Al Fakhru Al-Razi’

Al-Fakhru Al-Râzî:

Upaya mengenal sosok ulama (mufassir) sekaligus ilmuwan (mutakallim)*

Oleh Arif Rahman Hakim*

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Pendahuluan

Sebagai salah satu khazanah ilmu pengetahuan islam, tafsir menduduki posisi yang sangat urgen sekali. Pasalnya, ia memiliki fungsi untuk mempelajari kata demi kata dan susunan kalimat ayat-ayat al-Qur’an guna mengetahui maksud Allah dalam memfirmankan ayat-ayat-Nya.[1] Pemahaman terhadap maksud tersebut berimbas kepada pengaplikasian ayat-ayat al-Qur’an —terutama ayat-ayat tentang hukum. Jika salah dalam memahami maksud dari suatu ayat maka tentu akan mengakibatkan salahnya pengaplikasian dari ayat tersebut, dan tentu saja itu adalah kesalahan yang fatal.

Berdasarkan kepada dasar yang dijadikan patokan dalam menafsirkan al-Qur’an, di dalam istilah ilmu tafsir, tafsir dibagi menjadi dua macam yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ma’tsur berdasarkan kepada, pertama, ayat al-Qur’an lainnya yang semakna dan mengandung penjelasan dari ayat yang dimaksud. Kedua, berdasarkan kepada hadits-hadits Nabi Saw., shahabat dan tabi’in (generasi umat islam awal) yang terjamin ke-shahîh-annya.[2]

Sedangkan tafsir bi al-ra’yi, tafsir ini berdasarkan kepada ijtihad seorang mufassir dalam menafsirkan suatu ayat.[3] Dan tentu saja ijtihad tersebut bertopang kepada ilmu-ilmu yang bisa dijadikan pijakan dalam menafsirkan al-Qur’an, seperti ilmu bahasa Arab misalnya yang meliputi nahwu, sharf, balaghah dan lain sebagainya.[4] Selain itu juga mufassir tersebut haruslah memenuhi beberapa syarat tertentu yang membuatnya layak dan pantas untuk menafsirkan al-Qur’an dengan ijtihadnya.[5]

Setiap ijtihad tentu tidak luput dari benar atau salah. Karena kemampuan berpikir manusia yang terbatas. Terlebih lagi jika emosi (hawa nafsu) sudah intervensi dalam kegiatan berpikir, maka emosilah yang akan menguasai pikiran dan akan menghasilkan pikiran-pikiran yang mengikuti emosi dan tentu saja hal itu akan jauh dari kebenaran. Itulah yang terjadi dengan tafsir bi al-ra’yi. Tidak sedikit dari para ahli bid’ah yang membut tafsir al-Qur’an dengan mengutamakan akal mereka yang tidak bersandarkan kepada ilmu pengetahuan yang seharusnya. Mereka lebih diwarnai dengan keinginan mereka memperkuat pendapat alirannya. Hawa nafsu yang lebih dominan mewarnai tafsir mereka, sehingga tafsir semacam ini mendapatkan stempel atau label tafsir bi al-ra’yi al- madzmûm dari para ulama ahli tafsir. Untuk tafsir bi al-ra’yi al-madzmûm ini bisa kita ambil contoh seperti Tanzîhu al-Qur’ân ‘ani al-Mathâ’in karya al-Qadhi Abdu al-Jabbar seorang mu’tazili. Isinya memperkuat akidah mu’tazilah, sehingga tidak segan-segan penulisnya menjelaskan makna ayat-ayat mutasyabihât dan mengkritik penafsiran ahli sunnah yang tidak menggunakan akal dalam menafsirkan al-Qur’an.[6]

Tetapi adanya tafsir-tafsir yang lebih mengutamakan untuk memperkuat pendapat-pendapat aliran mereka itu, tentu tidak menafikan adanya tafsir bi al-ra’yi yang objektif dan sesuai dengan akidah yang benar. Karena memang berdasarkan kepada dasar dan pijakan ynag jelas yaitu ilmu. Sehingga para ulama menamai tafsir semacam ini deengan tafsir bi al-ra’yi al-mamdûh. Dan diantara tafsir semacam ini ialah al-tafsîr al-kabîr Mafâtîh al- Ghaib karya seorang mufassir sekaligus mutakallim besar syaikh Fakhru al-Dîn al-Râzî.

Biografi

Fakhru al-Dîn al-Râzî adalah gelar (laqab) seorang ulama besar yang bernama Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husen bin al-Hasan, bin Ali al-Tamimi al-Bakri al-Qurasyi al-Thabarstani al-Razi al-Syafi’i. Selain dikenal dengan gelarnya Fakhru al-Dîn ia pun dikenal juga dengan nama Ibn Khathib al-Ray, karena ayahnya terkenal sebagai seorang khatib di al-Ray.

Ia dilahirkan di kota al-Ray[7] pada tanggal 25 Ramandhan tahun 544 H. Dirinya dinisbahkan ke al-Bakri, karena ia adalah salah seorang keturunan sahabat Rasulullah sekaligus al-Khulâfa al-Râsyidîn yang pertama Abu Bakar al-Shidiq.[8] Maka selain itu ia pun dinisbahkan juga kepada al-qurasyi karena memang ia pun keturunan bangsa quraisy sebagaimana nenek moyangnya Abu Bakar. Dan Al-Razi[9] merupakan nisbah kepada tempat kelahirannya yaitu al-Ray. Ia pun dinisbahkan kepada al-Syafi’i karena selain bermadzhabkan syafi’i di dalam fikihnya, ia pun salah seorang ulama yang tercantum dalam al-thabaqât al-syâfi’iyyah. Ini menandakan ia termasuk salah seorang ulama besar madzhab syafi’i.

Perjalanannya dalam mencari ilmu

Al-Fakhru al-Râzî dikenal sebagai seorang ulama yang ahli di segala bidang ilmu, ini menunjukkan banyaknya bidang ilmu yang digelutinya selain itu juga menandakan gurunya yang banyak dan bergudang-gudang buku yang telah habis di bacanya.

Di dalam pencarian ilmunya, ia tidak hanya singgah di satu tempat saja. Bermula dari kota kelahirannya al-Ray, kemudian pindah ke Khurasan[10], lalu ke Bukhara[11] kemudian ke Irak, dan Syam. Tetapi ia paling lama tinggal di negeri Khawarizm lalu kemudian diam menetap di kota Harah[12] sampai wafatnya.

