Imam Suyuthi’

Imam Suyuthi*

Oleh Danis Wijaksana **

Pendahuluan

Menguak sejarah seorang tokoh, seperti memasuki belantara hutan yang luas, butuh kecermatan, ketelitian, kehati-hatian. Sebab warisan sejarah adalah barang yang mahal. Mengambil hikmah dan keteladanan dari mereka adalah sebuah keniscayaan bagi kita.

Sosok kali ini, satu dari sekian manusia-manusia terbaik di dunia. Terutama dalam menorehkan tinta emasnya menghasilkan Mahakarya keilmuan bagi umat di masanya dan generasi mendatang. Mencermati ketokohannya, seakan memberi inspirasi bagi kita untuk ikut menyumbangkan karya terbaik bagi umat, meski sulit.

Kali ini, pembahas berupaya bercerita tentang tokoh ini. Namun di sini pembahas mohon maaf karena tulisan ini terlalu singkat untuk tokoh sekaliber beliau. Meski demikian, semoga tulisan ini menjadi tahap pertama bagi rekan-rekan dalam menyelami ketokohan beliau, Imam Suyuthi.

Biografi Sang Imam

Beliau bernama Abdurrahman bin Kamal bin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin bin Fajr bin Utsman bin Nadiruddin Hamam al-Hudhairi as-Suyuthi. [1] Jalâluddin adalah laqab beliau dan Abu Fadl kunyah nya.

Sedangkan al-Hudhairi, sebagaimana dijelaskan as-Suyuthi dalam kitabnya Husnul Muhâdharah merupakan penisbatan kepada Hudhairiyyah, satu daerah di Baghdad yang merupakan kota kelahiran buyutnya. Adapun nama as-Suyuthi dinisbatkan kepada propinsi Asyut di negara Mesir dan merupakan tempat kelahiran beliau. [2]

Beliau lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan bulan Rajab[3] tahun 849 H. Ketika ayahnya wafat, beliau masih berusia 5 tahun 7 bulan dan telah hafal Alquran hingga surat Al-Tahrim. Selepas ayahnya mangkat, pengasuhannya diserahkan kepada beberapa pihak, di antaranya Kamal bin Hamam (Pengarang Fathul Qadîr). Di bawah pengawasan Kamal, Imam Suyuthi banyak berguru kepadanya dan mampu mengkhatamkan Alquran pada usia kurang dari 8 tahun serta telah hafal beberapa kitab kecil antara lain; Umdatul Ahkam, Minhaj Nawawi, Alfiah ibn Malik, Minhaj Baidlawi dll. [4]

Napak Tilas Keilmuan Sang Imam

Pada usia 16 tahun (864 H), beliau memulai pengembaraan keilmuannya. Menurut penuturan muridnya, ad-Dawudi, tidak kurang dari 51 guru (Syeikh) beliau datangi, dari berbagai disiplin ilmu[5]

Beliau belajar ilmu Faraidl dari ahli Faraidl di zamannya, Syeikh Syahâbudddin as-Syarmisaji. Berguru Fiqh kepada Alamaddin al-Bulqiny hingga tahun 878 H. Belajar Ulumul Quran dan Fiqh kepada Syarafuddin al-Manawy. Darinya beliau belajar al-Minhaj, Syarh Bahjah dan Tafsir Baidlawi. Kemudian belajar hadits kepada Taqiyuddin as-Syabli al-Hanafi selama 4 tahun. Selanjutnya berguru Tafsir, Ushul, Lughah, Ma’ani dll. selama 14 tahun kepada Syeikh Mahyaddin al-Kafiyaji.

Selain itu, beliau juga sering sima’an kepada beberapa syeikh, yang kalau dihitung kurang lebih 150 Syeikh beliau datangi bersama rekannya Syamsuddin as-Syahawi dan Ali al-Asymuni, di antaranya; syeikh Syaifuddin al-Hanafi, syeikh Sairafi, syeikh Syamsuddin al-Marzabani dll. [6]

Berbagai disiplin ilmu beliau geluti, tak luput ilmu kedokteran pula yang beliau pelajari dari Muhammad bin Ibrahim ad-Dawani[7]. Bahkan pada permulaan perjalanan ilmunya, beliau sempat belajar ilmu Mantiq, namun buru-buru ditinggalkannya setelah mendengar Ibn Shalah menfatwakan haramnya Ilmu Mantiq[8]

Bukan saja kaum Adam yang menjadi guru Imam Suyuthi. Dari kaum Hawa juga beliau banyak berguru di antaranya kepada Ummul Fadl binti Muhammad al-Muqaddasi, Ummul Hanna binti Badrani al-Masriyah, Aisyah binti Abdul Hadi dll.[9]

Beliau juga melakukan perjalanan keilmuan ke berbagai tempat antara lain; Syam, Hijaj, Yaman, India, Maroko, dan Saudi Arabia.

