Jejak Shalat

Jejak Shalat

Oleh : Rashid Satari

Shalat yang dilakukan dengan baik akan meninggalkan bekas yang baik pula. Allah SWT berfirman, ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Ankabut [29]: 45).

Ayat Alquran di atas menunjukkan pelaksanaan ibadah shalat memiliki efek positif pada tingkah laku pelaksananya. Secara langsung, seseorang yang melaksanakan shalat dengan baik akan senantiasa terkontrol dan terjaga perilakunya. Serta, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Islam.

Nabi Muhammad SAW berpesan dalam salah satu hadisnya yang lain tentang urgensi shalat dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama. Dan, barang siapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama.” (HR Baihaqi). Sebagaimana sebuah bangunan, Islam pun akan mudah goyah dan runtuh bila berdiri tanpa tiang, yaitu ibadah shalat.

Islam akan tegak ketika nilai-nilai ajarannya terimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ke-Islaman seseorang akan kuat berdiri ketika Islam tidak hanya diyakini melainkan juga dipraktikkan. Hal tersebut terjadi karena ibadah shalat mendorong pelaksananya untuk senantiasa ingat kepada Allah SWT. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaahaa [20]: 14). Baca lebih lanjut

Iklan
By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Hikmah Dengan kaitkata

Al-Imam Ibnu Majah

Al-Imâm Ibnu Mâjah*

Oleh Muhammad Ridhwan Abdur Rasyid**

Muqaddimah

Kejayaan ummat islam terletak pada ke-iltizâm-an mereka dalam berpegang kepada dua landasan kehidupan yang Allah telah tentukan yaitu al-Qurân dan as-Sunnah. Merupakan kewajiban seorang muslim untuk membaca atau mempelajari dua sumber undang-undang tersebut kemudian memahaminya, meng’amalkannya dan menda’wahkannya serta membela kebenarannya walaupun harus mengorbankan apa saja yang dimiliki, demi ihyâ’ al-Kitâb wa as-Sunnah dibumi Allah ini.

Sejarah telah membuktikan ke-juhûd-an yang tinggi dari as-Salaf ash-shâlih dalam menjaga keduanya. Setelah al-Quran berhasil di-mushhaf-kan seperti kita lihat dan baca saat ini dan terjaga dengan baik sebagaimana janji Allah dalam kitab-Nya1, as-Salaf ash-shâlih mengalihkan juhûd mereka kepada pemeliharaan keberadaan as-Sunnah. Dan salah satu diantara mereka yang sudah dicatat oleh tinta emas sejarah dan insya Allah akan kita kaji pada saat ini adalah al-Imâm al-Kabîr al-Muhaddits al-Hâfizh Ibnu Mâjah. Kita bermohon kepada Allah, agar Allah membukakan mata hati kita untuk dalam mengambilkan pelajaran dari kajian ini yang ujungnya kita mau untuk ber’amal demi kepentingan al-Islâm, semoga Allah dan Rasul-Nya serta Mu’minûn menyaksikan ‘amal kita ini, sebagaimana janji-Nya2 amîn…

Nasab Ibnu Mâjah dan kelahirannya

Beliau adalah: al-Hâfizh al-Kabîr al-Hujjah al-Mufassir Abu ‘Abdullâh Muhammad bin Yazîd bin Mâjah al-Qazwînî3. Sedangkan Ibnu Mâjah adalah laqab bapaknya (Yazîd). Bukan nama kakek beliau.

Berkata Ibnu Khalkân, adz-Dzahabî dan Ibnu Katsîr juga ad-Dâwudî serta Ibnu al-‘Ammâd al-Hanbalî bahwa: “dilahirkan Ibnu Mâjah pada tahun 209 H”. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 207 H. Pendapat yang râjih adalah pendapat pertama4. pendapat ini kuat, karena nyata bahwa beliau meninggal pada tahun 273H. Sedangkan ketika itu beliau berusia 64 Tahun5. Tidak ada perselisihan atau keraguan pada permasalahan wafatnya beliau. Sedangkan nisbahnya kepada Qazwîn adalah nisbah kepada salah satu kota yang terkenal di ‘Irâq. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa beliau termasuk as-Salaf ash-shâlih yang telah ikut berandil besar dalam menjaga as-Sunnah an-Nabawiyah asy-Syarîfah.

