Imam Al Thabary

Imam Al-Thabary*

(Ulasan singkat kisah hidup dan buah karyanya)

Oleh : Yandi Rahmayandi1

Iftitâh

Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,”Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka bumi hingga kini memiliki daftar nama tokoh-tokoh yang dapat kita baca kehidupannya, sejumlah 500.000 orang selain umat Islam.”2

Pengakuan tersebut sebetulnya ditujukan atas pembuktian Validitas dan orisinalitas hadits melalui sanad yang merupakan hasil ketelitian para Muhaditsin yang telah membuat kaedah-kaedah kritik sanad yang tiada duanya.

Namun dari ungkapan tersebut kita ambil satu pelajaran atau sekedar mengingatkan, betapa kita umat Islam telah Allah Swt beri keutamaan dalam berbagai hal, sebagai bukti keabadian dan kebenaran risalah Islam yang belum dan tidak akan ternodai kemurniannya sampai kiamat.

Senantiasa muncul dan banyaknya para ulama dan para tokoh Islam merupakan salah satu bukti dari keutamaan tersebut, melalui tangan mereka risalah ini terjaga dan berlanjut ,dari masa ke masa , dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Persoalannya sekarang adalah kadang kita hanya bisa berbangga dengan keluarbiasaan dan kehebatan para pendahulu, tanpa mau berbuat dan mencontoh seperti mereka, apalagi mampu melebihi nya. Padahal kita tahu dan sadar bahwa mereka adalah para manusia pilihan dengan karya-karya besarnya telah membawa umat ini kepada kemajuan.

Padahal semestinya kita baca dan kaji sejarah para tokoh adalah sebagai salah satu landasan untuk berbuat dan melangkah kedepan, kearah yang lebih maju.Diantara banyak tokoh yang mempunyai pengaruh yang luar biasa karena salah satu buah karyanya dibidang tafsir al qur’an itu adalah Imam Al-Thabary.

Bagaimana perjalanan hidup dan pengalaman ilmiahnya serta buah karyanya, berikut penulis ulas, walaupun cukup singkat, namun semoga ada faidahnya.

Riwayat hidup Imam Al- Thabari

Abad ke-tiga hijriyyah merupakan abad kegemilangan dan kemajuan peradaban Islam . Pada abad ini prinsip-prinsip atau asas mazhab fiqih dibangun, buku-buku hadits yang shohih telah tersusun,begitu juga buku-buku sirah dan maghazi sudah terkodifikasi. Penerjemahan dari berbagai bahasa selain arab pun mulai berlangsung dan berkembang pesat, sehingga wawasan dan ilmu pengetahuan dikalangan para ulama muslim pun semakin meningkat. Sebagian mereka yang walaupun berkecimpung dan takhasus dalam satu ilmu, Namun tidak ketinggalan dengan ilmu-ilmu yang lainnya, misalnya yang takhasus ilmu bahasa;nahwu dan sharaf,namun tahu banyak masalah hadits dan metode takwil, Seorang muhadits menguasai juga ilmu sejarah dan mazahib, walaupun seorang faqih,namun mahir bersyair dan meriwayatkan hadits.3

Pada masa inilah lahir Abu ja’far Muhamad bin Jarir al-Thabary,yang nama lengkapnya adalah Muhamad bin Jarir bin yazid bin Khalid bin Kasir Abu Ja’far at-Tabari, berasal dari Amol,kota terbesar Tabaristan dekat wilayah Khurasan,4 dan wafat di Bagdad.Dilahirkan pada tahun 224 H. dan Wafat pada 310 H. Beliau diakui sebagai seorang ulama yang sulit dicari bandingannya,banyak meriwayatkan hadits,luas pengetahuannya dalam bidang penukilan dan pentarjihan ( penyeleksian untuk memilih yang kuat) riwayat-riwayat, serta mempunyai pengetahuan luas dalam bidang sejarah para tokoh dan berita umat terdahulu.5

Kemampuan beliau yang luar biasa tersebut tentu saja tidak luput dan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh tarbiyah kedua orang tuanya sejak kecil. Masa kecil beliau dipenuhi dan dihiasi dengan suasana religius dan ilmiah, sehingga suasana kondusif seperti ini sangat mempengaruhi karakter jiwa,perilaku, cara pandang dan berpikir beliau dikemudian hari. Dan sebagaimana halnya kebanyakan para ulama ternama lainnya, salah satu hasil dari tarbiyah dari kedua orang tua pada masa kecil, beliau sudah menunjukan petensi dan kemampuan yang luar biasa, dan ada nilai lebih dibanding kawan-kawan sebayanya, diantaranya; hapal al-Qur’an pada usia tujuh tahun, Tentang masa kecil beliau, Beliau sendiri bercerita,” Aku sudah hapal al-qur’an pada usia tujuh tahun,dan aku sholat berjama’ah bersama orang banyak pada usia delapan tahun,dan aku sudah bisa menulis hadits pada usia sembilan tahun,”.6

