Pergerakan MASISIR Vis a Vis Potensi Intelektualitas Mesir

Pergerakan MASISIR Vis a Vis Potensi Intelektualitas Mesir

Oleh: Zainurrofieq

PREAMBULE

Bisa sekolah di Mesir, merupakan kebanggaan tersendiri bagi orang Indonesia. Banyak orangtua murid yang bercita-cita ingin mengembangkan anaknya sekolah ke Mesir karena bila sekolah di Mesir akan menjadi “ulama yang moderat” beda dengan bila sekolah ke beberapa negara Timur tengah lainnya selain Mesir. Terlepas benar atau tidaknya kenyataan ini, atau setuju tidaknya dengan ungkapan tadi, pada kesempatan ini penulis ingin sedikit menggambarkan beberapa instrumen yang mendukung anggapan diatas. MASISIR, Singa yang baru bangkit Bila kita baca sejarah masa lalu MASISIR (Mahasiswa Mesir), sangat menggembirakan karena banyak digandengkan dengan beberapa kejadian-kejadian monumental dan dilakukan oleh tokoh-tokoh yang kemudian menjadi orang-orang penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Kejadian-kejadian itu seperti upaya mahasiswa dalam mendesak pemerintahan Mesir dan Arab untuk menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dari penjajah (tahun 1945). Aktifis mahasiswa zaman dulu yang kemudian jadi tokoh nasional juga sangat banyak di Indonesia. Dua kondisi ini ikut membangun kepercayaan masyarakan Indonesia, bahwa potensi Mahasiswa Mesir perlu diperhitungkan.

***

Namun dalam perjalanannya, pada generasi berikutnya, tahun 1994 sempat terungkap dan dikupas tuntas dalam Jurnal Ulumul Quran yang saat itu menjadi Majalah keilmuan yang sangat populer di Indonesia, bahwa potensi alumni Timur tengah/Mesir sungguh sangat disayangkan karena tidak mampu berbuat banyak untuk perjalanan bangsanya. Alumni TimTeng hanya mampu menjadi kiai-kiai kecil di pondok dan tidak mampu mewarnai politik nasional secara lebih luas. Potensi alumni TimTeng saat itu hanya mampu menjadi kelompok penekan di pinggiran karena ketidak mampuannya mewarnai budaya secara umum.

Alumni TimTeng juga saat itu terkenal seorang yang cenderung emosional dan tidak mampu berdialog dengan sehat dan ilmiah. Dari penampilan seperti ini, rakyat semakin tidak simpati. Yang banyak mewarnai dan muncul saat itu hanyalah kader dan alumni-alumni barat yang tidak memiliki background agama yang cukup. Dan disayangkan, posisi-posisi penting di tatar nasional banyak diisi oleh mereka-mereka dan banyak menentukan pergerakan masyarakat secara umum baik yang berkenaan dengan urusan sosial-politik ataupun sampai bagian-bagian urusan keagamaan. Kelemahan yang sempat ter ekspose saat itu pula adalah kurang metodologisnya kader TimTeng dalam menjalankan dakwah Islam di Indonesia, dan tidak banyak menguasai dunia tulis menulis aliaas dunia jurnalistik, bahkan sampai kalah banyak tokoh yang sering menuliskan idenya di media massa dibanding tokoh-tokoh lulusan barat. Sangat disayangkan dan sangat menyedihkan!

***

Bersamaan dengan kritikan yang bertubi-tubi di Indonesia terhadap kader Timur Tengah saat itu,alhamdulillah, tercatat dalam sejarah, bahwa ternyata mahasiswa MESIR (MASISIR) / Mahasiswa Cairo (MASICO), tengah mengadakan agenda kebangkitan yang luar biasa. Mulai tahun 1990-an, MASISIR mulai menggebrak gerakannya dengan mengoptimalkan dunia jurnalistik yang secara tidak langsung Ikut mengembangkan dunia tulismenulis dikalangan MASISIR.