Baca lebih lanjut

Malik Bin Anas

MÂLIK BIN ANAS

“Tidak tersisa lagi di muka bumi ini, yang lebih alim darimu terhadap As-Sunah masa lalu” (Baqiyyah).1

Mukadimah

Ketika aku berada di majlis Imam Malik, seekor Kalajengking menyengat kaki beliau sebanyak 16 sengatan. Aku melihat terjadi perubahan pada air mukanya, beliau tetap bertahan dan tidak memotong hadits Rasulullah SAW yang sedang beliau lontarkan dihadapan murid-muridnya Tatkala majlis bubar dan orang-orang telah pulang aku bertanya kepadanya : “Aku melihat suatu keajaiban darimu”, beliau menjawab : “Aku mampu bersabar dari sengatan itu karena penghormatanku terhadap hadits Rasulullah SAW”.2 (Ibnu Mubarak)

Benar kata Ulama-ulama kita terdahulu : “Ukuran keagungan seseorang dilihat dari antusiasnya terhadap As-Sunah dan semangatnya menjauhi bid’ah, kecintaannya terhadap Al-Qur`an dan As-Sunah menyatu dalam darah dan dagingnya dan dibuktikan dengan amal.

Lalu siapakah manusia agung ini, yang sampai-sampai Rasulullah SAW memprediksikan : “Hampir-hampir manusia tidak mendapatkan orang yang lebih alim dari para `alim Madinah”3

Beliau tidak lain adalah Malik Bin Anas Imam Dar ’l Hijrah.

Baca lebih lanjut

Imam Nasa’i; Figur Muhaddits Sejati

Imam Nasa’I : Figur Muhaddits Sejati

Oleh : Agus Setiawan, Lc*

“Teladanilah para tokoh, walaupun engkau sulit untuk menjadi seperti mereka, karena meneladani orang yang mulia adalah sebuah kemenangan”.

Dari kata mutiara di atas, terpatri dalam diri insan muslim dan kaum akademis, bahwa warisan sejarah adalah barang yang mahal. Mengambil hikmah keteladanan mereka sebuah keniscayaan.

Tokoh kali ini, sangat sarat dengan nilai kesungguhan, perjuangan demi sebuah idealisme dakwah. Memelihara “warisan” nabi Saw, menuangkannya dalam karya abadi dengan tinta emas, demi generasi mendatang.

Para ulama sejawatnya menyanjung beliau, “Imam Nasa’i adalah figur muhaddits yang tangguh, kuat, kaya hafalanya, rujukan para ulama dalam ilmu jarh wa ta’dil, memilki karya-karya monumental”.

Namun disini pembahas mohon maaf karena tulisan ini terlalu singkat untuk tokoh sekaliber beliau. Semoga tulisan ini menjadi tangga pertama bagi rekan-rekan untuk meniti, mendalami dan menyelami ketokohan beliau, imam Nasa’i.

Baca lebih lanjut

Imam Muslim An-Naisaburi

IMAM MUSLIM AN-NAISABURI

MUQADDIMAH

الحمد لله فأشهد أن لا إله إلا الله و أ شهد أن محمدا عبده و رسوله. و بعد :

فقال الله تعا لى : و أ نزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم و لعلهم يتفكرون ( النحل : 44)

Para ulama menafsirkan adz-dzikra disini dengan al-Hadits. Dengan demikian kedudukan hadis di dalam agama Islam menempati kedudukan kedua setelah al-Qur’an.

Rasulullah saw. Ketika menyampaikan wahyu – al-Qur’an – yang ia terima kepada para sahabatnya beliau memerintahkan kepada mereka untuk menjaganya baik dengan hafalan ataupun dengan tulisan bagi yang bisa baca tulis. Adapun al-Hadits tidak demikian adanya. Beliau melarang para sahabat untuk menulis hadits yang mereka dengar, sebagaimana hadis Abi Sa’id al-Khudri di Shahih Muslim :

لا تكتبوا عنى و من كتب عنى غير القر أن فليمحه و حدث عنى و لا حرج …

Para ulama menerangkan bahwasanya pelarangan ini disebabkan kekhawatiran beliau atas tercampurnya tulisan al-Qur’an yang mereka tulis dengan hadits, karena mereka menulis dalam lembaran yang sama. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah :

خرج علينا رسو ل الله عليه و سلم و نحن نكتبو الأحاديث , فقال : ما هذ ا الذى تكتبون ؟ قلنا : أحاديث سمعناها منك. قال : أ كتابا غير كتاب الله تريدون ؟ ما أضل المم من قبلكم إلا ما اكتتبوا من الكتاب مع كتاب الله …[1]