Sebelum menginjak usia remaja, tepatnya usia 12 tahun, beliau sudah memulai tholab ilmunya dengan mulai melakukan perjalanan ilmiah ( Rihlah ilmiah). Rihlah ilmiah beliau yang pertama yaitu ke Ray,sebuah kota yang tidak jauh dari Tabaristan dan selanjutnya ke daerah-daerah sekitarnya s etelah itu beliau belajar fiqh kepada Ibn Muqatil di Irak, menulis buku (al Mubtadi’) dari Ahmad bin Hamad ad Daulabi dan belajar serta menerima Maghazi Ibn Ishak dari Salamah bin al Fadl.

Setelah itu, rihlah ilmiah beliau lanjutkan ke Kufah, disini beliau menulis hadits yang diterima dari Hanad bin al Sirri dan Ismail bin Musa, beliau juga belajar ilmu qira’at kepada Sulaiman bin Kholad al-Tholhi, dan disini pula beliau berjumpa dengan Abi Kuraib Muhamad bin al ‘Ala al Hamadani , seorang ulama terpandang pada masa itu,yang kemudian mendengar dan menerima hadits darinya lebih dari seratus ribu hadits.7

Dari Kufah beliau kembali lagi ke Bagdad dan mulai menyibukkan diri belajar ulumul qur’an kepada Ahmad bin Yusuf, dan setelah itu belajar fiqh as Syafi’i sebagai madzhab pilihannya dan berfatwa dengannya dalam beberapa tahun.Beberapa tahun kemudian beliau berangkat ke Mesir dan sampailah di Fusthat pada tahun 253 H. Yang pertama kali beliau jumpai adalah Abu al Hasan al Siraj al Masri seorang ahli adab yang menjadi referensi ulama adab pada waktu itu. Ketika berjumpa dengannya maka beliau ditanya tentang ilmu fiqh, hadits, lughah, dan syi’ir, Abu al Hasan pun kagum karena semua yang ia tanyakan semuanya terjawab dan terkuasai dengan baik.

Beliau tinggal di Mesir beberapa tahun dan sempat pula berkunjung ke Syam dulu dalam waktu yang tidak begitu lama untuk belajar fiqh Maliki.Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama akhirnya beliaupun pulang kembali ke Bagdad dan membangun rumah yang sederhana serta berazam untuk menghentikan rihlah ilmiahnya dan memfokuskan aktifitasnya dalam beribadah, menulis dan menyusun buku. Dirumah yang sederhana ini beliau ciptakan karya-karya besarnya yang dikemudian hari,berabad-abad lamanya sampai saat ini menjadi referensi para ulama dan umat ini. Dan dirumah yang sederhana ini pula akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir untuk menemui Rabbnya, tepat pada hari Sabtu, tanggal 2 Syawal tahun 310 H.dan dikuburkan pada hari Ahad pagi dirumah beliau.

Tentang hal ini, Imam al Khatib dalam Tarikh Bagdadnya ,mengomentari,” Orang-orang berkumpul dan berkerumun melayat jenazahnya, tidak ada yang mampu menghitungnya (saking banyaknya ),kecuali Allah saja, dan disholati kuburannya selama berbulan-bulan , siang dan malam…,”.

Karya-KaryaBeliau

Sebagaimana yang telah disinggung diatas, bahwa Imam Al-Thabary dipandang sebagai salah seorang tokoh dan ulama terkemuka yang menguasai benar berbagai disiplin ilmu dan telah meninggalkan warisan keislaman yang cukup besar yang senantiasa mendapat sambutan baik disetiap masa dan generasi.

Dengan kelebihannya tersebut, maka para ulama sepakat bahwa beliau layak dijuluki sebagai Imam pada masanya, tentang hal ini Abdul aziz Al-Thabary berkomentar,”Sungguh beliau seperti seorang qari’ yang tidak mengetahui selain al Qur’an,seperti muhadits yang tidak banyak tahu kecuali masalah hadits,seperti seorang faqih yang hanya mengetahui tentang fiqh,seperti ahli nahwu yang tidak banyak tahu kecuali ilmu nahwu itu,dan beliau adalah seorang yang ‘alim tentang peribadahan dan menguasai benar banyak ilmu, dan apabila dikumpulkan kitab-kitab beliau dengan yang selainnya, maka akan terlihat kelebihannya,”.8

Dari sekian banyak buah karyanya,yang paling populer adalah : Tarikhul Umam wal Muluk tentang sejarah dan Jmi’ul Bayan fi Tafsir Qur’an tentang tafsir. Kedua buku tersebut termasuk diantara sekian banyak rujukan ilmiah paling penting. Bahkan buku tafsinya merupakan rujukan utama bagi para mufasir yang menaruh perhatian terhadap tafsir bil-ma’tsur, diantaranya Imam Ibnu Kasir.

