Jangan Katakan Perpisahan Itu Padaku

Jangan katakan perpisahan itu padaku

By: el-Wafaa

Ada angin kesedihan menerobos masuk lewat jendala hati ini, ada rasa pedih menyelimuti hari-hariku, andai kau tahu…! ingin ku berkata kepadamu:”jangan kau putuskan ikatan suci ini! aku masih ingin bersamamu!, walau ya…dulu aku yang meminta perpisahan itu darimu”

Tapi lisanku ego untuk sekedar berkata “jangan”, hanya hati yang perih menghitung hari.

Suamiku…belum hadirkah cinta itu di hatimu?? kenapa dia hadir menyapaku terlebih dahulu?

Malam semakin gelap dan sunyi, hanya kudengar gemericik air hujan yang turun sejak Isya tadi, angin dingin masuk melalui celah-celah kecil jendela, menerpamu yang tertidur di sofa, ku lihat kamu kedinginan.

Dengan tergesa aku menghampirimu dan membetulkan selimutmu, kupandang wajahmu lama, berapa hari lagi yang tersisa bagiku untuk sekedar memandang wajahmu seperti ini? satu bulan lagi??

“kalau memang kamu ingin bercerai dariku, sebaiknya kita tunggu sampai kesehatan ibu benar-benar pulih, setidaknya tunggulah satu bulan lagi. saya khawatir ibu akan shock mendengar kita bercerai. Ibu baru saja keluar dari rumah sakit, kita jangan menambah beban pikiran ibu lagi dengan ulah kita” terngiang kembali ucapanmu ketika ku pinta perpisahan itu darimu, kamu malah menjawabnya dengan bijak, kamu begitu memikirkan kondisi ibuku, aku? anak kandungnya begitu ego dengan keinginannya..

ibuku…ya…ibuku yang begitu menginginkan pernikahanku denganmu, padahal kamu orang asing bagiku. enam bulan yang lalu kita menikah, hanya karena ibuku yang sakit.

Aku terbangun mendengar lamat-lamat kecil suara tilawahmu, aku beringsut turun dari ranjang dan mengambil jilbab kaosku. Meski aku sudah menikah denganmu, aku masih tak mau membuka jilbabku di hadapanmu, karena aku merasa itu sebuah “pemerkosaan” dan sekarang, ketika cinta itu telah hadir di hatiku, aku tetap enggan karena malu!

Aku membuka pintu kamarku, dari ruang tamu sana, aku lihat kamu menoleh, aku menunduk karena malu “ah…aku bangun kesiangan lagi!” rutukku dalam hati.

“Katanya aktivis rohis di kampus? kok bangunnya kesiangan?? ufh..!! baru dua hari ini saja kok aku bangun kesiangan, gara-gara aku tak bisa tidur cepat memikirkan nasibku nanti..eh…kenapa kamu ga bangunin aku??” suara –suara itu muncul di hatiku.”kamu juga berdosa!” seruku dalam hati

“tadi saya ketuk-ketuk pintu kamarmu, saya kira ukhti sudah bangun” ujarmu seolah mendengar dialog hatiku. Ukhti?? selama 6 bulan masih memanggilku ukhti?? ih..aku kesal!! ku banting pintu kamarku cukup keras, bukan aku benci kepadamu seperti dulu, tapi sekarang aku benci melihat kekakuanmu itu! bukankah sekarang aku berusaha membiasakan diriku untuk memanggilmu “kakak”, kenapa kamu tak berusaha untuk memnggilku “adek”, setidaknya itu akan melebur kekakuan diantara kita, siapa tahu besok-besok aku memanggilmu dengan sebutan yang lebih manis dari itu, siapa tahu juga rencana perceraian kita akan batal. semoga saja…!

“ukhti, saya berangkat dulu. jangan lupa untuk nengok ibu ya!” pesanmu sebelum melangkah pergi bekerja

Aku merengut tak senang, kamu memandangku aneh, kulihat alismu mengerut sedikit, pertanda keheranan.

“ada yang salah?” tanyamu

“memangnya saya ga punya nama ya? kok masih panggil ukhti??” tanyaku ketus

Kulihat senyummu mengembang.

“Assalamu’alaikum, ukhti Rani” ujarmu, dan engkau pun meninggalkanku dengan motor Hondamu. ih…sebal!! kenapa kamu tak menawariku untuk numpang duduk di motor Hondamu? aku ingin menangis…ya Allah…masih belumkah Engkau semaikan rasa cinta di hatinya untukku? seperti telah Kau semaikan rasa itu dihatiku?

Aku duduk termangu di mesjid kampus, Hasna menghampiriku.

“kok masih duduk termangu di sini? sudah masak buat suamimu belum?” tanyanya

“aku tak mau bercerai, Has!” seruku tiba-tiba

Hasna memandangku, aku menunduk “ya…aku tak mau kehilangan dia..!”

“eh…bukankah dulu kamu begitu ingin berpisah dari dia? kok sekarang berubah?”

Air mataku menetes, apa yang harus kujawab?

“aku…aku menyayanginya!” jawabku

“kenapa kamu jadi sayang dia? katanya dia menyebalkan?” Hasna meledekku. Pandanganku menerawang.

“kenapa kamu tak katakan padanya kalau kamu tak mau berpisah?” lanjut Hasna menasehatiku.

“kalau dia mau bercerai denganku gimana? ih..mau dikemanakan mukaku?” ujarku

“ya…itu mah resiko! apa salahnya sih terus terang kepada suamimu sendiri demi menjaga keutuhan rumahtanggamu!”

