Al Imam Al Zarkasyi

AL-IMAM AL-ZARKASYI ( (745 – 794)

Oleh Izatullah Sudarmin Anwar, Lc.

Abad VIII, adalah abad yang sangat menyeramkan untuk diceritakan. Pada abad ini, cobaan banyak menimpa umat Islam, dari langit dan dari bumi, dari luar dan dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri. Ketika langit tidak memberikan air hujannya, jutaan hektar ladang dan sawahpun kekeringan. Umat Islam tertimpa kelaparan yang teramat sangat. Demi mempertahankan hidup, setiap negara bagian melakukan pemberontakan yang menjadikan negara Islam yang dulunya agung dan besar menjadi negara-negara kecil. Melihat keadaan yang seperti ini pasukan salibis kembali datang menyerang dan memporak-porandakan kedaulatan negara Islam sampai bisa masuk ke Alexandria. Menyaksikan kenistaan yang menimpa umat Islam pada saat itu langit pun menangis. Tangis nya mengundang tanah longsor, gempa bumi dan wabah penyakit dimana-mana terutama wabah kolera yang banyak merenggut korban jiwa.2

Sejarah mesir mencatat;3pada tahun 702 H. terjadi gempa bumi hebat terutama di Alexandria. Pada tahun 720 H. penyakit mendatangi hampir seluruh orang yang tinggal di Mesir. Pada tahun 721 H. kebakaran besar memporak-porandakan ibu kota Mesir (kairo) dan melumat habis mesjid Ibn Thalun. Tahun 724 H. pemerintah mengeluarkan undang-undang penutupan tempat-tempat hiburan. Keluarnya undang-undang ini menggambarkan betapa rusaknya moral masyarakat pada saat itu.

Pada tahun 744 H gubernur Kairo mengadakan razia ke semua tempat yang diperkirakan di sana tempat penimbunan minuman keras dan lokalisasi gelap. Dan tahun 761 H. segenap tanah daratan Mesir terserang wabah penyakit.

Pada tahun 767 H. kaum salibis menduduki Alexandria yang banyak memakan korban dan tawanan dari kaum muslimin. Tahun 776 H. krisis bahan pangan terjadi, barang hilang dari pasaran, harga melambung tinggi. Begitu juga pada tahun 783 H. penyakit kolera mulai merajalela, dan pada tahun 784 H. krisis bahan pangan dan obat-obatan terulang kembali, dengan demikian hargapun kembali tak terjangkau.

Persatuan dan kesatuan yang menjadi simbol umat sudah tidak dipakai lagi, seperti baju usang yang dijadikan keset dan kain pel. Masyarakat hidup berkasta-kasta, yang miskin semakin miskin dan yang kaya selalu dihantui ketakutan, bimbang dengan harta dan tahta.

Para sejarawan mencatat adanya enam kasta yang tumbuh pada saat itu.4

  1. Keluarga para raja,
  2. Kaum bangsawan,
  3. Pemuka masyarakat,
  4. Para saudagar,
  5. Kaum buruh, dan
  6. Petani.

Pepatah mengatakan : “manusia adalah anak dari lingkungannya”. Walaupun demikian, kota Kairo pada saat itu kaya dengan ulama. Maka Zarkasyi kecil tumbuh dan belajar di bawah bimbingan para ulama pada saat itu, antara lain : Imam al-Isnawy, al-Bulqiny, al-Adzro’iy, Umar bin Umaylah, ibn Katsir, al-Shalah bin abi Umar, ibn Hanbaly al-Syafi’i, ibn Quleej al-Turky, dan lain-lain.