Tafsir Ibn jarir terdiri atas tiga puluh jilid, masing-masing berukuran tebal.Pada mulanya tafsir ini pernah hilang, namun kemudian Allah menakdirkannya muncul kembali ketika didapatkan satu naskah manuskrip tersimpan dalam penguasaan seorang amir yang telah mengundurkan diri, Amir Hamud bin Abdur Rasyid, salah seorang penguasa Nejd.Tidak lama kemudian kitab tersebut diterbitkan dan beredar luas sampai ditangan kita, menjadi sebuah ensiklopedi yang kaya tentang tafsir bil ma’tsur.

Ia merupakan sebuah tafsir bernilai tinggi yang sangat diperlukan oleh setiap orang yang mempelajari tafsir. Imam as Suyuti menjelaskan,9Kitab Tafsir Imam Al-Thabary adalah tafsir paling besar dan luas. Didalamnya ia mengemukakan berbagai pendapat dan mempertimbangkan mana yang paling kuat, serta membahas ‘irab dan istinbath.Karena itulah ia melebihi tafsir-tafsir karya para pendahulu.” Imam Nawawi berkata,“Umat telah sepakat bahwa belum pernah disusun sebuah tafsirpun yang sama dengan tafsir Al-Thabary,“, senada dengan itu Ustadz Ahmad Muhamad Syakir ,Muhakik dan mukharij tafsir Al-Thabary pun berkomentar,” Kitab Tafsir ini adalah kitab tafsir paling agung yang pernah saya dapati dan saya lihat dan alangkah pantas dan layak kalau sang penyusunnya mendapat gelar Imam al Mufassirin,”.10

Tafsir ini pun adalah kitab tafsir yang paling tua yang sampai kepada kita secara lengkap. Sementara tafsir-tafsir yang mungkin pernah ditulis orang sebelumnya tidak ada yang sampai kepada kita kecuali hanya sedikit sekali. Itupun terselip dicelah-celah kitab Al-Thabary tersebut.

Ibn Jarir memaparkan tafsir dengan menyandarkannya kepada sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Ia juga mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjihkan sebagian atas yang lain.

Metode yang diikuti Ibn Jarir dalam tafsirnaya ialah, apabila hendak menafsirkan suatu ayat Qur’an ia berkata:”Pendapat mengenai ta’wil (tafsir) firman Allah ini adalah begini dan begitu.” Kemudian ia menafsirkan ayat tersebut dengan berdasarkan pada pendapat para sahabat dan tabi’in yang diriwayatkan dengan sanad lengkap, yakni tafsir bil ma’sur berasal dari mereka. Ia memaparkan segala riwayat yang berkenaan dengan ayat, namun tidak hanya sekedar mengemukakannya semata melainkan ia juga mengkonfrontir pendapat-pandapat (riwayat-riwayat) tersebut satu dengan yang lain lalu mentarjihkan salah satunya. Disamping itu ia juga menerangkan aspek i’rab jika hal ini dianggap perlu dan meng istinbat kan sejumlah hukum.11

Terkadang pula ia mengkritik sanad, tak ubahnya seperti kritikus sanad berpengalaman.Maka ia ta’dilkan(menetapakan sebagai orang yang adil) beberapa perawi, mentarjihkan ( menetapkan sebagai orang tercela) perawi lain yang memang cacat dan menolak riwayat yang tidak dijamin keshahihannya.

Ibn Jarir menaruh perhatian besar terhadap masalah qira’at dengan menyebutkan bermacam-macam qira’at dan menghubungkannya dengan makna yang berbeda-beda. Dikatakan bahwa ia telah menulis sebuah karangan khusus tentang qira’at.

Sekalipun meriwayatkan berita-berita yang diambil dari kisah Israiliyyat tetapi berita-berita itu ia susul dengan pembahasan dan kritikan.

Beliau juga sangat memperhatikan penggunaan bahasa Arab sebagai pegangan, disamping riwayat-riwayat hadis yang dinukil, berpedoman pada syair-syair arab kuno, memperhatikan mazhab-mazhab ilmu Nahwu dan berpijak pada penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal luas. Kecuali itu ia, sebagai mujtahid, juga banyak membicarakan hukum fiqh, maka ia sebutkan berbagai pendapat para ulama dan mazhabnya kemudian ia menyatakan pendapat sendiri sebagai pendapat yang dipilihnya dan dipandang kuat.