Saat itu tercatat Majalah HIMMAH dan Buletin Terobosan yang menjadi garda terdepan dalam membangkitkan dunia jurnalistik di MASISIR. Pada musim panas 1990 sampai tercatat tidak kurang dari 20 buletin baru bermunculan dengan latar belakang organisasi berbeda-beda. Ada buletin Kekeluargaan:(Pinisi –Sulawesi, Papadaan-Kalimantan, El Asyi-Aceh, Manggala-Jawabarat, Fajar-Jakarta, Ahsanta-Banten, Prestasi-Jawatengah, Generasi-Madura, dll), buletin Almamater:( Perdana –Darunnajah, Ahsanta-Gontor, Fokus-MAPK, Denting-Assiddiqiyyah dll), buletin kelompok studi, kelompok seni dan organisasi afiliatif: (Baiquni, Mizan, Sendika, amani, Sinar, Oase, Nuansa, dan lainnya yang belum sempat disebutkan dalam tulisan

ini). Dari euforia jurnalistik dikalangan MASISIR saat itu secara tidak langsung telah memecahkan kebekuan metodologi dalam dinamika MASISIR. Sedikit-sedikit terbenahi dari mulai kebiasaan berfikir, komunikasi opini dan dialog pendapat. Sampai juga pada pemunculan ide –ide alternatif baik dalam pemikiran keagamaan atau dalam reformasi keorganisasian.

Wal hasil, dinamika MASISIR seperti bangkitnya macan yang tengah tidur yang lama ditunggu suara seramnya. Otomasit, setelah bersuara dengan semaraknya berbagai potensi dikalangan MASISIR, para pemerhati dan para pemikir di Indonesia pun mengakui akan adanya kebangkitan luar biasa dalam paradigma potensi MASISIR. Banyak digambarkan akan munculnya Abduh-abduh Baru atau rasyid Ridlo Indonesia yang keluar dari kawah candradimukanya MASISIR.

Tidak dalam dunia jurnalisme saja, kebangkitan ini juga ditopang oleh makin semaraknya organisasi—organisasi yang berkualitas dikalangan MASISIR, seperti organisasi-organisasi massa non pemerintahan yang bergerak dalam bidang keilmuan dan kader yang berafiliasi langsung ke Indonesia, seperti ICMI, NU, Muhammadiah, Persis, Al Wasliah, PII dan lain sebagainya. Sisi lain yang dirasakan ikut membangkitkan dinamika MASISIR adalah adanya program-program pemerintah (DEPAG) yang memberangkatkan mahasiswa-mahasiswa berpotensi dan memiliki pengalaman organisasi dan keilmuan yang lumayan matang, dikirim untuk mengikuti kuliah di Al Azhar, karena mayoritas MASISIR adalah lulusan sekolah aliah di pondok/kampungnya yang belum merasakan dunia kampus dan dinamika organisasi moderen.

Hal ini bermula dari ide dan usahanya Mentri Agama Munawwir Sajali pada tahun 1992. Dan satu sisi pula yang tidak bisa dilupakan adalah karena adanya perubahan sisitim pengajaran dikalangan kampus Azhar yang juga lebih menjadikan konsentrasi keilmuan bagi mahasiswa lebih tinggi dibanding masa-masa sebelumnya. Rektor Universitas Azhar saat itu Prof.Dr.Ahmad Umar Hasyim berhasil menjadikan metode dua termin ujian pertahun yang tadinya hanya setahun sekali yang berdampak banyak waktu luang tanpa konsentrasi perkuliahan, dan digunakan melancong usaha ke Eropa oleh MASISIR.