Ia pertama kali berguru kepada ayahnya sendiri Dhiya al-Dîn yang lebih dikenal dengan gelarnya yaitu Khathib al-Ray.

Setelah ayahnya meninggal dunia, ia berguru kepada al-Kamal al-Sam’ani walaupun tidak lama. Lalu ia pun kembali ke al-Ray dan mulai mempelajari ilmu hikmah. Dalam mempelajari ilmu ini ia berguru kepada Majdu al-Din al-Jabali salah seorang ulama besar di zamannya. Cukup lama ia berguru kepada Majdu al-Din al-Jabali, karena selain ilmu Hikmah yang dipelajari darinya, ilmu kalam pun ia pelajari.[13]

Setelah membaca dan menguasai ilmu-ilmu pokok dan dasar seperti fikih, ushul fikih dan lainnya, barulah ia mulai mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu thabî’ah lainnya seperti kedokteran, ilmu falak dan kimia. Ia pergi ke Khurasan. Di sana ia membaca dan mempelajari karya-karya Ibnu Sina dan Al-Farabi.[14]

Perlu diketahui bahwa di dalam mempelajari ilmu kalam jika dirunut rangkain sanadnya mulai dari ayahnya sampai ke guru-guru di atasnya akan sampai langsung ke Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagaimana yang ia sebutkan di dalam kitabnya Tahshil Al-Haq, seperti berikut ini:

Al-Fakhru al-Râzî dari ayahnya Dhiya al-Din, ayahnya dari Abu al-Qasim Sulaiman bin Nashir al-Anshari, Abu al-Qasim dari Imam al-Haramain Abu al-Ma’ali al-Juwaini, Imam al-Haramain dari Abu Ishaq al-Isfirayaini, Abu Ishaq dari Abu al-Husen al Bahili, Abu al-Husen dari syaikh al-Sunnah Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, Al-Asy’ari dari Abu Ali al-Jubai seorang mu’tazili tetapi kemudian al-Asy’ari kembali ke madzhab ahli sunnah wa al-jama’ah yang ia yakini kebenarannya.[15]

Demikian juga di bidang fikih jika dirunut guru-guru ke atasnya maka akan sampai kepada imam al-Syafi’i, seperti berikut:

Al-Fakhru al-Râzî dari ayahnya, ayahnya dari Abu Muhammad al Husen bin Mas’ud al-Fara al-Baghawi, al-Baghawi dari al-Qadhi Husen al-Maruzi, al-Maruzi dari al-Qafal al-Maruzi, al-Qafal dari Abu Yazid al-Maruzi, Abu Yazid dari Abu Ishaq al-Maruzi, Abu Ishaq dari Abu Abbas bin Rabih, Abu Abbas dari Abu al-Qasim al-Anmathi, al-Anmathi dari Abu Ibrahim al-mazani dan al-mazani dari imam al-Syafi’i.[16]

Perhatiannya terhadap ilmu kalam bisa dibilang tinggi terbukti dengan dihapalnya seluruh isi kitab al-Syâmil karya Imam al-Haramain tentang ilmu kalam, di luar kepala.

Khawarizm termasuk salah satu tempat yang disingahinya dalam rangka menuntut ilmu. Tetapi tidak seperti sebelumnya dimana ia belajar dengan cara berguru kepada seorang syaikh, di sini ia menuntut ilmu dengan cara langsung berinteraksi dan banyak mengadakan dialog dengan penduduk negeri itu. Banyak sekali tema-tema dialog yang ia pilih dengan penduduk di sana diantaranya tentang ilmu kalam, madzhab dan akidah. Cara seperti ini ia lakukan juga ketika ia singgah di daerah ma wara al-Nahar (daerah seberang sungai Jihun di Khurasan).

Sebelumnya al-Fakhru al-Râzî adalah seorang yang bisa dikatakan miskin. Kehidupannya begitu sederhana, tetapi ketika ia keluar dari Bukhara dan saat menuju ke Khurasan kebetulan ia bertemu dengan Muhammad bin Tukusy sultan Khawarizm pada waktu itu. Ketika sultan bertemu dengannya dan mengetahui keilmuannya yang begitu luas dan mendalam sang sultan pun menjadikan dan mengangapnya sebagai kerabat dekat sehingga hal tersebut jelas mengangkat derajat sosial al-Fakhru al-Râzî. Ia pun diberi banyak harta. Setelah kaya ia pun menetap di Harah sampai wafatnya.

Kiprahnya dalam mengajar dan karya-karyanya

Al-Fakhru al-Râzî adalah salah seorang ulama yang paling hebat dan unggul di zamannya. Ia banyak menguasai berbagai disiplin ilmu seperti tafsir, fikih, ushul fikih, ilmu kalam, hikmah, filsafat, kedokteran, ilmu falak, juga ilmu bahasa. Bahkan bukan hanya syair-syari bahasa Aarab saja yang ia rangkai dengan begitu indahnya, bahasa persia pun ia jadikan sebagai alat untuk mengungkapkan perasaannya dalam rangkaian syair yang indah.

Ilmu-ilmu naql maupul aql ia kuasai sehingga tidak berlebihan jika banyak sekali para pelajar yang berbondong-bondong untuk belajar dan menuntut ilmu darinya.

Setiap kali al-Fakhru al-Râzî mengadakan majlis pengajaran, pasti tempatnya akan dipenuhi oleh murid-muridnya dari segala daerah. Di barisan terdepan ia dikekelingi oleh murid-murid seniornya, diantaranya seperti Zainu al-Din al-Kasysyi, al-Quthb al-Mishri, dan Syihabu al-Din al-Naisaburi.

Pada barisan kedua dan selanjutnya dikekelingi oleh para penuntut ilmu dimana setiap barisan menunjukkan tingkatan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki si murid.

Kegiatannya dalam mengajar, difasilitasi oleh pemerintah ketika itu. Pihak kerajaan banyak membangun sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk kegiatan mengajarnya.

Selain majlis pengajaran di mana ia mengajarkan ilmu-ilmunya, ia pun sering kali mengadakan majlis pengajian umum untuk semua orang. Majlisnya ini kerap kali dihadiri oleh para raja dan pembesar juga pejabat kerajaan di samping rakyat jelata yang sama-sama ingin mendengarkan nasehat-nasehatnya yang bisa menenangkan hati mereka dan menghilangkan dahaga spiritual yang mereka alami. Lisannya yang fasih, susunan bahasanya yang indah dan ilmunya yang dalam membuat orang-orang termangu-mangu setiap kali mendengarkan nasehat-nasehatnya.