Telah kita ketahui bersama, ketika kerajaan Fathimiyah Syi’ah di Mesir ditumbangkan oleh Shalahuddin pada akhir abad ke enam Hijriah, maka aliran sunni pun menabuh genderangnya di sana dengan mendirikan sekolah-sekolah sunni untuk mematikan aliran syi’ah. Sementara sekolah-sekolah yang dibangun oleh Shalahuddin antara lain, al-Nashiriyah, al-Shalahiyah, dan al-Qomhiyah.5

Jika tujuan Shalahuddin dalam mendirikan sekolah-sekolah tersebut untuk mematikan aliran Syiah, akan tetapi para Sultan setelahnya lebih termotifasi oleh ketaqwaan dalam memberikan pemahaman aqidah yang benar kepada masyarakat setempat. Ada empat sekolah yang sangat ternama pada masa Imam Zarkasyi, yaitu,

  1. al-Manshuriah, sekolah ini didirikan oleh Sultan al-Manshur bin Qolawun. Sekolah ini terdiri dari empat fakultas yaitu, fakultas syariah empat mazhab, tafsir, hadits, dan kedokteran.
  2. al-Qubbah, tempat pendidikan ini didirikan oleh Sultan al-Manshur bin Qolawun. Sekolah ini –seperti al-manshuriah- terdiri dari empat fakultas yaitu, fakultas syariah empat mazhab, tafsir, hadits, dan kedokteran.
  3. al-Kamiliah (dar al-hadits al-kamiliah). Sekolah ini diwaqafkan oleh Sultan Nashiruddin al-Kamil kepada muhadditsin di zamannya.
  4. al-Hijaziah, Madrasah ini didirikan oleh putri Sultan al-Nashir bin Qolawun. 6

Dengan dibangunnya sekolah-sekolah tersebut, Mesir pun banyak melahirkan ulama, diantaranya Imam Zarkasyi. Beliau adalah seorang ulama tanpa tanding (hujjatul-islam) di zamannya. Semua bidang ilmu yang ada di zamannya Ia kuasai. Selain itu juga, Beliau sangat produktif dalam menulis, berikut ini akan Penulis paparkan hasil karyanya dalam segala bidang ilmu pengetahuan

A. Tafsir,

  1. البرهان في علوم القرآن
  2. كتاب في التفسير. وصل فيه إلى سورة مريم.
  3. كشف المعاني. على قوله تعالى : ( ولما بلغ أشده )

B. Hadits,

  1. الإجابة لإيراد ما استدراكته عائشة على الصحابة
  2. التذكرة في الأحاديث المشهترة
  3. التعليق على عمدة الأحكام
  4. النكت على مقدمة ابن الصلاح
  5. التنقيح لألفاظ الجامع الصحيح للبخاري
  6. الذهب الإبرير في تخريج فتح العزيز للرافعي
  7. شرح الأربعين النووية
  8. شرح الجامع الصحيح للبخاري
  9. المعتبر في تخريج أحاديث المنهاج والمختصر
  10. المختصر في الحديث

C. Fiqh,

  1. إعلام الساجد بأحكام المساجد
  2. تكملة شرح المنهاج
  3. خادم الرافعي والروضة في الفروع
  4. خبايا الزوايا في الفروع
  5. الدباج في توضيح المنهاج
  6. الزركشية. وقد جمع فيها حواشي شيخه البلقيني
  7. زهر العريش في أحكام الحشيش
  8. شرح التنبيح للشيرازي
  9. شرح المعتبر للإسناوي
  10. شرح المختصر الخرقي
  11. شرح الوجيز في الفروع للغزالي
  12. الغرر السوافر فيما يحتاج إليه المسافر
  13. فتاوى الزركشي
  14. غنية المحتاج في شرح المنهاج
  15. مجموعة الزركشي في فثه الشافعي
  16. مفاتيح الكنوز وملامح الرموز. في مسائل الفقهية التي وردت في كتاب ( الحاوي )

D. Ushul fiqh,

  1. البحر المحيط في أصول الفقه
  2. التحرير في الأصول
  3. تشنيف المسامع بجمع الجوامع
  4. سلاس الذهب في الأصول
  5. مطلع النيرين
  6. منتهى الجمع
  7. الوصول إلى ثمار الأصول

E. Qaidah fiqih,

  1. القواعد في الفروع. ( المنثور في ترتيب القواعد الفقهية )

F. Sejarah,

  1. عقود الجمان وتذييل وفيات الأعيان

G. Ilmu Nahw, Sharf dan Balaghah.

  1. مجلى الأفراح في شرح تلخيص المفتاح
  2. التذكرة النحوية
  3. ربيع الغزلان
  4. شرح البردة
  5. رائيته في مناز الحجاز

