Imam Bukhari

Imam Bukhârî

Amîr-ul ‘Mu’minîn fî-l ‘Hadîts[1]

“Tidak ada yang paling tahu di muka bumi ini dalam hadits, selain Muhamad bin Ismail (Bukhari)”.

(Abu Bakar bin Khuzamah)[2]

oleh: Yandi Rahmayandi[3]

Iftitah

Sanjungan dan pujian diatas hanyalah salah satu dari begitu banyaknya ungkapan kekaguman para ‘Âlim dan tokoh terkemuka tempo dulu sampai sekarang terhadap salah seorang Imam hadits Muhamad bin Ismail al-Bukhârî. Kekaguman mereka terhadap Imam Bukhârî, memang bukan tanpa alasan. Karya momentalnya “Shahîh-ul‘Bukhârî” telah membawa kemasyhuran namanya sampai hari kiamat nanti. Betapa tidak, kitab inilah yang disepakati Ulama hadits yang otientik setelah al-Qur’an. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Shalâh (W. 643 H), kemudian pendapat ini diikuti, dan dipopulerkan oleh Imam Nawawî (W. 676 H).[4]

Agaknya pendapat ulama ini, khususnya Imam Nawawî sudah terlanjur menjadi “dalil” yang akhirnya penelitian khusus Shahîh-ul‘Bukhârî dianggap kurang penting. Apalagi, kritikan terhadap sejumlah hadits dianggap kurang penting. Apalagi kritikan terhadap sejumlah hadits dalam Shahîh-ul‘Bukhârî juga sudah disanggah antara lain oleh Imam Ibnu Hajar (W. 852 H.) dalam kitabnya hady al-sari dan fath-ul ‘bârî. Namun akibat lebih jauh dari hal itu, adalah kenyataan bahwa kebanyakan umat Islam, kita khususnya, tidak mengetahui siapa Imam Bukhari, bagaimana asal muasal kitabnya yang mashur itu, bagaimana metode beliau dalam meneliti dan mengkritik hadits?, dan lain sebagainya. Padahal di pihak lain, mereka juga tidak pernah membantah pendapat Imam Nawawî yang tersebut diatas.

Berangkat dari faktor-faktor tersebut, tulisan sederhana ini, akan mencoba memaparkan tentang Imam Bukhârî, berikut hal-hal yang ada kaitannya dengan metodologi beliau dalam ilmu hadits. Semoga hal ini bisa menambah khazanah ilmiyyah tentang hadits.

Imam Bukhârî

Nama lengkap beliau ialah Abu Abdullâh Muhamad bin Isma’îl bin Ibrâhîm bin Mughîrah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhârî.[5] Beliau dilahirkan pada hari jum’at, 13 syawal 194 H./1810 M. di Bukhârâ. Ayahnya Isma’îl bin Ibrâhîm al-Ju’fî tanpaknya cendrung kepada hadits nabawi. Ketika pergi haji pada tahun 179 H. beliau menyempatkan diri menemui tokoh-tokoh ahli hadits seperti Imam Malik bin Anas, Abdullâh bin Mubârak, Abu Muawiyyah bin Shâleh dan yang lainnya.[6]

Ternyata semangat dan kecendrungan ini diwariskan kepada putranya Muhamad. Ketika Muhamad masih kecil, ayahnya Isma’îl meninggal dunia, dan meninggalkan perpustakaan pribadi yang diperuntukkan khusus buat putranya tercinta Isma’îl. Dalam keadaan yatim ia diasuh oleh ibunya dengan penuh kasih sayang, dibimbingnya untuk selalu mencintai buku-buku peninggalan ayahnya. Bersama teman-teman sebayanya Muhamad mulai belajar membaca, menulis, belajar al-Qur’an dan hadits.

Ketabahan ibu yang shalehah ini akhirnya mulai membuahkan hasil, ketika pada umur 10 tahun Muhamad muncul sebagai anak yang berilian otaknya mengalahkan anak-anak sebayanya, dan pada umur 10 tahun itulah Muhamad mulai mempelajari dan menghapal hadits. Ketika berumur 11 tahun perpustakaan ayahnya sudah tidak memenuhi syarat lagi baginya. Cita-cita untuk mendalami hadits semakin menggebu-gebu. Akhirnya Muhamad kecil menemui tokoh-tokoh ahli hadits di tanah airnya untuk mempelajari hadits.

Melihat kehebatan Muhamad ini, para gurunya juga tidak urung menemuinya. Betapa tidak, pada waktu berumur 16 tahun Muhamad sudah hapal kitab-kitab hadits yang ditulis oleh abdullâh bin Mubârak dan Waki’, dua tokoh ahli hadits yang terkemuka pada masa itu.

Cita-cita Muhamad tidak berhenti sampai disitu, dengan bimbingan ibundanya pada tahun 216 H., Muhamad di ajak pergi ke Makkah disertai kakaknya Ahmad. Sesudah menunaikan ibadah haji, ibunya bersama Ahmad pulang kembali ke Bukhârâ, sedang Muhamad mendalami hadits dari tokoh-tokoh ahli hadits, seperti, al-Walid al-Azraqî dan Isma’îl bin Salim al-Saigh, kemudian pergi ke Madinah untuk mempelajari hadits dari anak cucu sahabat Nabi Saw. satu tahun Muhamad tinggal di Madinah, ia juga sempat menulis dua buah buku di sana, yaitu: “Qadhâyâ ash-Shahâbah wa at-Tabi’în” dan “Tarîkh al-Kabîr”.