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwasanya larangan beliau tidak mutlak terhadap semua sahabat, ada sebagian sahabat yang dibolehkan untuk menulis hadits, seperti Abdullah ibn Amr ibn al-‘Ash, sebagaimana hadits Abi Hurairah :

ما من أصحاب النبى صلى الله عليه و سلم أحد أكثر حديثا عنه منى إلا ما كان من عبدالله بن عمرو بن العاص, فإنه كان يكتب و لا أ كتب

Baca lebih lanjut

Imam Bukhari

Imam Bukhârî

Amîr-ul ‘Mu’minîn fî-l ‘Hadîts[1]

“Tidak ada yang paling tahu di muka bumi ini dalam hadits, selain Muhamad bin Ismail (Bukhari)”.

(Abu Bakar bin Khuzamah)[2]

oleh: Yandi Rahmayandi[3]

Iftitah

Sanjungan dan pujian diatas hanyalah salah satu dari begitu banyaknya ungkapan kekaguman para ‘Âlim dan tokoh terkemuka tempo dulu sampai sekarang terhadap salah seorang Imam hadits Muhamad bin Ismail al-Bukhârî. Kekaguman mereka terhadap Imam Bukhârî, memang bukan tanpa alasan. Karya momentalnya “Shahîh-ul‘Bukhârî” telah membawa kemasyhuran namanya sampai hari kiamat nanti. Betapa tidak, kitab inilah yang disepakati Ulama hadits yang otientik setelah al-Qur’an. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Shalâh (W. 643 H), kemudian pendapat ini diikuti, dan dipopulerkan oleh Imam Nawawî (W. 676 H).[4]

Agaknya pendapat ulama ini, khususnya Imam Nawawî sudah terlanjur menjadi “dalil” yang akhirnya penelitian khusus Shahîh-ul‘Bukhârî dianggap kurang penting. Apalagi, kritikan terhadap sejumlah hadits dianggap kurang penting. Apalagi kritikan terhadap sejumlah hadits dalam Shahîh-ul‘Bukhârî juga sudah disanggah antara lain oleh Imam Ibnu Hajar (W. 852 H.) dalam kitabnya hady al-sari dan fath-ul ‘bârî. Namun akibat lebih jauh dari hal itu, adalah kenyataan bahwa kebanyakan umat Islam, kita khususnya, tidak mengetahui siapa Imam Bukhari, bagaimana asal muasal kitabnya yang mashur itu, bagaimana metode beliau dalam meneliti dan mengkritik hadits?, dan lain sebagainya. Padahal di pihak lain, mereka juga tidak pernah membantah pendapat Imam Nawawî yang tersebut diatas.

Baca lebih lanjut

Imam Ahmad Bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal

Imamnya Para Imam Hadits

Oleh pardan syafrudin sambas[1]

Tidaklah aku meninggalkan Baghdad, kecuali aku tinggalkan Ahmad bin Hanbal dalam keluasan ilmu dan kefaqihan. Ia Imam dalam delapan hal, Imam hadits, fiqh, luhgah, qur’an, faqir, zuhud, dan imamnya sunnah” (Imam Syafi’i).

Tidaklah berlebihan kiranya sanjungan yang diberikan Imam Syafi’i kepada Imam Ahmad, ia adalah Ulama yang faqih seperti gurunya, lembut, halus, supel dalam bergaul dan ramah dalam bermuamalah. Ia terkenal dengan kejuhudan serta kewara’an. Namun bukan berarti ia sering menegadahkan tangan dan membungkukkan badan di depan penguasa. Kelembutan dan kehalusan sifat beliau tidak pernah mempengaruhi dalam menegakkan hukum, terlebih hal-hal yang menyangkut dengan aqidah. Semuanya akan berubah menjadi ketegasan, kejelasan dan keistiqamahan beliau dalam menyebarkan syi’ar-syi’ar Ilâhî.

Pengembaraan dalam mencari ilmu telah mengantarkan Ahmad bin Hanbal menjadi ulama yang besar dan disegani, bukan hanya oleh masyarakat, tapi juga oleh penguasa. Beberapa negara telah ia lawati dalam mencari keabsahan satu hadits sekalipun. Dalam pengembaraannya, kita patut me-ngibrah kepadanya, bagaimana tidak, setiap kali bekalnya habis, ia selalu mendermakan dirinya untuk bekerja guna melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau menerima uang ataupun materi lainnya selain dari hasil kerja keras dan hasil keringatnya sendiri.