Seorang ulama besar tintanya tidak akan pernah kering untuk menorehkan seluruh pengetahuannya ke atas kertas. Itulah yang dilakukan al-Fakhru al-Râzî, entah sudah berapa liter tinta yang dihabiskannya untuk mencurahkan ilmu-ilmunya ke atas kertas agar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia, terutama oleh para generasi setelahnya.

Banyak sekali karya-karyanya di segala bidang pengetahuan yang dikuasainya. Berikut karya-karya al-Fakhru al-Râzî menurut bidang ilmu yang digelutinya:[17]

Tafsir:

1. Al-Tafsir Al-Kabir Yang Diberi Nama Mafatih Al-Ghaib

2. Tafsir Al-Fatihah Yang Ia Tulis Secara Terpisah Dari Tafsir Kabirnya

3. Al-Tafsir Al-Shagir Yang Diberi Nama Asrar Al-Tanzil Wa Anwar Al-Ta’wil

Ilmu Kalam Dan Filsafat:

1. Nihayatu Al-‘Uqul

2. Zabdatu Al-Afkar Wa ‘Umdatu Al-Nazhar

3. Al-Thariqah Fi Al-Jadal

4. Mabahits Al-Wujud Wa Al-Adam

5. Mabahits Al-Jadal

6. Al-Thariqah Al-‘Alaiyah Fi Al-Khilaf

7. Risalah Fi Al-Huduts

8. Mushadarat Eqlides

9. Al-Muhasshal Fi ‘Ilmi Al-Kalam

10. Thariqatun Fi Al-Khilaf

11. Risalah Jauhar Al-Fard

12. Al-Zabdah Fi ‘Ilmi Al-Kalam

13. Al-Mulakhkhash Fi Al-Falsafah

14. Al-Bayan Wa Al-Burhan Fi Al-Radd ‘Ala Ahli Al-Zaigh Wa Al-Thugyan Fi ‘Ilmi Al-Kalam

15. Tahshil Al-Haq

16. Tahdzibu Al-Dalail Wa ‘Uyunu Al-Masail Fi ‘Ilmi Al-Kalam

17. Irsyadu Al-Nazhair Ila Lathaifi Al-Asrar Fi ‘Ilmi Al-Kalam

Kedokteran Dan Fisika:

1. Muntakhab Tinklusya

2. Al-Nabdh

3. Fi Al-Hindasah

4. Fi Al-Raml

5. Masail Al-Thibb

6. Al-Jami’ Al-Kabir Fi Al-Thibb (Tidak Selesai)

7. Al-Tasyrih Mina Al-Ra’si Ila Al-Halqi

8. Syarhu Kuliyati Al-Qanun

Hikmah:

1. Lubabu Al-Isyarat

2. Al-Mathalib Al-‘Aliyah Fi Al-Hikmah

3. Siraju Al-Qulub

4. Syarhu Al-Isyarat

5. Al-Akhlaq

6. Al-Riyadh Al-Muannaqah

7. Syarhu Nahji Al-Balaghah (Tidak Selesai)Risalah Fi Dzammi Al-Dunya

Fikih Dan Ushul Fikih:

1. Al-Ma’alim Fi Ushuli Al-Fikih

2. Tanbihu Al-Isyarah Fi Al-Ushul

3. Al-Mahshul Fi Al-Fiqh

4. Al-Mahshul Fi ‘Ilmi Ushuli Al-Fiqh

5. Abthalu Al-Qiyas (Tdk Selesai)

Tauhid:

1. Al-Ma’alim Fi Ushulu Al-Din

2. Al-Arba’in Fi Ushuli Al-Din

3. Tafsir Asmai Al-Lah Al-Husna

4. Lawami’ Al-Bayyinat Fi Tafsir Asmai Al-Lahi Wa Al-Shifat

5. Al-Qadha Wa Al-Qadar

6. Al-Khalqu Wa Al-Ba’tsu

7. ‘Ushmatu Al-Anbiya

8. Al-Ikhtiyarat Al-‘Alaiyyah Fi Al-Ta’tsirat Al-Samawiyyah

9. Al-Ayatu Al-Bayyinat

10. Al-Maudi’ah Fi Ba’dhi Suwari Al-Qur’an

11. Al-Khamsin Fi Ushuli Al-Din

12. Risalah Fi Al-Nubuwat

13. Dirastu Al-Ijaz Fi Dirayati Al-I’jaz

Lain-Lain:

1. Syarhu Al-Mufashshal Li Al-Zamakhsyari (Tidak Selesai)

2. Syarhu Wajizi Al-Ghazali (Tidak Selesai)

3. Syarhu Saqti Al-Zanad (Tidak Selesai)

4. Muakhadzatu Al-Nuhah

5. ‘Uyunu Al-Masail Al-Najariyah

6. Al-Mabahits Al-‘Imadiyah Fi Al-Mathalib Al-Ma’adiyah

7. Al-Firasah

8. Risalah Fi Al-Tanbih ‘Ala Ba’dhi Al-Asrar

9. Al-Milal Wa Al-Nihal

10. Ihkamu Al-Ahkam

11. Naftsah Mashdur

12. Al-Risalah Al-Majdiyah

13. Al-Risalah Al-Shahibiyyah

14. Syifau Al-‘Ayi Mina Al-Khilaf

15. Al-Lathaif Al-Ghiyatsiyah

16. Fadhail Al-Shahabah Al-Rasyidin

17. Risalah Fi Al-Su’al

18. Ta’sisu Al-Taqdis

19. Manaqib Al-Imam Al-Syafi’i

20. Al-Mabahits Al-Masyriqiyyah

21. Dll.

Komentar Para Ulama

Seorang yang hebat seperti al-Fakhru al-Râzî ini tentu tidak akan terlepas dari komentar para ulama lainnya baik yang sezaman ataupun generasi sesudahnya. Baik itu komentar yang baik maupun yang buruk.

Diantaranya, al-Daudi di dalam Thabaqât al-Mufassirîn sangat memuji beliau ia mengatakan bahwa al-Fakhru al-Râzî adalah seorang yang paling ahli atau mumpuni di bidang ilmu-ilmu akal di zamannya dan pemikiran juga salah seorang ahli ilmu syari’at.