Fase berikutnya, Muhamad menjelajahi negeri-negeri lain, disamping mondar mandir ke beberapa kota untuk menemui guru-guru hadits. Maka tersebutlah nama beberapa kota tempat Muhamad belajar hadits, antara lain : Makkah, Madînah, Syâm, Baghdad, Washt, Bashrah, Bukhârâ, Kûffah, Mesir, Harah, Naisabur, Qarasibah, Asqalan, dan Khurasan.[7]

Muhamad ternyata bukanlah santri yang pasif, yang hanya mampu menerima dan menghapal pelajaran saja. Muhamad adalah santri yan produktif, sembari belajar, ia menulis buku. Maka tersebutlah karya tulisnya di samping dua kitab tersebut di atas, sebagai berikut:

– al-Tarîkh al-Shagîr

– al-Tarîkh al-Awsath

– al-Dhuafâ

– al-Kunâ

– al-Adab al-Mufrâd

– al-Jâmi’ al-Shahîh (shahih bukhari)

– Raf’ul Yadain fî al-Shalâh

– al-Wuhdan

– Khair Kalâm fî al-Qira’ah khalf al-Imâm

– al-Asyrifah

– Asami al-Shahâbah

– Bir al-Wâlidain

– Khalq Af’al al-‘Ibâd

– al-Ujlah fî al-Hadîts

– al-Musnad al-Kabîr

– al-Mabsut

– al-Inbah.[8]

Maka setelah berumur 62 tahun, anak yatim yang kemudian termasyhur sebagai ahli hadits nomor satu. Dan setelah kembali menentap di Bukhârâ, pergi ke desa Khartank di kawasan Samarqand untuk menjenguk familinya yang bernama Ghalib bin Jibril. Beberapa hari muhamad tinggal di sana sampai akhirnya sakit dan wafat pada hari sabtu, malam ‘idul fitri 1 syawal 256 H./870 M. semoga Allah memberkahi dan merahmatinya. Amîn.[9]

Shahîh Bukhârî

Memperhatikan karya-karya tulisannya, Imam Bukhârî sebenarnya tidak hanya sekedar tokoh ahli hadits seperti dikenal selama ini, tetapi, ia dikenal juga sebagai sejarawan (muarrikh), ahli fiqh dan lain sebagainya. Walaupun ia menulis beberapa kitab hadits atau ilmu hadits, namun yang membawa namanya terkenal sampai hari kiamat nanti adalah kitabnya yang berjudul “Jâmi’ al-Musnad al-Shahîh al-Mukhtashar Min Umûr-i Rasul-il’Llâh Shallâ-l ‘Llâhu Alayhi Wasallâm wa sunanihi wa ayyâmih-i”, yang lajim disebut dengan “al-Jâm’i al-Shahîh” dan lebih populer dengan sebutan “shahîh al-Bukhârî”. Sehingga barangkali dapat dikatakan bahwa tanpa “shahîh al-Bukhârî” Muhamad bin Isma’îl tidak akan menjadi Imam Bukhârî seperti sekarang ini.

Motifasi Pembukuan

Meski sudah termasuk luar biasa dalam bidang hadits dan ilmu hadits, tampaknya Imam Bukhârî tidak begitu saja membukukan hadits-hadits nabawi. Ada beberapa faktor yang mendorong untuk menulis kitab itu, yang menunjuknya bahwa penulisnya tidak mau berangkat dari kemauannya sendiri. Karenanya wajar apabila keikhlasan beliau menjadikan kitabnya sebagai rujukan yang paling otientik sesudah al-Qur’an. Sementara faktor-faktor itu ialah:

1. pada masa akhir Tabi’în, dimana para Ulama sudah menyebar ke berbagai penjuru negeri Islam, hadits-hadits Nabi mulai dibukukan. Tersebutlah orang-orang yang membukukan, antara lain: al-Râbi’ bin Shâlih (w. 160 H), Sa’id bin Abu ‘Arabah (W. 156 H) dan yang lainnya.

Metode penulisan mereka terbatas pada bab-bab yang menyangkut masalah-masalah tertentu saja. Kemudian datanglah Ulama priode berikutnya, dimana mereka menulis lebeih lengkap dari pada cara penulisan sebelumnya. Mereka menulis hadits-hadits yang menyangkut masalah-masalah hukumnya secara luas. Tersebutlah nama-nama seperti Imam Malik bin Anas dengan kitabnya al-Muwaththa di Madinah, Ibn Juraij di Makkah, al-Auzai’ di Bashrah. Hanya saja tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabi’în dan atbau-t’tabi’în.

