Mencari Satu Perubahan

Mencari Satu Perubahan (!)

Krisis multidimensi yang sampai kini belum juga pulih masih menyisakan problem besar bagi bangsa Indonesia: Kemiskinan. Menurut Biro Pusat Statistik, sampai tahun 2000 jumlah penduduk miskin sudah membengkak sampai 37,5 juta orang. Padahal tahun 1990 jumlah mereka hanya 27 juta jiwa dan bahkan sempat menurun pada 1996 menjadi 22 juta. Keadaan krisis ekonomi ini diperparah lagi dengan bencana alam, kekeringan, kebakaran hutan, kerusuhan, konflik sosial, dan penjarahan .

“KEAJAIBAN yang hilang”. Itulah istilah yang paling pantas diberikan bagi perekonomian Indonesia sepanjang tahun 1998. Setelah berpuluh-puluh tahun terbuai oleh pertumbuhan yang begitu mengagumkan, tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi begitu hebat. Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.

Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.

Seperti efek bola salju, krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik. Kejutan dari luar ini telah membuka borok Indonesia; lemahnya sektor perbankan dan struktur ekonomi yang beroperasi dalam sistim sosial-politik yang tidak kokoh. Melalui suatu proses dengan dampak penularan (contagion), kejutan finansial meluas, melanda perbankan, kemudian kegiatan investasi, produksi, perdagangan, konsumsi atau sektor riil perekonomian, dan berlanjut ke sektor sosial – politik. Akhirnya proses ini menimbulkan krisis menyeluruh dan multi dimensi .

Secara dogmatis, perubahan merupakan gerak atau kondisi baru yang sengaja diciptakan untuk membedakan kondisi tersebut dengan kondisi sebelumnya. Dalam konteks perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara, banyak sekali sektor yang harus dibenahi, mulai sektor ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan, hukum, pendidikan, dan seterusnya. Mengagendakan perubahan untuk bangsa sama artinya hendak menciptakan kondisi baru untuk setiap lini kehidupan yang jauh lebih baik dibanding kemarin.

Transisi yang dialami bangsa Indonesia sejak kejatuhan Soeharto adalah sebuah proses perubahan yang sejak awalnya tidak gampang; tidak mudah bagi siapa saja. Sebuah perubahan yang menggelisahkan karena tidak hadirnya faktor-faktor yang biasanya dapat mengurangi ketegangan: platform yang disepakati bersama dan lEadership yang kuat. Untuk yang pertama, akibatnya bahwa seringkali agenda perubahan yang sering ditangkap dengan istilah reformasi itu menjadi sebuah agenda tanpa makna, bentuk, isi, arah dan pentahapan yang jelas. Sementara itu, tidak hadirnya leadership yang mumpuni telah mengakibatkan perubahan ini menjadi sebuah arena persaingan perebutan kekuasaan daripada sebuah perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak adanya leadership telah mengakibatkan obrolan bersama tentang usaha mengidentifikasikan masalah-masalah mendasar untuk menemukan solusi menjadi sesuatu yang absurd karena ia telah berubah menjadi perdebatan yang tak berujung tentang hal-hal yang tidak relevan di antara para elit politik. Tidak munculnya leadership juga telah menyebabkan berkembangnya prasangka buruk di antara mereka sendiri sebagai akibat tidak adanya forum dan media yang memadai untuk memungkinkan komunikasi politik menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang produktif. Ketegangan di antara elit politik itu sendiri telah menyebabkan perkembangan politik selama lima belas bulan terakhir ini diselimuti oleh pertanyaan-pertanyaan di kalangan masyarakat luas, apakah kita sudah menjadi lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelum kejatuhan Presiden Soeharto (?) (YSH).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s