Tidak tanggung-tanggung ia pun mengatakan bahwa al-Fakhru al-Râzî merupakan salah seorang mujaddid yang diutus Allah di setiap awal abad,[18] sebagaimana bunyi hadits Nabi Saw.[19]

Berbeda dengan komentar Syihabu al-Din Abu Syamah dalam kitabnya al-Dzail, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya yang terkenal, bahwa menurutnya tidak ada komentar yang menerangkan tentang kelebihannya. Ia sering bersama-sama dan menemani para penguasa ketika itu dan menyenagi keduniaan. Menurutnya itu bukanlah karakter seorang ulama. Oleh karena sifatnya itu, banyak celaan yang dilontarkan kepadanya. Ditambah lagi dengan ucapan-ucapannya yang dianggap tidak sopan, seperti perkataannya ketika menyebut nama nabi Muhammad Saw dengan sebutan Muhammad al-Badi (seorang baduy).[20]

Komentar terhadap seseorang apalagi seorang ulama besar yang tentunya menjadi sorotan setiaporang, baik itu yang baik maupun yang buruk merupakan hal yang wajar. Selama komentar tersebut berdasarkan hal-hal yang obyektif.

Memang benar bahwa al-Fakhru al-Râzî dekat dengan para penguasa pada waktu itu. Tetapi hal tersebut bukanlah hal yang negatif karena kedekatannya itu bukan karena tujuan yang negatif. Dan perlu diketahui bahwa yang melakukan pendekatan bukanlah dari pihaknya, melainkan dari penguasa itu sendiri. Dan kedekatan mereka dengannya itu diakrenakan kagum akan kebesaran dan ketingian ilmunya, dan bukan karena yang lainnya (hal-hal yang bersifat politis).

Kaya bukan berarti cinta dunia. Karena cinta dunia yang menghinakan itu ialah kecintaan terhadap dunia yang melebihi segalanya hatta cinta kepada Allah sekali pun. Kekayaan yang dimiliki oleh al-Fakhru al-Râzî dari sultan Khawarizm waktu itu merupakan anugrah dari Allah yang patut disyukuri. Karen toh ia mendatkan harta yang melimah itu karena kesenangan sang sultan kepadanya sebagai ulama besar pada zamannya.

Menjelang Wafatnya

Setelah ia bergelut begitu lama dengan ilmu kalam dan filsafat, ia baru menyadari akan kelemahan metode-metode ilmu tersebut di dalam mencapai kebenaran. Ia pun menyesal karena telah begitu mendalam mempelajarinya. Penyesalannya itu terungkap sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Shalah. Bahwa ia pernah mendengar al-Quthb al-Thaughani berkata, bahwa ia pernah mendengar al-Fakhru al-Râzî mengungkapkan penyesalannya. Al-Fakhru al-Râzî berkata sambil menangis: “Andaikan aku tidak pernah mempelajari dan bergelut dengan ilmu kalam sebelumnya.[21]

Ibnu Katsir mengutip penjelasan Ibnu al-Atsir mengenai penyesalan al-Fakhru al-Râzî mengenai dirinya yang begitu seriusnya mempelajari ilmu kalam. Dalam penjelasan itu diterangkan bahwa al-Fakhru al-Râzî berkata:

Aku telah sering menggunakan metode-metode ilmu kalam dan filsafat, dan aku tidak pernah mendapatkan metode tersebut bisa menghilangkan dahaga bagi yang haus dan menyembuhkan rasa sakit orang yang sakit. Dan menurutku sebaik-baiknya metode adalah metode yang disuguhkan al-Qur’an. Bacalah tentang metode itsbat[22] (affirmasi) dalam firman Allah:” (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy“. (QS. 20:5). Juga dalam firman-Nya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya“.(QS. 35:10(.

Dan bacalah tentang metode nafi (negasi) dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia“. (QS. 42:11) dan firman-Nya: “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)“. (QS. 19:65)[23]

Selain penyesalannya, saat sakit (menjelang wafat) ia sempat berwasiat yang didiktekan kepada muridnya Ibrahim bin abu Bakar al-Ashfahani yang berisikan dua poin besar.

Pertama, bahwa tulisan dan karyanya yang begitu banyak sehingga ia sendiri pun tak tahu berapa jumlahnya juga ia pun tak tahu apakah tulisan dan karyanya itu sudah terjamin kebenarannya ataupun belum, maka ia berwasiat kepada siapa saja yang membacanya lalu menemukan dan terbukti bahwa apa yang ditulisnya itu benar, maka ia meminta agar orang tersebut mendo’akan kebaikan untuknya. Tetapi jika sebaliknya ditemukan kesalahan dari tulisannya itu, maka hendaklah dibuang dan jangan diikuti.

Kedua, ia mewasiatkan agar semua orang memperhatikan perawatan dan pendidikan anak-anak juga tidak lupa ia mengingatkan tentang menjaga aurat. Maka ia berpesan tentang hal itu bahwa hendaklah semua orang dalam menjalankan tugas berat itu bertawakkal kepada Allah kemudian meminta bantuan kepada penguasa (pemerintah).

Dari isi wasiatnya di atas kita bisa menepis komentar sebagian ulama terhadapnya yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang cinta dunia. Ketika ia lebih mengutamakan kebenaran dari pada kemasyhuran namanya, ia rela orang lain mengkritik dan mengoreksi kembali semua tulisannya dan dengan lapang dada menerima jika memang ada kesalahan yang terdapat dalam hasil penelitiannya itu selama ini.

Di samping itu perhatiannya yang besar terhadap pendidikan masyarakat luas yag ia titiktekankan pada pendidikan anak-anak dan moral pada waktu itu, menggambarkan bahwa al-Fakgru al-Razi bukan seorang yang egois. Karena salah satu ciri seorang pecinta duni adalah ia hanya memperhatikan keuntungan dirinya sendiri saja tanpa pernah mau memeperhatikan keadaan orang lain di sekitarnya.

Setelah sakitnya itu, Al-Fakhru al-Râzî kemudian wafat. Ia wafat di Harah pada hari senin tanggal 1 Syawal (‘Idul Fitri) tahun 606 H.

