itu kaitannya dengan masalah jasmani dan akal. Namun urutannya masih dibawah pemeliharaan agama.

Soal manhaj, apa yang dipakai Anda selama ini?

Saya hanya memakai manhaj yang sesuai dengan tuntunan Rasul. Saya berusaha mengamalkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu mengembalikan segala sesuatu kepada Allah dan Rasu-Nya melalui pemahaman para sahabatnya.

Maraknya organisasi dan jama’ah yang berkembang di Indonesia khususnya, seringkali masing-masing dari mereka menyatakan bahwa jama’ah merekalah yang paling benar, menurut Bapak, standar jama’ah yang benar itu bagaimana?

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa yang dikategorikan jama’ah yang benar itu adalah yang berdiri diatas pondasi kebenaran (al-haqq) meskipun hanya seorang. Jadi, tidak ditentukan oleh kuantitas, tetapi landasan yang dipakai. Apakah dia itu membela Al-Haqq ataukah malah menghantamnya. Itulah kriterianya. Dan standar yang dipakai itu adalah kesesuaiannya dengan pedoman AlQuran dan Sunnah.

Disini yang harus diperhatikan adalah, meskipun banyak yang mengklaim jama’ahnya yang paling benar, itu tergantung. Apakah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah atau tidak.

Bagaimana kita bisa mendialogkan sebuah ide dan membenturkannya dengan ide atau pemikiran yang berseberangan?

Dalam Islam itu, antara ayat dengan pikiran itu tidak ada yang bertolak belakang (ta’arudl). Ketika kita mampu dan pandai mengurutkan itu semua dari yang ushul, furu’, ibahah, lalu bisa menerapkan kedudukannya masing-masing. Maka kita harus yakin, bahwa sesungguhnya pemikiran yang bathil itu lemah, seperti yang Alquran personifikasikan ,”wainna awhanal buyuti labaitul ‘ankabut”, sesungguhnya yang paling lemah itu adalah sarang laba-laba, kebathilan itu diumpakan sarang laba-laba yang lemah. Jadi, bukan saya merasa paling pintar dan paling benar, tapi karena AlQuran sendiri yang mengatakan demikian, maka dalam menghadapi yang lemah itu kita tidak perlu takut dan gentar. Santai saja. Untuk menghancurkan sarang laba-laba itu kan dicentring pake satu jari saja bisa rusak. Apalagi kita punya jari sepuluh. Iya, kan..?! Dan kita mesti ingat bahwa didalam AlQuran sendiri, Allah SWT menyatakan, ”In tanshurullaha yanshurkum wayutsabbit aqdamakum”.

Apa sebenarnya faktor-faktor yang menyebabkan ketergelinciran pemikiran itu sendiri?

Dalam hal ini, ada sinkronisasi antara yang berpikir tradisional dengan liberal, yaitu dalam hal metode pengambilan kesimpulan hukum. Orang liberal itu menggunakan metode sosiologi agama, atau antropologi agama. Mereka yang notabene Barat menggangap bahwa agama itu hanyalah fenomena sosial. Maka untuk memahami agama itu dengan memahamai keadaan dan kondisi di masyarakat. Istidlal mereka itu adalah menggunakan fenomena sosial. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah pernyataan Pak Munawwir Syazdali (mantan menteri Agama) bahwa waris yang adil antara laki-laki dan perempuan itu satu berbanding satu. Karena beliau melihat gejala di Solo (Jawa Tengah), laki-laki tidak bekerja, sedangkan perempuan bekerja di Pasar. Maka beliau mempertanyakan keadilan waris Islam, kok malah laki-laki yang lebih banyak mendapatkan warisan dengan dua berbanding satu.

Nah, cara berpikir yang dipakai beliau itu adalah metode induktif. Sedangkan metode induktif seperti ini tidak ada dalam Islam karena ada dalil AlQuran yang menyebutkan “wa in tuthi’ aktsara man agfala yudhilluka ‘an sabilillah”.. Sedangkan, metode berpikir yang dipakai dalam Islam itu adalah metode deduktif. Jika ada suatu masalah, maka harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya (Quran Sunnah). “..Fain tanaza’tum fi syai’in farudduhu ilallahi warasulih…”Annisa ayat 59.

Gejala lain dikalangan tradisionalis Islam adalah, adanya gejala taklid. Sebuah gejala yang cukup akut, yaitu selalu menyandarkan suatu pekerjaan bukan kepada dalil, tetapi kepada Kyai, si Anu, dan sebagainya.

Jadi, dua hal itu tadi adalah fenomena yang cukup sinkron. Dua hal yang menyandarkan sesuatu bukan kepada dalil. Nah, ketika kita melihat banyak kader-kader yang berpikir liberal itu dulunya berasal dari didikan tradisional, maka teori yang saya kemukakan itu sesuai dengan realita yang kita saksikan sekarang.

Setelah bapak menyaksikan dalam beberapa kali melakukan dialog dengan Mahasiswa Kairo yang heterogen ini, bagaimana bapak menilai mereka?

Ya, paling tidak saya melihat ada dua kubu yang berbeda. Salah satunya adalah kubu yang konsisten memegang prinsip-prinsip berpikir Islam. Semacam Pak Muchlis Hanafi yang masih dapat menjaga kaidah-kaidah berpikir yang ada dalam Islam. Tetapi, ada juga dari kalangan sebagian mahasiswa yang cara berpikirnya sudah tidak tertata. Hemat saya, mereka itu harus memperbaiki cara berpikir mereka. Yang saya heran, mereka itu adalah kader-kader yang notabene Al-Azhar, dan kader Islam secara umum. Saya pikir, AlQuran itu sudah jelas menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah itu adalah orang yang berilmu. Semakin berilmu, semakin takut kepada Allah. “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”. Semakin berilmu, semakin mampu membedakan yang haq dan bathil. Sekecil dan sesamar apapun kebatilan, bagi orang yang berilmu itu mudah dideteksi. Jadi, saya harapkan kepada orang-orang yang lurus, supaya bisa membimbing mereka yang pikirannya belum tertata dengan baik.

Terakhir, apa pesan Anda terhadap Mahasiswa Al-Azhar pada umumnya dengan dinamika masisir yang Anda saksikan?

Saya hanya ingin berpesan, bahwa tugas Mahasiswa disini adalah sebagai duta agama. Yang disitir dalam AlQuran sebagai “Thaifah mutafaqqihina fiddin”. Yang setelah terjun ke masyarakat nanti, tugasnya yaitu, memberi peringatan kepada masyarakat dengan ilmu yang telah didapatkan, mengingatkan, menasihati, mengajak dan menuntun mereka kejalan yang lurus. Bukannya malah “yudhillu qaumahum”, menyesatkan mereka. Bukan saya memplesetkan ayat, tapi maksud saya, bahwa untuk memberi peringatan kepada masyarakat itu kan perlu membekali diri dulu dengan pemahaman yang benar terhadap agama ini. Sebab, jika sejak awal pemahaman terhadap agama itu sudah salah, maka nantinya justru akan kacau.

Dan juga, hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kalian sebagai calon-calon ulama itu mempunyai beban yang berat, tetapi sangat mulia. Saya khawatir, jika kondisi pemahamannya rusak, maka amanat yang sangat mulia itu berubah menjadi bencana. Oleh karena itu, untuk memelihara amanat yang agung itu, perlu dibenahi dahulu pola pikirnya supaya tertata dengan baik.

Saya jadi teringat pesan Ibnu Sirin, salah seorang tabi’in dalam Kitab Sahih Muslim, “Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil ilmu itu.” Artinya, arah pemikiran dan agama itu ditentukan juga dengan subjek ilmu. Kita harus memilih orang yang layak disebut ulama. Jangan asal pilih dan asal ambil. Sumber bacaan juga sangat menentukan arah berpikir kita. Jadi, kita harus selektif dan jangan asal ambil saja. (Rizz_hkiem!)


One comment on “Wawancara Dengan Bpk. Hartono A. Jaiz

  1. Ping-balik: Nahi Munkar » Blog Archive » Ahmadiyah dan Kesesatan Lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s