H. Ilmu Kalam dan Tawhid,

  1. رسالة في كلمة التوحيد
  2. ما لا يسع المكلف جهله

I. Ushul, Hikmah dan Manthiq.

  1. لقطة العجلان وبلة الظمآن

J. Bidang yang lainnya.

  1. الأزهرية في أحكام الأدعية
  2. رسالة في الطاعون وجواز الفرار منه
  3. عمل من طب لمن حب
  4. في أحكام التمني
  5. خلاصة الفنون الأربعة. 7

Al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an

Abu Bakar ibn Arobi dalam kitabnya “Qânûn al-ta’wîl” berkata, “…adapun secara global al-Qur’an terbagi menjadi tiga yaitu, tauhid, hukum dan peringatan…”. Adapun tauhid, sebagaimana yang tersirat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah;163 وإلهكم إله وحد )), sedangkan hukum tersirat dalam surat al-Maidah; 49(وأن احكم بينهم بما أنزل الله) dan peringatan tersirat di al-dzariyat 55 ( وذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين ).

Bukankah kita semua pernah mendengar ungkapan, “Barangsiapa yang membaca surat al-Ikhlash sebanyak tiga kali seakan-akan dia telah menghatamkan al-Qur’an” ?…., Oleh karena itu, surat al-Fatihah dinamakan umm al-qur’an, karena surat tersebut mengandung tiga unsur pokok di atas.

Tiga unsur pokok itulah isi dari kandungan al-Qur’an. Dan ketika Allah swt memerintahkan kita agar mentadaburi kitab suci al-Qur’an, maka para ulama membantu kita dalam memahami al-Qur’an dengan cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam penafsiran al-Qur’an, para ulama dibantu oleh berbagai macam bidang ilmu yang bersangkutan dengan penafsiran kitab suci al-Qur’an.

Kemudian Imam Zarkasyi yang datang pada abad ke delapan hijriah mengumpulkan semua bidang ilmu tersebut (dalam bukunya al-burhan) yang menjadi metode ulama-ulama pendahulu dalam penafsiran al-Qur’an. Dalam kitabnya tersebut, Imam Zarkasyi memasukan 47 macam ilmu yang bersangkutan dengan penafsiran ayat-ayat suci al-Qur’an. Di bawah ini akan Penulis utarakan 10 dari 47 macam ilmu tersebut :

  1. معرفة سبب النزول (sebab turunnya ayat/surat). Dengan mengetahui sebab turunnya ayat/surat, kita dapat menghapuskan kerancuan terjadi dalam penafsiran al-Qur’an. Seperti penafsiran firman Allah swt dalam surat al-An’am;145,

( قل لا أجد فيما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا ان يكون ميتة أو داما مسفوحا أو لحم خنزير...)

Ayat ini diturunkan kepada orang-orang kafir yang mengharamkan makanan yang Allah halalkan dan menghalalkan makanan yang Allah haramkan. Dikarenakan mereka telah menghalalkan bangkai, darah yang mengalir, juga daging babi, maka Allah menurunkan ayat dengan jumlah seperti di atas agar nampak kontradiksi yang sangat jelas antara yang Allah haramkan dengan yang mereka halalkan, dan bukan untuk menetapkan hakikat jenis makanan tersebut. Seakan-akan Allah swt berkata kepada mereka “Saya tidak mengharamkan kecuali yang kalian halalkan itu”. maka jelas di sini bahwasanya Allah tidak menghalalkan yang selain itu, karena tujuannya adalah penetapan keharaman makan-makanan tersebut dan bukan penetapan kehalalan.

  1. معرفة المناسبات بين الايات (hubungan antara dua ayat). Jika kita mengetahui keterkaitan antara dua jumlah yang berbeda maka kita akan mengetahui kemampuan sang pemilik dua jumlah yang berbeda tersebut. Dan dapat mengikuti serta memahami dengan baik semua yang dikatakan oleh-Nya. Seperti juga halnya dengan firman-firman Allah swt dalam al-Qur’an, karena Allah swt telah menentukan penempatan ayat-ayat tersebut (taufiqi). Coba kita cari keterkaitan antara firman Allah swt dalam surat al-Baqarah; 115

( ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله….. )

dengan ayat yang datang sebelumnya

( ومن أظلم ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه وسعى في خرابها…. )