Ibnu Katsir mengutip penjelasan Syihabu al-din Abu Syamah tentang sebab kematian al-Fakhru al-Râzî. Ia menyebutkan bahwa sebabnya ialah karena racun yang dimasukkan ke dalam minuman al-Fakhru al-Râzî oleh sekte al-Karamiyah yang bermusuhan dengannya. Mereka sering saling menghujat satu sama lain. Al-Fakhru al-Râzî sering memperlihatkan kesalahan-kesalahan keyakinan mereka itu dan mencelanya. Mereka pun naik pitam dan akhirnya berencana untuk membunuhnya dengan memasukkan racun ke dalam minumannya. Dan akhirnya rencana mereka itu berhasil. Al-Fakhru al-Râzî pun meninggal dunia.[24]

Situasi dan Kondisi Sosio-Politik

Lahirnya Dinasti Saljuk (bangsa Turki) pada abad kelima hijriyah berbarengan dengan maraknya aliran-aliran pemikiran yang saling berbentrokan satu sama lain. Seperti ahli sunnah, syi’ah, mu’tazilah, filsafat, dan tasawwuf.

Pada abad ini Dinasti Abbasiyah yang semula sebagai penguasa dunia islam, sedang berada dalam tahap paling kritis dari masa-masa kemundurannya. Di mana syi’ah (sebagai sebuah negeri kecil) sudah berhasil menguasai daerah-daerah kekuasaan yang strategis. Dan terus mendesak untuk menguasai Irak secara keseluruhan.

Tetapi hal tersebut masih bisa terbendung karena Dinasti Abbasiyah ketika itu masih mempunyai seorang pemimpin yang tangguh yaitu al-Qâdir. Hal tersebut ternyata tak berlangsung lama, setelah al-Qâdir meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya al-Qâ’im, kembali situasi mulai memanas dan merongrong kekuasan Dinasti Abbasiyyah. Karena ia tidak setangguh ayahnya.

Ia tidak bisa membendung pemberontakan Dinasti Buwaih (syi’ah) pada masa tersebut.

Munculnya Dinasti Saljuk ke pentas sejarah ikut mewarnai suasana politik ketika itu. Mereka sudah menguasai beberapa daerah strategis seperti al-Ray, Jurjan, Thabarstan, Khawarizm, Qazwain, Asfahan, Hamdan, Syiraz, Azarbejan dan sisanya masih dikuasai oleh kerajaan Dinasti Buwaih.

Akhirnya kesempatan untuk menguasai daerah-daerah yang mereka idamkan itu datang juga. Pasalnya al-Qâim khalifah Dinasti Abbasiyah waktu itu meminta bantuan bala tentara kepada kerajaan Dinasti Saljuk untuk membantunya membendung aksi revolusi yang digelar oleh orang-orang syi’ah. Dengan kesempatan itu mereka bisa masuk ke Bagdad dan mengusir Dinasti Buwaih dari sana.

Dari segi keyakinan Dinasti Saljuk ini menganut paham ahli sunnah. Hal itu disebabkan karena mereka pertama kali belajar islam kepada para ulama sunni. Dan pencetus gerakan islamisasi Dinasti Saljuk ini adalah seorang ulama sunni al-Mâtûridî.

Selain itu dari segi politik mereka akan mendapatkan banyak pendukung dari para ulama sunni untuk melawan musuh-musuh mereka dan yang paling utama ialah syi’ah.

Mereka sangat memperhatikan gerakan-gerakan ahli sunnah. Mereka banyak membangun sekolah-sekolah untuk tempat para ulama sunni mengajar dan menyebarkan ilmunya.

Singkatnya para raja Dinasti Saljuk ini sangat memperhatikan kegiatan keilmuan para ulama khusunya para ulama sunni. Karena paham itulah yang mereka terima ketika pertama kali mempelajari islam.[25]

Maka tidak aneh kalau al-Fakhru al-Râzî mendapatkan perhatian yang khusus dari raja Turki pada waktu itu yaitu Muhammad bin Tukusy. Karena al-Fakhru al-Râzî sebagai seorang ulama sunni juga disebabkan oleh keilmuannya yang begitu luas, membuat simpati para raja dan pejabat yang berkuasa pada waktu itu.

Pada abad tersebut, umat islam sudah kaya dengan literatur. Mulai dari literatur ilmu-ilmu syari’at seperti fikih, ushul fikih, tafsir; ilmu kalam; filsafat; ilmu-ilmu thâbi’ah seperti biologi, ilmu falak, fisika, kimia, kedokteran sampai say’ir-say’ir indah.

Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut diantaranya adalah imbas dari perpecahan daerah kekuasaan dan perpecahan umat menjadi beberapa sekte dan aliran pemikiran. Dengan banyaknya kerajaan-kerajaan kecil itu membuat mereka saling bersaing satu sama lain. Demikian juga setiap aliran dan sekte yang ada saling berlomba-lomba menghasilkan karya-karya baru untuk membantah pemikiran lawannya. Sehingga tidak aneh kalau umat islam pada saat itu mempunyai banyak literatur. Di samping juga warisan dari gerakan-gerakan penerjemahan buku-buku asing pada masa-masa sebelumnya tentu tidak bisa kita lewatkan peranannya sebagai langkah awal dalam memperkaya literatur-literatur yang ada juga menstimulus para pemikir dan ilmuwan pada masa itu untuk memodifikasi dan memasukan pemikiran mereka ke dalam karya barunya.

Al-Fakhru al-Râzî dan Tafsir al-Qur’an

Sebagai seorang ulama besar, ia tidak melupakan al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan sekaligus obyek penelitiannya.

Dr. Abu Syuhbah mengungkapkan bahwa yang menjadi sebab al-Fakhru al-Râzî menyusun tafsirnya ialah diantaranya untuk menjelaskan betapa tingginya hikmah al-Qur’an jika dibandingkan dengan metode filsafat dan ilmu kalam, dan hanya Qur’an lah yang mampu menunjukkan manusia kepada jalan yang benar dengan pasti dan terjaga dari kesalahan.[26]

Ia pun mengutip perkataan al-Fakhru al-Râzî yang menunjukkan hal tersebut:

Aku telah mencoba metode-metode ilmu kalam dan filsafat, ternyata tidak aku temukan dari metode-metode tersebut faedah yang aku temukan dalam al-Qur’an. Karena al-Qur’an menunjukkan kepada manusia untuk berserah diri akan keagungan dan kemuliaan Allah Swt. Dan melarangnya untuk lebih jauh tertarik ke jurang pertentangan. Selain itu, al-Qur’an pun menerangkan bahwa akal sehat manusia akan hilang bersamaan dengan semakin tenggelamnya ke dalam pencarian kebenaran dengan metode yang lemah.[27]

Di dalam tafsirnya, al-Fakhru al-Râzî mengerahkan segala pemikirannya untuk membela akidah yang benar dan melawan pemikiran-pemikiran lain yang mencoba menganggu gugat akidah islam yang yang sudah terbukti kebenarannya itu. Karena mereka menggunakan akal dalam berargumen, maka ia pun menggunakan metode yang sama yang digunakan oleh para filosof dan mutakallimin dalam melawan argumen-argumen musuh. Tetapi tentu saja dengan tetap memperhatikan paham ahli sunnah.