Keistimewaan Sang Imam

Imam Suyuthi merupakan ilmuan yang unggul dalam berbagai disiplin ilmu khususnya Tafsir, Hadits, Fiqh, Nahwu, Ma’ani, Bayan, dan Badi’[10] Dalam bidang hadits, beliau terkenal sebagai guru besar dalam bidang tersebut. Ini dikuatkan oleh pengarang kitab Syadaratul ad-Dahab; ” Sesungguhnya Imam Suyuthi melihat Nabi Saw. dalam mimpinya dan beliau bertanya kepada Nabi tentang sebagian hadits-hadits. Nabi memanggil beliau: Kemarilah wahai Syeikh Sunnah”. Selain itu, hampir 200.000 hadits beliau hafal, sebagaimana penuturan Imam Suyuthi sendiri, ” Andai saja aku dapatkan lebih dari itu, akan aku hafal”

Dalam berkarya, beliau sangat produktif, tidak satu disiplin ilmupun beliau tinggalkan kecuali beliau menyusunnya menjadi satu manuskrip yang berharga. Ini dikuatkan muridnya, ad-Dawadi dalam biografinya.

Bahkan fatrah dalam menghasilkan karya yang tergolong sangat cepat, menempatkannya sebagai ilmuan tangguh di jamannya. Kata ad-Dawadi, ” Aku menyaksikan Syeikh (Imam Suyuthi), beliau menulis dalam satu hari sampai 3 buku yang disusun dan diterbitkan.”[11]

Hingga tahun 904 H atau 7 tahun sebelum kematiannya, 538 karya beliau hasilkan mencakup; Ilmu Tafsir (73) Ilmu Hadits (205), Musthalah (32), Fiqh (71), Ushul Fiqh & Tasawwuf (20), Lughah, Nahwu & Tashrif (66), Ma’ani, Bayan & Badi’ (6), dan Sejarah (30).[12]

Berikut ini pembahas kutipkan sebagian karya-karya Imam Suyuthi:

Tafsir & Ulumul Quran:

1.Tafsir Jalâlain

2.al-Itqan fi Ulum alquran

3.ad-Durrul Mansur fi Tafsir bil Ma’tsur

4.Libâb an-Nuqûl fi Asbab an-Nujul

5.al-Alfiah fi Qiraatil al-Asyr

Hadits

1. al-Jam’i al-Kabir

2. Tadribu ar-Rawi

3. al-Ahâdits al-Manfiyah

4. Is’af al-Mubatha’ fi Rijal al-Muwatha’

5. Jam’u al-Jawami’

Fiqh

1. al-Isybah wa an-Nadhair

2. Jam’u al-Jawami’

3. al-Azhar al-Giddhah fi Fiqh ar-Raudah

4. Tasynif al-Asma bi Masail al-Ijma’

5. al-Lawami’ al-Bawariq fi al-Jawami’ wa al-Fawariq

Lughah

1. Jam’u al-Jawami’

2. al-Faridah fi an-Nahwu wa at-Tashrif wa al-Khat

3. al-Fath al-Qarib ‘ala ma’na al-Labib

Ushul, Bayan & Tashawwuf

1. Syarh al-Kawkab al-Waqad fi al-I’tiqad

2. Uqud al-Jamad fi al-Ma’ani wa al-Bayan

3. Muhtashar al-Ahyad

Tarikh & Adab

1. Thabaqat al-Huffadz

2. Tarikh Misr

3. Syarh Bant Su’ad


Di samping itu, beliau juga adalah seorang penyair yang baik. Banyak karya syair yang dihasilkan terlebih syair yang bercerita tentang faidah ilmu.[13]

Wafatnya Sang Imam

Menginjak usia 40 tahun, beliau mengasingkan diri dari urusan keduniaan dan lebih berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah Swt. Benar-benar pengunduran diri secara total, sehingga seolah-olah tidak mengenal siapapun di dunia ini. Banyak para aghniya dan petinggi bangsa mengunjungi serta memberinya hadiah, namun selalu ditolaknya.