Aku termangu mendengar nasehat Hasna, akan ku pertimbangkan nasehatmu, Has…!

Sore itu, aku terima surat dari pak pos untukmu, iseng kubuka dan kubaca.. isinya….??aku terlonjak kaget, surat panggilan beasiswa ke al-Jazair untuk suamiku! ufh…kenapa kamu tak pernah bilang kalau kamu punya rencana seperti ini? berarti kamu serius dengan perceraian kita?

“ada surat untukmu…! Maaf, suratmu saya buka tadi…”ujarku

Kamu memandangku, dan kemudian mengambil surat itu dariku, kulihat kamu tersenyum membacanya.

“kakak serius akan pergi ke al-Jazair?”

“insya Allah setelah urusan kita selesai” jawabmu

“kakak serius dengan perceraian kita?” tanyaku menyelidik

Kamu terdiam, kemudian memandangku lekat, airmataku menetes

“kenapa menangis?”tanyamu

Akankah aku jawab kalau sesungguhnya aku takut kehilanganmu? aku tak mau berpisah denganmu? kenapa kamu tak mengerti?

Aku menarik napas berat…kamu memandangku menyelidik…

“Ran??”

“selamat yah! bukankah itu cita-citamu semenjak dulu?”

Mentari pagi bersinar indah, ku buka jendela kamarku, aha…kurasakan kesegaran alam menyapa pori-pori kulitku

“Ran…kita beres-beres rumah yuk!” kamu berteriak memanggilku

Aku keluar dari kamar, kulihat kamu sedang sibuk mengepel lantai

“mumpung hari libur…kita beresin rumah! bantuin aku, Ran!” ujarmu lagi.

Aku pun mengangguk

“ruang tamu itu daerah kekuasaanku, biar aku saja yang membereskannya, itu tempat tidurku” teriakmu ketika aku membersihkan sofamu dari debu. Aku mendengus kesal, ku kira kamu sudah mau baikan denganku! nyatanya tidak…!!!

Aku pun melangkah menuju dapur, mencuci piring-piring yang kotor, kamu menghampiriku, aku masih cemberut.

“sini ..saya bantuin!”

Aku masih terdiam

“ngobrol dong!” godamu “kan sebentar lagi kita akan berpisah…masa’ di hari-hari terakhir seperti ini kita masih musuhan?”

Aku semakin kesal mendengarnya. “sudah punya pengganti yang baru ya? kayaknya ingin cepat berpisah dariku??” ujarku ketus

“ya…malah tambah marah deh! sudahlah… lebih baik kita masak enak aja, yuk Yang…!”ajakmu

Eh…apa aku tak salah dengar? manggil apa tadi? ih…kenapa aku tadi tak serius mendengarkannya? jadi nyesal…

Beberapa hari ini kita sudah mulai sedikit akrab, apa karena sebentar lagi kita akan berpisah?

“Setelah kita berpisah nanti, apakah kakak akan melupakan Rani?” tanyaku suatu ketika

“tidak…,kamu teman yang baik ” jawabmu

Hanya teman?? rutukku dalam hati

“kakak menyesal pernah menikahi seorang Rani?”

“Rani sendiri?” kamu malah balik bertanya

“kakak bahagia dengan perpisahan kita?”

Kamu terdiam, kenapa kamu tak jawab pertanyaan-pertanyaanku? ih greget!!!

Selama dua hari aku mengurung diri dikamar, aku tak pergi ke kampus, aku juga tak mau makan, kamu membukakan pintu kamarku dengan membawa sepiring nasi dan sayur

“makan dulu, Ran…nanti kamu sakit” serumu

Aku hanya terdiam sembari memeluk lutut

Kamu menyodorkan sesendok nasi kemulutku “makanlah, Ran..!” rayumu.

Aku menangis

“makanlah istriku sayang…! jangan buat suamimu ini khawatir” bisikmu

Aku semakin menangis, ku makan perlahan sesendok nasi yang kau sodorkan itu, kamu memandangku kemudian tersenyum. kamu menyuapiku beberapa kali

“istriku harus sehat, karena sebentar lagi kita akan pergi ke al-Jazair. kalau masih ngga sehat, ntar di tinggal lho!”

Aku tersenyum…yey aku Ge-er!

“siap-siap cepat! kita harus pergi ke KUA” ujarmu setelah sepiring nasi itu habis kulahap (lapar sih…!)

Ke KUA??ceraikah??

“mau apa kita kesana?” tanyaku

“ya…kita cerai! masa bulan madu sih??”

Blukkk…ku terjatuh dari kasur, aku meringis kesakitan mengelus-elus pantatku

Ku buka mataku lebar-lebar, ufh…aku tadi mimpi toh??? hih…beruntunglah tadi hanya cerita mimpi. eits…aku belum menikah kan?? aku raih kartu pengenalku yang tergeletak di rak; meyakinkan tentang statusku saat ini ,yap aku belum pernah menikah! sekarang statusku sebagai mahasiswi al-Azhar, Kairo. berarti aku yakin tadi hanya mimpi! mimpinya serasa nyata! satu babak lagi!! jadi takut! aku pun tergesa keluar dari kamar dan mengambil air wudlu….

For:temanku di imarah 3 no 21 buuts putri,

Semoga Allah swt menikahkanmu dengan lelaki yang shaleh…

Amien…

ه

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Sastra Tagged

One comment on “Jangan Katakan Perpisahan Itu Padaku

  1. …karena ucapan selamat tinggal adalah ucapan yang menusuk semua orang..!!! (Ai Haibara)

    Eeeh ternyata mimipi. Salam dari Kidnapper!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s