Setelah mengembara ke beberapa negara, akhirnya ia kembali ke negaranya, yang kala itu menjadi “manarul Islam” . Disinilah keilmuan dan keistiqamahan beliau mulai teruji. Baghdad yang saat itu menjadi kota metropolit, telah mengalihkan para penguasa dan koleganya untuk selalu menghambur-hamburkan harta, serta lalai dalam bersyukur atas nikmat Allah swt. Ironis memang, kala itu, di tengah-tengah istana yang megah dan pola hidup yang glamor yang di pertotonkan kaum penguasa, sementara dipinggiran mereka, rakyat kecil dan masyarakat jelata, hidup di bawah garis kemiskinan, penguasa tidur lelap dalam kekeyangan dan rakyat jelata menjerit karena kelaparan.

Baca lebih lanjut

Imam Ad-Darimi & Kitabnya As-Sunan

Imam ad-Dârimî & Kitabnya as-Sunan[1]

Oleh. Ahmad Junaidi, Lc. Dipl.

Biografi

Beliau adalah Al-Hafizh al-Imam Abdullah bin Abdul Rahman bin Fadhl bin Bahram bin Abdillah abu Muhmad ad-Darimi as-Samarqandi.[2] ad-Darimi adalah nama lengkapnya Darim bin Malik bin Handalah bin Zaid bin Munah bin Tamim.[3] Ia di lahirkan pada taun 181 H (ada juga yang berpendapat 182) atau bertepatan dengan tahun 797 M.[4]

Keilmuan

Sebagai seorang yang bertekad menjadi penyebar hadits dan sunnah, maka syarat-syarat sebagai seorang rawi sejati menjadi satu kemestian untuk dimiliki. Diantaranya ia mesti terlebih dahulu belajar dan berguru.

a. guru-guru beliau

Yazid bin Tharus, Nadzar bin Syumail (paling awal meninggal diantara guru-gurunya), imam Muslim dan yang lainnya.[5] Dan setelah mendapatkan ilmu dan memulai menapaki masa-masa kematangan intelektualnya, beliaupun mulai mengajar dan berkarya.

b. Murid-murid beliau

Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Abdullah bin Beumaid (ia adalah murid paling awal/pertama).[6]

c. karya beliau

  1. Sunan ad-Darimi (ada juga yang menyebutnya al-Jam’u ash-Shahiih)
  2. Tsulutsiyat (kitab hadits)
  3. al-Musnad
  4. Tafsir [7]

karenanya menjadi tidak mengherankan jika kemudian para ulama memuji dan menyanjung keilmuan beliau.

1. Imam Ahmad bin Hanbal memuji beliau dan menggelarinya dengan gelar “imam” dan berpesan agar menjadikannya rujukan (seraya ucapannya diulang-ulang).[8]

2. Muhamad bin Basyar (bundar) berkata : “penghapal kaliber dunia ada empat: Abu Zur’ah ar-Razi, Muslim an-Nasaiburi, Abdullah bin Abdul Rahman di Samarqandi dan Muhamad bin Ismail di Bukhari”.[9]

Baca lebih lanjut

Imam Abu Daud

Imam Abu Daud

Oleh : Arif Rahman Shiddiq

Namanya

Ada beberapa persi yang mengatakan Nama Imam Abu daud diantaranya:

Al- Hafid Ibnu katsir menyesebutkan : Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Sadad bin Yahya Ibnu Imron Abu daud as-Sajastani.1

Al-Hafid Jalaludien as-Suyuti menyebutkan : Sulaiman bin al-Asy’ats bin basyir bin sadad bin amru bin Imron al-azadi as-Sajastani.2

Sedangkan ada lagi yang menyebutkan dalam Buku khusus yang menceritakan sejarah Imam Abu daud disana disebutkan : Imam Atsabat (orang yang adil dan dlobit) Abu daud Sulaiman ibnu Al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Sadad bin amru al-Azadi as-Sijistani. Ada juga yang mengatakan Sulaiman bin Asy’ats bin sadad bin amru bin ‘Amir.3

Ibnu hajar Al-atsqolani menyebutkan bahwasannya Kakeknya Imron terbunuh bersama Ali bin abi Thalib didalam perang Shipin.4

Al-Azadi adalah nisbat kepada Azad yaitu qabilah terkenal (mashur) yang ada di Yaman.5

Adapun as-Sijistani disini para ulama berbeda pendapat diantaranya:

· Ibnu Khillikan menyebutkan bahwasannya as-Sijistaniyun dinisbatkan kepada Sijistan yaitu suatu daerah atau Propinsi yang sudah mashur. Ada juga yang berkata as-sijistaniyun dinisbatkan pada sijistan atau sijistanah yaitu suatu kampng yang ada di Busroh.