Pada awal abad ke II, para ulama bermaksud menulis hadits secara tersendiri tanpa dicampuri fatwa sahabat dan tabi’în. Maka tersebutlah penulis-penulis seperti Ubaidillah al-Kuffi, Musaddad al-Bashri, Asad al-Umawi dan Nua’im al-Khunzai. Metode penulisan mereka berbentuk musnad, dimana disebutkan dahulu nama sahabat kemudian hadits-hadits yang diriwayatkannya. Metode ini diikuti oleh tokoh-tokoh sesudahnya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Utsman bin Abu Syaibah dan yang lainnya. Adapula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abu bakar bin asy-Syaibah. Namun hadits-hadits yang mereka tulis masih campur aduk antara hadits-hadits yang shahîh, hasan dan dha’îf. Dari sinilah kemudian Imam Bukhârî punya inisiatif untuk menghimpun hadits-hadits yang shahih saja, sehingga tidak membingungkan orang. Ternyata Ishaq bin Rawaihah seorang guru Imam Bukhârî mendorong maksud ini, sebagaimana dituturkan oleh Bukhârî: “ketika saya berada di kediaman Ishaq bin Rawaihah, ia menyarankan agar saya menulis kitab yang singkat, yang hanya memuat hadits-hadits shahih saja. Saran beliau itu sangat mendorong saya hingga kemudian saya menulis al-Jâmi’ ash-Shahîh”.[10]

2. Dorongan moral yang seperti beliau tuturkan sendiri sebagai berikut : “saya bermimpi bertemu Nabi Muhamad Saw. Saya berdiri dihadapan Nabi seraya menyapa saya. Setelah itu, saya menemui ahli-ahli ta’bir mimpi untuk menanyakan arti mimpi itu. Jawabnya “anda akan membersihkan pembohong-pembohong yang dilontarkan kepada Rasulullah Saw” itulah yang mendorong saya untuk menulis al-Jâmi’ al-Shahîh”.[11]

Kandungan Shahîh Bukhârî

Ibnu Shâlah, begitu pula imam Nawawî, menuturkan bahwa shahîh al-Bukhârî berisi 7275 hadits dengan pengulangan, dan apabila tanpa pengulangan jumlah itu hanya 4000 hadits saja. Jumlah diseleksi dari 600.000. hadits yang diperolehnya dari 90.000 guru koleksi shahîh al-Bukhârî ditulis selama 16 tahun, berisi dari 100 kitab dan 3450 bab. Lamanya penulisan ini karena Imam Bukhârî sangat cermat dalam menyeleksi hadits. Bahkan ia tidak mau menulis satu hadits pun sebelum mandi lalu shalat istikhorah 2 rakaat dan yakin bahwa hadits yang ditulisnya itu benar-benar shahih.[12]

Jumlah kitab yang mensyarah Shahîh al-Bukhârî mencapai 57 kitab diantaranya yang sangat populer yaitu fath-ul ‘bârî karangan ibn Hajar al As qalani (W.853H) dan umdat-ul qari’ karangan al ‘Ain (W. 855 H). Jumlah kitab ta’liq (komentar pada bagian-bagian tertentu) ada 5 buah. Sedang mukhtasar (resumenya) ada 3 buah dan yang populer adalah al-Tajrîd as-Sharîh karangan az Zubaidi (W. 893 H). ada juga kitab lain yang masih membahas Shahîh al-Bukhârî, disamping kitab-kitab mukhtasar dari beberapa kitab syarah diatas.

Antara Shahîh al-Bukhârî Dan Shahîh Muslim

Ibn Shâlah dan Imam Nawawî yang pertama kali menuturkan pendapatnya bahwa para ulama telah sepakat kitab Shahîh al-Bukhârî dan Shahîh Muslim di terima sebagai kitab yang otentik sesudah al-Qur’an. Namun, ada perbedaan pendapat, mana yang lebih otentik di antara dua kitab tersebut ?. Sejumlah ahli hadits dari Maroko berpendapat bahwa Shahîh Muslim lebih unggul dari Shahîh al-Bukhârî, sedangkan Jumhur Ulama berpendapat bahwa Shahîh al-Bukhârî lebih otentik dari Shahîh Muslim. Dengan argumen-argumen sebagai berikut : Pertama, keunggulan pribadi Bukhârî atas Muslim yang hal ini, dapat dilihat dari penuturan-penuturan tokoh-tokoh Ulama sebagai berikut :

  1. Ad-Darukuthnî menuturkan : “seandainya tidak ada Bukhârî maka Muslim tidak akan ada” dalam kesempatan lain ia berkata : “apakah sebenarnya yang dilakukan muslim, ia tidak lebih sekedar mentransfer kitab Bukhârî dan memberi tambahan di sana-sini”.
  2. Al-Hakim Abu Ahmad Naisaburi mengatakan : “semoga Allah merahmati Muhammad bin Ismail, karena ia telah menulis (membukukan) hadits-hadits yang menjadi sumber hukum Islam dan menerangkannya kepada manusia, orang-orang yang membukukan hadits sesudahnya seperti Muslim bin Hujaj sebenarnya hanya mengambil dari kitab Bukhârî”.
  3. Para ulama umumnya juga sepakat bahwa Bukhârî lebih alim dari pada Muslim dalam biang hadits, Muslim sendiri mengakui hal itu.