Selain itu, ia pun menggunakan metode para ilmuwan alam ketika menjelaskan tentang alam semesta ini. Ia menjelaskan tentang bintang-bintang, langit, bumi, hewan-hewan, dan manusia.[28]

Yang menjadi kritikan para ulama dalam metodenya menafsirkan al-Qur’an, karena terkadang terlalu jauh dan menyimpang dari tujaun awal yaitu menerangkan maksud dari setiap ayat-ayat al-Qur’an. Ia sering kali menerangkan dengan panjang lebar kesalahan pendapat dan pemikiran suatu aliran sesat, tetapi hanya dijawab dengan jawaban yang singkat dan alakadarnya yang sebenarnya tidak sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya. Yang memerlukan sanggahan yang sangat detail dan terpeirnci.[29]

Bisa dikatakan tafsir al-Fakhru al-Râzî ini mencakup semua bidang ilmu. Mulai dari ilmu kalam, ilmu alam, ilmu bahasa seperti nahwu, balaghah, juga ilmu syari’at seperi fikih, ushul fikih. Hal itu karena memang sesuai dengan tabi’atnya sebagai seorang yang ahli di segala bidang ilmu. Setiap kali ia menemukan hubungan dari lafadz al-Qur’an dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, ia akan melakukannya sehingga sering kali tafsirnya tidak sesuai dengan yang seharusnya (untuk menerangkan maksud lafadz tersebut dalam ayat al-Qur’an). Maka lebih tepat jika tafsirnya itu disebut sebagai ensiklopedia ilmu pengetahuan yang mencakup segala bidang ilmu. Sehingga tidak aneh kalau Ibnu ‘Athiyah mengatakan bahwa di dalam kitabnya itu terdapat segala sesuatu kecuali tafsirnya itu sendir.[30]

Walaupun tafsir tersebut banyak yang mengkritik dari segi cara al-Fakhru al-Râzî yang terkadang berlebihan dalam menafsirkan suatu ayat, tetapi secara obyektif tafsir tersebut tetap mempunyai kelebihan-kelebihan tersendiri (baca: ciri khas) dibandingkan dengan tafsir yang lain.

Di antara kelebihannya ialah isinya yang mencakup segala macam jenis ilmu itu sehingga menyerupai ensiklopedia. Di satu sisi hal tersebut dianggap sebagai kekeurangan oleh sebagian ulama tetapi sebagiannya lagi memandang justru hal tersebut merupakan salah satu dari kelebihan yang dimilikinya. Karena secara asasi kitab itu sudah memenuhi syarat untuk disebut kitab tafsir.[31]

Sebagai contoh, kita bisa melihat dari penafsiranya tentang surat al-Fâtihah). Surat yang begitu pendek itu bisa menjadi sebuah kitab yang cukup tebal. Walaupun isinya hanya tafsir surat al-Fâtihah secara menyendiri (yang pada edisi sekarang sudah dimasukkan ke dalam tafsir kabirnya). Isinya ternyata bukan hanya tafsir saja. Di sana pun dibahas segala aspek yang ada kaitannya dengan isi surat tersebut, baik itu aspek bahasa, ilmu kalam (pemikiran), fikih dan lain-lain. Sehingga ia sendiri menyebutkan bahwa dari surat al-Fâtihah ini mengandung 10.000 faedah dan permasalahan yang bisa digali.[32]

Contohnya ketika menafsirkan kalimat ta’awwudz, ia sangat dipengaruhi oleh keadaan perpecahan umat Islam saat itu. Sekte-sekte Islam yang sudah jelas sesat itu ia masukkan dalam memaknai berlindung kepada Allah. Jadi yang dimaksud dengan “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”, ialah berlindung kepada Allah dari segala hal yang dilarang, baik itu yang bersifat keyakinan ataupun amal perbuatan. Dari aspek keyakinan, umat Islam terpecah menjadi sekte-sekte (aliran). Setiap aliran ini mempunyai kesesatan yang berbeda-beda, ada yang karena perbedaan dalam memahami Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, masalah taqdir dan pemahaman-pemahaman lainnya yang jelas jauh dari pemahaman islam yang benar.[33]

Tentang ta’awwudz ini ditinjau pula dari segi bahasa. Ketika membahas dari segi bahasa ini sampai melebar ke pembagian isim, fi’il malah sampai ke penjelasan yang bersifat filosofis yaitu tentang apa yang menyebabkan fa’il marfu’, maf’ul manshub dan mudhaf ilaih majrur dari segi i’rabnya. Pokoknya semua permasalahan yang dianggap ada hubungannya dengan satu bidang ilmu tertentu akan ia bahas sampai sedetail mungkin dan tuntas.[34]

Warna fikih dari tafsirnya pun terlihat kental. Ketika membahas kalimat ta’awwudz mengenai fikihnya ia bagi menjadi 13 permasalahan. Mulai dari kapan waktu membacanya, hukum membacanya, cara membacanya dan semua yang berhubungan dengan permasalahan fikih. Setiap permasalahan itu ia sebutkan setiap ikhtilaf yang ada beserta argumen masing-masing madzhab. Dan ia memilih salah satunya yang menurutnya râjih. Jika dibandingkan dengan tafsir al-Qurthubi yang terkenal dengan fikih orientednya, ketika membahas tentang kalimat ta’awwudz hanya sedikit mengulas fikihnya. Dan bisa dikatakan masih kalah dengan tafsir al-Fakhru Râzî.[35]

Warna ilmu kalamnya bisa terlihat ketika ia menafsirkan kata al-âlamîn dengan definisi ilmu kalam yaitu setiap yang ada selain Allah (kullu maujud siwa al-Lâh). Dan menerangkan pembagian alam menjadi tiga macam menurut pembagian ilmu kalam. Yaitu, al-mutahayiz[36], al-mufâraqât[37] dan al-shifât[38]. Tetapi setelah pembagian itu ia langsung menerangkan bahwa pembagian tersebut bukan berarti menegasikan bahwa tidak ada alam lain kecuali hanya tiga macam itu saja sebagaimana yang dianut oleh para filosof. Ia berargumen bahwa dengan ke-Mahakuasa-an-Nya Allah mampu menciptakan segala hal yang mungkin.[39]

