Wawancara Dengan Dr. Dennis Walker

W A W A N C A R A

(Dialog Antaragama)

Gejala ketegangan antar agama yang berujung pada benturan peradaban seolah memang tak bisa dihindarkan. Disaat tragedi kemanusiaan menimpa Aceh beberapa bulan yang lalu, diisukan adanya aksi kristenisasi yang dilakukan oleh sebuah yayasan yang berkedokan kemanusiaan. Tak ayal, kasus ini menimbulkan kericuhan para pemuka agama. Sangat mungkin, jargon dialog antar agama yang selama ini digembar-gemborkan para agamawan dari berbagai agama merupakan reaksi terhadap situasi ketegangan yang menimpa iklim keberagaman. Namun tetapi saja, jargon ini masih menyisakan sejuta persoalan yang mesti dijawab secara tuntas. Berikut ini wawancara kru al-Furqan, Irfan Hakim Al-Gharuty, bersama Dr. Dennis Walker, seorang Atheis yang juga Staf Pengajar di Universitas Mellborne Australia dan di Universitas Nasional Australia. Disertasi Ph.D berjudul ”Pan-Islamic and Pan-Arab Identities Among Egyptian Intellectual to 1952”. Ia pun banyak menulis artikel dan tulisannya juga tersebar di media-media Mesir, Bangladesh, Lebanon dan Afrika Utara. Saat ini, ia sedang menulis tentang “Islam di Thailand Selatan”.

Bagaimana Anda memandang jargon dialog antar agama yang saat ini sering digembar-gemborkan?

Saya yakin bahwa kita semua sangat bangga dengan adanya dialog antar agama. Sebenarnya, tradisi dialog semacam itu sudah pernah terwujud di zaman kekhalifahan Abbasiyyah. Saat itu, para elit Abbasiyyah sering menyelenggarakan simposium ilmiah seputar agama dengan menghadirkan para intelektual representatif dari Kristen, Yahudi, dan Islam. Mereka saling mempresentasikan substansi dan kandungan agama mereka masing-masing yang kemudian didiskusikan secara ilmiah. Namun, kebanyakan teks dokumen hasil dari presentasi itu sudah hilang. Dan teks dokumen Islam yang mengkritisi ajaran Kristen masih tetap ada.

Di masa kegemilangan Islam, umat Islam dan penganut agama lain selalu berusaha untuk mewujudkan tradisi dialog dan bertukar pikiran tanpa disertai hujat menghujat dan tindas menindas.

Ada asumsi yang mengatakan bahwa setiap agama itu benar karena sebagian substansi ajarannya sama. Bagaimana menurut Anda ?

Memang, dalam setiap agama itu terkandung esensi kebenaran. Sedikit menyinggung masalah agama Hindu, saya pernah melakukan riset tentang agama Hindu di India dan Bangladesh, dua negara yang rentan konflik baik antara umat Islam dengan Hindu atau antar sesama umat Hindu itu sendiri. Dari riset itu, saya mendapatkan data bahwa dalam agama Hindu itu ada dua golongan, pertama, Golongan Teologisme (Fi’ah al-Tauhid) yaitu golongan yang meyakini keesaan Tuhan, menafikan trinitas, menolak sekutu-sekutu bagi Allah (syirk). Kelompok ini juga meyakini bahwa dalam konsep ketuhanan agama Hindu, Dzat Tuhan tidak bisa dilihat langsung secara kasat mata. Kedua: Golongan Dualisme (Fi’ah Tsuna’iyyah) yaitu golongan yang meyakini adanya kekuatan lain selain Allah dan mengakui keberadaan “satuan-satuan” bagi Tuhan. Maka menurut mereka, Dewa Khrisna itu merupakan satuan Tuhan. Dan saya pikir, subtansi ajaran Hindu yang paling mendekati Islam adalah kelompok pertama. Kelompok yang menjunjung tinggi nilai tauhid seperti ajaran Islam.

Apakah dialog antar agama bisa terwujud ?

Dalam kondisi tertentu dialog ini sulit terwujud. Di Australia, dialog antar agama yang sedang dibangun juga memang terkadang sukses, tetapi sesekali kadang tidak berjalan lancar. Hal itu merupakan imbas dari maraknya aliran Fundamentalisme yang selalu ingin melenyapkan aliran lain yang berbeda dengannya. Negeri Anda pun -Indonesia- pernah digemparkan dengan kehadiran kelompok Fundamentalis Kristen dari Amerika. Kelompok ini berasumsi negatif terhadap Islam dan umat Islam. Sampai-sampai, mereka menganggap Islam adalah ajaran Iblis dan Setan, sehingga umat Islam itu dianggap sedang berada dalam cengkeraman dan kendali setan. Mereka merasa harus menyingkirkan pengaruh-pengaruh Iblis. Kelompok Fundamentalis Kristen itu berusaha secara gencar memurtadkan umat Islam di Indonesia. Dan sekitar tahun 60-70-an, gerakan yang mereka lancarkan pernah menuai sukses di daerah Jawa dan sekitarnya. Maka menurut saya, dengan kelompok seperti itu dialog akan sulit terbangun.