Para ulama kalam dan ushul telah menerangkan tentang macam-macam bentuk keterkaitan antara dua jumlah, diantaranya, keterkaitan antara umum dan khusus, antara jumlah yang dapat di cerna dengan akal, perasaan dan khayalan, antara dua jumlah yang bertentangan, dan lain sebagainya. Dengan demikian kita bisa mengaitkan dua ayat di atas sebagai berikut : ayat 114 menerangkan tentang perusakan baitulmaqdis, akan tetapi janganlah hal itu menjadikan kita enggan untuk berkiblat ke sana, karena sesungguhnya baik timur maupun barat adalah kepunyaan Allah swt.

  1. معرفة الفواصل ( pemisah antara akhir ayat dengan awal ayat ). Jika seorang mufasir mengetahui betul hal ini, maka dia telah memahami sebuah ayat dengan baik. Jika sebuah jumlah telah dinyatakan sempurna, maka disitulah diletakan fashil. Seperti firman Allah swt berikut ini,

)قالوا ادعوا لنا ربك يبين لنا ما هي لإن البقرة تشابه علينا وإن إن شاء الله لمهتدون (70) قال إنه يقول إنها بقرة لا ذلول تثير الأرض وتسقي الحرث مسلمة لا شية فيها. قالوا الآن جئت بالحق. فذبحوها وما كادوا يفعلون )

Maka fashil pun sering nampak di dalam sebuah ayat, seperti ayat 71 dari surat Al-Baqarah di atas.

  1. معرفة الوجوه والنظائر (kata yang memiliki banyak makna dan kata-kata yang bermakna sama). Contoh dari sebuah kata yang memiliki banyak makna dalam al-Qur’an seperti kata ( الهدى) datang dengan 17 makna. (الهدى) kadang bermakna ( البيان ) seperti dalam surat al-Baqarah; 5 (ألئك على هدى من ربهم).

(الهدى) kadang bermakna (الدين) seperti dalam surat Ali ‘Imran; 73

(إن الهدى هدى الله).

(الهدى) kadang bermakna (الإيمان) seperti dalam surat Maryam;76

(ويزيد الله الين اهتدوا هدى ).

(الهدى) kadang bermakna (الداعي) seperti dalam surat al-Râd;7 ( ولكل قوم هاد), dan dalam surat al-Anbiya; ( وجعلناهم أئمة يهدون بأمرنا ).

(الهدى) kadang bermakna (الرسل والكتب) seperti dalam surat al-Baqarah; 38

(فإما يأتينكم مني هدى).

(الهدى) kadang bermakna (المعرفة) seperti dalam surat al-Nahl; 16

(وبالنجم هم يهتدون ).

(الهدى) kadang bermakna (الرشاد) seperti dalam surat al-Fatihah;6

(اهدنا الصراط المستقيم).

(الهدى) kadang bermakna ( محمد صلى الله عليه وسلم ) seperti dalam surat al-Baqarah; 159

(إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات والهدى)

dan dalam surat Muhammad;32

(من بعد ما تبين لهم الهدى ).

(الهدى) kadang bermakna (القرآن) seperti dalam surat al-Najm;23

(ولقد جاءهم من ربهم الهدى ).

(الهدى) kadang bermakna (التوراة) seperti dalam surat al-Ghafir; 53

(ولقد آتينا موسى الهدى).

(الهدى) kadang bermakna (السترجاع) seperti dalam surat al-Baqarah;157

(وأولئك هم المهتدون ),

dan dalam surat al-Taghabun;11

(ما أصاب من مصيبة إلا بإذن الله ومن يؤمن بالله يهدي قلبه ).

(الهدى) kadang bermakna (الحجة) seperti dalam surat al-Baqarah;258

(والله لا يهد القوم الظالمين ) أي إلى الحججة.

(الهدى) kadang bermakna (التوحيد) seperti dalam surat al-Qashash;57

(إن نتبع الهدى معك ).

(الهدى) kadang bermakna (السنة) seperti dalam surat al-Zukhruf;22, dan dalam surat al-An’am;90

(وإنا على آثارهم مهتدون ).