Beliau berhenti menulis, meninggalkan majlis fatwa, dan pengajaran setelah 22 tahun bergelut dalam dunia tersebut. Namun beliau mengungkapkan alasan pengunduran dirinya ini dalam sebuah buku berjudul at-Tanfis. Beliau tinggal di Raudhatul Miqyas, dan tidak berpindah dari sana hingga akhir hayatnya.

Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Jum’at bertepatan dengan 17 Jumâdil Ulâ di Raudhatul Miqyas setelah mengalami sakit selama seminggu akibat pembengkakan pada tangan kirinya pada usia 61 tahun 10 bulan 18 hari. Dimakamkan di daerah Husy Qushun samping Bab Qurafa.

Sang Imam dan Tafsir ad-Durru al-Mansur.

Tafsir ini termasuk jenis tafsir bil ma’tsur. Tentang tafsir ini, kita akan mendapatkan kronologis penyusunannya ketika membaca akhir kitab al-Itqan dan mukadimah tafsir ad-Durrul al-Mansur.

Setidaknya ada dua tahapan dalam penyusunan tafsir ini. Yang pertama dalam ukuran yang lebih tebal, kemudian berakhir dalam ukuran yang lebih tipis. Keduanya memiliki nama masing-masing.

Berikut kronologis penyusunan kitab ini, sebagaimana dituturkan Imam Suyuthi dalam akhir al-Itqan (2/183), ” Dan sungguh aku mengumpulkan dalam satu kitab sanad-sanad hadits yang berisi tafsir Nabi dan para sahabat. Di dalamnya tercakup 100.000 hadits antara yang marfu’ dan mauquf. Alhamdulillah rampung dalam 4 jilid dan diberi nama Tarjaman Alquran”.[14]

Kemudian dalam Mukadimah Tafsir ad-Durrul al-Mansur, beliau berkata: “Ketika aku menyusun kitab Tarjaman Alquran, yaitu kitab tafsir yang berisi sanad-sanad hadits tentang Rasulullah Saw. dengan sanad-sanad yang panjang. Aku melihat kesia-siaan lebih banyak dari cita-cita yang diharapkan. Maka, untuk mencoba menstimulus mereka, aku hanya mencantumkan matannya dalam kitab ini tanpa disertai sanad yang panjang. Aku rampungkan ringkasan ini dengan hanya menuliskan matannya saja, merujuk dengan teliti kepada kitab-kitab yang mu’tabar dan diberi nama ad-Durrul al-Mansur fi Tafsir al-Ma’tsur”. [15]

Dari kronologis di atas, kita akan mendapatkan kesimpulan, bahwa maksud Imam Suyuthi meringkas kitab tafsirnya ini bertujuan agar orang-orang yang membaca kitabnya ini tidak menemukan kebosanan.

Keistimewaan tafsir ini adalah;

Pertama, Merupakan kitab tafsir yang berisi kumpulan bagian-bagian terpenting unsur penafsiran ayat secara ma’tsur. Di dalamnya jarang kita dapati unsur penfasiran ayat yang bukan secara ma’tsur atau tercampur unsur-unsur ra’yu. Bagi kita yang hendak mencari kitab yang benar-benar kumpulan riwayat ma’tsur, barangkali ad-Durrul al-Mansur sebagai jawabannya.

Kedua, Merupakan kitab tafsir satu-satunya yang selaras antara penamaan dan isi kitab tersebut. Sebab seringkali dalam kitab-kitab lain, menamakan tafsir bil ma’tsur akan tetapi isinya tidak selaras dengan namanya.

Ketiga, Meski sanad-sanad hadits dalam kitab ini banyak dibuang, akan tetapi tetap memudahkan bagi pembaca kitab ini dalam merujuk sumber aslinya atau minimal yang berkaitan dengan sumber aslinya. [16]

Sebagai manusia biasa, Imam Suyuthi tentu tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan.Kekhilafan beliau terlihat dalam penyusunan kitab ini. Kesalahan terbesar dalam tafsir ini adalah tidak adanya ringkasan atas hadits-hadits atau riwayat-riwayat yang shahih. Kitab ini hanya sebatas kumpulan riwayat-riwayat para salaf tentang penafsirkan ayat, yang diambil dari Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Imam Ahmad, Abu Daud, Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, Abd Ibn Hamid, dan Ibn Abi ad-Dunya.