Kedua, keunggulan kitab Shahîh al-Bukhârî itu sendiri atas Imam Muslim karena perbedaan metode pengambilan hadits yang dilakukan masing-masing, sebagaiamana terlihat dalam ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  1. Shahîh al-Bukhârî, rawi-rawi haditsnya ditulis oleh Imam Bukhârî saja (tanpa bersaman dengan Imam Muslim) berjumlah kurang lebih 435 orang. Di antara jumlah ini yang mendapat kritikan hanya 80 orang. Shahîh Muslim, rawi-rawi yang di tulis Imam Muslim saja (tanpa bersamaan dengan Imam bukhârî) berjumlah 620 orang. Dari jumlah ini yang mendapatkan kritikan 160 orang. Logikanya, kitab yang sedikit mendapat kritikan lebih baik daripada yang mendapat banyak kritrikan, meskipun dengan catatan bahwa adanya kritikan itu tidak mengurangi nilai keotientikan kitab Bukhârî.
  2. Shahîh Bukhârî: 80 orang yang dikritik dalam Shahîh Bukhârî itu kebanyakan adalah guru Imam Bukhârî sendiri, di mana beliau pernah bertemu, mendampingi, dan mengetahui keadaan mereka, serta mengetahui dengan teliti nilai hadits-hadits mereka, mana yang baik dan mana yang tidak. Shahîh Muslim, 160 orang yang di kritik dalam Shahîh Muslim itu kebanyakan adalah orang-orang tabi’în dan atba-ut tabi’în yang tidak pernah bertemu dengan Imam Muslim, sehingga keadaan Imam Muslim juga tidak mengetahui keadaan mereka secara langsung. Ketidaktahuan Imam Muslim terhadap mereka secara langsung, ini menjadikan kitab Shahîh Muslim berada di bawah Shahîh Bukhârî.
  3. Shahîh Bukhârî, dalam hal bersambungnya sanad, Imam Bukhârî mensyaratkan bahwa sanad dapat disebut bersambung apabila murid dengan guru, atau rawi kedua dengan rawi pertama benar-benar bertemu meskipun hanya sekali. Shahîh Muslim, menurut Imam Mus lim, sanad sudah dapat disebut bersambung apabila ada kemungkinan bertemu bagi kedua rawi diatas, di mana keduanya hidup dalam satu kurun waktu dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh menurut ukuran saat itu, meskipun keduanya belum pernah bertemu sama sekali.

Jelaslah dari sini, bahwa pengertian “bersambung” yang dimaksud oleh Imam Bukhârî lebih jelas dan tegas di banding yang dimaksudkan oleh Imam Muslim. Dari beberapa argumen tersebut, memperkuat pendapat Jumhur Ulama bahwa Shahîh Bukhârî lebih otientik daripada Shahîh Muslim. Sedang pendapat Ulama Maroko yang menyatakan Shahîh Muslim lebih kuat dari pada Shahîh Bukhârî diartikan sebagai baik dalam metode penyusunannya, bukan dari segi nilai haditsnya. Tentu saja, keunggulan dan keotientikkan Shahîh Bukhârî itu bila di tinjau dari secara umum, sebab dalam Shahîh Muslim pun terdapat beberapa hadits yang lebih otientik di banding beberapa hadits dalam Shahîh Bukhârî

Kritik Terhadap Hadits-Hadits Bukhârî

Dalam ilmu hadits, kritik ditujukan kepada dua aspek, yaitu: sanad dan matan hadits. Krtik sanad (naqd sanad/naqd ar-Rijal) diperlukan untuk mengetahui apakah rawi-rawi itu jujur, taqwa, kuat hapalannya, dan apakah sanad itu bersambung atau tidak. Sedang kritik matan (naqd al-matan) diperlukan untuk mengetahui apakah hadits itu mempunyai cacat (illat) atau janggal (syadz). Dari sini, kemudian timbul istilah ahli hadits “hadza al-hadîts shahîh al-isnad” (hadits ini shahih sanadnya), dan “hadza shahîh al-matan” (hadits ini shahih matannya).

Para orientalis seperti, Ignaz Boldziher (1850-1921), Arent Jan Wenssinck (1882-1939), Joseph Schacth (1902-1969), dan yang lainnya, berpendapat bahwa dalam meneliti hadits, para ahli hadits hanya menggunakan metode kritik sanad saja tanpa menilai metode kritik matan. Sehingga, menurut mereka, banyak ditemukan di belakang hari hadits-hadits yang semula di anggap shahih ternyata palsu, termasuk hadits yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî. Hadits-hadits Shahîh Bukhârî ternyata tidak luput dari kritikan berbagai pihak, baik dahulu maupun sekarang. Kritikan juga ditujukan kepada sanad dan matan hadits, seperti dalam uraian berikut:

Kritik hadits Shahîh tenpo dulu

Perlu diketahui lebih dulu, bahwa sebagian besar hadits-hadits bukhari di akui sebagai hadits shahih oleh ahli-ahli hadits. Namun, juga di akui bahwa sejumlah kecil hadits-hadits Bukhari dan Muslim dikritik oleh sejumlah ahli hadits masa dulu seperti ad-Daruquthnî (w. 385 H), Abu Ali al-Ghasani (w. 365 H) dan yang lainnya. Mereka menganggap hadits-hadits tersebut dha’îf.[13]

Menurut Imam Nawawî, kritikan mereka itu berangkat dari tuduhan bahwa dalam hadits-hadits Imam Bukhari tidak menepati persyaratan-persyaratan yang ia tetapkan. Untuk itu, ad-Daruquthnî menulis buku yang berjudul “al-Istidrakat wa al-tatabu”, di mana ia mengkritik 200 buah hadits yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî dan Muslim. Imam Nawawî menegaskan bahwa kritik ad-Daruquthnî dan yang lainnya itu hanyalah berdasarkan kreteria-kriteria yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadits yang justru di nilai lemah sekali di tinjau dari ilmu hadits, karena berlawanan dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh Jumhur Ulama. Karena demikian, lanjut Nawawî, anda jangan sekali-kali terperdaya oleh kritikan-kritikan itu.[14]

