Imam Ahmad Bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal

Imamnya Para Imam Hadits

Oleh pardan syafrudin sambas[1]

Tidaklah aku meninggalkan Baghdad, kecuali aku tinggalkan Ahmad bin Hanbal dalam keluasan ilmu dan kefaqihan. Ia Imam dalam delapan hal, Imam hadits, fiqh, luhgah, qur’an, faqir, zuhud, dan imamnya sunnah” (Imam Syafi’i).

Tidaklah berlebihan kiranya sanjungan yang diberikan Imam Syafi’i kepada Imam Ahmad, ia adalah Ulama yang faqih seperti gurunya, lembut, halus, supel dalam bergaul dan ramah dalam bermuamalah. Ia terkenal dengan kejuhudan serta kewara’an. Namun bukan berarti ia sering menegadahkan tangan dan membungkukkan badan di depan penguasa. Kelembutan dan kehalusan sifat beliau tidak pernah mempengaruhi dalam menegakkan hukum, terlebih hal-hal yang menyangkut dengan aqidah. Semuanya akan berubah menjadi ketegasan, kejelasan dan keistiqamahan beliau dalam menyebarkan syi’ar-syi’ar Ilâhî.

Pengembaraan dalam mencari ilmu telah mengantarkan Ahmad bin Hanbal menjadi ulama yang besar dan disegani, bukan hanya oleh masyarakat, tapi juga oleh penguasa. Beberapa negara telah ia lawati dalam mencari keabsahan satu hadits sekalipun. Dalam pengembaraannya, kita patut me-ngibrah kepadanya, bagaimana tidak, setiap kali bekalnya habis, ia selalu mendermakan dirinya untuk bekerja guna melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau menerima uang ataupun materi lainnya selain dari hasil kerja keras dan hasil keringatnya sendiri.

Setelah mengembara ke beberapa negara, akhirnya ia kembali ke negaranya, yang kala itu menjadi “manarul Islam” . Disinilah keilmuan dan keistiqamahan beliau mulai teruji. Baghdad yang saat itu menjadi kota metropolit, telah mengalihkan para penguasa dan koleganya untuk selalu menghambur-hamburkan harta, serta lalai dalam bersyukur atas nikmat Allah swt. Ironis memang, kala itu, di tengah-tengah istana yang megah dan pola hidup yang glamor yang di pertotonkan kaum penguasa, sementara dipinggiran mereka, rakyat kecil dan masyarakat jelata, hidup di bawah garis kemiskinan, penguasa tidur lelap dalam kekeyangan dan rakyat jelata menjerit karena kelaparan.

Begitu juga dengan para ulama, mereka telah menjadi “ulama negara” yang selalu melegitimasi dan menjustifikasi kehendak penguasa, untuk melanggengkan kekuasaannya. Sementara mereka menutup mata dan diam seribu basa melihat kemunkaran dan kedhaliman di sekeliling mereka. Naudzubillah.

Permasalahan pada waktu itu bukan hanya itu saja, kondisi masyarakat telah terkontaminasi dengan pemikiran filsapat dan logika yang disebarkan oleh kaum Mu’tazilah. Retorika inilah yang mengantarkan kepada pemahaman bahwa al-Qur’an itu adalah mahluk. Ulama di paksa untuk mengakui dan mengiukutinya. Bagi mereka yang enggan mengakuinya, mereka diintimidasi dan disiksa untuk menurutinya. Yang akhirnya banyak para ulama saat itu yang menuruti kehendak penguasa dengan menyatakan bahwa al-Qur’an itu adalah mahluk.

Lain halnya dengan Imam Ahmad, ulama yang satu ini lebih rela disiksa penguasa untuk mempertahankan keyakinan pendapatnya, yang menyakini bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullah (firman Allah), dan ia berkata: “barang siapa yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu mahluk ia telah kafir, dan barang siapa yang mengatakan bahwa Qur’an itu bukan mahluk ia telah melakukan bid’ah. Sesungguhnya Qur’an itu adalah firman Allah Swt”.[2]

Siksaan yang ia alami tidaklah ringan dan sebentar, siksaan yang berat dan begitu lamanya mengakibatkan kondisi fisiknya melemah, namun hal itu tidaklah menyulutkan beliau untuk terus berdakwah dan menyebarkan sunnah-sunnah rasulnya.

Diakhir kehidupannya ia mengabdikan ilmunya, yang selalu ia ajarkan di rumah dan masjid jami’ Baghdad. Sebelum menghadap Ilâhî, Ia sempat mewariskan pusaka yang sangat berharga bagi kaum muslimin, yaitu berupa himpunan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Sehingga selain kefaqihan, kewara’an dan kejuhudannya, ia juga terkenal dengan keluasan ilmunya dalam bidang hadits, dan ia terkenal dengan sebutan “imamnya iman hadits”.

Dari sanalah penulis mencoba, menguak tabir beliau secara singkat guna mengetahui sosok Imam hadits yang satu ini, serta kita memetik pelajaran dan me-ngibrah kisahnya, serta menjadikan kita untuk termotipasi sebagai pelanjut estafeta perjuangannya. Amin.

Biografi Ahmad bin Hanbal

Nama lengkap beliau ialah Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Halâl bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasithi bin Marin bin Syaeban bin Duhl bin Tsa’labah bin Uqabah bin Sha’ab bin Ali bin Bakar bin Wail. Yang terkenal dengan laqab-nya Abu Abdullah asy-Syaibânî. Ia dilahirkan di Marwa pada bulan Rabi’ul Awal tahun 64 H.

Semenjak kecil, ia telah ditinggalkan wafat oleh ayahnya, sehingga sedari kecil ia hanya mendapatkan pengawasan dan kasih sayang ibunya saja. Ibunya yang membesarkan dan mendidik dia setelah dilahirkan. Ahmad kecil dibawa pindah oleh ibunya ke Baghdag dan dibesarkannya disana. Ahmad terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan jarang bicara serta tidak mengundang kawan-kawannya untuk berdebat. Namun demikian, Ahmad tumbuh dengan kesungguh-sungguhan dan keoptimisan dalam menjalani hidupnya, sehingga hari-harinya selalu ia isi dengan mencari pengetahuan dan beribadah.

Setelah ia meninjak dewasa, ia mulai mengembara ke luar negri untuk mendapatkan ilmu dan wawasan yang lebih luas. Setelah mengembara sekian lama, akhirnya ia kembali ke tanah airnya dan mengabdi disana. Dalam pengabdiannya itulah ia mulai bertolak belakang dengan penguasa, namun hal ini bukan menjadikan ia terasing, justru sebaliknya, kemashuran dan keluasan ilmunya semakin bertambah dikenal. Para jama’ah pengajiannya semakin berjubel dan datang dari semua penjuru.

Bukan hanya itu saja, dalam masalah ibadahpun ia tidak pernah lalai, walaupun selalu mengisi majlis taklim yang begitu padat waktunya. Kurun waktu satu malam ia selalu meakukan shalat sebanyak 300 raka’at, namun menjelang usia senja ia hanya melakukannya sebanyak 150 raka’at. Selain itu, ia selalu menghatamkan al-Qur’an selama seminggu dua kali khatam. Hal ini sebagaimana dituturkan putranya Abdullah bin Ahmad.[3]

Guru-guru dan Murid Ahmad bin Hanbal

Semenjak kecil, ia memulai untuk belajar, banyak sekali guru-guru beliau, diantaranya, Husyaim Sufyan bin Uyainah, Ibrahim bin Sa’ad, Jarir bin Abdul Hamid, Yahya al-Qaththân, Walîd bin Muslim, Ismail bin ‘Alayah, Ali bin Hasyim bin al-Barîd, Mu’tamar bin Sulaiman, Amr bin Muhamad bin Ukh asy-Syura, Yahya bin Salim ath-Thaifi, Basyar bin Mufadhal, Ziyaâd bin al-Bakâ, Abu Bakar Bin Iyas, Abu Khâlid al-Ahmar, ‘Ibad bin ‘Ibad a-Mahlabi, ‘Ibad bin Awam, Abdul Aziz bin Abdul Samad al-‘Ammî, Muhamad bin Ubaid ath-Thanafisi, Muthalib bin Jiyyad, Yahya bin Abi Zaidah, Abu Yusuf , Waki’î, Ibnu Numair, Abdul Rahman bin Mahdi, Yazid bin Harun Abdul Razak, Imam Syafi’i dan yang lainnya.[4]

Dalam ilmu hadits, ia memulai belajarnya dari Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithi, yang pada waktu itu merupakan Grand Syeh dalam bidang hadits di kota Baghdad. Ahmad bin Hanbal ber-mulâzamah (belajar) kepada beliau selama empat tahun dan ia mendapatkan (menulis) hadits sampai 3000 hadits. Setelah dari sana, ia melanjutkan study toor-nya ke negri Hadraalmaut (yaman), Kuffah, Basrah, Madinah, dan Makkah.[5]

Ibnu Katsir dalam kitabnya menyebutkan bahwa Imam Ahmad mulai mencari hadits ketika ia berumur 16 tahun.[6] Ketika Imam Ahmad melaksanakan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah, ia bertemu dengan Imam Syafi’i, Imam Ahmad merasa kagum terhadap kebesaran dan keluasan ilmunya, sehingga Ahmad bin Hanbal ber-mulâzamah kepada Imam Syafi’i. Dari sinilah tali silaturahmi antara Imam Ahmad dan Imam Syafi’i semakin erat, setelah itu ikatan mereka semakin dipererat lagi ketika Imam Syafi’i datang ke Baghdad, dan hal ini menghantarkan Imam Ahmad untuk terus menggali ilmunya, mulai dari fiqh, ushul-fiqh dan yang lainnya.[7]

Ketika Imam Syafi’i “hijrah” ke Mesir, sebetulnya Imam Ahmad pun hendak mengikuti jejaknya, namun disayangkan karena beberapa hal yang menghalanginya, ia mengurunkan niatnya untuk mengikuti jejak gurunya itu. Walaupun Imam Syafi’i berada di Mesir, dan imam Ahmad berada di Baghdad, hal ini tidak sampai memutuskan hubungan mereka. Keduanya biasa bertukar pikiran dan berhubungan lewat surat.

Ahmad bin Hanbal mulai mengamalkan keilmuannya semenjak ia berumur empat puluh tahun, hujjah yang dijadikan alasannya ialah bahwa Rasulullah pun mulai menyebarkan dakwahnya semenjak ia berumur empat puluh tahun. Diantara murid-muridnya ialah Abdurrahman bin Mahdi, Abu Hâtim ar-Razi, Musa bin Harun, Baqi bin Muhlid, al-Andalusi, Ali bin Almadini, Muhamad bin Ismail Albukhari, Muslim bin al-Hujaj an-Naesaburi dan Abu Dawud. Tiga muridnya yang disebutkan terakhir inilah yang langsung meriwayatkan hadits Imam Ahmad. Selain mereka muridnya juga sekaligus anaknya sendiri yaitu Abdullah dan Shalih bin Ahmad.[8]

Metodologi hadits

Dalam hal ini, Ahmad mewariskan karya monumentalnya, berupa kitab al-Musnad, kitab sebanyak 20 jilid (ini setelah dirangkai, disusun dan direpisi oleh anaknya dan murid-muridnya), kitab ini memuat ribuan hadits. Imam Ahmad sendiri termasuk hafizh dalam bidang hadits .

Imam Ahmad menghimpun al-Musnad dan meneliti haditsnya, dan menyandarkan hadits-haditsnya dari kalangan sahabat serta mengkhususkan setiap sahabat satu musnad.[9] Selain itu, setelah ia mencatat dan mengkomparasikannya dengan al-Qur’an.[10]

Imam Ahmad menulis al-Musnad sangat lama sekali, hal ini ia lakukan hingga menjelang usia senjanya. Ia menulis Musnad secara terpisah-pisah, yang kemudian dirangkai dan disusun oleh anaknya Abdullah dan Shalih bin Ahmad serta beberapa muridnya.[11]

Dalam al-Musnad memang semuanya bukan hadits yang shahih, terdapat juga hadits-hadits yang dha’if. Hal ini sebagaimana yang Ia ungkapkan: “dalam menulis kitab al-Musnad ini, saya bermaksud menghimpun hadits-hadits yang masyhur, sehingga apabila aku bermaksud untuk meriwayatkan seluruh hadits yang shahih menurutku. Maka saya tidak meriwayatkan Musnad ini kecuali sejumlah kecil hadits saja, akan tetapi, aku tidak meninggalkan hadits yang dha’if, jika dalam bab yang bersangkutan tidak ada hadits yang mewakilinya”.[12] Dari sini jelas adanya bahwa dalam Musnad itu terdapat hadits yang dhai’if, hal ini sebagaimana diakui oleh Imam Ahmad sendiri.

Selain itu, dalam ashah-ul asânîd (sisilatu sanad) Imam Ahmad berbeda dengan Imam-imam sesudahnya, seperti Imam Bukhari. Artinya, ashah-ul asanîdnya Imam Ahmad berbeda dengan ashah-ul asânîd-nya Imam Bukhari. Seperti asha-ul asânîd-nya Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawayh ialah Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Imam Bukhari ialah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

Dalam Musnadnya Imam Ahmad menghimpun 18 musnad dari 66 jalan. Sebanyak inilah sanad yang dihimpun oleh Imam Ahmad.[13] Musnad Al-Kabir ini berisi 30000 hadis, sebagai hasil menyaring lebih dari 750 000 hadis. Tetapi sebagian ulama menyebut bahwa di dalamnya ada juga hadis-hadis yang lemah.[14]

Imam Ahmad, selain sebagai seoarang muhaddits, juga ia terlkenal sebagai seorang fuqaha (ahli fiqh) dan menjadi salah satu Imam dari Madzhab Hanbali. Ahmad bin Hanbal menjadikan konsep hukumnya dengan lima langkah. Pertama, al-Qur’an. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Qur’an.[15]

Kedua, sunnah. Ketiga, Ijma ahlul aqdi wal hilli. Keempat, perkataan sahabat, hal ini di sandarkan dari hadits: “sahabat-sahabatku seperti bintang, jika kamu mengikutinya pasti akan memberikan petunjuk terhadap kamu”. Kelima, Qiyâs. Imam ahmad juga mengingkari konsep Istihsân.[16] Karya monumentalnya ialah al-Musnad. Madzhab ini banyak tersebar di negara Saudi Arabia.[17]

Karya-karya Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad, selain seorang muhadits, fuqaha juga ulama yang produktif dalam tulis menulis, karya belaiu yang paling terkenal dan Masterpiecenya ialah al-Musnad. Selain itu ada juga buku yang lainnya, seperti Tafsîr, an-Nâsikh Wal Mansûkh, al-Muqaddam wal Muakhar Fî Kitâb-il ‘Llâh, Jawâb-ul Qur’an, al-Manâsik-ul Kab‑îr, Almanâsik-ul ‘Shagîr, dan yang lainnya. Sementara kitab yang tersebar sampai sekarang, yang di himpun kembali oleh imam abu Daud dan Rasyid Ridla ialah kitab: Kitâb-u ash-Shalât, Kitâb Shagîr, Kitâb-ul ‘Sunnah, Risâlat-u Shagîrah, Kitâb-ul Wara’, Kitâb-ul Zuhud, dan yang lainnya.[18]

Ahmad bin Hanbal Dalam Pandangan Para Ulama

Imam Syafi’i berkata : “tidaklah aku meninggalkan baghdad, kecuali aku tinggalkan ahmad bin hanbal dalam keluasan ilmu dan kefaqihan. Ia imam dalam delapan hal, iamm hadits, fiqh, luhgah, qur’an, faqir, zuhud, dan imamnya sunnah”.[19]

Qutaibah berkata: “Sufyan ats-Tsauri wafat, maka hilanglah kewara’an ummat. Imam Syafi’i wafat, maka hilanglah sunnah-sunnah dan imam Ahmad wafat menyebarlah kebid’ahan. Imam Ahmad adalah ulama pewaris Nabi yang benar menempati posisinya sebagai penuntun ummat”.[20]

Ishaq bin Rahawayh berkata: “Imam Ahmad ialah hujjah antara Allah dan hambanya-Nya di muka bumi ini[21].

Yahya bin Muayyin berkata: “umat berharap kepadaku supaya seperti Ahmad bin Hanbal. Demi Allah tidaklah aku sedikitpun sepertri dia, karena aku tidak mampu mengikuti jejaknya”.[22]

Hilal bin ‘Alâ berkata: “Allah swt telah menganugrahkan kepada umat ini dengan empat Imam. Imam Syafi’i, ahli hadits serta mampu menginterpretasikannya, juga menjelaskan antara yang mujmal dan mufahshal, khusus dan umumnya, nasikh dan mansukhnya. Abi Ubaid yang telah menjelaskan keasingannya. Yahya bin Muayyan telah menghilangkan kebohongan dalam hadits. Dan Ahmad bin Hanbal yang bersabar dalam mihnah (ujiannya sangat berat), tapi ia sangat sabar dan istiqamah. Kalaulah tidak ada mereka, maka celakalah ummat ini”.

Abu bakar al-Atsram berkata: “tidaklah aku melihat orang yang paling mengetahui dalam sunnah kecuali Imam Ahmad bin Hanbal”.[23]

Berkata Abdurrahman an-Nasâî: “Imam Ahmad bin Hanbal ialah ulama pandai dalam hadits, fiqh, wara, zuhud dan sabar”.[24]

Wafatnya Imam Ahmad

Menjelang usianya yang senja, pada tahun 241 H. Imam Ahmad bin Hanbal terkena sakit yang kronis, selama sembilan hari ia sakit, dan akhirnya pada hari jum’at, 12 Rabiul Awal 241 H. ia meninggal dunia di panggil Sang Maha Kuasa untuk menghadap-Nya. Dalam masa sakitnya ini masyarakat Baghdad, khususnya penguasa mengalami kebingungan karena disibukkan dengan para pelayat yang ingin melayat beliau. Yang menjadi menarik dalam kejadian ini ialah, bahwa ketika beliau terkena sakit bukan hanya kaum muslimin saja yang ikut melayat, tapi juga orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan yang lainnya pun ikut melayatnya. [25]

Pada tahun 241 H. inilah umat Islam kehilangan salah seorang ulama terbaiknya, bukan saja masayarakat Bagdad yang menmgalami ‘Âm al-Hazn. Tapi seluruh umat manusia pun ikut bersedih atas wafatnya Imam Ahmad. Selama seminggu kuburannya penuh orang-orang berdesakan untuk menshalatkannya. Sahabat imam Ahmad, Abu Hasan at-Tamimy harus rela menunggu selama seminggu hanya untuk melakukan salat di kuburannya secara langsung.[26] Setelah wafatnya belaiu sekitar 20.000 orang lebih dari kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi memeluk ajarana Islam.[27] Subhanallah. Wallâhu ‘alam bish-shawâb.****

Ya Allah ya tuhan kami, jika kami mencintai-Mu karena takut akan neraka maka siksalah aku dengan api-Mu. Dan jika aku beribadah karena mengararapkan surga-Mu, maka haramkanlah aku untuk memasukinya. Dan jika aku beribadah karena cinta kepada-Mu dan rindu tuk menemui-Mu, maka buatlah aku dengan apa yang Kau mau.”

Pinggiran kota Cairo

El-hây el-Âsyir endah

Markaz besar FOSPI

Teruntuk saudara-saudara seperjuangan kita tegakkan dan syi’arkan nilai-nilai Ilahi dalam segala aktifitas kita. Amin.


[1] Makalah ini diobrolkan bareng kawan-kawan di sekretariat FOSPI, dalam acara Bidang Taklim. Pada hari kamis, 21 maret 2002 M.

[2] Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal. Al-Musnad. Dar el-Hadits, Cairo, Egypt, 1995. Cetakan Pertama Vol. I. Hal 88-89.

[3]. Dr. Mushthfâ al-Syuk’ah. Islâm Bilâ Madzâhib. Dâr Al-Mishriyyah Al-Libnaniyyah. Cairo, Egypt, 2000. Cet. XIV. Hal. 465

[4] Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal. Ibid. Hal. 67.

[5] Dr. mushthfa al-Syuk’ah. Ibid. hal.464. lihat juga al-Musnad hal. 68.

[6] Imam al-Hâfizh Abul Fidâ Ismail bin Katsir ad-Damsyiqai. Al-Bidayatu Wa al-Nihayatu. Dar at-Turats al-Arabi. Beirut, Libanon, 1993. Vol. X. Hal 359.

[7] Ibid. hal. 464. jika kita melihat, memang aliran fiqh Hanbali merupakan hasil komparasi antara ilmu beliau dan gaya pemikiran fiqh Imam Syafi’i.

[8] Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal. Ibid. hal. 67-68.

[9] Abdurahman asy-Syarqawi, Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan 5 Imam Madzhab Terkemuka. Al-Bayan Kelompok Penerbit Mizan, Cetakan Pertama, Nopember 1994. Hal 165.

[10] Ibid. 165.

[11] Ibid. Hal. 166.

[12] Ibid. Hal. 166.

[13] Lihat Imam Ahmad bin Muhamad bin Hanbal, dalam al-Musnadnya. Hal. 140-142.

[14] www. Isnet.com dalam artikel Dasar-dasar Islam. Lihat juga buku Islâm Bilâ madczâhib. Hal 485.

[15] Q.S. al-An’am 6:38. dalam Alqur’an dan terjemahannya yang di keluarkan Depag, maksud ini ialah, sebagaimana para Mufassirîn menjelaskan al-Kitab ini dengan lauhul mahfuzh. Dan ada pula yang menafsirkannya: “bahwa al-qur’an itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

[16] Prof. Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 482

[17] Prof. Dr. Ali Mar’î.Ibid. Al-Mawshû’ah Al-Islâmiyyah Al-‘Âmmah. Di bawah pengawasan Prof. Dr. Mahmûd Hamdî Zaqzûq, Mentri Agama Republik Arab Mesir, dan Direktur Majlis A’la Li Syu’ûn Al-Islâmiyyah. Cairo, Mesir 2001 M./1422 H. Hal. 1276

[18] Dr. Mushtafa al-SYuk’ah. Ibid.Hal. 485.

[19] Ibid. hal. 464. lihat juga Bidayah Wa Nihayah, karangan Ibnu Katsir vol.X. Hal. 369.

[20] Ibnu Katsir. Ibid. hal 369. Imam Ahmad juga terkenal sebagai ulama yang selalu memberantas bid’ah.

[21] Ibid. Hal. 370

[22] ibid. Hal. 370.

[23] Imam Ahmad bin Hanbal. Ibid. Hal. 74.

[24] Ibid. hal. 78.

[25] Dr. Mushthafa al-Syuk’ah. Ibid. Hal. 370.

[26] Ibid. Hal. 487.

[27] Ibid. Hal. 468.

One comment on “Imam Ahmad Bin Hanbal

  1. Therefore, it is extremely beneficial in the prevention of
    cancer and specially colon most cancers. Inexperienced coffee beans: experiments show
    that by consuming inexperienced espresso bean extract and earning no other modifications, dieters lost major excess
    fat and weight.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s