Kendati beliau sangat piawai dalam mengumpulkan dan menyusun hadits-hadits, namun dalam upaya memilah mana hadits yang shahih dan dhaif tidak terlihat dalam kitab ini. Sehingga menimbulkan kebingungan tersendiri dalam menentukan mana riwayat yang maqbul dan mana yang mardud.[17]

Penutup

Demikian sedikit paparan yang bisa pembahas sampaikan tentang syakhsiah Imam Suyuthi ini. Tentu banyak kekurangan dalam makalah ini. Hanya kepada Allah-lah pembahas memohon ampun atas segala kelalaian dan kesalahan. Ilâhi anta maksûdi wa ridlâka matlûbi. Wa Allahu A’lamu bi ash-Shawâb

Thub Romley, 30 September 2003


* Disampaikan pada acara Diskusi Dwi Mingguan “Kajian Mufassirin” Bidang Garapan Pendidikan Perwakilan Persatuan Islam (Pwk-PERSIS) Mesir, Kamis, 02 Oktober 2003 di Rumah PERSIS.

** Pegiat Pwk-PERSIS Mesir

[1] Pengarang kitab Mu’jam Muallifin menambahkan nama Imam Suyuthi dengan at-Thulûni, al-Misry dan as-Syâfi’i.

[2] Jalâluddin as-Suyuthi, Sunan an-Nasa’I, yang ditahqiq oleh Maktab Tahqiq li Turats al-Islami, Dar Ma’rifah, Beirut, c.III, t. 1994, h. 71-72

[3] Kebanyakan para sejarahwan menyepakati bulan ini sebagai bulan kelahiran Imam Suyuthi, namun Ibnu Iyas dan Ismail Basya al-Baghdadi menyatakan lain, bahwa bulan kelahiran Sang Imam adalah bulan Jumâdil Akhir.

[4] Jamal Musthafa Abdul Hamdi Najjar, Manahij Tafsiriyyah, Jami’atul Azhar, Kairo, t.2000, h. 251

[5] Ibid h. 252

[6] Jalâluddin as-Suyuthi, ad-Durrul al-Mansur fi at-Tafsir al-Ma’tsur, Dar Kutub al-Ilmiyyah, C.I, t.2000, h. 6

[7] Jalâluddin as-Suyuthi, Jam’ul Jawâmi, yang ditahqiq oleh Khaled Abdul Fattah, Dar Kutub Ilmiyyah, Beirut, C.I, t. 2000, h. 12.

[8] Jalâluddin as-Suyuthi, Sunan an-Nasa’I, Op Cit, h. 73

[9] Jalâluddin as-Suyuthi, Jam’ul Jawâmi, Op Cit, h. 12

[10] Jalâluddin as-Suyuthi, Sunan an-Nasa’I, Op Cit, h. 73

[11] Jamal Musthafa Abdul Hamdi Najjar, Manahij Tafsiriyyah, Op Cit h.253

[12] Jalâluddin as-Suyuthi, Sunan an-Nasa’I, Op Cit, h. 74

[13] Jalâluddin as-Suyuthi, Jam’ul Jawâmi, Op Cit, h. 13

[14] Jamal Musthafa Abdul Hamdi Najjar, Manahij Tafsiriyyah, Op Cit h.255

[15] Jalâluddin as-Suyuthi, ad-Durrul al-Mansur fi at-Tafsir al-Ma’tsur, Op Cit, h. 17

[16] Jamal Musthafa Abdul Hamdi Najjar, Manahij Tafsiriyyah, Op Cit h.256

[17] Dr. Muh. Husen al-Dzahabi, al-Tafsîr wa al-Mufasirûn, M, Maktabah Wahbah, Kairo, cet. VI, 1995, vol. I, h. 264

2 comments on “Imam Suyuthi’

  1. Pak kitab ini sering di kutip kaum ahmadiyah dalam mendukung argumentnya tentang bahwa pintu kenabian masih terbuka. khususnya Tentang tafsiran ayat Al Ahzab ayat 40. Di situ ada menyebut riwayat St ‘Aisyah ” quuluu khootamunnabiyiin wa laa taquuluu la nabiyya ba’dahu” (Ad Durrul Mansur Juz 20 hal 617) mohon penjelasan pak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s