· Akan tetapi Shihabudin al-hamawi meriwaatkan dari muhammad bin abi nasr bahwasannya dia tidak mengenal di Busrah ada sebuah kampungyang dinamai as-Sijistan. Tapi ada juga sebagian yanglain yang mengatakan bahwasannya di dekat daerah Ahwaz ( 7 daerah atau kota kecil terkenal yang ada diantara Busrah dan Faris, yangmasingmasingkota tersebut mempunyai nama) ada kampung yang dinamai dengan Sijistan yang terkenal itu.6

· As-sam’ani menyebutkan bahwa as-sijistan dinisbatkan pada sijistan yaitu salah suatu daerah yang terkenal yang ada di kabul

· Abul aziz menyebutkan bahwasannya sijistan dinisbatkan pada “Sistan” yaitu suatu daerah terkenal yang sekarang ada di Negri Afganistan.7

Baca lebih lanjut

Pers; Antara Otoritas Dan Distorsi Opini

Pers; Antara Otoritas dan Distorsi Opini

– Secarik refleksi atas fenomena Jyllands Posten dan Playboy

Oleh : Rashid Satari*

“Satu ujung pena lebih kutakuti daripada seribu bayonet”

(Napoleon Bonaparte)

Khusus untuk Indonesia, kran liberalisasi jurnalistik belum lama dibuka. Reformasi 1998 menjadi gerbang utama multi kebebasan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Amien Rais dalam sebuah antologi berjudul “Reformasi Dalam Stagnasi” mengatakan bahwa dari enam agenda reformasi, salah satunya berbunyi tentang kebebasan warga negara (dalam hal pers, bicara, ekspresi, religi dan lain sebagainya). Artinya harus diakui bahwa atmosfer bangsa kita pada pra-reformasi memang memandulkan sebagian segmentasi potensi anak bangsa. Hegemoni Orde Baru telah menginvestasikan “bom waktu” yang akhirnya meledak pada titik kulminasi tertinggi dengan kemasan reformasi.

Untung tak dapat diraih, reformasi pun mengalami stagnasi. Menurut Amien Rais, juga dalam antologi yang sama, stagnasi ini terjadi karena penyakit mental yang masih menggerogoti bangsa kita. Penyakit mental tersebut diantaranya adalah mental attitude bangsa. Mental Attitude ini berdampak pada terciptanya budaya Public Dishonesty (ketidakjujuran publik) dan Publiclies (kebohongan publik). Akhirnya bisa kita lihat bersama, kran kebebasan berekspresi yang dibuka ternyata malah mereduksi, mengalami ambivalensi dan absurditas arti. Kebebasan diartikulasikan sebagai era kebebasan yang membabi buta.

Pers atau dunia jurnalistik sejatinya adalah media informasi yang berposisi sebagai abdi publik. Menyajikan hidangan informasi yang objektif dan transparan merupakan lambang tanggung jawab moral pers terhadap publik. Mengutip Jalaluddin Rakhmat, The American Society of Newspaper Editors tahun 1923 meresmikan kode etik Jurnalistik yang kemudian terkenal sebagai Canons of Journalism. Kode etik itu diantaranya adalah (1) Tanggungjawab (2) Kebebasan Pers; kebebasan pers harus selalu dijaga sebagai hak vital manusia dan pers bebas membicarakan apa saja yang tidak dilarang hukum atau perundang-undangan. (3) Independensi; pers harus membebaskan diri dari segala kewajiban kecuali kepada kepentingan umum. (4) Ketulusan; kesetiaan kepada kebenaran, dan akurasi (Sincerity, truthfulness, and accuracy). (5) Kejujuran dalam menyampaikan informasi (impartiality). (6) Berlaku adil (fair play); pers harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memberikan penjelasan bandingan dari apa yang disampaikan. (7) Kesopanan (Decency). pers harus menyampaikan informasi, betapa pun terperincinya, sesuai dengan standar moral dan kesusilaan masyarakat.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata