Tajdid al-Fiqh, Why Not ?

Tajdid al-Fiqh, Why Not?

Oleh: Aep Saepulloh D.

Belakangan ini, wacana perlunya melakukan tajdîd al-fiqh, makin marak diperbincangkan. Bukan hanya dalam fan fiqh, tapi juga dalam funûn lainnya semisal Ushul Fiqh, Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadits. Sekedar menyebut contoh, dalam bidang fiqh misalnya, hal ini ditandai dengan munculnya beberapa buku dan tulisan semisal buku nahwa fiqh jadîd-nya Jamal al-Bana, maqâl-nya Jamaluddin Athiyyah dalam Tajdîd al-Fiqh al-Islâmi juga buku-buku lainnya. Wacana ini muncul, hemat penulis, dilatarbelakangi diantaranya oleh dua hal penting. Pertama, “kegerahan” sebagian kalangan dengan fiqh yang selama ini– dalam kacamata mereka– cenderung kaku, rigid dan sudah kehilangan “ruh”nya. Untuk mengembalikan “ruh”nya inilah, kemudian mereka menyodorkan beberapa ma’âlim pembaharuan dan rekonstruksi sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisannya. Kedua, sebagai reaksi atas kepicikan sebagian kelompok yang sudah “keterlaluan” dalam melihat fiqh; seolah fiqh adalah benda kramat yang mampu menjawab semua tantangan dan persoalan kapanpun sehingga karenanya tidak perlu adanya perubahan. Hanya saja, sayangnya kelompok “pembaharu” ini terkadang lepas kendali, keluar dari koridor wacana yang dibawanya, tajdîd.

Apabila kita mencermati salah satu sabda Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Abu Daud, Hakim dan Imam Baihaqi, bahwa setiap seratus tahun sekali, Allah akan mengutus orang yang akan memperbaharui din (agama)Nya, maka konsep tajdîd adalah sesuatu yang sudah diprogramkan oleh Allah. Bahkan, kalau boleh dikatakan, ia memang sesuatu yang diperintahkan. Apabila dalam konteks din saja, harus ada gerakan tajdîd, maka apalagi dalam tataran fiqh yang tentunya hanya merupakan salah satu partikel kecil dari din tersebut. Namun persoalannya, tajdîd seperti apa yang dikehendaki? Apakah tajdîd dalam pengertian rekonstruksi atau malah sebuah dekonstruksi (tabdîd, tahrîf)? Untuk itu, mari kita samakan dahulu persepsi tentang tajdid ini.

Ada hal penting yang harus digarisbawahi dengan makna tajdîd ini. Tajdîd (pembaharuan, renovasi) bukan berarti tabdîd, tahrîf atau taghyîr. Untuk lebih memudahkan pengertian tajdîd ini, penulis akan sodorkan sebuah analogi ringan. Apabila ada sebuah bangunan kuno bersejarah atau sebuah rumah yang hendak ditajdîd (renovasi), maka ada beberapa ciri penting dari usaha tajdîd ini: 1) tetap menjaga esensi dari bangunan lama tersebut sesuai dengan ciri khas, tabiat dan modelnya. 2) hanya memperbaiki bagian-bagian yang sudah rusak atau sudah lemah dan 3) menambahkan aksesoris baru dengan tanpa merubah dan mengotak-atik ciri khas atau esensi dari bangunan kuno tersebut. Aksesoris ini semisal halamannya, kebunnya dan kebersihan atapnya. Hal ini dimaksudkan agar bangunan tersebut dapat tetap indah dan makin nyaman dipandang, tetapi tentunya tidak menghilangkan ciri keasliannya. Itulah tajdîd. Namun, apabila semua bangunan kuno tadi dirobohkan, atau ciri-ciri khasnya dihilangkan dan diganti dengan yang baru, maka ia bukan sebuah tajdîd, akan tetapi tabdîd, tahrîf atau taghyîr.

Dengan demikian, apabila kita sepakat dengan pemaknaan tajdîd di atas, maka tidak ada persoalan. Dan seperti itulah yang harus dipahami dari wacana tajdîd ini; tidak menghilangkan dan merombak ciri khas dan tabiat dari fiqh itu sendiri. Apabila makna tajdîd ini yang disepakati, maka hakikatnya para ulama sejak dahulu kala pun sangat menyetujuinya bahkan sudah melakukannya. Misalnya, seperti apa yang telah dilakukan oleh Imam Syâfi’i yang mencoba menjembatani dua aliran besar saat itu, ahl al-ra’yi dan ahl al-hadîts. Buah dari upaya tajdid-nya ini kemudian melahirkan metode baru dalam mengistinbat hukum sebagaimana tertuang dalam buku-bukunya terutama dalam al-Risâlah.

Penulis kurang sepakat dengan pengelompokkan aliran dalam upaya tajdîd ini sebagaimana ditulis oleh Wahbah al-Zuhaili dalam Tajdîd al-Fiqh al-Islâmî. Dalam tulisannya, Wahbah mengatakan, bahwa ada beberapa kelompok dalam merespon upaya tajdîd ini yakni, salafiyyah, intiqâiyyah atau al-ghaughaiyyah, al-‘udwâniyyah, al-taqrîbiyyah dan al-wasathiyyah. Pengelompokan ini, hemat penulis, terlalu simplistik dan tidak jelas landasannya. Yang jelas, apabila pemaknaan tajdîd seperti yang dikemukakan di atas, maka hemat penulis, semua akan sepakat untuk menerimanya; apakah akan ada yang mencoba menta’wil hadits tajdîd yang sudah zhâhir dan nash seperti itu?

Harus diakui, bahwa ada beberapa produk fiqh yang saat ini—meminjam istilah Ibn Qayyim—”sudah mati”. Ini harus dipahami karena memang fiqh lahir dari sebuah pemahaman seorang mujtahid yang sangat terkait dengan kondisi, adat dan lingkungan dimana ia hidup. Untuk itu, apa yang dilakukan sekarang oleh beberapa lembaga fatwa, semisal Dewan Buhuts-nya al-Azhar, dengan melakukan penyaringan (muqâranah) dan pengkajian fiqh lintas madzhab (tidak terikat dengan madzhab tertentu), hemat penulis adalah salah satu upaya tajdîd fiqh dimaksud. Dalam prakteknya, seorang mujtahid bukan saja berperan sebagai kâsyif al-hukm tapi juga munsyi al-hukm yang pada term generasi awal, istilah munsyi al-hukm ini masih terbilang tabu. Pada akhirnya, tajdîd al-fiqh bukan saja sebuah keniscayaan, tetapi merupakan sebuah keharusan sambil tetap menjaga ciri khas dan esensi dari fiqh tersebut (tsawâbit). Karena apabila semua esensi dan ciri khasnya dirambah pula, maka ia bukanlah sebuah tajdîd, tetapi tabdîd atau tahrîf. Wallâhu A’lam.

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Wacana Tagged

One comment on “Tajdid al-Fiqh, Why Not ?

  1. Ping-balik: TAJDID DALAM MUHAMMADIYAH « Writing's World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s