Bisa dijelaskan, mengapa dan bagaimana sebenarnya eksistensi dan anggapan orang-orang Kristen terhadap konsep dialog antar agama ini?

Menurut saya, cara pandang sebagian orang Kristen terhadap Islam sudah lama ‘cair’. Pandangan mereka terhadap Islam dan umat Islam sudah berubah. Mereka itu terdiri dari kelompok Liberal Kristen yang hanya komitmen terhadap ajaran Yesus serta menolak peran dan ajaran Paulus karena dianggap hanya sekedar “ijtihad”nya belaka. Menurut mereka, Injil sekarang sudah bercampur dengan ajaran-ajaran yang ditulis oleh murid dan pengikut-pengikut Isa selepas Nabi Isa as. tiada.

Liberal Kristen tidak menganggap Islam dan agama lain sebagai musuh. Mereka juga tidak menghujat Islam sebagai ajaran Iblis dan Setan. Karena itu, dialog dengan kalangan semacam ini akan bisa terwujud dengan mudah. Begitu pun, para intelektual Liberal Hindu tidak menentang agama lain, karena sebenarnya, inti ajaran Hindu itu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Adapun sekarang, faktor terhambatnya dialog adalah adanya gerakan politik Fundamentalis–atau gerakan fundamentalis yang dipolitisir–(al-Harakah al-Ushuliyyah al-Musayyasah) Gerakan semacam ini timbul karena faktor politik. Karena pemerintah selalu membungkam dan mempersempit ruang gerak masyarakat, maka kelompok ini memprovokasi masyarakat dengan memberikan alternatif-alternatif ekonomi. Dan pengaruh kelompok konservatif dan fundamentalis dalam gerakan itu sangat besar.

Tapi menurut saya, alam dialog, diskusi, dan kompromi antar para pemuka agama masih terbuka luas.

Kalau saya boleh berpendapat bahwa agama yang paling relevan saat ini adalah agama Islam, yang jelas dengan pedomannya yaitu al-Quran dan as-Sunnah, yang isinya sebagai penyempurna agama-agama yang ada seperti Yahudi dan Nashrani, dari mulai spiritualitas, etika, estetika dan penjelasan tentang ketuhanan. Sebagaimana teks al-Quran mengatakan demikian. Bagaimana komentar anda tentang pendapat saya ini ?

Menurut saya, didalam al-Quran itu banyak terkandung ayat-ayat yang otentik tentang beragam hakikat. Tetapi saya tidak punya kapabilitas bahasa yang memadai untuk mentafsirkannya. Saya perlu lebih banyak lagi membaca kitab-kitab tafsir klasik yang dianggap sebagai tafsir yang paling bagus daripada Tafsir kontemporer yang sederhana dan penafsirannya cenderung tidak terlepas dari tujuan politis. Karena tafsir kontemporer hanya sekedar mengangkat tema-tema tertentu yang berkaitan dengan realitas fenomena sosial masyarakat, politik dan sebagainya. Semoga anda sebagai Mahasiswa Azhar yang sedang memperdalam tafsir dan perangkat-perangkat ilmunya bisa lebih maju dengan cepat.

Dalam al-Quran ada ayat:”la nufarriqu baina ahadin minhum wa nahnu lahu muslimun..”bagaimana menurut anda?

Saya pernah membaca sebagian ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kesamaan sifat antara Islam, Kristen, dan Yahudi dalam hal tertentu. Saya percaya bahwa Ulama Islam dengan tegas menjelaskan urgensi wahyu (risalah muhammadiyyah) dan mendudukkannya pada posisi yang tertinggi. Maka dalam menafsirkan ayat tertentu mereka selalu melihat situasi dan kondisi “sosio kultural” saat ayat itu turun.

Tetapi dalam al-Quran terdapat pula perbedaan yang nampak ketika ada ayat yang menjelaskan posisi umat Islam dalam menghadapi Kristen dan Yahudi. Di satu sisi, al-Quran menilai positif konsep kependetaan (kerahiban) dari segi usaha pendekatan diri kepada Allah, tapi juga disisi lain menentang konsep zuhud (meninggalkan kehidupan dunia) versi Kristen dan hidup membujang karena tidak sesuai dengan tabiat kehidupan manusia.

Jika dilihat sepintas, pandangan al-Quran tentang Kristen memang seperti berbeda. Karena itu kita mesti menelusuri secara serius kaitan ayat-ayat itu dengan situasi dan kondisi Kristen saat turunnya al-Quran.

Sejauh mana anda mempelajari kitab suci dan Agama Kristen?

Meskipun bukan termasuk orang kristen, tapi saya suka mempelajari kitab suci dan buku-buku mereka. Tetapi saya lebih suka buku-buku Liberal mereka. Meskipun pada realitanya sekarang, kitab-kitab liberal mereka terlalu lepas kontrol sehingga banyak melenceng jauh dari aslinya. Setelah kitab sekarang saya bandingkan dengan kitab klasik dalam perkembangannya (murahaqoh wa thufulatuh), akan timbul pertanyaan, adakah pijakan yang kokoh (qo’im) dalam agama itu?

Islam pun akan mengalami hal serupa jika kondisinya seperti mereka. Mengingat begitu cepatnya perkembangan pemikiran Islam saat ini. Jadi harus ada usaha yang terprogram untuk menyikapi aliran-aliran yang banyak bermunculan dalam dunia pemikiran Islam. Pasti anda pun sudah merasakan fenomenanya di Indonesia(?!).

Bagaimana bentuk dialog antar agama yang mungkin bisa diaplikasikan dewasa ini?

Sebisa mungkin orang muslim harus berusaha menjalin hubungan positif dengan penganut agama lain. Nabi Muhammad pernah berkata:”Carilah ilmu walaupun ke negeri Cina” Secara tabiat, Islam adalah agama yang universal. Al-Birruni sebagai tokoh Islam klasik juga pernah melakukan penelitian yang sistematis dan rinci tentang agama Hindu di India. Orang-orang muslim dahulu pun suka membuat jaringan perdagangan internasional, ekonomi, kegiatan-kegiatan ilmiah dengan pihak luar. Karena ini merupakan aplikasi dari ayat-ayat al-Quran yang menganjurkan supaya merenungkan keberadaan Allah bukan hanya lewat fenomena alam semisal langit dan bumi saja, tetapi juga dari beraneka ragam bahasa, pemikiran, dan budaya di dunia. Dan orang-orang muslim dahulu pun sudah mengaplikasikannya. Dan problem yang sangat berpengaruh dalam tradisi tersebut tadi adalah adanya kelompok ekstrimis yang berambisi ingin menindas kelompok lain.

Konsep politik dan ekonomi antara timur dan Barat tidak sama. Indonesia saat ini sedang menghadapi serangan besar yang terprogram yang tujuannya bukanlah dialog tetapi menanggalkan keimanan mereka. Disinilah problemnya. Dan aplikasi tradisi dialog ini cakupannya akan berkisar seputar kesamaan yang paripurna antara beragam kelompok.

Jadi, seperti apa konsep dialog yang dapat dipergunakan dalam usaha membangun dialog antar agama ini. Apakah dalam kerangka teologi, politik atau apa?

Di Barat, kuantitas kelompok kristen yang menginginkan terbangunnnya dialog relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang berambisi memurtadkan orang Islam.

Dalam batas tertentu, saya sendiri pesimis dengan kompromi dialog ini. Sebab saya lihat, bagaimana pun juga orang yang bergabung dalam usaha dialog ini dalam benaknya ada optimisme tinggi untuk bisa mengajak orang lain ke dalam agamanya.

Orang kristen barat yang bergabung dalam dialog ini adalah orang yang keimanannya sudah luntur. Mereka bukan orang yang punya spiritualitas keagamaan tinggi. Mereka hanya politisi yang ingin membangun kekuatan bersama dalam mencapai tujuan-tujuan politis atau tujuan kiri untuk menentang konsep barat.

Ada pula orang muslim yang keimanannya sudah luntur dan ingin bergabung dalam dialog ini dengan tujuan agar jati dirinya di ekspos di barat atau agar mendapat berbagai kesempatan di masayarakat barat atau supaya bisa membangun relasi atau mendapa kesempatan kerja dan lain-lain.

Orang barat kristen yang menginginkan tercapainya tujuan politis dan orang muslim yang ingin berkecimpung dan diakui di masyarakat barat akhirnya bukan membangun dialog antar agama, bahkan malah sudah menciptakan agama baru yaitu agama dialog (ad-diyanah mutahawwirin).

Jadi kadang dalam dialog itu kadang ada muatan-muatan tertentu seperti muatan politis, ekonomi dan sebagainya.

Sebagai seorang Atheis, bagaimana perasaan hati nurani Anda tentang keberadaan Tuhan?

Saya sendiri kadang merasakan eksistensi kekuatan Tuhan yang menyayangi manusia dan suka memberikan kekuatan batin dan solusi atas problem yang saya hadapi.

Apa saran Anda untuk kami selaku mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir?

Saya sarankan agar kalian benar-benar serius mendalami spesialisasi yang anda tekuni.Tapi jangan lupa untuk memperluas wawasan anda dalam dinamika pemikiran. Sebagai seorang jurnalis, Anda saya anjurkan untuk memperluas jaringan dengan jurnalis-jurnalis Mesir dan berusaha membangun citra Indonesia di sini. Karena anda adalah duta Indonesia yang bertugas membangun opini dan citra positif di Mesir ini.

3 comments on “Wawancara Dengan Dr. Dennis Walker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s