Selain itu juga, tafsir ini hampir sama sekali bersih dari kisah-kisah israiliyat. Walaupun memang ada itu hanya untuk menunjukkan kesalahannya saja tidak lebih dari itu.[40] Bisa kita lihat salah satu contohnya tentang komentarnya setelah mencantumkan satu kisah tentang Harut dan Marut dua malaikat yang diturunkan ke bumi untuk menjalani ujian dari Allah (menurut kisah tersebut). Ia mengkomentari bahwa kisah itu betul-betul bukan berasal dari Islam dan sama sekali bertentangan dengan akidah islam, bahwa Malaikat itu makhluk yang selalu ta’at kepada Allah dan tidak pernah menentang perintah-Nya walaupun hanya sekali.[41]

Al-Fakhru al-Râzî pun tidak lupa untuk menerangkan kesesuaian antara isi ayat-ayat al-Qur’an dengan suratnya.[42]

Ada yang sangat penting yang harus kita ketahui tentang tafsir kabir-nya ini, yaitu mengenai penulisannya. Ternyata penulisan tafsirnya itu tidak selesai atau dengan kata lain ia tidak sempat menafsirkan seluruh surat al-Qur’an yang terdiri dari 114 surat itu. Sebenranya ia hanya sampai pada surat al-Anbiya saja. Adapun selebihnya, penulisannya diteruskan oleh Syihabu al-din al-Khaubi akan tetapi ia pun tidak sampai menyelesaikannya dengan sempurna. Maka penulisannya kemudian dilanjutkan oleh Najmu al-Din al-Qamuli. Sebagaimana menurut penjelasan Dr. Muh. Husen al-Dzahabi.[43]

Penutup

Al-Fakhru al-Râzî adalah seorang ulama sekaligus ilmuwan yang jika dikaji ketokohannya tidak cukup hanya dengan beberapa halaman makalah ini. Penulis jadi khawatir justru dengan makalah ini membuat namanya terlihat kecil. Karena kekurangan referensi di samping memang kelemahan kekuatan gaya bahasa penulis sendiri dalam mengungkapkannya.

Ala kulli hal ada beberapa poin yang bisa kita jadikan bahan pelajaran yang sangat beharga. Diantaranya:

1. Bahwa dalam mencari ilmu kita tidak usah memilah-milah mana ilmu agama dan mana ilmu umum. Dengan kata lain mendikotomi ilmu. Pelajarilah semua ilmu pengetahuan karena bagaimanapun itu sangat berguna terutama bagi kita sendiri. Kita harus bisa membedakan antara mempelajari dengan memperdalam, jika kita sudah mencapai tahap memperdalam maka tentu itu memerlukan spesialisasi. Dan tidak mungkin bisa kita perdalam semua bidang ilmu dengan intensif. Karena bagaimanapun akal kita sangatlah terbatas.

2. Dalam mempelajari ilmu-ilmu akal dan pemikiran, kita harus menyadari bahwa akal sangatlah terbatas kekuatannya. Oleh karena itu haruslah selalu ditopang oleh dasar-dasar dan sumber-sumber yang berasal dari wahyu. Sebagus apapun metode yang dipakai belum tentu dan belum pasti akan bisa mengantarkan kita kepada kebenaran yang absolut. Kebenaran yang bisa membuat kita bahagia dunia dan akhirat. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Ketika kita sudah jauh terperosok dalam kesombongan dalam menggunakan akal kita.

3. Sejak kecil kita sudah diajarkan oleh orang tua kita bagaimana caranya sholat, cara berwudlu, apa saja yang membatalkan keduanya dan lain sebagainya. Dan itulah yang disebut fikih. Di sini betapa Fikih begitu dirasakan sebagai dasar ilmu yang harus kita pelajari terlebih dahulu dari pada ilmu yang lainnya. karena selain itu menyangkut dengan praktek ibadah ritual kita, juga sistematis pengajarannya (metode penulisan fikih ulama terdahulu) yang selalu mengajarkan kepada kita mana yang boleh dan mana yang tidak. Apakah ini sah atau tidak dan sebagainya yang selalu mengajak kita untuk berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Dengan fikih, kita sedari kecil dididik untuk mematangkan semua potensi yang ada pada diiri kita. Mulai dari kekuatan spiritual (moral, membedakan mana yang benar dan salah, yang boleh dan tidak), emosi (selalu berniat yang baik dan ikhlash untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan), intelektual (menghapal tata cara, syarat dan rukun dari suatu ritual ibadah) sampai fisik (banyak menggerakan badan) kita.

4. Kaya bukan berati cinta dunia. Karena cinta dunia mempunyai arti negatif yaitu melupakan kecintaannya kepada Allah. Dengan harta justru bisa membawa manusia memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Harta memberikan kita potensi dan kesempatan untuk selalu berbuat baik kepada sesama.

5. Dekat dengan pemerintah juga bukan hal yang ‘aib. Malah kedekatan kita dengan instansi pemerintah justru bisa mempermudah kegiatan kita dalam menyebarkan dan mengajak orang untuk menuju kebenaran yang absolut. Banyak fasilitas yang kita perlukan dari pemerintah untuk menjaga ruang gerak kita agar aman dari gangguan sekaligus melegitimasi kegiatan-kegiatan kita dalam mengajarkan kebenaran (agama).

Akhirnya hanya kepada Allah penulis kembalikan kebenaran itu. Karena Dia lah sumber kebenaran yang selalu kita cari guna memperoleh kebahagian yang abadi. Wal al-Lâhu a’lamu bil al-shawwâb.


* Coretan singkat ini dipresentasikan pada acara Bidang Taklim FOSPI, Kajian Mufassirin, pada hari Kamis, 4 September 2003 sore hari di sekretariat FOSPI.

* Penulis adalah mahasiswa fakultas Akidah & Filsafat tingkat IV Universitas al-Azhar. Sekarang juga sebagai anggota kelompok kajian Dakwah dan Tarbiyyah Islamiyyah IBÂDURRAHMÂN, juga anggota Divisi ALIGA Dewan Buhuts Islamiyyah FOSPI. Pernah menjadi koordinator Bid. Taklim FOSPI 2001-2002, dan mantan ketua Majlis Tafkir Pesantren Persatuan Islam no. 1 Bandung 1999.