Kritik sanad

Dalam mengkritik Shahîh Bukhârî, ad-Daruquthnî menyoroti sanad dalam arti deretan rawi-rawi hadits, sedangkan ahli hadits yang lain ada yang menyoroti pribadi-pribadi rawi. Ad-Daruquthnî berkata: “Imam Bukhari (dan Imam Muslim) menulis hadits al-Zubaidi dari Zuhri, dan Urwah dari Zainab binti Abi Salamah, bahwa Nabi Muhamad Saw melihat seorang wanita di rumah Umi Salamah, wajah wanita itu memar, lalu nabi bersabda: “obatilah wanita itu dengan jampi-jampi (ruqyah)”. Kata ad-Daruquthnî selanjutnya,: “hadits ini oleh Uqail diriwayatkan dari al-Zuhri dari Urwah secara mursal. Begitu pula Yahya bin Said meriwayatkannya dari Sulaiman bin Yasar dari Urwah secara mursal.[15]

Jelaslah bahwa ad-Daruquthnî menilai hadist tersebut dha’îf, sebab hadits mursal itu putus sanadnya, di mana Uqa’il tidak menyebut Zainab dan umi Salamah, tetapi langsung menyebut Nabi. Sanad hadits ini selengkapnya, seperti yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî adalah sebagai berikut:

Riwayat Bukhârî:

Muhamad bin Khalid- Muhamad bin Walid-Muhamad bin Harb-al-Zubaidi-al-Zuhri-Urwah-Zainab binti Abi Salamah-Ummu Salamah-Nabi.[16]

Riwayat yang lain :

  1. Ibn Walid-Ibn Lahiah-al-Zuhri-Urwah-Nabi.[17] Di sini Urwah meriwayatkan hadits langsung dari Nabi dengan menggugurkan dua riwayat yaitu Zainab binti Abi Salamah dan Umu Salamah.
  2. Abu Muawiyyah-Yahya bin Yazid- Sulaiman bin Yasar-Urwah-Umu Salamah- Nabi. Di sini yang digugurkan hanya Zainab binti Abi Salamah, dan riwayat ini ditulis oleh Imam al-Bazzar.[18]

Dari perbandingan riwayat-riwayat itu dapat di ketahui bahwa setenarnya riwayat hadits yang mursal (putus sanadnya menjelang Nabi) terdapat dalam riwayat yang lain. Riwayat inilah yang sebenarnya dha’îf. Sedangkan riwayat yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî sanadnya bersambung, maka haditsnya di nilai shahih. Sedang di cantum hanya sanad Uqail-al-Zuhri-Urwah-Nabi” atau yang semisal dengan itu dalam Shahîh Bukhârî, hal itu dimaksudkan sebagai istisyhad bahwa hadits yang diriwayatkan itu, diriwayatkan pula oleh penulis hadits yang lain, dengan sanad yang lain pula. Periwayatan semacam itu dalam ilmu hadits dikenal sebagai hadits syahid atau hadits mutabi’.

Kritik pribadi rawi

Sejumlah ahli hadits menyoroti beberapa nama rawi yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî. Menurut mereka, rawi-rawi itu tidak memenuhi persyaratan sebagai rawi yang di terima haditsnya. Menyanggah tuduhan itu, Ibn Hajar menegaskan bahwa hal itu tidak dapat di terima kecuali apabila rawi-rawi itu terbukti dengan jelas mempunyai sifat-sifat dan, atau melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan haditsnya tertolak. Dan ternyata setelah diteliti dengan cermat, tidak ada satu rawi pun dalam Shahîh Bukhârî yang mempunyai sifat-sifat dan atau melakukan perbuatan seperti itu.

Faktor-faktor yang menyebabkan seorang rawi di talak haditsnya- dalam ilmu hadits disebut “asbab al-Jarh” berkisar pada lima masalah, yaitu: ghalath (rawi sering keliru dalam meriwayatkan hadits), jahalah (rawi tidak dikenal), identitasnya, rawi berlawanan maksudnya dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang lebih dapat dipercaya dari raw (pertama), bid’ah (rawi melakukan perbuatan dan atau mempunyai keyakinan dapat menyebabkan dirinya kafir) dan da’wa al-inqitha fi as-sanad (rawi di tuduh menyebutkan sanad yang tidak bersambung). Kelima masalah ini tidak terdapat pada pribadi rawi dalam Shahîh Bukhârî.[19]

Menurut al-Azdi, Usamah lemah haditsnya, dan menurut Abu al-Qasim, Usamah tidak di kenal identitasnya. Dalam Shahîh Bukhârî ada satu hadits yang diriwayatkan dari Usamah yaitu dalam kitab al-dzabaih. Ibnu Hajar pernah membaca dalam buku mizan I’tidal yang ditulis ad-Dzahabi, bahwa Usamah di kenal identitasnya. Imam-imam yang empat juga meriwayatkan hadits dari Usamah.[20]

Jelaslah dari sini bahwa tuduhan tidak di kenal identitasnya (jahalah) hanya berdasarkan kriteria majhul sejumlah tokoh hadits yang justru kurang memperoleh pengakuan ilmiah di banding misalnya dengan adz-Dzahabi. Karena itu, penilaian adz-Dzahabi tentang Usamah lebih diunggulkan daripada perkataan abu al-Qasim, apabila ditambahkan bahwa Imam yang empat juga meriwayatkan haditsnya.

Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kritik-kritik terhadap hadits-hadits Bukhari pada masa lalu, baik yang ditujukan pada sanad ataupun pribadi rawi tidak dapat mengurangi derajat atau nilai keotientikan hadits-hadits Bukhari, sebab kritik-kritik itu bertolak dari kaidah-kaidah yang justru lemah menurut mayoritas ahli-ahli hadits, di samping hadits-hadits yang di kritik itu hadits-hadits mutabi’, yang pencantumannya dalam Shahîh Bukhârî tidak dimaksudkan sebagai hadits pokok. Karena itu, tepat sekali komentar kritikus terkemuka masa-masa terakhir Syeh Ahmad Syakir yang menyatakan bahwa seluruh hadits-hadits Bukhari dan Muslim adalah Shahih. Adapun bantahan-bantahan yang datang dari ad-Daruquthnî dan yang lainnya itu, hanyalah karena beberapa hadits Bukhari dan Muslim itu tidak memenuhi persyaratan masing-masing kedua tokoh hadits itu. Namun, apabla hadits-hadits itu dikembalikan kepada persyaratan ahli-ahli hadits pada umumnya, maka memang shahih.[21]

Kritik hadits Bukhari masa kini

Meskipun ahli-ahli hadist masa lalu sudah melakukan kritik hadits, baik sanad maupun matannya. Namun, kalangan orientalis menuduh bahwa para ahli hadits dahulu hanya mengkritik hadits dari segi sanad atau matannya saja. Sebab banyak hadits yang termasuk dalam Shahîh Bukhârî yang pada kemudian hari ternyata tidak shahih (otientik) di tinjau dari segi sosial, politik, sains dan yang lainnya. Karenanya, mereka tidak mengetahui hasil penelitian ahli-ahli hadits masa lalu. Mereka melihat teori sendiri yang di kenal dengan “kritik materi hadits”. Tersebutlah nama-nama kelompok ini : Ignaz Boldziher, A.J. Wensinch, Robson, Maurice Bacaille, dan lain-lain. Sedangkan dari kubu orang Islam terdengar nama Ahmad Amin.[22]

Ignaz Boldziher

Contoh hadits yang di kritik oleh dia adalah hadits yang berasal dari al-Zuhri, di mana Rasulullah bersabda: “tidak diperintahkn pergi kecuali ke tiga masjid. Masjid alharam (mekah), masjid rasul (madinah) dan masjid al-aqsa (alquds palestina)”.[23]

Hadits ini di babad habis-habisan oleh Ignaz dari segi politik, sehingga ia berkesimpulan bahwa hadits ini palsu. Menurutnya, Abdul Malik bin Marwan (di Damaskus) merasa khawatir kalau-kalau Abdullah bin az-Zubair (di Mekkah) mengambil kesempatan untuk menyuruh orang-orang Syam yang peri ke haji (Makkah) untuk melakukan bai’at kepadanya. Karenanya, Abdul Malik berusaha agar orang-orang Syam tidak pergi haji ke Makkah, melainkan cukup ke Kubbah Sakhra di al-Quds (palestina). Untuk mewujudkan usaha yang bersifat politis ini, Abdul Malik menugaskan al-Zuhri untuk membuat hadits yang sanadnya bersambung kepada Nabi, di mana umat Islam tidak diperintahklan pergi kecuali ke tiga masjid itu.

Prof. Dr. Muhamad Mushthafa Azami, ulama kontemporer kebangsaan India, sekarang Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas King Saud Riyadh Saudi Arabia dalam disertasi Ph.d-nya di Combridge Univercity, Inggris tahun 1976. Diantaranya membantah pendapat Ignaz, setelah melakukan penelitian secara umum terhadap hadits nabawi. Menurutnya, teori Ignaz tidak di tunjang oleh argumen dan dalil yang valid, karena tidak ada bukti-bukti sejarah yang dapat menunjang kebenaran teorinya. Bahkan justru sebaliknya. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran al-Zuhri antara 50-58 H. al-Zuhri belum pernah bertemu dengan Abdul Malik sebelum tahun 81 H. Palestina, dimana terdapat masjid al-Aqsa, pada tahun 67 H. berada di luar kekuasaan Abdul Malik dan pada tahun 68 H. orang-orang Bani Umayyah berada di Makkah dalam urusan haji. Dari sini Azami berkesimpulan bahwa Abdul Malik baru berpikir untuk membangun Quds Asahra- yang konon sebagai pengganti Ka’bah sesudah tahun 68 H. apabila demikian halnya, maka al-Zuhri pada saat itu baru berusia antara 10-18 tahun, karenya tidak logis seorang anak yang berumur belasan tahun sudah populer sebagai alim di luar daerahnya sendiri. Dimana ia mampu mengalihkan ibadah haji dari Makkah ke Palestina. Lagi pula pada saat itu di Syam masih banyak terdapat para sahabat dan tabi’in, sehingga tidak mungkin mereka diam saja melihat kejadian itu.

Kenyataan lain yang membantah teori Ignaz adalah hadits itu sendiri sebagaimana dalam Shahîh Bukhârî. Di sini tidak ada satu petunjuk pun yang mengisyaratkan bahwa ibadah haji itu dapat dilakukan di al-Quds, yang ada hanyalah “keistimewaan” yang diberikan pada masjid al-aqsha. Dan ini wajar saja, karena masjid itu, pernah menjadi kiblat pertama umat Islam. Ignaz tanpaknya hanya menuduh al-Zuhri sebagai pemalsu hadits, padahal riwayat itu diriwayatkan pula oleh 18 rawi yan lain (selain al-Zuhri), namum mereka beruntung tidak di tuduh sebagai pemalsu hadits oleh Ignaz.

Ahmad amin

Dalam bukunya fajr Islam, Ahmad Amin tidak kepalang-tanggung ikut mengkritik ahli-ahli hadits, setelah mereka di tuduh hanya lebih memperhatikan sanad. Giliran Imam Bukhari di hantam secara tersendiri. Kata amin: “kita lihat sendiri sampai dengan Imam Bukhari, meskipun tinggi reputasi ilmu haditsnya, dan cermat penelitiannya, beliau menetapkan hadits-hadist yang tidak shahih di tinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiah. Karena penelitian beliau hanya terbatas pada sanad saja”.

Amin menyebutkan contoh hadits Rasululah Saw bersabda: “seratus tahun lagi tidak ada manusia yang masih hidup diatas bumi ini”. Dalam hadist ini ternyata Amin keliru memahami maksudnya, sebab, yang di maksud oleh hadits itu bukan sesudah seratus tahun sejak Nabi mengucapkan hal itu, tidak ada lagi yang hidup di dunia ini. Melainkan yang di maksud adalah orang-orang yang pada saat itu masih hidup seratus tahun lagi mereka sudah meninggal dunia. Dan ini memang terbukti demikian. Karenanya hadits itu termasuk mu’jizat Nabi.

Demikian beberapa contoh tuduhan orientalis dan konconya terhadap hadits-hadits yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî berikut bantahannya. Sehingga tuduhan-tuduhan mereka dengan tanpa adanya argumen dan dalil yang valid hanya didasari oleh sikap permusuhan mereka terhadap Islam dan ingin menghancurkannya melalui pilar kedua yaitu as-sunnah atau al-hadits karena dengan adanya tuduhan-tuduhan tersebut akan berpengaruh terhadap umat Islam dalam mempercayai al-hadits sebagi sumber syari’at yang kedua setelah al-Qur’an akan menimbulkan syak (keragu-raguan) tentang keotientikannya dan yang diharapkan mereka umat Islam meninggalkan as-sunnah yang kemudian lebih jauh lagi melepaskan al-Qur’an dan Islam itu sendiri. Namun, usaha-usaha mereka itu hanya sebuah makar yang hanya menghasilkan isapan jempol belaka tanpa hasil yang nyata.

Dengan demikian Shahîh Bukhârî masih tetap kitab yang paling otientik setelah al-Qur’an dan ini telah dan akan terus disepakati umat Islam sampai hari kiamat. Alur penelitian yang logis akan menyatakan bahwa seorang yang keliru semakin banyak orang yang melihatnya semakin banyak pula orang yang menyatakan bahwa ia keliru. Namun, logika tersebut tidak relevan apabila diterapkan pada pribadi Imam Bukhari. Sebab sejarah mencatat bahwa Imam Bukhari yang wafat pada abad ke-III itu justru menanjak reputasinya setelah banyak di kritik pada abad ke-IV. Padahal para ahli hadits mengakui bahwa abad ke II dan ke IV itu merupakan masa yang matang dengan suburnya karya-karya ilmiah, terutama dalam bidang hadits.

Guru-guru Imam Bukhari

Sebagaimana diketahui bahwa Imam Bukhari seorang yang sangat cinta ilmu, sehingga ke mana pun, siapa pun dan di mana pun ia akan cari dan belajar. Oleh karena itu,guru-guru beliau dalam tolab ilmi, sangat banyak sekali. Lebih dari 1000 orang seperti ucapannya sendiri “aku menulis dari 1000 orang guru atau lebih”.[24]

Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidh Ibn Hajar al-Asqalani, bahwa guru-guru belaiu itu diklasifikasikan ke dalam lima tabaqat:

  1. yang menerima atau meriwayatkan haditsnya dari tabi’in, misalnya Muhamad bin Abdullah al-Anshari yang meriwayatkan dari Humaid, abu Nua’im dari Amasy, Maki bin Ibarhim yang meriwayatkan dari Yazid bin Abi Uba’id dan yang lainnya.
  2. yang semasa dengan mereka pada tingkatan pertama tetapi tidak mendengar dari tabi’in seperti Adam bin Abi Ias, Said bin Abi Maryam dan yang lainnya.
  3. guru-guru beliau yang pertengahan yaitu yang gtidak bertemu dengan tabi’in, namun mengambilnya dari tabi-ut ‘tabi’in seperti, Sulaiman bin Harb Qutaibah bin Said, Ishaq bin Rahawah, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini, Nua’im bin Hamad dan yang lainnya.
  4. merupakan teman beajar, namun pernah mendengar sesuatu sebelumnya darinya seperti Muhamad bin Yahya al-Dzahali, Abu Hatan al-Raji Ahmad bin Nazhar dan yang lainnya.
  5. kaum atau golongan orang yang dekat, baik pada waktu belajar atau periwayatan hadits dan pernah mendengar dari mereka faidah-faidah, seperti Abdullah al-Hamd al-Hamili, Abdullah bin Abi ash al-Khawanzani dan yang lainnya.

Murid-murid Imam Bukhari

Begitu juga dengan mengenai murid-murid beliau sangat sulit membatasi atau menentukan jumlahnya, karena teramat banyaknya. Namun, seprti yang dikatakan Muhamad bin Yusuf al-Tarbary yang pernah mendengar (murid) dari Muhamad bin Ismail sebanyak 90.000 orang”[25]

Yang paling termasyhur diantaranya :

1. Ibrahim bin Ma’qal al Nasafi

2. al-Husain bin Ismail al-Muhamily

3. Hamad bin Syakur

4. Saleh bin Muhamad al-Mulaqqab

5. Muhamad bin Ishaq bin Khuzamah

6. Abu Isa Muhamad bin Isa at-Turmidzi

7. Muhamad bin Yusuf al-Farbali

8. Muslim bin al-Hujaj.[26]

Demikian nama guru-guru dan murid-murid dari Imam Bukhari yang kesemuanya merupakan para pembela dien Islam.

Membaca dan menelaah tokoh sekaliber Imam Bukhari butuh waktu yang lama, sangat banyak mutiara-mutiara hikmah dan ibroh yang beliau miliki, bukan saja kepribadian namun juga karya-karyanya yang agung. sebagaimana diungkapkan Ibn Hajar al-Asqalani dalam hady syarah-nya Imam Bukhari bagaikan lautan yang sangat dalam, kedalaman dan keluasan ilmunya khususnya hadits, telah dan akan terus dikenang umat Islam sampai hari Qiamat.

Semoga Allah senantiasa memberkati dan merahmatinya, dan semoga kita semua termotivasi untuk mengikuti langkah serta mendalami segala aktifitasnya sebagai bukti penghormatan kita terhadap jerih payah dan usaha mulyanya. Inilah tulisan singkat dan sederhana yang bisa dituangkan penulis, masih banyak kekurangannya sehingga kritik konstruktif sangat ditunggu. Wallâh-u ‘alam bis-shawâb.


[1] Makalah ini disampaikan pada acara “kajian tokoh Imam Hadits”, yang diadakan oleh Bidang Taklim Forum Silaturahmi Persatuan Islam. Pada hari rabu, 13 Maret 2002. Di markaz FOSPI (el-Hây el ‘Âsyir panyisian).

[2] Fathul bari Vol II. Hal 196-202.

[3] Penulis adalah santri di Fakultas Ushûl-ud’dîn spesialisasi hadits, Universitas al-Azhar Cairo. Juga ketua Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB) Egypt.

[4] Al-Suyuti. Tadriabu ar-rawi,ed, abd al-wahan abdul latif. Almaktabah al-islamiyyah.

[5] Al-Kamil ibn Adi. Vol I. Hal 140 dan Tarikh baghdad Vol. II. Hal 5-6.

[6] H. Ali Mushthfa yaqubma. Imam bukhari dan metodolodi kritik dalam hadits.

[7] Ibid.

[8] hadya sari. Hal 516-517.

[9] At-Tarif bi kutub alk-Hadits al-Sittah. Muhamad bin muhamd abu syahbah. Cetakan peramam 1988 M/1409 H. maktabah al-Ilm cairo, mesir.

[10] Ibnu hajar al-Astqalani. Hadi sari muqadimah fathul bari. Vol. I.

[11] At-Tarif bi kutub alk-Hadits al-Sittah. Muhamad bin muhamd abu syahbah. Cetakan peramam 1988 M/1409 H. maktabah al-Ilm cairo, mesir. Hal.+ 55

[12] Ibn Katsir. Syarh al bahts al watsib fi ikhtisar ‘ilmu al hadits. Maktabah al ma’arif. Cet I 1996.

[13] Ibnu Hajar al-asqalani. Op.cit. 11:346.

[14] Ibid.

[15] ibid.

[16] ibid.

[17] ibid.

[18] ibid.

[19] Ibnu Hajar al-asqalani. Hady al-sari. Vol II. Hal. 384-385.

[20] Ibid. hal.389.

[21] muhamad adib syah. Lawhat fi ushul al-hadits. Maktabah al-islami. Beirut 1399H. hal 123-125.

[22] Muhamad Musthafa azama. Op.cit. 127-131.

[23] H.R. Bukhari.

[24] Mawqif alimamain albukhari wa muslim. Khalid mansur abdullah ad-durais. Cetakan pertama 1997. maktabah ar-Rusy riyadh.

[25] Taqliq at-ta’liq. Ibnu hajar. Vol V. hal 356./

[26] hady sari. Hal 516-517.

3 comments on “Imam Bukhari

  1. Bismillahirahmaannirahim,
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Terima kasih, menambah ilmu saya dan sangat bermanfaat bagi saya yang awam ini.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Djokolono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s