***

Sampai di masa awal millenium baru ini, MASISIR tengah ada dalam kondisi dinamis dan serba potensial. Kreatifitasnya tengah menjadi-jadi, sampai-sampai kalau kita lihat kegiatan di Wisma nusantara yang menjadi sentral kegiatan MASISIR, dalam masa-masa liburan sangat susah bila ingin membuat acara dadakan karena sebulan kedepan, tempat-tempat pertemuan sudah penuh di booking. Ini menandakan begitu maraknya dan begitu hausnya MASISIR akan sebuah kegiatan dan aktifitas dan secara tidak langsung, banyaknya aktifitas berakibat langsung pada berkembangnya cara berfikir dan cara bersikap menjadi kader yang dinamis dan mampu menyelesaikan berbagai program internal atau pun eksternal.

Keaktifan MASISIR akan menjadi alasan untuk bangkitnya dinamika keilmuan, sosial, jurnalistik, dan keorganisasian dikalangan MASISIR karena nota bene, MASISIR adalah dunia “Thaifah” yang tengah “Tafaqquhfiddin” dan sama-sama memiliki tugas “Liyundziraqawmahum idza rojau ilaihim”. Mesir, Kota Kebebasan Ilmu Ketertarikan Imam Syafi’I untuk berkunjung dan menetap di Mesir adalah karena Mesir mampu menjadi kota penengah terhadap pergolakan dua kota besar dalam keilmuan Islam yaitu Madinah dan Baghdad.

Madinah terkenal dengan madrasah hadits dan Baghdad terkenal dengan madrasah ra’yu. Kedua kota ini menjadi dua kubu yang berbeda namun saling melengkapi khazanah islam dari keilmuan atau pun sosial politiknya. Kedua kecenderungan yang berbeda dari kedua kota ini pun memproduk ulama-ulama yang dua kubu pula. Kubu naql dan kubu ra’yu. Posisi Mesir yang mampu menjadi alternatif dari dua kubu ini menjadi ketertarikan tersendiri bagi para ulama untuk dapat mengembangkan ilmunya dalam kondisi yang Mesir miliki. Banyak para Ilmuan luar Mesir berkunjung dan tertarik diam mengembangkan Ilmunya di Mesir, seperti Ibnu Khaldun, Jamaluddin Afghani, Rasyid Ridlo, Abu Hanifah,bahkan Imam Syafii dan termasuk juga Sayyidah Nafisah gurunya Imam Syafii. Diakui oleh para ulama dan politikus masa –masa setelah abad pertengahan, Mesir merupakan Kota yang cocok untuk mengembangkan keilmuan karena ada dinamika kebebasan yang kondusif untuk mengembangkan sebuah disiplin ilmu.

Sejak kebangkitan ilmu Islam pasca abad pertengahan yang diawali oleh Ibnu Khaldun dengan kitab Al Ibarnya, aliran-aliran pembaharuan Islam banyak berkembang d Mesir. Seperti Aliran Salafiah Ibnu Taymiyyah dari Hijaz, Termasuk juga gerakan Muhammad abdul Wahhab, gerakan penterjemahan barat yang dimulai Rifat al Tahtawi, Aliran moderen Jamaluddin Afghani dan Muhammad Abduh, gerakan politik non Islamisnya Abdurrazik sampai –sampai berkembang pula aliran tarikah Naqsabandiyyah, Jafariyyah dan lain sebagainya.

***

Sampai pada zaman moderen ini, banyak inspirasi keilmuan dan pergerakan/shahwah islamiyyah lahir dari tanak kinanah ini.Dari gerakan yang diklaim konserfatif seperti gerakan Ikhwanul Muslimin yang dilopori Sayyid Hassah Al banna, gerakan Sayyid Qutub, pergerakan Ansorussunnah, Hizbu Tahrir, Harakah Jihad dan lain sebagainya. Sampai gerakan ide kontrofersi seperti trend Hermenetikanya Mafhumunnas Nasr Hamid Abu Zaid, pergerakan sosial Mahmud Ismail dan Hassan Hanafi, sampai-sampai Ali Abdurrazik dan juga Sayyid Asmawi, feminisme Nawal, semua berkembang . Dan yang terakhir adalah gerakan positifnya Al Azhar dibawah kepemimpinan Muhammad Sayyid Tantawi yang banyak disebut para tokoh sebagai Abduh Muda di tubuh Al Azhar. Tidak hanya dalam dunia pemikiran keagamaan dan pergerakan politik saja yang berkembang dengan pesat di Mesir, dalam sisi implementasi hukum seperti Fiqih pun nyaris menjadi kiblat para pemikir Islam dari daerah-daerah lain.

Namun memang sedikit disayangkan, pada fatroh terakhir ini banyak tekanan politik dari pemerintahan yang kurang menguntungkan bagi para pemikir putra Mesir seperti yang dialami Seikh Yusuf Qardlawi(pembaharu fiqih moderen). Qardlawi tidak memiliki kesempatan untuk menikmati kota persinggahan para nabi ini dengan bebas sebagaimana Seikh Sya’rawi, Seikh Muhammad Ghazali. Seikh Gad El Haq. Atiyyah Saqr dan syeikh Ali Jumah.

***

Tidak hanya dalam aliran pemikiran keagamaan, dunia filsafat, sosial, politik pun semarak bermunculan tokoh-tokoh terkemuka di Mesir ini yang bahkan menjadi primadona bagi generasi muda yang tengah menggodog sisi keilmuannya. Dalam sastra seperti Naguib Mahmud, Taha Husen, Abbas Mahmud Al Aqqad, dalam filsafat seperti Amin al Khulli dkk. Dalam perkembangan ilmu keislaman moderen yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia, Feminisme, bahkan terorisme pun, tohoh-tokoh di Mesir ini masih menjadi mayoritas dibanding dengan tokoh-tokoh pemikir di negara Timur Tengah lainnya.

Semua ini berkembang di Mesir karena, seperti kata para pemikir sendiri, karena adanya kebebasan untuk mengembangkan ilmu masing-masing. Tanpa ada kebebasan, ilmu dan apapun tidak akan pernah berkembang maju. MASISIR mesti banyak berbuat: Dari kondisi optimal diatas, sungguh sangat memiliki kesempatan yang tinggi bagi siapa saja yang memiliki niat untuk mengembangkan keilmuannya di Mesir ini untuk menjadi sosok muslim yang moderat dan optimal dalam mengabdikan keilmuan dan dakwahnya bagi bangsa Indonesia pada zaman kini. Bisa dipastikan siapapun akan mampu mendulang ilmu dan pengalaman lebih bila optimal dalam menjalani hari-harinya menggali ilmu di negri seribu menara ini, negri yang juga persinggahan para nabi. Diantara beberapa opsi yang bisa penulis suguhkan sebagai bahan orientasi dan bahan masukan adalah:

a. Bahasa, gerbang segalanya

Untuk mendapatkan upaya optimal dalam menggali nilai lebih, tentunya yang paling utama dan pertama adalah mampu menguasai bahasa sumber. Bahasa sumber ini tiada lain adalah yang pertama bahasa Arab dan keduanya bahasa Inggris dan prancis. Diantara faktor kegagalan MASISIR biasanya adalah karena tidak memiliki semangat tinggi dalam menempuh perbaikan diri dalam bahasa. Banyak mahasiswa yang merupakan lulusan pondok-pondok terkemuka di Indonesia yang menganggap urusan bahasa arabnya sudah tinggi, namun ternyata setelah masuk di Al Azhar banyak bahasa yang belum mereka kuasai dan mereka cenderung apriori dengan kelemahan ini. Dan mereka cenderung berjalan dengan kemampuan bahasa yang apa adanya.

Maka dalam perjalannannya mereka tidak mampu optimal dalam mengambil mutiara di Al Azhar dan di dunia ekstra (luar kampus). Perlu di fahami bahwa kemampuan menyadap ilmu di kampus bukan sebuah standar juga mampu menguasai ilmu ekstra kampus yang terkadang kita dapatkan dimesir ini lebih banyak ketimbang dunia kampus. Perkembangan perdebatan keilmuan di surat kabar atau di meja-meja seminar lebih banyak dan bahkan lebih mampu menyuguhkan sebuah perubahan yang signifikan bagi seorang mahasiswa. Kemampuan bahasa Inggris dan Perancis tentunya sebagai pelengkap dan penopang mampunya menjadi SDM yang benar-benar siap pakai. Sekedar untuk diketahui bahwa akhir-akhir ini bahasa perancis menjadi tend untuk dimiliki karena ternyata banyak buku dari disiplin ilmu sosial apalagi yang berbenturan dengan sosial politik moderen, bersumberkan bahasa perancis.

b. Jurnalisme, alat mendulang emas

Ibnu Khaldun pernah bertutur dalam magnumopusnya (Muqaddimah): “Saat perang, tentaralah yang akan menjadi pahlawan, namun saat moderen seperti sekarang ini Penulislah yang akan menjadi pahlawan”. Ungkapan Ibnu Khaldun ini sangat relefan dan perlu menjadi perhatian kita, bahwa kemampuan menulis merupakan perangkat yang mendesak untuk segera kita miliki. Karena tanpa mampu menulis, kita tidak akan bisa banyak berbuat apa-apa. Ada juga statemen yang menguatkan bahwa: “ Jika kita menulis, berarti juga kita akan membaca, namun tidak sebaliknya”. Sebagai insan akademis, tentunya kemampuan menulis adalah sarat untuk berhasil. Apalagi dalam dunia dakwah mderen seperti sekarang ini.

Dunia moderen adalah dunia sibuk, yang tidak akan banyak waktu lagi untuk berkumpul di sebuah langgar dan mendengarkan ceramah ustad. Maka dakwah dan upaya pencerahan masyarakat harus dilakukan pula dengan penyebaran tulisan biar saat kesibukan apapun, masyarakat masih bisa mendapatkan pesan-pesan yang kita berikan. Dan kuncinya adalah kita bisa dan pandai menulis. Maka jika kita pandai dan mampu menuliskan ide-ide yang ada dalam benak fikiran kita, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga dalam hidup ini, yaitu mendapatkan ilmu dan memberikan serta memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan.

c. Berfikir bebas dan positif, modal untuk maju

Untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan berharga, otomatis pula kesiapan dan perangkatnya pun harus kita siapkan. Salah satu kesiapan yang biasanya minim dalam benak kita adalah tidak mampunya membuka diri dan melakukan metode positif dalam berfikir. Biasanya hal itu terlalu terseret oleh metode komplik yang tidak sehat yang akhirnya akan mengkerdilkan langkah dan fikiran kita sendiri.

Dalam masa pencarian yang optimal. Mesti kita melihat dan menerima serta memfilternya dengan kemampuan masing-masing tentunya. Dengan berfikir positif dan bebas, otomatis kita akan mampu maju dan berubah dari kejumudan menuju kecerahan, dari kefanatikan menuju ketoleransi. Dari kegelapan menjadi terang benderang. Namun juga bebas bukan berarti tanpa batas, bebas hanyalah untuk mengembangkan kreatifitas berfikir agar tidak kaku dan tidak cenderung menyempit. Karena kebebasan akan selalu sebanding dengan kreatifitas, kreatifitas akan sejalan dengan kemajuan yang dinamis.

ENDING

Dengan bismillah, semoga segala kreatifitas yang positif untuk meningkatkan potensi kita dapat kita lakukan dengan optimal Dengan Bismillah pula segalanya kita mulai.

(Hay-8, 30 sept’04)

3 comments on “Pergerakan MASISIR Vis a Vis Potensi Intelektualitas Mesir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s