[1]M. Hasby ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’ân, Bulan Bintang, Jakarta, cet. III, 1993, hal. 202, Dr. Abu Syuhbah, al-Isrâilyyât wa al-Maudhû’ât fî Kutubi al-Tafsîr, Maktabah al-Sunnah, Kairo, cet.IV, 1408 H, hal. 26

[2] Ibid.. Dr. Muhammad Abu Syuhbah, , hal. 43-44, Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, al-Tafsîr wa al-Mufasirûn, M, Maktabah Wahbah, Kairo, cet. VI, 1995, vol. I, h. 163, Manna’ al-Qathan, Mabâhits fi ‘Ulumi al-Qur’ân, t.th, hal. 347, Muhammad Abdu al- ‘Adzim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfân fi ‘Ulumi al-Qur’ân, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, 1996, hal. 14

[3] Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, Ibid.., h. 265, Muhammad Abdul ‘Adzim al-Zarqani, Ibid.., h. 55.

[4] Ibid.., h. 265

[5] Muhammad Abdu al- ‘Adzim al-Zarqani, op.cit.., hal.56

Diantara syarat tersebut adalah:

a. Mengetahui hadits-hadits Nabi Saw yang shahîh.

b. Mengetahui pendapat-pendapat shahabat dalam tafsir al-Qur’ân

c. Mengetahui keumuman makna bahasa Arab dengan memperhatikan setiap perubahan makna pada setiap ayat.

d. Mengetahui apa yang seharusnya ia tafsirkan dengan merujuk kepada aturan syar’i.

[6] Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, op. cit., hal. 400

[7] Sebuah kota dekat Teheran, Iran sekarang.

[8] Al-Daudi, Thabaqâtu al-Mufassirîn, Maktabah Wahbah, Kairo, 1972, hal. 214, Dr. Abu Syuhbah, op. cit., hal. 133

[9]Nisbah sima’I bukan qiyasi.

[10] Sebah negeri yang luas berbatasan salah satunya dengan Irak dan India. Di dalamnya terdapat dua negeri kecil (bisa disebut kota) Naisabur dan Harah. (Mu’jam al-Buldân juz II hal. 350)

[11] Salah satu di antara kota-kota terbesar yang terdapat di daerah Ma Wara’a al-Nahar (sungai Jihun)

[12] Sebuah kota yang terletak di kawasan Afghanistan sekarang.

[13] Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, Muqaddimah Tafsîr Mafâtih al-Ghaib, Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, Kairo, t.th, vol.1, hal. pendahuluan

[14] Al-Qifthi, Târîkhu al-Hukamâ, Mu’assasah al-Khanji, Mesir, t. th, hal. 291

[15] Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, op. cit., hal. pendahuluan

[16] Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, op. cit., hal. pendahuluan

[17] Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, op. cit., hal. Pendahuluan, Al-Daudi, op. cit., hal. 216, Al-Qifthi, op. cit., hal. 292

[18] Al-Daudi, op. cit., hal. 214

[19] “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini di setiap awal seratus tahun (abad) seorang mujaddid” (HR. Abu Daud dan al-Hakim)

[20] Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Muassasah al-Târîkh al-Arabi, Beirut, 1993, hal.67

[21] Hai’ah al-Tashîh Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, op. cit., hal. Pendahuluan, Al-Daudi, op. cit., hal. 215

[22] Di dalam ilmu kalam, ketika menetapkan suatu affirmasi ataupun negasi biasanya dengan mengunakan qiyas manthiqi. Adapun dalam mengaffirmasikan suatu sifat bagi Allah dalam ilmu kalam adalah menggunakan metode qiyas al-ghaib ‘ala al-syahid. Dan metode seperti banyak kelemahannya. Diantaranya, bagaimana mungkin Dzat yang Maha Sempurna disamakan (diqiyaskan dengan makhluk biasa). Di sini ada isyarat bahwa al-Fakhru al-Razi lebih condong kepada metode para ulama salaf dalam mengaffirmasi atau menegasikan sifat bagi Allah, yaitu dengan mengikuti apa yang Allah firmankan sendiri tentang diri-Nya sendiri di dalam al-Al-Qur’an apa adanya tanpa berusaha menta’wilnya kepada makna yang lain.

[23] Ibnu Katsir, op.cit., 68

[24] Ibnu Katsir, op. cit., hal. 67, Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, op. cit., 299

[25] Dr. Abdu al-Majid Abu al-Futuh Badawi, Al-Târîkh Al-Siyâsî wa al-Fikrî, ‘Âlam Ma’rifah, Jeddah, 1983, hal. 7-11

[26] Dr. Abu Syuhbah, op. cit., hal. 134

[27] Ibid., hal. 134

[28] Muhammad Abdu al-‘Adzim al-Zarqani, op. cit., hal. 105

[29] Dr. Abu Syuhbah, op. cit., hal. 134 , Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, op.cit., hal. 302

[30] Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, Ibid., hal. 303, Dr. Abu Syuhbah, Ibid., hal. 134

[31] Dr. Abu Syuhbah, Ibid., hal. 134

[32] Lihat Al-Fakhru Al-Râzî, Tafsîr Mafâtih al-Ghaib, Mathba’ah al-Bahiyyah al-Mishriyyah, Kairo, t. th, vol. I, hal. 3

[33] Lihat Ibid. hal. 3-4

[34] Ibid., hal 53

[35] Ibid., hal. 59-63

[36] Segala yang menempati ruang. Termasuk di dalamnya yang terdiri dari beberapa bagian (al-jism) atau pun yang menyendiri/berdiri sendiri (al-jauhar)

[37] Al-Jauhar al-Fard yaitu berupa esensi

[38] Al-‘Aradh yaitu yang tidak bisa ada kecuali harus bersama yang lain/menempel pada al-jism.

[39] Ibid., hal. 6, hal. 6, hal. 6

[40] Dr. Abu Syuhbah, op. cit., hal 134

[41] Al-Fakhru al-Râzî, loc. cit., vol. III hal. 22

[42] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi ‘Ulumi al-Qur’ân, Riyadh, t. th, hal. 368

[43] Dr. Muh. Husen Al-Dzahabi, op.cit., hal. 299-301, Manna’ al-Qathan, Ibid., hal. 367-368

One comment on “Al Fakhru Al-Razi’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s