Fiqih Profetik; Independensi Fiqih Persis

Fiqih Profetik; Independensi Fiqih Persis

Oleh: Rifqi Fauzi*

Berdirinya Persis di Indonesia sama seperti Ormas lainnya- seperti NU, Muhamadiyah, Al-Irsyad dan lain sebagainya- yaitu sebagai rival atas imprealis yang berupaya meng-kerdil-kan masyarakat Indonesia baik dari segi pendidikan, ekonomi hatta keberagamaan (Baca, Islam). Namun yang membedakan Persis dari yang lainnya adalah peran Persis yang terfokus kepada revitalisasi keberagamaan yang terkenal dengan slogan back to Qur`an and Sunnah, sehingga dengan slogan itu Persis terlihat lebih sangar dibandingkan ormas lainnya, karena yang dihadapi Persis adalah masalah yang sangat sensitif yaitu keberagamaan masyarakat muslim Indonesia yang kental dengan bid`ah dan kemusyrikan yang sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat muslim pada waktu itu.

Keterbelakangan pengetahuan masyarakat Muslim Indonesia tentang agamanya bukan saja diakibatkan tekanan para imprealis saja, tetapi semua ini juga diakibatkan ketidaktuntasan para wali dalam berdakwah, karena para wali pada waktu itu merasa sulit untuk mengubah agama asli mereka kepada Islam secara langsung. Sehingga para wali terpaksa berdakwah dengan cara memformulasikan ajaran Islam dengan adat istiadat dan kepercayaan mereka, yang akhirnya melahirkan keberagamaan yang masih bercampur baur dengan kemusyrikan. Para saudagar Arab yang mempunyai faham (baca: fiqih) Syâfi`iyyah-pun banyak mempengaruhi cara ibadah mereka. Sehingga kita bisa lihat kebanyakan muslimin Indonesia mengaku berfaham Syâfi`iyyah, walaupun pada kenyataannya masih banyak cara ibadah mereka yang bertentangan dengan faham Syâfi’I itu sendiri.. Ini pun, saya kira, diakibatkan ketidaktuntasan dakwah para saudagar, sehingga pengetahuan mereka tentang fiqih Syâfi`iyyah setengah-setengah yang pada akhirnya masih banyak bid`ah-bid`ah yang melekat pada cara ibadah mereka. Dari permasalahan inilah, Persis hadir dan mencoba untuk merevitalisasi keberagamaan dengan cara back to Qur`an and Sunnah, yang saya lebih senang memanggilnya dengan istilah Fiqih Profetik (baca: faham kenabian), karena Persis berusaha untuk menyesuaikan faham muslimin tentang Islam dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. kepada umatnya. Sehingga Persis merupakan sebuah pergerakan yang mempunya fiqih independen dan mempunyai karakteristik tersendiri dalam memahami Islam, diantaranya: Pertama, menjadikan al-Qur`an dan al-Sunnah sebagai sumber dalam memahami agama Islam dan memutuskan suatu hukum. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Quran surat al-Mâidah ayat 48-49, al-Nisâ’ ayat 59, Ali ‘Imrân ayat 81 dan lain sebagainya. Kedua, ketika suatu permasalahan tidak didapatkan dalam al-Qur`an dan al-Sunnah, mereka menggunakan jalan ijtihad- yang merujuk kepada al-Qur`an dan al-Sunnah- dalam memutuskan hukum. Hal ini sesuai firman Allah dalam al-Qur`an surat al-Isrâ` ayat 15 dan sesuai dengan taqrir Rasulullah Saw.- yang diriwayatkan oleh Abu Daud- ketika beliau memberikan pertanyaan ke sahabat Mu`adz tentang tata cara memutuskan hukum sebelum pengutusannya ke Yaman. Ketiga, tidak menjadikan faham para madzhab Islam sebagai suatu keputusan final yang undebateable, karena ijtihad para ulama tidak termasuk tasyri` melainkan hanya bayan li at-tasyri` dan dikarenakan referensi pada masa sekarang lebih lengkap dibandingkan dimasa mereka, seperti referensi dalam menentukan ke-shahih-an suatu hadits dan lain sebagainya. Sebagai contoh, imam Syâfi`I pernah berkata tentang Ashaĥ al-Ahâdits, “tidak ada yang lebih shahih dari kitab hadist kecuali kitab al-Muwatha (karangan Imam Malik)”. Perkataan tersebut dapat dimaklumi karena pada zaman tersebut belum lahir kitab Shahih Bukhari dan Muslim yang mana kitab tersebut merupakan kitab hadits paling shahih dari kitab lainnya pada zaman sekarang. Ini menandakan bahwa referensi sekarang lebih lengkap daripada zaman dimana hidup para imam madhab. Keempat, memperbolehkan ikhtilaf hanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah dan jika ada kesamaan dalil yang tidak memungkinkan untuk disatukan, ditarjih atau dimansukh. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Rasululloh- yang diriwayatkan oleh Bukhari- bahwa jika seseorang melakukan ijtihad kemudian benar maka pahalanya dua dan jika salah maka pahalanya hanya satu. Kelima, tidak memandang hal-hal yang bersifat keduniaan- yang tidak ditentukan oleh al-Qur`an dan al-Sunnah- dan sifat basyariyah Rasulullah sebagai syari’at. Seperti Rasulullah suka memakai jubah dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan sabda nabi “antum a`lamu bi umûri dunyâkum“. Keenam, ijtihad Persis tentang suatu hukum bersifat debatable dan bukan merupakan keputusan final, siapapun berhak mengkritiknya jika ada dalil yang lebih kuat.

Demikianlah karakteristik Persis secara global selain karakteristik lainnya yang menjadikan Persis sebagai sebuah pergerakan yang mempunyai pemahaman tersendiri dan terbebas dari fanatik madzhab dan pengaruh semaraknya pemikiran- baik pemikiran liberal ataupun pemikiran literal-. Wallâhu A`lam bi al-Shawâb.

* Penulis adalah pegiat kelompok kajian Moslem Youth Education Club (MYEC) di Kairo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s