Adakalanya ia mengetengahkan masalah akidah dan mendiskusikannya dengan cermat. Dalam hal ini ia sering menyanggah pendapat beberapa golongan dan mazhab ahli kalam serta menyokong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Darul Ma’arif di Mesir telah menerbitkan dan mempublikasikan kitab ini yang ditangani secara baik . Hadis-hadisnya ditakhrijkan oleh Ustadz Ahmad Muhamad Syakir .Dan beberapa tahun kemudian dicetak ulang oleh Darul Kutub Ilmiah Beirut dengan format yang berbeda dan dengan jumlah juz yang lebih sedikit.

Adapun Karya-karya beliau yang lainnya,12 diantaranya:

Tarikhul Rijal

Ikhtilaful Fuqaha

Tahzibul Asar

Kitabul Basit fil Fiqh

Al Jami’ fil Qira’at

Kitabul Tabsir fil Usul

Adab al Manasik

Adab an Nufus

Al Khafif fil Fiqh

Dan yang lainnya.

Penutup

Membaca dan menela’ah kisah perjalanan hidup seorang ulama besar sekaliber Imam Al-Thabary , Kita dipaksa untuk senantiasa bercermin dan introspeksi diri. Beliau dengan karya-karyanya yang spektakuler dan monumental telah tercatat dengan tinta emas dalam sejarah umat ini, menjadi satu elemen penting dalam bangunan peradaban Islam. Semua itu merupakan hasil dari jerih payah, kegigihan dan kejuhudannya dalam usaha menuntut ilmu.

Kita sebagai generasi setelahnya dituntut untuk menuai ibroh dari perjalanan hidupnya,Kita jadikan motivasi untuk terus berjuang memperbaiki diri, berusaha mencapai apa yang telah beliau capai, mengumpulkan bekal sebanyak mungkin, untuk kemudian menghasilkan karya-karya positif yang berguna bagi kehidupan umat, apapun dan bagaimanapun hasil karya kita, yang penting bermanfa’at dan berguna bagi Islam dan Umat. Sehingga kitapun ikut berpartisifasi dalam membangun peradaban Islam, walau hanya dengan meletakan dan membubuhkan satu buah batu bata, namun yang klop dan cocok pada tempatnya dalam bangunan megah peradaban Islam tersebut.

Terlalu singkat tulisan ini , untuk mengungkap secara detail kisah hidup imam Al-Thabary13 yang penuh dengan mutiara hikmah dan pelajaran, Namun setidaknya bisa dijadikan stimulan dan tadzkirah bagi kita se mua, penulis khususnya untuk mengambil mutiara-mutiara yang ada tersebut serta menggali kembali untuk memperoleh tambahan mutiara –mutiara yang begitu indah.

Terakhir , Jazahullah khairan, semoga Allah Swt memberkati, merahmati dan membalas amal sholeh beliau. Amien.


* Coretan singkat ini disampampaikan pada acara bidang taklim FOSPI, hari Kamis,24 Juli 2003, di Sekretariat.


1 Penulis adalah mahasiswa bujangan fakultas ushuludin tk. Akhir jurusan Hadits.

2 Dinukil dari makalah “Interpretasi al-sunah Kontekstual oleh ahmad Ikhwani.

3 Al-Thabary,Tarikh al muluk wal Umam,Darul Kutub ilmiah, Beirut, juz 1

4 Mu’jam al Buldan, juz 1,hal. 57.

5 Manna Khalil a-Qattan,ulumul Qur’an, edisi terjemah ,hal 526.

6 Ad-Dzahabi, Siar A’lam an Nubala,juz 14,hal 267

7 Al-Thabary,Tarikh al muluk wal Umam,Darul Kutub ilmiah, Beirut, juz 1

8 Idem

9As Suyuti, al Itqan,jilid 2,hal , 190.

10 Al-Thabary , tafsir Jami al Bayan., cet. Darul Ma’arif, Kairo.

11 Manna Khalil a-Qattan,ulumul Qur’an, edisi terjemah ,hal 502.

12 Lihat.tarikh Al-Thabary, juz 1cet Darul Kutub ilmiah.

13 Untuk lebih lengkapnya lihat dan baca kitab, at Tafsir walMufassirun, Dr. Muhamad Husen ad Dzahabi,juz 1hal.147-161, Maktabah Wahbah, cet ke-7 th. 2000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s