(الهدى) kadang bermakna (الإصلاح) seperti dalam surat Yusuf; 52

(وأن الله لا يهدي كيد الخائنين ).

(الهدى) kadang bermakna (الإلهام) seperti dalam surat Thaha;50

(أعطى كل شيئ خلقه ثم هدى ) في معيشتهم.

(الهدى) kadang bermakna (التوبة) seperti dalam surat al-A’raf;156

(إنا هدنا إليك ).

Adapun contoh dari kata-kata yang memiliki makna yang sama seperti kata

(البعل) semuanya bermakna (الزوج) seperti firman allah swt

(وبعولتهن أحق بردهن ),

kecuali ayat ke 125 dari surat al-Shafat (أتدعون بعلا) yang bermakna(صنما).

  1. علم المتشابه (ulangan kalimat yang sama pada banyak ayat/surat), seperti pada surat al-Baqarah;58 datang dengan kalimat

(و ادخلوا باب سجدا و قولوا حطة )

kemudian datang pada surat al-A’raf;161 dengan kalimat

(وقولوا حطة وادخلوا الباب سجدا ).

  1. علم المبهمات (samar), seperti firman Allah swt dalam surat al-Fatihah;7

(الذين أنعمت عليهم ),

siapakah mereka ?, jawabannya ada di surat al-Nisa;69

(من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين ).

Kemudian pada surat al-Baqarah;35 (اسكن أنت وزوجك الجنة…), dan lain sebagainya. Akan tetapi ada yang sengaja Allah samarkan dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya seperti ayat berikut ini

( وآخرين من دونهم لا تعلمونهم الله يعلمهم ) –الأنفال : 60-.

  1. معرفة المكي والمداني (tentang ayat/surat yang turun sebelum hijrah dan yang sesudahnya). Seperti firman Allah dalam surat Al-Maidah; 3

( اليوم أكملت لكم دينكم…)

walaupun turunnya di Mekah akan tetapi ia termasuk Madani karna turunnya setelah hijrah. Urutan turunnya ayat juga sangat membantu seorang mufasir dalam mengetahui ayat-ayat nasikh dan mansukh seperti ayat ke 15 dan ke 16 dari surat al-Nisa.

  1. معرفة على كم لغة نزل (ilmu al-qiroat). Alquran diturunkan dengan tujuh bahasa bangsa Arab dengan tujuan; agar mudah difahami dan dihafal oleh setiap orang pada waktu itu. sebagaimana hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim.
  2. معرفة الوقف والابتداء (di mana harus berhenti dan di mana harus memulai), agar tidak ada kerancuan antara jumlah dengan jumlah yang sebelum/sesudahnya. pembahasan ini hampir serupa dengan pembahasan fashil.
  3. معرفة الأحكام من جهة أفرادها و تركيبها (ilmu nahwu). Dengan ilmu nahwu seorang mufasir dapat memahami makna dari firman Allah swt dengan baik. Seperti I’rob lafazh al-jalalah pada ayat ke 164 dari surat al-Nisa (وكلم الله موسى تكليما).

Wallahu a’lam bishawab

Penulis adalah lulusan Universitas al-Azhar Fakultas Ushuludin jurusan Hadits, tahun ajaran 2002-2003 M. Makalah ini disampaikan pada acara dwi mingguan Perwakilan Persatuan Islam Mesir (Pwk-Persis) Bidang Garapan Pendidikan. Pada hari Kamis, 18 Septeber 2003 M.


1. هو أبو عبد الله محمد بن بهادر بن عبد الله الزركشي, الملقب بسبعة ألقاب و هي : بدر الدين, المصري, التركي, المصنف, الشافعي, المنهاجي, الزركشي. وولد بالقاهرة وتوفي بها

4. الصر المماليكي ( ص 320 – 325 ), خطط المقريزي ( 3/96 ), المجتمع المصري في عصر سلاطين المماليك ( ص 32 – 38 ), عصر سلاطين المماليك ( ص 322 – 333 ), العصر المملوكي ( ص 323 )

7. تشنيف المسامع. بتحقيق الدكتور عبد الله ربيع والدكتور سعيد عبد العزيز ( 1/62 – 70 ) ط. مؤسسة قرطبة

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s